Monang Naipospos

Banyak orang beranggapan bahwa Panjujuran Ari adalah Parhalaan. Karena itu orang sering mengira bila meghitung hari dengan kalender batak adalah memilih hari-hari baik. Pamahaman yang keliru ini perlu kita luruskan untuk lebih jelas bagaimana para leluhur orang batak melakukan kajian tentang hari-hari dan hari baik dan buruk.

PANJUJURAN ARI

Manjujur ari identik dengan menghitung hari. Para leluhur telah melakukan penghitungan hari dengan memberikan penamaan pada setiap hari. Dalam penamaan itu dapat dilihat perulangan hari setiap kelipatan tujuh yang dimulai dengan ARTIA. Contoh kalender itu sudah kami muat dalam blog ini dengan desain yang lebih modern.

Pada jaman dahulu, jarang ditemukan kalender batak dalam keadaan tertulis. Mereka menghitung hari dengan melihat peredaran bulan dan bintang. Daya ingat mereka yang tajam membuat kegiatan ini tidak selalu memandang langit setiap hari dan setiap malam. Mengamati bulan dan bintang untuk memnghitung hari disebut “maningkir parlangitan”

Memang diakui, ada saja orang yang memilih hari-hari mengacu kepada sebutan hari-hari batak itu. Kemampuan menghitung hari tidak identik kemampuan mengenal hari baik dan buruk. Pengenalan hari baik dan buruk itu selengkapnya dapat dilihat dalam Parhalaan.

PARHALAAN

Parhalaan berasal dari kata HALA, (KALAJENGKING). Hala adalah binatang berbisa bagi siapa saja dan selalu dihindari. Dalam pemetaan hari-hari menurut kalender batak “hala” dibuat jadi lambang yang melintang dalam kolom empat hari. Yang dihindarkan adalah pada notasi kepala Kala, punggung dan ekor, sementara pada bagian perut dianggap hari baik.

Menurut para leluhur, pemetaan itu dilakukan berdasarkan pengamatan bertahun-tahun dan terus diuji akurasinya. Disebutkan bahwa setiap orang memiliki perangai berbeda dengan orang lainnya. Ada dipengaruhi saat kelahirannya dan kondisi dimana dibesarkan. Hingga dewasa hendak melakukan sesuatu baik berupa hajatan atau acara yang mengerahkan banyak orang.

Mereka memetakan kelahiran pada empat kelompok, disebut dengan “marguru tu api, marguru tu aek, marguru tu alogo dan marguru tu tano”. Dalam Astrologi kuno dari 12 rasi bintang juga dapat dikelompokkan kepada keempat pemetaan para leluhur batak itu, misalnya LEO (api) Aquarius (Air) Pisces (angin) dan Taurus (Tanah).

Musim dapat dipetakan pada penghujan dan kemarau, ini yang sangat mudah diamati. Tapi ada dua lagi yang diamati seperti masa angin bertiup dan masa tanah subur. Pemetaan itu juga dipengaruhi alam dan lingkungan tertentu, sehingga dapat dilihat bahwa Parhalaan dari Samosir ada bedanya dengan Parhalaan di Toba.

Parhalaan-Versi-TOba

Parhalaan biasanya ditulis dalam sepotong bambu. Dalam bentuk yang sama ditulis juga yang menjadi pasangannya yang disebut “panggilingan”. keduanya disambungkan dengan tali sehingga mirip dengan ruyung. Pembuatan media bambu ini adalah berdasarkan daya tahan, karena sering dilihat dan dipegang. Media kulit kayu bila sering disentuh dan dibolak-balik lebih cepar rusak. Media kulit kayu biasanya untuk kitab catatan yang jarang dibuka.

Pemetaan seperti itu juga dapat kita bandingkan dengan pemetaan yang dilakukan di jaman modern seperti kalender musim. Kalender musim cenderung memetakan pengaruh iklim dan kegiatan masyarakat pada wartu tertentu selama setahun. Kalender musim biasanya disesuaikan dengan bentuk kegiatan masyarakat yang akan dilakukan. Misalnya kalender musim pekerja kesehatan berbeda dengan kalender musim pekerja sosial.

Parhalaan yang dibuat para leluhur kurang lebih sama prinsipnya dengan pembuatan kalender musim. Yang membedakan adalah, Parhalaan lebih mengamati pengaruh siklus bumi, matahari dan bulan. Pengaruh peredaran bimasakti yang disebut dengan Pane Nabolon* juga tidak lepas dari pengamatan mereka. Parhalaan mengingatkan bagaimana manusia yang hidup bersikap kepada alam “yang hidup” sehingga tidak berbenturan. Benturan dari reaksi sifat alam dengan sifat/sikap dan perlakukan manusia dapat berdampak tidak baik. Sifat alam yang berakibat buruk kepada manusia dilambangkan dengan “mulut dan ekor kalajengking”. Paket hari kalajengking ini ditemukan dua kali dalam sebulan selama empat hari. Dalam empat hari itu hanya tiga hari yang dihindarkan dan satu hari dapat dimanfaatkan. Ketiga hari yang dihindarkan adalah pada posisi mulut, punggung dan ekor. Satu hari yang dapat dimanfaatkan adalah pada posisi perut.

* Pane dapat dilihat pada sore malam hari melalui kilatan cahaya seperti halilintar dengan cahaya kuning. Kilatan itu dapat dilihat dari arah mendatar. Posisi kilatan itu akan bergeser terus mengitari bumi. Ada yang membuktikan bahwa ayam mengeram tidak akan menghadap arah pane. Orang melahirkan juga dihindarkan untuk tidak mengarah ke pane.

Dalam buku-buku yang menguraikan tentang batak ada menyebutkan bahwa Pane Nabolon sama dengan Mulajadi Nabolon. Disebutkan Pane nabolon itu bagaikan raksasa pembawa maut yang siap menghancurkan. Dengan uraian seperti itu, hancurlah pemahaman modern kepada leluhur orang batak sudah mampu melakukan kajian tata surya dan pengaruhnya dalam kehidupan dan kelahiran. Lambang-lambang pemetaan dan notasi yang dibentuk leluhur disingkirkan dengan antitesis baru yang mengarahkan pemikiran modern kepada kesimpulan bahwa parhalaan adalah unsur keberhalaan, sesat dan animisme.

Adakah hari baik dan buruk?

Ini sering menjadi pertentangan. Kaum agamawan selalu mengatakan bahwa semua hari baik. Secara umum pemahaman ini dapat diterima tergantung orang menyikapinya. Pada saat menjemur padi dan panen di sawah, musim penghujan menjadi sangat mengecewakan bagi mereka, tapi bagi orang yang baru selesai tanam padi dan masa padi primordia, hujan sangat disyukuri. Orang yang sedang melakukan pesta perkawinan juga selalu menghidari pesta pada musim penghujan.

Ilmu astrologi sering menguraikan perbedaan sifat bagi orang yang lahir pada peredaran bumi dan matahari yang berbeda. Dalam ilmu itu pula ada penjelasan pengaruh peredaran planet bumi, bulan dan matahari kepada musim dan manusia. Ada iklim yang mempengaruhi datangnya hama, perkembangan baketeri dan virus tertentu. Untuk itu orang batak dulu selalu melakukan kegiatan “mangase” yang dalam bahasa jawa lebih mendekati dengan ruwatan bumi. Tujuannya untuk pembersihan alam lingkungan dari segala wabah agar senantiasa dalam suasana jernih untuk kesehatan dan kesuburan tanah.

Wabah penyakit yang berkembang menjadi bala yang membawa petaka itu seharusnya kita sebut eltor, kholera, flu mematikan. Tapi mereka tidak menyebut seperti itu, tapi “begu antuk” wabah yang membuat manusia mati tiba-tiba seperti kena pukul, “begu nurnur” bagi penyakit yang bertahan lama dan berujung kematian. Bayi yang lahir juga sangat mencemaskan dan sering membuat mereka takut akan keselamatannya. Bila si ibu meninggal saat melahirkan atau bayi mati saat dilahirkan, penyakit ini disebut “begu laos”. Hama, bakteri dan virus mematikan atau penyakit lain yang membawa dampak kematian itu sangat menakutkan. Biasanya hal yang menakutkan bagi orang batak dulu disebut “Begu”. Begu tak selamanya diartikan “roh jahat” tapi keduanya sama menakutkan. Mereka belum mumpuni menciptakan anti bakteri dan anti virus. Ini termasuk yang diruwat, bukan disembah.

Parhalaan lebih luas memetakan pengaruh peredaran planet setiap hari kepada orang dan massa yang ada di permukaan bumi. Parhalaan adalah pedoman umum dan Panggilingan adalah pedoman khusus. Kalimat dalam Panggilingan sering membuat kesan seram karena bahasanya yang langsung menghujam dan mencerahkan. Parhalaan dan Panggilingan adalah pasangan tak terpisahkan, tapi isi panggilingan banyak yang menentang apa yang baik menurut Parhalaan, begitu juga sebaliknya. Disinilah keunikannya yang tidak dapat dicerna pemikiran dengan hanya membahas sekilas.

Hal yang penting mungkin kita harus tau, bahwa para leluhur berupaya bersinergi dengan alam lingkungan dan segala hal yang mempengaruhinya. Mengamati dan mengawasi hal yang berdampak kepada klehidupan manusia. Diakui bahwa, Mulajadi Nabolon menciptakannya, tapi manusia harus bijak menyikapinya. Karena ada hukum alam yang bereaksi bila saling menentang atas perbedaan sifat yang sudah ditentukan oleh Mulajadi Nabolon.

Seorang menemui guru ahli melihat parhalaan. Dia berguru untuk mencari hari baik kapan dia melakukan pesta perkawinan anaknya agar berlangsung damai. Sang guru sudah mengetahui pribadi orang yang bertanya, hidupnya sederhana, polos dan jujur seadanya. Guru bertanya keadaan calon besannya. Diterangkan bahwa besannya kaya, memandangnya dirinya agak remeh dan selalu mempertahankan pendapatnya. Maka sang guru menentukan hari upacara itu pada simbol “panguge” menanduk (contoh) dalam parhalaan tapi dalam panggilingan hari baik. Hanya guru yang tau penjelasannya; bahwa pada hari itu besannya tidak akan melakukan tindakan menyulitkan bagi dia yang melakukan acara pesta. Pada hari itu aura si kaya diturunkan oleh pengaruh kekuatan alam, sehingga tidak bergairah menonjolkan kekuatannya kepada yang lemah. Usai pesta senantiasa berlanjut kepada kebahagiaan dan kedamaian.

Anda tidak saya anjurkan untuk kembali ke Parhalaan, tapi bila ingin penelusuran, saya sarankan ada perpaduan dari beberapa ahli di bidang astrologi, geografi, sosiologi dan fisika.

Pengamatan yang dipetakan dan dipadukan dalam sebuah kode yang diinstal dalam laptop anda. Selanjutnya anda dapat menggunakan firasat (bila masih memiliki)dalam perpaduan kode map itu sebagai pembanding. Tapi harus diingat, melakukan mapping akan dipengaruhi wilayah dimana anda berada dan cendrung berkembang. Yang tidak dapat dirubah adalah waktu dan siklus peredaran planet yang saling mempengaruhi.

Seandaninya parhalaan diciptakan oleh para leluhur ahli perbintangan pada jaman sudah ada komputer, mungkin akan menjebutnya “The Scorpion Map”.

AddThis Social Bookmark Button

About these ads