Monang Naipospos [NASIB PEREMPUAN BATAK TANPA "IBOTO"]

Memiliki anak laki-laki bagi masyarakat batak sangat penting. Walau sering ada pernyataan laki dan perempuan sama saja, namun harapan untuk mendapatkan anak laki-laki selalu ada.

Keinginan ini sebenarnya tidak berdampak tinggi rendahnya derajat manusia. Masyarakat batak yang paternalistic selalu mengharapkan laki-laki meneruskan garis keturunannya. Perempuan kelak akan memperkokoh entitas marga lain yaitu suaminya.
Perempuan batak sendiri tidak sedikit berharap untuk mendapatkan saudara laki-laki untuk tidak terjadi status “panean” kepada saudaranya (laki-laki) dari ayah bersaudara.

MANEAN

Dalam Anak Tubu Boru Sorang 11 telah disinggung tentang istilah ini. Mungkin dalam pemikiran “MANEAN” itu adalah mengalihkan semua harta orangtua yang tidak memiliki anak laki-laki dan menghilangkan hak pewarisan kepada anak perempuan. Justru dalam hukum adat batak terdapat pemahaman terbalik antara “senang” mendapat limpahan harta, menjadi “beban” tanggungjawab kepada putri yang tidak memiliki saudara kandung laki-laki.

Kerabat terdekat kepada perempuan yang tidak memiliki saudara laki-laki akan menjadi “limpahan” (manean) tanggungjawab semua adat istiadat untuk perempuan itu. Bila masih gadis, dia yang akan menanggungjawabi pernikahannya. Bila ada kegiatan adat bagi perempuan, dia menjadi “parhara” mengarahkan semua rombongan hula-hula untuk pemenuhan adat.

Siapa yang paling bertanggungjawab?

Karena dalam pemenuhan adat sebagai peran hula-hula adalah berat, kemungkinan akan terjadi saling tuding dan kurang kepedulian dari antara kelompok hula-hula. Paling jelas itu dapat ditemukan bila yang setara dengan hula-hula itu terhitung banyak. Untuk mencegah hal itu terjadi, sejak awal sudah dipersiapkan siapa yang pemeran tanggungjawab kepada perempuan itu. Dialah kemudian disebut SITUPUK BULUNGBULUNG. Kepadanya dibebankan tanggungjawab penuh pemenuhan adat kepada perempuan tadi.

Bila perempuan yang tidak memiliki saudara laki-laki itu ada lebih dari satu orang, maka SITUPUK BULUNGBULUNG kepada mereka boleh berbeda. Mereka harus keluarga terdekat dan setara. SITUPUK BULUNGBULUNG inilah yang disebut “PANEAN” yang sebenarnya, yaitu tanggungjawab dan penjaminan harta warisan dan pemenuhan adat istiadat. Mereka berhak mendapat bagian dari harta warisan tanpa mengabaikan hak perempuan yang menjadi PAUSEANG.

Apa yang dimaknai kisah Si Boru Tumbaga?

Kisah itu sebenarnya gambaran penyimpangan perilaku dari hukum adat yang sudah ditegakkan. Siboru Tumbaga dan saudaranya korban keserakahan kerabatnya yang seogianya SITUPUK BULUNGBULUNG bagi mereka. (Bila saudara kandung dari ayah belum disebut SITUPUK BULUNGBULUNG karena masih ama paidua) Dia ingin menguasai harta ayahandanya si Boru Tumbaga.
Dalam kisah itu tidak ada jelas apakah para Raja Adat merestui tindakannya itu. Tapi ada kesan bahwa masyarakat tidak merestui sikap “amangudanya” itu.

Dalam masyarakat yang sudah memiliki hukum adat, bahkan Negara yang sudah memiliki undang-undang, sering terjadi penyimpangan dan pelanggaran hukum yang disengaja akibat keserakahan dan hilangnya rasa kemanusiaan. Kisah itu tidak menjadi acuan bahwa hukum adat batak terhadap perempuan yang tidak memiliki saudara laki-laki diskriminatif.

Pelaggaran hukum dan nilai kemanusiaan selalu mendapat ganjaran. Pelanggaran adat disebut perusak. Dalam lagu pengiring cerita Siboru Tumbaga dipesankan kepada generasi muda agar “pature adat” perbaiki adat yang sempat dirusak. Pemahaman yang salah tentang PANEAN jangan terarah ke material tapi harus jelas tanggungjawab yang harus dipikul.

Kaum perempuan yang menerima nasib tidak mempunyai saudara laki-laki pun tidak perlu merasa iba dan merenungi sebagai nasib yang menyakitkan dengan pernyataan “hansit na so mariboto” sedih karena tidak memiliki saudara laki-laki. Tidak jarang terlihat dan menjadi fakta saat ini perilaku dan tanggungjawab hulahula kepada perempuan batak yang tidak memiliki saudara kandung laki-laki tidak ada kurangnya. Bahkan tidak ada bedanya. Kalau kita tidak teliti, mungkin tidak tau bahwa itu tidak saudara kandung.

Mungkin ada yang dapat memberi pernyataan atas pengalaman atau yang disaksikan sendiri bahwa ada hubungan harmonis antara SITUPUK BULUNGBULUNG dengan borunya yang lebih mesra dari yang bersaudara kandung sendiri, yang seperti kucing dan harimau tidak dapat bertemu karena mempersoalkan harta warisan.

Apakah Siboru Tumbaga Kartini halak batak ?

Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan memang menderita akibat perlakuan amangudanya yang melanggar adat. Pesan Siboru Tumbaga agar kembali ke adat yang benar menjadi pesan kemanusiaan agar tidak merusak hukum adat, dan yang yang sempat dirusak supaya diperbaiki.
Dalam penampilan opera batak tidak menegaskan pesan, apakah memang hukum adat batak itu seperti yang dilakukan Ompu Boasa?
Dengan dilantunkannya lagu “pangeolmi solu ….. Na so mariboto …… maup tudia nama ho …..” apakah peristiwa seperi ini sudah pernah terjadi bagi perempuan na so mariboto sebelum dialami Si Boru Tumbaga? Apakah lagu ini terinspirasi hanya karena kisan Si Boru Tumbaga saja?

Tindakan yang dilakukan Si Boru Tumbaga yang melewati berbagai tantangan untuk mencari jalan keluar agar ayahnya yang sudah tua renta adalah untuk mendapatkan anak laki-laki. Ini mendramatisir rasa ketakutan perempuan batak yang tidak memiliki saudara laki-laki. Jalan cerita itu menggambarkan nasib perempuan batak bila tidak memiliki saudara laki-laki.

Tidak ada pemahaman diberikan kepada kita apakah ini kasuistik atau memang sudah tradisi yang tidak ada aturan hukum adat untuk perlindungan bagi perempuan seperti SIboru Tumbaga. Namun fakta secara umum dalam kehidupan masyarakat batak tidak selalu demikian.

BATAK

Keinginan utama untuk mendapatkan anak laki-laki adalah penerus garis keturunan. Mempertahankan nama dalam urutan silsilah yang disebut “batahan”. Bila sudah memiliki anak laki-laki maka disebut “hot batahan”.
Perhatikan dinding rumah batak yang menempel miring. Ada yang menahannya agar tidak ambruk yang disebut “batahan”. Bila batahan itu kokoh dan terikat kuat maka dinding tidak ambruk.


Dalam pemaparan leluhur, mereka memberikan contoh; Pada curahan terpinggr atap rumah batak yang terbuat dari ijuk sering tumbuh rumputan. Sebenarnya bijian yang berada disana rentan untuk terjatuh, tapi kenyataannya menyangkut bahkan masih dapat tumbuh. Membuktikan ada “BATAK”-nya. Itulah “batahan”-nya sehingga tidak jatuh.

Perhatikan juga para gembala tenak dan para pembajak sawah dengan menggunakan tenaga kerbau. Mereka selalu memegang sepotong ranting bambu yang disebut “batahi”. Gunanya untuk mencegah perjalanan tidak menyimpang. Alat untuk mempertahankan arah dan tujuan. Bila dicermati, pemaknaan “batahi” berbeda dengan “cambuk” walau secara fungsional sama. Men-cambuk dalam bahasa batak disebut “lasak atau lotak”. Alatnya disebut lasak-lasak atau lotak-lotak.

Dalam kondisi Ompu Buangga, dia tidak memiliki “batahan” dalam kegelisahannya berkata “dia ma batakku” apalah BATAKKU.

TULISAN INI TERINSPIRASI BERDASARKAN KOMENTAR :
Timartus Sitohang, di/pada Juni 15th, 2008 pada 11:08 am Dikatakan: Disini


Bookmark and Share

Tautan :

Lidya Semakin Cinta
Bila Boru batak Marhasapi
Perempuan Batak Memecahkan Kebisuan
Menjamin Hak Perempuan Batak Setelah Menikah
Pesona Boru Batak

About these ads