Imran Napitupulu [Jelajah Tonun Ulos]

Jari-jemarinya dengan lincah menari. Seperti punya mata. Menyusup dan mengaitkan benang warna-warni. Helai demi helai rentangan benang yang dirajutnya, akan berubah menjadi ulos tenunan dengan ornamen berbentuk indah. Pengrajin Ulos begitu banyak dan mudah dijumpai. Semuanya perempuan.

Si Doli Partonun

Bukan hanya kain tenun Ulos saja, yang sudah sangat jarang dan mulai langka. Penenun, seperti pria satu ini, tegolong sangat langka. Hanya bisa dijumpai, pada sebuah desa di Sigaol, Kec. Uluan Kab. Tobasa, Desa ini, bisa ditempuh dengan akses kapal menelusuri pinggiran danau Toba, dengan memakan waktu selama 30 menit dan perjalanan darat dari Porsea.
Pria simpatik, yang pandai bertenun ini bernama E. Hasibuan, berusia 23 tahun. Dia mengaku mahasiswa semester akhir jurusan Matematik. Kuliah di Universitas Negeri Medan, Pria ini mampu menyelesaikan sehelai ulos sirara sepanjang hampir dua meter, yang ditenunnya hanya dalam waktu dua hari.

Unik dan menarik. Sebab, umumnya penenun adalah kaum perempuan. Ibu-ibu atau gadis remaja. Namun Hasibuan yang satu ini beda. Mungkin hanya dia satu-satunya pria partonun di Tobasa. Satunya lagi ada di daerah Kab. Tap. Utara.
Ini hanya sambilan. Untuk mengisi waktu libur di kampong, katanya saat kami temui dirumahnya.
“Aku hanya menenun, sementara yang lainnya memintal dan menggulung benang. Keahlian ini kumiliki sejak kecil. Itu mungkin karena aku cukup senang dan tertarik dengan seni bertenun, Memang sich. Pekerjaan ini, biasanya dikerjakan kaum perempuan. Tapi, untuk aku, biasa aja koq”, kata Hasibuan melanjutkan perbincangan.
Dikatakan, proses pengerjaan menyelesaikan tenunan ulos, diawali dengan memintal benangnya terlebih dulu (mangunggas) Kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan menggulung benang makkulhul. Seterusnya membentuk (mangani). Proses kerja terakhir adalah bertenun (manotar), hingga akhirnya menghasilkan selembar ulos dalam bentuk jadi.

Hasibuan mengakui, setiap liburan kuliah dia selalu pulang kampung. Disamping melepas kerinduan dengan kampung halaman, waktu senggangnya dapat dimanfaatkan dengan sebuah kegiatan menghasilkan yang berarti. “Aku hanya bertenun saat mengisi libur. Sambil mencari penghasilan tambahan” akunya

Selain kerinduan dengan bona pasogitnya bisa terobati, pria yang sebentar lagi akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu rutin mudik. Calon sarjana pendidikan jurusan matematika Unimed ini mengisi liburnya dengan manfaat ganda yang menguntungkan. “Hasilnya, bisa lumayan. Sambil meringankan beban orang tua” ucapnya bersemangat.

Tautan :

Ulos Ragi Napitu
Ulos Produk Eksotik
Proses Pembuatan Ulos
Ulos Mesa
Sopo dohot Ulos
Perajin Ulos
Ulos batau Untuk Sultan Jogya
Songket Batak Tandingi Songket Palembang
Tenun Ulos ATBM
Mengenal Ulos Batak

About these ads