Monang Naipospos

Saya hendak memberi komentar pada tulisan lae Suhunan Situmorang Cucu Panggoaran. Cerita itu menggelitik membuat saya tertawa.

Setelah saya hendak memulai menulis komentar, otomatis tertunda. Saya teringat juga tulisan Ama Morlan Simanjuntak (Panggorga) tentang arti sebuah nama. Namun, saya melihat subsansi cerita Cucu Panggoaran yang lebih luas dan tidak sekedar membuat saya tertawa karena “Biangta Najingar”, tapi ada upaya menemu-kenali yang hilang dari permukaan kehidupan Batak memaknai sebuah nama. Batak tidak berpikir seperti William Shakespeare, karena di Batak, nama itu penting. Seorang anak sulung lahir, namanya akan disandang oleh ayahnya. Bila ayah atau ibunya anak sulung maka kakeknya juga akan menyandang namanya. Inilah nama “Panggoaran” yang selalu dipilih secara khusus dengan melibatkan orang yang akan menyandangya. William Shakespeare dan Tan Ceng Bok tidak memaknai ini karena di etnik mereka tidak menemukan hal seperti yang ada di Batak.

Batak mengenal dua pemahaman tentang makna sebuah nama, yaitu goar tulut, goar abalan dan mampe goar ;

Goar Abalan

Dengan harapan seperti nama itu kelak akan terwujud dalam hidup dan kehidupan lebih luas dalam klan, keluarga itu dan diri sendiri yang menyandang nama.
Bila goar abalan itu tak dapat disandang dan selalu berdampak terbalik, maka kadang diganti dengan nama lain dengan proses manggoar-goar. Setelah dewasa dia berkeinginan menggantikan namanya. Dia mempersiapkan itak gurgur dan berkeliling kampung menemui semua penduduk/klan memberitahukan namanya yang baru dan kepada mereka diberi kepalan itak gurgur.

Abalan adalah ruang kosong yang dapat dikembangkan dalam berbagai kepentingan. Abalan ni huta, adalah tempat kosong disekitar harbangan (pintu masuk) kampung yang digunakan sebagai partungkoan dan tempat istirahat sementara para tamu yang akan melaksanakan adat ke penghuni kampung. Abalan ni uma, adalah ruang kosong di hulu petakan sawah yang biasanya digunakan saat panen (mardege) dan tempat perbekalan pekerjaan ke sawah.

Goar Tulut.

Adalah nama yang diberikan kepada anaknya sebagai peringatan atas pengalaman hidupnya. Najringar bisa saja dianggap goar tulut karena ada kenangan terhadap yang punya nama, berkesan dalam hidupnya saat menolong proses persalinannya. Biasanya karena ada kelebihan diatas rata-rata, jadi bukan latah karena dia seorang dokter biasa saja. Si Paet, menjadi nama tulut (tulutan) karena selama ini mereka hidup susah dan selalu dalam penderitaan. Harapannya kedepan tetap seperti tujuan goar abalan.

Mampe Goar

Adalah menamakan kembali nama leluhur kepada anak yang lahir. Karena nama leluhur itu tidak dapat semena-mena disandang keturunannya, maka semua klan keturunan leluhur itu harus diundang untuk menabalkan nama itu. Kesepakatan dapat dimaknai agar nama leluhur itu hidup kembali. Biasanya bila kesan leluhur semasih hidupnya banyak nilai positif dan nama itu menjadi nama kebesarannya.

Apa kita malu menjadi Batak ?

Ada sahabat saya yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dari saya memberikan nama anak-anaknya aksen Jawa. Saya bertanya kenapa. Dikatakan bahwa pada masa mudanya, ruang kompetisi bagi orang batak apalagi bila dapat dikenal langsung dari namanya sebagai orang batak akan mendapat kesulitan. Tapi saya tidak pernah mengalami persoalan itu saat ini. Apakah itu dulunya menjadi dasar para orangtua kita meninggalkan nama Batak dengan menyandangkan nama Jawa dan Barat kepada anak-anaknya?

Sebagian menjawab ini ada benarnya, dan sebagian lagi adalah dasar “kerennya”. Nama batak kurang keren. Banyak anak muda mengeluh dan protes kepada orangtuanya karena membuat namanya misalnya Marojahan sehingga dia harus susah payah memperkenalkan diri menjadi Jack. Pengamat sosial sekaliber Prof. Dr. RM. H. Subanindyo Hadiluwih, SH, MBA mengatakan, di masa sekarang ada pula yang mengelak dari identitas etnik dan atau keturunannya. Banyak orang “Jawa” yang mengaku bernama pak Siman, rupanya Simanjuntak, atau pak Mangun, ternyata (Si) Mangunsong. Sementara pak Sutopo aslinya malah Sitepu.

Dengan nama bukan batak, ditambah keengganan menyebut marga, dilengkapi dengan ketidak mampuan (atau kepura-puraan) berbahasa Batak, maka lengkaplah kita menciptakan lost generation dari akar budaya batak.

Sisi lain dari cerita Cucu Panggoaran adalah kesan, lebih berharganya sang mertua dari ayah-ibu sendiri. Normalnya adalah sebanding. Nai Bingta Najingar adalah paniaran penerus (sipagopas parik) klan Ama Binagta Najingar. Keraguan Nai Posma lengkap sudah, walau saya tidak mengartikan karena dia bukan boru batak. Boru Batak sendiri ada saja bertindak seperti itu. Banyak boru Jawa yang yang sangat klop disebut boru Batak karena menguasai dan melakoni adat istiadat Batak dengan baik.

Karena kemiskinan Nai Posma mungkin tidak membawa suaminya berobat ke Rumah Sakit. Memang diagnosanya tidak disebutkan, tapi mungkin saja kalau dilakukan pemeriksaan, dia sudah layak dibawa ke rumah sakit. Orang berada biasanya kerepotan mencari tempat berobat seperti ke Penang dan Singapore. Saya dapat mengeti apa yang dikatakan para orang bijak; “orang berjiwa besar akan berlari walau ada luka menganga di pundaknya, orang berjiwa kerdil akan meraung dengan luka kecil di kakinya”. Saya banyak menemukan orang di pedesaan tanah Batak yang memendam rasa sakit dalam tubuhnya untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Mereka lebih utama dalam pertimbangan kelangsungan hidup anak cucunya daripada menggunakan dana untuk mengobati penyakitnya yang sebenarnya sudah parah. Akhirnya “diboanhon” ditahankan.

Dalam kondisi ini, Ama Biangta Najingar tidak respon walau Nai Posma mengabarkan ayahnya sakit ditinggal dikampung. Kondisi seperti ini sering terjadi, menderita sakit, sementara diperkuat dengan bunga ni roha, bunga hatinya atas kelahiran sang cucu yang kelak namanya disandang menjadi “goar hatuaon” nama kehormatan sebagai kakek/nenek. Bagaimana kira-kira kondisi si Ompung Doli, Ompu Biangta Najingar mendengar berita yang akan dibawa Nai Posma dari Jakarta?

Suhunan Situmorang kuduga akan menguak banyak tabir kehidupan kita Batak ini. Aku harap cemas juga, dari sisimana nanti kena peluru cerpennya. Tapi bila dimaknai dengan serius, mungkin ada sugesti membawa perubahan perilaku post modern yang banyak menyeret kita dari etika habatahon, sikap sosial masyarakat dan lingkungan.

Teruskan lae Suhunan, karena nama itu ada arti yang dalam. Dalam contoh bahasa batak yang diberikan orang tua ; Sian naumpeop tona do suhunan barita, sian naumpeop arta do suhunan pandaraman, sian naumpeop bisuk do suhunan parbinotoan.

About these ads