Michael Siregar

Ompu ni Jonggara Napitupulu menghapus air mata yang merembes di kelopak matanya, mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Eddy Silitonga yang bercerita tentang penyesalan orang tua atas kemarahannya yang berlebihan, mengakibatkan anaknya merantau dan tak pernah memberi kabar atau pun pulang menjenguknya.

“Bah inum kopimi Ompung… so sanga ngali annon…” (minumlah kopinya kek… nanti keburu dingin) tiba tiba yang empunya kedai kopi menyadarkannya dari lamunannya.

Setiap pagi Ompu ni Jonggara duduk minum kopi di warung “sikomatu” ini (siang kopi malam tuak) menunggu hari agak siang. Semenjak dia mengidap penyakit rheumatik, dia tidak bisa lagi pergi kesawah terlalu pagi karena dinginnya air sawah membuat persendian tulangnya serasa nyeri bagai ditusuk jarum. Tiap pagi dia hanya nongkrong sambil minum kopi menunggu sang mentari menghangatkan bumi. Untunglah nyonya Napitupulu boru Sianipar pemilik lapo tak pernah mau menerima uang darinya, mungkin karena merasa masih saudara atau mungkin perasaan kasihan kepada beliau yang hidup sebatang kara digubuk tuanya.

“Eh… olo itonan… songon na tabo lagu i hubege… ulakhon jolo bah (Eh iya… lagunya berkesan… tolong diulang lagi) Ompu ni Jonggara sedikit tersentak.

“Imada, ai baru dituhor pahompum nantoari… alai dang adong vicidina holan kaset do…” ( iya baru dibeli cucumu kemaren… tetapi tidak ada VCDnya hanya kaset) nyonya Napitupulu menerangkan, samabil merewind ulang kaset yang sedang diputar, kembali ke awal lagu.
Mengalunlah kembali suara Eddy Silitonga menyanyikan lagu :

Molo tung namuruk ma au na uju i
Molo tung marrimas ma au na salpu i
Ai satokkin do Amang muruk ni rohakki
Hu solsoli do Amang salpu ni hatakki

Alai boasa ma manibbas langkam i
Ai tung boasa ma lupahononmu au

Asi roham tu au naung matua on
Ai tung ro maho mandulo au Amangmon
Marsahit sahit au naung suda gogokki
Manakkar nakkar au dung monding inang mi

Pulutt ni rohami mangalupahon au
Atik na on nama ujung ni ngolukkon

Reff:
Aut na boi tarbahen au
lao manjururi hutami
Taontononhu do lao mandapothon ho
Asa huida bohimi anak hasianhu
Asa huhaol ho gomos….

Kalaupun saya marah dahulu
Kalaupun saya emosi dahulu
Kemarahan hati saya Cuma sekejap
Saya menyesal ucapan saya yang terlalu

Tetapi mengapa kamu nekad pergi
Mengapa kamu melupakan saya

Kasihanilah saya yang telah renta
Datanglah menjenguk ayahmu
Saya sakit sakitan kehabisan tenaga
Sebatang kara setelah ibumu meninggal

Teganya hatimu melupakan saya
Mungkin inilah akhir hidupku

Reff
Seandainya saya mampu
untuk menjalar ketempatmu
Akan kupaksakan untuk menemuimu
Agar kumelihat wajahmu anakku sayang
Agar ku memelukmu dengan erat

***

Ompu ni Jonggara kembali mengusap airmatanya dengan punggung lengannya. Kembali terbayang di pikirannya, anak laki lakinya yang saat itu baru berumur 15 tahun, seorang remaja tanggung yang seharusnya masih duduk di bangku SMP. Dia melarikan diri merantau entah kemana… setelah dia mengusirnya dari rumah, saat itu dia tidak mengakui lagi sebagai anak karena kenakalannya.

Memang kenakalan Timbul sangat keterlaluan. Ya, Timbul Pandapotan, nama yang dia berikan kepada putranya itu ketika lahir, yang berarti terbit atau bangkitlah pendapatan dalam segala hal, baik materi maupun kesejahteraan.
Sejak kecil dia sudah berani mencuri uang maupun barang barang milik kakaknya, bahkan anak anak sekolah yang banyak kost di daerah Sakkar Ni Huta, kampungnya tidak luput dari incarannya. Sudah tidak terhitung lagi kepala lorong (semacam RT) Sakkar Ni Huta mendatangi rumahnya, menuntut kelakuan Timbul yang selalu berbuat onar.

Ompu ni Jonggara pun sudah beberapa kali harus membayar atau mengganti Ayam, Telor Ayam, Entok, bahkan anak Babi yang di curi Timbul dengan teman temannya. Yang lebih merusak perasaan Ompu Jonggara adalah ketika Timbul pergi kerumah Tulangnya Silalahi di Sibodiala, dipuncak Dolok Tolong.

Hula hulanya itu datang berjalan kaki berjam jam, dari Sibodiala, karena memang saat itu hanya jalan kakilah transportasi satu satunya ke Sibodiala, walaupun letaknya tidak begitu jauh dari Soposurung Balige. Mereka menyampaikan keluhannya bahwa Timbul mencuri anak Babi milik parhangir GKPI Sibodiala, juga bermarga Silalahi. Timbul dan kawan kawan memanggangnya di tengah sawah dan memakannya beramai ramai.

Kedatangan Hula hulanya sangat membuat perasaan Ompuni Jonggara patah arang, maklum bagi orang Batak, Hula hula (pihak keluarga istri) adalah sumber pasu pasu (berkah), sehingga dia benar benar emosi dan putus asa. Dia menunggu Timbul pulang ke rumah dengan hati yang membara, tak ada kata maaf lagi darinya.

“Holan na pailahon do ho tu au, holanna paurakkon… sonnari pe lao maho sian jabu on… lao maho maup….” (kamu hanya membuat saya malu, membuat tercemar… sekarang pergilah dari rumah ini… pergilah kamu kemana saja)
“Mulai sadarion… huetong ma ho naung tilahakku…!!!” (mulai hari ini kamu kuanggap sudah mati) Ompu ni Jonggara membentak putra satu satunya itu dengan emosi, ketika Timbul pulang sore harinya.

Dia tidak memperdulikan lagi tangisan Istri dan anak perempuannya memohon agar dia merubah keputusannya, juga tetangga yang masih ada hubungan kerabat sudah tidak didengarnya. Ompu ni Jonggara memungut pakaian Timbul seadanya dan melemparkannya ke halaman.

Hari telah menjelang malam. Timbul melangkah tak pasti sambil memeluk pakaiannya seadanya diiringi tangisan Ibu dan dua orang Itonya.

Ke esokannya, Ompu Jonggara sudah bangun pagi pagi, hatinyapun sudah reda. Dia mengira bahwa Timbul tidak akan kemana mana, paling paling dia menompang tidur di rumahnya Marlon Hutabarat anak Hutabarat polisi, tetangganya. Ketika dia bertemu dengan Marlon dia bertanya; “Ai na di jabumuna do modom si Timbul, Marlon…?” (apakah si Timbul tidur di rumah kalian)
“Daong Tulang, ai naeng lao do ibana mangaranto ninna…” (tidak Paman, katanya dia akan pergi merantau) sahut Marlon Hutabarat sahabat Timbul.

“Bah… boasa pola pittor lao ibana… tu dia ninna tujuanna…?” (Wah… kenapa dia langsung pergi… kemana katanya tujuannya) Ompu ni Jonggara bertanya, dia merasa sedikit was was.
“Ai ima da Tulang, ala na nidok ni Tulangi naung tilaha ni Tulang ibana, gabe palungunhu rohana ninna, alai ibana pe dang diboto tu dia tujuanna Tulang” (itula paman karena paman mengatakan dia dianggap sudah mati… dia merasa sangat sedih, tetapi diapun tidak tau hendak pergi kemana), Marlon menerangkan.

Mulai hari itu Timbul menghilang bak ditelan bumi, tidak ada satu orang pun yang tau kemana dia pergi. Baru setelah tiga puluh tahun kemudian ada orang yang bercerita kalau Timbul ada di Batam dan menjadi orang yang sangat sukses, seorang pengusaha terkenal, export import dari Singapura. Ada sebagian orang mengatakan kalau Timbul adalah parsimokkel kelas kakap dan punya kapal sendiri.

Namun semua itu tak dapat mengurangi kesedihan Ompu ni Jonggara, karena dia belum melihat bagaimana wajah anak nya yang telah lama tidak kembali, bahkan suratpun tidak ada sama sekali.

Ada orang yang mengabarkan bahwa Timbul sudah menikah dan punya anak. Seharusnya dia tidak lagi dipanggil Ompu “ni” Jonggara. Harusnya dia dipanggil Ompu…, sesuai nama anak Timbul. (kalau cucu dari anak perempuan pakai “ni” di tengah tengah misal Ompu ni Radot, Ompu ni Sahat, kalau dari anak laki laki hanya nama misalnya Ompu Lambok, Ompu Jogal).

Ompu ni Jonggara sudah berpuluh kali menyampaikan pesan dan surat melalui orang orang Balige yang pulang dari Batam, tetapi tak ada kabar balasan. Dia sangat ingin menemui anaknya itu. Ingin menyampaikan penyesalannya, ingin membelai wajahnya, ingin memeluknya dan juga ingin memeluk cucu panggoarannya. Tetapi apa daya, dia sudah sakit sakitan, tak punya cukup uang untuk ongkos, sementara dua orang putrinya pun hidup pas-pasan sebagai buruh tani.

Nai Jonggara tinggal di Silaen, menjadi petani, sementara sawah yang dikelolanyapun milik orang lain, bukan miliknya. Nai Lambok tinggal di Gasaribu, juga buruh tani, sambil berdagang ikan Jahir di pasar Sirongit, itupun tidak setiap hari karena akhir-akhir ini ikan mujahirpun seolah mogok makan sehingga kurus kering kurang vitamin.

Dia tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada dua orang putrinya itu, perasaannya hanya diungkapkan dengan mangandung menangis sambil memeluk makam istrinya yang ada dibelakang rumahnya, hampir setiap hari.

“Bah gabe tangis ho Oppung ala ni lagu i…” (Wah kakek menjadi menangis karena lagu itu) Boru Sianipar kembali menyadarkannya dari lamunan.
“Ima da… gabe huingot si Timbul… ai tung na adong do nuaeng di ae jolma na asing songon lagu on ?, ate ito…” (ya itulah saya jadi teringat si Timbul… apakah mungkin ada orang lain yang mengalami seperti isi lagu ini?) Ompu Jonggara menyahut sambil menghapus air matanya.

“Martangiang ma ho Ompung… pos roham mulak doi…” (berdoalah kakek… percayalah dia akan pulang) Boru Sianipar berusaha menenangkan, walaupun hatinya tak yakin.

Empat hari kemudian Ompu ni Jonggara ditemukan telah meninggal di rumah “sopo”-nya oleh Boru Sianipar pemilik Lapo. Sudah berhari-hari dia tidak muncul di Lapo, Boru Sianipar jadi curiga lantas menyelidik kerumah Ompu ni Jonggara. Yang ia temukan adalah seonggok tubuh yang telah menjadi mayat, terbujur kaku di bale-bale bambu “Bulu Godang” buatannya sendiri.

Sambungan : MULAK MA HO AMANG 2

About these ads