BALAI BUDAYA BATAK Yayasan T.P Arjuna salah satu museum yang mengkolesi barang pusaka dan benda sejarah Batak yang terlengkap saat ini.
Sayangnya, museum ini kurang dimanfaatkan masyarakat umum, para peneliti maupun dunia pendidikan.
Museum ini berada pada kawasan Kampus YTP Arjuna – Pintubosi – Kecamatan Laguboti – Kabupaten Toba Samosir. Didirikan atas prakarsa Prof Dr Midian Sirait.

Rumbi Hombung Sorha Pustaha

PARTUNGKOAN menampilkan nama-nama barang bersejarah yang ada di Museum ini sesuai dengan urutan registrasinya.

ALAT-ALAT PERTANIAN

1. ANSUAN :
Bahan dari batang pohon enau (pakko) dipakai untuk mengolah tanah sawah pada tahap permulaan (sebagai cangkol).
2. ORDANG :
Bahan terbuat dari pakko, digunakan untuk alat melobong tanah untuk tempat benih padi ditanami, biasanya di lahan kering dengan tanah keras.
3. PANASAPI :
Gagang dibuat dari pakko mata dari tulang sasap (belikat) kerbau, dipakai untuk membersihkan dan meluruskan pematang sawah.
4. PANGALI :
Gagang dibuat dari kayu mata dari besi, dipakai untuk menggali tanah disamping fungsi lain seperti Panasapi.
5. SORHA-SORHA :
Bahannya dari pakko, kayu, dipakai untuk perlengkapan membajak sawah jika menggunakan seekor kerbau.
6. PANGGU :
Alat mengolah tanah yang lebih muda dipakai untuk menggemburkan tanah. Bahonnya dari kayu dan besi.
7. AUGA :
Bahannya dari kayu dan pakko, perlengkapan membajak sawah dengan menggunakan duo ekor kerbau.
8. NINGGALA :
Dibuat dari kayu jior dan pakko, dipakai alat membajak/ menggemburkan tanah ditarik oleh kerbau.
9. SISIR :
Dibuat dari kayu, pakko dan bambu, digunakan untuk menggemburkan tanah dalam proses lanjutan setelah siap dibajak.
10. TOPPI :
Bahan dibuat dari Rotan, dianyam digunakan untuk mengikat leher kerbau waktu membajak/ menyisir sawah.
11. HUNDALI :
Terbuat dari kulit kerbau biasanya dari bagian leher. Digunakan untuk mengikat Ninggala/Sisir dengan sorha atau auga waktu membajak sawah.
12. TEAL-TEAL :
Bahan dibuat dari pakko dan kayu digunakan untuk kendali kerbau waktu membajak.
13. BATAHI (1) :
Dibuat dari rotan digunakan sebagai cambuk pemukul kerbau.
14. BATAHI (2) :
Dibuat dari bambu.
15. GAIR-GAIR SIDUA RAJA (1) :
Tangkai dibuat dari pakko gagang dari tunggul bambu (Taruntung bulu) matanya duo buah dibuat dari pakko digunakan untuk menggemburkan tanah.
16. GAIR-GAIR SIDUA RAJA (2) :
Fungsinya soma dengan diatas pada bagian mata ditambah dengan besi.
17. GAIR-GAIR SITOLU RAJA :
Gair-Gair bermata tiga dibuat dari pakko dilengkapi dengan mata besi, digunakan untuk menggemburkan tanah.
18. GAIR-GAIR SIOPAT RAJA :
Gair-Gair bermata empat digunakan untuk menggemburkan tanah tarutama yang berlumpur.
19. TALI HOTANG :
Bahan dari ijuk pada kedua ujungnya terdapat duo buah tuhe dari bambu digunakan untuk menentukan atau meluruskan pematang sawah.
20. TUHE :
Bahannya dari bambu, untuk tanda patok sawah.
21. ROGO PANDABUI :
Tangkainya dibuat dari pakko, dari kayu dan matanya dari untuk meratakan permukaan sebelum ditanami bibit padi.
22. ROGO PANGALESLES :
Serupa dengan Rogo Pandabui tetapi mata rogonya lebih pendek, fungsinya untuk mehgha – luskan permukaan tanah untuk siap ditanami same. ( Tunas padi ).
23. HUDALI ( OBBAK-OBBAK ) :
Sejenis cangkul kecil dari pakko dengan tangkai bambu dipakai untuk menyiangi rumput dari ce-lah-celah bibit padi.
24. GURIS :
Terbuat dari kayu dan besi dipakai untuk menyiangi sawah.
25. PANGGOLE :
Bentuknya seperti Hudali besar, bahannya dari Pakko, digunakan untuk memberi jalan air agar merata setelah sawah siap disiangi.
26. HARANG :
Sejenis keranjang dibuat dari kulit bambu, digunakan untuk tempat membawa abu dapur atau-pupuk kandang ke sawah untuk memupuk tanaman.
27. HIRANG :
Serupa dengan Harang tapi lebih kecil, biasanya dibawa sekaligus dua buah dengan memakai pikulan atau Hallungan.
28. HALAK-HALAK :
Orang-orangan dari ijuk berfungsi sebagai penjaga sawah dari serangan burung.
29. TALI HOTOR-HOTOR :
Tali ijuk yang menghubungkan Halak-halak dengan penjaga sawah didangau. fungsinya untuk menggerakkan halak-halak.
30. OTAM SAMBILU :
Terbuat dari kulit bambu (Sembilu) dipakai untuk alat menuai padi, alat ini tidak dipakai lagi dewasa ini.
31. SASABI TATAMBAL :
Bahan dibuat dari besi dengan gagang dari kayu. Sasabi jenis ini dapat dilipat dipakai untuk menyabit padi.
32. SASABI RAHAT :
Serupa dengan Sasabi Tatambal, tetapi tidak dapat dilipat.
33. SARUDAN :
Alat pegangan tradisionil. Waktu mardege (melepaskan padi dari batangnya dengan cara menginjak-injaknya secara teratur).
34. AMPANG PARMASAN :
Bakul tradisionil Batak Toba terbuat dari rotan, dianyam, isi sekitar 20 liter, digunakan untuk takaran padi. Ampang jenis ini juga digunakan dalam upacara-upacara adat.
35. AMPANG PAPALIAN :
Ampang jenis lain dengan isi sekitar 16 liter digunakan untuk upacara-upacara adat seperti tempat padi dan sijogaron pada upacara kematian orang-orang tua yang sudah beranak, bercucu.
36. AKKUT-AKKUT :
Ampang jenis lain yang lebih kecil is! _+ 8-10 liter, digunakan untuk ukuran padi pemberian kepada Raja Bandar (Pengurus tali air). Ampang jenis ini juga digunakan untuk tempat Ompu-Ompu pada upacara penguburan orang tua yang sudah mempunyai cicit.
37. RAGA :
Sejenis anduri dengan anyaman agak menerawang, dipakai untuk kipas waktu memisahkan bulir padi dari merang. Raga juga digunakan untuk alat menampi padi atau beras, bahannya dibuat dari kulit bambu dengan Rotan, sebagai gagangnya.
38. PARRASAN (1) :
Tempat padi atau beras dibuat dari bayon (sejenis pandan) dianyam. Isi sekitar 3 Kaleng ( 60 ltr).
39. PARRASAN (2):
Isi 2 (dua) Kaleng.
40. PARRASAN (3) :
Isi 1 (satu) Kaleng.
41. PANUNUHAN (1) :
Sejenis Parrasan dengan bentuk khusus. Tempat memikul padi dari sawah kerumah, dipikul dipundak laki-laki. Isi 3 Kaleng.
42. PANUNUHAN (2) :
– idem — Isi 22 Kaleng.
43. ANDOK-ANDOK :
Serupa dengan parrasan tapi kecil isi sekitar 1 Liter, biasanya digunakan tempat nasi (tugo) ke ladang atau waktu berpergian.
44. SOLUP :
Terbuat dari bambu, sebagai takaran padi, atau beras.. Ukuran isi sekitar 2 ltr. Solup tidak sama besarnya, jika terjadi suatu transaksi yang dipakai adalah Solup yang didatangi. Dalam hal ini ada ungkapan adat “Sidapot Solup do naro” artinya kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita berada.
45. GARUNG-GARUNG(1):
Sebuah tabung dari bambu dililit (dirompu) dengan rotan agar tidak mudah pecah. Tutupnya dibuat dari kayu. Digunakan untuk tempat air minum.
46. TABU-TABU IRAWANG :
Tempat air minum terbuat dari kulit buah labu (tabu-tabu) yang dikeringkan. Labu ini dirompu dengan jalinan rotan.
47. GARUNG-GARUNG (2):
Garung-Garung jenis lain tempat perahan susu kerbau.
48. GARUNG-GARUNG (3):
Serupa dengan garung-gatung (2)
49. HUNTAM :
Bahannya dibuat dari jalinan rotan talinya dari ijuk. Dipakai untuk menutup mulut anak kerbau agar tidak menyusu terus menerus terutama dimalam hari, tujuannya agar susu induk kerabau dapat diperah dalam jumlah banyak. Susu kerbau tersebut jika dimasak (dialhoti) secara khusus merupakan lauk tradisionil khas Batak namanya Dali ni horbo atau bagot ni horbo.
50. SAKKAK :
Songkok ayam dibuat dari bambu, untuk tempat ayam bertelor dan mengeram.
51. SAKKAK HERENGAN :
Songkok jenis lain dan lebih besar. Dipakai untuk tempat ayam yang baru menetas agar terhindar dari sambaran burung elang.
52. SUNUT :
Tempat anak ayam dari bambu yang dianyam.
53. HALUNG-HALUNG :
Terbuat dari bambu dikalungkan ke leher ternak babi, agar tidakleluasa memasuki lading (Porlak).
54. PALAKKA :
Dibuat dari kayu, dilobangi (dikorek agak dalam, dan besar) digunakan untuk tempat makan ternak babi.
55. GONTA-GONTA :
Dibuat dari kayu pinasa diikatkan dileher lembu agar gembala mengetahuinya dimana lembu tersebut berada, terutama jika digembalakan di hutan atau dalam jurang.
56. HALUNG-HALUNG :
Dibuat dari bambu untuk halung-halung lembu.
57. SIGE :
Sejenis tangga, dibuat dari sebatang bambu duri tangga ini gampang dipindah-pindahkan sehingga cda umpasa mengatakan “Sige do tumandangi bagot” artinya Sepatutnya lelaki yang mendatangi perempuan.
58. TEKTEK PAMBALBAL :
Sejenis palu dari kayu ringan digunakan untuk membalbal (memukul-mukul) miang bagot, untuk mendapatkan nira atau tuak.
59. PISO PARAGAT :
Jenis pisau tipis, khusus untuk mengiris miang (1) bagot (enau).
60. PISO PARAGAT (2) : – idem -
61. HANDI : Dibuat dari bambu diberi tali dari ijuk dipakai untuk tempat tuak atau air.
62. POTING: Handi Jenis lain.
63. POTING : – idem -
64. HUDON TUKKAP :
Periuk tanah, dirakke (dijalin) dengan tali ijuk dipakai untuk tempat tuak.
65. LAMAN :
Alas periuk tanah dibuat dari jerami.
66. HARPE :
Alas periuk tanah dibuat dari jalinan rotan.
67. HAJO :
Tempayan tempat tuak dibuat dari tembikar.
68. SEAK-SEAK ( BOKKOR ) :
Bahan dari tempurung kelapa digunakan untuk cangkir tuak.
69. TAKKIK (1) :
Sejenis tukil (pahat) alat melobang pohon kemenyan untuk mengambil getah kemenyan.
70. TAKKIK (2) : idem
71. PISO DERES :
Sejenis pisau alat menderes getah kemenyan.
72. TALl POLANG :
Jenis tali ijuk untuk memanjat batang kemenyan.
73. GURIS HAMINJON :
Dibuat dari besi dengan gagang kayu untuk mengambil getah kemenyan.
74. PARANG :
Terbuat dari besi digunakan untuk bermacam-macam keperluan pertanian.
75. RABI :
Terbuat dari besi, digunakan untuk membuka jalan disemak belukar dan untuk memotong ranting pohon, bambu dan lain-lain.

ALAT RUMAH TANGGA DAN PERLENGKAPAN PESTA

76. SAPA (1) :
Sejenis pinggan dari kayu nangka tempat nasi untuk makan bersama (sekeluarga). Istilah Sapa-nganan adalah identifikasi dari keadaan makan bersama dari Sapa, artinya Sapanganan identik dengan kaum kerabat, keluarga dekat.
77. SAPA (2) :
Bentuk lain dari Sapa dan lebih besar.
78. PINGGAN PASU :
Dibuat dari bahan porselen, warna Hijau keputih-putihan dipakai untuk tempat makanan pada upacara adat. Koleksi ini diperkirakan telah berusia lebih dari 150 tahun. Pusaka keluarga Oppu Tarida Napitupulu dari desa Huta Dolok. Diperoleh dengan ganti rugi.
79. PINGGAN JAROJAK (I) :
Bahan dari porselen putih, dengan ornamen berwarna biru, digunakan untuk tempat makanan pada waktu pesta adat.
80. PINGGAN JAROJAK (2) :
Bahan dari porselen putih dengan ornamen warna merah bata dipakai waktu pesta adat.
81. PINGGAN SIBULUNG GAOL :
Bahan dari porselen putih kotor dengan hiasan gambar bunga dan daun berwarna hijau kebiru-biruan dipakai waktu pesta adat.
82. PINGGAN PUTI :
Bahan dari porselen putih digunakan oleh para datu pada upacara khusus Hadatuon dan upacara adat tertentu.
83. PINGGAN BUNGA :
Bahan dari porselen putih dengan gambar orna men berwarna biru, digunakan untuk pinggan Pallompanan.
84. SAKKE PINGGAN (1) :
Anyaman rotan special untuk tempat menyimpan pinggan dengan menggantungkannya di dinding atau rak rumah.
85. SAKKE PINGGAN (2) : idem
86. SAKKE PIRING :
Serupa dengan Sakke Pinggan khusus tempat piring, lebih kecil dari Sakke Pinggan.
87. SAPA TANO :
Bahan dibuat dari tanah liat dibentuk soma de – ngan sapahau fungsinya sama dengan sapa hau.
88. SALUNG :
Bahannya dari bambu, digunakan untuk tempat minum pada waktu pesta.
89. ANDURI PANGANAN :
Bentuk seperti tampi beras tetapi lebih kecil, bahan terdiri dari Rotan dan kulit bambu. Digunakan sebagai tempat makan untuk umum diwaktu pesta.
90. POTING :
Bahannya dari bambu, tali ijuk don rompu hotang digunakan untuk tempat mengambil air dari sumber air untuk persediaan air di rumah.
91. GARUNG-GARUNG :
Bahan dari bambu, dirakke (dililit) dengan anyaman rotan, digunakan tempat air minum.
92. GARUNG-GARUNG : sama dengan diatas.
93. SIKKUP :
Bahan dari rotan, dianyam berbentuk bulat, dibuat bertutup seperti hudon tano. Dipakai untuk tempat pakean, benang dan barang berharga lainnya ( sekitar 50 tahun ).
94. HITANG BESAR :
Bahan dari rotan, dianyam bentuk bulat, pipih dan bertutup serta bertali, fungsi soma dengan sikkup ( sekitar 100 tahun ).
95. HITANG KECIL : – idem -
96. TABU-TABU :
Bahan dari buah labu tutupnya dibuat dari kayu bentuk patung, dulu digunakan untuk tempat air minum dan dewasa ini banyak digunakan sebaqai hiasan.
97. PARRASAN :
Bahan dari baion logen (sejenis pandan) dianyam, digunakan untuk tempat beras.
98. SANIHE :
Bahan dari rotan, dianyam, digundkan untuk alas benda-benda bulat dan mudah pecah, seperti hudon, guci, guri-guri dan lain-lain.
99. HARPE HOTANG (1) :
Dibuat dari rotan dianyam dengan bentuk khusus bagian alas berbentuk parabola, bagian bawah rata. Dipergunakan untuk landasan periuk tanah.
100. HARPE HOTANG (2) ; Serupa dengan diatas.
101. HADANG HADANGAN (1) :
Sejenis tas tangan tempat belanjaan atau barang barang bawaan waktu berpergian. Bahannya dibuat dari baion (login) dianyam secara khusus diberi bertali sehingga praktis untuk di bawa-bawa.
102. HADANG HADANGAN (2) :
Serupa dengan di atas tetapi lebih kecil, digunakan untuk tempat garam

PERHIASAN DAN ALAT PESTA

103. HAJUT PARDEMBANAN :
Dibuat dari daun pandan, dianyam sedemikian indah untuk tempat sirih dan kelengkapannya. biasanya digunakan oleh kaum ibu.
104. HAJUT-HAJUT :
Hajut Pardembanan motif lain dibuat dari daun Pandan Simata dan Kain merah. Berasal dari daerah Angkola.
105. SALAPA (1) :
Dibuat dari bahan kuningan (golang-golang) digunakan untuk tempat sirih.
106. PARHAPURAN (1) :
Bahan dari kuningan dipakai untuk tempat kapur sirih.
107. SALAPA (2) :
Tempat tembakau dibuat dari kuningan.
108. PARTIMBAHOAN :
Dibuat dari kulit telor Kambing dipakai untuk tempat tembakau.
109. HALAHATI :
Bahannya dari besi, dipakai untuk membelah pinang.
110. BALANJA :
Tempat menyimpan sirih dibuat dari bambu, bertutup dari ijuk dan kayu.
111. GONDIT :
Bahannya dari kulit kerbau digunakan untuk ikat pinggang sekaligus tempat menyimpan duit (uang).
112. HAMPIL :
Dibuat dari kulit seekor anak kambing secara utuh tanpa jahitan / tambalan digunakan sebagai hajut oleh raja-raja adat dan para dukun sakti. Koleksi ini diperhitungkan telah berumur ratusan tahun.
113. HAJUT BAG :
Hajut jenis lain dari jaman penjajahan belanda. Bahan dari kulit, besi dan telah dijahit biasa dipakai laki-laki kaya don berpengaruh.
114. HAJUT KULIT :
Hajut ini dibuat dari kulit lembu yang belum disamak, biasa dipakai raja-raja adat untuk tempat sirih dan perlengkapan lainnya.
115. TUKKOT MALLO :
Tongkat orangtua umumnya bahannya dari rotan dipakai sehari-hari.
116. TUKKOT NATUIT :
Dibuat dari tanduk kerbau dihiasi dengan gelang-gelang besi putih, perak dan tembaga dipakai oleh kaum lelaki perlente, waktu berjalan-jalan ke pecan dan waktu mainondur ke pesta-pesta.
117. TINTIN BAGANDING TUA :
Bahannya dari tembaga, perak, kuningan dan Simbora (timah), digunakan sebagai hiasan jari sekaligus untuk jimat.
118. TINTIN GOLANG-GOLANG :
Dibuat dari besi kuningan bercampur tembaga. Dipakai sebagai jimat dan hiasan jari.
119. LEANG (1) :
Dibuat dari kuningan dan tembaga, diukir dengan motif khusus Singa-Singa, dipakai sebagai hiasan pelengkap kebesaran. Dipakai pada waktu pesta oleh kaum laki-laki.
120. LEANG (2) :
Bahannya dari kuningan, tembaga dan simbora, dipakai oleh kaum ibu waktu pesta-pesta.
121. GOLANG :
Bahan dari kuningan, diukir ragam hias Singa-Singa dipakai oleh kaum Bapak.
122. PUTTU :
Gelang lengan dari batu putih digunakan oleh kaum bapak dilengan sebelah kanan pada waktu pesta-pesta.
123. GOLANG GADING :
Dibuat dari gadirng gajah, dipakai oleh kaum bapak pada waktu pesta, letaknya di pangkal le-ngan kiri dan kanan sekaligus.
124. HORUNG-HORUNG SI MATA :
Bahan dari manik-manik, Simata dan Sikkoru. Dipakai sebagai kalung kebesaran oleh laki-laki maupun wanita, biasanya diwaktu pesta.
125. HORUNG-HORUNG BONANG MANALU :
Bahan dari benang pilin tiga warna dan buah rotan dipakai sebagai jimat terutama untuk anak-anak balita.
126. SIBONG SITELPANG :
Kerabu Batak, dibuat dari kuningan dan emas batak digunakan sebagai penghias telinga oleh kaum ibu dan bapak.
127. SIBONG OTTOK-OTTOK :
Kerabu batak jenis lain dipakai oleh kaum sebagai perhiasan.
128. SORTALI (1) :
Bahan dibuat dari tembaga, disepuh dengan emas batak ditempelkan paada kain merah, dipakai untuk ikat kepala (Mahkota) laki-laki pada pesta-pesta besar.
129. SORTALI (2) :
Serupa dengan Sortali kaum lelaki, tetapi motif ini khusus untuk wanita.
130. HOS – HOS :
Dibuat dari benang tiga warna. (merah, putih dan hitam) ditenun/disirat digunakan sebagai ikat pinggang muda-mudi di waktu pesta.

ALAT-ALAT RUMAH TANGGA

131. RAKKE :
Tempat barang-barang seperti Ulos, pinggan dan lain-lain digantungkan pada pandingdingan jabu Ruma, bahan dibuat dari rotan, kayu dan tali ijuk.
132. HOMBUNG (2) :
Duplikat dari hombung Gorga (ukiran tradisional BATAK TOBA) Dipakai untuk tempat barang & Harta.
133. HOMBUNG (1) :
Peninggalan lama, dibuat dari kayu pinasa, diukir motif gorga Batara Siang. Dipakai untuk tempat harta don barang pusaka lainnya. Hombung ini juga berfungsi sebagai dipan untuk tempat tidur pemiliknya (Kepala rumah tangga).
134. RUMBI (1) :
Bahan dari batang pohon nangka, digunakan untuk tempat harta don barang pusaka. Koleksi ini berasal dari Lumban Gurning Kecamatan Porsea, umur ditaksir ratusan tahun.
135. RUMBI (2) :
Bahan dibuat dari kayu nangka besar, fungsinya untuk tempat menyimpan harta benda dan barang pusaka. Diperoleh dari desa Hinalang Balige, umur ditaksir ratusan tahun.
136. HOTANG PARRAMBUAN :
Dibuat dari rotan dianyam berbentuk periuk tanah digunakan untuk tempat pakaian, ulos dan lain-lain.
137. HUDON PARRAMBUAN :
Hudon tano (periuk tanah besar) digunakan untuk tempat barang, pakaian, ulos dan sebagainya.
138. TAGAN :
Tempat barang berharga (barang-barang Mas dan Perak) bentuk mini dari hombung motif Samosir dibuat dari kayu keras (Pokki). Diukir dalam bentuk dan komposisi yang harmonis.
139. SONDI :
Sejenis tagan dari daerah Simalungun, fungsinya sama dengan tagan motif Samosir dibuat dari kayu nangka.
140. LAGE-TIAR :
Dibuat dari “bayon login” = daun pandan, dianyam dipakai untuk alas/tempat duduk don tempat tidur.

ALAT-ALAT TENUN TRADISIONAL BATAK

141. BUSUR HAPAS :
Dibuat dari bambu berbentuk busur panah (Sumbia) Digunakan untuk membusur kapas, mengembangkan dalam kondisi merata agar mudah dijadikan benang dengan sorha.
142. SORHA TANGAN :
Bahan terbuat dari kayu, papan dan besi (Kawat). Digunakan untuk memintal benang dari kapas. Roda pemintal degerakkan dengan tangan.
143. SORHA PAT (1) :
Bahan dari kayu, papan dan besi digunakan untuk memintal’ benang dari kapas, Roda pemintal digerakkan dengan kaki. Dipakai pada jaman pendudukan Tentara Jepang di Tapanuli.
144. SORHA PAT (2) :
Motif lain dari Sorha. Banyak digunakan pada jaman pendudukan tentara Jepang di Tapanuli Utara (Tanah Batak).
145. ERDENG-ERDENG (PANGHULHULAN) :
Bahan dari kayu, pakko dan bambu. Digunakan untuk menggulung (mangkulhul) benang agar mudah digerakkan waktu menyusun dianian.
146. PANGUNGGASAN :
Dibuat dari bambu, fungsinya untuk menegangkan memadatkan benang. Diolesi dengan campuran air tajin dan nasi lembek.
147. UNGGAS :
Bahan- terbuat dari ijuk digunakan untuk mengoleskan kanji (air tajin dan. nasi lembek) untuk menegangkan benang.
148. GONGGONAN :
Hudon tano besar dipakai untuk tempat mencelup benang.
149. SOSA :
Alat membuat gatip-gatip pada motif ulos. Bahan terdiri dari Seak-seak (tempurung kelapa) bahan pewarna dan bulu ayam.
150. ANIAN :
Bahan dari kayu jion dan pakko, digunakan untuk merakit benang sebelum ditenun.
151. TUNDALAN (PAMUNGGUNG) :
Bahan dari kayu nangka dipakai untuk sandaran pinggul waktu bertenun.
152. TALI PAPAUT :
Bahan dari tali ijuk dipakai waktu bertenun, fungsinya untuk menghubungkan panunggung de-ngan Pagabe.
153. PAGABE :
Bahannya dari pakko, digunakan menjepit benang tenun sekaligus pemegang benang.
154. BALIGA :
Bahan dari pelepah daun enau (hodong) digunakan untuk memapatkan benang tenunan.
155. TURAK :
Bahannya dibuat dari bambu dipakai untuk menghantar benang sirat kain tenunan.
156. HASOLI :
Dibuat dari lidi, digunakan untuk gulungan benang sirat didalam turak.
157. SOKKAR :
Bahannya dari kulit hodong (ruyung) kedua ujungnya dibuat runcing, digunakan untuk menegangkan benang guna mengatur pola tenunan.
158. HATULUNGAN :
Bahan dari kayu, digunakan untuk pemisah benang tenun, mengatur pola dan baris-baris benang.
159. HAPULOTAN :
Bahan dari kayu, fungsinya untuk mengatur benang tenun supaya tidak simpang siur.
160. BALOBAS :
Bahannya dari ruyung, digunakan untuk merapikan benang yang akan ditenun.
161. LILI :
Dibuat dari ruyung, digunakan untuk mengatur corak warna kain tenunan.
162. PAMAPAN :
Bahannya dari ruyung, digunakan untuk gantyungan benang yang ditenun.
163. SITADOAN :
Bahan dari kayu, digunakan untuk landasan kaki waktu bertenun.
164. BALIGA SIRAT :
Bahan dibuat dari pakko, digunakan untuk merapatkan (memapatkan) benang pada ujung kain ulos yang telah siap ditenun bersisikan rambu.
165. SOSA :
Bahan terdiri dari beberapa helai bulu ayam, dipakai membasahi benang tenun agar hasilnya lebih rapat dan padat.
166. SEAK-SEAK SOSA :
Bahan dari tempurung kelapa dipakai tempat air sosa ( air biasa ).
167. Seperangkat alat tenun ulos sebagai alat peragaan tentang tata cara bertenun ulos SIBOLANG.
168. PINUNCAAN :
Bahannya dari benang kapas, dipakai sebagai abit/sampe-sampe pada waktu pesta ria.
169. SIRARA :
Dipakai sebagai abit don sampe-sampe pado waktu pesta ria.
170. BINTANG MARATUR :
Dipakai sebagai abit dan sampe pada waktu pesta ria.
171. PADANG-PADANG :
Dipakai untuk sampe-sampe parompa don untuk tali-tali.
172. SITOLU TUHO NAMARTUPE :
Sampe-sampe sihadangan.
173. SADUM ANGKOLA :
Dipakai sebagai ulos sampe-sampe pada waktu pesta ria digunakan oleh wanita.
174. SADUM TARUTUNG :
Dipakai sebagai ulos sampe-sampe pada waktu pesta ria digunakan oleh wanita.
175. SADUM TOBA :
Dipakai untuk ulos sihadangon pada waktu pesta ria oleh kaum wanita.
176. RAGI :
Digunakan sebagai obit dan ulos Sihadangon.
177. RAGI HOTANG :
Dipakai sebagai abit don ulos Sihadangon (Sampe-sampe).
178. SIBOLANG :
Dipakai sebagai abit dan sampe-sampe.
179. TUNTUMAN :
Dipakai waktu pesta ria sebagai tali-tali.
180. PINAN LOBU-LOBU :
Dipakai sebagai ulos sampe-sampe.
181. SURI-SURI :
Dipakai untuk parompa dan ulos sihadangon (ulos sampe-sampe).
182. MANGIRING :
Sampe-sampe, parompa dan tali-tali.
183. ATTAK-ATTAK :
Ulos sampe-sampe dan ulos abit digunakan waktu pesta ria.
184. RUNJAT :
Dipakai untuk ulos sampe-sampe dan ulos abit, digunakan waktu pesta ria.
185. BULEAN :
Dipakai waktu pesta ria sebagai ulos abit dan sampe-sampe.
186. RAGIDUP :
Dipakai untuk ulos abit dan sampe-sampe pada waktu pesta ria.
187. PAROMPA :
Dipakai untuk gendongan dan tidak termasuk ulos adat.
188. GOBAR :
Selimut tidur, tidak termasuk ulos adat.
189. ULOS SIBOLANG :
Tenunan masa lampau.
190. ULOS SURI-SURI :: idem
191. BINTANG MARATUR
192. ATTAK-ATTAK
193. TALI-TALI PADANG URSA

DAPUR TRADISIONAL

194. TATARING :
Bahan terdiri dari bambu, pakko, rotan dan tanah liat, digunakan untuk tempat memasak.
195. DALIHAN :
Tungku, dibuat dari tanah liat, dibentuk bulat setengah bola. Digunakan untuk landasan periuk tanah dan alat memasak lainnya. Tungku atau dalihan ini biasanya harus tiga buah untuk satu tempat masak dan lima buah untuk dua tempat masak.
196. LOTING :
Bahan terdiri dari besi, batu loting tanduk tempat luluk dari luluk dari pohon enau. Dipakai untuk menyalakan api.
197. SIHAL-SIHAL :
Batu kecil sebagai pelengkap dalihan (jika dibutuhkan).
198. SOBAN :
Bahan bakar untuk memasak terdiri dari kayu belah, ranting, dahan, bambu dan lain-lain.
199. HUDON PANGALOMPAAN :
Periuk tempat masak nasi, merebus air minum dibuat dari bahan tanah liat.
200. HUDON PANGUHATAN :
Hudon tano besar, untuk tempat persediaan air masak.
201. SUSUBAN (1) :
Periuk tanah bentuk lain tempat memasak ikan.
202. SUSUBAN (2) :
Susuban lain yang lebih besar digunakan tempat memasak sayur dan lauk pauk lainnya.
203. SANGA-SANGA :
Tempat memasak (Mangalhoti) Susu kerbau, bahannya dibuot dari tanah liat.
204. SANGA-SANGA TUNDEAN :
Juga disebut terde-terde dibuat dari tanah liat berbentuk piring ceper, digunakan untuk memasak ikan-ikan kecil seperti tiri-tiri, pora-pora don lain-lain.
205. BALANGA TANO :
Kuali batak dari daerah Sigaol, dibuat dari tanah liat, digunakan untuk menggongseng ikan-ikan kecil don lauk pauk lainnya. Balanga tano dahulu kala tidak banyak dipakai; alat lain dengan fungsi yang soma digunakan Sakkop (tutup periuk).
206. SAKKOP :
Adalah tutup periuk besar, selain sebagai penutup periuk, alat ini juga digunakan seperti peng-gunaan Balanga tano.
207. HARPE DURAME :
Bahan dibuat dari jerami dibentuk secara khusus untuk landasan hodun tano.
208. HARPE HOTANG :
Fungsinya soma dengan harpe durame, bahannya dibuat dari rotan yang diayam dalam bentuk khusus.
209. HADANG-HADANGAN :
Bahan dari baion, diayam don diberi bertali, dipakai untuk tempat garam, cabe dan lain se-bagainya (rempah-rempah).
210. GEANG-GEANG :
Dibuat dari anyaman rotan, digunakan untuk tempat ikan ataupun Susuban berisi ikan. Biasanya digantung di dapur agar ikannya aman dari intaian kucing.
211. SONDUK BULU :
Sendok tradisional dibuat dari bambu. Dipakai untuk menyendok nasi dari periuk.
212. SONDUK SEAK :
Bahan dibuat dari bambu, tempurung dan rotan fungsinya soma dengan sendok bambu.
213. SEAK-SEAK BORHU :
Bahan dari tempurung kelapa dasar dan tutupnya dibuat bertali (dirompu) digunakan sebagai tempat garam.
214. TAHU-TAHU SEAK-SEAK :
Bahan dari tempurung kelapa digunakan sebagai gayung mengambil air sekaligus tempat minum.
215. GARUNG-GARUNG :
Terbuat dari bambu, gunanya untuk tempat air minum.
216. POTING :
Dibuat dari bambu, diberi tali dipakai untuk mengambil air dari sumber air.
217. LAGE-LAGE :
Tikar kecil dari baion dipakai sebagai tempat duduk didapur untuk tempat makan don berdiang.
218. RAMBOAN :
Bahan dari bambu, digunakan untuk tempat cuci tangan, fungsi lain dari ramboan adalah per-sediaan Sambilu “Kulit bambu tipis” untuk sesewaktu dapat digunakan oleh sibaso (Bidan) memotong tali pusat anak yang baru lahir.
219. PAPENE :
Bahan dari kayu keras, digunakan untuk menggiling bumbu masak.
220. PANUTUAN :
Serupa dengan papene tapi lebih besar.
221. TUTU :
Alat menggiling bumbu, terbuat dari batu.
222. LOSUNG :
Terbuat dari kayu dipakai untuk menumbuk sayur-sayuran.
223. ANDALU :
Alat penumbuk (Antan), sebagai pasangan lesung dibuat dari kayu bulat dan keras.
224. PARPALITOAN (TAGAHAN) :
Bahan dari kayu don bambu dipakai untuk tempat lampu teplok.
225. SAPA (2) :
Pinggan tempat makanan sekeluarga, dibuat dari kayu nangka bentuk berkaki.
226. SAPA (3) :
Sapa dengan kaki lebih tinggi.
227. SANGKALAN :
Talenan dibuat dari kayu nangka dipakai sebagai landasan tempat mengiris, memotong dan mencincang ikan, daging dan sebagainya.
228. PISO :
Bahan dari besi dan kayu, digunakan untuk pisau dapur.
229. PARANG :
Bahan dari besi dipakai untuk pisau dapur.
230. SEAK-SEAK BORHU (2) :
Bahan dari tempurung kelapa digunakan tempat menampung gota (darah ternak yang disembelih) atau tempat dan ukuran daging binda.
231. HARPE HOTANG (3) :
Landasan periuk dari anyaman rotan.
232. HARPE HOTANG (4) : – idem -
233. PERIUK LOGAM (1) :
Dibuat dari kuningan digunakan untuk tempat masak.
234. PERIUK LOGAM ( 2 )

ALAT-SENJATA DAN ALAT BERBURU

235. ULTOP :
Bahan dari bambu, peluru dari biji-bijian, biasa dipakai untuk perang-perangan oleh anak-anak muda sebagai senjata, peluru ultop ini biasanya dibubuhi racun.
236. SUMBIA (1) :
Busur panah peninggalan kuno, diperoleh dari desa Sitoluama Laguboti, Bahan terbuat dari bambu dipakai untuk memanah.
237. PULUR :
Peluru anak panah dibuat dari tanah liat dikeringkan setelah dibubuhi racun (untuk perang).
238. SIOR SUMBIA (2) :
Busur panah peninggalan kuno dari desa Parhitean, dipakai untuk alat senjata, menembak burung dan binantang buruan. Pelurunya dibuat dari pulur.
239. SIOR SUMBIA (3) :
Motif lain dari Sumbia (duplikat).
240. PANA :
Duplikat busur panah dengan peluru (anak panah) dari bambu atau pakko.
241. SIOR :
Anak panah terbuat dari bambu (duplikat).
242. AMBALANG :
Jenis senjata tradisional dibuat dari tali kulit pokki digunakan untuk ayunan melemparkan batu.
243. HUJUR (1) :
Duplikat, dibuat dari besi kuningan dan gagang kayu pakko, dipakai alat berperang. Hujur, dewasa ini juga dipakai untuk berburu.
244. HUJUR (2) : – i d e m -
245. RABI (PODANG) :
Pisau panjang dibuat dari besi, kayu don ditempat tertentu dibubuhi tembaga dan kuningan, digunakan untuk senjata terutama di dalam hutan.
246. PARANG :
Alat senjata sejenis golok dibuat dari besi.
247. TORJANG :
Motif lain dari Rabi (Podong) biasanya mengandung kekuatan magic.
248. RAIMUNDUK :
Jenis lain dari Torjang, bahan dari besi, kayu gagang dihiasi ornamen dari perak. Dipakai oleh Putri Raja didaerah Simalungun ketika pergi mandi ke sumber air/tepian sungai.
249. PISO TUMBUK LADA :
Bahan dibuat dari besi, kayu ditempat tertentu dibuat puli dipakai oleh kaum muda sebagai lambang kejantanan terutama di daerah Pak-Pak dan Tanah Karo.
250. PALAIT :
Jenis lain dari Tombak dipakai sebagai alat senjata don alat berburu.
251. SAMBIL :
Dibuat dari bambu don tali riman digunakan untuk menangkap burung dan binatang buruan.
252. KACCI / JOBANG (1) :
Bahan dibuat dari Sanggar (Pimping), lidi dan riman, digunakan sebagai sangkar dan alat memikat burung dengan satu pintu jebakan.
253. KACCI (2) :
Jenis lain dari Kacci dengan duo pintu jebakan.
254. HUJUR BULU :
Bahannya dari bambu poso pada ujung bagian pangkad diruncingi digunakan untuk menombak (berburu) binatang.
255. PANTOM :
Bahan dari pakko, dibentuk seperti tombak dipakai untuk senjata dan alat berburu binatang.
256. PARPONGGALAHAN :
Tempat mesiu dari kayu berukir.
257. BODIL PAMURHAS :
Senjata api batak. dibuat dari besi dan kayu dipakai untuk perang dan atau berburu.
258. HUJUR SIRINGGIS :
Bahan dari besi dengan gagang kayu pakko peninggalan lama dipakai untuk alat senjata.
259. MATA HUJUR : Bahan dari besi.
260. MATA HUJUR : Bahan dari besi.

ALAT MENANGKAP IKAN

261. SOLU LUNJUP :
Jenis sampan khusus diair deras, bahan dibuat dari kayu Sotul, digunakan untuk kenderaan diatas air dan alat waktu menangkap ikan.
262. SOLU JAMBANG :
Sampan jenis lain yang lebih besar dari solu lunjup, biasanya dipakai di air yang tidak mengalir (di danau), fungsinya sama dengan solu lunjup dapat dipakai untuk mengangkut dua orang sekaligus.
263. HOLE :
Bahannya dari kayu dipakai untuk alat dayung.
264. GOLI-GOLI :
Dibuat dari kayu (papan) dipakai untuk tempat duduk di dalam sampan.
265. TAHU-TAHU :
Bahannya dari bambu, dipakai untuk mebuang air yang masuk kedalam sampan.
266. BUBU TIRI-TIRI :
Bahannya dari bambu digunakan menangkap ikan tiri-tiri (ikan kecil semacam ikon teri).
267. BUBU JAHIR :
Bahannya dari lidi ijuk dan tali riman, digunakan menangkap ikon jahir, pora-pora, undalap don lain-lain.
268. BUBU IHAN :
Bahannya dari lidi ijuk (Tarugit) bentuknya lebih besar, digunakan untuk menangkap ikan yang besar-besar seperti ikan mas, ihan dll.
269. BUBU SIBAHUT :
Dibuat dari bambu diikat dengan tali riman, digunakan untuk menangkap ikon lele (Sibahut).
270. HAIL SAMBOHAN :
Bahannya dibuat dari benang pancing dan arung (pimping air) digunakan untuk memancing ikan gabus, ikan lele don lain lain ikan di daerah berlumpur.
271. HAIL HONDORAN :
Bahannya dibuat dari arung panjang tali pancing (riman) pancing pelampung don timah pemberat digunakan untuk memancing ikan di air yang mengalir dan dalam.
272. HAIL TAON TAONAN ( TABU-TABU ) :
Bahannya dari tali ijuk, benang don mata pancing diberi pemberat dari batu don oelampung dari bambu dipakai untuk memancing ikan besar.
273. DOTON :
Bahan dari benang, batu pemberat, pelampung dari kayu ringan, digunakan memukat ikan.
274. ULANGAT :
Bahan dari benang, bambu dan ijuk. Benang dijalin segi empat, digunakan untuik menangkap ikan di air yang dangkal, tempatnya tetap.
275. TAHOP :
Bahan dibuat dari benang, bambu, bentuk serupa dengan sellep tetapi lebih besar, dipakai untuk menangkap ikan ditempat yang dalam.
276. SELLEP :
Bahan dibuat dari bambu dan benang digunakan untuk menangkap ikan si air yang dangkal.
277. DURUNG :
Bahannya dari bambu, rotan dan benang, digunakan untuk menagkap ikan.
278. RADAK :
Bahannya dibuat dari pakko, besi (palait), digunakan untuk menombak ikan.
279. RADAK :
Bahannya dari pakko, pada ujungnya palait dari besi, sebanyak empat buah dirompu dengan kawat digunakan menombak ikan besar.
280. HERENGAN :
Dibuat dari tarugit digunakan untuk menyimpan ikan tangkapan di dalam air agar tetap hidup sebelum dibawa pulang ke darat.
281. SANGGE :
Bahan dari bambu, fungsinya sama dengan herengan.
282. HIRANG-HIRANG (1) :
Bahan dari bambu, dianyam digunakan untuk tempat ikan tangkapan terutama jenis ikan-ikan besar.
283. HIRANG-HIRANG (2) :
Bahan dari bambu, dianyam diberi bertali dari tali ijuk digunakan untuk tempat ikan tangkapan direndam dalam air agar ikan tetap hidup.
284. HIRANG-HIRANG (3) :
Bahan dari rotan dianyam berbentuk bulat, digunakan untuk tempat ikan tangkapan” biasanya digantung diikat pinggang.

KOLEKSI PARBINOTOAN (ILMU PENGETAHUAN)

285. PUSTAHA :
Duplikat dibuat dari kulit kayu ulim (laklak) bertuliskan aksara Batak berisi ilmu pengetahuan, kalender, mantera dan lain-lain.
286. PORHALAAN (1) :
Kalender Batak, dari bambu (bambu suraton) Ditulis dalam aksara Batak dilengkapi dengan gambar-gambar symbol dari peredaran bulan, digunakan untuk meramalkan hari baik untuk pelaksanaan pesta adat, langkah rejeki dan sebagainya.
287. PARHALAAN (2) :
Bahan dari bambu, diberi bertutup dari kayu diukir berbentuk patung hoda-hoda. Tabung bambu sekaligus tempat pagar (penangkal) fungsi lain sama dengan Porhalaan (1).
288. PARHALAAN (3) :
Fungsinya sama dengan Porhalaan (2), bahannya dibuat dari tulang kering hewan diberi tutup dari kayu berukir.
289. BULU PARHALAAN (TONDUNG SAHALA) :
Bahannya dari kerat bambu lepas, disusun sedemikian rupa digunakan untuk meramal hari baik.
290. BULU PARTONAAN (1) :
Bahan dari seruas bambu kecil, bertutup bambu, digunakan untuk mengirim surat atau pesan penting.
291. BULU PARTONAAN (2) : Jenis lain dari bulu partonaan.
292. BULU PARTONAAN (3) – ” -
293. HOLI-HOLI PARTONAAN :
Tabung surat motif lain dibuat dari tulang kering hewan diukir halus diberi tutup dari kayu motif patung hoda-hoda.
294. GARUNG-GARUNG SONDI :
Tempat menyimpan surat-surat penting, mantera-mantera don lain lain, dibuat dari seruas bamboo besar berukir halus tutupnya artistik.
295. RUJI-RUJI BINDU MATOGA :
Kalender batak dibuat dari tulang rusuk hewan digunakan oleh datu untuk meramal sesuatu.
296. RUJI-RUJI PARMANUHAN – idem -
BULU NAPUNGGURON : Bambu suraton tempat menulis sumpah oleh dua orang atau lebih yang mempertahankan kebenaran masing – masing atau orang-orang yang bertekat melaksanakan suatu niat dihadapan Datu.
BULU SISURUON : Bulu Suraton yang dapat disuruh menghukum orang yang melanggar sumpah.

KOLEKSI DUNIA MISTIK DAN SPRITUAL

297. TUNGGAL PANALUAN (1) :
Duplikat, bahannya dibuat dari kayu tada-tada, diukir berbentuk manusia, cecak, ular, kala jengking dan binatang berbisa lainnya, patung manusia, bagian atas diberi berambut. Tunggal Panaluan disebut Tongkat Sakti, tongkat sihir penolak bala digunakan waktu pesta Satti, Mandudu dan lain lain.
298. TUNGGAL PANALUAN (2) : Tunggal panaluan motif lain.
299. TUNGGAL PANALUAN (3) : idem
300. TUNGGAL PANALUAN (4) idem
301. TUNGKOT BALEHAT :
Bahan dari kayu tada-tada diukir bentuk patung manusia mengendarai kuda, kadal, ular dan binatang berbisa lainnya. Dipakai untuk tujuan magik oleh para datu.
302. SAHAN (1) (NAGA MORSARANG) :
Bahan dari tanduk kerbau diukir disumbat dengan tutup kayu berukir dipakai untuk tempat obat oleh para datu, motif toba.
303. SAHAN (2) (SIBIAKSA) :
Sahan motif Samosir, fungsinya soma dengan Sahan, motif Toba.
304. PISO HALASAN (1) :
Bahan dibuat dari besi, suhulnya (gagang) dari tanduk Rusa, Sarong dari kayu dilapis dengan kulit ekor kerbau, Dipakai untuk menyembelih kerbau waktu pesta gondang Sarimatua, Piso Halasan juga digunakan sebagai lambang kebesaran bahwa pemiliknya telah pernah mengadakan pesta besar, mangalahat horbo diiringi gondang Sabangunan. Piso Halasan biasanya disandang dan dikepit di lengan kiri dalam pakaian adat lengkap.
305. PISO HALASAN (2) :
Gagangnya dari tanduk, pisau dari besi baja, sarangnya dari kayu dilapis kulit ekor kerbau pada ujung sarong dibuat tanduk berukir. Fungsinya soma dengan Piso Halasan (1).
306. TAGAN PARPAGARAN :
Bahan dibuat dari kayu, berukir halus dilengkapi singa-singa, bagian tutupnya diukir bentuk patung manusia mengendarai kuda, digunakan untuk tempat pagar pelindung keluarga dari niat jahat orang lain.
307. SAHAN (3) :
Sahan kecil dari tanduk kambing diukir disum bat dengan patung kayu, digunakan oleh datu untuk tempat pupuk.
308. TAGAN GARUNG-GARUNG :
Bahannya dibuat dari bambu diukir, motif ipon-ipon. Tutupnya dibuat dari kayu diukir, dilengkapi patung m anusia bertingkat dua. Digunakan untuk tempat pulungan obat-obatan oleh para datu.
309. SAHAN (4) : Fungsinya sama dengan Sahan (3).
310. SONDI :
Dibuat dari kayu berukir singa-singa ditunggangi oleh manusia badan berbentuk tabung berukir dari tanduk kerbau. Digunakan untuk tempat pupuk oleh datu.
311. SAHAN (5) : Sahan motif lain.
312. GUCI PARPAGARAN :
Bahan dibuat dari keramik baker dibuat tempat pagar pelindung keluarga dari marabahaya.
313. HAJO PARPAGARAN (2) :
Motif lain dari guci parpagaran berisi taor (obat).
314. HAJO PARPAGARAN (3) :
Dibuat dari bahan keramik bakar (Tembikar) dipakai untuk tempat pagar.
315. PATUNG DEBATA IDUP LAKI-LAKI (1) :
Duplikat, bahan dibuat dari kayu nangka. Dahulu patung jenis ini sengaja dibuat sebagai perwujutan dari Debata idup (Mulajadi Nabolon silehon hangoluan) dianggap sebagai pelindung bagi kelompok atau marga pembuatnya. Dewasa ini patung jenis ini juga tetap dibuat namun telah berobah fungsi menjadi sejenis hiasan.
316. PATUNG DEBATA IDUP PEREMPUAN (2) :
Duplikat, pasangan dari patung Debata Idup Laki-laki.
317. PATUNG DEBATA IDUP (3) :
Motif lain dari patung Debata idup.
318. PATUNG AJIDONDA SILINDUAT :
Jenis lain dari patung Debata idup Dua buah, patung laki-laki dan wanita dirangkai menjadi satu digunakan untuk upacara magic.
319. PATUNG SIHARHARI :
Terdiri dari dua buah patung kayu laki-laki dan perempuan dirangkai menjadi satu digunakan dalam upacara magic.
320. TIGA BOLIT :
Dibuat dari kain berwarna merah putih dan hitam, dipilin menjadi satu. Dipakai oleh datu sebagai tali-tali.
321. BONANG MANALU :
Bahannya dari benang merah putih dan hitam, biasanya dipergunakan sebagai jimat setelah diberi mantera oleh datu (dukun).
322. GURI-GURI SIBOANON :
Bahan dari porselen digunakan te mpat pagar / Mascot untuk dibawa-bawa.
323. GURI-GURI TAOR (1) :
Bahan dari porselen dipakai untuk tempat taor didalam rumah.
324. GURI-GURI TAOR :
Bahan dari porselen digunakan untuk tempat taor/pagar ditempatkan di dalam rumah untuk menjaga seisi rumah dari niat jahat orang lain.
325. GURI-GURI PARTAORAN :
Bahan dari porselen diberi sumbat (penutup) dari kayu yang dipahat berbentuk manusia. Dipakai untuk menyimpan taor/pagar oleh para datu.
326. GURI-GURI PARTAORAN (2) :
Motif lain dari Guri-Guri partaoran.
327. GURI-GURI PARMIAHAN :
Guri-Guri tempat pupuk.
328. PATUNG SITOLU :
Bahan dibuat dari kayu dipahat berbentuk tiga manusia menyatu, kemungkinan merupakan gambaran dari tri tunggal mulajadi.
329. PATUNG SIDUA SAIHOT :
Patung kayu dirangkai dengan tali ijuk kemungkinan adalah motif lain dari Debata idup.
330. GARUNG-GARUNG RAMUAN :
Tabung bambu tempat ramuan obat.
331. BULU SONDI :
Jenis lain dari tabung bambu tempat ramuan obat-obatan.
332. PATUNG RAME-RAME IHAN :
Bahannya dari kayu.
333. SALUNG :
Dibuat dari bambu dipakai untuk tempat minum ramuan obat-obatan.
334. TOPENG (1) :
Bahannya dari kayu dipakai waktu tari topeng ketika pesta turun.
335. TOPENG (2) – idem -
336. SONDI TANDUK :
Bahannya dari tanduk dan kayu diukir dan dipahat bentuk patung manusia mengendarai hoda-hoda. Dipakai untuk tempat pupuk.
337. SONDI TANDUK :
Bahan dari tanduk rusa berukir tutupnya dari kayu dipahat bentuk patung hoda-hoda, digunakan sebagai tempat pupuk.
338. POHUNG (1) :
Bahannya dari batu, dipahat bentuk manusia Digunakan sebagai patung penjaga kebon setelah diisikan pupuk kedalamnya
339. POHUNG (2) :
Patung penjaga kebon motif lain berasal dari desa Sigumpar.
340. SOMBAON ;
Patung batu ujud kepala manusia.
341. PANGULU BALANG :
Patung batu digunakan sebagai penjaga kampung dari niat jahat orang lain, biasanya ditempatkan di benteng (parik ni huta).
342. PATUNG HODA-HODA :
Bahannya dari kayu keras, dahulu dibuat sebagai lambang kenderaan kayangan, tunggangan nenek moyang menuju kayangan. Dewasa ini juga dibuat para seniman tetapi fungsinya telah berubah dari tujuan mistik ke tujuan Dekorasi (hiasan).
343. PATUNG KEPALA HODA-HODA :
Bahannya dari kayu, kulit kambing dan bulu surai kuda dipakai untuk pelengkap tortor hoda-hoda pada waktu pesta turun.
344. RAGA-RAGA :
Bahannya dibuat dari kayu, bambu, tali siariman dan umbai-umbai dari janur daun enau. Bentuk menyerupai para-para digantungkan ditengah-tengah rumah ke pamoltak ni Ruma (balok atop rumah). Raga-raga biasanya dimiliki oleh keturunan Ompu (Saompu) fungsinya adalah untuk tempat pemujaan kepada Debata Silaon Nabolon.
345. MOMBANG :
Bahannya dari rotan, daun janur (mare-mare) digantungkan di pamaltok ruma digunakan untuk sarana pemujaan leluhur.
346. GIRING-GIRING ULOS :
Sejenis lonceng dari perunggu digunakan sebagai hiasan pada pakaian, dipakai sebagai pelengkap kebesaran pemakainya. Digunakan pada upacara adat tertentu.

SENI UKIR DAN PATUNG GORGA

347. ULU PAUNG :
Bahan dari hariara pulut digorga dalam tiga warna (merah, putih don hitam). Bentuknya termasuk ornamen Raksasa. Ditempatkan dipuncak wuwungan rumah atau sopo. Ulupaung diyakini sebagai lambang keperkasaan don perlindungan terhadap seisi rumah, sebagai penjaga setan-setan dari luar kampung.
348. JENGGAR (1) :
Hiasan pada bagian tengah tombonan adap-adop dan halang godang. Diyakini mampu mengusir setan yang mau masuk kedalam rumah. Digorga dalam tiga warna dipakai untuk ruma gorga.
349. JENGGAR (2) : – idem -
350. JENGGAR (3) :
Jenggar Batara Siang, jenggar motif lain tetapi tidak diberi warna dipakai untuk jabu ruma.
351. SANTUNG SANTUNG :
Hiasan vertikal tergantung di ujung dila paung dihias dengan gorga Gaya Dompak sebagai symbol kebenaran dan tegaknya hukum.
352. SANTUNG-SANTUNG SITINDANGI :
Jenis santung-santung lain dilengketkan pada dinding sitindangi ruma.
353. GAJA DOMPAK DORPI JOLO (1) (2) (3) (4) :
Ditempatkan pada dinding depan (dorpi jolo) fungsinya untuk mengingatkan manusia terhadap tegaknya hukum.
354. SONGSONG RAK (1) :
Bagian depan Ruma Gorga diukir dalam tiga warna tiga bolit.
355. SONGSONG RAK (2) :
Bagian depan jabu sopo digorga Batara Siang tidak diwarnai.
356. SINGA-SINGA :
Salah satu motif singa-singa sopo gorga dibuat dari kayu hariara pulut diberi warna tiga bolit ditempatkan di dinding depan (dorpi jolo) kiri dan kanan. Diyakini sebagai lambang dari wibawa dan symbol keadilan hukum dan kebenaran (duplikat).
357. ULU GURDONG :
Jenis lain dari singa-singa jabu sopo gorga batara siang diperoleh dari sebuah sopo dari desa Parparean (Porsea).
358. SINGA-SINGA TALETE (1) :
Jenis singa-singa kecil. biasanya ditempatkan sebagai hiasan pada tomboman dibagian dalam ruma.
359. SINGA-SINGA TALETE (2) : – idem -
360. ABAL-ABAL MINI (1) :
Miniatur Peti mayat untuk orangtua laki-laki yang sudah Saur Matua (nagabe). Penggunaan abal-abal seperti ini senantiasa disertai upacara adat nagok dengan membunyikan ogung sabangunan. Bahannya dari kayu besar seperti nangka, Honara dll.
361. ABAI-ABAL MINI (2) :
Miniatur Peti mayat untuk orangtua perempuan yang sudah sour matua (orang tua yang sudah bercucu, cicit dari anaknya laki-laki don perempuan).

UNING – UNINGAN

362. GORDANG (SILINTONG) :

Bahannya dari kayu, rotan dan kulit kambing.
363. TAGANING (1 – 5) :
Disebut juga Saridondon, bahannya dibuat dari kayu, rotan dan kulit kambing dipakai untuk pelengkap ogung sabangunan.
364. OGUNG PONGGORA :
Sihutur tolong bahannya terdiri dari perunggu ditempah bulat, ditengah jendul berisi puli (damar) dipakai untuk pelengkap musik berat (gondang sabangunan).
365. OGUNG PANGALUSI :
Sitapi sindar mata ni ari. Bahannya dan fungsinya sama dengan ogung panggora.
366. OGUNG DOAL :
Serupa dengan diatas, nama lainnya Dori Mangambat.
367. OGUNG OLOAN :
Digunakan untuk pelengkap ogung sabangunan.
368. ODAP :
Bahannya sama dengan taganing digunakan untuk pelengkap taganing dalam tatanan musik gendang.
369. SARUNE BOLON :
Serunai panjang dibuat dari kayu, dipakai untuk pelengkap musik berat (gondang sabangunan).
370. GARANTUNG :
Bahannya dari kayu ringan dipakai untuk alat musik ringan.
371. HASAPI (1) :
Bahannya dari kayu ringan talinya dari kawat halus atau riman dipakai alat musik ringan (gondang hasapi) don untuk mengiringi lagu.
372. HASAPI (2) : – idem -
373. SARUNE GETEP :
Serunai kecil dipakai untuk mengiringi gondang hasapi dan untuk mengiringi lagu.
374. SULIM BESAR :
Bahannya dari bambu dipakai untuk alat hiburan.
375. SULIM SEDANG :
Bahannya dari bambu dipakai untuk alat musik hiburan.
376. SULIM KECIL : – idem -
377. SORDAM BESAR :
Bahannya dari bambu dipakai untuk memuaskan perasaan sedih (andung-ratap). Kadang-kadang dapat digunakan untuk tujuan mistik, untuk mengetahui anak hilang, biasanya dipakai/dibunyikan waktu malam.
378. SORDAM KECIL : – idem -
379. TULILA :
Bahannya dari bambu dipakai untuk alat musik hiburan terutama ditempat sunyi.
380. SAGA-SAGA :
Bahannya dibuat dari kulit pelepah daun enau dipakai sebagai alat musik hiburan don biasanya waktu bertandang.
381. MONG-MONG :
Garantung bulu, bahannya dibuat dari bambu dipakai untuk alat musik hiburan.
382. HESEK-HESEK :
Bahannya dibuat dari kaleng atau botol kosong, digunakan untuk pelengkap musik berat maupun musik ringan. Hesek-hesek sebagai pelengkap musik, mempunyai peran penting untuk memberi komando atas gerak tarian (Step).
383. SIGALE-GALE (1) LAKI-LAKI :
Wayang Batak diperbuat dari kayu di ukir berbentuk mausia dilengkapi tali-temali yang dapat menggerak-gerakkan, menari, manortor mengikuti gondang dengan kemahiran seorang dalang untuk memainkannya. Tortor sigale-gale diadakan dalam upacara ritus pada waktu kematian seseorang yang berusia lanjut, tetapi tidak mempunyai keturunan.Dahulu acara tor-tor seperti ini disebut upacara Papurpur Sapata. Dewasa ini tor-tor sigale-gale lebih m erupakan acara hiburan.
384. 284. SIGALE-GALE (2) PEREMPUAN :
Pasangan dari sigale-gale laki-laki.

KOLEKSI LAIN-LAIN

385. KOLEKSI ALAT PEMBAYARAN :
Koleksi uang (Numismatic) yang pernah berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di daerah Tapanuli / Sumatera Utara.
386. MINIATUR RUMAH ADAT SIMALUNGUN.
387. MINIATUR RUMAH ADAT KARO.
388. MINIATUR RUMAH ADAT MELAYU.
389. MINIATUR RUMAH ADAT TOBA ( SOPO ).
390. MINIATUR RUMAH ADAT TOBA ( RUMA ).
391. KENDI KERAMIK MOTIF BATAK (1).

Pengembangan teknik baru dalam seni keramik dengan motif seni ukir Batak Toba.
392. KENDI KERAMIK MOTIF BATAK (2) – idem -
393. ULU PANG KERAMIK – idem -
394. JENGGAR KERAMIK – idem -
395. MINIATUR HOMBUNG (KERAMIK) – idem -
396. PATUNG PENGANTIN BATAK TOBA :
Bahan dari kayu don serbuk gergaji. Patung dilengkapi dengan pakaian adat pengantin Batak Toba.
397. PATUNG DADA RAJA SISINGAMANGARAJA XII :
Patung dibuat dari bahan fibre glass. Patung Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII yang memimpin Perang Batak menentang kolonialisme Belanda ( 1877 – 1907). Raja sisingamangaraja XII mempunyai kharisma tinggi di masyarakat Batak dahulu dan sekarang ini. Tokoh panutan, tokoh Sakti, Raja ni uhum, Raja ni Adat.
398. STEMPEL (CAP) RAJA SISINGAMANGARAJA XII :
Duplikat dibuat dari fibre glass isi cap dalam aksara Batak artinya “Ahu Sahap ni Tuwan Sisingamangaraja sian Bakkara”.
399. PATUNG DADA DR. JL. NOMMENSEN :
Penginjil berkebangsaan Jerman yang berhasil mengembangkan agama Kristen di Tanah Batak, merangkul budaya adat batak memadukan dengan budaya kristen. DR. Nommensen ada kalanya disebut sebagai Apostel Batak.
400. FOTO PENGANTEN BATAK TOBA
” ” BATAK KARO
” ” BATAKSIMALUNGUN
” ” BATAK PAKPAK (DAIRI)
” ” BATAK ANGKOLA/MANDAILING
” ” PESISIR (TAP. TENGAH).
” ” SUKU NIAS
” ” MELAYU
401. KOLEKSI PAKAIAN ADAT PENGANTIN ANGKOLA UNTUK PRIA.
402. KOLEKSI PAKAIAN ADAT KEBESARAN PENGANTIN ANGKOLA UNTUK WANITA.
403. KOLEKSI BULANG-BULANG / PENGANTIN KARO UNTUK PRIA.
404. KOLEKSI TUDUNG / PENGANTIN KARO UNTUK WANITA.
405. KOLEKSI BULANG PENGANTIN SIMALUNGUN UNTUK PRIA.
406. KOLEKSI TUDUNG PENGANTIN SIMALUNGUN UNTUK WANITA.

407. KONSEP DALIHAN NATOLU : dalam warna kehidupan disajikandi vitrin tengah bagian atas berupa ;
1. Kain putih dengan motif Hariaria Sundung langit,sebagai perlambang hubungan antara manusia dengan penciptanya yang memberi kehidupan lahir maupun bathin selayaknya hubungan ini dijaga sesuci perlambang kain putih.
2. Kain hitam dengan motif Pane Nabolon, Manusia dengan alam mempunyai hubungan yang tak dapat dipisahkan, alam memberi, manusia menerima melalui olahan tangan mereka, dalam kepekatan hitam (ketidak tahuan) manusia sulit menduga dan pasrah terhadap alam.
3. Kain Merah dengan motif Bindu Matoga. Manusia sadar akan kodratnya mohon perlindunganNYA. Alam semakin bersahabat, hewan beranak pinak, tumbuhan subur menghijau, manusia berketurunan bertindak dengan berani se Merah semangat mencari lahan baru ke delapan penjuru angin.


Bookmark and Share

Tautan ;
PAJONGJONG RUMA DOHOT SOPO
SOPO DOHOT ULOS
MAMUNGKA HUTA DOHOT JABU
MULA NI GORGA BATAK
SANGKAMADEHA
hasil penelitian Sandrine Germain tentang Rumah Batak Toba
RUMA GORGA BATAK
Piso Solam Debata

About these ads