BAKKARA, KELAHIRAN SANG RAJA

Monang Naipospos

Banyak yang sudah tau, bahkan dunia banyak mengenal namanya. Sisingamangaraja, Raja orang Batak. Beliau mengaturkan hukum, adat, ketetaprajaan dengan konsep bius yang disempurnakan. Beliau menegakkan HAM, membebaskan orang dari pasungan, memberi pengampunan hukuman bagi yang bertobat dari kesalahan.

Lahir di Tombak Sulu-sulu Bakkara. Tempat yang indah, sebuah lembah di tepian Danau Toba yang dilintasi sungai Aek Silang dan Aek Simangira yang bertemu di Onan Lobu. Istana kerajaan pertama sekali dibangun di sekitar Onan Lobu. Disana masih ditemukan tanda sejarah berupa Hariara Parjuragatan dan Batu Hundulan. Kemudian Istana Kerajaan dibangun lebih ke hulu yang kemudian disebut Lumbanraja.

Lumbanraja sempat menjadi satu wilayah desa, namun saat ini Nama Desa itu dirobah menjadi Desa Simamora. Hilanglah aspek kesejarahan bahwa disitu dulunya ada perkampungan Raja Sisingamangaraja yang disebut Lumbanraja.

Upaya untuk menghilangkan legenda kerajaan Sisingamangaraja pun berlanjut. Kompleks istana diserobot oleh penduduk dan enggan untuk meninggalkannya. Penghargaan untuk kesakralan istana itu juga dihilangkan. Tidak hanya oleh penduduk setempat, keutuhan keluarga turunan Sinsingamangaraja pun sulit dipadukan. Sering beda pendapat.
Pemerintah mencoba untuk membangun istana tersebut. Master Plan sudah disusun. Keluarga dan masyarakat yang masih menghargai dan menghormati Sisingamangaraja juga sudah menyepakati. Tata karma kerajaan harus dipenuhi. Namun yang terjadi, bangunan yang dibangun pemerintah asal jadi. Dalam waktu satu tahun ada yang rubuh, sebagian yang sisa terancam rubuh. Dana rehab pun diupayakan, hasilnya tetap tidak memenuhi kualitas kesakralan bangunan yang diharapkan sewaktu penyusunan master plan. Kenapa ?

Turunan Siraja Oloan lebih dulu menunjukkan kekuatan mengingkari kesakralan kompleks istana. Mereka membangun monument Siraja Oloan yang besar dihadapan “Sogit” Sisingamangaraja yang seharusnya bebas mengarah matahari terbit. Didalam sogit itu dulunya Sisingamangaraja memanjatkan doa kepada Mulajadi Nabolon. Ada lambang burung “Patiaraja” diatasnya.
Dengan adanya monument Siraja Oloan dihadapannya ibarat “sibongbong ari” menghambat arah sogit menyambut matahari terbit.

Siraja Oloan adalah rumpun marga termasuk Sinambela. Sinambela adalah rumpun marga termasuh Bona Ni Onan. Bona Ni Onan adalah yang menurunkan “lahiriah” Raja Manghuntal, Raja Sisingamangaraja I dan berturut-turut hingga 12 dinasti.

Bila rumpun terdekat “hasuhuton” pemangku kerajaan Sisingamangaraja tidak memperdulikan kesakralan peribadatan dan kompleks istana Raja Sisingamangaraja, lalu siapa lagi?

Bakkara Sirajaoloan Batu Siungkapon Runtuh Asaljadi Sumpek Sogit Jejal Kumuh

Bakkara, kelihatannya tidak memberikan ruang kepada pelestarian nilai sejarah Sisingamangaraja. Namun penghormatan masyarakat Batak di luar Siraja Oloan dan di luar Bakkara kepada Sisingamangaraja, tetap masih ada. Saat pemindahan tulang belulang Sisingamangaraja XII dari Tarutung misalnya, Balige sangat respon dan memberikan lokasi di Soposurung. Saat monument srikandi Lopian, putri Sisingamangaraja XII hendak dibangun, masyarakat Porsea respon dan memberikan lokasi di depan Kantor Camat Porsea. Walau akhirnya diketahui, sebagian keluarga Sisingamangaraja tidak sepakat pembuatan patung Lopian ditempatkan di Porsea.

Desa Lumbanraja telah dirobah menjadi Desa Simamora. Kompleks istana menjadi ajang orientasi proyek pelestarian yang tidak jelas juntrungannya. Penduduk dan keturunan Sisinganamngaraja masih enggan menyesuaikan dengan tata ruang yang sudah ada. Muncul bangunan baru tanpa sepengetahuan keluarga. Kuburan baru yang disesakkan didepan bangunan baru fasilitas istana. Runyam, pengertian dari kata “rundut” ibarat “jambulan ni parsigira”.
Bakkara saat ini tidak ada meninggalkan setitik pun sisa sejarah kearifan menandakan darisana dulu ada Raja Sakti yang sohor yaitu Sisingamangaraja. Hanya ada tanah dan batu, dan diberi tanda, disini dan disitu. Penduduk tidak memiliki nilai lebih sejarah, tradisi dan tata krama kerajaan.

Tak heran, bila masyarakat batak “heran”, kenapa kompleks istana ini dibiarkan seperti ajang rebutan proyek dan klaim pribadi?

Sisingamangaraja XII dulunya sudah tau akhir perjuangannya. Sebelum melakukan gerilya ke hutan belantara, diberikan amanat kepada Sionom Ompu (enam pemangku adat dari enam marga yang ada di Bakkara) dengan penitipan barang pusaka kerajaan. Seharusnya mereka dan keluarga Raja Sisingamangaraja menjadi “pemangku” tradisi Sisingamangaraja. Apa reaksi Sionom Ompu? Tentu saja keutuhan keluarga raja Sisingamangaraja harus terlihat. Arah dan tujuan pemugaran Istana Sisingamangaraja harus diemban keluarga. Mereka seharusnya didepan “manghobasi” memulai melaksanakan hajat itu. Pemerintah hanya mendukung, dan dukungan dari masyarakat kemungkinan lebih besar lagi.


AddThis Social Bookmark Button

Tautan :
Riwayat Perjuangan Sisingamangaraja XII
Reflexi 100 SSM XII
Strategi Politik SSM XII
Perjuangan Holistic SSM XII
Pemimpin Batak
Sangkamadeha
Piso Solam Debata
Patik Ni Batak
Partohonan Di harajaon

31 Tanggapan

  1. kenapa istana RAJA batak kok makin lama makin sempit dan terkesan “rundut” (tidak tertata rapi)
    menuruthu gabe so adong tanda-tanda na hea mian disi Raja na tahaholongi i

  2. Seharusnya mereka dan keluarga Raja Sisingamangaraja menjadi “pemangku” tradisi Sisingamangaraja. Apa reaksi Sionom Ompu? Tentu saja keutuhan keluarga raja Sisingamangaraja harus terlihat. Arah dan tujuan pemugaran Istana Sisingamangaraja harus diemban keluarga. Mereka seharusnya didepan “manghobasi” memulai melaksanakan hajat itu. Pemerintah hanya mendukung, dan dukungan dari masyarakat kemungkinan lebih besar lagi…

    Saya ingin menggarisbawahi bagian terakhir dari tulisan lae Naipospos ini.

    Saya sedang berkomunikasi lewat email dengan seorang berkewarganegaraan Belanda. Dalam satu suratnya dia menanyakan bantuan saya tentang alamat Sisingamangaraja XV. Dengan rasa penasaran saya jawab bahwa sebagai orang Batak hingga saat ini saya tidak pernah tahu ada penerus dinasti Sisingamangaraja setelah raja yang kedua belas. Lalu dia menjawab bahwa seharusnya orang Batak berupaya melestarikan dynasti ini sebagai dalam rangka melestarikan budaya Batak dengan simbol pemersatu dinasti Sisingamangaraja.

    Saya sudah lama membaca buku ahu Sisingamangaraja karangan WB Sijabat dimana disebutkan antara lain Raja Buntal mempunyai keturunan Raja Tonggo Tua. Saya rasa orang Belanda ini mungkin menggunakan garis keturunan Raja Buntal dan anaknya Raja Tonggo Tua dan anak Raja Tonggo Tua (?) untuk sampai kepada kesimpulan saat ini mestinya ada seseorang yang bergelar Sisingamangaraja XV.

    Dengan gambaran yang dikemukakan lae Naipospos tentang kondisi situs kerajaan Sisingamanagaraja di Bakkara saat ini, masaih mungkinkah orang Batak seperti harapan orang Belanda tadi melihat kembali kehidupan dinasti Sisingamangaraja di abad cyber ini…

    Pertama-tama tetua-tetua marga Sinambela dan sionom oppulah si raja oloanlah yang harus menjawab ini.

  3. Saya sebagai keturunan SIRAJA OLOAN, setuju untuk membangun kembali kerajaan batak, akan tetapi itu harus menjadi inisiatif pemerintah, khususnya melalui mentri kebudayaan dan pariwisata. Tetapi melihat kondisi masyarakat yang telah menggunakan kompleks istana kerajaan, perlu di pertimbangankan secara matang, agar tidak merugikan masyarakat. perlu ada relokasi untuk masyarakat setempat yang lebih baik. Saya tidak setuju jika pembangunan dilakukan jadi menyengsarakan rakyat setempat. dan itu perlu kajian yang mendalam. Sosialisasi dari pemerintah harus digalakkan, jika rencana itu berhasil pendapatan sektor pariwisata daerah akan meningkat, otomatis penghasilan masyarakat juga bertambah. ini tergantung usaha pemerintah dalam hal ini PEMKAB HUMBANG HASUNDUTAN untuk mensejahterakan rakyatnya. Tapi perlu digaris bawahi, bahwa ini dipakai untuk melestarikan dan menyelamatkan budaya batak dari kepunahan dan keperluan pariwisata. bukan untuk sebagai sarana ibadah/pemujaan berhala dan lain sebagainya. terima kasih. Tuhan memberkati kita semua. HORAS bangso batak

  4. Ijinkan saya menanggapi komentar Bram Manullang,

    Menurut saya bukan kompleks istanya yang terpenting. Itu sekunder. Menghidupkan kembali dinasti Sisingamangaraja murni untuk tujuan pelestarian budaya Batak. Sebab untuk menghindari saling klaim sebagi pemegang otoritas budaya Batak, kita perlu sebuah lembaga pemersatu.

    Kedua, sangat tidak realistis mengharapkan pemerintah untuk mengambil inisiatip menghidupkan kembali dinasti ini. Jangankan menambahi urusan, urusan utama pemerintah menyediakan layanan dasar kepada masyarakat saja sudah tidak mampu. Menurut saya upaya ini harus pertama-tama datang dari keluarga-keluarga keturunan Sisingamanagaraja, marga SInambela, masyarakat batak (musyawaran marga-marga). Setelah kondisi ini tercipta baru meminta pemerintah untuk mendukung. Potensi orang Batak saya lebih dari cukup untuk mewujudkan ini jika keturunan keluarga ini mau mengambil prakarsa dan memperjuangkannya…

  5. Saya sangat bangga menjadi suku batak khususnya menjadi masyarakat Bakara dan lahir di bakara walaupun marga saya bukan dari bakara tapi dari samosir ,tetapi ibu saya boru nambela dari bakara masih satu marga dengan Raja Sisingamaraja.Horas ma di hita sude par bakara dohot Muara

  6. Aha do khabar dihamu na parbakara i.sehat do sude nungnga masihol iba naing mulak tu Bakara… nungnga boha hutat tai nuaeng tong dope songoni manang adong kemajuan….nungnga godang be ra kemajuan ate? andigan do hita boi pajumpang muse ate sai anggiat ma Tuhan ta ma mandongani hita manang na didia pe hita nuaeng.

  7. Tapi kuburannya yang di sopo surung dah bagusan lohh, terakhir saya ke sana tahun 2006 sich
    info nich :
    kalau saat pergi ker makam ada air di tempat tampungan air, itu menunjukkan rejeki kita banyak, dalam arti permintaan kita dikabulkan,,
    heheheh ,,, :-)
    ada yang jaga juga disana, jadi lumayan lah dibanding saya dulu sekitar tahun 2000-an

    tapi untuk daerah asalnya belum pernah, tapi sering dengar

  8. Puji Tuhan akhirnya ada juga segelintir orang batak seperti lae2 dan ito semua yang perhatian sama Huta Bakkara.. tempat kelahiran kami.. mauliate dah..

  9. horas,
    saya sebenernya cuman iseng2 lewat
    browsing soal asal-usul saya.
    trimakasih buat tulisannnya, banyak info yang baru saya tau
    maklum lahir di perantoan.

    sebagai sinambela bona ni onan saya mestinya banyak tau, tapi ternyata enggak, mohon maaf.
    lagipula ortu kurang suka membahas topik ini, karena pada banyak sisi, berkaitan dengan penyembahan berhala, katanya.

    anyway, setuju sama christian, puji Tuhan ada yang peduli.
    Tuhan Jesus memberkati kita semua
    HORAS ! !

  10. Horas,
    Selama kita masih mendahulukan ego dan rasa ahu pe raja do akan sulit menggali, memelihara dan menghidupkan budaya batak apalagi yang berbau dinasti/kerajaan dari satu marga. Di samping itu kita terlalu dikekang agam karena sebagian beranggapan berbicara tentang Sisingamangaraja berarti berhubungan dengan berhala. Mungkin Sitor Situmorang masih bisa juga bercerita tentang Sisingamangaraja XII karena ada juga karyanya/drama tentang Pulo Batu yakni anak Sisingamangaraja XII yang dtulis oleh Sitor Situmorang.
    mauliate

  11. Horas,

    Saya keturunan dinasti ke XVI dari Raja Panggagatan Sitompul (Raja Adam, setelah di babtis Nommensen) seorang panglima perang Sisingamangaraja XII di wilayah perbatasan Pahae dengan Tapanuli Selatan.

    sedikit Comment:

    Saya melihat pemahaman pemuda batak (generasi penurus bangso batak) telah terkikis budaya eropa dan perkembangan jaman, saya prihatin dengan semakin sedikitnya bukti sejarah kebesaran BANGSO BATAK maka bisa diperkirakan bahwa Bangso Batak tak lebih dari 100thn kedepan akan PUNAH.

    Sekarang saatnya, saya memanggil kamu pemuda-pemudi BANGSO BATAK yang tak mempermasalahkan soal perbedaan apapun itu diantara kita, bersama-sama kita belajar dan mengali terus budaya BANGSO BATAK agar kita tidak menjadi BANSO yang punah dimakan waktu!!

    Horas………………………………………………!!!

  12. Horas,
    sebagai keturunan Raja Bona ni Onan Sinambela saya ingin tuliskan bahwa Huta Bakkara yang sy kunjungi sejak kecil merupakan huta yang sangat indah, lembah yang sangat menawan, apalagi kl kita turun dari doloksanggul, Humbanghas.
    mengenai Bakkara dan Istana Sisingamangaraja adalah satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.. peran serta menjaga kelestarian Bakkara bukan hanya dipikul oleh pemerintah tetapi juga masayarakat Bakkara itu sendiri. tetapi Pemerintah daerah harus lebih banyak berperan dalam hal tersebut tentunya dengan bantuan dari masyarakat setempat dan pangaranto yang lahir dibakkara.
    mengenai Istana Sisingamangaraja tentunya perlu pemugaran dengan sungguh tidak setengah hati dalam membangun, sy lihat langsung pada waktu itu (kl tidak salah Th 97) ada satu (dari 3) ruma batak dikompleks istana yang rubuh tetapi tidak ada perbaikan. dalam tahun Visit Indonesian Year 2008 seharusnya Bakkara menjadi Objek Wisata dan disinilah Pemerintah Humbanghas (Dinas Pariwisata) membuat event dibakkara untuk mengundang wisatawan asing dan lokal ke bakkara. marilah pomparan si onom ompu kita bangun huta bakkara .

  13. @ yts_sinambela
    @sinambela-sinambela yang lain
    @Bataks lainnya

    Saya merasa sedih membaca pengakuan anda bahwa orangtua anda mengajarkan bahwa mengingat Raja Sisingamangaraja berkaitan dengan berhala. Betapa jahatnya politik adudomba yang dikembangkan oleh Belanda pada jaman penjajahan hingga saat ini ajaran adudomba yang menyesatkan itu masih melekat di otak orang-orang batak, bahkan seluruh keluarga Raja pun dipaksa untuk dibabtis sehingga semuanya meninggalkan Ajaran Raja yang Agung itu.

    Dengan begitu belanda akan sangat mudah untuk menaklukkan sang Raja karena seluruh masyarakat batak sudah disuguhkan racun kebencian yang ditebar melalui benih-benih yang menyesatkan yang menyebutkan Sang Raja adalah Penyembah ini dan itu. Sesungguhnya sang Raja itu hanya Bersujud sembah pada Mulajadi Nabolon Sanga Pencipta.

    Bahkan sampai saat ini masih nyata bahwa adudomba Belanda yang menyesatkan itu masih melekat di benak orang-orang tua, dan bahkan dengan sengaja mengajarkannya pada anak cucunya….

    Seharusnya anda dan batak-batak yang lain sadar, bahwa sebelum missionaris dan islam masuk ke tanah batak, NENEK MOYANG anda itu sudah mengenal Tuhan Sang Pencipta Langit dan Bumi dan Segala Isinya “MULAJADI NABOLON”…….

    Berhentilah menyebutkan bahwa Nenek Moyang anda menyembah berhala……..ntar dikutuk pula keturunan durhaka…

    Salam dari pencinta BATAK dan Rajanya yang Agung Sisingamangaraja.

    Mauliate

  14. saudaraku , saya sedih sekali membaca tanggapan ini semua yang saya baca. kita keturunan raja sisingamangaraja mengabaikan pesan siraja oloan .
    bahwa keluarga kita saat itu dipilih dititipkan menjadi raja sisingamangaraja bukanlah dengan kekuatan fisik dan belajar kesaktian tetapi kerendahan hati kita taat pada ajarannya. bila 6 marga ini minta dalam doa maka tak mustahil pemimpin negara ini pun mungkin dari bangsa Batak atau dari keturunan 6 marga ini bila tuhan berkehendak. ingat agama parmalim bukan penyembah berhala.saya berani nyatakan itu dan itu akal belanda dan masa pemerintahan soeharto saat itu karna memang keturunan itu bisa jadi pemimpin negara ini . keturunan ini yang akan menyulitkan keinginan mereka pada masa itu .

  15. Belanda memang melakukan apa saja untuk melemahkan Raja Batak yang perkasa itu.

    Saya tidak melihat ajaran iman Kristiani yang mengatakan penghormatan pada perjuangan dan kebesaran nama Raja Sisingamangaraja atau leluhur secara umum sebagai bertentangan dengan ajaran Gereja.

    Horas,

  16. horas…

    saya lahir dari keturunan sianturi-nainggolan (ayah) dan keturunan manalu-sinambela (ibu)..ayah sianturi ibu boru manalu.

    tu halak abang dohot ito manang tu akka amang dohot inang..sattabi majo molo hami marpanungkun:
    1. pomparan raja sinambela (silsilah lengkap)
    2. aha do makna ni sinambela i?

    songoni do pangidoan nami asa lam huboto hami turi2 an ni akka ompung i, i ma sian sinambela i.mauliate situtu parjolo dipasahat hami tu halak amang dohot inang.
    horas

  17. SEBAGAI KUTURUNAN SI RAJA OLOAN..SAYA SEPENDAPAT UNTUK MENATA KEMBALI KERAJAAN SISINGA MANGARAJA.SEBENARNY DULU THN 90AN NGA HEA DI BAEN PESTA SIRAJA OLOAN,CUMAN NAPORLU NAMANGARAWAT DO NASO ADONG.JADI MOLO BOI PANGIDOAN TU AKKA ANGGI SINAMBELA NATINGGAL DIBAKKARA ASA LOBI DI PARROHAHONOI PENINGGALAN NI OPPU I.HORAS SI RAJA OLOAN………………….DHT SUDE BANGSO BATAK.TUHAN YESUS MEMBERKATI……………]

  18. Tadinya cuma numpang lewat ketik bakkara tanah kelahiran bapakku tercinta ,di Google, eh ketemu disini.lihat foto istana sisingamangaraja jadi ingat fotoku waktu Balita saat pemugaran tugu siraja oloan tahun 90-an. Saat ini aku sdh gak tahu kondisinya gimana? dari postingan2 diatas kita punya kerinduan yg sama, melestarikan budaya kita yg luar biasa sampai keturunan2 kita walau kita ada di perantauan, tapi kalo ngomong doang kan susah ya.. gimana kalo kita sbg orang yg care melalui media ini membentuk komunitas, siapa tau kita bisa berbuat walau kecil tp bisa berguna?

    Tuhan Yesus memberkati!

  19. Horas…,
    Bicara bakara dan sisingamangaraja sangat menarik. Sebuah orang jawa yg pernah berpetualang di desa Bakara, saya melihat orang2 bakara masih konsisten memegang adat istiadat yg kuat.
    Ketika pertama kali napak tilas “raja” orang batak ini kesan pertama yg saya dapat:
    1. Benteng cepat tidaknya kemusnahan adat adalah orang desa dan adat itu sendiri. Di adat batak kita hanya di suruh mengurusi marga dan parsahutaon saja. Jadi semestinya yg tahu soal seluk beluk sisingamarraja seharusnya warga sinambela ato rumpunnya. Lalu bagaimana parsahutaonya? kemiskinan membuat warga desa bakara, desa manulang dan desa sinambela tidak berkonsentarsi terhadap peninggalan sejarah. Mungkin ada anggapan begini: Orang untuk hidup saja susah kok harus mengurusi yg lain.
    2. Desa Yg Unik tp aksesnya susah.
    Menelusui jalan dari Dolok sanggul ke Bakara harus terus memanjatkan doa. Dalam tulisan saya di berbagai media akses ke bakara selalu menjadi cemilan pembuka yg mengasikan karena tajamnya kelokan jalan dan jurang mengangaa. ( coba search tulisan saya diinternet: sensasi ikan tortombroides sungai silang bakara).
    Karena akses menuju ke bakara yg susah meski skarang sudah diaspal mulus, membuat warga tidak terkonsentrasi melestarikan dinasti sisingamaraja.

    Oke, sekian dulu. Matur nuwun, mulaehate. Horas ma sasude (kalo salah maklum ya, krn saya orang jawa)
    salam
    Marcus Widhi Nugroho

  20. mencoba nimbrung dan berkomentar.

    Pelestarian budaya (Batak) tentunya harusnya menjadi tanggungjawab para komutasnya (orang batak) dan negara. Bukan hanya untuk menjaga kelestarian budayanya, tetapi juga karena batak adalah suatu identity (identitas) yaitu identitas kita semua sebagai orang yang terlahir dari suku batak.

    Mengenai Bakkara khususnya LUMBAN RAJA sudah selayaknya daerah ini dijadiakan sebagai “LANDMARK” nya TanoBatak dengan Sisinga Mangaraja sebagai tokon sentralnya.

    Memang sangat disayangkan sekali diubahnya nama Lumban Raja menjadi Desa Simamora, yang mungkin proses perubahan ini tidak sempat mempertimbangkan aspek historis dan value dari nama Lumban Raja.

    Sebagai generasi Batak dan juga masa kecil jika liburan sekolah selalu menemani Ompung tercinta (alm) di Huta Marbun Tonga Bakkara, dan sudah hampir 16 tahun belum pernah sempat kembali kesana , Ladang sulu-sulu dan daerah Marbun Dolok adalah tempat favorit saya untuk menghilangkan kebosanan (melarikan diri) di rumah om pung dan Lumban Raja adalah tempat alternatif jika bosan di Marbun dan jalan-jalan ke Sionggang dan pasti menyempatkan diri jalan kaki ke atas /ke Lumban Raja, dan hal yang paling menyedihkana dalah gambar lokasi yang ada di blog ini hampir tidak jauh berbeda dan bahkan lebih buruk dibandinkan kurang lebih 16 tahun lalu (situs lokasi istana Raja Sisinga Mangaraja). Mungkin hal ini akibat dari sikap kita semua (termasuk saya) yang memang kurang concern terhadap budaya dan warisan leluhur (termasuk cagar budayanya) selain itu memang seingat saya penduduk di sekitar Bakkara juga adalah orang-orang yang sangat fokus akan perjuangan hidupnya mulai dari “mar-bawang” dan kalau nggak salah saat ini lagi musim “mar-dekke pora-pora” sehingga tidak sempat terpikir untuk hal ini.

    BTW, menurut saya Bakkara adalah the “blessing land” karena Tuhan selalu karuniai dengan berbagai hal ajaib yang menunjukkan betapa Tuhan sangat mengasihi tanah (penduduk) nya. Teringat dulu masa saya kecil daerah ini merupakan surganya mangga toba (sikecil molek nan manis) dan setelah itu siapa yang tidak kenal bawang dari Bakkara? dan sekarang setelah bawang mulai hilang Tuhan memberikan berkatnya melalui sungai dan memberikan Ikan Pora-pora sebagai berkat, sayangnya dari informasi yang saya terima bagaimana luar biasanya penduduk sekitarnya meng-exploitasi berkat ini hingga melakukan exploitasi/penangkapan ikan siang dan malam (loh kok jadi out of topik ya..).

    Menurut saya hal terpenting dari hal ini adalah :
    1. Perlunya kesadaran generasi batak saat ini dimanapun berada mengenai pentingnya menjaga kelestarian budayanya.
    2. Demikian juga para penduduk yang tinggal di Bakkara diharapkan mengerti dan sadar bahwa mereka adalah tuan rumah, pemilik dan penjaga suatu tempat sekaligus LANDMARK dari TanoBatak.. dan sadar bahwa Bakara adalah The Blessing Land jadi mereka harus sangat bersyukur dan menghargai setiap hal yang Tuhan telah berikan kepada mereka melalui Bakkara…

    Horas

    Bugner Ruben L. Marbun
    http://www.amaginggrace.blogspot.com
    http://www.1-duniabaru.blogspot.com

  21. Horas,
    Luar biasa, tanggapan “halak hita” di jejaring ini.
    Sebagai orang yang pernah bertugas disana, saya juga khawatir, jika PemKab HUMBAHAS tidak serius menangani jalan ke Bakara, tidak kecil kemungkinan, Bakara akan segera dilupakan sebagai salah satu obyek wisata di Sumut.
    Bravo Si Onom Ompu

  22. rasa ingin tau akan marga sendiri membuat saya lewat disini..
    baca semua informasi yang ada …, sesuatu yang menyenakan masih ada yang perduli akan keberadaan tanah bakkara yang sama sekali belum pernah aku kunjungi itu, walaupun margaku sama dengan tempat indah itu…
    menjadi suatu impian bisa datang kesana…
    liat gambarnya ajah udah tertarik..
    katanya mau ada perbaikan ne ma banguan istana sisingamangaraja itu…

    terimakasi buat semua orang yang perduli terhadap peninggalan sejarah itu..

    semoga bisa cepat terealisasi

  23. saya sangat bangga terlahir dari suku orang batak,’coz orang batak itu sangat disiplin terhadap adat-istiadatnya,sehingga terarah kehidupannya.Apalagi saya terlahir dari seorang ibu yang masih satu rumpun dengan raja kita sisingamangaraja yaitu boruni rajai br manullang.dan masa kecilku aku habiskan di desa marbun tonga yang disebut dengan huta parmonangan.
    parbakara…….apa khabar semuanya????
    saya ada pesan buat parbakkara : klu uda berhasil jangan langsung sombong dan anggap remeh ama orang2 yang hidupnya biasa2 aja,karena hidup ini seperti roda pedati,kadang diatas dan kadang dibawah.
    Buat teman2 yang satu angkatanku,gmn klu kita reunian sekali2……buat melepas rindu
    GBU all……….

  24. Saat ini masyarakat Batak seolah olah sudah melupakan Raja Sisingamangaraja sehingga ibukota kerajaan Batak di Bakara tempat berdirinya Istana Batak di lupakan. Mengapa begitu ??? karena SEMUA ORANG BATAK ADALAH RAJA, TIDAK ADA ORANG BATAK YANG MENGAKU RAKYAT. JADI KALAU SEMUA NGAKU RAJA YA YANG DIPIKIRKAN YA HANYA BANGUN TUGU UNTUK KELUARGANYA SAJA, YAITU TUGU RAJA INI, TUGU RAJA ITU YA LUPA RAJA SINGAMANGARAJA. JADI BUKANNYA ORANG BATAK TIDAK MENGHARGAI RAJANYA, JUSTRU ORANG BATAK SANGAT MENGHARGAI RAJANYA YAITU OMPUNGNYA DAN KELUARGANYA YANG DI SEBUT RAJA.

  25. Numpang comment ya. . . Bakkara memang desa kecil yg sangt indah yah.. Bisa di bilang paradisenya Tuhan di tanh batak dan masih butuh sentuhan tangn2 handal. Oleh krn it buat saudaraku yg udah sukses mari bersama2 kita bngun dan perkenalkn bakkara setenar danau toba. God bless us

  26. Uda….masih dekatkah istana ini dengan tugu naipospos yang baru diresmikan itu???….
    -
    *** Saya tdk pernah tau tugu Naipospos ada di bakkara…

  27. Saya setuju dengan sdra Gomgom Simanjuntak. Sudah saatnya kita sebagai orang batak yang mempergunakan akal sehat, sadar bahwa begitu banyak propaganda busuk yang di lancarkan oleh Belanda melalui missi zending untuk menghancurkan kharisma Raja yang bijaksana dari Bakkara ini. Bukan hanya soal sipele begu tapi juga hal-hal yang sangat menyayat hati. Terutama mengenai Br Lopian dan Tornaginjang. Mereka berdua marpariban dan kebetulan cucu panggoaran Raja itu yang bernama Pulo Batu baru saja terjatuh kedalam jurang dan mati, karena di kejar-kejar Belanda dan mata-matanya. Sehingga Raja SM XII sangat terpukul dan sedih. Lantas si Boru Lopian pun menghibur Raja itu. Boru Lopian mangurapinya Raja lewat upacara-upacara/ rempah-rempah. Boru Lopian memang mempunyai bakat menjadi sibasso atau medium. Hal ini lantas di besar-besarkan musuh Raja dan Gereja sebagai Incest. Kami sebagai keluarga Tornaginjang sangat tersinggung. Cerita dan gosip seperti ini cukup menjijik-an kami. Sebab kami tahu bahwa hal ini terus digosipkan orang-orang yang memang berseberangan dengan Raja yang telah berjuang mati-matian melawan Belanda dan bukan Gereja. Seperti surat Ompu Sohahuan SM XI terhadap Nomenssen yang dapat kita baca di Museum Leiden Belanda. Hal ini juga dapat kita baca dalam buku yang ditulis bersama oleh J Simanjuntak dan Gens Malau. Maaf aku baru baca postingan ini jadi terlambat tahu. Oks Thanx n Horas ! jeffar lumban gaol musisi dan penulis

  28. horas sude pomparan ni siraja oloan,
    saya marga manullang, kampung di bakkara saya menghimbau kepada seluruh pomparan ni siraja oloan ro ma to bakkara melihat kampung asal ompung kita. mari bersama-sama kita bangun kampung itu menjadi aset budaya, wisata, ataupun yang lainnya. karena saya sedih melihat bakkara amat tertinggal dengan kampung yang lain. mari bersama-sama ok. horas sude.

    salam

  29. Manumpang jolo boh,

    HORAS ma dihita sasudena natua-tua, haha, anggi, nang pinaribot, manghatai taringot bangso batak memang sangat komplex, Raja BATAK?, SISINGAMANGARAJA?, ADAT BATAK?,
    Molo ni goaran raja huhilala ra tarsongon on lapatanna ia raja ima PANGGONGGOMI (Penguasa) ra pamingkiranku dohot angka pamingkiran ni angka dongan sarupa do ra, molo raja Sisingamangaraja Raja ni bangso Batak, alai gabe sada sungkun-sungkun —Apakah yang dinamakan Raja Sisingamangaraja ini adalah benar-benar RAJA yang diakui oleh seluruh masyarakat batak pada waktu itu termasuk raja-raja ompu-ompu nimarga. Artinya adalah 1. mempunyai rakyat, 2. mempunyai batas wilayah, 3. Memiliki sistim pemerintahan 4. Berdaulat penuh keluar dan kedalam— , atau Raja yang dimaksud pada waktu itu adalah kelompok perlawanan terhadap Belanda yang mengatas namakan orang masyarakat batak yang dipimpin oleh seorang bernama Raja Sisingamangaraja?.
    ALANA POANG MOLO NI RIMANG-RIMANGAN AI SUDEDO HALAK BATAK RAJA, dangpola sala au ra molo hudok ditingki i angka ompu-ompu goarna raja do misalna RAJA SIBUEA, RAJA SONANG, RAJA HUTAPEA, RAJA SONAKMALELA manang lebih subjektif langsung RAJA PARTAHAN BOSI goarni sada ompu nimarga di laguboti, Molo dalihan natolupe HULAHULA, DONGAN TUBU dohot BORU, maka setiap orang batak akan terposisikan pada masing-masing jabatan ini ai adongdo tingkina hita gabe hula-hula, adong tingkina dongan tubu, jala adong tingkina muse gabe boru posisinta, jadi sebutan raja ditingkini to Ompu RAJA SISINGAMANGARAJA sisongonido manang naraja sasintongna?.
    Jadi molo tadok MASYARAKAT BATAK TELAH LUPA DENGAN RAJA BATAK SISINGAMANGARAJA, DANG APALA SONGONI RA, ALAI SIPATURE HUTANA BE DABOAH.
    Jadi molo adong pemikiran ni angka dongan mandok asa dipature SITUS di huta Lumban Raja/huta Simamora denggan nauli mai molo gabe sangkap ni uluhon ni PEMDA manang solidaritas masyarakat batak perduli, asa gabe landmark songon gabe sada tujuan wisata manang cagar budaya.
    Taringot SIPELEBEGU tapaulak mai rohanta ganupan hita marsada-sada ise sipelebegu ise naso sipelebegu ai ise na olo manghaholongi donganna manang alona dos dirina ido natingkos.
    Taringot ni HABATAHON, BATAK adalah IDENTITAS, identitas adalah kebanggaan ai jolma nasala manang na JORBUT dang hea di patudu i identitasna, jadi molo gabe halak batak bangga ma hita antong, alai unang dah ni dok iba halak batak alai holan najorbut niula tu tetangga pe natanata, gabe sipata leas joma i mandok ” ITU,.. TUCH,.. SIBATAK” ai sipata hita ama-ama ni halak batak hon nahebatan nalasan rohanta namarjuji i, si pata inang ni gellengta mula-ulaon dope hita ngadipartuahan jala ikkon tong inantaon dope parbagaon tu ulaon dijabu.

    TAPATURE MA DIRINTA, TAPATURE KELUARGANTA, TAPATURE HUTANTA, TAPATURE BANGSONTA LOBI NI I TAHAHOLONGI DONGANTA

    BOTIMA, HORAS

  30. Horas ma di hita. Hanya memberi tanggapan saja. Sebagai orang Batak saya juga prihatin melihat foto yang dipampang ini karena spontan kita bisa menyimpulkan soal kemiskinan daerah kita. Kita langsung merasa minder jika mempromosikan foto ini ke orang lain (non batak). Lalu, generasi penerus sisingamangaraja pun nampaknya kurang memberi hati untuk ini. Nah, sampai kapankan nama sisingamangaraja akan menjadi legenda? Jangan-jangan nggak lama lagi karena ‘artefaks’ atau bukti sejarah kenangan akan kepahlawanan beliau kurang bisa dilestarikan. Istananya saja sudah kusam tak terurus. Sepintas saya berpikir, mengapa yah sampai sekarang generasi Kerajaan di Yogyakarta yang dipegang oleh keturunan Hamengku Buwono bisa tetap bertahan sampai saat ini, sementara di Batak tidak bisa bertahan. Setelah Sisingamangaraja XII meninggal tak ada lagi Sisingamangaraja XIII. Maka saya yakin seperti dinosaurus yang tinggal legenda itu cerita Sisingamangaraja pun akan sirna pelan-pelan.
    Untuk itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berkata, semua ini lebih ditanggung jawabi oleh pemerintah, jika ingin melestarikannya. Bagaimana pun kalau pemerintah yang menangani ini akan lebih terjamin, karena ini sudah dalam level nasional, bukan kepentingan marga, sementara kalau organisasi marga yang mengurus saya takut justru mereka pun sibuk untuk merangkul satu sama lain, Gabe holan marria raja do annon dang saut ulaon. Yakinlah setiap tempat yang ditata rapi dan tentu dengan dokomentasi lengkap pasti akan dikunjungi wisatawan. Jangan hanya berpikir soal tempat itu indah dan menarik, tapi apakah data-data yang tersedia di sana akurat apa tidak? Jika saya studi banding atau mencari sumber ilmiah tentunya saya bisa dapatkan disana. Itulah yang penting. Horas

  31. Horas… Bangso Batak Saluhutna !

    Saya sungguh salut terhadap komentar-komentar Sauara/i yang tertera di atas. Atas dasar itu saya ambil nilai positifnya untuk memberi saran berikut :

    Sebagai tanda bahwa kita itu betul-betul peduli akan bona pasogit (tanah kelahiran), sebaiknya Saudara/i aturlah suatu pertemuan untuk mendirikan suatu ikatan/organisasi akan penggagasan perbaikan tempat berharga dimaksud. Tanpa ada pergerakan ini semuanya omong kosong (maaf ya).

    Sekian sumbangsih saya, semoga dapat diterima berbagai pihak khususnya BANGSO BATAK.

    Selamat berjuang. Mauliate.

Tinggalkan Balasan