Imran Napitupulu [ Ulos andalan dan Primadona masyarakat Meat – Tobasa]

Industri Ulos merupakan produksi khas dari desa Meat Kab. Tobasa. Komoditi ini dikategorikan sebagai andalan, dan menjadi primadona. Keistemewaan dan keunikan pakaian adat tradisional Batak ini, menyimpan rahasia keterampilan seni, berpadu dengan budaya.

Eksistensi ulos terlihat jelas, terutama dalam peranannya pada pelaksanaan berbagai budaya adat Batak. Kain tenunan khas Batak yang berbentuk selendang ini, merupakan lambang ikatan kasih sayang. Proses pembuatannya bukanlah pekerjaan mudah. Butuh waktu lama, lewat sentuhan tangan ahli, sehingga akan nampak indah, dalam perpaduan warna yang dirangkai benang bermotif seni.

Ulos memiliki fungsi simbolik, yang tidak dapat dipisahkan dalam aspek kehidupan orang Batak. Berbagai jenis dan motif menggambarkan makna tersendiri. Tergantung sifat, keadaan, fungsi, dan hubungan tertentu. Kapan digunakan, diberikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana. Dalam perkembangannya, pemberian ulos (mangulosi), diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang. Pejabat pemerintah (pargomgom), dalam acara tertentu, sering diulosi diiringi ucapan semoga dalam menjalankan tugas, akan selalu dalam kehangatan serta penuh kasih sayang kepada warga yang dipimpinnya.

Menurut pandangan bangso Batak, ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dikaitkan dengan tempat pemukiman suku bangso batak, di mana panas yang diberikan matahari dirasakan tidak cukup menangkis udara dingin. Terlebih pada waktu malam hari. Sehingga diyakini, tondi pun perlu diulosi, agar kaum lelaki berjiwa keras, mempunyai sifat kejantanan dan kepahlawanan, serta perempuan mempunyai sifat ketahanan.
Dalam hal mangulosi, ada aturan yang harus dipatuhi. Mangulosi hanya boleh dilakukan oleh mereka, kepada yang menurut status kekerabatan berada di bawahnya. Contoh, orang tua mangulosi anaknya. Tetapi, anak tidak boleh mengulosi orang tuanya. Prinsip kekerabatan tersebut sesuai pemahaman dalihan na tolu, (unsur hula-hula, boru, dan dongan tubu). Seorang boru, sama sekali tidak dibenarkan mangulosi hula-hulanya. Umumnya, Ulos batak tidak dibuat oleh mesin. Melainkan alat tenun bukan mesin (ATBM). Proses pembuatannyapun cukup unik dan menarik.

Itulah ulos, yang telah menjadi sangat istimewa. Menggambarkan keragaman tersendiri. Terdiri atas tiga bahagian. Yaitu, dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bahagian tengah ditenum tersendiri dengan proses yang sangat rumit. Bahagian tengahnya terdiri atas tiga bahagian. Bahagian tengah atau badan, dua bahagian lain sebagai ujung tempat pigura lelaki (pinarhalak hana) dan ujung tempat pigura perempuan (pinarhalak boru-boru). Setiap pigura diberi aneka ragam lukisan, antara lain antinganting sigumang, batuni ansimun, dsb.

Karenanya, menjadi sangat penting menempatkan ulos pada posisi yang tepat. Ada orang memakai ulos di bahunya (dihadang atau sampe-sampe). Seperti pemakaian selendang berkebaya. Ada yang memakainya sebagai kain sarung (diabithon). Ada yang melilitkannya di kepala (dililithon). Dan, dan ada pula yang mengikatnya secara ketat dipinggang. Arti dan fungsi kain tenunan khas Batak ini, sejak dulu hingga sekarang tidak mengalami perubahan. Kecuali beberapa variasi yang disesuaikan dengan kodisi sosial budaya. Ulos kini tidak hanya berfungsi sebagai lambang penghangat dan kasih sayang, melainkan juga sebagai lambang kedudukan, lambang komunikasi, dan lambang solidaritas.

Adalah, Rosliana boru Hutagaol (47), yang sejak tahun 1980-an, menggeluti profesinya sebagai pengrajin ulos. Jari-jemarinya selalu dengan lincah menari, seperti punya mata, menyusup dan mengaitkan benang warna-warni. Helai demi helai rentangan benang yang dirajutnya, akan berubah menjadi ulos tenunan dengan ornamen berbentuk indah.
Sehelai ulos ragi hotang sepanjang hampir dua meter itu, akan diselesaikan boru Hutagaol dalam waktu hanya tiga hari. Setiap bulannya, ibu dari sembilan putra-putri ini, menjualnya ke onan Balige. Sebanyak 9 atau 10 lembar Ulos yang belum bersirat mampu diselesaikannya. Perolehan hasil penjualannya mencapai hingga satu juta rupiah, dengan harga jual berkisar Rp. 130.000,- per lembar.

Bukan hanya Roslina yang memilih bertenun ulos sebagai sumber mata pencaharian pokok. Umumnya, penduduk desa Meat – Kecamatan Tampahan, sekitar dua belas kilometer dari kota Balige, mayoritas memiliki keterampilan bertenun ulos. Hampir seluruh masyarakat penduduk desa yang berjumlah 150 KK ini, berprofesi sebagai pengrajin ulos. Mereka lebih meminati usaha tersebut, dibanding bertani. Pekerjaan yang diwariskan orang tua dulu, tetap mereka pertahankan.

Ulos yang dihasilkan desa Meat mendominasi bursa perdagangan ulos tonunan di onan Balige. Sebab, omsetnya hampir mencapai 300 lembar ulos per minggu. Sebagian pasarnya ke luar kota, bahkan sempat menembus pasar di luar propinsi Sumatra dan Jawa. Para penenun sebagai anggota Koperasi Usaha Maju pernah menerima bantuan pemerintah sebanyak 40 unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) senilai 350 juta, April 2007 lalu.
Rosliana bergelut menekuni pekerjaannya semenjak masih remaja. Berbekal keterampilan turun-temurun dari orangtua. Ketrampilan itupun kemudian mampu menjadi sumber penopang hidup keluarga. Dan, hasilnya adalah, beberapa orang anaknya mampu disekolahkan hingga ke perguruan tinggi.

Boru Hutagaol mempergunakan alat tenun yang terbuat dari kayu, dilengkapi peralatan lain, seperti pamunggung (merupakan sandaran di punggung, sekaligus berguna sebagai cantelan mengikat dan menahan benang). Pagabe berfungsi memegang benang yang dipintal. Adalagi baliga untuk menyusun dan mengatur benang. Selanjutnya, hatulungan akan membagi benang (bentuknya seperti tombak), disangkutkan di pamapan lalu dililit dengan sitadoan yang berada di kaki orang yang menggunakan alat tenun tangan tersebut. Harga ulos biasanya tergantung dari jumlah lili dan jugianya. (Banyak umpasa Batak terinspirasi dari bagian alat ini. Contoh, Baliga binaligahon. Barita binaritahon. Balintang ma pagabe tumundalhon sitadoan, ari na do gabe asal masipaoloan. Pitu lili nami, paualu jugia nami, Uli nipi nami adong hamu pangalu-aluan nami. dsb.)

Proses pengerjaan sederhana menyelesaikan tenunan ulos, biasanya diawali dengan mangunggas (memintal), kemudian makkulhul / menggulung seterusnya mangani (membentuk) dan akhirnya manotar (bertenun) hingga menghasilkan selembar ulos dalam bentuk jadi, yang siap dijual ke onan Balige.
Sebagai pengrajin ulos yang sudah menekuni profesi ini hingga puluhan tahun, mereka merasa bahagia. Ulos tenunan hasil tangan mereka sebagi partonun, mampu mengangkat nama harum desa ini.
“Biasanya, di desa lain, kerbau dimasukkan ke bara (kandang). Di Meat, di desa kami, orang dimasukkan ke bara atau kandang untuk martonun. Unik, kan?” canda Rosliana.
Rosliana sangat tidak setuju dengan apa yang baru-baru ini disaksikan, saat perayaan hari ulang tahun ke 8 kabupaten Tobasa. “Kami merasa sangat ngilu. Melihat ulos diguntingi dan dipotong-potong. Dijadikan taplak meja, bahkan alas jok kursi untuk dihunduli. Menurut saya, itu pelecehan dan sangat tidak menghargai nilai budaya bangso Batak. Padahal, kami mampu membuat motif yang sudah dirobah dari ulos. Seperti sarung bantal, sprei, dan tempat hand phone” tandas Rosliana kesal.

Seorang pengamat budaya, Ir. Sahala Simanjuntak (50) mengatakan, ulos memaknai ugari ni habatahon, menyangkut patik dan uhum. Apa yang terkandung di dalamnya, jelas merupakan gambaran latar belakang yang merepresentasikan wujud ulos itu sendiri. Sesuai jenis, tergantung sifat, keadaan, fungsi, dan hubungan tertentu. Kapan digunakan, diberikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana.
“Budaya Batak itu tidak kaku. Tidak terjebak dalam pemahaman sempit, yang berkait dengan aqidah / faham keagamaan. Apa yang menjadi makna dan pengertian dalam penggunaan ulos secara harfiah, yaitu ketika ulos itu telah dipaherbang dan difungsikan. Kemudian, akan menjadikannya sebagai stempel ataupun cap yang sah sebagai pertanda. Ibarat sebuah KTP, hanya akan sah, jika sudah ditanda tangani oleh seorang Camat. Sepanjang Ulos belum disematkan, bentuknya hanyalah merupakan kain Batak biasa. Maknanya jadi berobah, setelah diuloskan saat mangulosi”, tandasnya.

Contoh lain, kata Simanjuntak, ibarat sebuah upacara perkawinan hanya akan sah apabila dipasu-pasu oleh gereja. Atau akad nikah yang dilangsungkan antara kedua mempelai menjadi sah, setelah buku nikah ditanda tangani. Sah sebagai pasangan suami istri dalam rumah tangga, yang disahkan oleh Undang-undang. Kemudian, setelah ulos hela diampehon oleh pihak hula-hula, juga sebagai pertanda yang sah hot dipardongan saripeon menurut adat budaya Batak. Selanjutnya ditambahkan, “keistimewaan dan keunikan ulos, terlihat sejak awal proses pembuatannya. Termasuk jumlah banyaknya Lili dan jugia, serta bentangan kain yang dirajut di tengah, membentuknya jadi selembar ulos. Makna yang terkandung, dilambangkan oleh jenis ulos itu sendiri. Ulos hela dan ulos tujung, dapat disimpulkan sebagai mangulosi badan dohot tondi. Adakah ulos saput yang diberikan kepada orang sudah meninggal, dapat digolongkan sebagai ulos si pa las daging dohot tondi?” Itulah kontra logikanya.

Tautan :

Ulos Ragi Napitu
Kapan Ulos Batak Menjadi Kebanggaan,
Proses Pembuatan Ulos

About these ads