Suhunan Situmorang

SUSAH-PAYAH Marojahan menyampaikan pesan-pesannya yang terakhir kepada istrinya, Tiurmaida, yang bersama dua kerabat jauhnya, Richard dan Tiopan, menemaninya di ruang ICU rumah sakit bertaraf internasional itu. Dengan wajah pucat dan napas tersengal, ia pesankan agar manakala ajalnya tiba, upacara kematiannya harus dilakukan sesuai adat saurmatua. (Keempat putra-putrinya, Bonardo, Tetty, Ondihon, Martina, memang sudah menikah semua, kendati yang terakhir ini telah bercerai dengan Ulf Larsson, pria Swedia).

Prosesi adat saurmatua-nya, kata Marojahan, dilaksanakan di Jakarta dan harus dibuat melebihi yang pernah dilakukan orang-orang. Ia ingin setiap sanak-saudara, kerabat, dan pelayat yang datang, dilayani sebaik-baiknya. Jangan sampai muncul keluhan. Misalnya, makanan kurang enak, pengeras suara buruk, AC kurang dingin, atau musik kurang bagus. Pendeknya, selama melayat dan mengikuti upacara adat kematiannya, orang-orang harus merasa nyaman. Tak ada sungut-sungut, tak kurang sesuatu apa pun. Untuk itu jasa katering harus dipilih yang terbaik, sudah teruji mutu dan pelayanannya. Satu jasa boga untuk kalangan Batak, satu lagi yang bersifat nasional agar semua pelayat bisa makan dan minum.

Diingatkan Marojahan pula agar setiap amplop berisi uang sebagai balasan ulos pemberian hula-hula, hula-hula anak manjae, tulang, tulang rorobot, bonani ari, harus tebal isinya. Disiapkan pula pecahan Rp 50.000. dan Rp 100.000. dalam jumlah banyak untuk diselipkan ke jemari para kerabat yang manortor di sekitar jasadnya. Orang-orang harus dipuaskan agar kepergiannya benar-benar bersaput kelegaan.

Lalu seusai upacara adat, pesan Marojahan lagi, jasadnya harus dibawa untuk dikebumikan di tanah Samosir, persisnya di sisi makam ayah-ibunya. Walau di sana tak digelar lagi acara adat, “pesta saurmatua-nya” diadakan pula, dengan memberi makan dan menyajikan “hiburan” yang memuaskan segenap dongan sahuta, dongan tubu, atau siapapun yang datang.

Kemauannya itu, ucapnya terpatah-patah, tak boleh lagi ditawar-tawar, termasuk putra-putrinya. Dengan suara serak dan terkadang hampir tak terdengar, ia ingatkan lagi bahwa arwahnya tak akan tenteram bila keinginannya itu tak terpenuhi. Ia hanya ingin dikubur di Huta Tinggi, sebuah perkampungan yang sunyi dan terbengkalai di ketinggian Samosir, sekitar satu setengah kilometer dari Pangururan.

“Orang-orang Huta Tinggi harus kenyang dan bergembira selama merayakan saurmatua-ku,” bisiknya sembari menahan sakit.

***

SEJAK dipulangkan tim dokter Royal Melbourne Hospital, Marojahan memang sudah merasa: hidupnya tak lama lagi. Bukan karena tak percaya lagi ia mujizat penyembuhan seperti yang kerap dibisikkan para rohaniawan dan kerabat yang datang membesuk. Hasil diagnosa tim dokter Australia yang menyimpulkan bahwa kanker prostatnya sudah berada di stadium empat hingga mereka angkat tangan itu, dirasakannya memang tak kuasa lagi dihadang.

“Ingat ya, Ma, jasadku harus dibawa ke Samosir,” ucapnya lagi kepada Tiurmaida yang duduk melongo di sebelah kanan kepalanya yang kian botak karena terus-menerus dikemoterapi.

Perempuan 67 tahun bergelar Ompu Steven Boru itu mengangguk walau hatinya kian digerataki kegusaran. Tak seberapa lama kemudian ia beri semacam kode pada Richard dan Tiopan agar bergeser ke ujung kaki rusbang Marojahan.

Sengaja mereka bicara pelan agar tak didengar Marojahan. Dengan muka keruh disertai gerakan alis dan bola mata yang cekang, Tiurmaida menyampaikan keberatannya memenuhi permintaan Marojahan: dimakamkan di Samosir bila sudah wafat. Alasannya, selain membuat ulaon dua kali-yang pasti akan memperpanjang kelelahan dan biaya-kelak akan menyulitkan mereka bila hendak ziarah.

“Kalian tahu kan kondisi di sana?” ucapnya dengan wajah kecut dan mata melotot. “Rumah siapa nanti yang akan kita tumpangi? Rumah mertuaku kan sudah rusak karena tak pernah diurus. Mana ada di sana rumah famili yang memiliki WC dan tempat tidur yang layak?! Belum lagi masalah makanan. Hah …! Anak-anak pasti keberatan nanti!”
Richard dan Tiopan manggut-manggut seraya memonyongkan mulut.
Beberapa saat mereka terdiam.
“Ada-ada saja memang permintaan Ompu Steven Doli ini!” keluh Tiurmaida.

Marojahan seolah tahu permintaannya tengah digunjingkan. Tubuhnya yang kian tipis mendadak gelisah. Kakinya lalu menendang-nendang kain bergaris biru yang menyelimuti tubuhnya. Ia kemudian berupaya keras melepas jarum infus yang menusuk lengan kanannya. Dan, dengan tangan gemetar, dicopotnya selang oksigen yang menyodok lobang hidungnya. Dadanya bergelombang, napasnya menyesak.
Tiurmaida dan kedua kerabatnya panik lalu berupaya menenangkan Marojahan. Marojahan tetap meronta dan dengan gagap mengujar kata-kata yang tak begitu jelas artinya. Gurat-gurat mukanya kian tegang, bola matanya seolah akan meloncat keluar.
Dua menit kemudian detak jantungnya benar-benar berhenti. Tiga wanita muda tenaga medis dan satu dokter yang sedang jaga sudah berusaha melakukan pertolongan.
Tiurmaida langsung meraung, “Papi jangan pergiiii …!” tangisnya menggelar di ruang yang hening itu.
Richard dan Tiopan lantas menghambur keluar. Dengan suara terputus-putus mereka sampaikan kabar kematian Marojahan kepada lima kerabat jauh Tiurmaida dan Marojahan yang menunggu di teras ICU.

Telepon genggam Richard pun gencar menembus nomor-nomor telepon famili dan tokoh-tokoh paguyuban marga. Tiopan sendiri sibuk menelepon Bonardo yang ternyata sedang rapat dengan mitra bisnisnya di Singapura; Ondihon yang tengah main golf di Rancamaya; Tetty, tak bersambung; dan Martina, yang sedang di Bali menjajagi bisnis resortnya.

***

MALAM kedua sejak kematian Marojahan, rapat para tetua adat dilakukan di halaman rumah duka di bilangan Kebayoran Baru. Krans-krans bunga ungkapan dukacita menyesaki teras depan hingga tepi jalan raya. Jenazah Marojahan disemayamkan di ruang tengah rumah mewah nan lapang itu. Jasad Marojahan dibalut busana formal berupa jas dan celana hitam buatan Salvatore Ferragamo, kemeja warna krim muda dan dasi warna cokelat produk Giorgio Armani. Tubuhnya yang seolah tidur, rebah di peti mati berinterior kain putih linen berenda warna perak buatan Italia, yang menurut Dumaria, adik Tiurmaida, khusus dibeli Bonardo di Singapura.

Pemusik tradisional dengan instrumen gondang, hasapi, sulim, berpadu instrumen musik modern seperti terompet, saksofon, dan keyboard, sesekali melantunkan kidung rohani, lagu Batak tradisional dan modern, juga musik Latin. Panggung pemusik dibuat di taman belakang membelakangi kolam renang yang permukaannya terlihat biru bening karena pantulan cahaya-cahaya lampu dari dasar kolam.

Di garasi yang biasa menampung tiga mobil, dua penyedia jasa boga menggelar aneka makanan dan minuman-termasuk bir dan anggur buatan Perancis. Sayangnya, tak begitu banyak pelayat menyentuh makanan dan minuman yang melimpah itu, padahal lumayan banyak yang datang hingga sulit mencari parkiran mobil.

Andai Marojahan bisa bangkit sejenak, pastilah ia kecewa.
Sebab, sejak rombongan pemusik mulai memainkan musik mereka, belum satu tortor pun digelar sanak-saudara atau kerabatnya-sebagai tanda penghormatan bagi dirinya, sebagaimana harapannya. Para pelayat yang datang pun lebih banyak pelayat “nasional,” yakni relasi bisnis dan kawan putra-putrinya, termasuk beberapa mantan petinggi dan pejabat negara serta pimpinan dan karyawan lima perusahaan di mana Marojahan pernah menduduki jabatan atau masih anggota direksi, komisaris, dan pemegang saham.

Mungkin karena tak jua ada yang mangandung dan manortor itulah mendorong seorang perempuan tua yang sebelumnya duduk membisu di sudut rumah duka sambil bertopang dagu, mendekati panggung pemusik. Perempuan yang mengaku ibunya dan ibu Marojahan marpariban itu lalu meminta sebuah lagu berjudul Simali-ali. Tak lupa ia sisipkan pinta-pinta selembar uang Rp10.000. ke tangan salah seorang anggota pemusik.

Pengakuannya kemudian, yang diucapkan dengan nada lantang melalui Bahasa Indonesia berlidah Batak, dulu lagu itu amat sering dimainkan Marojahan dengan suling bambunya tatkala menggembala kerbau di padang rumput Huta Tinggi. Para pemusik manggut-manggut dan kemudian mengalunkan musik yang mendayu-dayu itu.

Perempuan sepuh berkulit legam yang dari gurat wajah dan penampilannya cukup menandakan bahwa hidupnya tak seindah kehidupan Marojahan itu manortor sembari menyelempangkan ulos di kedua tangannya. Dipandanginya wajah Marojahan, airmatanya berlinang. Para pelayat memerhatikan gerak-gerik tubuhnya, seolah terpesona menyaksikan keanggunan tortor-nya.

***

Di kamar tidur Marojahan, Tiurmaida bersama putra-putri dan ketiga menantunya, Lia Tobing, istri Bonardo; Samuel Kawilarang, suami Tetty; dan Sri Lestari, istri Ondihon, tengah sibuk membicarakan amanat terakhir Marojahan itu.
Sebagaimana dugaan Tiurmaida, semua anaknya langsung keberatan dan tak bisa memahami alasan Marojahan yang meminta dikubur di Huta Tinggi.
“Nggak ngerti deh maksudnya si Papi ini,” ujar Tetty dengan muka masam, “Kok mau bikin istri, anak-anak dan juga cucu-cucunya, sengsara sih?”
“Mami juga bingung, Tet, tapi mau …”
“Masalahnya Mam,” sela Bonardo, “gimana nanti anak-anak? Di mana mereka makan, tidur, mandi? Tidak mungkin, kan, mereka tak kita bawa ke Samosir?”
Beberapa saat mereka terdiam.
“Ada enggak sih hotel yang dekat ke Huta Tinggi?” tanya Martina mengakhiri keterdiaman mereka.
“Ya harus ke Pangururan-lah,” sahut Tiurmaida tak bersemangat. “Tapi kan repot bolak-balik ke huta dan ke hotel.”
“Kenapa sih sesudah mati, baru si Papi ingat kampung halamannya?” timpal Tetty ketus. “Kayaknya selama ini enggak pernah deh kita dengar Papi nyebut-nyebut Huta Tinggi. Gue heran …”
“Mungkin Papi terpengaruh kali sama lagu Pulo Samosir,” timpal Bonardo sekenanya.
Emang kenapa tuh lagu?” tanya Martina ingin tahu.
“Itu, tuh. Kalau nggak salah, dalam lirik lagu itu kan ada kata-kata, kalau aku nanti mati, kuburlah jasadku di Pulau Samosir.”
“Ooo …, kok tahu, sih?” selidik Martina.
“Papi pernah ngasih tau.”
“Papi kok jadi sentimentil begitu, sih?” timpal Tetty.
“Kamu nggak sadar bahwa Papi itu sebenarnya orang yang sentimentil?” tanggap Ondihon.
Tety menggeleng, “Yang selama ini gue tau sih, Papi tuh orangnya tegar dan rasional. Eh, diam-diam ternyata masih …”
“Setahu gue juga Papi hanya suka musik jazz, swing dan klasik, deh,” imbuh Martina. “Kayaknya nggak pernah tuh Papi dengerin lagu-lagu Batak.”
“Kau harus ingat, Tin, semodern apa pun orang Batak yang lahir di kampung, hati mereka sama seperti lagu-lagu Batak itu. Kadang meratap-ratap, kadang riang gembira,” ujar Bonardo berlagak seolah amat tahu.
“Maksudnya?”
“Yaaa … kadang tegar, kadang cengeng.”
“Begitu, ya?”
“Iyalah. Wajah mereka boleh keras, hati mereka tetap lembek. He-he-he ..”
Martina spontan terbahak, ketiga menantu Tiurmaida tersenyum-senyum.
“Sssst! Ketawamu itu, Tina!” tegur Tiurmaida, raut wajahnya mengencang. “Kamu tidak sadar kalau jenazah Papi masih di sini? Apa kata orang-orang di luar sana mendengar ketawamu itu?!”
Abis lucu sih, Mam.”
Udah deh,” potong Tety, “bilang aja ke opung, bapatua, bapauda, amangboru, tulang, atau siapa kek yang lagi rapat di luar sana supaya Papi dimakamkan di Jakarta aja. Kompromi aja deh. Aduh, nggak ngebayang deh anak-anak gue bakal sengsara nanti di sana.”
“Iya Mam, bila perlu, Papi kita makamkan di San Diego Hills yang di Karawang itu saja,” dukung Ondihon. “Tempatnya keren dan mewah. Papi pasti suka, deh.”
“Akh, si Papi mana tahu lagi dikubur di mana,” ujar Tetty agak ketus.
Tiurmaida hanya menggelengkan kepalanya yang dibebani sanggul besar, sesekali napas panjangnya mendesah.

***

HUJAN lebat baru reda di Huta Tinggi-hujan pertama sejak seantero Samosir dilanda kekeringan berbulan-bulan. Di rumah kayu yang nyaris rubuh itu sudah diletakkan peti mati Marojahan. Taratak dan tenda sudah terbentang di halaman depan dan samping kiri rumah tempat kelahiran Marojahan itu. Di samping kanan rumah, seekor kerbau, enam ekor babi besar yang masing-masing kakinya diikat agar tak lari, nampak kedinginan dan gelisah-seolah sadar leher mereka tak lama lagi akan diputus pisau belati. Di halaman depan, dua lelaki muda sibuk menyusun perangkat pengeras suara, sementara seorang lagi mengelap instrumen keyboard yang basah karena tempias hujan. Dua mobil berplat polisi Medan parkir bersama mobil ambulans pembawa jenazah yang belum kembali ke Medan.

Alboin dan Mangasa, kerabat Marojahan yang bermukim di Medan, sudah lebih dulu berangkat ke Huta Tinggi untuk menyiapkan segala sesuatu berdasarkan instruksi Tiurmaida. Telah pula mereka hubungi para tetua adat, tokoh marga, dan para kerabat yang berdomisili di sekitar Panguruan dan Samosir.

Tapi, kendati sudah tiga jam lebih jenazah Marojahan tiba, sedikit saja pelayat yang datang. Bahkan saat mereka tiba, sama sekali tak terdengar riuh tangis, sebagaimana kebiasaan orang Batak Toba menyambut kedatangan jenazah, tak soal setua apapun si mati. Di dalam rumah hanya ada tujuh orang dewasa dan anak-anak menemani Tiurmaida. Mereka duduk membisu di atas tikar pandan mengitari peti mati Marojahan. Putra-putri, cucu-cucu, dan delapan kerabat yang ikut rombongan dari Jakarta dan Medan, sudah pergi ke Hotel Dainang di tepi pantai Pangururan.

Perasaan Tiurmaida diaduk sedih dan kecewa. Tak secuil pun pernah mampir di benaknya bahwa kedatangan mereka akan disambut warga Huta Tinggi sedingin udara Samosir. Untuk mengurangi kecewa hatinya, ia berusaha membayangkan para kerabat dan warga di sekitar kampung itu masih sibuk bekerja, yang akan segera datang setelah urusan masing-masing selesai.

Tapi, kenapa pula kerabat dekat mereka, yakni sanak-saudara Marojahan berikut keturunan mereka yang bermukim di Dolok Sanggul, Sumbul, Sidikalang, Aek Kanopan, Kutacane, Lubuk Pakam, Kabanjahe, belum satu pun datang? Apakah mereka tidak tahu bahwa Marojahan sudah meninggal dan akan dimakamkan di Samosir? Bukankah kabar kematian Marojahan sudah pasti mereka ketahui dari telepon kerabat, selain iklan obituari yang telah dimuat tiga koran terbitan Jakarta dan Medan?

Walau hatinya disaput kecewa, Tiurmaida menduga, mereka semua tengah meluncur ke Pangururan.

***

ESOKNYA, hingga pukul dua siang, tak satu dari empat saudara kandung Marojahan yang masih hidup pun muncul, termasuk keturunan mereka. Bahkan penghuni Huta Tinggi dan kampung-kampung di sekitarnya pun sedikit saja yang datang. Malah, sebelum mengikuti acara adat tuat tu tano, mereka sempatkan dulu bekerja di ladang dan berdagang di pasar. Syukurlah beberapa tetua adat dan marga sudah hadir sejak pagi.

Ternak yang begitu banyak disiapkan untuk dijadikan lauk para pelayat sudah disembelih dan dimasak, berkarung-karung beras sudah pula ditanak parhobas sejak pagi dini. Makanan yang melimpah itu sudah siap saji sejak pukul sepuluh pagi dan tinggal disantapi.

Dan, perangkat musik tradisional berpadu instrumen keyboard serta dua set pengeras suara ukuran besar yang berdiri di panggung kecil itu seolah ajang latihan saja bagi pemain-pemainnya. Tak ada tortor yang tercipta berkat permainan musik mereka, tak pula sempat dijadikan musik pengiring senandung bernada andung-andung. Hanya beberapa pemuda dari desa-desa di sekitar Huta Tinggi saja yang memanfaatkan, semalaman mereka bernyanyi sembari berjoget dengan tubuh sempoyongan karena kebanyakan minum tuak bercampur anggur cap bulan dan bir yang tak putus-putus disuguhkan parhobas. Entah berapa kali pula mereka minta lagu Poco-poco, Sajojo, Terajane, Anak Medan, diulang, yang dengan nada sumbang sembari tertawa-tawa mereka nyanyikan bergantian.

Pengakuan orang-orang yang bermukim di sekitar Huta Tinggi, Marojahan memang tak pernah mereka kenal, kecuali keterangan orang-orang yang sesekali terujar di kedai kopi dan lapo tuak bahwa lelaki yang lahir di kampung mereka 70 tahun lalu itu termasuk pebisnis sukses di Jakarta.

Hanya itu. Tak lebih, tak kurang.***

(Pertama kali ditulis akhir Desember 2006, saat marangan-angan; di padang rumput Huta Tinggi Pangururan, Samosir. Dilanjutkan di Jakarta, Juli 2008).

Baca juga Cerpen Suhunan :
Kebaya Pengantin
Keputusan Merlin ; Cucu Panggoaran
Suhunan juga sudah menulis Novel SORDAM

About these ads