Limantina Sihaloho

“Sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak, pohon-pohon besar itu masih berdiri; setelah agama Kristen masuk, pohon-pohon besar itu ditebangi antara lain untuk membuktikan bahwa pohon itu tak mempunyai kekuatan apapun”, begitu kata salah seorang teman kelas saya yang kebetulan orang Batak di Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana di pertengahan tahun 1990-an. Kala itu, istilah global-warming masih jauh dari telinga dan wacana publik. Jogja pada waktu itu masih relatif dingin malah; tidur pada malam hari masih perlu pakai selimut. Di awal 2000-an Jogjakarta telah berubah menjadi gerah, sumuk. Seperti Pematang Siantar pada masa sekarang ini yang juga sudah bertambah panas walau jauh dari tepi laut.

Pada tahun 1990-an bahkan sebelum itu, debit air di Danau Toba berkurang. Salah satu penyebabnya adalah ekosistem hutan mengalami gangguan, luas hutan berkurang di sekeliling danau, pepohonan terus-menerus ditebangi oleh manusia. Konteks pembicaraan teman kelas saya pada waktu itu lebih kepada situasi yang terjadi di Danau Toba. Sikap orang Kristen yang berubah dalam memperlakuan alam sekitar mereka secara langsung berpengaruh terhadap Danau Toba.

Sebelum agama Kristen masuk, orang-orang Batak mempunyai sikap tertentu terhadap alam sekitar termasuk terhadap pohon yang kalau kita telusuri sebenarnya berakar dari tradisi yang lebih tua yang dipelihara secara turun-temurun sejak zaman kuno. Masyarakat tradisional tidak hanya di Tanah Batak tetapi hampir di seluruh dunia menghormati alam sekitar mereka bahkan setara dengan diri mereka; alam bukan objek.

Para misionaris dan orang-orang Batak yang menjadi Kristen telah salah membaca kearifan nenek moyang (komunitas Batak pra-Kristen) berkaitan dengan bagaimana komunitas ini berinteraksi dengan alam sekitar mereka. Cara komunitas ini berinteraksi dengan alam sekitar, yang kalau kita simpulkan sebenarnya adalah sebuah dialog yang terus-menerus seirama dengan musim-musim yang berlangsung setiap tahunnya. Itu sebab ada ritus tertentu sebelum menanam benih di ladang atau sawah. Para misionaris dan orang-orang Batak yang sudah masuk Kristen melihat dan memahami cara-cara itu sebagai tindakan pagan atau kafir yang layak dimusnahkan.

Teologi para misionaris menegaskan: hanya Allah melalui Tuhan Yesus Kristus satu-satunya yang berkuasa; tidak ada kuasa di dalam sebuah pohon termasuk pohon yang sangat besar. Para misionaris terdahulu itu tidak mengerti bahwa orang-orang Batak kala itu sebenarnya tidak menyembah pohon tetapi Debata Mula Jadi na Bolon yang kalau kita terjemahkan ya berarti Allah. Pohon-pohon besar yang rindang dan dianggap suci pada masa itu berfungsi sebagai tempat ibadah seperti gereja pada masa sekarang bagi orang-orang Kristen.

Orang-orang Kristen yang datang ke gereja tentu tidak menyembah gedung gereja tetapi Allah yang mereka percayai. Sama halnya dengan masyakarat tradisional di Tanah Batak dan di berbagai penjuru bumi; mereka berkumpul dan melakukan ritual di tempat-tempat tertentu termasuk di bawah rindang dan teduhnya pohon bukan dalam rangka menyembah pohon itu tetapi menyembah Allah yang mereka percayai.

Orang-orang Kristen lebih banyak terpenjara dalam keyakinan mereka yang sempit; mengira bahwa satu-satunya agama yang benar adalah agama Kristen. Konsekwensinya: satu-satunya pandangan yang benar adalah pandangan Kristen. Dalam konteks tertentu, satu-satunya yang benar adalah apa yang keluar dari pikiran dan mulut orang-orang yang telah menjadi Kristen. Ini antara lain yang terjadi di Tanah Batak sejak masuknya Kekristenan: silahkan tebang pohon-pohon besar itu di mana para leluhur biasa berkumpul entah untuk bermusyawarah atau melakukan ritus keagamaan mereka. Pohon itu kafir demikian juga orang-orang yang berada di sana. Kristenkan mereka agar mereka tidak lagi kafir. Buktikan bahwa tidak ada kuasa tuhan mereka itu. Tebang pohon-pohon itu dan tidak akan terjadi sesuatu apapun.

Para misionaris juga senang melebih-lebihkan berita ke lembaga misi yang mengirimkan mereka ke negeri yang mereka sebut negeri-kafir, negeri yang belum mengenal Kristus. Orang-orang Kristen Eropa pada abad ke-19 percaya bahwa kehidupan penduduk di negeri-negeri yang belum menerima Kristus seperti di Tanah Batak sungguh mengenaskan dan sarat dengan apa yang mereka sebut kuasa-gelap. Agama tradisional Batak mereka anggap juga sebagai kuasa gelap. Mereka merasa hebat bisa mendirikan rumah mereka di tempat-tempat yang mereka laporkan ke badan misi sebagai tempat-tempat yang angker di Tanah Batak dan mereka tidak apa-apa yang membuktikan pada penduduk pribumi bahwa tidak ada kuasa dari yang penduduk primbumi sembah itu.

Pada tahun 1877, IL Nommensen menjadi pemandu (dan juga penerjemah) bagi para serdadu Belanda yang melakukan ekspedisi di Tanah Batak. Dalam ekspedisi ini, para serdadu membakar banyak desa yang tidak mau tunduk pada pemerintah; memaksa para pemimpin desa yang takluk untuk membayar denda terhadap pemerintah kolonial pada masa itu. Ekspedisi berlangsung selama berbulan-bulan. Di pihak Belanda ini ekspedisi tetapi di pihak Batak, ini merupakan perang sehingga peristiwa ini umum kita sebut sebagai Perang Toba.

Ketika IL Nommensen bersama dengan Residen dan para serdadu tiba di Balige pada tahun 1877 itu, mereka begitu terpesona melihat keindahan alam sekitar. Pada tengah hari karena panas, para serdadu terjun ke danau. Mandi. Itulah pertama kali mereka menginjakkan kaki di dalam danau. Menurut laporan Nommensen, banyak di antara para serdadu itu yang mengungkapkan rasa jengkelnya: mengapa bangsa kafir yang keji itu (bangsa Batak maksudnya), memiliki bagian dunia yang begitu indah.

Di Tanah Batak, kecuali kemarau sepanjang tahun, pepohonan akan tetap berdaun. Pada masa awal kedatangan para misionaris itu, polusi udara bahkan tanah maupun air sangat kecil. Kehidupan dan pola hidup manusia masih tergolong alami, organik. Hutam masih alami. Alam begitu indah apalagi yang berada dekat atau di seputar Danau Toba. Tentu saja berbeda dengan Eropa negeri para misionaris apalagi di musim dingin di mana cuaca begitu tidak bersahabat, pada manusia dan hewan termasuk tumbuhan. Pohon-pohon (kecuali evergreen, semacam cemara) telanjang tak berdaun sama sekali di musim dingin. Siapa pula yang mau duduk di bawah pohon telanjang macam itu bahkan hanya untuk mengobrol saja seperti yang umum dilakukan oleh orang-orang Batak di bawah pohon-pohon beringin di sisi kampung mereka?

Sekarang kita mulai gembar-gembor untuk mengais-ngais apa yang kita sebut kearifan lokal. Kita merasa perlu untuk menemukannya sebab samar-samar kita tahu bahwa para pendahulu kita punya cara tertentu berinteraksi dengan alam termasuk di Tanah Batak. Kita mulai mempertanyakan keabsahan pandangan-pandangan dominan yang punya potensi besar untuk menindas dan memaksa pandangan yang berbeda untuk minggir. Bila perlu tidak hanya minggir, para pemilik pandangan dominan yang disokong oleh agama dominan dan kapitalisme (pemerintah kolonial, tuan-tuan kebon dan pengusaha) bisa menguburkan apa saja yang mereka anggap menghalangi langkah-tamak mereka, bila perlu hidup-hidup juga tak apa-apa.

Apa kabar kearifan lokal? Para orang tua di pedesaan dulu biasa mengajarkan kepada anak-anak mereka agar kalau mau, maaf, kencing di talun (wilayah) orang lain atau di luar kampung, di padang penggembalaan misalnya, permisi dulu terhadap penghuni talun itu. Masyarakat tradisional akrab dengan mitologi dan itu sebuah kearifan kolektif yang menjaga tatanan dan keseimbangan kosmos baik yang makro maupun mikro. Belakangan, kita terasing dari kearifan-kearifan macam itu karena kita membacanya secara harafiah. Orang lalu berpikir: kalau mau kencing, ya sudah kencing saja! Konsekwensinya, manusia tak lagi hormat pada alam. Inti dari kearifan tradisional itu antara lain adalah menegakkan rasa hormat terhadap alam sebab alam merupakan sumber penghidupan yang berkelanjutan dan mutlak. Tanpa dukungan alam, kita mau apa? Nggak bisa apa-apa!

Dalam perkembangan selanjutnya, berlangsung akumulasi terus-menerus di mana manusia semakin tidak hormat pada alam, pada bumi di mana mereka tinggal dan hidup. Anak-anak bahkan orang dewasa tidak lagi merasa bersalah untuk kencing sembarangan, buang sampah sembarangan. Tak lagi punya perasaan terhadap sampah-sampah plastik dan sampah lainnya yang mereka produksi setiap hari. Manusia semakin terpisah dari alam walau kaki mereka menginjak bumi saban waktu. Alam menjadi objek eksploitasi semata.

Masyarakat tradisional tidak boleh buang sampah sembarangan sebab komunitas mengajarkan itu tindakan terlarang yang akan memicu kemarahan penghuni alam di masa sampah itu dibuang. Akan ada konsekwensi bagi pelaku. Intinya sama dengan konsep modern bahwa sampah akan menimbulkan bencana sebab mengganggu keseimbangan alam, merusak sebab menjadi polutan terhadap udara, tanah dan air. Kita di zaman ini melihat alam yang rusak dan terpolusi terlebih dahulu oleh sampah baru sadar bahwa sampah menimbulkan masalah dan bencana. Masyarakat tradisional pra Kristen misalnya, sudah mampu menciptakan sebuah kearifan yang melindungi alam yang dalam waktu yang sama berarti melindungi diri mereka sendiri sebab mereka juga adalah merupakan bagian dari alam.

Kenaifan manusia modern yang dipertegas oleh Kekristenan adalah menganggab dirinya bukan bagian dari alam tapi pemilik alam. Sebagai pemilik maka manusia mengembangkan sikap memiliki, indentik dengan mengeksploitasi. Lihat saja! Gereja diam-diam saja dengan perambahan hutan yang terus berlangsung. Hampir 80% daratan Sumatra telah menjadi lahan perkebunan mono-kultur yang melibas habis kakayaan flora dan fauna yang sangat berharga demi memenuhi sikap memiliki itu.

Gereja-gereja baik yang Protestan maupun yang Katolik bahkan ikut-ikutan membuka ratusan (bahkan ribuan?) hektar lahan untuk perkebunan monokultur, sebuah tindakan bunuh-diri jangka panjang dan sebuah penghinaan terhadap generasi-generasi yang akan datang sebab mereka tak akan lagi dapat melihat kekayaan flora dan fauna yang sejak awal Tuhan berikan pada manusia kecuali mungkin dalam buku dan gambar. Masih syukur kalau masih bisa melihat sawit atau karet atau kopi; siapa bisa jamin kalau alam tidak akan mengamuk?

Generasi (muda) sekarang yang peduli pada lingkungan termasuk Danau Toba yang mulai sibuk belakangan ini perlu mengetahui benang merah persoalan mengapa keadaan menjadi seperti sekarang ini kalau kita bicara soal lingkungan. Sikap kita setiap hari penting: bagaimana kita berinteraksi dengan alam sekitar. Adalah naif bicara soal Danau Toba tapi kita menjadi budak konsumerisme. Sistem perekonomian global memaksa kita dengan cara-cara yang halus menjadi hamba konsumerisme; membeli dan membeli terus termasuk hal-hal yang tanpanya kita tidak akan apa-apa. Konsumerisme adalah sebuah pertanda keterpisahan manusia dari alam sekaligus dari sesama dan Tuhan di mana manusia mencari semacam penyatuan dengan barang-barang yang mereka anggap menarik untuk mereka pakai atau makan.

Generasi (muda) sekarang terutama yang peduli pada lingkungan seperti Save Lake Toba Community (SLTC) juga perlu membangun landasan yang jelas bagaimana tidak hanya berpikir tetapi juga bagaimana bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari yang pro lingkungan hidup, tak peduli apakah dia di Jakarta, New York, atau Samosir. Gereja-gereja akan cenderung lambat dalam bersikap tegas pada tindakan pro lingkungan. Ada secercah harapan di dalam diri para generasi muda sekarang ini. Semoga langgeng! Plus, jangan lupa, Danau Toba ada di Sumetera Utara, belum berpindah ke tempat lain.***

Tautan :
Kearifan Budaya Batak Mengelola Lingkungan
Quo Vadis Danau Toba
Natal Di Taman Eden
APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DANAU TOBA ?
BEDA TASIK KENYIR DENGAN DANAU TOBA
Dermaga Selam
SELAMATKAN DANAU TOBA
APA ADA KANDUNGAN BERBAHAYA DI DANAU TOBA?
Apa Mungkin Danau Toba Menjadi Rawa Raksasa ?
Earth Society Tour Danau Toba
Kaos Viky Kering Seketika
Kutemui Batak Keren Di Samosir
oh tao toba na uli
REFLEKSI, LIMA TAHUN KABUPATEN SAMOSIR

About these ads