Monang Naipospos

Lapangan pacuan kuda di bumi Siborongborong 16-17 Agustus 2007 begitu semarak. Perlombaan pacuan kuda dan motorcross digerlar disana. Pacuan kuda merupakan kegiatan yang sudah lama ditekuni masyarakat tanah batak khususnya yang ada di wilayah Siborongborong dan Doloksanggul. Lapangan ini khusus disediakan untuk itu.
Seiring dengan perkembangan jaman perlombaan semakin dikembangkan. Mengingat tidak semua daerah tanah batak ditemukan kuda, namun sepeda motor sudah mulai berkembang, hingga balapam motor pun mulai dilakukan beberapa tahun yang lalu.

Even saat ini diperkirakan yang paling meriah dari tahun sebelumnya, jelas terlihat bahwa motorcross lebih dominan. Pacuan kuda tradisional itu kelihatan sangat minor disekitar area kemeriahan itu.

adu-hoda_01.jpg adu-hoda_03.jpg adu-hoda_05.jpg adu-hoda_06.jpg adu-motor_01.jpg adu-motor_02.jpg adu-motor_06.jpg adu-motor_08.jpg

IAS (Ikatan Anak Siborongborong) patut berbangga hati dan dibanggakan atas keberhasilannya menggelar event yang akbar ini intuk ukuran daerah. Puluhan crosser handal dan pemula dari berbagai daerah Sumatera Utara turut adu kemampuan di area grassroad yang dinilai terbaik untuk Sumatera Bagian Utara ini.
Motorcross ini dinilai mampu menyalurkan minat para pemuda batak dibidang pacu sepeda motor. Mereka memiliki aktivitas untuk mengurangi pengaruh narkoba dan miras.
Para penonton cukup kagum melihat penampilan para crosser di klas special engine 125 cc. Mereka jumplitan ke udara dan mendarat dengan mulus. Hiaaaaat…. Seru penonton.

Pacuan kuda tradisional adalah penampilan yang unik. Bebas usia penunggangnya, bebas peralatan, bebas jenis kuda. Apakah ini keharusan pertandingan? Para horseman mengatakan tidak, hanya kediadakmampuan saja hingga tidak bisa menyediakan peralatan standar balap kuda ini. Topi, celana, sepatu, helm, dan pelana harganya sangat mahal. Untuk merawat kuda saja tidak mampu, konon untuk itu semua. Tapi mereka cukup bangga karena anak-anak mereka mau bertanding dengan kaki telanjang, kepela terbuka dan baju kaos seadanya. Bagaimana factor keselamatan?

Saat pertandingan race 2 salah seorang penunggang jatuh menjelang garis finish, pingsan. Para penonton yang menyaksikan dari dekat mengakui kepalanya terbentur di tanah. Para kru dan petugas kesehatan dengan sigap mengatasi masalah ini dan si penunggang yang berusia 17 tahun ini pun sadar.

Anwar Lumbantoruan 13 tahun adalah penunggang termuda di klas tradisional itu dengan dipangku ke atas punggung kuda dia beraksi dengan optimis akan menang. Kudanya melesat diantara kuda tunggangan lain dan benar, dia juara di race III. Untuk race I dimenangkan Daniel Manik dengan Whitehorse milik Mikael Silaban, di race II dimenangkan Ramses Lumbantoruan dengan Martabe Star.

Pacuan kuda tradisional itu cukup mengagumkan, bersahaja dan mengharukan. Mereka menentang bahaya tanpa alat keamanan, mereka miskin fasilitas, tidak ada pembina khusus mengentaskan mereka lebih aman dan berharga. Namun para penggemar pacuan kuda ini cukup antusias memberi aplaus dan berteriak aduuuuuu….. lasaaaaakkkkk, lojooooong,……. Hiiiiaaaaa… prak… tolooooong madabu….

About these ads