Jones Gultom

NATAL_018SUARA meriam bambu dari seberang dolok (bukit) tetap saja berdentum- dentum, memecah sunyi pada malam yang berkabut di Samosir. Meski rumputan yang basah, mungkin  pacet, juga lintah atau serangga-serangga malam lainnya, menempel di kaki yang mengerut, toh semangat dan keriangan anak-anak di kampung saya ketika menyambut Natal dan Tahun Baru, tak pernah surut.

Peristiwa itu  adalah momen yang sangat berharga bagi mereka. Tak hanya bermakna religius, euphoria itu justru merupakan puncak dari rangkaian peristiwa gembira lain yang datang beruntun di kampung saya. Natal dan Tahun Baru selalu ditandai dengan datangnya musim panen. Berbarengan pula dengan libur panjang anak- anak sekolah. Kepulangan mereka mengubah kampung yang biasa sunyi dan adem menjadi ramai dan meriah. Pada hari-hari terakhir, para perantau juga pulang untuk bersilatuhrahmi dengan sanak famili. Kepulangan para perantau, apalagi mereka yang sukses di perantauan biasanya disambut hangat sanak keluarga.

Tak jarang dengan sebuah pesta  lengkap dengan iringan musiknya pula. Bisa dibayangkan, bila dua puluh keluarga saja yang melakukan itu, betapa setiap malam pesta tak henti-hentinya digelar. Malam-malam menjadi ramai, oleh musik, handai tolan, anak-anak yang bermain-main di halaman rumah yang berpesta, dan juga pedagang yang ikut ambil kesempatan.

Bagi para perantau, inilah saat yang tepat untuk memamerkan tajinya. Ada yang membawa mobil pribadi, tidak perduli apakah itu cuma rentalan, ada yang mengenakan segudang perhiasan, layaknya toko emas berjalan, ada yang pamer-pamer handphone terbaru dengan berpura-pura mengangkat telepon sekeras-kerasnya sembari berkecak pinggang dan menyebutkan sejumlah proyek. Selain pamer-pamer harta, soal bahasa dan retorika juga ditata. Mereka yang merantau di kota Megapolitan, tiba-tiba jadi tak tahu berbahasa batak. Dialeknya menjadi kebetawi-betawian, dengan logat retro yang metropolis. Yang agak santun, mencoba tetap menujukkan kebatakannya.

Memang tak semuanya demikian. Ada juga yang biasa-biasa saja. Biasanya kelompok ini adalah mereka yang tak terlalu berhasil di perantauan. Nasibnya di perantauan juga tak jauh beda dengan di kampung. Masih juga mengandalkan tenaga. Soal logat  biasa saja. Pun pergaulan, masih kerap mengatakan; “Horas bah!” atau “Bah hamu doi lae!”. Kelompok ini masih mau ngumpul di parker tuak bersama teman-teman seangkatannya dulu. Masih tetap ngejreng… ngejreng… minum tuak sambil menyanyi oh inang… oh amang. Walau sesekali dengan latah mencoba lagu terbarunya Kerispatih………

Begitulah hiruk-pikuk Natal di kampung saya. Tidak hanya menyiratkan kemeriahan yang didasarkan kerinduan akan sebuah pesta, tapi juga memperlihatkan bagaimana pola sosial dan psikologi masyarakatnya. Sebenarnya momen ini bisa  menjadi acuan untuk mendalami watak dan pola hidup masyarakatnya, seperti yang coba diungkap Baharuddin Aritonang dalam bukunya; “Orang Batak Berpuasa”

Lepas dari semua itu, saya tak mungkin lupa, ketika tiba harinya, pada pagi hari yang masih berembun, lonceng gereja berdentang-dentang, bersahut-sahutan dari satu kampung ke kampung lain. Dan tentu saja, sebarisan anak-anak kecil dengan mengenakan baju, sepatu, rok, celana, pita, dandanan yang baru, terlihat riang dan sedikit tergesa, bergandeng menuju gereja. Mereka bersiap menyambut Natal dengan wajah yang bersahaja!

Jones Gultom, Redaktur Sastra Budaya Medan Bisnis