Partungkoan TanoBatak (04 April 2007 – 04 April 2008).

Memanfaatkan peluang menyalurkan hasrat, barangkali menjadi pemicu awal terbitnya situs Partungkoan TANOBATAK ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada http://www.wordpress.com yang menyediakan blog gratisan ini.

Target saya tidak begitu tinggi, setidaknya ini menjadi media komunikasi, kontak bagi teman-teman, sahabat, rekan, mitra dan para tamu yang sudah pernah melakukan diskusi kebudayaan dengan saya. Kepada mereka saya menginformasikan keberadaan blog ini. Namun, fakta jaringan internet global ini tidak menutup kemungkinan untuk dapat diakses oleh siapa saja dan dimana saja. Banyak pengunjung yang bertanya siapa dibalik blog ini.

Saya kagum dengan kepiawaian sebagian pengunjung hingga dapat mengetahui siapa dalang blog ini sebenarnya melalui jaringan komunikasi sesama pengunjung. Namun sebagian ada yang bertanya langsung melalui email blog ini.

Saya tidak ada maksud untuk tidak memberitahukan IDENTITAS saya karena pada umumnya sudah banyak yang mendapatkannya.

Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan orang yang bersikukuh menyembunyikan identitasnya dibalik doktrin “untuk apa mencari nama, yang penting anda tau adalah isi hati”.

SITEDAK RUPA SIBOTO GOAR adalah sikap yang ditanamkan para leluhur orang Batak. Tunjukkan wajahmu dan sebut namamu, setelah itu katakan apa keinginanmu. Ini sangat bertentangan dengan fakta saat ini yang sering memberikan komentar, isi hati dengan nama disamarkan. Saya pernah melakukan hal seperti itu di dunia maya ini dengan menggunakan otomatisasi wordpress yang menunjukkan id blog ini “tanobatak”, namun dengan penjelasan identitas saya dibawah ini anda akan tau. Saya akan merubah kebiasaan itu dengan menuliskan nama langsung dan itu sudah saya mulai.

Untuk selanjutnya saya berusaha menerapkan kepada semua komentator di blog ini, bila Batak, jujurlah menyebutkan identitas sebenarnya. Blog ini tidak bermuatan politik, karena itu tidak ada yang perlu ditakutkan bila kita belajar jujur. Penggalian budaya dan nilai yang dikandungnya harus diterapkan sejak awal, Jadilah orang yang bertanggungjawab, dalam hal ragu atau yakin apa yang kita ucapkan. Ini falsafah nenekmoyang orang Batak.

AKU DAN KELUARGAKU

Setelah satu tahun, saya memperkenalkan diri bagi yang belum mengenal admin blog Partungkoan TanoBatak.

Nama saya, Monang Naipospos. Tinggal di Dusun Hutatinggi Desa Pardomuan Nauli Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir. Hidupku didampingi putri mertuaku Tiar br Manurung dari Sibuntuon Kecamatan Uluan Kabupaten Toba Samosir.

Istriku cantik, yang tercantik dari semua boru Manurung yang saya kenal. Para boru Manurung mohon jangan tersinggung karena pernyataan saya ini.

Ibundaku Boru Panjaitan dari Pintubatu Kecamatan Silaen Tobasa. Saat ini masih hidup dalam usia yang sudah 95 tahun. Beliau mengajariku untuk hormat kepada tulang Panjaitan “dang mardia imbar”, katanya. Dikatakan juga aku harus hormat kepada marga Sinambela dan marga Sibuea seperti hormatku kepada marga Panjaitan.

Nenekku Boru Simanjuntak keturunan Punsionggang dari Simadobak Kecamatan Silaen Tobasa. Beliau meninggal dunia pada usia 115 tahun. Sejarah perkawinannya kepada kakekku cukup mengesankan, tak mungkin kuceritakan disini. Kadang dia menyebut diri boru Hutabulu. Beliau pintar “marjugia” yang dipelajarinya selama 4 jam dari alam gaib saat tenggelam di perairan Danau Toba. Ini sangat unik, karena semasih mudanya tidak pernah martonun dan mengenal alat tenun. Pengalamanya itu tidak masuk akal jaman digital ini, saya sendiri pun ragu karena kejadiannya sebelum saya ada. Soal percaya, beda dalam diri setiap manusia. Saksi hidup sudah tiada.

Kekayaanku cukup dengan memiliki 3 orang putra dan 2 orang putri. Nama anak-anakku semuanya “batak” dengan pertimbangan awal nama mereka mengadopsi awal namaku dan istriku, awalan M dan T. Karena istriku yang mengandung dan melahirkan maka awal namanya menjadi awal nama pertama anak-anakku. Anak pertamaku Tunggun Mardohar, kedua Tohom Maringan, ketiga Tami Miannauli, keempat Togu Manata dan si bungsu Tiur Marnida. Singkatan nama kami sekeluarga menjadi TM.

Tunggun (bukan Tunggul) adalah pemahaman arti kewibawaan bagi laki-laki, sementara untuk perempuan disebut “Donda” lebih mengartikan sikap santun dan kerapian serta keramahtamahan. Mardohar mengartikan “mendapat”. Dohar adalah kata dasar yang artinya selalu diperoleh, selalu didapat. Ini upayaku untuk mengenang dan mengabadikan sikap dan kewibawaan ayahku yang dipanggil orang Raja Ungkap. Beliau sering menjadi alamat bertanya dalam banyak hal kebudayaan batak. Beliau intelaktual yang mendapat pendidikan sekolah yang dikelola misi pendidikan Inggeris yang berbasis di Singapura bertempat di Tambunan. Beliau adalah guru rakyat.

Tohom artinya tegar. Mampu menahan segala cuaca dan menjalankan aktivitasnya dengan tanggungjawab penuh adalah makna kata ini. Maringan artinya bernaung. Pengertian lainnya adalah diladamnya ada isi. Ini upayaku untuk mengenang pengalaman hidup kakekku yang dipanggil orang Raja Mulia. Beliau sering keluar masuk penjara pada jaman penjajahan karena tidak mau tunduk kepada kehendak Belanda. Setia pada perjuangan Sisingamangaraja XII. Konon pada usia 100 tahun masih diciduk Belanda dan dipenjarakan. Dia tetap tegar walau penderitaan fisik menderanya.

Tami artinya pinta (ingat tami-iang menjadi tamiang). Mian Nauli artinya dipenuhi (isi) yang baik. Ini untuk mengenang nenekku boru Simanjuntak. Dia menikah kepada kakaekku di usia muda sementara kakekku sudah berusia 50 tahun. Kakaekku sudah sempat dikategorikan “pupur” tidak punya keturunan karena pada perkawinan pertama dan kedua ada anak namun meninggal di usia muda.
Kakekku dalam konsidi pasrah. Saat bertemu dengan Sisingamangaraja XII beliau diyakinkan dan diberi harapan. Kakeku dianjurkan menemuai “tulangnya”. Neneknya adalah boru Simanjuntak putri Punsionggang Simanjuntak.

Kakekku menjalankan amanah, ditemuinya tulangnya turunan Punsionggang. “ditami” para tulangnya itu, dihempaskan dirinya, dimohon “pasu-pasunya”.
Tulangnya tidak hanya memberi berkat dengan kata-kata, tapi dibuktikan dengan nyata. Dipanggilnya putrinya siboru Parmaluan yang masih muda dan cantik, dihadapkan kepada “anak ni namborunya” yang jauh lebih tua darinya. Rasa kasihnya membawa cinta. Kepada Mulajadi dia bertumpu menjadi saluran berkah.
Dari perkawinannya lahir seorang putra dan empat orang putri. Karenanya saya ada, dari sepenggal harapan yang tersisa.

Togu artinya entas. Togu digunakan juga untuk orang yang terjatuh atau terpleset untuk berdiri. Manata artinya membimbing. Manusia belajar berjalan disebut ditata. Ini untuk mengenang ibu saya. Dia cukup ketat menanamkan disiplin kerja. Kami dituntun manakala kebingungan berbuat. Dia butahuruf tapi kami diupayakan sekolah. “Unang songon au”, begitu dia tetap memberi dorongan. Semasa anak-anak, bila kami ada yang menangis karena kesakitan, dia merangkul dan membujuk, “olo diau tondingku”. Kami dianggap bagian dari rohnya. Kepada bapak, kami takut dan segan karena wibawanya yang tinggi. Kepada ibu dan ompung boru alamat satusatunya kami bermanja.

Di usia ibuku yang renta saat ini masih bisa berjalan sendiri dengan tongkat. Dia tidak mau tinggal dirumahku yang jaraknya hanya 20 meter. Penglihatannya dan pendengarannya sudah menurun. Setiap datang kerumahku masih memperlakukan aku ketika masih anak-anak, “mandi dulu kamu, apa sudah makan?”. Oh, ibuku, “remengmu” bagian dari upayamu menuntunku.

Tiur adalah terang. Marnida adalah melihat. Kumaknai nama ini dari pemahaman dan pengertianku atas nama-nama anakku diatas. Terang memandang tidak hanya oleh factor kesehatan fisik, tapi beberapa factor yang harus dibutuhi. Tujuan hidup yang harus dimikili dan itu merupakan “toto” patokan arah yang harus ditempuh. Berbagai hal yang dihadapi dalam perjalanan hidup itu harus dilalui dengan tegar tanpa mengabaikan harga diri. Bertahan karena prinsip, kewibawaan dan kehormatan muncul karena prinsip, berharap dalam nilai kebenaran adalah prinsip. Nilai kebenaran itu selanjutnya membimbing diri, pedoman untuk melakukan pembimbingan, pengarahan. Jalan terang adalah tujuan dari awal hingga akhir dalam hidup, patokan menentukan pandangan dan sikap untuk dipandang.

Mungkin anda dapat menterjemahkan tujuanku menggabungkan kedua nama anak-anakku ini dan menguntai nama mereka berlima. Setidaknya itu menjadi harapanku dari “kekayaanku” itu kelak bila aku mampu “memanusiakan” mereka.

Anak pertamaku Tunggun saat ini kuliah di FE USU Medan. Dia hobby seni musik dan pemain gitar bas di gupnya. Ini melenceng dari harapanku yang mengharapkan dia pandai “marhasapi”.

Anak keduaku Tohom FH UDA Medan. Dia juga hobby musik. Dia main gitar walau tidak memiliki group musik. Sekali-sekali kulihat dia memetik “hasapi” dan gemar mendengar “gondang”.

Purtiku Tami Mian Nauli saat ini kelas 2 SMA Negeri Laguboti. Dialah yang meresensi novel SORDAM untuk kebutuhan tugas sekolah dan mendapat anugrah dari Pak Suhunan SItumorang pengarang novel itu. FS; tami_nauli@yahoo.com

Togu Manata saat ini kelas 3 SMP Negeri 1 Laguboti. Pernah menjadi juara III Biologi pada olimpiade sains se Kabupaten Tobasa. Di Propinsi ikut tanding tapi kalah dengan anak-anak Medan. Citacitanya menjadi dokter. Dia mampu bongkar pasang piranti keras computer “danga-danga” yang ada dirumah hingga membuat ibunya cemas kena srtom dan rusak. Paling banyak menghabiskan kertas stok saya untuk “proyek tambahan jajan” pembuatan makalah teman-temannya.

Sibungsu Tiur Marnida saat ini Kelas 2 SD. Sangat manja, mungkin karena karena bertaut jauh dengan abangnya. Juara kelas ini bercitacita menjadi guru.

Walau tidak ada gemilang harta benda, tapi keluargaku cukup membuatku bahagia. Mereka menyadari itu sehingga tidak menuntut banyak dariku.

Tautan :

Banyak Yang Kudapat
Evaluasi Diri

My Tagged

About these ads