Suhunan Situmorang
SUDAH 40 tahun ia wafat, namun namanya kian sering disebut-sebut. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; menghibur orang-orang, menafkahi pekerja dunia malam, mengalirkan keuntungan bagi pengusaha hiburan dan industri rekaman. Tapi, orang-orang, khususnya etnis Batak dan yang familiar dengan lagu Batak, segelintir saja yang tahu siapa dia sesungguhnya. Ironisnya lagi banyak yang tak sadar bahwa sejumlah lagu yang selama ini begitu akrab di telinga mereka, lahir dari rahim kreativitas lelaki yang hingga ajalnya tiba tetap melajang itu.
Apa boleh buat, selain catatan atas diri Nahum sendiri yang memang minim, ia terlahir dan berada di tengah sebuah bangsa yang amat rendah tingkat pengapresiasian atas suatu karya cipta; yang hanya suka menikmati karya orang lain tanpa mau tahu siapa penciptanya, selain enggan memberi penghargaan pada orang-orang kreatif yang telah memperkaya khazanah karsa dan rasa.
Nahum pun menjadi sosok yang melegenda namun tak pernah tuntas diketahui asal-usulnya. Sulit menemukan sumber yang sahih untuk menerangkan seperti apakah dulu proses kreatifnya, peristiwa atau pengalaman pahit apa saja yang memengaruhi kelahiran lagu-lagu ciptaannya, seberapa besar andilnya menumbuhkan semangat kemerdekaan manusia Indonesia dari kuasa penjajah, dan jasanya yang tak sedikit untuk menyingkap tirai keterbelakangan manusia Batak di masa silam. Ia adalah pejuang yang dibengkalaikan bangsa dan negerinya, terutama sukunya sendiri. Seseorang yang sesungguhnya berjasa besar mencerdaskan orang-orang sekaumnya namun tak dianggap penting peranannya oleh para penguasa di bumi leluhurnya.
Nahum sendiri mungkin tak pernah berharap jadi pahlawan yang akan terus dipuja hingga dirinya tak lagi berjiwa. Pula tak pernah membayangkan bahwa namanya akan tetap hidup hingga zaman memasuki era millenia. Boleh jadi pula tak pernah bisa sempurna ia pahami perjalanan hidupnya hingga usianya benar-benar sirna. Ia hanya mengikuti alur hati dan pikirannya saat melintasi episode-episode kehidupan dirinya yang dipenuhi romantika yang melekat dalam diri para pelakon gaya hidup avonturisme. Tak mustahil pula ia sering bertanya mengapa terlahir sebagai insan penggubah dan pelantun nada dengan tuntutan jiwa harus sering berkelana, bukan seperti saudara-saudara kandungnya yang “hidup normal” sebagaimana umumnya orang-orang di zamannya.
Meski aliran musik yang diusungnya beraneka ragam dan tak seluruhnya bernuansa etnik Batak dan bahkan banyak yang mengadopsi aliran musik Barat macam waltz, bossa, folk, jazz, rumba, tembang-tembang gubahannya begitu subtil dan melodius. Lirik-liriknya pun tak murahan karena menggunakan kosa kata Batak klasik bercitarasa tinggi, kaya metafora, dan karena cukup baik menguasai filosofi dan nilai-nilai anutan masyarakat Batak, mampu menyisipkan nasehat dan harapan tanpa terkesan didaktis.
Ia begitu romantik tapi tak lalu terjebak di kubangan chauvinis, juga seseorang yang melankolis namun menghindari kecengengan bila jiwa dicambuki cinta. Ia melantunkan kegetiran hidup dengan tak meratap-ratap yang akhirnya malah memercikkan rasa muak, sebagaimana kecenderungan lagu-lagu pop Batak belakangan. Ia gamblang meluapkan luka hati akibat cinta yang dilarang namun tak jadi terjebak dalam sikap sarkastis.
***
NAHUM memang bukan cuma penyanyi dan penulis lagu, tetapi juga penyair yang kaya kata dengan balutan estetika yang penuh makna. Lelaki pengelana ini, kata beberapa saksi mata, dalam keseharian senang tampil parlente, senantiasa berpakaian resik dan modis dengan sisiran rambut yang terus mengikuti gaya yang tengah ditawarkan zaman. Anak kelima dari delapan bersaudara ini lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Februari 1908. Orangtuanya termasuk kalangan terpandang karena ayahnya, Kilian Situmorang, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah berbahasa Melayu, di tengah mayoritas penduduk yang kala itu masih buta huruf.
Kilian sendiri berasal dari Desa Urat, Samosir, sebuah kampung di tepi Danau Toba dan jamak diketahui sebagai kampungnya para keturunan Ompu Tuan Situmorang. (Situmorang Pande, Situmorang Nahor, Situmorang Suhutnihuta, Situmorang Siringoringo, Sitohang Uruk, Sitohang Tongatonga, Sitohang Toruan). Kilian merantau ke wilayah Tapanuli Selatan demi mengejar kemajuan yang kian menguak gerbang peradaban manusia Batak Toba yang begitu lama tertutup dengan splendid-isolation-nya.
Sebagaimana harapannya pada anak-anaknya yang lain, Kilian pun menginginkan Nahum menjadi pegawai pemerintah kolonial. Harapannya itu tak tercapai meski Nahum sangat memenuhi syarat. Ia lebih senang menjadi manusia bebas tanpa terikat, bahkan di kala usianya masih remaja pun sudah berlayar ke Pulau Jawa, suatu hal yang tak terbayangkan bagi umumnya manusia Batak masa itu. Bukan karena kemampuan orangtuanya, melainkan karena dibawa satu pendeta yang bertugas di Sipirok dan kemudian kembali ke Depok, Jawa Barat, setamatnya dari HIS, Tarutung. Di Jakarta ia sekolah di Kweekschool Gunung Sahari dan kemudian meneruskan pendidikan ke Lembang, Bandung, lulus tahun 1928. Selain sekolah umum, ia memperdalam seni musik, terutama saat bersekolah di Lembang.
Ia turut bergabung dengan kalangan pemuda berpendidikan tinggi yang masa itu diterpa kegelisahan yang hebat untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman kuasa kolonial. Mereka kerap berkumpul di bilangan Kramat Raya dan pada saat itulah ia berkenalan dan kemudian menjadi pesaing Wage Rudolf Supratman ketika mengikuti lomba penulisan lagu kebangsaan. Supratman memenangi lomba tersebut dengan lagu ciptaannya Indonesia Raya, Nahum diganjar juara dua.
Sayang sekali, lagu yang diperlombakan Nahum itu tak terdokumentasikan dan hingga kini belum ditemukan. Kabarnya, saat itu ia amat kecewa karena merasa lagu ciptaannyalah yang paling layak menang sebab selain unsur orisinalitas, durasinya pun lebih pendek ketimbang Indonesia Raya. (Unsur orisinalitas lagu Indonesia Raya sempat dipersoalkan, namun kemudian menguap begitu saja karena dianggap sensitif). Lelaki muda yang tengah digelontori idealisme dan cita-cita menjadi seniman musik yang mendunia ini pun memilih pulang ke Sumatera Utara, persisnya ke wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Sibolga. Di kota pantai barat Sumatera itulah ia jalani pekerjaan guru di sebuah sekolah partikelir H.I.S Bataksche Studiefonds, 1929-1932.
***
TAHUN 1932 itu pula ia hengkang ke Tarutung karena memenuhi ajakan abang kandungnya, Sopar Situmorang (juga berprofesi pendidik), untuk mendirikan sekolah partikelir bernama Instituut Voor Westers Lager Onderwijs. Pemerintah Hindia Belanda coba menghalangi karena saat itu ada peraturan melarang pembukaan sekolah bila dikelola partikelir. Nyatanya Nahum dan Sopar tetap bertahan dan mengajarkan pengetahun umum macam sejarah dunia, geografi, aljabar, selain musik, kepada murid-murid mereka. Sekolah swasta ini bertahan hingga 1942 karena tentara Dai Nippon kemudian mengambilalih kekuasaan Hindia Belanda, lalu menutupnya.
Sebelum sekolah tersebut ditutup Jepang, ia sudah wara-wiri ke Medan untuk menyalurkan bakat sekaligus mengaktualisasikan dirinya yang acap gelisah. Antara lain, bersama Raja Buntal, putra Sisingamangaraja XII, ia dirikan orkes musik ‘Sumatera Keroncong Concours’ dan pada tahun 1936 memenangkan lomba cipta lagu bernuansa keroncong di Medan. Hingga Hindia Belanda dan Jepang hengkang, ia tak pernah mau jadi pegawai mereka. Nahum memang nasionalis tulen dan karenanya memilih bergiat di ranah partikelir ketimbang mengabdi pada penjajah, selain pada dasarnya (mungkin karena seniman) tak menghendaki segala bentuk aturan yang mengekang kebebasannya berekspresi.
Tapi kala itu, mengandalkan kesenimanan belaka untuk menopang kebutuhan hidup taklah memadai, apalagi Nahum senang bergaul dan nongkrong di kedai-kedai tuak hingga larut malam. Tanpa diminta akan ia petik gitarnya dan bernyanyi hingga puas dan dari situlah bermunculan lagu-lagu karangannya. Dan ia bagaikan magnet, kedai-kedai tuak akan dipenuhi pengunjung yang bukan hanya etnis Batak. Orang-orang seperti tersihir mendengar alunan suaranya. Ia memiliki satu keistimewaan karena bisa menggubah lagu secara spontan di tengah keramaian dan tanpa dicatat. (Inilah salah satu penyebab mengapa lagu-lagunya hanya bisa dikumpulkan 120, sementara dugaan karibnya seperti alm. Jan Sinambela, jumlahnya mendekati 200 lagu).
Jenuh berkelana dari satu kedai ke kedai tuak lainnya, dalam kurun waktu 1942-1945, ia coba berwirausaha dengan membuka restoran masakan Jepang bernama Sendehan Hondohan, seraya merangkap penyanyi untuk menghibur tamu-tamu yang datang untuk bersantap. Sepeninggal Jepang karena kemerdekaan RI, restoran yang dikelolanya bangkrut. Ia kemudian berkelana dari satu kota ke kota lain sebagai pedagang permata sembari mencipta lagu-lagu bertema perjuangan dan pop Batak. Masa-masa itu pula ia kembali memasuki dunia manusia Batak dengan berbagai puak yang menghuni Sidempuan, Sipirok, Sibolga, Tarutung, Siborongborong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Balige, Parapat, Pematang Siantar, Berastagi, dan Kabanjahe.
Tahun 1949, Nahum kembali menetap di Medan untuk menggeluti usaha broker jual-beli mobil dan tetap bernyanyi serta mencipta lagu, juga kembali melakoni kesenangannya bernyanyi di kedai-kedai tuak. Sesekali ia tampil mengisi acara musik di RRI bersama kelompok band yang ia bentuk (Nahum bisa memainkan piano, biola, bas betot, terompet, perkusi, selain gitar). Periode 1950-1960, menurut kawan-kawan dan kerabatnya, adalah masa-masa Nahum paling produktif mencipta lagu dan tampil total sebagai seniman penghibur. Tahun 1960, misalnya, ia dan rombongan musiknya tur ke Jakarta. Setahun lebih mereka bernyanyi, mulai dari istana presiden, mengisi acara-acara instansi pemerintah, diundang kedubes-kedubes asing, live di RRI, hingga muncul di kalangan komunitas Batak. Pada saat tur ini pula ia manfaatkan untuk merekam lagu-lagu ciptaannya dalam bentuk piringan hitam di perusahaan milik negara, Lokananta.
***
SAMPAI usianya berujung, ia tetap melajang. Kerap disebut-sebut, ia didera patah hati yang amat parah dan tak terpulihkan pada seorang perempuan bermarga Tobing, yang kabarnya berasal dari kalangan terpandang. Orangtua perempuan itu tak merestui Nahum yang “cuma” seniman menikahi anak gadis mereka. Cinta Nahum rupanya bukan jenis cinta sembarangan yang mudah digantikan wanita lain. Ternyata, berpisah dengan kekasihnya, benar-benar membuat Nahum bagaikan layang-layang yang putus tali di angkasa; terbang ke sana ke mari tanpa kendali. Ia tetap meratapi kepergian kekasihnya yang sudah menikah dengan pria lain. Sejumlah lagu kepedihan dan dahsyatnya terjangan cinta, berhamburan dari jiwanya yang merana.
Demikian pun Nahum tak hanya menulis sekaligus mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Dari 120 lagu ciptaannya yang mampu diingat para pewaris karyanya, mengangkat beragam tema: kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasehat, filosofi, sejarah marga, dan sisi-sisi kehidupan manusia Batak yang unik dan khas. Dan, kendati pada tahun 30-an isu dan pengaturan atas hak cipta suatu karya lagu/musik belum dikenal di Indonesia, Nahum sudah menunjukkan itikad baik ketika mengakui lagu Serenade Toscelli yang ia ubah liriknya ke dalam Bahasa Batak menjadi Ro ho Saonari, sebagai lagu ciptaan komponis Italia.
Nahum pun terkenal memiliki daya imajinasi serta empati yang luarbiasa. Tanpa pernah mengalami atau menjadi seseorang seperti yang ia senandungkan dalam berbagai lagu ciptaannya, ia bisa menulis lagu yang seolah-olah dirinya sendiri pernah atau tengah mengalaminya. Salah stau contoh adalah lagu Anakhonhi do Hamoraon di Au (Anakkulah kekayaanku yang Terutama). Lagu bernada riang itu seolah suara seorang ibu yang siap berlelah-lelah demi nafkah dan pendidikan anaknya hingga tak mempedulikan kebutuhan dirinya. Lagu tersebut akhirnya telah dijadikan semacam hymne oleh kaum ibu Batak, yang rela mati-matian berjuang demi anak. Ketika menulis lagu itu Nahum layaknya seorang ibu.
Kemampuannya berempati itu, bagi saya, masih tetap tanda tanya, karena ia lahir dan besar di lingkungan keluarga yang relatif mapan karena ayahnya seorang amtenar yang tak akrab dengan kesusahan sebagaimana dirasakan umumnya orang-orang yang masa itu, sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terbilang sulit. Ia pun tak pernah berumahtangga (apalagi memiliki anak) hingga mestinya tak begitu familiar dengan keluh-kesah khas orangtua Batak yang harus marhoi-hoi (susah-payah) memenuhi keperluan anak.
Juga ketika ia menulis lagu Modom ma Damang Unsok, laksana suara lirih seorang ibu yang sedih karena ditinggal pergi suami namun tetap meluapkan cintanya pada anak lelakinya yang masih kecil hingga seekor nyamuk pun takkan ia perkenankan menggigit tubuh si anak. Ia pun menulis lagu Boasa Ingkon Saonari Ho Hutanda yang menggambarkan susahnya hati karena jatuh cinta lagi pada perempuan yang datang belakangan sementara ia sudah terikat perkawinan, seolah-olah pernah mengalaminya.
Kesimpulan saya, selain memiliki daya imajinasi yang tinggi, Nahum memang punya empati yang amat dalam atas diri dan kemelut orang lain. Dalam lagu Beha Pandundung Bulung, misalnya, ia begitu imajinatif dan estetis mengungkapkan perasaan rindu pada seseorang yang dikasihi, entah siapa. Simak saja liriknya: Beha pandundung bulung da inang, da songonon dumaol-daol/Beha pasombu lungun da inang, da songon on padao-dao/Hansit jala ngotngot do namarsirang, arian nang bodari sai tangis inang/Beha roham di au haholongan, pasombuonmu au ito lungun-lungunan. Ia lukiskan perasaan rindu itu begitu sublim, indah, namun tetap menyisipkan nada-nada kesedihan.
Mengentak pula lagunya (yang dugaan saya dibuat untuk dirinya sendiri) berjudul Nahinali Bangkudu. Lirik lagu itu tak saja menggambarkan ironi, pun tragedi bagi sang lelaki yang akan mati dengan status lajang. Dengan pengunaan metafora yang mencekam, Nahum meratapi pria itu (dirinya sendiri?) begitu tajam dan menusuk kalbu: Atik parsombaonan dapot dope da pinele, behama ho doli songon buruk-burukni rere. Ironis sekaligus tragis.
Dan Nahum tak saja pandai menulis lagu yang iramanya berorientasi ke musik Barat, pun piawai mengayun sanubari lewat komposisi-komposisi berciri etnik dengan unsur andung (ratap) yang amat pekat. Perhatikanlah lagu Huandung ma Damang, Bulu Sihabuluan, Assideng-assidoli, Manuk ni Silangge, dan yang lain, begitu pekat unsur uning-uningan-nya.
Akhirnya kesan kita memang, dari 120 lagu ciptaannya yang mampu dikumpulkan para pewarisnya, tak ubahnya kumpulan 120 kisah tentang manusia Batak, alam Tano Batak, berikut romantika kehidupan. Ia tak hanya piawai menggambarkan suasana hati namun mampu merekam aspek sosio-antropologis masyarakat (Batak) yang pernah disinggahinya dengan menawan. Lagu Ketabo-ketabo, misalnya, menceritakan suasana riang kaum muda Angkola-Sipirok saat musim salak di Sidempuan, sementara Lissoi-lissoi yang kesohor itu merekam suasana di lapo tuak dan kita seakan hadir di sana.
Demikian halnya tembang Rura Silindung dan Dijou Au Mulak tu Rura Silingdung, begitu kental melukiskan lanskap daerah orang Tarutung itu, hingga saya sendiri, misalnya, selalu ingin kembali bersua dengan kota kecil yang dibelah Sungai Aeksigeaon dan hamparan petak-petak sawah dengan padi yang menguning itu bila mendengar kedua lagu tersebut. Nahum pun melampiaskan kekagumannya pada Danau Toba melalui O Tao Toba. Mendengar lagu ini, kita seperti berdiri di ketinggian Huta Ginjang-Humbang, atau Tongging, atau Menara Panatapan Tele, menyaksikan pesona danau biru nan luas itu. Kadang memang ia hiperbolik, contohnya dalam lagu Pulo Samosir, disebutnya pulau buatan itu memiliki tanah yang subur dan makmur sementara kenyataannya tak demikian.
***
SAYA termasuk beruntung karena semasih bocah, 1969, beberapa bulan sebelum kematiannya, menyaksikannya bernyanyi di Pangururan bersama VG Solu Bolon. Saya belum tahu betul siapa Nahum Situmorang dan menurut saya saat itu show mereka begitu monoton dan kurang menggigit karena tanpa disertai instrumen band. Ia tampil parlente dengan kemeja dan celana warna putih, walau terlihat sudah tua. Rupanya ia sudah digerogoti penyakit (kalau tak salah lever) namun tetap memaksakan diri bernyanyi ke beberapa kota kecil di tepi Danau Toba hingga kemudian meninggal dunia di usia 62 tahun.
Lewat karya-karyanya, seniman-seniman Batak telah ia antarkan melanglang ke manca negara, macam Gordon Tobing, Trio The Kings, Amores, Trio Lasidos, dan yang lain. Lewat lagu-lagu gubahannya pula banyak orang telah dan masih terus diberinya nafkah dan keuntungan. Sejak remaja telah ia kontribusikan bakat dan mendedikasikan dirinya untuk negara dan Bangso Batak. Lebih dari patut sebenarnya bila mereka yang pernah berkuasa di seantero wilayah Tano Batak memberi penghargaan yang layak bagi dirinya, katakanlah menyediakan sebuah kubur di Samosir yang bisa dijadikan monumen untuk mengenang dirinya.
Kini sisa jasad Nahum masih tertimbun di komplek pekuburan Jalan Gajah Mada, Medan. Keinginannya dikembalikan ke tanah leluhurnya melalui lagu Pulo Samosir, masih tetap sebatas impian. Ia tinggalkan bumi ini pada 20 Oktober 1969 setelah sakit-sakitan tiga tahunan dan bolak-balik dirawat di RS Pirngadi. Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden SBY diganjar untuknya pada 10 Agustus 2006, melengkapi Piagam Anugerah Seni yang diberikan Menteri P&K, Mashuri, 17 Agustus 1969.
Para pewaris karya ciptanya yang sudah ditetapkan hakim PN Medan, 1969, sudah lama berkeinginan memindahkan jasadnya dan membuat museum kecil di Desa Urat, Samosir, sebagaimana keinginan Nahum. Diharapkan, para penggemarnya bisa berziarah seraya mendengar rekaman suaranya dan menyaksikan goresan lagu-lagu gubahannya. Rencana tersebut tak lanjut disebabkan faktor biaya dan (sungguh disesalkan) di antara para pewaris yang sah itu, yakni keturunan abang dan adik Nahum, terjadi perpecahan lantaran persoalan pengumpulan royalti.
***
PERTENGAHAN 2007, sekelompok pewaris yang diketuai Tagor Situmorang (salah seorang keponakan kandung Nahum, Ketua Yayasan Pewaris Nahum Situmorang) meminta Monang Sianipar, pengusaha kargo dan ayah musisi Viky Sianipar, sebagai ketua peringatan 100 Tahun Nahum Situmorang berupa pagelaran konser musik besar-besaran di Jakarta dan Medan, Februari 2008. Kemudian mereka minta pula saya, entah pertimbangan apa, jadi ketua pemindahan kerangka dan pembangunan Museum Nahum Situmorang di Desa Urat. Saya dan Monang tentu antusias menerima tawaran tersebut, namun setelah belakangan tahu di antara para pewaris ternyata ada perselisihan, saya sarankan agar mereka terlebih dahulu melakukan rekonsiliasi karena proyek semacam itu bukan sesuatu yang bisa disembarangkan dalam hukum adat Batak.
Di tengah proses penyiapan proposal, tiba-tiba saya dengar ada seorang dongan sabutuha (teman satu marga) yang belum lama berprofesi pengacara, mendirikan satu yayasan pengelola karya cipta Nahum Situmorang. Dirangkulnya kubu yang berselisih dengan kelompok Tagor (juga keponakan kandung Nahum) dan sejak itulah beruntun “kejadian hukum” yang hingga kini belum terselesaikan dan akhirnya menyeret-nyeret pedangdut Inul Daratista karena tuduhan tak membayar royalti yang diputar di karaoke-karaoke Inul Vista.
Saya pun lantas menghentikan langkah, semata-mata karena merasa tak elok bila dianggap turut meributkan royalti atas karya cipta seseorang yang sudah wafat dan sangat berjasa bagi Bangso Batak, selain seseorang yang amat saya kagumi. Konser batal, pemindahan kerangka dan pembangunan museum Nahum terbengkalai.
Tentu saja saya kecewa, seraya menyesali minimnya apresiasi dari para penguasa di wilayah eks Keresidenan Tapanuli terhadap Nahum, yang tak juga menunjukkan gelagat akan melakukan sesuatu untuk menghormati jasa-jasa beliau sebagai salah satu tokoh pencerahan Bangso Batak. Alangkah miskinnya ternyata penghormatan para bupati, khususnya Pemkab Tapanuli Utara, Tobasa, Samosir, terhadap seniman cum pendidik yang legendaris itu. Tetapi yang lebih saya sesali adalah kisruh akibat munculnya klaim-klaim sebagai pewaris yang absah atas karya cipta Nahum hingga keinginan mewujudkan impiannya (yang sebetulnya sederhana) agar dikubur di bumi Samosir, semakin tak pasti.
Saya tak tahu bagaimana perasaan mereka yang berseteru sengit hingga jadi santapan infoteinmen menyangkut klaim hak cipta karya Nahum itu manakala mendengar penggalan lirik lagu Pulo Samosir ini: Molo marujungma muse ngolukku sai ingotma/Anggo bangkeku disi tanomonmu/Disi udeanku, sarihonma. (Bila hidupku sudah berakhir, ingatlah/Makamkanlah jasadku di sana/Sediakanlah kuburanku di sana). Demikianpun, saya tetap berharap gagasan memindahkan jasad Sang Guru ke bumi Samosir berikut pembangunan museum kecil untuk menghormatinya akan terwujud suatu saat, entah siapapun pelaksananya. ***
* Pertamakali dimuat di blog.tanobatak.wordpress, September 2009. Demi etika, pemuatan ulang tulisan ini di media lain (termasuk milis dan blog), sepatutnya dengan meminta izin dari pengelola blog tanobatak, Monang Naipospos, atau penulisnya
DIarsipkan di bawah: Legenda, Opini, Situriak, Sosok dan Perilaku | Ditandai: Nahum SItumorang











Nahun Situmorang adalah seniman sejati. Dia menjadi guru bagi banyak orang dan menjadi pelopor bagi Folk musik Batak yang sangat berjasa membuat pondasi musik rakyat Batak.
Sayang “Cinta sejati” yang berkobar dalam dirinya membuatnya larut dalam kesendirian dan digrogoti penyakit. Sudah selayaknya ada museum Nahum Situmorang.
Mauliate godang di apparaku SS dan lae MN yang menulis dan memposting article ini….walau aku marga Situmorang, baru kali ini mengetahui secara panjang lebar tentang perjalanan NS yang sangat luar biasa itu ***jadi malu on***
Mudah2an prakarsa untuk mewujudkan keinginannya didalam lagu “Pulo Samosir” itu suatu saat nanti terealisir….. jangan patah arang seperti CINTAnya kepada boru Tobing itu.
Dia adalah salah satu anak bangsa yang benar-benar berjasa dan mendedikasikan seluruh cinta, kasih dan hidupnya untuk musik, dan sama sekali tidak terbantahkan.Dia besar dan sangat mengagumkan, lewat karya2nya, Dia seorang genius.Sayang banyak orang yang mengambil kesempatan dari karya yang Beliau relakan untuk dinikmati khayalak publik tanpa batas tanpa ongkos dll.Sadarlah kawan pengacara XXX Situmorang yang menempatkan diri sebagai penerima royalti (karena yayasan yang tak jelas asal-usul dan hulu-hilirnya)terhadap karya karya Bung Nahum Situmorang ,,,,, aplikasikan dululah lagu permintaan lagenda kita ini “Pulo Samosir”.
Salam Hormat U/ Bung Nahum Situmorang
Nahum Situmorang adalah legenda lagu Batak
Semasa remaja saya adalah pengagum Nahum Situmorang, dan saya banyak mengetahui tentang lagu2nya termasuk lirik liriknya juga.
Saya pernah ke Medan dan bertemu dengan guru Sopar situmorang (abang kandung Nahum Situmorang), karena ia adalah Ayah dari kawan saya Manumpak Bogart Situmorang, posma Situmorang dan Bistok Sistumorang,
Sopar Stumorang dahulu juga merupakan Guru dari ayah saya.dan ayah saya sering bercerita tentang Nahum Ssitumorang dan Sopar Situmorang.
Memang harus diakui bahwa Nahum Situmorang mempunyai andil yang sangat tinggi dalam mempopulerkan lagu batak Moderen.
Perlu diketahui bangso batak dikenal dalam dua hal yaitu bernyanyi dan main catur.
*Mauliate godang atas posting ini bapak, menarik sekali kisahanya. Memang sudah saya dengarkan lagu-lagu artis ini dan kebanyakan antaranya sungguh-sungguh mengharuhkan. Sekarang ini kita bisa mengerti secara mendalam bagaimana hidupan Nahum berpengaruh karya-karyanya.
*Maafkan kalau Ian bukan pengomentar yang pertama, seperti kita sudah berbicara(!).
mauliate ma tulang boi ni jaha saotik tentang legenda nahum situmorang.
sai anggiatma tu joloan on boi sukses akka nasinakkapan nirohani Tulang boi terwujud
Jeffar, memangkita harus menghargai karya besar beliau, dan satulagi Tilhang Gultom
Bactiar, ima lae karya tulis dari laeku parangan-angan SS yang kubanggakan itu. Semoga anganangannya untuk memuwudkan museum Nahum di Samosir terwujud.
John, semoga museum Nahum dapat terbujud dengan dukungankita semua. Dia bukan lagi milik Situmorang, tapi milik Batak.
B. Parningotan. kalau konser lagu Nahum itu gagal di Indonesia, bagaimana kalau kita serahkan aja ke masyarakat benua Kanguru itu.
Ian Anderson. Salam untuk keluarga di Inggris. Bagaimana lanjutan studi gondang batak anda. Kapan lagi ke Indonesia untuk belajar menjadi PARSARUNE? Bagaimana kesan anda selama 3 bulan di Samosir kampung Nahum Situmortang itu?
Goklas. Urupi ,a poang tulangmi ate… rap hita sadalan hehehe…
Hotman, semiga legenda itu terbujud dalam sejarah dan dapat diteriliti dengan ketersediaan museum Nahum
Saya baru tahu kalau nyanyian yang sering kunyanyikan..adalah karangan Nahum Situmorang (Saya baca dari Ensiklopedia Tokoh Batak). Selama ini nggak pernah tahu ..siapa Nahum Situmorang…Terimakasih atas informasinya..
Tidak bosan saya membaca cerita ini..SEMOGA saja suatu saat apa yang menjadi harapan dan keinginannya dapat terkabulkan…sesuai dengan lagu P.Samosir….
ima da amang anggiatma suat sangkap niroha ni almarhum Nahum situmorang legendaris batak seperti lagu ciptaannya beliau diantarkan dan berdiam jasadnya di p samosir.semoga kepandaiannya mencipta lagu sekaligus mengalunkan suara yang mengagumkan diwarisi oleh anak-anak kita bangso batak yang gigih.
Nahum situmorang adalah seniman batak moderen pada jaman itu mungkin, dan jika dibandingkan sampai hari ini belum ada bisa menandingi beliau, jika di bandingkan dengan seniman batak sekarang justru saya pikir ini adalah kemunduran, karena pada masa sekarang justru seniman batak merongrong kazanah budaya batak, merasa sudah maju atau sudah tidak tau aturan dan tuturan bahasa dan budaya batak seniman-seniman batak sekarang menyusupkan bahasa dan gaya berkesenian yang kurang baik, mirip dengan amburadulnya gaya hidup jaman sekarang, tidak perlu jauh-jauh mencari contohnya, lihat saja cara bernyanyi mereka di cafe – cafe batak di pinggiran kota Jakarta, atau lirik-lirik yang ditulis marambalangan pada text lagu, layaknya orang baru belajar berbahasa batak dan ironisnya justru jika kita bilang janggal berbahasa batak banyak kawan2 bangga dengan hal tersebut. Entah kapan lahir putera batak yang sehebat beliau
Ternyata Nahum Situmorang nabonggal sudah berbuat saat orang-orang Batak masih berpikir ditempat. Saya mengira kisahnya hanya seputar Sumut ternyata sebelum saya lahir dia sudah melanglangbuana di pusat Indonesia ini.
Saran buat bung Suhunan Situmorang agar mengupayakan, jangan karena konflik keluarga, permintaan tondi-nya harus batal pulang ke samosir? masya kita yang enak2 dengar ciptaannya, dia tetap menderita dalam hidup dan matinya! Tragis…
Ai dang holan malasya hape mangolat-olati akke
toe ma marsada ma hita, anggo ninna rohakku dang holan marga Situmorang nampuna NAHUM SITUMORANG tapi beliau telah menorehkan sejarah, beliau adalah milik negara ini, dan dia akan di kenang orang lewat karyanya.
Ai ikkon marsada do hita ( khusus na hamu dongan nami sian marga situmorang ) ai sotung didok MALASYA annon,..Sikadi hami do si NAHUM I, ai halak MALASYA do i..ninna.. repot hita!!
@Hendry Lbn Gaol
Tutu do na nidok mi, ai bahat do halak hita di Malaysia jala nidok nasida muse ….sian Malaysia do asal mula ni halak Batak…..nga sega bah!!!
Sampai saat ini, baru tulisan ini yang paling lengkap rinciannya tentang Alm.Nahum Situmorang yang pernah saya baca.. Mauliate Lae SS dan Lae M.Naipospos.
Semoga cita cita Nahum dan Lae SS segera tercapai…
@ Sudena napinarsangapan (semua yg saya hormati)
Mauliate, terimakasih, sdh mau membaca artikel yang lumayan panjang utk ukuran media online ini. Bisa saya bayangkan, pasti melelahkan membacanya. Tapi, karena saya memang sudah lama menyiapkan tulisan ini (bahkan semasa Jan Sinambela, teman NS, pencipta lagu “Dengke Jahir” yg terkenal itu, masih hidup), maka sayang sekali rasanya bila naskah saya potong.
Saya bicara apa adanya saja dan bukan bermaksud mendiskreditkan punguan marga (keturunan Op. Tuan Situmorang, khususnya mereka yg bergiat di kepengurusan Jabodetabek), masalah ini sudah kelewat sering saya sampaikan, juga saat pembentukan SIMA Center (Situmorang Sipitu Ama) yg saya sendiri termasuk pengurusnya (Membidangi informasi & komunikasi).
Kesimpulannya, kami (saya katakan kami saja), sepertinya takut sekali menghadapi “dongan tubu” yang belakangan ini mengkalim sbg pemegang royalti atas karya-karya NS itu! Saya heran, bingung, dan hanya bisa “ngongong…” Tak jauh beda ketika saya dng bernafsunya trs melaporkan kehancuran hutan-hutan di wilayah yg sejak masa Sisingamangaraja XII menguasai Tanah Batak sdh diakui menjadi hak ulayat Situmorang (Suhutnihuta) di wilayah Humbang-Tele-Samosir hingga berbatasan dng wilayah Dairi sekarang akibat pembabatan yg dilakukan PT TPL, pembalak liar, dan petinggi-petinggi di Tano Batak (Humbang, Samosir) yg mendapat banyak uang dari hutan-hutan khas Tano Batak yg terus dirambah itu.
Motivasi utama saya menuliskan kisah NS ini pun, terusterang, agar “loloan natorop” (publik Batak yg akrab dng internet), bisa mengetahui siapakah sebenarnya NS, jasa-jasa beliau pd Bangso Batak, dan agar memiliki sedikit pengetahuan/informasi ttg kemelut yg timbul dari kasus/klaim atas hak cipta dan royalty atas karya-karyanya.
Semua itu saya lakukan karena sangat sadar, NS, bukan hanya milik marga Situmorang, tapi juga Bangso Batak, dan Indonesia.
Dengan meluasnya sekarang artikel yg terbilang masih mentah ini, saya sangat, sangat berharap, Bangso Batak yg masih mempunyai hati nurani dan holong, sama-sama ikut peduli atau setidaknya “dohot marsak” (ikut prihatin) atas “penderitaan” almarhum.
Saya tidak pesimis—pun tdk berani terlalu optimis—impian NS itu akan terwujud di suatu saat. Tapi, setidaknya dng simpati semua orang yg mengetahui masalah ini, termasuk pembaca blog.tanobatak, pihak-pihak yang cuma mau mengambil keuntungan materi dari hasil jerih-payah NS, akan terbuka hatinya–kalau tak merasa malu dan berdosa pada NS dan semua Bangso Batak!
Yang saya harapkan dari imbas tulisan ini adalah munculnya gerakan moral “laho pasingothon” (mengingatkan) mereka yg tidak menghormati jasa-jasa dan karya almarhum.
Akhirnya, sekali lagi, saya sangat berharap meluasnya dukungan atau gerakan moral akan mampu meluruskan benang kusut atas hak cipta semua lagu milik NS dan perwujudan impiannya yg sebetulnya tdk mahal itu. Dan, seandainya saja Pemkab Taput atau Samosir mau, tak sulit merealisasikan impian NS itu. Bukankah beliau dulu sdh berjasa turut mencerdaskan orang-orang Silindung dan dua lagunya sangat menonjolkan Rura Silindung? Bukankah Pemkab Samosir mestinya bangga bila mereka mewujudkan impian NS itu? Siapa yg tahu Samosir bila beliau dulu tak menulis lagu Pulo Samosir?
Semogalah hati dan pikiran para petinggi dan politisi (DPRD) di sana terbuka, lalu mengambilalih “proyek” yg terbengkalai ini.
Horas ma di hita sude
@ Lae Monang Naipospos
Mauliatema lae naburju ala olo hamu maniarhon nahuguraton, sudenai alani holong dht parhatianmuna namansai balga do tu Bangso Batak i. Anggiatma angka nauli nadiulahon muna sahat tu sadari on, manghorhon nadenggan tu saluhutna Bangso Batak dht negaratta on.
Sahali nai lae, mauliate.
Horasma di hita saluhutna.
Mauliate Tulang S.S atas tulisan Alm.Nahum Situmorang, gabe niboto riwayat hidup na, ra molo soandon lagu Pulo Samosir na menceritakan hi Nauli ni Samoris dang diboto halak ra didia di Pulo i, mauliate ma di alm.Nahum Situmorang, suang songoni lagu Rura Silindung na patuduhon hinauli ni Rura Silindung di Tarututung, sebagai generasi muda batak kita mendukungdan berdoa agar museum dan tulang belulang Alm Nahum Situmorang mulak tu Samosir,semoga luliasan diatas di baca pejabat( BUPATI) Samosir dan Tapanuli utara asa tar gorat rohana laho marningot Alm Nahum Situmorang.Horas Jala Gabe Mauliate.
sangat disayangkan ketidakpedulian pemda, terlebih pemda Samosir….sebenarnya ini merupakan suatu obyek wisata bahwa orang batak itu ahli dalam bernyanyi dan syair yang luar biasa..
Songon-songonima halak hita asa dang boi maju, asal lao marulaon silasni roha manang sidangolon ikkon jolo MARBADA,
E… hamu akka Bapa tua, amanguda dohot akka Apparakku napinarsangapan, dang boi be hita mardame? Asa saut jolo pangidoanni Amatta guru Nahum situmorang? nunga apala di pangido i dibagas endena…
Horas Tulang Saya minta izin,,,
Postingannya saya copy untuk di posting di blog ku…
Terima kasih..
http://agusthutabarat.wordpress.com/2009/10/08/lelaki-yang-ingin-di-kubur-di-samosir-itu-bernama-nahum-situmorang/
3 (tiga) tahun lebih mulai dari th 1970, setiap pergi dan pulang sekolah aku selalu melewati kuburan alm Nahum Situmorang di Jln Gajah Mada Medan,
Kalau bukan krn ada kuburan Alm NS, mungkin lokasi itu sdh menjadi Mall, sebab saat ini sebahagian kuburan dilokasi tsb sdh dibongkar, al didirikan kantor Perindustrian Medan.
Dan maaf Amangboru Naipospos, waktu di facebook, pertanyaan amangboru, apa keinginan NS yg belum terpenuhi, ku jawab “Mangoli”, krn setiap kami melewati kuburan Alm NS, teman2 suka membuat teka-teki ” apa keinginan alm NS yg belum tercapai…jawabannya “Mangoli”, apa alasannya
gara2 lagu “Malala Rohangki”
Pro Lae SS
Manang na jolo jongjong ma jo PROTAP, asa terlaksana?
Amangboru,
Marsattabi ahu mangido ijin dina naing hu bahen artikel muna on tu KASKUS.US forum Medan, asa dijaha angka dongan disi ise do tahe Nahum Situmorang.
Najolo hubege dope lagu ni Nahum Situmorang sian tape recorder ni damang di jabu, klasik, ai ndang adong lagu na batak na asing na boi hubandinghon to pamilliton hata dohot “persajakan” di lagu ni ibana.
Mauliate ma hupasahat tu hamu.
Horas ma
Tu lae ni iba Suhunan Situmorang dohot ampara ni iba Monang Naipospos, molo diijinhon asa hu posting hami artikel on di blog non komersil tanpa merubah satu huruf pun, alai adong saotik tambahan songon kata pengantar + tautan sian TanoBatak. HORAS
- Tapasombuma halaki marbadai disi (ai halaki do sogot,
halaki do haduan) alai diluluima Pihak Ketiga na olo
mansponsori keinginanni Alm. Nahum Situmorang.
- Cara mangumpulkan dana na cepat dibuat khusus lagu-
lagu NS sebanyak 120 buah tersebut dalam VCD / DVD
( 12 Album) dijual oleh panitia, pasti laris deh dan saya
yang pembeli perdama.
- Perhitungannya 12 album x Rp. 50.000,- = Rp. 60.000,- X
25.000 set = Rp. 1.500.000.000,- tinggal mencari
tambahannyalah dari para donatur.
terima kasih banyak atas tulisannya. selama ini diluar pikiran.
sungguh ironis memang, seorang seniman sekaliber NS tidak mendapat tempat yang selayaknya, padahal begitu banyak penyanyi2, pemusik2 dan pengusaha bisnis hiburan dan rekaman (yang mungkin bahkan sebagian besar tidak tau dimana kuburannnya NS) yang mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit dari hasil karya2 NS. Kenapa musisi tanah karo, Djaga Depari bisa sampai punya tugu….Selayaknya juga demikian NS. Ayo….Saya juga ketika masih tinggal di medan merasa “tidak sampai hati” melihat pekuburan NS menjadi “sarang waria” di malam hari……ironis…
Bagus itu usul Lae Pahal Panjaitan..
tapi aku punya usul tambahan..
Beha do molo ta pasada ma jo angka sude artis-artis batak tarlumobi tu angka artis-artis yg menjadi besar karena karya-karya Nahum Situmoranguntuk menjadi OC dari niat baik ini
Sebagai masyarakat batak, maupun sebagai anggota dari punguan Ni Marga-marga mari kita beri dukungan sebagai legitimasi kepada artis-artis batak tersebut.
perlu saya jelaskan kenapa perlu kita memberikan legitimasi,
karena kita adalah orang -orang yang dipersatukan oleh Nahum Situmorang melalui Lagu O Tano Batak, yang sering dan kita lantunkan pada saat-saat pesta marga lagu ini telah menjadi pengikat bahkan menjadi sebuah lagu kebangsaan yang secara sadar kita pilih karena sangat universal bagi orang batak toba, humbang, silindung dll.
lalu kenapa saya memilih Para Artis-artis batak sbg OC, karena mereka harus punya tanggung jawab Moral atas ketenaran mereka.
selebihnya secara teknis saya setuju dengan lae Pahala Panjaitan
Sebagai tambahan dan peringatan karena ini tanggung jawab Moral diharapkan artis-artis tidak mengharapkan imbalan apalagi berupa materi dari proyek niat baik ini
Ndang pola lomo rohangku molo gabe ulaon pemerintah manang DPR sangkap ta on Molo na dirohangku ingkon jadi ulaon ni sude halak batak do on. ta mulai ma sian papunguhon sude ketua-ketua ni Punguan Ni Marga-marga batak i sebagai SC
Anggo gabe ulaon ni pamarentah do proyek on, dang mungkin saut on sahat tu taon 2020 on. Ai gabe proyek bisnis do annon on.
Menurut saya pemindahan Makam NS, bukanlah suatu yg berkait dengan hukum adat Batak (tolong dikoreksi jika saya salah) mengingat NS meninggal dalam keadaan Lajang… setahu saya, Adat batak tidak menempatkan orang yg belum menikah sebagai “subyek hukum adat” yg punya posisi penting.
Dari titik pemikiran inilah makanya saya mengusulkan ini harus menjadi “tanggung jawab sosial” semua orang batak… karena kita orang bataklah yg paling menikmati karya-karya sosial (seni) beliau
dulu, waktu kami masih kecil di Sipirok, sering sekali2 melagukan karya2-nya Nahum Situmorang,,tapi yang saya gak tau juga..kampungnya di Sipirok,,dimana ya