ZIARAH SUMANGOT

Bona Pasogitku tergambar ke dalam foto
apa artinya itu diceritakan
kepadamu
jika ada rumput, pohon mangga dan kelapa
bisu mengajaknya menjadi bagian album
demikian danau
dan tepi balian berbatu
lebih diam
dari dolok haru-biru sampai memudar sebagian
warnanya
tak lagi terlihat tiupan angin
ke mana pusaranya

“Ompung, nunga ro ahu!” sepotong ini
seperti sirap masa lalu
panggilan ke pusara kandung
membenam semua tanya
diwariskan bagi setiap langkah
satu tanda
tapi aku belum peka
aku ingin merekamnya
suaraku takkan hilang
jika leluhur masih mendengar
bersama aek-panggir isi hati telah meresap
masuk ke tua simin
membelah pasir dan urat tanah
hingga ketemu dengan putih saring-saring

Medan, Februari-Mei 1997

SUMANGOT roh atau semangat asli; bona pasogit, disama artikan dengan bona ni pinasa, yaitu tanah kelahiran. Tapi kemungkinan kedua istilah tersebut memiliki pengertian sendiri-sendiri sesuai dengan etimologi atau simbolitas yang diembannya. Misalnya kata bona berarti pangkal dan pinasa berarti (pohon/buah) nangka. Sementara kata pasogit hampir sulit dilacak artinya. Dalam Kamus Batak Indonesia J.P Sarumpaet (Erlangga, 1996) kata tersebut dengan gampang diturunkan dari kata sogit dan langsung mendapat pengertian menjadi kelahiran. Sebenarnya rasa yang diemban istilah tersebut dalam puisi ini adalah tanah asal dan belum tentu merupakan tanah kelahiran si aku atau subjek-lirik; balian, lading, sawah, atau tanah garapan; dolok, gunung atau tempat yang tinggi; ompung nunga ro ahu!, kakek (nenek), sudah datang aku!; aek-pangir, jeruk purut bercampur air yang dibuat sebagai simbol penghayatan dalam prosesi ziarah. Ini tidak menjadi tradisi, tapi juga hanya merupakan sikap spontan untuk menandai suatu kemauan menerima tradisi, tapi juga hanya merupakan sikap spontan untuk menandai suatu kemauan menerima tradisi berziarah di kalangan Batak. Boleh saja waktu berziarah ditaburkan bunga atau materi lain; simin, semen, perkuburan dari beton, tempat terakhir tulang-belulang manusia; saring-saring, tulang-belulang manusia.


SAMA SI ITING

oh, juk
kumasuk kembali ke selubung diri
di dalamnya ada kau, seluruh titik
menjadi wajahmu
dengan itu pula aku ada
tak tahu masuk dari mana
oh, juk
lanai ate ku kam, tapi
hidup terus membisik
sukun lebe dirindu

Medan-Jambi, Juli 1996.

Iting, panggilan umum bagi setiap orang yang mengemban atau memangku marga Ginting; juk, panggilan unjuk, panggilan khusus bagi wanita bermarga Ginting, Munthe; lanai ate ku kam, aku tak lagi cinta padamu; sukun lebe dirindu, Tanya dulu dirimu.

AEK RAJA

hari Jumat
ari onon di desa sigukguki
telah sampai kabar ini
kemaren
dari Hutatinggi ditelusur dakian jalan
lewat lain-lain lekukan
di Bonandolok
ingin si butet ke sana
menjahit sepatu—–
tiada kusangka, tapi lae dan iban
belum acuh waktu ikut
dengan kijang kota
mungkin sedang terbayang pada bubur
mie gomak atau pecal
yang menunggu di keramaian
apalagi cerah mentari akan menyilih
satu darah masa lalu

sembul rindu juga sua
sanak Sirumabutar, tentu karena ada
rias ceritanya….
Sampinur sejak lama ditinggalkan
dan kenangan pernah di Partungkoan
ikan asin
sayur
bawang dan goreng masih bisa bercakap
tiap pekan
gula
korek dan sigaret dibeli saja
pada tauke, asal tidak diselinap
bias angan dari mulut parabola
deru honda dan angin merah
yang dibawa truk-truk Simumbal

Medan, 27 Juli 1995.

AEKRAJA, nama tempat di seluruh kecamatan di Tapunuli Utara; ari onan, hari pekan, keramaian, atau pasarnya di desa; Sigukguki, cabang atau anak marga Manalu; butet, panggilan atau sebutan bagi anak-anak wanita dan bisa karena dianggap belum dewasa; lae, panggilan atau sebutan bagi pihak istri dan saudara-saudaranya dari pihak suami, juga sebaliknya dan diturunkan bagi anak-anak yang laki-laki dari mereka. Dalam pergaulan di masyarakat, itu juga menjadi suatu pertanda keakraban; iban, pariban, panggilan, sebutan, kedudukan bagi wanita semarga ibu (bagi laki-laki) dan sebaliknya dari wanita, juga pihak kakak beradik yang dikawini laki-laki marga lain atau kebetulan serupa marganya; gomak, ada yang mengartikan gemuk, tapi dalam bahasa Batak Toba bias diartikan dengan diambil dengan kepal tangan, konteks istilah dalam sajak ini dapat menerima kedua pengertian karena materi (mie) yang disinggung memang biasa besar (gemuk) daripada mie biasa dan penjualnya di beberapa tempat di Tapanuli Utara membaginya ke piring atau apa pun namanya tanpa menggunakan sendok; Sirumabutar, cabang atau anak marga Manalu; Sampinur, nama tempat; Partungkoan nama tempat dan juga dapat diartikan sebagai tempat mengenang warisan, pusaka, tokoh atau musyawarah raja; Simumbal, nama tempat yang dijadikan salah satu kawasan pengambilan bahan pulp PT. Indorayon kira-kira sejak 1989, arti lain juga pasti ada dalam bahasa Batak Toba.

HUTABARAT

uap belerang aek rangat akan dingin
hinggap menyentuh daging
angin semalam ingin dihisap dari kantuk
yang terjaga
peluknya masih hangat seperti terik
di Situmandi

di langit Timur matahari terbit
seoarang ibu telah melangkah ke lapo itu
ito semarga dari rantau
sedang bergerah dan siap menghadap
santap pagi
teh manis serta telor itik

maka mereka bercakap
dalam sendat adat:siapa raja
pemilik tanah atau sawah?

tak terjawab segala keluh
jasad ayahanda hanya bagi sibuntulan
tak terasa damba bagi amanguda
hingga garis hula-hula akan menelan suami
cakar datulang dirasa anaknya

tumpah teriak boru dibiarkan
ke udara
pengaduan jadi cukup pada Tuhan
tak sanggup ia membayar pokrol

Hutatinggi, 18 Juni 1995

HUTABARAT, nama tempat yang letaknya di sebelah Timur kota Tarutung (Tapanuli Utara) dan didiami sebagai huta atau desa keturunan Siraja Nabarat, yaitu marga Hutabarat; aek rangat, sebutan yang biasa untuk tempat atau pemandian air panas yang mengandung belerang; Situmandi, nama sungai mengandung folklor tentang putri marga Hutabarat yang kawin dengan ular, lapo, kedai (minum di pemandian aek rangat); ito, panggilan atau sapaan pengganti panggilan nama bagi yang dianggap telah tua, berkeluarga, kelurga, kerabat agar juga halus dan sayang; Sibuntalan, adik Siboru Tumbaga, yang dikenal dalam folklor karena tidak mempunyai saudara laki-laki (seayah); amanguda, adik atau saudara di bawah marga ayah atau ibu; hula-hula, unsure yang biaa diembah dalam adat Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga) batak Toba; datulang , panggilan yang prinsipnya sama dengan hula-hula; boru, unsur yang biasa dilindungi, atau yang sering dielek dalam bahasa Batak Toba.

PERNAH AKU KE PULAU SIBANDANG

anak kepala nagari, marga Rajagukguk
berkunjung ke Tarutung
rindunya pada kemenakan
hingga penuh rasa padu kue sipitu barimbing
si kecil sudah sekolah
tapi harus dibawa ompung
setelah puas dan dari Sibolga

ama pulo dari sosor Sibandang
itulah panggilannya; janggutnya
tiada, selalu dicukur

akulah si kecil
seperti cucu kesayangan
di Sibandang selalu dibawa ke pesta
tapi tak boleh makan daging
“bukan karena kamu masih kecil,” kata Sibaso, istrinya
air daun jalar yang ditetesi kunyit
sedang memoles perut
kuingat dituang di mulut

sekiranya Sibandang hilang ke dasar danau
atau dicuri orang asing
dengan angka 200 dan lebih kurang, maka
kubayangkan luasnya
dalam ha: bukan penyakit disentriku
waktu kecil

Danau Toba, Tarutung, Medan Oktober 1994

Sipitu barimbing, tujuh tanda jari pada satu kepalan ketika membentuk kue yang dimaksud; ompung, kakek/nenek, tapi bias juga panggilan hormat untuk orang yang berkharisma di masyarakat/adat; ama pulo, panggilan bagi seseorang bapak yang mempunyai anak bernama pulo (Pulau); sosor, bagian kecil dari suatu desa; Sibandang, nama yang diberi kemudian pada suatu tempat yang terletak di daerah Danau Toba. Dulu pernah disebut pulau Pardopur, sibaso, bidan atau pengasuh bagi orang sakit, dan media roh.

MELODI LEWAT SEBERAYA

Seberaya menyanyi pagi-pagi:
masih ada nyawa di jambarku
masih ada siwaluhjabu
masih ada masa lalu
Seberaya masih menyanyi pagi-pagi:
sudah ada radio
sudah ada parabola
Seberaya mengalun sampai ke gunung:
masih ada jumaku
masih ada sungaiku
masih ada lembu
amsih ada kerbau
Seberaya terus mengalun:
sudah sekolah anakku
sudah sarjana cucuku
sudah kerja cicitku
Seberaya menjelma dalam kabut
menguap dalam hawa dingin
bernyanyi bersama burung-burung
terbang mengitari lembah
seberaya terus berdendang, terus meliris:
sudah tersedia the-kopi di kedai
sudah masak dirumah nasi
sudah siap makan nini
masih angkat air bibi
masih cuci muka anakberu
masih teringat sesuatu
masih ada tertinggal di kalbuku
masih ada
masih ada
masih ada

Medan, Februari 1993.

SEBERAYA, nama daerah di Tanah karo; jambur, biasanya dijadikan tempat pesta dan keramaian; Siwaluhjabu, rumah tradisional Karo; juma, lading atau sawah garapan; bibi, panggilan biasa untuk adik atau kakak ayah: anakberu, wanita atau pihaknya-menurut konsep adat Daliken Sitelu. (Karo)

About these ads