Seorang putra Batak, Merdi Sihombing sejak setahun yang lalu sibuk mempersiapkan pengembangan ulos/songket Batak di bonapasogit utk persiapan show tahunan yang II setelah The FORBIDDEN BADUY 2006. Salah satu dari 12 fashion Designer Indonesia yg ditunjuk oleh Pemerintah {Departemen Perindustrian} utk pengembangan kain tenun tradisional Indonesia komoditi songket/ikat untuk daerah Provinsi SUMUT thn 2007.
Apa harapannya dalam menghargai nilai warisan budaya tersebut?MERDI SIHOMBING
[Ethnical Fashion & Textile Designer]
Telah dicanangkan bahwa pada tahun 2010, Danau Toba dan sekitarnya akan menjadi salah satu tempat wisata yang menjadi sumber pendapatan beberapa daerah. Namun sangat disayangkan bahwa realisasi dilapangan tidak sesuai dengan kenyataan.
Seiring dengan keinginan para politikus Batak dalam mewujudkan Propinsi Tapanuli {PROTAP) dengan semboyan dan harapan harapan yang muluk tanpa memikirkan masyarakat bawah yang kebanyakan berpenghasilan dari membuat kraft/kain sebagai pelengkap tujuan wisata tersebut.
Apakah pernah terlintas opini untuk perduli dan merefleksikan pengembangan terhadap kraft/kain (ULOS-SONGKET BATAK) sebagai SUMBER EKONOMI BARU BAGI RAKYAT khyususnya BANGSA BATAK ?.
Dalam mewujudkan program tersebut diperlukan synergi dari beberapa elemen elemen komunitas Batak seperti dari Budayawan, politikus, rohaniawan, seniman dan pemerintah setempat.
ULOS-SONGKET BATAK
Ciri khas ULOS/SONGKET BATAK dengan motif geometris dengan nama motif :
a. batu ni ansimun
b. anting anting
c. sigumang
d. suhi ni ampangnaopat
e. sipitu parbue
f. margoli-goli ibana
g. iran iran na marrungkung tolu
h. sirat torus
i. sirat papanna.
Semua jenis motif dan design ini mengandung arti yang berbeda beda. Alat tenun yang digunakan adalah gedogan sederhana (body-tension loom with a continuous warp)
Ulos terdiri dari 3 bagian [2 sisi,1 badan]: dan 5 bagian.[2 sisi,2 ulu,1 badan]
Pada bagian badan terdapat motif ikat sederhana (ikat warp atau lungsi).
Pada bagian ulu atau kepala terdapat motif motif jungkit seperti yang sudah disebutkan diatas merminkan semua unsur yang erat hubungannya dengan kehidupan, budaya, alam, kekeluargaan.
Pada kedua ujung ulos dijalin benang yang dinamakan Sirat.
Dengan teknik desain pakan tambahan yang disebut Jungkit (istilah populernya disebut songket) belakangan ini sudah memakai metallic yarn berwarna gold, silver.
Seperti ULOS RAGIDUP, meskipun menggunakan alat tenun yang sederhana dengan tingkat kesulitan yang sangat rumit dalam pengerjaannya maka sepantasnya masyarakat Batak dapat menghargai nilai warisan budaya tersebut.
KENAPA……? SEJAK KAPAN……? wanita Batak sangat memuja, bangga, berlomba-lomba untuk memakai kain songket PALEMBANG pada setiap momen-momen yang sangat berkesan buat hidupnya? Wanita Batak banyak mengoleksi kain songket PALEMBANG yang ditawarkan dengan harga yang sangat fantastic sebagai prestige bahwa hidup mereka sangat berlebihan..
Pertanyaan ini membuat kerinduan sebagai anak bangsa Batak to push my self untuk:
BAGAIMANA MENGEMBANGKAN (EXPLORATIF) dan berusaha untuk MEMASYARAKATKAN kekayaan yang kurang di hargai (ULOS/SONGKET BATAK).
BAGAIMANA MENTRANSFORMASINYA agar semakin baik dari konvensional menjadi kelihatan lebih modern tanpa meninggalkan filosofi{pakem, warna budaya.}
BAGAIMANA BISA MEMBUAT PRODUK ULOS/SONGKET BATAK menjadi sangat bagus, sampai semua mata dunia meliriknya sebagai KARYA YANG LUAR BIASA.
BAGAIMANA MERUBAH PARADIGMA dikalangan wanita Batak yang sering menganggap ULOS/SONGKET BATAK tidak berharga, sangat kuno, kasar, tidak indah “it’s not cool’ menjadi sangat-sangat mencintai dan malu jika tidak memakainya..
Saya rasa all of my dream bisa terwujud apabila:
Kerja keras, keseriusan, rasa memiliki, merasa ini menjadi tugas yang harus dipikul, semangat pantang menyerah, penggalian seni yang berkesinambungan, kesabaran yang luar biasa.
Dukungan terdekat seperti:
1. Keluarga
2. Masyarakat al: orangtua harus berperan dlm memperkenalkan cinta budaya Batak kepada anak-anaknya sedari dini.
3. Media al: harus lebih mengexpose, karena media sebagai alat terkuat dalam propaganda dan sosialisasi.
4. Pemerintah. al: harus lebih berani memperkenalkan ke kancah Internasional and this time untuk menghargai Kain Tenun ULOS/SONGKET juga seniman pembuatnya.
Tautan :
Ulos Produk Eksotik
Proses Pembuatan Ulos
Ulos Mesa
Sopo dohot Ulos
Perajin Ulos
Baliga Ditangan Pria
Ulos batau Untuk Sultan Jogya
Songket Batak Tandingi Songket Palembang
Tenun Ulos ATBM
Mengenal Ulos Batak















57 tanggapan kepada “KAPAN ULOS BATAK MENJADI KEBANGGAAN ?”
Charlie M. Sianipar
Juli 2nd, 2007 pada 18:53
SALUT … …
Sai dipasu pasu Debata ma na niula ni Lae i.
Las do roha jala Bangga, boi dikembangkan Disigner Nasional songon Lae haulion ni Ulos Batak i.
Bravo Merdi Sihombing
F. Pajaitan
Juli 15th, 2007 pada 16:22
Horas Partano batak.
Saya sangat senang sekali melihat media ini.
Tapi saya sebenarnya belum mengerti sekali akan bentuk (descripsi/spesifikasi), jenis-jenis, dan kegunaan dari masing-masing jenis ulos.
Apakah bapak berkenan menambah pengetahuan saya tentang ulos? Kalau bisa beserta gambar.
Saya minta tolong bantuan bapak.
Mauliate
Partungkoan. Horas tulang, boru Panjaitan do dainang pangintubu. Kami sedang mengumpul photo jenis ulos dan kegunaannya. Sabar ya tulang… ?
F. Pajaitan
Juli 15th, 2007 pada 16:30
Kalau bisa kirimkan Gambar Ulosnya ke mail aku.
fadly_jait@yahoo.com
mauliate
naipospos
September 4th, 2007 pada 11:35
horas, Sukses yah lae
*Burit
September 7th, 2007 pada 07:15
Saya penasaran dengan kain ulos yang di bahas i\di sini. Adakah yang bisa memperlihatkan macam2 motif kain ini kepada saya?
Terima kasih
-
*** kami berencana akan menampilkan, sedang mengkoleksi photo ulos itu. Terima kasih.
Benri Simbolon
November 19th, 2007 pada 01:42
saya yakin, setiap warna, corak, bentuk panjang, sampai yang terkecilnya dalam ulos, punya makna dan arti tersendir…
sayangnya cuman ilmuan batak yang bisa mendeskripsikannya…. jadi kami generasi muda ingin / mengharapkan/ memohon agar sudi kiranya para ilmuan/tua-tua Batak bisa mempublikasikannya. sehingga budaya kita akan tetap lestari slamanya…
Salam/Horas…mauliate godang…Bekasi-JABAR
Rondang br Siallagan
Januari 11th, 2008 pada 07:51
Banyak juga yang meminta photo Ulos….Hmmm!Kalau begitu saya tunggu beritanya, soalnya setiap saya beri kepada teman suami saya tidak tahu namanya dan tidak bisa menjelaskan kapan/pada saat apa serta kepada siapa diberikan… Mauliate…..Sydney
-
***
Tim Partungkoan dan Tim Pamita sedang ekplor tenun ulos batak dengan Merdi Sihombing. Rencana Merdi ada untuk bikin ensiklopedia ulos batak, tentu saja lengkap dengan photonya, iya kan Mer ?Ito.. aha do hatabatak ni Kanguru, namangangkai i tahe
Rondang br Siallagan
Januari 11th, 2008 pada 09:25
O…ya, baguslah kalau begitu….ntar kalau pulang mudik biar kubeli… Untuk sementara melalui Internet lah informasinya.
Kanguru….hulului/hujaha di kamus Batak (Indonesia Batak/Batak Indonesia) dang adong hata Kanguru…
Maminta maaf ..do ahu puang dang boi hujawab on….
Bonar Siahaan
Januari 12th, 2008 pada 04:30
Sebenarnya bila kita hanya melihat photo ulos, tak mungkin sama percis dengan aslinya apalagi sampai sirat atau hal-hal yang kecil tapi bermakna.
Sebaiknya harus ada yangmengoleksi ulos untuk dipamerkan kepada umum (sejenis museum).
Tapi kalau hanya untuk mengenali sepintas mungkin masih dapat.
Mungkin lae Merdi lah orangnya yang tepat mengoleksi,dan tentunya akan bekerja sama dengan pak Monang Naipospos.
Kita dukung saja agar bisa tercapai demi anakcucu kita kelak.
Horas.
merdi sihombing
Januari 13th, 2008 pada 08:38
horas ito rondang… sabar ya……yg pasti keingintahuanmu ttg ulos secepatnya akan terealisasi.sudah saatnya kita harus bangga dgn apa yg kita punyai.
Rondang br Siallagan
Januari 28th, 2008 pada 12:06
Terimakasih jawabannya….Sudah pasti kita harus bangga dengan apa yang kita punyai….Kalau bukan kita siapa lagi….
Saya akan tunggu….informasinya….
wids
Februari 23rd, 2008 pada 04:20
saya mencari kamus indonesia-batak..
bisa memberi tahu dimana alamat web-sitenya???
terima kasih
Rondang br Siallagan
Februari 25th, 2008 pada 04:24
Hallo…wids…
Sepertinya kamus Indonesia – Batak tidak ada webnya, yang ada Kamus Batak – Indonesia karena saya sering baca dari situ..
Alamatnya, http://web.tiscali.it/batak/
Selamat membaca..
Horas.
Rudi Panjaitan
Maret 10th, 2008 pada 08:53
Horas di hamu Lae…!
Hami pe bangga do tu hamu jala sekaligus harapan nami ma ateh asa konsisten ma hita sude putra-putri Batak laho menghargai produk kebudayaan leluhurta ateh.
Mungkin di bidang Desain dan pahean tradisionalta halak Lae dohot sude kru ateh.
Anggiat ma sude bangso batak disude bidangna masing-masing boi mangalehon makna laho malestarihon budayanta i ateh.
Alai unang ma nian budaya mabuk ni Parmitu dohot unsur na negatif na asing. Horas
Agus Simatupang
Maret 11th, 2008 pada 12:28
Ulos, memang salahsatu simbol dari orang batak.
Saya pribadi sangat bangga terhadap ulos ini , karena pada awal pembuatan kain ini sungguh sangat banyak tujuannya, yang salah satu tujuan sipalabeguon itu sudah hampir dihilangkan dari tatacara penerapan ulos ini krn pengaruh agama itu di kehidupan sehari-hari orang Batak.
Jadi Ulos ini harus selalu kita promosikan keseluruh dunia, bahwa orang batak itu punya cagar budaya yang sangat indah untuk dilihat. Tapi jangan sampai malaysia juga mengklaim bahwa ulos buatan mereka. hehehe becanda. dan jgn sampe.
Ok lah lae, salut buat blog ini, semoga sukses terus.
Hodbin Marbun Lbn Batu
April 2nd, 2008 pada 08:15
Ulos adalah salasatu simbol halak hita (Batak) dlm acara apapun Mulai dari Sorang sahat tu Namarujung, jadi ulos ini suda jadi barang yang harus di lestarikan sampai ke generasi yg akan databg.
Molo boi nian dibahen jolo Motitf ulos gabe jas,kemeja dohot akka naasing.
Mauliate .Horas jala Gabe.
lidya hutagaol
April 8th, 2008 pada 11:36
Setelah beberapa minggu ini saya pikirkan, akhirnya saya beranikan diri untuk berkomentar di sini ^_^.
Selama ini saya tidak terlalu mengikuti perkembangan ulos. Yang saya tahu, ulos itu kain/pakaian adat batak, warisan nenek moyang kita, yang pemakaiannya tidak sembarangan. Lucunya, setelah saya mengalami kejadian yang menyesakkan (menurut saya), baru deh saya ‘heboh’ cari tahu mengenai ulos.
Kejadiannya begini, beberapa minggu lalu saya ditugaskan oleh kantor ke Kuala Lumpur. Dalam satu acara, kami disuguhkan kebudayaan yang katanya mewakili 9 negeri yang ada di Malaysia. Awalnya sih biasa, yang mereka tampilkan adalah tari-tarian Melayu lengkap dgn pakaian khas Melayu, yg notabene persis dgn tarian&pakaian Melayu kita. Diikuti dgn tarian&pakaian adat yg mirip Dayak, okelah saya pikir masih masuk akal. Yang biasa mulai menjadi tak biasa setelah mereka tampilkan ‘tarian menenun songket’ lengkap dengan kain songket yang persis sekali dengan songket Palembang. Emosi saya mulai memuncak ketika mereka menampilkan suatu tarian, saya lupa mereka sebut itu tarian apa (saking emosinya saya sudah tak terdengar lagi apa kata MCnya ;( Yang pasti pakaian yang dikenakannya adalah ULOS, yang kalau saya tidak salah jenisnya ‘ragi hotang’, dengan tarian yang mirip dgn tortor, hanya tangan mereka tidak ‘manyomba’ di dpn dada, tapi diletakkan di samping paha kiri dan kanan dan kakinya ‘manyerser’ -serser. Dengan bangganya mereka menampilkan tarian itu sebagai budaya dari 9 negeri yang ada di sana! Ironis sekali. Tadinya saya pikir hanya saya yang ‘notice’ akan kejadian tsb, trnyata ada 1 tmn saya yang juga sadar “Eh Lid, baju lo dipake tuh” dia tau saya orang BATAK-RED.
Saya punya foto kejadian ini. Mohon maaf saya tidak bisa mempublish foto itu skrg. Jika ada abang/kakak/ito yang ingin melihat boleh menghubungi saya lewat japri: lidya_roesly@yahoo.com.
Sudah ada beberapa teman (baik BATAK dan nonBatak) yang mengiyakan kalau yang di foto itu adalah ULOS.
Apakah kejadian ‘BATIK’ akan terulang pada ULOS kita? Ini yang mengganggu pikiran saya sekarang. ^_^
Charlie M. Sianipar
April 11th, 2008 pada 06:27
Ito Lidya,
Tingki dicaritahon ito, marsisir do huhilala.
Hujaha muse suratmon tong songon i.
Ndang huboto dope aha sibahenon, alai sai tamba ma angka dongan naboi marsitaripan pamimingkirion taringot tuson.
HORAS
lidya hutagaol
April 16th, 2008 pada 10:31
olo Ito Charly,
tangianghon ma asa boi direalisasihon rencana i.
mauliate
hasting simbolon
Mei 9th, 2008 pada 08:41
saya jadi terharu setelah baca,komentar dan abang, ito dan lae semua yang memperhatikan kebudayaan bangso batak, khususnya ulos batak. thanks buat kalian semua yang telah mencoba menampilkan/ mempertahanklan budaya bangso batak.
tapi bukan hanya itu saja, seandainya saja kita para generasi muda ini mulai bertindak yang pastinya saya yakin kita bisa membawa budaya kita apalagi tentang ULOS ini menjadi suatu budaya yang diakui oleh kebudayaan nasional indonesia, sedikitnya kita bisa meningkatkan harga jual ulos hasil tenunan dari daerah kita tanah batak .dan akan meningkatkan penghasilan para pengrajin tenun yang ada di tanah batak.
waktu saya pulang kampung ke samosir 2007 kemaren saya masih melihat para pengrajin ulos yang dar sisi ekonomi masih di bawah padahal pekerjaan yang digeluti tiap harinya adalah menenun ulos!!!
Thank s Yah buat lae Merdi Sihombing>>> Bersemangat Lae ……….!!!!!!
mauliate horas
hasting dari lampung
Robert Siregar
Mei 21st, 2008 pada 04:20
Las roha manjaha sude isi no surat dohot barita na adong di website ni Lae on. Godang na so binoto hinan gabe binoto, na so pala tangkas gabe tangkas, na so hinaholongan gabe lam holong (songon ulos manang tading-tading/warisan naasing).
Taringot tu ulos. Ai nungga sae di bahen hamu lae buku taringot tu Ulos i? Molo dung Lae, tolong jo paboa hamu di dia do boi tuhoron nami.
Ulos, masai jonok tu hangoluan ni halak Batak, ra boi ma sian on jo parjolo ta lestarikan dan kembangkan tu joloan on.
Horas tondi mandingen pir tondi matogu.
GBU,
Robert Siregar
Robert Siregar
Mei 26th, 2008 pada 07:07
Horas….
Salah satu cara untuk melestarikan ulos dan meningkatkan derajat hidup pengrajin ulos adalah dengan cara menggunakan/memakai ulos sesering dan sebanyak mungkin.
Cuman dilain pihak, kita orang batak (raja adat) malah menganjurkan mengurangi ulos yang diberikan terutama dalam cara pernikahan batak. Padahal ulos yg disampaikan pd acara pernikahan ini biasanya ulos tenunan tangan dan lebih baik/berharga. Sangat kontra produktif. Hanya dengan alasan mempersingkat waktu (????), menghemat (????)
Kayaknya alasan itu kurang tepat.
A. WAKTU–
1. Bisakan acaranya dimulai dengan lebih awal.
2. Lalu penerima dan pemberi ulos sudah dibritahu dan sudah siap. Nggak perlu lagi dipanggil sampai beberapa kali apalagi sampai menunggu.
3. Mangulosi/menerima secara serentak 3-4 orang.
Dengan mengorbankan waktu kita untuk pesta orang lain itu merupakan wujud nyata dari perhormatan kita atas perhatian mereka. Kalau memang kita tak mau berkoraban waktu, jangan merusak adat.
HEMAT—
1. Kenapa ulos ? Mangulosi itukan moment saat dimana pihak yang memberi ulos mendoakan dan memohon pada TUHAN agar memberikan berkat yg berkelimpahan pad yang diulosi. Berarti kita membatasi doa dan permohonan berkat dari Tuhan. Kok berkat ditolak? Mending bir atau lampet atau kacang atau makanan tambahan lainnya yang di kurangi. Ya kan ?
Mudah-mudahan kedepannya jd berubah.
Berkat dan doa kok dititolak toh…weleh-weleh…
Mauliate.
midian sefnat sihombing
Juni 16th, 2008 pada 17:11
mauliate lae simbolon
apa yg ada dibenakmu,itulah harapan saya.
semoga makin hari makin banyak perempuan Batak yg sadar dan insyaf atas kekeliruan,kesalahan yg dilakukan mereka2 thd kain tenun warisan budaya leluhur.saat ini ulos & songket Batak sudah bermetmorfosa menjadi sebuah mahakarya yg begitu sgt2 indah harapannya dpt menjadi kebanggaan kita semua.
Horas…bangso Batak
poppy selviani
Juni 20th, 2008 pada 16:09
Wuuuaaaa, walaupun bukan orang batak, aku tertarik juga kok dengan ulos. malahan waktu merdi sihombing diliput di Kompas, aku tulis ulang juga di blogku Indonesian royal heritage
Poppy
Charlie M. Sianipar
Juni 21st, 2008 pada 17:47
Beberapa fofo ulos dan songket karya Merdi Sihombing saya posting di http://www.charliesianipar.com pada Album Model & Glamour. Berikut dengan foto Merdi Sihombing di Album Portraiture & Human Interest. Di album lain, Fine Art ada foto Sirat dan Tas dari bahan Lak Lak.
midian sefnat sihombing
Juni 26th, 2008 pada 13:43
Pem.Kab.Samosir sejak 2 hari yg lalu selama 10 hari sudah melakukan pelatihan membuat gatip/hait(motif tenun itkat)dgn menggunakan pewarnaan kimia.
kebayang gak seh..suatu saat kalau banyak pengraji n di Kab.Samosir melakukan ini sbg nafkah keluarga.
Berapa banyak limbah pewarna kimia yg bermuara dan pastinya akan mengotori danau Toba kbanggaan kita?kita tau masyarakat disana menggunakan air danau Toba buat semua keperluan hidup sehari-hari.
borue sitorus
Juli 4th, 2008 pada 09:35
semoga makin banyak merdi merdi yang baru di tanah batak.
YOU ROCK MERDi!!!!
Ginomgom Simanjuntak
Juli 12th, 2008 pada 15:33
dohot angka lidya lidya na manghaholongi budaya batak i ate…
GORGA art photography
Oktober 6th, 2008 pada 05:33
Di Facebook [[[B a T a k]]], beberapa jenis ulos difoto dan diposting oleh Togar Sitanggang berikut artikel pendek sebagai keterangan yang bersumber dari blog TanoBatak ini
reposting2008/10/02
HotmaidazPangri
Oktober 22nd, 2008 pada 14:41
Ito Merdi S ! Perjuanganmu untuk mensejajarkan ulos tercinta dengan tenun tenun yang ada di bumi pertiwi dan membuka mata dunia akan indah dan eksotiknya ulos kita tercinta . Hal ini sangat membanggakan. Saya pun walau batak silom(islam) tetapnya adat itu aku teruskan,khususnya ulos.Kalau ada pesta saya usahakan memberi ulos sesuai peruntukkannya.Dan rekanrekan yang non batak justru bangga sekali kalau saya kasih ulos sebagai tanda mata/tanda kasih malah mereka terharu masuk dalam persaudaraan batak. Kok malah yang saya amati halak hita na dirantau mengesampingkan hakekat ulos ini pada setiap prosesi adat. Jadi saya pribadi mendukung sekali atas usaha ito Merdi membangkitkan kembali ulos dan memacu semangat generasi muda untuk belajar menenun ulos. Semoga halak hita na dirantau olo mangurupi dalam segala hal usaha ito ini. Botima. Horas….
H sianturi
November 14th, 2008 pada 11:24
Tadi saya nonton Metro Tv yg sedang mbahas ulos oleh bang merdi..Saya b’asal dr tarutung,saat ini ibu saya sedang berjualan ulos yg didapat dgn cara memodali para penenun dgn membuat sesuai pesanan pasar namun saya lihat model atau motif hanya begitu saja(tdk ada inovasi) mgkn di krn kan ibu sy blm prh bljr fashion jadi saya lht ada keterbatasan dsana. Saya minta tlg utk bang Merdi Sihombing bagaimana caranya utk menambah wawasan mereka.utk diajak krj sama oleh bang merdi dalam mengembangkan ulos saya jg mau.tks Horas
Ria A. Hasibuan
Desember 12th, 2008 pada 19:35
Saya sangat bangga dengan apa yang telah sdr. Merdi S. lakukan dengan ulos kita. Saya melihat hasilnya di Metro TV. Saya bangga dengan bangunnya generasi muda batak untuk mengembangkan/ memperkenalkan ulos ke dunia luar. Sewaktu anak saya menikah di Omaha, Nebraska, Amerika Serkat, pada saat resepsi kami semua, pengantin dan keluarga, memakai kain batak + ulos dari bahan sutera yang di buat oleh sdr. Valentino Napitupulu. Dan semua tamu disana sangat mengamuminya. Saya berharap ulos akan mendunia. Mohon alamatnya saya ingin melihat langsung hasil karya saudara. Salut !
Hendry Lumbangaol
Desember 15th, 2008 pada 09:03
Ito ria……baguslah ito bangga…
ito sudah muli-kah??? …kalo belum, jangan cari lagi songket palembang yah……
lisbet siagian
Maret 3rd, 2009 pada 15:44
semoga ulos Batak dipakai banyak orang seperti orang lain memakai songket Palembang, baik resepsi perkawinan diluar suku batak maupun untuk acara-acara formil lainnya
Liberius Sihombing
Maret 3rd, 2009 pada 22:03
Mendengar semangat teman-teman di blog ini untuk melestarikan dan mempopulerkan ulos saya sangat terharu dan tentu terdorong untuk memberi masukan juga. Saya sangka (pasti) bahwa kebanyakan kita masih cinta dengan budaya kita. Itu amat bagus, terlihat dari appresiasi kita terhadap artikel ini. Tentang ulos ini saya teringat pengalaman saya waktu bulan Agustus 2008 yang lewat ketika saya berangkat ke Thailand memulai tugas baru. Saya bawa 3 potong ulos dari Samosir yang memang saya sangat sukai karena selain cantik-cantik dan mahal, juga saya anggap sebagai ulos ‘na marsintuhu’ tu ahu. Kenapa saya sebut marsintuhu? Karena bukan sembarang ulos yang dibeli di pasar atau onan atau ulos yang saya minta sendiri.
Saya adalah seorang pastor Katolik yang diutus bertugas di Thailand. Ketika saya ditahbiskan jadi imam Pebruari 2007 yang lewat, tulang saya memberi ulos kepada saya dan orangtua saya juga memberi ulos yang saya anggap sebagai sarana doa mereka untuk saya. Dan memang ulos itu sebagai simbol doa bagi kita. Lalu waktu saya pindah tugas dari Balige menuju Thiland umat saya di Balige juga memberi ulos yang saya sebut sebagai ulos na ‘marhadohoan’. Mereka sebut itu ulos borhat-borhat, dan mereka juga memberi ulos dalam bentuk topi (mereka sebut tali-tali parmahan) Semua ulos ini saya bawa ke thailand, dan saya sangat bangga setiap kali memandangnya. Dan beberapa stola (stola=semacam selendang yang dipakai imam waktu perayaan misa) yang sudah biasa dipakai imam di daerah Sumut juga saya bawa, dan orang Thailand sangat kagum melihat stola itu jika saya pakai waktu misa. Dari sini saya mau mengatakan kepada kita, khususnya appara saya Merdi Sihombing supaya melihat juga peluang pengembangan ulos ini untuk penggunaan di dalam ibadat gereja. Anda bisa melihat beberapa pastor Katolik di Sumut ketika memimpin perayaan di Gereja mereka memakai pakaian kebesaran imam yang terbuat dari kain ulos atau kain budaya setempat. Ini sebagai salah satu langkah yang sudah lama digagas katolik sebagai inkulturasi, yakni memasukkan unsur-unsur yang ada dalam budaya setempat ke dalam liturgi ibadat gereja tanpa menghilangkan unsur esensial yang tak tergantikan, termasuk musik gondang, bangunan gereja dan ulos ini. Ini sedikit tambahan informasi dari saya. Selamat berjuang untuk amparaku Merdi.
nidya
April 19th, 2009 pada 18:16
halo,,,aku tertarik banget dengan ulos ni….malah sekarang aku lagi bikin skripsi tentang fashion ulos….aku mau tau tempat jual kain ulos yang bisa dijadikan baju sehari-hari (bukan kain ulos biasanya yang tebal dan panas)))
tolong banget ya informasinya, bis aku dak keliling2 ga dapet2…thanx b4…
agust hutabarat
Agustus 24th, 2009 pada 15:22
sattabi Amang hu buat tulisan on laho hu posting di Blog hu..
Mauliate parjolo
Horas…
http://agusthutabarat.wordpress.com/2009/08/24/kapan-ulos-batak-menjadi-kebanggaan/
jeffry silalahi
September 23rd, 2009 pada 21:36
bagaimana pendapat amang tentang ulos kita yang diklaim oleh malaysia merupakan produk ciptaan mereka??
B.Parningotan
September 24th, 2009 pada 15:28
toho do i ra, alai ulos na tinompa ni halak malaysia i apala roa idaon, jadi hita do mambahen haulionna.
agil lhabia
November 9th, 2009 pada 11:22
kira2 motif batak seperti dari kain ulos, baju rompas, ukiran kayu bisa diaplikasikan ke media lain, sperti sepatu, sandal dsb?
corry silaban
November 27th, 2009 pada 11:18
amang, inang….songon dia do molo hita naeng manuhor ulos batak i…on sian halak Kalimantan…
Boi do lewat Kirim n hepeng na i tranver anon…
sae bagak nai i ulos2 batak i bah i bereng………
sitinjak
Desember 8th, 2009 pada 19:19
bagaimana batik ulos bisa menyebar dan berkembang kalau harganya 1,5jt pcs kan ngga semua orang batak mampu……..
Adolf napitupulu
Februari 16th, 2010 pada 13:34
Horas….
Saat ini saya sedang mengerjakan Tesis di salah satu PTN..Judul tesis saya adalah “STRATEGI PEMASARAN KAIN ULOS SEBAGAI KOMODITI EKSPOR’.
saat ini saya hendak membuat kuesioner yang terkait dengan judul tersebut..
Saya kehilangan ide utk membuat kuesioner nya..
mohon bantuan dari senior2 batak sekalian.
mauliate godang parjolo molo adong na marespon uneg2 on..
maju terus bangsa batak…
Gomgom
Februari 19th, 2010 pada 17:10
sudah saatnya ulos tidak hanya berorientasi pada upucara2 adat munculkan disamping cendra mata ulos sangat memungkinkan diarahkan kedalam bentuk fashion dan interior2 yang bisa juga dikombinasikan dng kain batik yang berasal dari daerah lain. bagus dan s
HUMALA SIMANJUNTAK
Februari 23rd, 2010 pada 11:20
Saya sangat gembira membaca tulisan para generasi muda tentang pendapatnya khusus mengenai ulos Ulos merupakan salah satu unsur budaya Batak yg penting dan membanggakan tidak banyak bangsa di dunia ini memiliki perangkat yang multi guna, Ulos sebagai perangkat simbol,lambang cintakassih yg disampaikan dengan iringan Doa kepada TUHAN YANG MAHA KUASA<PENGASIH,agar penerima diberkati. Apakah itu di dalam upacara suka atau duka tentunya Doa cara Batak [ tidak cara Belanda,tidak cara Jerman,tidak cara Manado, tidak cara Jawa dll ] apakah itu Katholik, apakah Protestant ,apakah Parmalim pokoknya cara BATAK . Selain daripada itu Ulos sebagai perangkat pakaian sebagai assesoris ,sebagai perangkat dalam pesta adat ,asa jagar sude ,berwibawa, punya charisma .Saya kurang setuju /tidak sependapat dengan banyak pengetua adat di Jakarta yang mengurangi jumlah ulos dalam pesta adat dengan alasan menghemat waktu., anehnya kalau waktu pemberian "tumpak 'tidak dibatasi ..
uma saragih
Maret 31st, 2010 pada 09:49
seharus nya tampilan ini disertakan dengan foto – foto yang ada,,, misalnya adat pernikahannya, ulos nya baik batak toba, simalungun, karo atau pun yang lainnya,,,
seperti sekarang saya ingin mencari gambar ulos batak untuk undangan,,, atau saya minta saran dimana atau nama web yang mencantumkan gambar – gambar ulos batak tersebut.
patuan simanjuntak
April 6th, 2010 pada 23:41
Horas…lae, Ulos batak punya nilai yang sangat tinggi untuk budaya kita. bisa dikatakan punya mistik yang luar biasa membuat ulos itu menjadi sakral bagi orang yang mengerti makna ulos itu..dan ulos punya nilai jual yang tinggi apalagi mebuatnya dengan cara di tenun oleh namboru kita di Balige.Cuma namboru kita sudah tua jadi tidak ada yang meneruskan membuat ulos. Kalau pakai mesin nanti bikinnya jadi “ULOS MESIN ” bukan ” ULOS BATAK ” lagi lae. …
Kayra
April 21st, 2010 pada 12:38
Thanks utk artikelnya, To.
Karena kecintaan kami pada ulos batak, kami baru buka usaha HORAS SHOP. Toko yg menjual souvenir dan pernak-pernik dari ulos, seperti tempat hp (single hp, double hp, sarung Blackberry), tas, taplak, refillable book dll.
Cocok utk pernikahan, bona taon, hadiah utk ulang tahun pernikahan, gift atau personal use.
boleh cek ke www. horas-shop.blogspot.com
Mauliate..
SITINJAK
Juni 10th, 2010 pada 11:39
Tolong dong batik ulosnya dipasarkan secara gencar tapi harganya jangan terlalu mahallah……….
http://www.kebutuhan-hotel.com
yunita nababan
Juni 27th, 2010 pada 13:11
jadi kita harus bngga jadi orang batak lestarikan budaya kita dan ulos juga
Dewi
Agustus 30th, 2010 pada 00:20
Sy bangga punya swdara sperti abg tetapi alangkah ny baikny jika smua itu benar2 dilestrikan bukan cuma omongan.
Shinta Manullang
Oktober 11th, 2010 pada 21:54
saya bangga jadi orang batak!
) ayo amang, tulis lagi tentang budaya batak.. horas!
gobatak.com
Februari 5th, 2011 pada 12:42
Maju terus Batak, ULOS itu harus tetap menjadi SOUL terutama bagi anak muda saat ini.
Pulau Pearung, Pulau Unik Bisa Berpindah-pindah
Inriani Sianipar
Februari 28th, 2011 pada 13:38
Salut untuk ulos batak. pakaian pertama orang tanah batak harusnya lebih dibanggakan oleh orang batak sendiri.
Tapi, biar bagaimanapun juga untuk membuat trend fashion dari kain Ulos sedikit sulit karena tekstur kain dan coraknya yang unik.
semoga saja akan ada yang jadi ‘breaktrough’ untuk membuat ulos sebagai fashion trend yang mendunia. toh, orang-orang luar negeri saja kagum pada Ulos. kenapa kita sebagai orang batak tidak?
GBU
melpinsijabat
Desember 18th, 2011 pada 15:07
HORAS MA DIHITA SUDENA.
unang lupa hita mangngot adat da…..
ikkon ingot do hita
horas
AMIR ARITONANG
November 1st, 2012 pada 16:48
HORAS. SAYA SANGAT MENDUKUNG SUPAYA ULOS/SONGKET BATAK BISA MENJADI KEBANGGAAN ORANG BATAK DENGAN MEMAKAI DALAM SETIAP KESEMPATAN KHUSUS. JANGAN JUSTRU BANGGA MEMAKAI SONGKET HASIL DARI DAERAH LAIN. MARI KITA GALANG KEBERSAMAAN UNTUK LEBIH CINTA MEMAKAI ULOS DAN SONGKET BATAK. GBU TANO BATAK DAN HALAK BATAK DIMANAPUN BERADA
yohanes tambun
November 19th, 2012 pada 18:54
mari kita lestarikan terus budaya batak kita ini…
mauliate..