Jones Gultom
Identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan ini dalam sebuah diskusi bersama Antroplog Karo, Juara Ginting di Rumah Buku, Padang Bulan, beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan itu, Juara mengajak para peserta diskusi yang notabene, Mahasiswa Karo USU, mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak yang lazim disematkan pada sukunya. "Kenapa mesti ada embel-embel Batak, jika tak ada kaitan antara Batak dengan Karo?" Tanya Juara. Sudah sejak lama prokontra itu muncul ke permukaan, terutama di masyarakat Karo. Menurut penulis, mulanya polemik ini muncul sebagai imbas dari persepsi keliru, dimana ketika menyebut Batak, masyarakat seolah-olah terbayang deskripsi akan sub etnis Batak tertentu (Toba). Mungkin tak menjadi soal, jika Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun serta Batak lain duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Apa yang digugat Juara lebih dari itu. Secara ekstrem, dosen USU ini sama sekali menentang penggunaan kata Batak dari Karo. "Bilapun posisi masing-masing kelompok masyarakat Sumatera Utara ini normal, tetap saya tak setuju jika Karo dianggap Batak. Karo punya standar adat-istiadat yang mandiri. Kalaupun ada kemiripan jangan langsung diklaim, harus dilihat dari banyak sisi."
Penggunaan kata "Batak" terutama di masa kolonial Belanda, digunakan untuk mendiskreditkan sekelompok masyarakat yang dalam buku "Riwayat Poelaoe Soematra" karangan Dja Endar Moeda (1903); "Adapoen bangsa jang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata "Batak" itoe pengertiannja; orang pandai berkuda. Masih ada kata "Batak" jang terpakai, jaitoe "mamatak", jang ertinja menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki kepada bangsa itoe�"
Dari versi ini terlihat, penggunaan kata "Batak" yang kemudian dibubuhi nuansa negatif itu, berlaku bagi setiap kelompok masyarakat yang secara administratif bermukim di persekitaran Tapanuli (Silindung-Humbahas-Toba-Samosir) yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Kemudian jika, batas geografis itu menjadi faktor, pertanyaannya, mengapa pula "Perang Sunggal" disebut Belanda sebagai "Batak Oorlog" (Perang Batak)?
Beberapa Pengertian Budaya
Beberapa perkataan "Batak" nyaris ditemui di semua suku di Sumut. Di Pakpak Dairi berbunyi: "Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn". Maksudnya adalah mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tepak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Mmas Batakn diartikan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia.
Di Karo dikenal upacara mbatak-mbataken; yakni mengembalikan roh penjaga (jinujung) kepada seseorang. Seorang Karo yang hendak mendirikan rumah, juga melakukan "Ibatakkenmin adah nda", yakni ritual meratakan tanah, agar rumah yang akan dibangun diberkahi.
Pada Simalungun, terdapat perkataan "Batak" antara lain "Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon". Artinya, tinggikanlah benteng agar bagus sawah kita ini.
Di luar itu, di masyarakat Pilipina konon ada satu pulau yang bernama "Batac" (huruf �c� di belakang).
Konon pengertian kata "Batac" di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Sejumlah kata yang sama ucap dan pengertiannya, juga ditemukan di pulau itu, seperti; "mangan" (makan), "inong" (inang), "ulu" (kepala), "sangsang" (daging babi cincang dimasak pakai darahnya).
"Akuisisi" Gereja dan PKI
Menurut Lembaga Penelitian dan Studi GBKP seperti dikutip penulis dari www. Permatabethesda, perkabaran Injil di Karo, dibagi atas dua kurun waktu. Pertama tahun 1890-1906 yang disebut waktu Permulaan. Kurun waktu kedua disebut masa Penanaman dan Penggarapan (1906-1940).
Bisa dikatakan, penginjilan di Karo, tak disengaja. Awalnya merupakan strategi Belanda untuk memuluskan aksi dagangnya di Karo. Waktu itu, keberadaan Belanda ditentang habis-habisan karena mengambil tanah rakyat untuk ditanami tembakau.
Untuk meredamnya, Belanda melakukan pendekatan agama, yakni pengabaran injil. Upaya itu berhasil. Lantas, Kepala Administrasi Deli Mij, Mr. J.T. Cremer, mengadakan perjanjian dengan Nederlandsche Zending Genoothchac (NZG), sebuah zending yang ada di Belanda untuk mengirim tenaga-tenaga tambahan Pengabar Injil ke Deli.
Melihat dinamika itu, sejak 1939 upaya untuk memandirikan Karo mulai dirintis. Pada 1940, dikirimlah dua guru injil pribumi, masing Palem Sitepu dan Thomas Sibero ke sekolah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Sipaholon. Keduanya menyelesaikan studi pada pertengahan sidang Sinode Pertama, yang menetapkan nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Sibolangit tanggal 23 Juli 1941.
Sebelumnya, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang dirintis Nommensen (Jerman) sendiri, dianggap simbol keberhasilan kerja misionaris di Tanah Batak, sekaligus merupakan Kristen Lutheran yang pertama ada di Tanah Batak. Euforia kejayaan Jerman mengkristenkan Batak yang sarat herois ini, kemudian diberlakukan bagi kelompok-kelompok masyarakat Kristen lain, termasuk Karo. Bisa disebut, masyarakat Kristen Karo yang �bentukan� Belanda, itu "diakuisisi" Jerman menjadi Batak.
Setelah fase itu, perkembangan GBKP, menurut Juara, tak serta merta pesat. Banyak masyarakat Karo yang belum memilih Kristen sebagai afiliasi keyakinannya. Di antaranya, masih menganut ajaran-ajaran yang bercikal pada tradisi leluhur mereka. Kemudian meletuslah pemberontakan PKI tahun 1965. Dalam rangka pembumihangusan PKI, pemerintah menyusup ke daerah-daerah, terutama yang masyarakatnya belum menganut identitas agama resmi versi pemerintah.
Kesan yang dihembuskan pemerintah waktu itu, menyiratkan PKI identik dengan masyarakat yang belum mengenal agama dan mesti dibantai. Stereotif itu memaksa kelompok masyarakat tradisi Karo harus menganut salah satu agama. Karena kedekatan emosional, mereka kemudian memilih GBKP sebagai identitasnya. Sejak itu, jemaat GBKP membludak, sehingga berkembang mindset, setiap Karo yang Kristen adalah GBKP. GBKP sudah pasti Batak.
Bagaimana pun penggalan-penggalan kisah ini merupakan sekelumit sejarah yang mengiringi perjalanan Karo sebagai Batak. Menurut saya, Batak hanyalah sebuah induk, predikat umum yang menjelaskan Karo, Toba atau Simalungun yang mapan. Mestinya semangat identitas masing-masing tak perlu ditanggapi secara "buta", sembari juga perlahan-lahan menghapus hegemoni dan klaim-klaim yang cenderung membuat kita primordial.
(Pernah Terbit di Harian Analisa, 18 Juli 2010)
Karya tulis Jones Gultom di blog ini :
Euforia Natal Pada Sebuah Kampung
MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK
TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA
Baca juga : Ahmad Arief Tarigan ; BATAK?















183 tanggapan kepada “Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?”
Juni Hutabarat
Juli 22nd, 2010 pada 09:47
Songon i do molo pamalo HU prinsipna, namangalului sensasi sian naposo doi asa sega tu haduan gabe ndang adong parsadaan, gabe perbedaan ma naro, boasa ndang dibahas ibana negara on? boasa ndang dibahen ibana “BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?”
sai na adong do tahe si suar sair.
Hodbin Marbun
Juli 22nd, 2010 pada 10:40
Yang saya tahu hanya Nias yang tidak Batak, Toba Simalungun ,Karo, Dairi dan Mandailing suku Batak………………
Pontas Eddy Simanjuntak
Juli 22nd, 2010 pada 16:15
Kalau memang suku Karo ingin tetap menggunakan kata Batak didepannya, adakah yang tidak pas?.
dan kalaupun Batak tanpa suku Karo, apa yang terjadi?
Seperti kata Shakespeare “Apalah arti sebuah nama”
menurut hemat saya, yang penting
marilah kita berlomba-lomba untuk membangun Bonapasogit ta be, agar masyarakat yang tinggal disekitar Danau Toba khususnya dan Tapanuli pada umumnya dapat menunjukkan kepada Dunia bahwa Hutanta i bukanlah Daerah yg termarjinalkan oleh kemajuan Zaman, tetapi mari kita bangun menjadi daerah yang sejahtera dalam bidang ekonomi.
Demikian juga agar budaya kita agar tetap dilestarikan, agar tidak lekang dilindas Zaman sampai kapanpun.
Bravo Batak
aris
Juli 23rd, 2010 pada 11:08
blognya bagus,
salam kenal….
need IT???
http://www.linovtech.com
B.Parningotan
Juli 24th, 2010 pada 18:09
kebetulan saya mempelajari bahasa Batak dalam rangka menyusun kamus Indonesia Batak, saya sangat terkejut mengenai perbendaharaan kata dalam bahasa Batak yang sangat bervariasi, misal dalam satu arti saja. bisa sampai delapan kata yang berbeda, tetapi setelah saya pikir secara mendalam kesimpulannya bangsa Batak adalah bangsa yang sangat Heterogen, antar, kampung dan kampung lainnya hubungannya sangat minim ini bisa dilihat dari tembok2 dan pagar2 setiap kampung yang sangat kokoh, dan perkawinan umumnya sangat tertutup di zaman dahylu, ini juga bisa dilihat dari wajah2 yang berbeda dari keturunan kampung yang berbeda. Yang membuat masyarakat batak mulai asimilasi malah sesudah datangnya agama atau penjajahan. Jadi jelas dapat dilihat misalnya bahasa pakat sudah berbeda dengan bahasa toba, sidngkalang, karo, dairi, dsb, sedang yang masih dekat saja bahasanya sudah bervariasi. Kalau kita lihat kesamaannya. tidak banyak suku di Indonesia yang memiliki marga, dan tulisannya pun yaitu tulisan Karo, Toba, Simalungun, Dairi, Pakpak, Mandailing memiliki tulisan yang serupa. Kesimpulan saya mereka memang masih bersaudara.
Botima.
Maridup
Juli 26th, 2010 pada 00:00
Drs. Juara Ginting keahliannya adalah bidang Antropologi Kesehatan (bukan antropologi sejarah), dan dari salah satu komentar disitus lain disebutkan bahwa dia tidak lulus kuliah di Leiden, tetapi di USU dia memang memakai gelar M.A (Leiden), dan dosen di Fakultas Sospol, Departemen Antopologi Sosial. Kalau mau menyurati dia boleh ke juara@usu.ac.id.
Sayangnya di artikel ini tidak begitu mendalam dipaparkan argumentasi Drs. Juara Ginting ini. Yang saya tangkap dalam artikel ini bahwa ‘dia secara ekstrim menentang penggunaan kata Batak pada Karo’.
Kalau dia memang seorang antropolog mengapa hanya me-refer kepada sejarah semasa kolonialisme oleh Belanda? Apa dia tidak mampu me-refer kepada semasa Inggris menjelajahi Sumatra (History of Sumatra – William Marsden)? atau semasa Marco Polo, Nicolo di Conti, atau Pliny, Negara Kertagama, Pararaton, atau kaitan Kajian Antropologi Lembah Indus? Menurut saya dia ini ASBUN.
Stereotype Batak memang sejak masuknya bangsa Eropah sudah sangat negatif dengan istilah canibalisme (eat human flesh), tetapi kalau kita runuti sejarahnya kejadiannya bukanlah di Tanah Batak yang komunitasnya secara tegas mengakui Batak, toh komunitas yang mengakui Batak ini mampu menerima kesan negatif tersebut dan secara gentlemen bangga dengan pengakuan diri sebagai Batak. Sebenarnya mereka boleh saja mengatakan dirinya Silindung, Toba, Humbang, Samosir, atau yang lain, kemudian mereka akan bersih dari sebutan canibalisme, tetapi bukan itu yang ada dibenak mereka, melainkan bahwa kata ‘Batak’ adalah sebutan untuk sebuah bangsa (secara antropologi, geopolitik, linguistik, dll.), sementara sebutan Silindung, Toba, Samosir, Humbang, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, Pakpak, Dairi, Kluet, Singkil, termasuk Melayu hanyalah ‘sub-bangsa’ yang saat ini sedang menonjolkan eforia etnisitasnya. Ternyata di jaman ultra moderen sekarang ini masih banyak berkembang dalam kelompok-kelompok masyarakat ini yang pola pikirnya masih terjajah, devide et impera, belum merdeka.
B.Parningotan
Juli 26th, 2010 pada 16:36
ada banyak ciri yang menunjukkan bahwa Karo, Toba, Simalungun, Mandailing, Dairi singkil dan Pakpak masih serumpun yaitu rumpun batak tapi ciri yang paling menonjol adalah mereka mempunyai marga, dan mereka mempunyai tulisan yang masih mirip satu dengan yang lain,
Tidak banyak bangsa yang kmemiliki Marga, yang paling menonjol adah bangsa Yahudi
dan ciri ketiga yang paling menonjol ialah bila orang batak terutama yang masih terkebelakang , pergi merantau kekota, maka mereka akan malu mengaku sebagai bangsanya sendiri sampai timbul kata2: jika mereka telah merantau ke Bandung:mereka akan berkata
….sudah tiga bulan aku di Baddung ini, batakku sudah tak kentara lagi….; atau katakan lah tiga bulan saza aku di zakarta, batakku sudah tak kentara lagi. itu leluconnya.
Memang orang karo sering mengaku lebih dekat ke India, tetapi kalau kita lihat warna kulit mereka lebih mirip kita, kecuali kalau sudah di jemur berbulan2 di sinar matahari barangkali. Sayangnya orang India tidak pernah menganggap orang Karo adalah bagian dari mereka. dan yang saya paling heran apa kehebatan orang India?
kalau mau menjadi Yahudi ya bisa dimengerti.
Kalau pak Ginting berlatar belakang agama Islam atau Kristen itu lebih seru lagi, rupanya pak Ginting tidak percaya dengan Adam dan Hawa sebagai moyang manusia ya?
Jadi bila pak Ginting orang Karo yang mempunyai marga dan mempunyai tulisan serupa dengan huruf Batak tapi tidak mengaku BataK, itu biasa,,,biasa …saza. itu yang menunjukkan bahwa pak Ginting orang Batak ….yaitu Batak Karo.
Saya bisa saja mengatakan saya orang Toba, atau Mandailing, atau Pakpak, atau Simalungun dll. tapi janganlah terjadi kembali cerita Sangkuriang di tanah Sunda dimana anak yang telah merantau ke negri orang tidak mengenal ibunya lagi dan tidak mengakuinya sebagai ibu.
rosa
Agustus 6th, 2010 pada 21:50
Komentar komentar ini membawa banyak informasi neh ..informasi berbasis pengetahuan maupun empirik san tentu pendapat pribadi…
Hmm..apakah bila karo bukan batak, adakah implikasi bagi kita yang merasa Batak? Bagiku seh gak ada…mau mengaku bagian dari batak hayoooo….gak juga hayooo…yang merasakan positiif dan negatifnya kan mereka yg memilih bukan batak…hehe…
aku adalah batak dengan segala konsekuensinya disana…ada streotype negatif tapi juga banyak yang bermakna positif….dan aku tidak perlu mengistilahkan diri dgn “Batak Keren” yang dibeberapa perbincangan istilah ini muncul…yang kesannya menjadi ada dikotomi: ada batak keren dan ada yg tidak keren…hehe…
setiap entitas ada konsekuensi yang diemban…apakah karena bawaan sejarah, bawaan budaya, tinggal bagaimana menghadapinya…
apapun itu ya aku emang dilahirkan jadi orang Batak, dan berarti aku memilki akar nilai nilai kehidupan, budaya dan pernak perniknya, …dan mari melakoninya dengan positif dan santai…
Sinulingga
Agustus 10th, 2010 pada 11:05
Kata batak, bangsa batak, asal usulnya tidak diketahui sampai dengan sekarang, tetapi dalam buku batak (trorombo batak) mereka mengenal Raja Batak sebagai induk ataupun bapaknya bangsa batak, dan dari buku itu diceritakan marga-marga batak. Nah, dari cerita marga-marga itu lebih ditekankan hanya kepada marga orang batak (toba, simalungun, pakpak, angkola).
Saya memang bukan seorang antropolog, tapi sangat sederhana berfikir yakni kalau memang karo adalah bagian dari bangsa batak (nenek moyangnya si raja batak tadi) apakah silima merga dari karo ada kampungnya di tano batak (asal usul marganya seperti yang diceritakan di tarombo batak) ? kita tidak usaha terlebih dahulu membicarakan kesamaan aksara batak, dari segi bahasa, adat istiadat sudah beda, gimana bisa karo merupakan bagian dari batak?
Menurut hemat saya, apabila seseorang, golongan/kumpulan orang berasal dari kelompok tertentu pasti ada hubungan emosional.
Karo tidak melupakan sejarah apalagi menghilangkan bahkan lupa diri tapi meluruskan karena karo tidak ada hubungan nenek moyang dengan si Raja Batak apalagi termasuk sub batak dengan bahasa asli yang banyak di klaim orang batak sendiri yakni bahasa toba.
Suku Karo unik, mereka memilik sejarah tersendiri yang belum diungkapkan oleh sejarah nasional yakni cerita HARW (Kerajaan Haru sesuai buku Negarakertagama, Puteri Hijau, Raja Sunggal, Perjalanan Sibayak Lingga di Asahan, Guru Patimpus Pelawi yang ada diklaim oleh orang batak sendiri sebagai keturunan Sisingamangaraja)
Saya tidak membela Juara Ginting karena satu suku, memang tulisan beliau di atas belum menjelaskan lebih detail bahkan saya pun bingung dengan penjelasannya dengan menghubungkan versi belanda bahkan kristen.
Apa pun yang diklaim oleh saudara-saudara saya berkeyakinan KARO tidak memiliki hubungan emosional dengan Bangsa Batak apalagi SI RAJA BATAK, karena KARO adalah suku tersendiri dan sampai dengan saat ini belum ada penelitian untuk itu.
TERIMAKASIH
REDY PASKA SINULINGGA
081264120780
Togar Silaban
Agustus 10th, 2010 pada 12:13
Di setiap jaman selalu muncul orang-orang yang mencari identitas. Tapi lebih sering ujung-ijungnya sekedar cari popularitas.
Saya tidak begitu faham antropologi, apalagi sejarah Batak.
Kalau Karo tidak mau disebut Batak, juga tidak masalah saya kira. Tapi kalau sekedar menjadikan alasan politik untuk mendirikikan dan menamai GBKP, sebagai orang awam, logika itu tidak nyambung.
Mesti ada alasan mendasar, kenapa diberi nama GBKP.
Jadi, kalau si JG itu berkoar-koar bahwa Karo bukan Batak, ya biarin aja, sampe dia capek sendiri.
Gabe
Agustus 11th, 2010 pada 11:23
bah … agaknya memanas juga komentar atas tesis JG itu. sebenarnya banyak sdr2 kita dari karo setahu saya sudah lama meyakini bahwa mereka bukan batak. mereka mengaku bukan batak untuk alasan2 pragmatis saja, misalnya kalau di suatu institusi mau minta dukungan dari sdr2 karo biasanya mereka ini lebih sering berada di pihak yang mengaku bukan batak sehingga mereka tidak perlu memberikan dukungan. namun bila di suatu kesempatan mereka ini hanya sebagai minoritas, dan kurang ‘berdaya’ mereka secara langsung mengaku sebagai batak. mereka inkonsisten dan mudah2an saya salah. fakta, karena ada kesamaan keyakinan antara toba dan karo sehingga akhir-akhir ini amat susah keduanya untuk tidak satu persekutuan. sekali lagi untuk alasan pragmatis, untuk apa tidak mengaku batak?
Jansen Sitorus (jkt)
Agustus 11th, 2010 pada 15:35
Ini menarik juga untuk didiskusikan apalagi yang punya ide adalah seorang teman kita dari suku Karo yang kebetulan antropolog. Saya juga sependapat kalau misalnya dilihat dari bahasa sepertinya sangat jauh antara batak Toba dengan Batak Karo, dan Nias. Secara garis besar menunjukkan tidak ada persamaan kosa kata . Berbeda dengan Toba, simalungun, dairi, Humbahas sebagian besar kosa kata hampir sama, meskipun ada perbedaan. Saya pikir itu adalah perobahan karena perjalanan waktu dan perbedaan geografis. Menurut saya bisa kita lihat pada masa itu ada penjajahan, satu komunitas yang dijajah ingin punya teman dari komunitas lainnya sehingga mereka mengatakan komunitas lainnya itu sesama batak, jadi kalau yang satu dijajah teman yang lainnya juga merasakan dan ikut melawan . Dan pada saat itu ampuh untuk persatuan.
Saya kurang tau… apakah sekarang juga pemahaman seperti ini masih kita perlukan….??
Mintas Svarnadwipa
Agustus 11th, 2010 pada 23:33
Identitas itu perlu, dan janganlah kita menghalangi orang/marga/suku/suku bangsa/bangsa untuk mencari identitasnya. Tidak ada didunia ini yg ga bersaudara, semua berasal dari Adam dan Hawa (kepercayaan Samawi – Menara Babel), manusia berasal dari primata yg berevolusi sempurna (Ilmiah). Mari kita belajar dan belajar, moga-moga antropolog membuka kebuntuan beberapa sejarah yg buntu/samar. Mungkin juga suatu saat ada formula untuk menilik ke jaman-jaman belakang, dan ke masa yg akan datang. Seperti pelajaran “Dilatasi waktu”. Lagian semisal satu rumpun pun itu, mungkin 100 tahun lagi tidak berarti lagi. Apakah kita bisa kenyang, kaya atau masuk surga dengan mempertentangkan itu? Malah kebencianlah yg timbul. Jangan saudara-saudaraku…!!! Bangunlah wahai dada kelana, hirup nafas yg baru, dunia sudah sempit dan penuh dengan penyakit dan keserakahan. Mari berlomba untuk maju, mudah2an kita bisa menemukan planet seperti bumi ini lagi. Dan kita mulai sejarah baru disitu…Horas/Mejuah-juah/Sekapur sirih sejuta pesan.
nbasis
Agustus 13th, 2010 pada 06:45
Seru. “Kalak Karo, bukan Batak Karo”. Tampaknya kita harus telaah lebih mendalam dan mestinya berdiskusi secara lebih sehat. Ini cuma topik lama saja kok. Sayang jika diskusi 2010 tak maju (dalam argumen dan data) dibanding diskusi pra kemerdekaan.
Semoga temukan kebenaran sejati.
Jansen Sitorus (jkt)
Agustus 13th, 2010 pada 14:57
Kepada semua yang mau gabung dan memberi pandangan di forum ini mohon untuk menghormati pendapat orang lain. Karena kita semua berbeda latar belakang dan pengetahuan. Yang lebih tau atau punya data agar menyampaikan pandangannya secara sederhana agar orang lain bisa mencerna. Cara yang paling cocok berargumen dari fakta sejarah dan jangan sampai menyerang pribadi … OK lah yah….
salam…..
Mantak Manalu
September 4th, 2010 pada 10:30
Horas
Menjuah-juah!
Memang sudah menjadi salah satu sifat manusia untuk selalu mencari perbedaan. Alasannya bermacam-macam
Terkait dengan adanya beberpa orang yang mengklaim bahwa Karo bukanlah bagian dari Batak, perlu dipertanyakan Karo yang mana?
Berbicara mengenai Batak. Pertanyaan yang timbul “SIAPAKAH ORANG BATAK ITU”?
1. Berdasarkan Garis Keturunan
Dalam hal ini, yang menjadi orang Batak adalah mereka yang sgenaelaogis merupakan keturunan Si Raja Batak. Itulah Batak yang kita kenal sekarang ini.
2. Berdasarkan Pengakuan.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa terkait dengan kesamaan tempat tinggal maupun kesamaan kepentingan, kemudian ada dari penduduk yang bertetangga yang diangkat oleh marga tertentua menjadi bagian dari marganya ataupun atas kemauan sendiri menggabungkan diri kepada salah satu marga tertentu. Terkait dengan point 2 ini, memang masih perlu diteliti marga-marga apa yang mengalami hal seperti ini.
Bagaimana dengan orang-orang Karo, dikaitkan dengan point 1, apakah adalah hubungan/garis keturunan?
Terkait dengan pertanyaan ini, mungkin perlu diteliti apakah ada hubungan marga-marga yang ada di Tanah Karo dengan marga-marga yang ada pada Sub Suku Batak lainnya?
Mengenai hal ini, ada beberapa marga di Karo yang saya dengar mempunyai pertalian dengan marga-marga pada Sub Suku Batak, antara lain :
1. Marga Tarigan, Silangit dan Sibero, merupakan keturunan Purba (Toba) Simamora. Sama seperti Marga Siboro, Girsang, Tambun Saribu dan Tondang di Simalungun.
2. Sitepu, merupakan Keturunan Sihotang (Si Raja Oloan), sama seperti Sitopu dan Lingga di Simalungun.
3. Sebagian dari Marga Sembiring, mempunai pertalian dengan Silahi Sabungan
4. Ginting dan Munte mempunyai pertalian keturunan dengan salah satu marga Parna.
Banyak lagi marga-marga di Karo yang dulu diajarkan pada saya, mempunyai pertalian garis keturunan dengan marga Pokok Batak.
Terkait dengan Silima Merga, sebagaimana disebutkan sdr Sinulingga, yang diajarkan pada saya (saya juga tidak tahu persis, karena belum memperdalamnnya) bahwa Silima Merga merupakan mengelompokan marga (Barangkali kesamaan daerah) dan bukan pengelompokan secara garis keturunan (Dalam hal ini bisa dilihat bahwa ada sembiring yang mempunyai pertalian secara keturunan dengan Silahi Sabungan, sementara Sembiring yang lainnya tidak mempunyai pertalian dengan Silahi Sabungan).
Berkenaan dengan artikel ini, saya usulkan kepada Sdr. Ginting untuk kiranya dapat lebih memperdalam pertalian kekerabatan tersebut, apakah memang ada dan diakui oleh orang-orang tua kita di Tanah Karo.
Saya Manalu, keturunan Simamora yang bersaudara dengan Marga Purba dan Debata Raja. Saya dan kami mengakui bahwa Tarigan dan Sibero (Siboro) adalah Kakak kami karena mereka merupakan keturunan Marga Purba.
Andika M Ginting
September 4th, 2010 pada 16:01
saya ginting berbicara, sebenarnya orang karo punya raja sendiri itulah raja Haru (Deli) dan kekuasaannya luas dari aceh hingga riau, dan ini perlu di telusuri lagi, bahwasannya tidak ada data yang jelas mengatakan mana lebih tua antara Raja Batak dan Haru. jika ditelaah sejarah Sumatera yang dikatakan Putri Hijau ini adalah putri dari kerajaan Haru. Siapa Raja Haru yaitu Pa Lagan, dimana ini berasal dari bahasa Karo. Disisini menjadi pertanyaan bagi saya, dikatakan Haru sempat berperang melawan Majapahit. Demikian halnya dengan Sisingamangaraja I. Perperangan ini merupakan kejayaan Raja dari Masing-masing suku untuk mempertahankan daerahnya. Tidak ada Raja Haru meminta bantuan ke Sisingamangaraja I, tetapi malah kekesultanan Aceh dikarenakan rakyat kesultanan Aceh adalah keturunan raja Haru. Karena kesimpang siuran inilah, pada saat itu belanda membedakan Propinsi Sumut dibagi berdasarkan Agama menjadi dua yaitu Provinsi Sumatera timur dan Tapanuli. Inilah warisan Kolonial yang seharusnya wilayah kerajaan Haru membetang di pesisir pantai Utara dari Aceh hingga Riau dan tanah Karo. Kalau kita telaah dari awalnya manusia terbentuk dari Nabi Adam pada dasarnya adalah Satu. Tetapi Raja merupakan generasi berikutnya yang beranak dan membawa kemakmuran rakyatnya, bisa dikatakan kenapa orang Batak dan Karo dapat mempertahan Marganya itu adalah sifat dari Rajanya yang menghormati orang tuanya sehingga memakai nama orang tuanya sebagai Identitas Rajanya. Dari gambaran ini tidak ada kaitan antara Batak dan Karo, Sebab Batak memiliki Raja dan Karo juga memiliki Raja. Raja Haru memiliki keturunan Lagi itulah yang dikenal dalam orang Karo Merga Silima. Orang Batak termasuk Simalungun, Toba, Mandailing, memiliki bahasa yang sama dan perwatakan yang sama dengan Rajanya. Tetapi tidak ada kemiripan dengan bahasa Karo, baik bahasa, budaya dll. seperti didaerah Sergei, Deli serdang, Langkat terdapat melayu yang mempunyai merga orang Karo, tetapi mereka tidak mau dikatakan batak sebab meraka adalah Keterunan Raja Haru, dan mereka cenderung mengatakan meraka Melayu Deli (Haru), dikatakan Melayu sebab mereka Muslim dan Raja Haru sendri adalah Muslim. Sebagai gambaran di Daerah Sergei, Deli serdang, Langkat apabila ada gendang karo, banyak orang melayu datang, ertutur dan setelah itu mereka mengatakan marganya. Dari tulisan ini sebenarnya orang Bataklah yang berusaha mempertahankan Karo sebagai batak , kebanggaan mereka akan budaya Karo, Gendang Karo/keyboard karo dan Keramahan orang karo serta gadis Karo yang cantik-cantik. Dari legenda putri hijau inilah bukti kecantikan gadis karo yang menolak lamaran Sultan Aceh. Dan tidak bisa dipungkiri orang karo membuat bersih nama Batak karena kehalusan bahasannya dan keramahan orangnya, dan orang batak sendiri mengakui diantara batak orang karo lah yang ramah. Kalau tidak percaya gerejalah di GBKP, disana tidak ada terlihat orang batak karena mereka tidak mengerti dan susah mancontoh sifat orang karo namun sebaliknya orang karo mudah diterima di HKBP walaupun kurang mengerti bahasa tapi terkenal ramahnya. Tatapi di akhir tulisan ini saya merasa bangga orang Karo dan Batak masih mempertahankan marganya, berbeda dengan suku-suku lain yang menghilangkan identitasnya dari rajanya, karena menurut saya ini sangat bermanfaat dan mencerminkan semangat juang Raja kita yang mewariskan kepada kita dan akan kita wariskan kembali ke nak cucu kita.
Demikian Salam Hangat,
Bujur ras mejuah-juah kita kerina…
BAKO
September 9th, 2010 pada 16:05
Dari seluruh pendapat di atas semuanya benar kalau kita melihat dari kaca mata masing-masing. Tapi pendapat dari JG perlu juga kita hargai bukan untuk dihina. JG hanya menuliskan pendapat-pendapat secara teori saja tidak disertai dengan bukti sementara teori yang tidak disertai dengan bukti saat sekarang ini tidak dapat diteerima begitu saja oleh masyarakat. Begitu juga kalau ada yang protes pendapat tersebut harus disertai dengan bukti juga. Mauliate
tengku syafiq sipayung
September 15th, 2010 pada 03:55
sebagai orang bukan batak simalungun tp orang simalungun ,saya setuju dgn sudara JG..
yg lbh tahu tentang suatu suku pasti suku itu sendiri,
jd mari kita cari sejarah yang sebenarnya,jgn kita terpaku pd sejarah yg ditulis oleh orang toba..
“yg menentukan eksisitensi sebuah suku adalah suku itu sendiri bkn suku lain”
jd gak mungkin orang toba lbh tahu tentang karo dari pada orang karo itu sendiri,dan lebih tak mungkin lg orang karo lbh tahu tentang toba dari pada orang toba itu sendiri..
mejuah-juah…
B.Parningotan
September 17th, 2010 pada 15:31
@Andika M Ginting
Saya ada sedikit tanggapan mengenai Hubungan antara Batak dan Karo.
Naskah atau tulisan yang baik dapat membentuk opini masyarakat setempat, walau belum tentu tentang kebenarannya.
Mungkin dalam suatu rumpun bangsa sebagian rakyat keturunan raja, tetapi tentu pula ada rakyat yang bukan keturunan raja itu sendiri, jadi mengenai hubungan kerajaan dengan asal dari suku bangsa tidak musti selaras, sebagai contoh raja Ingris turun temurun bukan berasal dari Inggris sendiri melainkan dari Scotlandia, juga halnya Kaisar Jepang adalah orang Korea.
Mengenai hubungan antara Sisingamangaraja dan si Raja Batak yang konon kabarnya moyang dari orang Batak juga belum diketahui sejauh apa hubungannya.
Salah satu teori yang saat ini sangat mempengaruhi opini dunia untuk menjadi Atheis adalah teori evolusi Darwin, padahal kalau ditanya pertanyaan pertama setelah timbulnya teori evolusi tidak pernah terjawab, pertanyaan itu adalah kalau dari tidak ada menjadi ada mengapa mereka menjadi tua dan mati? tapi teori itu sekarang tanpa memper masalahkannya telah mendarah daging bagi manusia saat ini termasuk juga umat yang mengaku beragama, sehingga agama mentolerir teori evolusi. Mungkin sebagian manusia tidak mengakui secara langsung, tapi dari perubahan tingkah laku dan reaksi mereka secara tidak sadar mereka maengakui hal itu.
Saya sendiri Tidak sependapat dengan masyarakat Batak pada umumnya yang mengatakan semua orang Batak adalah keturunan si Raja Batak. Kalau di lihat di marga2 Batak ada yang berupa nama kampung, nama gunung, nama bilangan dsb, sebagai contoh Hutagalung, Hutapea, Napitupulu, Pasaribu, Pangaribuan, Dolok saribu dsb. Adapula marga2 yang berbau India seperti Munte, dalimunte, Gurusinga, Brahmana dsb, ada marga2 transisi dimana satu marga mencakup tiga suku contohnya marga Purba dan Manik ada yang berasal dari Toba, ada yang berasal dari Simalungun dan ada yang berasal dari Karo. Mengenai keramahan juga berbeda-beda, suku Mandailing seperti halnya suku Karo Lebih ramah dari Toba.
jadi Karo tidak dapat menyimpulkan keramahan adalah milik Karo sendiri. Memang orang Toba sangat menyolok bahasanya tapi kata mereka itu bukan kasar tetapi Tedak yaitu sifat terus terang tanpa selubung.
Sekarang mengenai kebesaran kerajaan Sisingamangaraja dan kerajaan Haru. Sejarah dapat dilihat dari peninggalannya, seperti halnya Mataram dengan candi2nya dan penyebaran bahasanya. Ibarat Bahasa Inggris dipakai hampir diseluruh dunia terutama negara2 kesemakmuran Commonwealth, kalau kita lihat bahasa kerajaan Haru sendiri kurang tersebar, jadi kebenaran kebesaran kerajaan Haru masih diragukan, sedang bahasa batak penyebarannya lebih luas, kalau dilihat mempengaruhi dari dairi, simalungun, angkola, mandailing, toba hingga pakat sidingkalang. Peninggalan lain berupa puing2 kerajaan maupun candi2 saya belum mendalami.
Banyak cerita bahwa Sisingamangaraja adalah Muslim dan kalau menurut cerita pak Ginting maka Pa Lagan pun Muslim, tetapi sepengetahuan saya Muslim sang konsisten dalam memakai nama muslim seperti Ali, Anwar, Jusuf dsb. Mungkin ada pengaruh Islam ke tanah Batak dan Karo seperti yang terlihat pada mantera2 yang tertulis di buku laklak Simalungun, tetapi saya belum mendapat bukti yang dapat diandalkan bahwa Sisingamangaraja dan Pa Lagan adalah Muslim.
Sekali lagi Cerita atau naskah yang ditulis dengan baik walau kebenarannya belum dapat dipastikan dapat mengubah opini masyarakat. Kalau seandainya tidak benar bahwa seluruh orang Batak keturunan si raja Batak seperti yang diceritakan tarombo mungkin hubungan antara Toba dengan Dairi, Simalungun dan Karo dan juga hubungan Toba dengan Mandailing yang mengaku dirinya keturunan Bugis akan lebih mungkin dijelaskan.
Tidak dapat di Ingkari bahwa mereka semua bertetangga dan perkawinan campur sudah menjadi kebiasaan umum. Mungkin Bahasa Karo sangat berbeda dari lainnya tetapi pengaruh bahasa Karo selaku kerajaan yang berjaya terhadap bangsa2 tetangganya tidak ada.
Mengenai wanita cantik dan kurang cantik ada dimana-mana juga orang yang berperawakan tinggi dan pendek, ganteng dan biasa-biasa ada dimana2. Orang pandai dan goblok pun ada dimana-mana.
Miss Indonesia sendiri belum pernah datang dari tanah Karo apa lagi Miss Dunia. Apakah benar orang Karo lebih kuat dari bangsa lainnya? setahu saya olahragawan2 kelas dunia bukan datang dari tanah Karo.
Horas
tengku syafiq sipayung
September 19th, 2010 pada 14:05
@bg parningotan..
horas..
bkn maksud orang karo mengungulkan diri dr suku batak toba,namun setidaknya dgn diskusi ini kita bisa lebih mengkaji kekayaan budaya kita..
jgn sampai org lain yg menuliskan ttg sejarah suku bangsa kita..
B.Parningotan
September 20th, 2010 pada 19:03
Hati2 dalam Menganalisa Sejarah
kalau kita ingin mendalami menganalisa sejarah dan menulis sebaiknya kita berpikir lebih kritis, tidak dipengaruhi emosi, khayalan diri sendiri atau maksud2 tertentu. karena tulisan kita dapat merubah opini pembaca, terutama bila kita dapat menulis dengan baik.
sebagai contoh; Bahasa dan struktur bahasa batak sangat mirip dengan bahasa Tagalog di Filipina dan banyak juga kata yang sama artinya, sebagai contoh “ulu (kepala)” bahasa Tagalog sama dengan bahasa Batak, juga kata Asu (anjing), kerbau (horbo) dan kata lainnya, tapi pada bahasa Jawa Asu mempunyai arti yang sama walau bahasa Jawa mempunyai struktur yang berbeda dengan bahasa Batak.
Awalan Ma, Pa sangat sering digunakan di bahasa Tagalog seperti halnya dengan bahasa Batak.
Dari sini ada banyak kemungkinan yang bisa diambil
1. Apakah Bangsa Filipina pernah infasi hingga daerah Batak
2. Apakah Suku Batak pernah infasi ke Filipina
3. Apakah kedua bangsa tersebut mempunyai asal usul yang sama
4. Apakah Bangsa Filipina berasal dari tanah Batak
5. Apakah bangsa Batak berasal dari Filipina
6. Apakah kesamaan tersebut telah sejak mula atau datang secara kemudian
Contoh masalah lain
Ada pengaruh Muslim pada kitab Laklak Simalungun sejauh manakah Muslim mempengaruhi Simalungun?
1. Kaum Muslim umumnya menggunakan tulisan Arab lebih diutamakan dengan tulisan mereka sendiri
2. Kaum Muslim umumnya menggunakan nama Muslim
3. Mengapa buku Laklak tidak tertulis dalam tulisan Arab
4. Berapa banyak perbendaharaan kata dan adat istiadat Simalungun terpengaruh dengan masuknya Muslim ke Simalungun
5. Berapa bagian dari Simalungun adalah Muslim dan berapa bagian yang tetap memegang kepercayaan mereka sendiri
6. Sejak kapan pengaruh itu terjadi
Mengenai hubungan Toba dan Karo
1. konon banyak marga di Toba yang katanya dapat dikonversikan untuk Karo sebagai contoh banyak yang sependapat bahwa marga Sinambela adalah Surbakti di Karo, Sinaga dan Manik juga seperti marga2 lainnya yang saya sudah agak lupa. Kalau itu memang benar mengapa nama marga itu harus berganti nama
2. Apakah suku Karo merasa bukan orang Toba atau kah hanya dari kelompok tertentu misalnya dari fraksi Tertentu
3. Bagai mana hubungan antara suku Karo yang katakan mempunyai fraksi tertentu tersebut dengan suku Batak lain yang mempunyai fraksi yang sama dengan mereka apakah meraka lebih merasakan persaudaraan
4. Bagai mana tingkat derajat kehidupan penganalisa naskah dalam suku tersebut apakah ia dari keturunan Raja, Bangsawan, rakyat jelata dan bagai mana keadaan emosi penganalisa tersebut.
5. Dari sudut apa ia akan meng-analisa, sebagai contoh dukun akan mengatakan orang sakit kerasukan setan sedang Dokter akan mengatakan orang sakit karena virus sedang psikolog mengatakan orang sakit karena tekan jiwa. Orang Kaya mengatakan orang miskin sakit karena stress kurang gizi dsb.
6. Apakah ada tulisan dari fihak lain yang menprovokasi perbedaan tersebut sebagai contoh saat masuknya Belanda ke Indonesia dengan melaksanakan politik pecah belah
Tentunya masih banyak sudut pandang yang belum tertulis pada lembaran ini. Kalau kita menganggap tulisan kita bertanggung jawab untuk mencari kebenaran maka kita akan menulis lebih teliti, tetapi ada pula sebagian orang yang berniat menulis untuk provokasi atau maksud maksud tertentu, contoh yang paling jelas adalah politikus yang bercita2 ingin terpilih, dia tidak perduli impak tulisan itu pada karakter masyarakat yang terbentuk, apa lagi tulisan yang dibuat oleh pihak pemecah belah seperti halnya Belanda.
Horas
tengku syafiq sipayung
September 22nd, 2010 pada 04:26
apa semua bahasa batak itu sama??
klo mmg orang karo,simalungun berasal dari samosir,mengapa bahasa simalungun dan karo yg lbh dekat kpd bahasa sansekerta sbg induk bahasa di nusantara?
jd saya bingung apa benar batak itu bersal dari satu nenek moyang yaitu org batak toba…
nia sinulingga
September 27th, 2010 pada 23:27
horas ras mejuah_juah kita kerina……
bagiku batak adalah karo,,karo adalah batak,,,kenapa harus dipermasalahkan ??
di zaman yang serba sulit dan konflik d’sana sini yg semakin memanas janganlah kita sesama orang batak malah mempersoalkan hal yang sepele dan tidak perlu dipersoalkan…
toh selama ini kita orang batak dikenal dengan kehidupan yang bersahaja dan hidup secara damai,,jadi dengan adanya prokontra seperti ini,,mungkin orang malah tidak akan bersimpati lagi dengan kita orang batak ini…jadi jagalah kerukunan tak usah saling berdebat.
lebih baik kita bersatu kita usir teroris dari sumatera utara kita tercinta ini….heheheheheheh…
Jansen Sitorus (jkt)
Oktober 5th, 2010 pada 11:37
Saya sudah baca secara seksama tulisan Lae Manalu, Sle Ginting dan Parningotan yang mecoba menggungkap fakta sejarah… ini sangat bagus untuk pencerahan bagi kita semua
Terimaksih saya ucapkan kepada semuanya. Saya tidak ingin menyampaikan apapun kecuali rasa persaudaran kepada teman2 dari karo..mungkin ini pengalaman saya pribadi ketika kost di Padang Bulan Medan tahun 80-an.. sehari hari bergaul.. belajar bersama …berdebat .. nyanyi bersama dll. Saat itu saya merasa bahwa mereka tidak ubahnya seperti orang batak Toba seperti saya… hanya beda bahasa saja…. disaat saya kekurangan ataupun sedih mereka adalah penolong…. tidak melihat saya apakah dari Toba atau Kabanjahe….. dari sisi kemanusiaan mungkin ini hal terpenting……
Horas…. Menjuah Juah kita krina..
SALAM……
hutingbaoa
Oktober 5th, 2010 pada 16:24
Asyiik! Diskudi yang asyik. Tapi buat aku, sementara pass dulu mau googling dulu… Tapi yang ingin aku tegaskan hanya sangat disayangkan klaim dari seorang Juara Ginting, yang nota bene seorang akademikus, seharusnya didasarkan atas bukti ilmiah yang mendukung dan dipaparkan di forum ilmiah.
Itu dulu lah….
tengku syafiq sipayung
Oktober 6th, 2010 pada 17:32
beda bahasa aja?????
terlalu dangkal anda melihat perbedaan yg ada…
Bonar Siahaan
Oktober 9th, 2010 pada 15:27
Yang saya tau Karo terbagi tiga yaitu; Karo gunung, Karo tengah dan Karo pesisir/melayu.
Adapun Merga Silima saya dapat tunjukkan data-datanya bahwa itu adalah “SERUMPUN” dengan Batak lainnya……tapi maaf, saya akan uraikan bila ada forum yang resmi.
Kuakui juga, dari penulis Batak Toba dan mungkin Karo banyak yang kurang penelitian tapi telah berani menerbitkan buku/tarombo sehingga menimbulkan polemik…
Saran saya; janganlah memaksakan pendapat bila argumentasinya tak dapat diuji minimal dengan kepatutan dan rasio….sebab itu akan memperkeruh pokok bahasan. (maaf saya bukan mau menggurui atau merasa pintar)
Hardi Hutauruk
Oktober 12th, 2010 pada 12:43
Horas.
Setuju dengan sdr.Bonar Siahaan.
Namun sekedar garis besar, sudi kiranya memaparkan Lae Bonar Siahaan,mudah2an pembaca menuai hal yang mencerahkan, ditunggu ya Lae Bonar Siahaan.
Mauliate
B.Parningotan
Oktober 13th, 2010 pada 04:03
PENYEBARAN PANGULUBALANG DI SUMATRA UTARA
menurut Proyek Pengembangan PerMusiuman Sumatra Utara
Istilah PANGULUBALANG adalah ciri khas Sumatra Utara yang tidak didapat di daerah lain
Pangulubalang adalah hantu yang diperhambakan kepada manusia untuk menjaga, melindungi bahkan membinasakan musuh2nya
bentuk patung Pangulubalang yang terdapat pada suku Batak umumnya mempunyai kesamaan bantuk antara satu daerah dengan daerah lain , menurut bapak Suruhen Purba, ini menunjukkan bahwa suku suku Batak serumpun adanya. persamaan itu dapat dilihat dalam tehnik pemahatannya.Persamaan tujuan pembuatan arca tersebut juga menunjukkan alam pikiran yang sama
Cara pembuatan pangulubalang
1. umumnya orang yang akan dijadikan pangulubalang diculik dari kampung lain
2. sebelum dibunuh dikurung, diasuh, dipenuhi segala keinginannya, tapi wajib patuh dan setia pada tuannya sampai terbiasa
3. Harus Iklas jadi Pangulubalang
4. Berjanji pada pemiliknua bahwa arwahnya nanti akan patuh pada tuannya
5. Namanya dan nama tuannya dirahasiakan
6. Dibunuh dengan cairan timah dimasukkan kemulutnya
7. Sesudah mati diolan jadi pupuk dan dimasukkan pada cawan
8. Bahan pangulubalang dibawa kehutan dan dilakukan upacara2
9. patung Pangulubalang terbuat dari batu berbentuk manusia, dilubangi pada ubunubun, dada, pusat atu bagian kaki, dan di lubang ini ditempatkan abu mayat pangulubalang. Pangulubalang harus diberi sesajen secara berkala dan juga bila akan diperintah melakukan sesuatu
sisa2 patung pangulubalang yang masih dapat di inventarisasi di daerah Batak :
SIMALUNGUN
1. pangulubalang Bah Ilang di Pematang Selampuyang
2. Pangulubalang Puang Lima Sibukbuk di Pematang Tanah Jawa
3. Pangulubalang Pallanang di Bosar Hataran
4. Pangulubalang Sialo Musu di Huta Mariah
5. Pangulubalang Sialo Musu di Huta Panahatan
6. Pangulubalang Partaunan
7. Pangulubalang sidogordogor di Lintong Sidapitu Sipangan Bolon
8. Pangulubalang Sibiaksa
DAIRI
1. Pangulubalang Kecupak
KARO
1. Pangulubalang Ginting di Kampung Kutambaru nama pangulubalang di karo adalah pulubalang
TAPANULI UTARA
1. Pangulubalang Sanggapati na Bolon
2. Pangulubalang marga Simamora Purba dari Dolok Sanggul Lumban Julu
3. Pangulubalang Sigumpar
4. Pangulubalang Situnggal Manunsar di Narumonda kec. Silaen
Nama Pangulubalang di Toba sesuai dengn fungsinya
1. Pangulubalang sipubonggari – pencabut nyawa
2. Pangulubalang Nagara di Langit – memanggil, berbunyi, mencuri ayam ternak dari kampung musuh
3. Pangulubalang Si Batu Nanggar – perusak kampung musuh
4. Pangulubalang Sibatu Loting
5. Pangulubalang Sigantung Rangin
6. Pangulubalang pangihutihut
TAPANULI SELATAN
1. Pangulubalang Adian Boratan di kec Aekanopan
2. Pangulubalang Muara Mampang
3. Pangulubalang Magagar
4. Batu Tagor
catatan; jumlah peninggalan Pangulubalang di Simalungun lebih banyak ditemukan di Simalungun lebih banyak dari daerah lain bukan berarti dari daerah ini asal mula Pangulubalang, tetapi bisa juga karena didaerah ini terpelihara lebih baik, atau pengaruh faktor lain seperti masuknya agama Nasrani dan agama lain yang mungkin pula memusnahkan eksistensi tersebut, dapat pula oleh adanya perang meluas seperti saat serangan Tuanku Rao yang mendapat bantuan dari Sumatra Barat yang memusnahkan kebudayaan di Tapanuli Selatan/Utara
kesamaan lain antara suku suku Toba, Karo, Dairi/Pakpak/ Simalungun/ Mandailing/Sipirok selain tulisan dan adanya marga juga adalah dengan adanya Dalihan natolu dan Pangulubalang
Ini adalah fakta yang harus dipertimbangkan untuk mebuat naskah sejarah
DALIHAN NATOLU
Toba/Angkola/Mandailing Dalihan na tolu – dongan sabutuha, boru,hulahula
Pakpak/Dairi Daliken sitolu – dongan saboltek, beru, kulakula
Karo Sangkep sitelu – senina, anakberu, kalimbubu
Simalungun Tolu sidalanan – Senina, anak boru, tondong
Mengenai Istilah Datu itu pun harus dipelajari karena gelar Datu didapat dari Malaysia hingga Sumatra Utara hingga Sumatra Barat, saya belum mendalami hubungan antara datu di Batak dan Datuk di Malasia, Aceh, Tapanuli hingga Sumatra Barat
Sumber Informasi Departemen Pendidikan dasar dan Kebudayaan proyek perkembangan perMusiuman Sumatra Utara
Defri Simatupang
Oktober 20th, 2010 pada 12:19
Saya melihat suku Batak sebenarnya tidak ada !! penamaan itu tidak ideal sebagai penamaan etnis, apalagi karena dikembangkan oleh Penjajah dengan berbagai motivasi yg relevan untuk kepentingan mereka pada saat itu, salah satunya berdampak pada etnis Karo, terutama sejarah kristenisasi hingga berdirinya GBKP (abad 19-20)..
Tapi saya tidak akan mengatakan kalo etnis Karo tidak ada hubungan dengan etnis “Batak Dominan” (baca : Toba). Data historis-arkeologis sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau mereka eksis bersama, saling mempengaruhi dengan berbagai paradigma penyebutan apapun itu pada masa itu hingga masa sekarang, terserah entah dipanggil karo, Toba, simalungun, Mandailing, dsb.. Apalagi saat ini berkembang berita bahwa identitas masyarakat Suku Karo sebelum abad 19-20, dikaitkan dengan eksistensi Kebesaran Kerajaan Haru / Aru pada masa itu yang menguasai seluruh wilayah Sumatera. HATI-HATI, BERITA SEPERTI INI SANGAT RENTAN MEMICU KONFLIK ANTAR ETNIS MASA KINI.. Saya sebagai arkeolog melihat datanya masih sangat lemah (data historis sumber-sumber tertulis abad 13)..Apalagi seharusnya ditunjang dengan data arkeologis yang sampai saat ini belum ada peninggkatan secara signifikan..Jadi tidak kurang kerjaan kali lah kita menyalahkan Belanda yang berhasil membumikan penamaan ‘Suku Batak’, namanya juga Penjajah punya kepentingan sendiri
Semoga kedepan kita2 bisa mampu semakin merekonstruksi riwayat “masyarakat Batak” sampai lebih jelas, jujur, demi kepentingan masa depan generasi muda Bangsa Ini
Horas…. Menjuah Juah kita krina..
SALAM DAMAI……
Maridup Hutauruk
Oktober 21st, 2010 pada 07:04
@Defri Simatupang
Mungkin perlu kita tambahkan referensi penelitian yang dilakukan oleh William Marsden pada abad-18 (History of Sumatra), supaya tidak selalu terperangkap pada penuduhan kepentingan penjajah (Belanda) tentang Batak. Dikatakan bahwa Tanah Batak adalah hampir seluruh wilayah Sumatra Utara sekarang.
Saya rasa William Marsden tidak punya kepentingan politik untuk pecah belah sub-Batak. Menurut saya History of Sumatra memaparkan hal yan fair tentang geopolitik penduduk di Sumatra, termasuk Batak.
Kitab Negarakertagama tidak hanya menyebutkan kerajaan Haru, malah terlebih dahulu disebutkan Toba dan beberapa kerajaan lainnya yang semuanya dikelompokkan sebagai kerajaan M’layu (Ekspedisi Pamalayu).
Memang harus diakui bahwa semasa penjajahan Belanda terjadi politik pecah belah, ditambahlagi dikeluarkannya Tarombo Siraja Batak oleh WM Hutagalung, yang menabur konflik disemua marga-marga tentang penguasaan wilayah adat berdasarkan silsilah leluhur. Wajar saja sebagian dari komunitas Batak di Mandailing, Karo, Pakpak, Simalungun, tidak mengakui diri sebagai bagian dari Batak, sementara marga-marga di Silindung, Humbang, Toba Holbung, Samosir, tidak mempersoalkan konflik wilayah adat dalam konteks Batak melainkan hanya sebatas konflik marga-marga saja, maka jadilah marga-marga terutama dari 4 wilayah ini dianggap hegemoni pencitraan Batak.
Yang menjadi persoalan, apakah marga-marga dari 4 wilayah yang mengakui diri sebagai Batak mampu menghapuskan (mencoret) sejarah leluhurnya yang ada di Karo, Pakpak-Dairi, Mandailing-Angkola, Simalungun. Kalau mereka mampu, ya relakan saja bahwa mereka bukan Batak. Tetapi saya kira mereka tak mampu menghapuskan garis keturunan leluhurnya, karena takut kualat.
B.Parningotan
Oktober 22nd, 2010 pada 03:35
SAya rasa memang sudah saatnya tidak memakai nama Batak lagi , orang Toba biarlah memakai isatilah Halak Toba, juga demikian halnya ada Halak Simalungun, Halak Dairi, Halak Mandailing, Halak Pakpak saya tidak tahu dalam bahasa Karo apa kata halak katakan saja ………….Karo. mungkin ini lebih cocok
kalau saya melihat memang dunia aneh, saya tidak tahu terkadang manusia merasa bukan serumpun oleh sebab agama yang berbeda, sedang tidak ada hubungan antara agama dan suku bangsa, sebagai contoh banyak mayarakat setelah memeluk agama tertentu tidak lagi memakai nama keluarga mereka, apakah berarti nama keluarga adalah najis ditinjau dalam segi agama, saya kurang mendalam dalam hal ini. malah ada agama yang mengajarkan bahwa “brother/sister” adalah yang se agama sedang abang/adik kandung sendiri kalau beda kerpercayaan bukan “brother/sister” lagi. Saya rasa dunia sudah sakit. harus dicari jalan keluarnya.
Tengku Syafiq Sipayung
Oktober 23rd, 2010 pada 21:20
Dalihan natolu…
tdk hanya dikenal org batak saja,di minangkabau jg ada..
pangulu balang,peninggalan jaman megatilikum semua daerah di indonesia jg ditemukan…
jsaya setuju dgn lawei parningotan yg mengatakan istilah halak bg semua suku yg ada di sumatera utara,wlw lawei parningolan merasa terpaksa mengungkapkan hal itu…
Juniati Sembiring
Oktober 28th, 2010 pada 18:41
@Defri : Hai def, pkbr? Ketemu kita disini. Ni topik yg pernah kalian bahas dgn Nuansa kan?
Aku bukan arkeolog, bukan budayawan dan bukan ahli sejarah. Hanya Orang biasa yang pernah membaca dan mendengar.
Sepengetahuanku (dari buku, artikel dan literatur yang pernah aku baca) suku karo dan suku batak punya latar belakang yang berbeda. Seperti kata Bang @Andika, suku karo berasal dari keturunan kerajaan Haru.
Soal dalinan na tolu atau di karo disebut rakut sitelu, dalam suku karo lebih kompleks lagi dan di jabarkan dalam tutur si waluh..
Selain itu, jika memang memang suku karo bagian dari batak, bagaimana penjelasan terhadap marga-marga batak yang tak ada padanannya di suku karo ataupun merga-merga di suku karo yang tak ada padanannya di suku batak?
Aku pernah naik becak ma Ibuku, kebetulan abang becaknya suku batak toba. Saat kami bertanya itu marga kalau dikaro masuk ke merga apa, abang becak tsb bilang, bahwa marga dia tidak bisa dipadankan dengan marga manapun. Hanya ada di daerah toba saja.(Maaf saya lupa dia marga apa)
Setahuku juga, suku karo, toba, simalungun, pakpak, mandailing itu disebut batak adalah merupakan hasil perbuatan Kolonial Belanda untuk mempermudah menjajah sumatera.
Soal marga atau di karo disebut merga, menurut artikel yang pernah ku baca dan mendengar penuturan seorang teman; marga-marga di karo dan suku lainnya (batak), sebenarnya tidak ada hubungan. Hanya jaman dahulu, mungkin mereka hidup bertetangga, atau pernah saling menolong, atau salah satu keturunan merantau ke suku lain dan diterima dengan baik maka mereka mengikat saudara. Dan sejak itu keturunan-keturunan mereka di padankan marganya. Misalnya sembiring yang dipadankan dengan silalahi.
Apa yang aku tulis, bisa benar bisa pula salah, daripada kita bertegang urat saraf disini, bukankah lebih baik kita saling mempelajari satu dengan yang lain, jangan hanya mengemukakan pendapat sesuai dengan penelitian atau kajian dari suku kita aja. Tak ada salahnya teman-teman dari batak toba mulai mempelajari buku atau artikel yang membahas suku karo sehingga bisa mengerti mengapa orang karo memisahkan sukunya dari rumpun batak dan teman-teman suku karo juga ga ada salahnya menambah wawasan mengenai apa sih batak itu.
Setelah itu, lebih baik kita saling menghargai pendapat masing-masing, ga ada yang lebih baik atau lebih buruk. Semuanya sama. Lebih baik mikirin gimana caranya kita memajukan sumatera utara yang udah ketinggalan di banding Indonesia bagian tengah sana. Lebih baik mikirin apa yang bisa kita perbuat bagi saudara-saudara kita yang kemalangan krn alam yang marah..
Damai di hati, damai di bumi..
Love u all..
Gb
Maridup Hutauruk
Oktober 29th, 2010 pada 23:17
@Yuniati Sembiring
Saya kutip: “suku karo berasal dari keturunan kerajaan Haru”
Tahun berapa ya kira-kira berkembangnya kerajaan Haru? Tahukah anda sejarah sebelum muncul kerajaan Haru?
Saya kutip; “Selain itu, jika memang memang suku karo bagian dari batak, bagaimana penjelasan terhadap marga-marga batak yang tak ada padanannya di suku karo ataupun merga-merga di suku karo yang tak ada padanannya di suku batak?”
Sudah kah anda menghafal/mempelajari semua sejarah ‘Merga Silima’? dan, Sudahkah anda menghafal/mempelajari sejarah marga-marga pada suku-suku lain seperti Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing, dll.? Kalau sudah, baru boleh katakan tak ada padanannya. Yang anda maksud suku batak itu yang mana? Yang saya tau Batak itu adalah sebutan bangsa, bukan suku? Kalau suku Karo bukan bagian dari bangsa Batak, masih perlu diperdebatkan. Dalam hati saya sih sebaiknya tidak. (Tak berani saya berpendapat ‘tidak’, hanya dalam hati saja)
Saya kutip: “Setahuku juga, suku karo, toba, simalungun, pakpak, mandailing itu disebut batak adalah merupakan hasil perbuatan Kolonial Belanda untuk mempermudah menjajah sumatera.” Sebelum Belanda menjajah, sejarahnya kira-kira gimana ya?
Komentarnya ini kan hanya setahu Yuniati Sembiring saja kan? Bukan yang diketahui orang lain kan?!
Timotius A. Karo-Karo Purba
November 6th, 2010 pada 12:04
Perkenalkan nama saya Timotius A. Purba.
Saya karo-karo purba.
Saya ingin memberikan sedikit tanggapan buat blog ini.
Saya mengucapkan terimakasih buat mama J.Ginting buat artikel yang dibuatnnya.saya ingin menggapai beberapa koment dari teman2 di blog ini.
@ Juni hutabarat
“Songon i do molo pamalo HU prinsipna, namangalului sensasi sian naposo doi asa sega tu haduan gabe ndang adong parsadaan, gabe perbedaan ma naro, boasa ndang dibahas ibana negara on? boasa ndang dibahen ibana “BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?”
sai na adong do tahe si suar sair. “
Buat juni,ini blog berbahasa Indonesia,bukan bahasa toba.disini Nampak keegoaan anda dalam berfikir.msalah kenapa BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?”? kita disisni membahasa tema kenapa harus dipakai batak karo,sedangkan karo bukan batak. Kalau lari ke Indonesia mah itu kejahuan.jangan terlalu jauh dong berkoar2.kiat focus aja ke tema yg dibahas.
@ Pontas e. Simanjuntak
Bukan masalah apalah arti sebuah nama. Nama iru penting mpal. Kalau menurut impal ku nama g penting,untuk apa orang tua kam capek2 bikin nama. Maaf ne sebelumnnya,seandainnya nama g penting. Impal ku pontas mau namannya diganti dengan yang aneh2? Misalnya Pontas diganti dengan ayam??
Gmn pal?jangan marah ya…
@ buat om togar silaban
Jangan dibawa2 GBKP.kalau mau tau kenapa GBKP ada kata BATAK,silahkan tanya langsung kepusat moderamen GBKP.anda akan tau sejarah lengkap GBKP dan penamaannya.jangan menulis argument yang anda ambil dari pikiran anda biar tidak terjadi hal2 yang tidak diinginkan.
@mantak manalu
Saya mengutip :
“Terkait dengan adanya beberpa orang yang mengklaim bahwa Karo bukanlah bagian dari Batak, perlu dipertanyakan Karo yang mana?Berbicara mengenai Batak. Pertanyaan yang timbul “SIAPAKAH ORANG BATAK ITU”?
1. Berdasarkan Garis Keturunan
Dalam hal ini, yang menjadi orang Batak adalah mereka yang sgenaelaogis merupakan keturunan Si Raja Batak. Itulah Batak yang kita kenal sekarang ini.
2. Berdasarkan Pengakuan.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa terkait dengan kesamaan tempat tinggal maupun kesamaan kepentingan, kemudian ada dari penduduk yang bertetangga yang diangkat oleh marga tertentua menjadi bagian dari marganya ataupun atas kemauan sendiri menggabungkan diri kepada salah satu marga tertentu. Terkait dengan point 2 ini, memang masih perlu diteliti marga-marga apa yang mengalami hal seperti ini.
Yang mau saya Tanya.
1.siapa si raja batak itu?kalau dia memang raja dimana kerajaannya dan ada,dimana kuburannya.
2.kenapa setiap klan yang bermarga dikatakan keturunan si raja batak. Egois sekali kan.
3.kami orang karo mengakui,beberapa klan merga ada yg dating dari toba,tapi TIDAK SEMUA.kok langsung dicomot kalau karo ada hubungan dengan toba.
Trus saya mau bahas terombo versi soba.
Contoh merga karo2 yng dikatakan berasal dari siraja oloan.
Ini teksnya:
Berikut urutan Marga-Marga Si Raja Oloan dari yang sulung sampai bungsu:
1. NAIBAHO/Si Ganjang Ulu
Marga Naibaho sendiri ada 5 bagian yaitu : Naibaho Siahaan, Naibaho Sitakkarain, Naibaho Sidauruk, Naibaho Huta Parik, dan Naibaho Siagian.
Sedangkan Marga Sitindaon adalah hasil perkawinan (kecelakaan) antara sesama Naibaho Siahaan sendiri.
Ada beberapa Marga Naibaho yang merantau ke daerah Karo dan Dairi/Pakpak antara lain: Porhas Japjap, Sitolpak Gading: Ujung, Angkat, Bintang, Gaja Diri, Gaja Manik, Sikamo (Sinamo), Capa (Sapa).
2. SIHOTANG/Si Godang Ulu
Marga Sihotang sendiri ada 7 bagian yaitu : Sihotang Sidardabuan (di Sidikalang disebut Sihotang Manik/Sumbul Parongil), Sihotang Sorganimusu, Sihotang Sitorbandolok (di Karo disebut Sitepu, Sinubulan, Batu Nangkar, Bukit), Sihotang Sirandos, Sihotang Simarsoit, Sihotang Raja Tunggal Hasugian (Di Karo disebut Sinulingga, Kaban, Surabakti, Kacaribu), dan Sihotang Lumban Batu (Di Karo disebut Sinuraya, Sinuaji).
3. BANGKARA
Marga Bangkara sendiri ada 3 bagian yaitu: Bangkara Dolok, Bangkara Tonga, dan Bangkara Toruan.
4. SINAMBELA
Marga Sinambela sendiri ada 3 bagian yaitu: Sinambela Raja Pareme, Sinambela Tuan Nabolas, dan Sinambela Bonani Onan.
5. SIHITE
Marga Sihite sendiri ada 3 bagian yaitu: Sihite Pande Raja, Sihite Siguru Tohuk, dan Sihite Siguru Leang.
Marga Siteang sebenarnya juga masuk Sihite tapi saya tak tahu asal usulnya darimana.
6. SIMANULLANG
Marga Simanullang sendiri ada 3 bagian yaitu: Simanullang Lumban Nahukkup, Simanullang Lumban Ri, dan Simanullang Lumban Nalom.
Sumber: http://batakgaul.wordpress.com/2008/11/30/marga-marga-si-raja-oloan/
Dan ini cerita merga karo2 yang sudah dibukukan dan disahkan:
• Merga Karo-Karo
Merga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :
• Karo-Karo Purba
Merga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular.
Dari isteri umang lahirlah merga-merga :
o Purba
Merga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.
o Ketaren
Dahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).
o Sinukaban
Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban..
Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :
o Karo-Karo Sekali
Karo-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.
o Sinuraya/Sinuhaji
Merga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.
o Jong/Kemit
Merga ini mendirikan kampung Mulawari.
o Samura
o Karo-Karo Bukit
Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.
• Karo-Karo Sinulingga
Merga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :
o Kaban
Merga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,
o Kacaribu
Merga ini medirikan kampung Kacaribu.
o Surbakti
Merga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.
Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak.
• Karo-Karo Kaban
Merga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.
• Karo-Karo Sitepu
Merga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.
• Karo-Karo Barus
Merga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.
(Petra : Wuih, sejarah nenek moyang gw jelek juga, ya….)
• Karo-Karo Manik
Di Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.
Yang mau saya Tanya:
Di versi toba,dikatakan merga sinuraya dan sinuhaji merupakan keturunan dari sihotang lumban batu dan versi karo mengatkan kalau merga sinuraya dan sinuhaji itu merupakan anak dari merga purba. Dan saya sudah perbah berbicara pada bolang yang bermarga sinuraya dan sinuhaji kalau memang kedua merga ini merupakan keturunan sibayak karo2 purba.
Yang anehnya kok toba ‘tau” cerita sejarah karo?
Bagai mana kalau kami bikin versi jika merga sihotang itu berasal dari karo??
Kami bukannya tidak mau,tapi memang hal itu g penting buat kami karna memang orang toba itu g punya hubungan “khusus” dengan karo.hubungannya hanya kemiripan budaya,kedekatan daerah,bahasa,dll.
Dan itu tdk bias langsung diklaim.
Contoh dari bahasa,
Kata TOLE dalam bahasa karo artinya TAMBAH (makanan.miniman.dll)
Kalau kata TOLE dalam bahasa toba,kira2 apa artinya impalku?????
Terus siapa sih yang buat terombo versi toba itu? WM Hutagalung itu kok begitu gampang main comot2 marga orang dimasukkan ke toba? Itu kan ego namanya. Memang sudah sejauh mana ilmu antropolgnya sehinnga dia berani membuat tarombo itu?Kenapa teman2 toba ini lebih tau sejarah suku lain ketimbang suku itu sendiri?
Coba kakanda jawab….
@ buat bang B.parningotan
Saya mengutip :
“Memang orang karo sering mengaku lebih dekat ke India, tetapi kalau kita lihat warna kulit mereka lebih mirip kita, kecuali kalau sudah di jemur berbulan2 di sinar matahari barangkali. Sayangnya orang India tidak pernah menganggap orang Karo adalah bagian dari mereka. dan yang saya paling heran apa kehebatan orang India?
kalau mau menjadi Yahudi ya bisa dimengerti.
Kalau pak Ginting berlatar belakang agama Islam atau Kristen itu lebih seru lagi, rupanya pak Ginting tidak percaya dengan Adam dan Hawa sebagai moyang manusia ya? “
Kami bukan bangga sebagai keturunan orang india.bukan maksud kami membanggakan itu.menurut kami memang itulah cikal bakal nenek moyang kami,kususnya dari merga sembiring. Klau begitu,saya mau Tanya. Setau saya orang toba itu sering ngaku2 kalau neneak moyang mereka berasal dari fhiliphina.
Hal sama yg mau saya Tanya,apa sih hebatnya fhliphina itu?
Masalh adam dan hawa itu kejauhan om. Klau begitu,sudikah orang toba mengakui kalau orang melayu,jawa,minang,dll sebagai saudaranya BATAK ???
Gmn om???
Terus buat masalah dalihen ni tolu. Itu merupakan azas ideologi yang dianut oleh orang hindu jaman dahulu. Kenapa?
Diminang juga mengenal itu walaupun dalam nama yang berbeda.di bali juga. Kalau jaman sekarang iyu kira2 sama dengan pancasila jadi y jangan asal main2 comot gitu bang…
Akhirnya bang perningotan ini kekeh juga.dia bilang kata BATAK dihapus saja dan diganti dengan kata halak toba,halak simalungun………kalak karo.
Kenapa bang?habis ilmu ya?
Buat semua yang diblog ini saya mau Tanya ?
1.kenapa kalian orang toba memaksakan karo masuk ke batak dan sangat tidak setuju kalau orang karo tidak mau diblang BATAK?apa untung dan ruginya buat kalian.
2.permaslahan batak bukan hanya masalh orang karo.orang pakpak,simalungun,mandailing,gayo,nias,dll juga ogah dibilang BATAK. Silahkan tanykan mereka…
3.siapa sih SI RAJA BATAK itu?
4.kapan kata BATAK dipakai? Apakah sebelum penjajah datang(Portugal,belanda,inggris,jepang) kata batak sudah dipakai untuk menunnjukkan kalau BATAK itu merupakan nama sebuah bangsa?kalau ia kapan,dan mana sumber2 buktinya.
5.Terus kalau memang BATAK itu mencakup banyak sub-etnis.kenapa kalau ada even2 batak,kata HOras yg hanya dipakai.terus budaya ToBA yang hanya ditonjolkan,seolah2 BATAK itu hanya TOBA???
6.gini,kalau orang toba itu mendengar kata karo,langsung mau ketawa mereka.langsung muncul sindiran2 sperti merubah2 lagu mbiring manggis,sindirian ttng bahasa karo,dll. Itu apa maksudnya kalau orang toba itu memang bersaudara dengan karo???
Sedikit info,dihati dan jiwa orang karo dimanapun dia berada hanya ada kata KARO DAN BUKAN BATAK KARO. Seperti pada semboyan “ ADI KITA KALAK KARO,ERCAKAPLAH CAKAP KARO.”
BUKAN “ADI KITA KALAK BATAK KARO ERCAKAPLAH CAKAP BATAK KARO. “
Ayo saya tunggu jawabanya.
MEJUAH-JUAH
Tommy Surbakti
November 18th, 2010 pada 09:46
Mejuah-Juah,
Maridup Hutauruk, kalo soal padanan, saya sendiri sering bepergian ke daerah danau toba dan sekitar dan sering menemukan ngga ada padanan marga batak dengan merga karo (ini saya dapat dari orang-orang toba sendiri)
dari tulisan bang/pak Timotius A. Karo-Karo Purba
1.kenapa kalian orang toba memaksakan karo masuk ke batak dan sangat tidak setuju kalau orang karo tidak mau diblang BATAK?apa untung dan ruginya buat kalian.
- ia saya juga mau bertanya ini,
2.permaslahan batak bukan hanya masalh orang karo.orang pakpak,simalungun,mandailing,gayo,nias,dll juga ogah dibilang BATAK. Silahkan tanykan mereka…
- setuju, karena di salah satu blog saya pernah membaca komentar dari orang simalungun seperti ini (saya tidak mengerti bahasa simalungun, diterjemahkan oleh teman saya)
“Tongon do ai dahkam… Au pe lang setuju anggo hita ganub ihatahon batak. Tongon do ai memang sejarah ni peradaban suku ni ham ai na iulas iatas ai pasal sejarah harajan haru/ harou na gabe cikal bakal halak kita karo. Hanami pe lang ongga menentang in. Secara pribadi pe au lang setuju bani sejarah akal-akalan ni suku simbalog i siambiolu ni hanami….
tapi, naha ma bahenon, halani hita na manggoluhon
maningon do saling menghormati atap pe menghargai halak nalegan, se do mararti hita jadi suku halak ai…..
Pasal ni anggo rugi halani hita do na sukses, hapeni jadi batak do na jenges, batak do nasimbei tapi hita do na icap buruk in pe iahapkon hanami ganuban do… Se do pitah nassiam
Ai ma lobei tugah-tugahku, sebelum ni maapkon ham/ nassiam anggo dong na lepakku/ salahku hubamu.
Horas/ mejuah-juah”
6.gini,kalau orang toba itu mendengar kata karo,langsung mau ketawa mereka.langsung muncul sindiran2 sperti merubah2 lagu mbiring manggis,sindirian ttng bahasa karo,dll. Itu apa maksudnya kalau orang toba itu memang bersaudara dengan karo???
ia ini sangat benar, sewaktu aku mengikuti organisasi keagamaan di pulau jawa, waktu acara bebas, orang batak beberapa kali menyanyikan mbiring manggis yang diubah-ubah, dan kata-katanya kurang enak di dengar, kapan orang karo mengubah2 lirik lagu toba menjadi sindiran?
kalo dilihat dari komentar2 diatas semua, batak itu identik dengan batak toba ?? saya melihat orang2 ‘batak’ disini meminta sejarah/dokumen tentang kebenaran dari orang karo itu bukan batak ? sekarang bagaimana kalo orang ‘batak’ menunjukkan dokumen/bukti/sejarah bahwa karo itu adalah batak ? dan darimana asal kata batak itu ? saya membaca artikel di http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=75874:ichwan-azhari-nama-batak-bukan-dari-orangnya&catid=829:15-november-2010&Itemid=222 yang menyatakan bahwa batak itu tidak ada di dalam pustaha batak.
Maridup.Hutauruk
November 19th, 2010 pada 02:43
@Tommy Surbakti
Terimakasih Tommy Surbakti. Tentu saja saya sangat senang bahwa seorang Tommy Surbakti adalah orang Karo yang bukan Batak. Tentu semakin banyak yang mengatakan seperti ini semakin bagus, karena akan tiba saatnya yang disebut Batak itu akan murni sebagai Batak, tak adalagi yang abu2.
Timotius A. Purba
November 19th, 2010 pada 11:51
man seninangku Tommy Surbakti…
bujur man komen ndu e sen..
aq kuliah denga sen.semester 9 denga. lenga empo aq sen, e maka la padah kam kataken aq bapa..
mela aq sen…
hahahahaaaa,,,,,,
ia senina. aq pun heran kenapa “mereka” memaksakan kalo kita kalak karo ini merupakan batak. dan mereka mengatakan kalo simalungun, pakpak, mandailing ,dll itu batak. dan melihat yang komen, semuanya bermarga dari toba sana. tentulah meraka marah mendengar kalo mama j.Ginting buat artikel tersebut. pas ada impal kita bermarga sipayung menolak dikatakan batak simalungun, tapi simalungun saja. coba turang-senina kita dari pakpak,mandailing,gayo,dll koment disini pasti lain komentnya dan kalo memang batak itu mencakup multi etnis, lihat blog ini, semua membahas ttg adat toba. mana ada adat karo, simalungun, pakpak, dll. kan nampak kalo seolah2 mereka ingin membuat citra kalo disumut itu ada batak ( kalo memang meraka mengakui multi-etnis) dan batak itu hanya toba.
lihat di televisi kalo udah menyangkut batak pasti yg ada HORAS, terus ULOS, terus GONDANG BATAK, DANAU TOBA, PULAU SAMOSIR, RUMA BATAK, TANO BATAK, HALAK BATAK, LAGU BATAK, dll yang berbau BATAK ( TOBA ).
mana ada diputar ttg budaya Karo,simalungun,pakpak,mandailing,nias, bahkan melayu sumut…
mana ada…
statemen mereka kebanykan hanya berpatokan pada Tarombo MR. W.M. Hutagalung dan menutup kuping dengan Terombo suku lain.
lihat aja tentang merga karo2 sinuraya dan sinuhaji….
ok senina, sebenarnya saya masih banyak artikel2 ttg sumatra utara tempoe doloe. dan kalo kam mau berkoment lagi, coba kam buka di google judulnya “karo bukan batak”. disana saya juga berdebat ttg hal yg sama.
mejuah2 sen…
b.parningotan
November 19th, 2010 pada 16:18
Pak Tony Surbakti, Bahasa Simalungun di atas saya mengerti walau saya orang Toba dan
tidak pernah bergaul dengan orang Simalungun, Bagai mana, apa bahasa Simalungun itu bisa dimengerti oleh orang Karo yang tidak pernah belajar bahasa Simalungun?, saya hanya bertanya mengenai itu, tidak terlalu jauh………..
Maridup.Hutauruk
November 20th, 2010 pada 00:33
@Timotius A Purba
Saya orang silindung, komentator lainnya ada juga orang Humbang, saya dan mereka bukan orang Toba, tetapi dikatakan Toba ya boleh saja dan tidak merasa dikecilkan. Dikatakan orang Batak ya memang Batak.
Kalau ada orang Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing yang menulis artikel dan dikirim kepada pengelola situs, saya rasa mereka dengan senang hati mempublikasikan, tetapi kalo nggak ada yang kirim artikel, tetu saja orang Toba nggak merasa pas membuat artikel spesifik diluar Toba kecuali yang sudah bersifat domain.
Jadi, anda sepertinya hanya membuat argumen yang tidak beralasan, atau barangkali hanya kompensasi ketidaktauan saja?
Timotius A. Purba
November 20th, 2010 pada 10:35
@ buat b.parningotan : maaf ne agak ikut campur mengenai pertanyaan kam tersebut…
kam bilang orang karo mengerti apa tidak bahasa SIMALUNGUN..,
saya sebagai orang karo asli sedikit banyak mengerti akan kalimat simalungun yg dipetik oleh senina saya surbakti. karna kosa kata bahasa karo banyak yang mirip dengan kosa kata bahasa simalungun asli dan bukan yang di siantar sana. contoh lagu2 lama simalungun kata2nya banyak yang saya mengerti dan orang simalungun sana pun banyak yg mengerti bahasa karo.
bagitu kira2 pal…
saya pun berani taruhan kam pasti mengartikan kalimat simalungun tersebut pasti sepotong2, g secara keseluruhan karna ada bahasa simalungun yang tidak anda mengerti.
gimana pal ???
mejuah-juah
Timotius A. Purba
November 20th, 2010 pada 10:42
@ buat maridup hutahuruk,
kam bilang “Terimakasih Tommy Surbakti. Tentu saja saya sangat senang bahwa seorang Tommy Surbakti adalah orang Karo yang bukan Batak. Tentu semakin banyak yang mengatakan seperti ini semakin bagus, karena akan tiba saatnya yang disebut Batak itu akan murni sebagai Batak, tak adalagi yang abu2. ”
melihat kata2 anda, sepertinya anda kurang senang melihat pernyataan senina saya itu. tolong kam cermati dulu apa kata2nya, dia kecewa melihat sikap saurara toba nya yg sering mngejek2 suku karo dan hal itu hanya berani mereka lakukan dibelakang panggung. coba kalo ada perkumpulan karo, berani g “saudara” kami ini mengejek2 lagu karo pada saat perkumpulan itu????
ok, sebagai orang karo, saya menunggu janjindu itu kalau batak itu akan murni, tak ada lagi yang abu2….
mejuah-juah pal…
Timotius A. Purba
November 20th, 2010 pada 10:45
buat semuanya yang merasa “kecewa” melihat kalau karo itu bukan batak…
koment2 saya kok g pernah di balas????
Mejuah-juah…
b.parningotan
November 20th, 2010 pada 18:47
@timotius A Purba
SAya hanya mau bertanya pada Bapak
Banyak kemiripan bahasa Simalungun dengan bahasa Toba, jadi kalau orang Simalungun itu bukan Batak pertanyaan saya ……apa orang Toba itu Batak bukan…………….begitu saja pertanyaan saya
Horas
Maridup Hutauruk
November 21st, 2010 pada 09:43
Kemarin saya menghadiri pesta perkawinan Batak antara pengantin perempuan dari Silindung dan pengantin laki-laki dari Simalungun. Tondong dan tondong-tondong kebetulan sebagian dari marga Purba Simalungun, Purba Pakpak, Purba Karo.
Acara berjalan persis seperti adat batak yang saya kenal di Jakarta dan tak ada yang tidak dimengerti oleh keduabelah pihak. Saya tidak melihat perbedaan. Bahasa adat yang dipakai masing2 etnis ini sepenuhnya difahami bersama. Lagu pengiring tortor terpakai dari Karo, Simalungun, Toba, Samosir, Silindung, semuanya seirama mengundang ceria bagi siapapun yang hadir. Saya tidak melihat ada gap sedikitpun.
Jadi kalau ada suara2 sumbang yang dipaparkan oleh para komentator yang mengatakan etnis2 ini bukan satu dalam Batak. Saya rasa ini hanya pendapat pribadi dengan alasan tersendiri yang diarahkan sebagai kompensasi generalisasi (Provokasi). Mungkin alasannya sama seperti saya yang pernah sakit hati kepada seorang dari marga sendiri lalu kesal kepada semua orang yang memakai marga saya itu.
Makanya kalau kita berkomentar dalam forum umum, kita jangan mengorbankan nama baik kelompok, marga, komunitas, suku, bangsa, dalam hal ini Batak dan sub-Batak. Kita jangan terperangkap dalam sikap yang naif, narsis, dan istilah lain yang berorientasi kepada pola pikir pribadi.
Timotius A. Purba
November 23rd, 2010 pada 11:29
Mejuah-juah…
@ Buat impalku B.Parningotan…
Saya mengutip “SAya hanya mau bertanya pada Bapak
Banyak kemiripan bahasa Simalungun dengan bahasa Toba, jadi kalau orang Simalungun itu bukan Batak pertanyaan saya ……apa orang Toba itu Batak bukan…………….begitu saja pertanyaan saya. “
Begini pal, seperti yang telah saya uraikan sebelumnnya diatas ( argument saya sebelumnya dan belum anda jawab namun anda menbawa ke permasalahan lain) jikalau ada persamaan kosa kata antara suku karo, simalungun, toba, pakpak, dll perlu digarisbawahi itu karena persamaan letak geografis yang hampir berdekatan dan tentunya itu tidak bisa dijadikan patokan mutlak jika ada beberapa kosa kata yang mirip dikatakan satu suku (persamaan etnis). Jika persamaa kata kam jadikan patokan suatu suku itu dikatakan sama (satu etnis), ada beberapa kosa kata melayu di riau dan disumbar itu mirip (tulisan,bunyi, dan makna) dengan kosa kata suku karo, bahkan ada beberapa kosa kata suku karo itu mirip dengan kosa kata di jawa dan bali. Yang jadi pertanyaan saya, apakah impalku B.Parningotan mau dan berani mengatakan kalau orang melayu di riau, sumbar, jawa dan bali itu orang BATAK ???
Terus kam bilang apa TOBA itu BATAK ?? saya mau Tanya pal (dan pertanyaan ne udah berulang2 kali saya tanyakan namun tidak ada kam respon, direspon lah), kapan kata BATAK itu pertama kali terdengar? Apakah orang toba jaman dulu sebelum penjajah datang sudah mengenal kata batak? apakah sebelum penjajah datang sudah ada nama BATAK? terus apakah nama BATAK itu menunjukkan nama suatu bangsa? Tolong dijawab ya pal, tentunya memakai bukti2 yang akurat. Bukan dari cerita yang mengatakan kalau orang batak berasal dari siraja batak dipusuk buhit sana (ju2r pal, menurut saya alasan itu sangat tidak logis. Jangan2 100tahun lagi dikatakan Tuhan Yesus disalib di Tarutung sana)
Oh ya, bukannya kam dulu pernah mengatakan kalau kata BATAK dihilangkan saja dan diganti dengan kata Halak / Kalak saja…
Kok g konsisten kam pal??? Konsisten lah dalam mengeluarkan pendapat. Jangan plin-plan….
Nanti diejek orang kam pal…
@ buat impal ku M. Hutahuruk.
Saya mengutip “Saya orang silindung, komentator lainnya ada juga orang Humbang, saya dan mereka bukan orang Toba, tetapi dikatakan Toba ya boleh saja dan tidak merasa dikecilkan. Dikatakan orang Batak ya memang Batak.
Kalau ada orang Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing yang menulis artikel dan dikirim kepada pengelola situs, saya rasa mereka dengan senang hati mempublikasikan, tetapi kalo nggak ada yang kirim artikel, tetu saja orang Toba nggak merasa pas membuat artikel spesifik diluar Toba kecuali yang sudah bersifat domain.
Jadi, anda sepertinya hanya membuat argumen yang tidak beralasan, atau barangkali hanya kompensasi ketidaktauan saja? “
Begini pal, seumur hidup saya pal, saya tidak pernah belajar dan dengar ada suku silindung dan suku humbang. Yang saya tau sampai sekarang itu suku toba (batak toba). Silindung dan humbang setau saya itu nama wilayah bagian suku toba dan bagian dari tapanuli. Dan orang karo, simalungun,pakpak, gayo, alas,rao itu tidak masuk keresidenan tapanuli pal.
Coba kam lihat koment2 yang masuk pal, semua bermarga toba (terlepas daerahnya) yang menolak jika dikatakan suku karo malas dibilang batak. Coba lihat impal kita sipayung yang dari simalungun. Lihat dia berkata saya orang simalungun bukan batak simalungun. Karna belum masuk aja koment2 senina kita dari pakpak, gayo, alas, rao. Coba kalau ada yang masuk, pasti semakin seru pal…
Melihat kenyataan diatas, tentunya saya menulis argument saya ini dengan “sejuta’ alasan dan tentu saya memiliki bukti2 yang real… bukan karna saya tidak tau pal… Ato jangan2 kam yang tidak tau sama sekali….
Terus saya juga mengutip “Kemarin saya menghadiri pesta perkawinan Batak antara pengantin perempuan dari Silindung dan pengantin laki-laki dari Simalungun. Tondong dan tondong-tondong kebetulan sebagian dari marga Purba Simalungun, Purba Pakpak, Purba Karo.
Bukan bermaksud mengejek ne pal, namun beginilah kalau orang yang pengetahuannya sangat sedikit tentang suku orang lain, namun merasa sok sangat tau. Kam bilang purba pakpak? Apa bedanya purba pakpak dengan purba simalungun? Bukannya Purba pakpak itu merupakan bagian dari marga purba dari simalungun itu sendiri pal? Purba dari simalungun itu ada banyak pal, ada purba tua,girsang,pakpak,dll. Dan purba pakpak bukan berasal dari pakpak sana. Coba kam ke dairi sana dan lihat apa2 saja marga orang pakpak.. jadi, tidak ada perbedaan adat antara purba pakpak dan purba dari simalungun. Saya mau membahas mengenai purba karo pal. Oh impal… saya bermarga Purba karo, atau yang lebih dikenal dengan Karo-Karo Purba, dan Karo2 Purba itu sangat berbeda dengan Purba simalungun dan Toba dan tentunya adat dan tata cara pernikahan kami berbeda dengan adat toba dan simalungun. Purba simalungun sana kalau masuk karo sama dengan TARIGAN dan bisa kami nikahi,entah lah dengan purba toba kalau masuk karo apa.dan pada suku karo, marga PURBA itu hanya KARO-KARO PURBA.Dan ada lagi pal,saya tidak tau apa artinya itu tondong dan tondong-tondong itu…
Saya mengutip “Acara berjalan persis seperti adat batak yang saya kenal di Jakarta dan tak ada yang tidak dimengerti oleh keduabelah pihak. Saya tidak melihat perbedaan. Bahasa adat yang dipakai masing2 etnis ini sepenuhnya difahami bersama. Lagu pengiring tortor terpakai dari Karo, Simalungun, Toba, Samosir, Silindung, semuanya seirama mengundang ceria bagi siapapun yang hadir. Saya tidak melihat ada gap sedikitpun.”
Yakin kam pal kalau adat batak yang dipakai tak ada yang tidak dimengerti oleh keduabelah pihak?? Apa anda berani taruhan dengan mempertarukan kebatakan anda kalau tidak ada perbedaan adat antara toba, karo dan simalungun pada pesta tersebut?yakin kam kalau bahasa adat yang dipakai benar2 dipahami 100% oleh kedua belah pihak? Juga dengan suku karo, karna kam tadi ada bawa2 purba karo.
Benar saya bilang, kam orang yang tidak kenal baik adat suku orang namun merasa tau. Orang karo tidak mengenal tor-tor pal. Tarian orang karo sangat berbeda jauh dengan toba, dan alat musiknya pun berbeda. Tor-tor karo yang anda lihat itu modelnya macam apa pal?? Anda kan bilang kalau anda tidak melihat ada gap sedikit pun,itu kan pendapat anda… kalau pendapat orang karo itu gimana pal??
Saya juga mengutip : “Jadi kalau ada suara2 sumbang yang dipaparkan oleh para komentator yang mengatakan etnis2 ini bukan satu dalam Batak. Saya rasa ini hanya pendapat pribadi dengan alasan tersendiri yang diarahkan sebagai kompensasi generalisasi (Provokasi). Mungkin alasannya sama seperti saya yang pernah sakit hati kepada seorang dari marga sendiri lalu kesal kepada semua orang yang memakai marga saya itu. Makanya kalau kita berkomentar dalam forum umum, kita jangan mengorbankan nama baik kelompok, marga, komunitas, suku, bangsa, dalam hal ini Batak dan sub-Batak. Kita jangan terperangkap dalam sikap yang naif, narsis, dan istilah lain yang berorientasi kepada pola pikir pribadi.”
Begini pal, saya dan teman2 lain yg tidak setuju dengan penamaan batak bukan mau mempropokasi, namun untuk menjelaskan dengan argument, pengalaman, dan pengetahuan kami tentang jati diri bangsa kami.bukan mengeluarkan pendapat yang sumbang.dan Jujur, saya menulis argumen2 saya ini bukan karna sakit hati ataupun dendam,namun ju2r ada juga karna faktor kekecewaan,kenapa??ada alasannya pal…
Oh ya, bagaimana seandainya ada forum yang mengatakan kalau orang karo, simalungn, TOBA, gayo, pakpak,dll dikatakan bagian dari bangsa/suku/sub-suku/puak melayu??? pasti kam sebagai orang batak toba kebakaran jenggot kan??? Karena orang melayu itu juga punya marga, tari2an, kain uis/ulos(dengan bahasa yang berbeda), ada bahasa yang mirip, tidak boleh mengawini anak dari saudara bapak(sama marga), dan persamaan2 lainnya terlepas dari agama yang diyakininya.
Dan perlu kam tau pal, saya tidak menggorbankan nama baik kelompok,marga,komunitas,suku,bangsa saya. Saya menulis dengan penuh kejujuran. namun karna anda membawa2 nama marga dan kelompok, saya mau tantang anda dan tolong anda harus menjawabnya !!!
Ini mengenai terombo batak toba. Disana dikatakan kalau marga karo-karo sinuraya dan sinuhaji berasal dari keturunan marga SIHOTANG/Si Godang Ulu???
Padahal berdasarkan sejarah karo dan klan KARO-KARO, dikatakan kalau marga sinuraya dan sinuhaji itu merupakan anak/keturunan dari KARO-KARO PURBA.dan kuta sipanteken (kampung asal) tidak jauh letaknya dari kuta kalak merga karo-karo purba dan dikuta sinuhaji dan sinuraya tidak ada literature yang mengatakan kalau marga mereka berasal dari toba sana (SIHOTANG).
Kenapa hal ini bias terjadi pal?kenapa orang toba dengan gampangnya mengatakan kalau marga itu berasal dari toba?bagaimana seandainya marga sihotang itu dikatakan bersal dari karo?pasti kalian marah besar kan???
disini saya malah melihat kalau orang toba telah menggorbankan nama baik kelompok,marga,komunitas,suku,dan bangsa toba sendiri dengan dikeluarkannya tarombo itu. Itu baru dari klan karo-karo, bagaimana dengan klan2 lain seperti sembiring,tarigan,ginting,dan perangin2…
oh ya, coba kam jawab pertanyaan saya pada argument pertama saya tertanggal 6 november 2010 pukul 12.04. karna pertanyaan2 anda saya jawab satu-persatu dengan seksama. Juga argument2 saya yang kedua dan ketiga. Dan tentunya dengan bukti yang akurat, bukan cerita2 tahayul yang tidak masuk akal dan tidak sumbang tentunya…
bagaimana impalku???
Mejuah-juah…
Maridup Hutauruk
November 24th, 2010 pada 07:16
@Timotius A Purba
Horas impalku, kalau kita memposisika pola pikir ke arah perbedaan, maka semuanya memang berbeda. Kembar identik juga ada perbedaannya apalagi sub Batak yang sudah banyak berinteraksi dengan berbagai bangsa. Kalau Karo banyak berinteraksi dengan bangsa Keling, kan ngga bagus kalau orang Karo saya sebut bangsa Keling? Kalau Simalungun banyak berinteraksi dengan Jawa semasa Singosari dan Majapahit, kan ngga bagus orang Simalungun saya sebut Bangsa Jawa. Kalau orang Pakpak banyak interaksi dengan Aceh sementara bangsa Aceh yang di Utara adalah pendatang dari India Selatan, kan ngga bagus orang Pakpak saya sebut bangsa Aceh. Kalau orang mandailing banyak berinteraksi dengan bangsa Minang dan bangsa Lainnya (budis, keling) kan ngga bagus saya sebut orang Mandailing saya sebut bangsa Keling (Munda).
Saya mau kasih informasi penting kepada impalku Timotius A Purba, bahwa sebelum Belanda menjajah Tanah Batak, Batak sudah disebut sebagai bangsa. Coba baca buku History of Sumatra yang ditulis berdasarkan penelitian suku2 bangsa di Pulau Sumatra tahun 1776. Batak disebut sebagai penduduk asli Sumatra. Disitu tidak ada disebut Karo, yang ada adalah Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Singkil. Ada disebut Pakpak dan Dairi tapi sama sekali tidak disebut Karo.
Petualang-petualang Eropah sebelumnya juga menuliskan tentang Batak, seperti Tomme Pires, Odarus Barbosa, Nicolo Di Conti, bahkan Marco Polo di tahun 1290-an. Dan Tulisan awal tentang kata Batak sebagai komunitas penduduk sudah tercatat dalam tulisan Pliny di tahun 77 Masehi. Sumber dalam negeri menyebutkan Toba, termasuk Haru, dan kerajaan lainnya, dalam Negarakartagama.
Jadi apalagi yang kam mau sangsikan tentang sejarah Batak? Kalau Karo masuk dalam bagian dari Batak, ya sangat logis walaupun belakangan ini saja Karo masuk dalam sub-Batak dengan berbagai argumentasi yang tak terbantahkan. Kalau Batak dikatakan bagian dati Karo memang sudah tak pantas. Kalau Karo bukan bagian dari Batak boleh saja, tinggal lagi apakah orang2 yang mengaku Batak tega mengatakan Karo bukan Batak? Mereka mungkin berkata “Asal ma dang hita na mandok !’ (‘jangan kita yang bilang itu’).
Impalku Timotius A Purba, menyebut diri sebagai Batak bukanlah kenistaan, melainkan keagungan. Tetapi kalau impalku sendiri yang mengatakan bukan Batak, ya seperti sebutan tadi saja ‘asal bukan saya saja yang bilang itu – pantang !’
Jadi saran saya kepada impal Timotius A Purba untuk membaca tentang Batak yang sudah tercatat pada awal-awal bangsa-bangsa sudah berperadaban menulis (library). Setahu saya sumber2 sejarah tentang Karo berkembang hanya semasa penjajahan Belanda, paling2 hanya disebut-sebut kerajaan Haru.
mahda manalu
November 24th, 2010 pada 11:51
horas ras mejuah-juah….
b.parningotan
November 24th, 2010 pada 19:19
Maaf ya saya belum melihat peninggalan2 kerajaan haru, tolong dikirimkan bila ada foto2nya, terimakasih sebelumnya
Timotius A. Purba
November 27th, 2010 pada 11:00
@ Maridup Hutahuruk
Mejuah-juah pal…
Pa kabar kam, sehat2 kan…
Ternyata kam langsung respon ya…
Tapi sebelumnya, sentabi ne.. pertanyaan2 saya kepada anda kenapa tidak anda jawab satu-persatu??? Malah kam membawa ke permasalhan lain… dan saya tidak puas tentunya dengan respon kam seperti itu…
Baiklah,memperssingkat waktu saya akan mejawab komentarndu…
Saya mengutip “Horas impalku, kalau kita memposisikan pola pikir ke arah perbedaan, maka semuanya memang berbeda. Kembar identik juga ada perbedaannya apalagi sub Batak yang sudah banyak berinteraksi dengan berbagai bangsa. Kalau Karo banyak berinteraksi dengan bangsa Keling, kan ngga bagus kalau orang Karo saya sebut bangsa Keling? Kalau Simalungun banyak berinteraksi dengan Jawa semasa Singosari dan Majapahit, kan ngga bagus orang Simalungun saya sebut Bangsa Jawa. Kalau orang Pakpak banyak interaksi dengan Aceh sementara bangsa Aceh yang di Utara adalah pendatang dari India Selatan, kan ngga bagus orang Pakpak saya sebut bangsa Aceh. Kalau orang mandailing banyak berinteraksi dengan bangsa Minang dan bangsa Lainnya (budis, keling) kan ngga bagus saya sebut orang Mandailing saya sebut bangsa Keling (Munda).”
Begini pal,kalau pola pikir kita sama,tentunya saya tidak akan membuang2 waktu saya untuk beradu argument dengan anda2 dari batak (toba) sana. Dan kalau pun karo berinteraksi dengan orang keling sana, karo tetap lah karo. Itu membuktikan kalau suku karo merupakan suku yang pandai bergaul,mudah diterima suku lain,bersahabat,tutur kata yg halus,menghormati suku lain, dll. Coba kam lihat, dimana coba orang karo ditolak keberadaannya. Seperti Indonesia yg berinteraksi sama amerika, Indonesia tetaplah Indonesia kan pal?bukan amerika.. interaksi merupakan hal yang lumrah yang dilakukan oleh manusia. Pasti suku toba juga melakukan interaksi dengan suku lain,namun kenapa kam tidak bilang seandainya toba melakukan interaksi dengan orang minang orang toba itu merupakan orang minang?tentunya tidak kan pal. Karena saya juga mengakui kalo toba itu tetap suku toba terlepas kepada siapa mereka berinteraksi. Buka begitu impal ku???
Saya kutip “Saya mau kasih informasi penting kepada impalku Timotius A Purba, bahwa sebelum Belanda menjajah Tanah Batak, Batak sudah disebut sebagai bangsa. Coba baca buku History of Sumatra yang ditulis berdasarkan penelitian suku2 bangsa di Pulau Sumatra tahun 1776. Batak disebut sebagai penduduk asli Sumatra. Disitu tidak ada disebut Karo, yang ada adalah Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Singkil. Ada disebut Pakpak dan Dairi tapi sama sekali tidak disebut Karo.
Petualang-petualang Eropah sebelumnya juga menuliskan tentang Batak, seperti Tomme Pires, Odarus Barbosa, Nicolo Di Conti, bahkan Marco Polo di tahun 1290-an. Dan Tulisan awal tentang kata Batak sebagai komunitas penduduk sudah tercatat dalam tulisan Pliny di tahun 77 Masehi. Sumber dalam negeri menyebutkan Toba, termasuk Haru, dan kerajaan lainnya, dalam Negarakartagama.”
Begini pal, mengenai buku buku History of Sumatra tahun 1776 itu perlu kam kaji ulang pal. Dimana pertama kali orang2 eropa itu mendarat dibumi sumatrra dan kepada siapa pertama kali kata BATAK itu diberikn.. Bahkan didalam buku pustaha (sejarah orang2 toba dan sekitarnya) Kata batak tidak dikenal sama sekali pal. Bahkan dalam cerita2,adat, sejarah karo kata batak sama sekali tidak pernah didengar pal. Menurut beberapa penelitian yang saya baca,pertama kali kata batak itu dipakai untuk orang2 pedalaman di semenanjung malaka(Malaysia?) sana untuk orang2 pedalaman hutan yg sangat primitive..
Ini pal,saya tuliskan artkel tersebut dan mohhon kam baca baik2 ..
Nama Batak Bukan dari Orangnya
Batak sebagai nama etnik (suku) ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi oleh para musafir barat dan kemudian dikukuhkan oleh misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860 an.
Sebab dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha (tulisan tangan asli Batak) tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak.
Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak melainkan sesuatu yang diciptakan dan diberikan dari luar.
Demikian dikatakan sejarahwan dari Unimed, Ichwan Azhari dalam keterangan persnya, Minggu (14/11).
Ichwan Azhari yang juga Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial-Universitas Negeri Medan (Pussis-Unimed) yang baru mengakhiri penelitiannya selama 2 bulan pada arsip misionaris di Wuppertal, Jerman atas biaya Dinas Pertukaran Akademis (DAAD) pemerintah Jerman mengungkapkan, selain meneliti arsip misionaris Jerman, juga melengkapi datanya ke arsip KITLV di Belanda.
Selama meneliti, juga mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.
Kata Batak menurut Ichwan, awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke Sumatra dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata .
Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan,” ungkap Ichwan.
Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden juga ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia.
Penyebutan itu sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Saat Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks disebut : “masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak.Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu.”
Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak.
Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.
Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka, ujarnya.
Sedangkan di Sumatra Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu, ungkapnya.
Ragu-Ragu
Dalam penelitiannya di arsip misionaris Jerman di Wuppertal sejak bulan September 2011, Ichwan Azhari melihat para misionaris sendiri awalnya mengalami keragu-raguan untuk menggunakan kata Batak sebagai nama etnik.
Hal ini dikarenakan kata Batak itu tidak dikenal oleh orang Batak ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal. “Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku,” terangnya.
Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu arsip berisi informasi penting berkaitan dengan aktifitas dan pemikiran di tanah batak sejak pertengahan abad 19 itu, Ichwan menemukan dan meneliti puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman terkenal bernama Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.
Dari peta-peta yang diteliti tersebut, ungkap Ichwan memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan lepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya.
Dalam peta-peta kuno itu kata Bata Lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo dimana nama batak tidak ada sama sekali.
“Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau,” ucapnya.
Bata Lander
Kata Ichwan, kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. “Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata batak itu,” ucap Ichwan.
Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman dan kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatra Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20 bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.
Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka.
Bahkan dalam penelitian itu, ujar Ichwan ditemukan nama Batak digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam.
Dalam sebuah majalah yang diterbitkan di Kotanopan, Tapanuli Selatan, tahun 1922 oleh pemimpin orang-orang Mandailing seperti Sutan Naposo, Gunung Mulia dll, mereka menggunakan kata Batak sebagai identitas.
“Bahkan nama media mereka diberi nama Organ dari Bataksche-Studiefonds dan uniknya mereka tidak menggunakan marga Mandailing mereka di belakang nama,” ungkapnya
Melihat artikel tersebut, apakah suku pedalaman yg ada dimalaysia dan filiphina sana berani kam bilang sebagai orang batak? Diartikel tersebut juga dijelaskan bahwa pertama kali para musafir pemberi nama batak ini tiba disemenanjung Melaka(Malaysia?).yg jadi pertanyaan, apakah orang2 toba (batak) letak geografisnya terletak di semenanjung Melaka?bukannya di tengah2 sumatra dan dipinggir pantai barat Sumatra?
Saya juga mengutip kata2 anda (kalaupun itu saya benarkan) yaitu “Batak disebut sebagai penduduk asli Sumatra. Disitu tidak ada disebut Karo, yang ada adalah Mandailing, Angkola, Silindung, Toba, Singkil. Ada disebut Pakpak dan Dairi tapi sama sekali tidak disebut Karo.”
Kam bilang karo tidak masuk batak. Ya udah, kan jelas kalau karo itu bukan batak. kenapa anda harus bekoar2 kalo karo itu batak? Dan kenapa anda harus kebakaran jenggot dalam menaggapi kalau suku karo itu menolak kebatakkannya?? Jadinya pernyataan anda sendiri yg membunuh anda kan???
Saya juga mengutip “Jadi apalagi yang kam mau sangsikan tentang sejarah Batak? Kalau Karo masuk dalam bagian dari Batak, ya sangat logis walaupun belakangan ini saja Karo masuk dalam sub-Batak dengan berbagai argumentasi yang tak terbantahkan. Kalau Batak dikatakan bagian dati Karo memang sudah tak pantas. Kalau Karo bukan bagian dari Batak boleh saja, tinggal lagi apakah orang2 yang mengaku Batak tega mengatakan Karo bukan Batak? Mereka mungkin berkata “Asal ma dang hita na mandok !’ (‘jangan kita yang bilang itu’).
Impalku Timotius A Purba, menyebut diri sebagai Batak bukanlah kenistaan, melainkan keagungan. Tetapi kalau impalku sendiri yang mengatakan bukan Batak, ya seperti sebutan tadi saja ‘asal bukan saya saja yang bilang itu – pantang !’”
Malah saya yg meyangsikan kalau batak itu memang ada atau tidak. karna orang2 pedalaman sum.utara itu jaman dulu tidak kenal kata batak pal. Jangan bohongi diri anda sendiri pal, jujur lah dari hati kecil anda. Coba baca sekali lagi buku pustaha itu. Atau kam belum pernah baca dan dengar ya pal???? Permasalahan karo diterima sebgai batak apa tidak, kami orang karo tidak ambil pusing,karna kami memang bukan batak, tetapi suku karo saja. Malah kalian orang batak toba ini yang ambil pusing dengan mengatakan kalo karo itu batak dan sangat kebakaran jenggot melihat kami suku karo menolak kebatakkan kami. Apa sih untungnya buat kalian?? Dosa besar ya bagi kalian kalo suku karo ini tidak mau dibilang batak? Sebagai contoh pal,lihat lagu2 karo.disana tidak ada dikatakan kata batak karo,yang ada karo saja.lihat juga dalam hal2 lain seperti rumah adat, dll. Yang ada Cuma tanah karo bukan tanah batak karo.
Sedikit informasi buat kam pal, dimalaysia sana mereka memasukkaan suku karo,toba,pakpak,simalungun,gayo,singkil,mandailing,dll sebagai puak melayu. Kenapa pal?menurut info yang saya dapat dan saya baca, alasannya karena melayu menurut mereka adalah orang2 yang tinggal disemenanjung malaka,Sumatra,dan kepulauan Sumatra. jawa tidak masuk melayu. Terus pal mereka melihat banyak kesamaan budaya antara suku disumatra utara dengan melayu, seperti punya marga, tari2an, kain uis/ulos(dengan bahasa yang berbeda), ada bahasa yang mirip, tidak boleh mengawini anak dari saudara bapak(sama marga), dan persamaan2 lainnya terlepas dari agama yang diyakininya. Pastinya melihat itu kam kebakaran jenggot kan? Buat apa kam bangga dengan penamaan bangsa anda yang anda dapat dari bangsa lain. Andaikata jaman dulu orang2 luar sana memberi nama bukan batak tapi “ingus.” kam mau nama suku anda jadi ingus toba? Maaf pal, karena memang kenyataan kalau dulu orang2 disumatra utara tidak mengenal kata BATAK dalam sejarahnya.kalo kam masih bersikeras, coba buktikan pada saya dan kami kalau dalam pustaha (tulisan asli suku2 dipedalaman Sumatra) ada kata batak dan kata batak itu menunjukkan nama suatu bangsa.
Saya mengutip “Impalku Timotius A Purba, menyebut diri sebagai Batak bukanlah kenistaan, melainkan keagungan. Tetapi kalau impalku sendiri yang mengatakan bukan Batak, ya seperti sebutan tadi saja ‘asal bukan saya saja yang bilang itu – pantang !’
Jadi saran saya kepada impal Timotius A Purba untuk membaca tentang Batak yang sudah tercatat pada awal-awal bangsa-bangsa sudah berperadaban menulis (library). Setahu saya sumber2 sejarah tentang Karo berkembang hanya semasa penjajahan Belanda, paling2 hanya disebut-sebut kerajaan Haru.”
Bagi saya menyebut diri saya batak bukanlah suatu keagungan sama sekali,bahkan menurut saya itu adalah pembohongan,pembodohan,dan kelemahan. Saya lebih bangga disebut orang karo saja tanpa embel2 batak. Keagungan menurut saya apabila saya dikatakan orang Kristen saja(maaf kalau agama anda berbeda),bukan batak yang notabene pemberian bangsa lain untuk menghina kita.
Malah saya yg perlu menyarankan anda untuk lebih memperdalam suku anda sendiri ketimbang suku orang lain. Agar kam tidak dibilang orang yang sok tau,sok pintar,dan sok mengerti suku lain.Biar kam tau pal, kerajaan haru itu didalam banyak kitab sejarah dituliskan sebagai kerajaan yang besar disumatra pada jamannya. Bahkan majapahit tidak mampu untuk mengusainya. mana ada sejarah kerajaan di toba sana yang ada tercatat. Karena pada jamannya orang2 toba tidak mengenal system pemerintahaan.kata raja pada toba bukan menunjukkan kalau dia seorang pemimpin.beda dengan makna raja pada suku karo.
Oh ya pal, kalau kam memang begitu paham ttg suku lain kenapa anda sama sekali tidak menjawab pertanyaan2 saya secara kompleks dan satu-persatu sebagaimana saya menjawab segala komentar kam. Malah saya lihat kam melempar permasalhan yang lain dimana anda belum tentu tau akan permasalhan itu.
Demikianlah pal kira2, agar wawasan kita akan suku kita terbuka pal dan agar kita lebih menghormati sejarah dan pandangan suku orang lain terhadap sukunya sendiri. Seperti kami orang karo yang tidak pernah memaksakan sejarah kami diterima oleh orang toba dan lainnya.kami juga tidak pernah mengatakan kalau orang toba dan lainnya merupakan bagian suku karo. Itu saja pal…
Mejuah-juah….
S.T.Sihombing
November 27th, 2010 pada 21:55
Horas mejuah-juah,
Luar biasa tanggapan2 yg saya baca diatas. Tampaknya para saudaraku diatas yg memberi tanggapan semua orang2 pandai dan terpelajar.
Topik yang sungguh menarik,dgn ulasan-ulasan dan tangapan-tanggapan yg tidak kalah menarik. Berbagai data,kajian,rujukan,sumber pustaka semua dikeluarkan.
Lagi-lagi kalo sudah masalah yang bersifat dikotomitas pasti hangat dan tidak akan pernah ada pangkal ujungnya. Masing-masing akan tetap “kekeuh” untuk mempertahankan pendapatnya. Tadinya saya mau buka tulisan saya dgn kata-kata: Kalo ditanah Karo saya bukan Sihombing tapi Karo-karo. Tapi takut,nanti akan digempur habis-habisan. Hehehe.
Berbagai buku-buku sejarah yang saya baca dari versi Si anu dibanding dengan versi si adu makin membuat saya makin puyeng. Padahal tadinya bermaksud utk menambah pengetahuan tapi justru jadi menambah keragu-raguan,akhirnya jadi “pla’un” sendiri. Yang lebih fatal lagi,keimanan saya nyaris goyah ketika saya membaca buku-buku yang mengulas tentang sejarah Agama. Nah…ini yang lebih sadis lagi. Mulai dari Injil ke -5 sampai ke Davinci Code. Mampus dah gue…mana yg benar ini?
Pergi ke Gereja A bilangnya begini,pergi ke Gereja B bilangnya begono. Sama-sama Gereja. Nah loh……..makin *&^(%(&^$*%$(^%&
Saudara-saudaraku baik dari Toba maupun Karo, oh ada juga yg Simalungun yah…..
Perbedaan pasti selalu ada bahkan sampai setitik debu sekalipun bisa dicari kalau memang niatnya mau membeda-bedakan. Begitu juga dgn persamaan,mulai dari yang dekat sampai yg jauh bisa saja “disama-samakan” ,kalo memang mau lihat persamaan.
Bila perlu jangan terbatas membahas yang dekat-dekat saja, langsung kita tembak yang jauh seperti daerah kepulauan Pacific ada Bangsa Tonga. Kalo mau dicari yang mirip-mirip banyak sekali. Kenapa tidak sampai di situ kita bahas?
Seharusnya sih kalau menurut saya kitalah yg berpatokan pada sejarah jangan sejarah yang berpatokan pada kita. Tapi itulah hebatnya manusia ini. Semakin tinggi pendidikan,semakin banyak pengetahuan akhirnya ya jadi gitu deh. Sampe-sampe ada sejarah katering yg denotasinya berarti sejarah tergantung pesanan. Ada lagi sejarah dianggap sebagai masakan. Tergantung siapa koki/pembawanya. Bagaimana penambahan/pengurangan bumbu2nya.
Semuanya kembali kepada kita masing-masing mau bagaimana dan seperti apa menyikapinya.
Sedikit penutup ditulisan saya yang mungkin kurang bermutu ini,saya mau cerita ttg profil diri saya sendiri. Saya bermarga Sihombing Lumbantoruan ( yg sudah terlahir sudah memang itu marga saya dan sudah takdir lahir dr keluarga Toba, apa saya bisa memilih sebelum datang ke Dunia ini?? hehehe). Saya beristrikan boru Purba Pakpak dari Simalungun. Nah,kalo sampe kami dirumah ngotot2an tentang istilah etnis,sub-etnis atau apapun istilahnya didalam kamus EYD, bisa modar rumah tangga kami. Yang kasihan putri kecilku yg baru lahir. Mau gimana dia,apa bisa darah itu dibagi 2 menjadi: 50% Toba atau 50% Simalungun? atau dibagi sistem waktu saja kalau AM jadi Toba terus kalau PM jadi Simalungun?
Weleh-weleh….terlalu lugu dan polos putri kecilku untuk menerima yg begituan…kasihan.
Mungkin itu saja dulu dari saya.Selamat malam semuanya
Mauliate,Bujur.
Maridup Hutauruk
November 28th, 2010 pada 01:48
@Timotius A Purba. (saya pakai istilah predikat diluar etnisitas saja, supaya tidak saya tanamkan kemunafikan dalam diri saya);
Ada dua kutub yang bertolak belakang antara saya dan anda dalam memandang TOPIK BAHASAN. Bila saya memahaminya dari sudut pandang makro, sementara anda memahaminya dari sudut pandang mikro yang sangat terbatas, dan saya kali ini saja terakhir menanggapi artikel ini berdasarkan poin2 dari tanggapan anda:
1. Saya rasa tidak perlu harus memberikan penjelasan secara khusus atas poin2 yang anda paparkan dalam tanggapan anda karena kepentingan forum ini bukan untuk menjelaskan kepentingan anda tetapi hanya yang saya anggap penting saja dari tanggapan anda itu, yang saya perlu dijelaskan untuk diketahui umum berdasarkan pemahaman saya.
2. Bahasa saya dalam menyampaikan pendapat (termasuk komentator lainnya), menurut saya bukan sedang kebakaran jenggot, tetapi anda mengemukakan istilah ini dengan menyelipkan kata2 yang menjurus kepada bahasa yang bukan dari kalangan intelektual seperti kata ‘Batak Toba’ anda mengandaikannya bisa diganti dengan ‘ingus toba’.
3. Anda seolah memaksakan saya untuk menjawab apa yang anda belum ketahui, apa hebatnya? Saya hanya berupaya memberikan pemahaman saya kepada orang banyak, bukan kepada anda seorang?
4. Anda sepertinya sangat mengidolakan apa yang dikatakan oleh Antropolog Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari, yang dimuat di detiknews.com tanggal 15 Nopember 2010, sehingga semuanya anda telan bulat-bulat dan anda copy-paste ke ruang tanggapan anda, tanpa ada terlihat apa yang keluar dari pemikiran anda. malah anda menuliskannya secara salah dengan menyebutkan penelitian itu dilakukan pada September 2011, sementara tahun 2011 kan belum tiba?
5. Anda menyebutkan bahwa Dr. Phil Ichwan Azhari melakukan penelitiannya hanya selama 2 (dua) bulan, lalu menyimpulkan apa yang dipaparkannya dalam ‘Press Release’ berjudul ‘Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman Dan Belanda’. lalu anda menganggapnya sebagai kebenaran. Kalau hanya dalam 2 bulan, berapa buku yang dapat dia baca? Tahukah anda literatur2 penelitian yang sudah berbentuk text-book memiliki jumlah halaman sekitar 500-1000 halaman? Tidakkah anda mencurigai penelitiannya ini ada sesuatu? (misalnya: ada udang dibalik mie kwitiaw)
6. Dengan hanya membaca press-release dari Dr. Phil Ichwan Azhari, lalu anda menganulir penelitian yang dilakukan oleh William Marsden selama ber-tahun2 menyusuri pedalaman, bahkan memakan korban, sementara Dr. Phil Ichwan Azhari hanya studi literatur yang sangat singkat lalu membuat kesimpulan yang anda fahami sebagai sebuah kebenaran?
7. Dr. Phil Ichwan Azhari, mendasari pemahamannya tentang Batak berdasarkan awal datangnya missionaris Jerman di tahun 1860, sementara saya sudah informasikan kepada anda bahwa kata batak itu sudah tertulis oleh Pliny dalam buku Natural History tahun 77 Masehi. Bahkan ada penelitian arkeologis yang ditemukan di Haifa (Israil Utara) atas sebuah kapal karam (barang dagangan) bertarik sekitar 3000 – 2000 tahun sebelum masehi yang terdapat tulisan hieroglyph dengan kata ‘bata’ (mirip aksara Batak untuk kata ba + ta) yang dikaitkan dengan barang dagangan dari Sumatra? (Sekarang sedang dikaji di Saraswati Research Center-India)
8. Saya faham dengan sejarah Batak di Filipina dan Batak di Bulgaria. Bila anda ingin memahaminya sebelum anda mengait-ngaitkannya, coba anda baca buku ‘On The Road To Tribal Extinction’ untuk Batak Filipina dan sejarah Pembantaian etnik Batak di Bulgaria oleh Ottoman-Turki.
9. Saya punya sebagian arsip KITLV tentang Batak. Saya sudah baca narasi dari Sir Stamford Raffles -maret 1825 tentang ‘Canibalism in Sumatra’ yang ditulisnya berdasarkan buku diary Miss Frances William Wynn (putri petinggi Inggris) yang ditulisnya antara tahun 1797-1844. Bandingkan dengan tahun penelitian oleh William Marsden 1776.
10. Saya sudah baca buku ke-3 interpretasi catatan perjalanan Marco Polo dimana pada Bab-VIII s/d Bab-XI ada menceritakan tentang Batak. Ingat ! Buku ini berjumlah halaman 943 halaman. Marco Polo melakukan petualangannya tahun 1290.
11. Ada yang saya setujui dari apa yang dipaparkan oleh Dr. Phil Ichwan Azhari, karena kemungkinan beliau mendapatkannya dari literatur yang sama seperti yang saya baca.
12. Kalau saya membuat komentar2 sebelumnya tentu karena pemahaman saya tentang Batak berdasarkan Literatur, bukan saya buat-buat menurut selera saya pribadi yang saya comot2 dari persoalan grass-root, semisal hanya karena slip of the tongue menyanyikan lagu Karo, kemudian ada satu-dua orang yg tidak senang, lantas dikondisikan sebagai kebencian yang public-domain.
13. Anda katakan saya sok tau, sok pintar, sok mengerti suku lain. Dan anda katakan Kerajaan Haru besar pada jamannya dan bahkan Majapahit tidak mampu menguasainya. Lalu anda sok tau dengan mengatakan “mana ada sejarah kerajaan di toba sana yang ada tercatat. Karena pada jamannya orang2 toba tidak mengenal system pemerintahaan. kata raja pada toba bukan menunjukkan kalau dia seorang pemimpin. beda dengan makna raja pada suku karo”.
14. Saya sudah menulis sekitar 100-an judul ‘artikel-serius’ dengan berbagai topik bahasan, termasuk tentang Batak. Jadi jangan katakan saya sok tau, “memang saya tau”.
15. Seperti sudah saya katakan sebelumnya bahwa pada ekspedisi Pamalayu di Kitab Nagarakartagama, yang disebutkan terlebih dahulu disana adalah kerajaaan TOBA (bukan Haru), kemudian setelah disebutkan beberapa kerajaan lainnya, barulah disebutkan kerajaan Haru. Apakah anda sudah baca pupuh-pupuh dari kitab Nagarakertagama? Tidakkah anda tau bahwa Kerajaan Majapahit pernah memberikan upeti ‘Putri Majapahit dikawini oleh raja batak’, sementara Putri Aceh dibawa Majapahit sebagai upeti kepada raja Majapahit, Putri Minang tidak jadi dibawa sebagai upeti kepada Majapahit karena kalah dalam tanding kerbau (Peristiwa Minangkabau), Putri Sriwijaya dibawa sebagai Upeti Kepada raja Majapahit, Putri Priangan yang dihantarkan oleh para pendekar Pajajaran sebagai upeti untuk Majapahit akhirnya mati dalam Perang Bubat.
16. Saya rasa untuk pengunjung lain sudah cukup saya berikan informasi sebagai pemicu untuk mempelajari tentang Batak untuk dibandingkan dengan Karo atau dengan sub-batak lainnya, dan kalau saya lihat inteligensi pemahaman anda, maka perlu waktu yang lama untuk mampu memahaminya. Maaf untuk selanjutnya, menurut saya tidak perlu saya menanggapi apapun yang anda ketahui tentang Batak atau Karo, karena dihati anda sudah ada ‘KEBENCIAN’,
17. Tujuh belas poin ini sudah cukup untuk memberikan pencerahan kepada anda. Apabila maksud anda dalam komentar2 anda hanya bermaksud untuk membuat agitasi, maka anda sudah berhasil mengorek ilmu dari saya. /Selamat menikmati.
agustinus
November 28th, 2010 pada 13:16
horas dan mejuah-juah,
apakah tidak bisa didiskusikan ke forum yang lebih resmi?
koment2 ini hanya mengarah untuk meretakkan hubungan,karena mau tak mau sebagai orang yang merasa benar akan selalu membenarkan pendapatnya dengan segala bukti-bukti sejarahnya dan ujung-ujungnya akan menimbulkan emosi.
kita harus sadar seyogiyanya kita lebih mempertahankan kerukunan yang sdh ada dan tidak mencari2 kebenaran sendiri2.
saya hanya khawatir hal ini hanya akan membawa opini2 yang berdampak negatif.
biarkan mengalir seperti air dan itulah yang terjadi selama ini.
saya masih muda dan tidak ada maksud menggurui.
terimakasih.
roria antik
Desember 9th, 2010 pada 14:23
ribet…
kl ga mau dibilang batak gpp…
holan toba petaho dang pola bohai…
marsibaen nabinotona ma akka namalo i…
Timotius A. Purba
Desember 11th, 2010 pada 12:06
@ S.T.Sihombing..
Mejuah-juah horas buat kam…
Manggil apa saya ini, senina ya??? Karna pernah dulu sewaktu saya masih kecil tetangga aya bemarga sihombing datang kerumah saya dan menyuruh saya memanggil dia dengan kata bapak,karna semarga dengan saya (karo-karo).
Begini senina, bukannya saya mau bermaksud mempropokasi disini. Maksud saya disini utk menjelaskan dengan pengetahuan,pengalaman,dan kejujuran dengan sudut pandang saya dan orang karo kebanyakan kalau suku karo itu bukan suku batak (persamaan etnis). Kalaupun sekarang ada orang karo yang mau dibilang batak itu hanya merupakan persamaan kepentingan politik,senasib dan sewilayah saja, BUKAN SESUKU/SE NENEK MOYANG. Dan dengan adanya suatu teori yg menurut saya tdk masuk akal sama sekali dan besfifat sangat memaksakan dengan mengatakan SEMUA ORANG BATAK DAN BERMARGA (TOBA,SIMALUNGUN,KARO,PAKPAK,MANDAILING,DLL) MERUPAKAN KETURUNAN SIRAJA BATAK DIPUSU BUHIT SANA…
Dan perlu digaris bawahi kalau yg pertama kali membahas dan ikut campur dalam hal ini adalah blog ini yang notabene punya suku toba dengan mengangkat thema: “KENAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK”. UNTUK APA COBA SENINA KU? Untuk apa coba kalau bukan mau cari sensasi? Terus lucunya, orang2 yg tidak senang ini beraninya dibelakang saja ngoceh2, kenapa sewaktu forum oleh bapak J.Ginting itu berlangsug mereka tidak berani beradu argument? Sebagai pembanding seninaku, dan juga senina2 dan turangku dari toba coba kam baca blog ataupun situs2 karo, mana pernah kami meributkan ttg suku toba sepeti kalian yang doyan sekali bikin ribut…
Begitulah kira2 seninaku Sihombing mergana,,,,
Semoga kam sehat2 selalu..
Mejuah-juah-Horas…
@ M. Hutahuruk
Saya mengutip “@Timotius A Purba. (saya pakai istilah predikat diluar etnisitas saja, supaya tidak saya tanamkan kemunafikan dalam diri saya);Ada dua kutub yang bertolak belakang antara saya dan anda dalam memandang TOPIK BAHASAN. Bila saya memahaminya dari sudut pandang makro, sementara anda memahaminya dari sudut pandang mikro yang sangat terbatas, dan saya kali ini saja terakhir menanggapi artikel ini berdasarkan poin2 dari tanggapan anda”
Saya mau Tanya pal, maksud kemunafikan itu apa pal?kenapa begitu pal? Apa karna teori2 anda terbantahkan semua???
oww.owwww… kam bilang saya melihat dari sudut pndg mikro yg sangat terbatas?apa buktinya terbatas pal??? nampak kan anda egois dlm berpendapat dan bersifat menghakimi???
Wah,banyak juga ya pertanyaan kam…
Ok sebagai pria yg gentle, saya akan membahasnya satu per satu (hal yg tidak kam lakukan pada saya).
NB : maaf kalau saya tidak tulis pertanyaan2 anda,langsung saya jwb saja ya…
1.Kenapa pal?atau jgn2 kam g tau apa2 ya ttg suku karo dan tdk bisa mnjwb pertanyaan2 saya? akui saja pal….
2. Itu kan menurut anda tdk kebakan jenngot,saya saja dan teman2 saya diwarnet ini (ada orang karo,simalungun,dairi,melayu,jawa,minang,dll) mengatakan kalian orang2 toba kebakaran jenggot melihat kenyataan kalau kami orang karo ogah dibilang orang batak?kalau bukan kebakaran jenggot,buat apa kam repot2 menjawab dengan segudang buku yang baca dan kelihatannya sangat takut kalah berdebat pal? jujur saja lah… malu kita kalau dibaca orang lain…
3. Saya bukan bermaksud memaksa,hanya menantang anda yg kelihatannya memang sok tau itu ttg suku karo.. ada hal yg saya tau dan tidak tau.yg tidak tau itu yg coba saya tnyakan sama kam yg “kelihataanya” tau itu… atau anda memang sama sekali g tau apa-apa ya ttg suku karo??? Berbeda dengan saya yang memang kurang paham dengan sejarah suku toba..
4. Oh itu ya pal, itu merupakan kesalahan teknis penulisan tanggal pal.saya akui saya kilaf dan saya memang mengkopi teks tersebut pal. jujur saya kan pal????
5. Begini pal,pastinya kalau kam bijak dan pintar coba kam lihat titel2 yg disandang beliau.tentu bukan orang biasa macam kita kan pal? tdk mungkin kan kalau dia dpt title itu dengan penelitian yg bohong?apa lagi tesis mengenai batak,sudah pasti ada dosen pengujinya orang batak kan pal?ato kam g pernah mengenyam bangku kuliah y???? tentunya saya mengambil kesimpulan kalau tulisan beliau itu 80% benar dengan penelitian,pangamatan,observasi,wawancara dan terjun lansung kelapangan. Tdk seperti cerita2 konyol yg mengatakan kalau nenek moyang orang batak berasal dari siraja batak dipusu buhit sana kan? saya tau jmlah literature dijerman&belanda mancapai 1000an. Tapi kan pal,kalau sudah masuk perpustakaan pasti setiap halaman sudah dipilah2,diberi keterangan,dll agar memudahkan pengunjung dan peneliti utk meneliti kan pal? ato kam g pernah ya masuk perputakaan ???? kan dari 1000an literature itu g semua menyebutkan ttg sejarah batak kan? pasti ada ttg lagu2,legenda,poto2 jaman dulu,dll. paling sekitar 40% menceritakan ttg sejarah asli suku2 di pedalaaman sumatra utara. Dan juga pal,kan beliau itu melakukan wawancara dan diskusi dengan ahli sejarah dijerman dan belanda kan sehingga dia mendapatkan data yang cukup valid. Bukan ada udang dibalik mie kwitiaw. atau jgn2 kam sewkatu menulis artikel kam ini, kam lagi makan mie kwiriaw yang ada udangnya sehinnga kam jadi tiba2 bertambah pintarnya ya????
6. Sama seperti jawaban nomor 5 pal.saya yakin dia tdk bebohong.lagi pula dia orang yang indepanden(bukan orang batak) jadi pasti dia tdk merekayasa kan pal?beda kalau penelitinya orang batak, itu baru dipertanyakan…
7. anda bilang kata batak itu sudah tertulis oleh Pliny dalam buku Natural History tahun 77 Masehi? tahun 77 pal? wah hebat sekali itu.. setau saya kalau tahun 77 itu inggris belum berbentuk kerajaan pal. Jangan ngawur lah.. tahun 77 kam bilang?berarti buku itu sudah berumur 1933 tahun?wah mengimbangi ALKITAB ne… ckckckckcccckkkkkkkkkkkk…………. Terus kam bilang tahun 2000-3000SM? Emang orang batak sudah tau menulis pal??? Setau saya huruf batak itu mirip dengan huruf palawa (tau huruf palawa kan pal?). dan huruf palawa itu berasal dari india.dan menurut catatan sejarah,bangsa india datng ke Indonesia sekitar tahun 100an. Berarti pada 2000 SM orang batak g tau nulis kan pal?????
Terus kam bilang tertulis kata “bata” yg mirip aksara batak(ba+ta). Kan mirip pal,bukan berarti sama kan. Terus kata “BA+TA” apa maknanya sama dengan kata “BATA” ???
8. kam bilang ada penamaan kata batak difhiliphina dan Bulgaria. Wah, saya baru dengar tu kalau dibulgaria ada suku batak? Jangan2 mereka juga anaknya SIRAJA BATAK dari PUSUK BUHIT yang merantau kebulgaria ya pal? apa2 aja marga mereka pal?jangan2 ada paman saya ne dibulgaria atau ada impal saya ne disana…. Coba lah pal kam jelaskan,saya g ngerti dan belum baca tuh buku yg kam sarankan. Kalau bias,tuliskan ya artikel tersebut diblog ini…
9. tuliskan artikelnya pal…
10. ttg marco polo pal.ada yg mau saya Tanya.dimana pertama kali dia tiba disumatra pal?bukankah dipantai timur Sumatra?saya mau Tanya,anda tau apa tidak, posisi geografis tapanuli itu dimana pal????
11. ah,saya rasa tidak juga.apa anda pernah langsung kejerman dan belanda utk meneliti pal?ato jgn2 Cuma ngarang?kalau memang sama,kenapa kam dari pertanyaan 1-10 menolak artikel yg dituliskan beliau. Nampak kan anda ngawurrrr bin ngarang……
12.bukan apa2 pal, ok lah kam jago teori.tap kenyataannya pal.. orang2 toba itu malas bergaul dengan suku karo pal.karo dan toba ini selalu bertentangan dalam berfikir pal. Bukan maksud saya mempropokasi,tp itulah kenyataaan. Kenapa nama batak disumatra utara tidak popular pal, namun hanya popular diluar Sumatra utara?
13. itulah kenyataan pal. Menurut saya kam memang begitu pal. Mulai dari artikel kam kepada saya tertanggal 21-11-2010.anda dengan entengnya mengatakan ada purba pakpak,simalungun,dan karo yg sama adatnya. Hmmm apa itu bukannya sok tau???? Ya,saya mau Tanya dan coba anda tuliskan bunyi kalimat dan sumber yg mengatakan ada kerajaan toba. Coba anda Tanya pada tua2 anda,apa arti makna raja pada toba dan coba anda pelajari apa arti makna raja pada suku toba…
14. melihat pernyataan kam diatas, malah saya ragu akan tulisan2 artikel anda. Kalau anda memang tau,kok pernyataan adan dapat saya bantah dan pertanyaan2 saya kok tidak kakanda jawab???
15. tuliskan artikel dalam kitab tersebut !!!
16. anda dengan gampangnya menghakimi saya dengan mengatakan didalam hati saya ada KEBENCIAN. Saya tidak pernah benci dengaan orang2 batak,terkhusus toba.karna saya menganggap mereka saudara senasib,sewilayah dan teman2 sewkatu kecil saya. namun,saya tidak akan pernah lupa darimana saya berasal. saya memegang teguh suku saya,yaitu SUKU KARO. Kalaupun penamaan BATAK itu saya terima,namun hanya persamaan kepentingan politk,kesamaan wilayah,dan nasib.namun BUKAN KESAMAAN NENEK MOYANG yg dengan gampangnya suku kalian bilang berasal dari SIRAJA BATAK. Begitu pula dengan simalungun,dairi,melayu,jawa,aceh,minang,dll. Saya tetap menganggap mereka saudara. Saya sangat kecewa dengan pernyataan anda.anda katakan kam seorang penulis,namun dengan gampangnya anda menghakimi saya…
Biarlah,saya tetap akan memaafkan anda…
17. saya sama sekali tidak dapat ilmu dari anda, malah saya mau ketawa membacanya…
SYALOM MEJUAH-JUAH….
B.Parningotan
Desember 12th, 2010 pada 13:08
Maaf kawan, mungkin saya harus ingatkan kembali, saya tidK mengungkapkan pendapat, saya juga tidak memihak, saya juga belum pernah mengatakan bahwa orang Karo itu sama dengan Toba atau pun Simalungun, malah saya sendiri tidak percaya bahwa semua Batak keturunan Siraja Batak, dalam hal ini saya pernah uraikan alasan saya oleh karena itu saya banyak bertanya dan tidak pernah menjawab, karena saya memang bukan ahlinya, tapi saya hanya ingin tahu walaupun kebanyakan pertanyaan saya tak pernah terjawab. Sekali lagi saya percaya bahwa jaman dulu selalu ada orang berpindah dengan sengaja, atau tersesat dalam perjalanan atau terbawa angin ribut atau lainnya dari satu tempat ke tempat lain dan jaman dahulu tidak ada tiket PP alias pulang pergi seperti kapal terbang, makanya umumnya mereka membentuk bangsa baru atau berasimilasi dengan masyarakat lokal. maaf kalau ada yang tersinggung oleh pertanyaan saya dan merasa tidak perlu menjawab
Conorvan
Desember 19th, 2010 pada 08:08
aku orang batak, tapi lahir dan besar di Karo, orangtuaku juga orang batak. Mereka sering menceritakan pengalaman mereka tinggal di karo. Mereka KONTRA dgn sifat dan watak org Karo yang tidak ada di Toba sana. Saya(kita) mungkin juga tau watak orang karo. Malah GBKP(Gereja Batak Karo Protestan) pun diprotes karena penggunaan “Batak”.
Mau dipakai bataknya atau dihilangkan, itu kan terserah mereka aja.
Kita lihat saja,apakah kata ‘batak’ itu berpengaruh pada kehidupan karo?? Let’s see,what happen later…
B. Situmeang
Desember 19th, 2010 pada 19:57
Jujur saya katakan kita Toba sangat jauh berbeda dengan kalak karo, di segala bidang. Biarlah Karo tetap Karo tidak memakai batak. Itu akan lebih menguntungkan bagi Batak itu sendiri. Sebetulnya ini berkaitan dengan dominansi batak (Toba) di perantauan. Dari semua yg disebut bangsa batak (Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak) asal di sebut Batak udah berarti Toba lah itu. Dahulu memang Toba lah yang paling dominan. (baik dari jabatan ataupun lainnya) Contoh, pahlawan revolusi DI. Panjaitan, pengarang lagu, Cornel Simanjuntak, pahlawan nasional Sisingamangaraja, TB. Simatupang, dll dan ini banyak dipakai sebagai nama jalan si seantero Nusantara). Sebenarnya tidak ada kepentingan Batak (Toba), apakah suku Karo itu berasal dari batak atau tidak. Ingat.. hanya orang Toba lah yang selalu menyebut dirinya Batak. Contoh, kalau diperantauan kita ditanya “suku apa kamu ???” Kita langsung jawab “Orang Batak”. atau “Suku Batak”. Saya lebih senang disebut orang BATAK, ketimbang orang TOBA, saking kuping mendengar kalau dibilang orang Toba atau Tapanuli. Sekali lagi menurut saya pribadi biarlah Karo tetap Karo, Simalungun tetap Simalungun, Pakpak tetap Pakpak , yang penting kita jaga Kerukunan. Jadi sebaiknya sahabat dari karo maupun simalungun siap2lah memploklamirkan “Kami Bukan BATAK, Ini marga-marga kami, dan ini Sejarah Kami”. dengan demikian babak baru lembaran sejarah dimulai, buku2 pelajaran yg menyebut sub etnis batak ada 5 agar diganti, nama gereja juga diganti tidak menggunakan kata “Batak”, dsb. Dengan demikian ke depannya akan menjadi jelas. Biarlah sejarah zaman dahulu para pakar di bidangnya yang mempelajarinya. Ini hanya pendapat pribadi berbekal pengalaman pribadi. Sekian dan Terimakasih
Bonar Siahaan
Desember 21st, 2010 pada 12:29
@ Timoteus A Purba
Saya hanya ingin bertanya, “MENGAPA AKSARA TOBA,KARO,SIMALUNGUN DAN MANDAILING BISA SAMA”??? Saya (mungkin batak toba) tak punya untung rugi bila karo tak mau dinamakan batak…..hanya saja banyak orang karo yang merasa dirinya batak, dan inilah yang penting anda satukan persepsi sesama orang karo agar mereka benar2 merasa bukan batak. Sebab yang menentukan karo adalah batak atau tidak adalah komunitas karo itu sendiri. Bukan prof Dr dan beberapa titel kesarjanaan lainnya.
edison padang
Desember 23rd, 2010 pada 11:48
njuah-juah…
saya sebagai orang pakpak, bukan batak pakpak setuju dengan pernyataan saudara Timotius A. Purba.
pakpak tetap pakpak, karo tetap karo. tidak ada kata batak.
malah orang2 batak (toba) banyak merusak adat kami orang pakpak.
dari segi bahasa dan adat kami lebih mirip ke karo…
dan kami merasa lebih sejiwa dengan orang karo..
saya juga sangat tidak setuju dengan cerita siraja batak itu dan tarombo batak itu.
terimaksaih
njuah-juah..
b.Parningotan
Desember 27th, 2010 pada 05:15
Ada suatu yang menarik, biasanya yang merasa telah maju di perantauan selalu mengaku dirinya sebagai batak, sebagai contoh Jendral Nasution, Jendralk Simatupang, Jendral Panggabean Adamalik batubara, Sintong Panjaitan Panggabean PT.Piola, Olo Panggabean, dan banyak yang lain, demikian juga di perguruan tinggi seperti di ITB atau perguruan tinggi lainnya mereka mengaku batak, kalau yang tamatan sekolah kurang populer atau namanya kurang terpandang biasanya tidak mengakui sebagai Batak……. begitulah
rendy dwi
Desember 27th, 2010 pada 21:32
hanya yang membedakan dan persamaan dari smua suku batak tersebut adalah sama2 memiliki RASA IRI DAN DENGKI JIKA ADA SESEORANG YG SUKSES DAN BERHASIL,JADI JGN PERNAH KAU MENGATAKAN KARO TIDAK BATAK,JIKA DI DIKOTA LAIN KAU BILANG KAU BATAK,PAKE OTAK
Timotius A. Purba
Desember 28th, 2010 pada 10:33
Mejuah-juah….
@Conovan
“aku orang batak, tapi lahir dan besar di Karo, orangtuaku juga orang batak. Mereka sering menceritakan pengalaman mereka tinggal di karo. Mereka KONTRA dgn sifat dan watak org Karo yang tidak ada di Toba sana. Saya(kita) mungkin juga tau watak orang karo. Malah GBKP(Gereja Batak Karo Protestan) pun diprotes karena penggunaan “Batak”.Mau dipakai bataknya atau dihilangkan, itu kan terserah mereka aja.
Kita lihat saja,apakah kata ‘batak’ itu berpengaruh pada kehidupan karo?? Let’s see,what happen later…”
Menanggapi komentar anda, saya mau Tanya ne. kam bilang sifat orang karo KONTRA dengan orang toba. Kontra bagaimana ne pal?kalian tinggal ditanah orang,tentu kan wataknya berbeda dengan kalian. Sama seperti hal nya orang karo yg tinggal ditoba sana,pasti hal sama akan terjadi kan. Terus saya mau Tanya, bagaimana rupanya sifat orang karo itu pal? Sepertinya ada berbau kurang senang ini..
Permasalahan GBKP,sudah saya jelaskan sebelumnya dikoment saya. Anda g tau secara pasti kan kenapa ada makna BATAK pada GBKP?jangan sok tau lah.kalau memang mau tau, silahkan tanykan langsung ke moderamennya dikabanjahe sana. Kam bilang kam tinggal di tanah karo, tanyakanlah…
Saya juga mau Tanya sama kam, selama kam dan orang tua kam tinggal di tanah karo ada ya hal yg bepengaruh pada masyarakat karo yang menolak kebatakannya?apa mereka jadi gila semua?jadi miskin semua?jadi kaya?atau musnah?kiamat?dikutuk siraja batak? Atau g terjadi apa-apa sama sekali impalku?
Dan bagaimana seandainya orang karo menerima kebatakkanya, apa yg terjadi pal?kaya-rayakah semua orang karo?terkenalkah tanah karo?makmurkah tanah karo?jadi politikus kah tanah karo?jadi propinsi kah tanah karo?suka bikin sensasi kah orang karo?suka memaksakan pendapatnya kah orang karo?suka mengejekkah orang karo?atau malah yg akan terjadi pertikaian berdarah pal???
Ayo kam jawab ya….
@ B. Situmeang
Terimaksih..
Benar itu, kita harusnya saling bersahabat,tapi tentunya kan juga menghormati pendapat sejarah suku lain yang menolak kata batak kan?bukannya “kita” malah marah2, g terima dan kebakaran jenggot kan kalau ada suku2 di Sumatra utara yg menolak kata batak pada suku mereka kan?
Toh orang karo tidak pernah memaksakan pendapat mereka ke saudara2nya di luar sana kan. Persaudaraan memang harus tetap dijaga dan dibina namun kita juga harus menghormati pendapat suku lain kan pal. Saya juga sangat menghormati dan bersaudara dengan orang2 tapanuli kok Dan perlu diketahui disini, saya bukan sebagai propokator, tapi hanya mencoba meluruskan bahwa karo itu bukan batak, nenek moyang orang karo bukan dari siraja batak, asal muasal orang karo bukan dari pusuh bukit sana, bahasa karo bukan dari toba sana, dll.
Dan saya rasa, dari dulu kala kami orang karo siap menerima konsekuensi kalau kami suku karo saja, bukan batak karo. Lihat lah, dari dulu yang ada TANAH KARO SIMALEM bukan TANAH BATAK KARO SIMALEM…
@Bonar Siahaan
“Saya hanya ingin bertanya, “MENGAPA AKSARA TOBA,KARO,SIMALUNGUN DAN MANDAILING BISA SAMA”??? Saya (mungkin batak toba) tak punya untung rugi bila karo tak mau dinamakan batak…..hanya saja banyak orang karo yang merasa dirinya batak, dan inilah yang penting anda satukan persepsi sesama orang karo agar mereka benar2 merasa bukan batak. Sebab yang menentukan karo adalah batak atau tidak adalah komunitas karo itu sendiri. Bukan prof Dr dan beberapa titel kesarjanaan lainnya.”
Sudah saya jelaskan sebelumnya, aksara karo,toba,simalungun dan mandailing itu berasal dari huruf pallawa di india sana. Sesuai dengan cerita2 suku karo kalau dulu ada sekelompok orang dari india datang ke Sumatra sambil meyebarkan agama hindu juga berdagang, tinggal dan menikah dengan pnduduk setempat.ada juga yg mendirikan kerajaan. perlu juga utk kita ketahui bersama, di jambi,dikampar dan disumatra selatan (sriwijaya) ditemukan juga prasasti yg tulisannya hampir mirip dengan aksara karo-toba-simalungun-mandailing yang mana bunyi dan maknanya sama. Disumatra barat juga ada. Kalau begitu saya mau Tanya sama kam, apakah kam berani mengatakan kalau suku di Kampar, jambi, Palembang, padang itu orang batak???? Dan perlu diketahui, aksara karo-toba-mandailing-simalungun itu tidak sama 100% seperti yg kam katakan.. ada beberapa huruf yg berbeda dan sepertinya kam perlu belajar lagi sebelum mengeluarkan komentar…
Hahaha…. Semuanya sama. kalian begitu “hepoott” melihat kami ogah dibilang batak…
Kenapa ya? Tanya kenapa lah….
@edison padang
Lihat itu, senina kita dari pakpak sudah angkat bicara..
Apa harus semua suku2 disumatra utara kecuali orang toba/tapanuli angkat bicara???
Pesan saya, memang kita harus saling menjalin persaudaraan antara semua suku disumatra utara. Jangan ada kebencian, dendam, dll. Namun ada hal juga yang harus kita jaga, yaitu kita harus menghormati pendapat suku lain yang menolak kata batak pada diri mereka dan dengan bukti2 yang akurat tentunya- bukan dari cerita2 konyol- agar tidak terjadi permaslahan SARA. Ingat, bukan hanya orang tapanuli saja yang “doyan” berperang, punya pahlawan nasional, punya nama pahlawan yg jadi nama jalan, punya orang terkenal, dll…. Kita juga jangan suka cari sensasi dan cari ribut lah seperti gayus tambunan, pak tobing (masalah symbol garuda di baju timnas Indonesia), dll…
Dan sebagai catatan juga, saya bukan mau jadi propokator disni seperti yg dikatakan segelintir orang yg tidak senang menerima pedapat saya…
Terimakasih..
Bujur ras mejuah-juah…
Dibata simasu-masu kita kerina….
Timotius A. Purba
Januari 9th, 2011 pada 16:12
@Rendy dwi :
santai bro dalam mengeluarkan pendapat…
jangan mengeluarkan kata2 yang tidak enak dibaca gitu…
oke bro…
Conorvan
Januari 12th, 2011 pada 15:14
@Timotius
seharusnya anda menilai jawaban itu secara lebih dewasa..
Kontra maksud saya,jujur saja, mereka cenderung tidak suka berbagi, walau sebatas antar tetangga, mereka cenderung egois….
Itu saja…apakah itu membuat karo miskin,musnah,dll…owwowwoww…tentu saja tidak, dan anda tidak perlu membesarkan pembicaraan seperti itu…
Masalah gbkp, itu kan hanya menurut yang saya dengar saja…. Sudah sy bilang, saya gak peduli mau dipakai batak,mau dihilangkan….ya terserah,saya ga mau memikirkan hal2 yang tidak perlu dipikirkan, anda saja yang terlalu melebih2kan sebuah statement….. Hah…itu urusan anda…
Conorvan
Januari 13th, 2011 pada 20:17
pesan saya kpd anda: sebaiknya sebelum ngomong, dipikir2 dulu…. Jangan ngasal ucap,nyerocos sana sini..
Timotius A. Purba
Januari 15th, 2011 pada 18:22
@conovan : saya sudah menilai pertanyaan kam dengan pemikiran yg matang.saya mau tanya sama kam, dibagian mananya saya tidak dewasa dlm berfikir pal?
kam bilang “Kontra maksud saya,jujur saja, mereka cenderung tidak suka berbagi, walau sebatas antar tetangga, mereka cenderung egois….”
yg mau saya tanya, dimananya orang karo itu egois. bukannya orang tapanuli yg egois pal,lihat dengan egoisnya kalian bilang kami orang karo merupakan keturunan kalian…
makannya kam jangan keluarkan statment yg g berbobot gitu,
kalo kam jantan(seperti kata orang kebanyakan) dimana kam dulu tinggal di tanah karo (nama desa,kecamatan,dll).
biar kami tau….
Denny Banjarnahor
Februari 13th, 2011 pada 01:06
memang kami orang Batak (Toba) ini sangat hebat sekali. Bahkan kami juga mengklaim Suku Gayo (Aceh Tenggara) adalah bagian dari Batak. Kenapa kami selalu ngotot bila ada orang yang bilang bahwa karo bukan batak, ya karena kami ingin mendominasi semua suku bangsa di Sumatara Utara ini, dan yang termasuk didalamnya adalah orang Karo itu sendiri…
hahahhahahhahaha…
t.marojahan
Februari 15th, 2011 pada 03:06
Saya sangat setuju sekali dengan pendapatan Lae, Banjarnahor, BAtak Toba sangat mendominasi, ini bisa di dengar dari suara mereka ketika bernyanyi, sangat lantang, dan bersemangat, …membangunkan orang yang tertidur dan membuat orang yang sedang merenung manortor, ………..kalau lagu daerah lainnya menidurkan orang yang sadar dan membuat orang malas.
Kepriyeee…ojo ngono lho mas!!!!!… semangat dong!!!
Timotius A. Purba
Februari 15th, 2011 pada 12:05
@ deni banjarnahor : luar biasa….
kok sekalian aja orang jepang kalian bilang orang batak bro?
Denny Banjarnahor
Februari 18th, 2011 pada 14:26
@Timotius
Kami enggak punya keuntungan langsung kalaupun mengklaim orang Jepang sebagai bagian dari Batak, tapi justru kami akan mendapatkan keuntungan jika mengklaim seluruh suku-suku di Sumatera Utara adalah orang Batak. Dalam skala nasional atau dalam kata lain dimata masyarakat Indonesia secara umum akan melihat kami adalah sebagai bangsa yang besar dan perlu ditakuti, nah disini lah keuntungan itu, dimana posisi tawar kami akan semakin mahal dibidang politik dan kemasyarakatan
b.Parningotan
Februari 19th, 2011 pada 03:33
Setuju sekali dengan lae Denny, perbandingan Karo dengan batak lainnya seperrti bangasa Jawa dan Sunda yang mempunyai bahasa yang sangat berbeda, tapi kalau diteliti lebih jauh , halak Karo adalah pendatang baru yang sangat terpengaruh bahasa Melayu, sebagai pendatang tentunya tidak punya tanah, mereka meminjam dari ompunta najolojolo tubu yang saat ini tentunya belum sanggup mengembalikannya.
Horas
Timotius A. Purba
Februari 19th, 2011 pada 15:37
@ T. Marojahan :
bukan berarti sifat lagu dalam suku2 lain kam jadikan bahan pertimbangan pal.
dan sepertinya komentar anda menghina lagu2 dari suku lain.
ia lagu kalian memang membuat org terbangun, tapi terbangun ditengah malam bos, sangat menggangu ketenangan orang lain. saya ingat dulu didekat kos2an saya, ada seklmpk pemuda batak toba bernyanyi2 keras2 ditngh mlm, eh didatangi warga malah lari terkencing2 macam melihat harimau saja.besoknya g berani keluar rumah, macam harimau yg udah dikebiri, tidak mengaung lagi.
bukan lagu yg menentukan sifat seseorang/sekelompok, lihat lagu2 orang flores, lembut2 tapi orangnya keras,begitu pula lagu2 jepang, lembut ,dinamis dan penuh filosphi namun watak orang jepang kam tau sendiri kan?? lagu karo jg lembut pal, berbobot tapi orangnya pal, boleh kam coba.
@deni banjarnahor :
posisi tawar menawar tidak pernah terjadi pal. dlam hal pemekaran protap, suku2 di pakpak,simalungun,karo, mandailing ogah dan malas bin ga banget bergabung dan mendukung adanya protap.
posisi tawar menawar apa yg anda koar2kan itu?
ditakuti?berarti suku kalian memang suka bikin onar pal,buknnya lebuh bangga kita kalau suku kita dihormati dan diterima dimana2?
pernah dulu saya liburan di danau toba, ada rmh mkn karo.sangat ramai dan orang karo itu diterima masyarakat dan tidak mengganti marganya. namun hal yg 180 drajat terjadi dikmpng bapk saya, baru 4 bulan tinggal sudah bikin onar, udah gitu gnati marga ke karo pula dia.pertama dia diterima dgn baik, namun sifat sok ngatur dan sok kerasnya itu dicoba sama abg saya.eh,ampun2 dia..
malu pal…
Bonar Siahaan
Februari 19th, 2011 pada 22:45
Bila orang karo tak mau mengaku batak untuk apaq dipermasalahkan??? Tapi belum tentu orang karo yang lain tidak menganggap dirinya batak karo…timotius hanya dapat mewakili pribadinya bukan seluruh karo….
BAROES JUNED
Februari 23rd, 2011 pada 11:18
Diskusi yang sangat menarik…….
ORANG KARO TETAP ORANG KARO…….
IDENTITAS ITU PERLU SUPAYA TIDAK ABU-ABU…
Spesial thanks buat seninangku Timotius purba , semangat terus senina……
roemah desain
Maret 2nd, 2011 pada 06:57
tulisannya bagus……………berhasil mendapatkan respon yang baik………..masalahnya bukan dari penulis…. tapi dari kita-kita yang membaca……..mungkin perlu kita eja satu-persatu supaya kita…………?????????? “SATU”…………..
Timotius A. Purba
Maret 2nd, 2011 pada 15:34
_B.Parningotan :
saya mengutip “Setuju sekali dengan lae Denny, perbandingan Karo dengan batak lainnya seperrti bangasa Jawa dan Sunda yang mempunyai bahasa yang sangat berbeda, tapi kalau diteliti lebih jauh , halak Karo adalah pendatang baru yang sangat terpengaruh bahasa Melayu, sebagai pendatang tentunya tidak punya tanah, mereka meminjam dari ompunta najolojolo tubu yang saat ini tentunya belum sanggup mengembalikannya.
Horas”
jujur ne pal, saya sangat aneh melihat pernyataan2 kam. disetiap komentar yg kam buat g pernah konsisiten.apalagi komentar yg plg baru ne.membacanya membuat saya mau berak dicelana saja. sama sekali g msk akal komentarnya itu.masa orng karo diblg pndtng baru dan dipengaruhi budaya melayu?biar kam tau sikit pal, melayu disumatra utara itu lah yg sangat dipengaruhi karo,lihat di deli,langkat,hamparan perak sana.tidak punya tanah kam bilang?tanah ulayat suku karo jauh lebih luas drpada tanah toba.dulu sering saya mendengar dr mulut orng batak sendiri kalau mereka sebenarnya kecewa punya tanah didaerh tapanuli, udah g subur,bnyk batu2nya, dll.plg2 cm danau toba yg dianggarkan.pdhl dr segi geografis, danau toba itu jg punya suku karo,simalungu,dan pakpak.bahkan suku kalianlah yg berdatangan sbgai pendatang ke taneh karo simalem utk hidup dan berganti marga.mana ada orang karo mengganti marganya di kampung/tanah orang lain.kalau kalian,jawab sendiri lah…
makanya kalau g tau jangan bikin komentar yg bikin orng bisa mati ketawa pal…
gmn,sip????
_bonar siahaan : saya rasa apa yg saya pikirkan juga dipikirkan oleh orang2 karo lainnya..
coba dilihat komentar dari orang karo di blog ini..
_senina barus mergana: bujur sen…
setidaknya saya bisa mewakili suara hati orang karo, kalau
KARO TETAP LAH SUKU KARO, BUKAN BATAK KARO…
yang punya sejarah asli,tanah,pahlawan,cerita,sikap,watak,budaya,dll…
dengan tetap menjaga perasaan suku2 lain di indonesia ini, dan tidak bermaksud mempropokasi ke arah SARA namun agar jelas kalau kita kalak karo ini adalah suku bangsa tersendiri terlepas kemana kita bergaul…
semoga karo menjadi besar seperti dulu disaat jaman penjajahan dimana kita punya orang2 besar,tidak menghianati pahlawannya sendiri seperti yg dialami sisinga mangaraja,jiwa yg besar yg ditunjukkan dengan hanya ada dua taman makan pahlawan nasional di indonesia ini.di surabaya dan di kabanjahe. bukan bangsa pengecut dan bangsa yg suka memandang rendah suku lain…
mejuah-juah
rinal sinaga
Maret 5th, 2011 pada 12:59
diskusi yang sangat menarik….
ada yang merasa perlu ada yang merasa tidak perlu. saya bukan seorang antropolog, budayawan atau yang lainnya tentang suku.
kita tidak bisa mengambil kesimpulan secara subjetif. kita harus melihat apa yang terjadi dilapangan. kenyataan yang terjadi dilapangan adalah bahwa teman2 dari kabupaten karo, simalungun merasa sangat bangga dengan predikat Batak. tman2 saya di lbih banyak orang karo. saya punya seorang teman marga sitepu dari kabanjahe. dia aktif dalam mempelajari tentang suku batak toba, dia tau padanan marga sitepu dengan marga toba, knapa dia ingin sekali mempelajari adat toba ?
kenapa saudara2 mempermasalahkan perbedaan yg ada diantara kita ?
mengapa teman2 saya tidak mengatakan bahwa mereka bukan batak ?
mengapa orang toraja mengatakan bahwa mereka serumpun dengan bangsa Batak ?
saya pikir belum peraturan dari bupati karo yang melarang memakai kata batak karo.
seharusnya yang perlu kita bahas sekarang adalah kenapa pembakaran gereja di indonesia ini harus terjadi ?????????????
Paringotan Togatorop
Maret 10th, 2011 pada 12:36
saya adalah seorang batak toba merasa tercerahkan dengan informasi-informasi yang ada disini, dan dari penelusuran saya di internet tentang karo bukan batak dan saya menemukan sebuah situs yang cukup banyak mengulas masalah ini. situs bersangkutan bisa dilihat di http://karobukanbatak.wordpress.com
Timotius A .Purba
Maret 12th, 2011 pada 12:15
_B..Parningotan : jadi kesimpulannya apa pal?
masih tetap ngotot mengatakan kalau karo itu batak?kalau karo itu pendatang?kalau karo itu tidak punya tanah?
atau masih ada komentar2 kam yg lain?
Martua Sidauruk
Maret 17th, 2011 pada 21:09
Menyedihkan. Apa untung ruginya kalau “Karo” itu dikatakan Batak atau tidak. Ini namanya karakter kolonialisme (pecah belah). Capek deh…., kalau masing-masing merasa lebih unggul. Mari kita berlomba berprestasi membangun bangsa ini. Sedih…, sedih…, sedih…nya hati ini. Komentar diberikan oleh orang yang mengaku intelek, tapi pikiran dangkal.
Timotius A. Purba
Maret 30th, 2011 pada 10:55
Buat M. Sidauruk :
bukan permasalhn untung rugi yg di bahas disini pal. identitas suatu bangsa itu perlu dipertahankan. bagaimana seandainya dikatakan kalau batak itu merupakan sub suku melayu?kam terima apa tidak?
purba bre bayang
April 1st, 2011 pada 16:01
pas itu senina.. karo tetaplah karo bukan batak.
Timotius A.Purba
April 25th, 2011 pada 12:32
purba bre bayang : bujur sembuyak…
hanna Berutu
April 26th, 2011 pada 11:46
Njuah- juah ..horas.. Mejuah…. juah…… numpang jalan” ea….. eh td ny cm jln” tp ad yg d’ bahas kyk n ya…. oea meskipun qta beda suka, adat dan budaya.. tp qyta tutetap satu ikatan….. batak karo. sama az.. batak karo jg batak.. ya lw mereka terima.. tp q opernh denger , lw karo ktnya orang btk jg ko.. salam dr orang pak”’ pakpak bharat com
Romerro Munthe Carro
Mei 5th, 2011 pada 03:14
hmmmm
tentunya sangat banyak kontraversi Mgn karo – batak…
dalam Forum ini banyak yg mengungkit kehebatan, keunggulan Suku, Mengadili, menyalahkan, membenarkan dll….
yang harus kita pegang adalah, bahwa kita di dalam forum ini tidak untuk mencari siapa yang paling hebat… tapi batasannya adalah DISKUSI…
masing2 bebas mengemukakan pendapat dan menilai pendapat peserta diskusi lainnya, tapi Mohon untuk Tidak Memberikan Vonis kepada pendapat yg berbeda dengan pendapat kita….
KARO – BATAK….
saya pernah melihat hasil seminar budaya Karo yg di bawa Ortu saya, kebetulan Beliau merupakan salah satu budayawan karo. pada Kongres Budaya karo thn 1998 Di Hotel Sibayak Berastagi…. yg di hadiri oleh puluhan Budayawan Karo, Akademisi karo, dan Politisi karo, juga terlibat beberapa Pelajar…
maka telah di putuskan bahwa KARO BUKAN BATAK, entah karena alasan apa, Karo di katakan bukan batak, saat itu saya blm terlalu tau dan tdk terlalu peduli juga, krn mengingat saat itu usia saya memang tidak di haruskan peduli thd hal spt itu.. tapi setelah say menduduki bangku kuliah, saya baru berpikir klo ternyata hal spt itu sangat penting… apa lagi saya hanya lahir di karo dan besar di Pulau jawa…
sebagai perantau ahirnya saya mencari tau sejarah suku saya… dan ketika saya mempelajari serta membandingkan KARO – BATAK, saya pun setuju kalau KARO BUKAN BATAK…
alasannya adalah sebagai Berikut
1. BAHASA dan AKSARA
bahasa karo dengan batak (toba) sangat berbeda, demikian juga dengan Aksaranya, artinya bahasa dan Aksara adalah Suatu hal yang umurnya sudah cukup lama, turun temurun dari generasi ke generasi… klo kite telaah lagi, kenapa suatu aksara dan bahasa berlaku pada satu kelompok, tentunya hal ini dulunya adalah sebagai sebuah keharusan siapa yang mengharuskan??? tentunya pemimpin kelompok atau orang yang punya karisma…. dan pada jaman dahulu bisa saja itu sebagai seorang raja… maka dapat saya simpulkan bahwa Pemimpin yang menyebarkan bahasa karo dan bahasa Batak sudah Pasti berbeda.
kalau dikatakan ada kemiripan, itu memang betul tapi bukan sebuah alasan untuk mengatakn bahwa kemiripan itu adalah sebuah kesamaan asal usul secara Mutlak, karena bahasa karo dengan bahasa sunda juga ada kemiripan dialeg dan beberapa kosa kata, kemudian mengenai kemiripan aksara… itu juga menurut saya bukan sebagai bukti Bahwa KARO adalah batak, toh dari berbagai aksara yg ada di Nusantara bahkan Dunia juga memiliki kesamaan Induk aksaranya… spt contoh
Aksara Karo adalah: ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, dst, dst
Hiragana Jepang adlh : ha, hi, hu, he, ho, ga, gi, gu, ka, ki, ku ke, ko dst dst
Aksara Palawa Jawa : ho, no, co, ro, ko, … po, do, jo, yo, nyo,…. dst dst
bgitu juga denganSunda, Sanskerta, Kanji, katakana, dan masih banyak lagi aksara lainnya di dunia yg memiliki kesamaan, namun asal usul mreka pasti juga berbeda
2. TATANAN ADAT
sangat Jelas perbedaannya antara KARO dan BATAK. di batak sendiri sedikit mengandung Unsur kasta, seperti pada masyarakat jawa dan Bali… karena marga di masyarakat Batak, mempunyai urutan tinggi rendah serta hitungan Keturunan Brapa pemilik sebuah marga itu, namun di karo hal ini tidak pernah ada… ketika saya ketemu dengan seseorang yg mempunyai marga yg sama dengan saya, tidak pernah ditanyakan saya keturunan keberapa…. jadi ini sangat Jelas berbeda, begitu juga dalam alur tatanan acara Adat, baik acara adat dlm hal Pernikahan ataupun kematian dll.
3. TAROMBO…
secara sosiologi, tarombo bisa juga dikatakan sbg silsilah…
maka ketika saya melihat tarombo dari SIRAJA BATAK, saya langsung tau klo semua marga yg terdapat di dalamnya adalah keturunan SIRAJA BATAK bukan RAJA KARO.. karena dalam Tarombo tsb tidak di sertakan Marga2 karo di dalamnya, jadi klo sekarang Di paksakan KARO = BATAK, berarti Orang yg memaksakan tersebut sudah menghianati SIRAJA BATAK, karena tarombo tsb di buat tentunya punya tujuan Khusus, paling tidak ketika team siraja batak menyusun TAROMBO tsb, pasti salah satu tujuannya adalah untuk mendata keturunan dan pengikutnya, maka ketika kita pada jaman skrng memasukkan yg bukan keturunan/pengikut si RAJA BATAK sebagai bagiannya, brrti kita menghianati Sejarah…. kemudian Mengenai TAROMBO, satu hal Yang sangat Penting di Ingat, bahwa…
“SALAH SATU KETURUNAN SI RAJA BATAK, MENIKAHI PUTRI KARO BERU SEMBIRING MELIALA” Silahkan cek di tarombo SIRAJA BATAK
maka ini merupakan sebuah bukti yg sangat kuat, bahwa pada saat itu ADA KARO dan ADA JUGA BATAK… dan KARO BUKAN BAGIAN DARI BATAK… tetapi saat itu sudah berjalan beriringan…
nah… maka dari beberapa indikator yang saja sebutkan dan jelaskan diatas, bisa di tarik beberapa hipotesis….
yaitu:
1. ketika acuan kita adalah Tarombo SI RAJA BATAK, maka KARO BUKAN BAGIAN DARI BATAK (KARO tidak sama dengan BATAK)
2. Ketika Acuan kita adalah Sistem yang Di buat pada masa KOLONIAL… maka KARO adalah BATAK. kASUS ini sama seperti ketika Kolonial Menglompokkan JAVA/jawa yg di dalamnya terdapat suku jawa, Sunda, Badui dll
3. Ketika Acuan Kita adalah sejarah, Maka KARO BUKAN BATAK….
maka, seperti yang di sebutkan Oleh sdr JONES GULTOM
“Menurut saya, Batak hanyalah sebuah induk,”
saya sangat tidak Setuju, karena yang namanya Induk itu bersifat mengayomi, memberi atau diberi… seperti Negara yg merupakan induk dari segala suku yg ada di dalamnya, maka negara pasti mengayomi anak2nya karena dia adalah induk, negara pasti memberi kepada anak2nya karena dia adalah induk, anak2 pasti juga memberi/berbakti kepada induknya, entah karena kesadaran, tekanan atau hal lain….
tapi Pernah kah BATAK, mengayomi, memberi, atau diberi (pajak/upeti dll) oleh KARO??? sehingga anda mengatakannya sebagai Induk???
dan bagi sdr2 lain yg mengatakan “hanya sedikit yang bermarga di Nusan tara ini”, semoga anda tidak malas menambah bahan bacaan…dan teman diskusi, karena kurang lebih 85 % suku yang ada di nusantara ini Memiliki MARGA, mulai dari Aceh, suku2 di sumatera utara, Minang, Suku Anak Dalam, Badui, Madura, Bali, Lombok, ambon, Kupang, Sumba, Dayak, Toraja, Manado, Flores sampai ke papua sana Semua Punya marga…. namun beberapa tidak menyebutnya dengan Marga, ada yg menyebut Famm, Clan, Trah dll Klo bahasa Internasionalnya Family Name…
thanks…
Romerro Munthe Carro
Mei 5th, 2011 pada 23:50
@ b.Parningotan :
berarti yang meminjamkan tanah itu termasuk Orang yg Bodoh ya…
analoginya Bgini : klo seandainya ada orang baru datang kekampung anda dan meminjam tanah dari anda, apakah anda akan memberikan tanah anda yang paling subur?? dan kemudian anda menggarap lahan yang tandus dan berbatu yg hanya bisa di tanami bawang dan kacang?? apa kah akan seperti itu??? wah wah.. dangkal sekali analisa anda..
fadi tarigan
Mei 19th, 2011 pada 21:28
Karo bukan lah batak …….
karo bukan lah dari keturunan si raja batak ,,,,,,,,,
karo ya karo jgn disamakan dengan batak…..
sotung
Juli 28th, 2011 pada 03:02
Maaf cuma numpang lewat … gan …
… boleh juga dibilang apakah dianya ASBUN, nebar kebencian, fanatik pada suku tertentu aka tidak objektif pada pembahasan atau emank dianya sengaja buat pemahaman yang salah arah dengan memunculkan kata2 dan kalimat perdebatan yang tidak sehat …
PEACE.
Pada akhirnya pembaca (saya) dan teman pembaca lainnya bisa nilai kok …. siapa yang “punya kepentingan khusus” di blog ini
Makasih buat yang kasi koment jadi nambah pengetahuan … nih.
Tamboenan
Agustus 19th, 2011 pada 17:14
Horas Bah…
Saya sudah membaca tulisan teman-teman semuanya menurut saya diskusi ini bagus dan sangat penting sekali dikaji melalui forum yang sangat resmi agar kita dan khalayak awam mengetahui makna arti sejarah BATAK yang kian terlupakan , walaupun memang setiap topik pasti ada pro dan kontranya…
Bukan kali ini saja topik ini muncul kepermukaan baik di akademisi maupun diluar akademisi, Tidak hanya suku bangsa karo saja yang mengatakan suku bangsa karo bukanlah BATAK, tetapi suku bangsa MANDAILING juga pernah mengklaim bahwasannya MANDAILING bukankah BATAk. Ketika permasalahan ini muncul kepermukaan dalam benak saya bertanya apa sebenarnya konsep BATAK itu sendiri, namun dalam diskusi ini saya telah banyak mengetahui berbagai konsepsi kemunculan Batak yang sebenarnya.
tidak hanya itu saya pernah juga bertanya kesetiap Suku Bangsa Karo yang ada ditanah Karo dan saya bertanya apakah bapak orang Karo atau orang Batak, dia berpikir sembari bingung dengan pertanyaan saya, Bapak tersebut menjawab saya adalah Batak Karo dan tidak ada perbedaan orang karo dengan orang Batak, karena menurut bapak tersebut konsep Batak adalah “PEMERSATU” begitu juga Suku Bangsa Mandiling yang mengklaim bahwa Mandiling bukanlah Batak. itu menurut masyarakat awam yang mengatakan secara fakta, nah sangat berbeda dengan seorang akademisi yang sering kali menggunkan konsep-konsep teori didalam membahas suatu permasalahan yang tak akan menemukan suatu pembenaran secara faktual hanya akan menciptakan suatu ke-eksistensian secara propaganda, namun dalam tulisan B’ Juara Ginting saya tidak mengerti kemana arah tujuan tulisan tersebut tidak berdasarkan penelitian dan analisis data yang kuat, walaupun saya seorang Antropolog abal-abal tapi saya tetap mengetahui bagaimana seorang Antropolog menempatkan dirinya didalam mengakaji sebuah masalah dan seorang Antropolog bukan menimbulkan sebuah masalah.
Tapi dalam membahas Bahwa Karo Bukanlah Batak jangan dikaitkan dengan Agama, karena akan menimbulkan kesimpang siuran dalam mencari fakta yang sebenarnya..
Salam Keraba….
Horas Bah……….
b.Parningotan
Agustus 21st, 2011 pada 05:34
@Tamboenan
Saya setuju dengan pandangan Lae Tamboenan. Tetapi ada yang aneh dalam diskusi ini. Saya membuat komentar , pertanyaan2 dan pendapat yang tidak memihak, tetapi semua pertanyaan saya tidak mendapat response dari pihak Karo dalam hal ini. Anda dapat melihat semuanya.Kemudian saya membuat sedikit pendapat keras untuk menanggapi sindiran penulis2 fanatis yang sedikit keras, all hasil timbul berpuluh2 jawabaan yang juga tidak realistis yang bersifat emosionil. Apakah ini adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan sebagian besar manusia?. Saya diam penulis2 tersebut tak henti2nya melemparkan serangan balik, ibarat tembakan senapan angin dibalas dengan meriam.
Sembiring Gundala
Agustus 28th, 2011 pada 21:56
MEJUAH-JUAH……..SEMUA ……………………………………..SYA INGIN KOMENTAR JUGA NEH HAHAHAHAHAHA………………………………………………….kawan2 semua…atas dasar apa anda ingin berbicara seperti itu..bahwa karo itu batak? saya juga senang dengan pemikiran bang tambunan…..marga ku sembiring bank……..!!!!!!!….saya mw tanyak bank kampung nya toba itu dimana setahu sya di samosir bang…kalo menurut abank gimana cuba abank jelaskan,,,,,,,,? dulu sebelum ada legenda danau toba …. apa nama kampunk di bawah danau toba itu bank… cobak di jelaskan dulu bank saya kurang paham……dan buat kawa-kawan jgn kita merendahkan gelar sese org…..kenapa suku karo tidak mw di sebut batak……karna karo berasal dari kerajaan aru..dimana kerajaan aru itu berada di daerah deli tua……di dataran tinggi karo pun belum ada org disana bank…..dary mana jalan nya sisinga mangaraja kesana..hutan semua..logika bank kalo emank suku toba..mengangap karo itu dary toba atou keturunanan siingamangaraja…bahasa daerah kita jauh berbeda….hanya sepenggal kalimat yg mirip…….pakean adat..jauh berbeda….rumah adat kita sangat jauh berbeda rumah adat suku toba lebih mirip dengan rumah adat minang…sumatera barat..DAN rumah adat toraja…rumah adat karo..menjulang tinggi keatas….kalau sya melihat kita ini saling bertahan dengan argumentasi masing-masing……toh kita lihat apakah senang suku mandailing di bilang batak?….simalungun apakha senang di bilang batak.?………begitu juga dengan yg lain…..kenapa karo tidak senang di bilang batak….karena kami punya sejarah sendiri…seperti kejadian di kabanjahe tempo dahulu..tahura (taman hutan raya) di klaim taman sisingamangaraja.logika marah nggak anda apa bila di daerah anda di buat seperti itu..pernah terjadi…..slalu bertanya batak itu ya karo kalo emank benar..lindungi…satu suara bukan di klaim..menurut fakta yg jelas..ilmu ANALISA ITU ADA 100 persen benar….ini saya lihat seperti politik belanda yg sengaja mw di ciptakan lagy…politik adu domba..buat kawan2 dari tao toba pun jgn terpancing analisa dulu…ingat BHINEKA TUNGGAL IKA……APA PUN ceritanya pasti org karo mempertahan kan hak nya dan siapa dia…jgn seolah mencari jati diri bahwa dia dary sini….belum tentu itu benar……/COBA ANDA CARI SIAPA KETURUNAN SISINGA MANGARAJA TERAHIR SIAPA KETURUNAN NYA…yg sekarang ini ya? kalo saya bilang kita keturunan adam atou ank2 nya adam…ada komentar kalo untuk ini…..saya tekan kan sekali lagy suku karo mulanya itu dary deli tua…..sisinga mangaraja bilang sendiri aku siraja toba………betul tidak menurut sejarah kitab toba…berarty dia mempunyai pemikiran maju….koq tiba2 suku toba sekarang ,karo iatu adalah batak….apakah anda ingin menghilang kan kalimat melayu ini di nusantara kita. ATAU ANDA INGIN MEMUNAHKAN SUKU KARO..kita ini banyak suku di indonesia…..kalok anda menyebutkan batak itu karo…..ORANG CUMA TAU,,BATAK ITU SUKU TOBA…karo ga nampak gak kelihatan..banyak perbedaan dan banyak hal-hal baru.ngerty bank…KENAPA ADA SANGKUT PAUT…TOBA DENGAN KARO….itu berdasar kan silatuh rahmi bank …sopan santun menyatukan budaya yg berbeda tapi tetap satu….jgn anda bilang dari toba semua..dary mana jalan nya hutan dulu dataran tinggi karo……masih ingat kah anada misi patih gajah mada mempersatukan nusantara…..ada kerajaan toba disitu di buat….kalo kerajaan haru/karo ada bank…jady di analisa lah semua dulu…..jgn terpancing dengan emosi argumentasi masing2…..itu bisa terjadi perang suku……..biarkan yg ada memang ada…..dan itu kenyataan nya…kami org karo keturunan nini karo…raja disebut sibayak,,,,petinggi2 nya disebut raja urung,,panglimanya di sebut simbisa…..sementara ini itu saja dulu…ingat bhineka tunggal ika…bukan mengkalim. itu lain jady nya…..nanty..mejuah-juah
T. Kiky Mardiansyah
Agustus 31st, 2011 pada 12:49
Batak tdd :
- Toba
- Silindung
- Humbang
- Samosir.
Hendra Wijaya Sembiring depari
September 1st, 2011 pada 17:19
Mejuah juah,
Ampun aku nge-baca semua komen2 diatas yang (sorry) g perlu diperdebatkan.
tapi ini forum bebas jadi semua berhak menyatakan pendapatnya masing2… Aku jg punya pendapat.
Berhubung karena aku bukan ilmuwan dan bukan sejarahwan, mohon maaf klo ada yg salah.
Pendapatku adalah aku tidak sempat hidup di kehidupan lampau dimana penulis msh hidup, jadi tidak tahu kebenarannya, atau tidak pula sempat mengalami kehidupan di masa kejayaan kerajaan haru…
Tapi yang aku tahu ketika aku lahir aku punya “sembiring” dibelakang namaku, dan aku bangga untuk itu. Pastinya, anakku nanti pun ada “sembiring” dibelakang namanya.
Masalah KARO bukan sub BATAK atau sebaliknya menurutku sih g perlu diributkan karena g ada untung nya….buang – buang waktu.
Blog ini ga sengaja aku buka karena ingin tahu asal muasal KARO dan silsilahnya, ternyata mr. google sendiri tidak bisa memberikan informasi yang akurat.
Akhir kata, aku cm mau menyampaikan, ketika org bertanya “orang apa?” maka secara spontanitas aku menjawab “orang karo” karena memang aku orang karo, bukan karena ingin membanggakan kekaroan-nya tapi itulah realitanya.
Aku g berani bilang pendapatku mewakili pendapat orang karo, tapi yang sok tau ku hampir rata-rata orang karo kalau ditanya orang apa ya jawabannya orang karo bukan batak karo.
aku yakin karena spontanitas karena memang orang karo bukan berniat untuk membangga-banggakan kesukuannya.
Skali lagi ga da untung nya membahas masalah ini..tapi ya krn forum bebas silahkan aja…
Bujur……
Hendra Wijaya Sembiring depari
September 2nd, 2011 pada 16:14
Makin seru aja neh….
lewat lagi ah….
klo masalah populer kayak kata bang parningotan memang harus diakui orang BATAK lah orangnya….mulai dari pengusaha, pengacara, sampai itu yang namanya CIRUS SINAGA, GAYUS TAMBUNAN, HAPOSAN, ROSALINDA MANULANG dan masih banyak lagi…
klo orang KARO tu biasa-biasa aja bang, cuma petani yang biasa cuma punya ladang jeruk 20 hektar….biasa pake mobil chevrolet ke ladang cm ngangkat kol, klo rusak ya biasa lah..bsk beli lagi….jadi orang karo serba biasa, g perlu nge top sampe masuk penjara..
klo pun masuk penjara bukan karena korupsi, tapi menikam karena HARGA DIRI dan MARTABAT KELUARGA terinjak – injak, bukan karena jago atau hebat….
Aku orang karo harus bangga tapi bangga dalam konteks yang positif….
Yang lucunya lagi statement “pendatang”…
mau ketawa sebenarnya…masa klo pendatang di kasi tanah yang subur dan kaya…
klo ngasi statement yang berbobot dan masuk akal juga menambah wawasan orang yg membaca lah..
b.Parningotan
September 4th, 2011 pada 21:16
itu bukan statemen, soalnya, kalau orang karo Bukan batak, timbul pertanyaan baru siapa yang duluan datang atau barang kali salah satu penduduk asli dan yang lain pendatang. Saya hanya membuat memancing suasana. Tetapi memang banyak alasan yang tidak masuk diakal dalam hal ini. Ada sebagian orang yang merasa beda suku bangsa hanya karena perbedaan agama atau menjadi jijik bila dianggap kafir. nah orang Batak juga banyak yang beragama Islam. memang yang dipesisir seperti orang Mandailing dan orang Karo yang beragama Islam banyak yang mengaku bukan Batak, bahkan Mandailing Islam mengaku berasal dari Bugis. Boleh saja tapi cari alasan yang masuk akal. Dari dulu saya percaya bahwa jaman dahulu belum ada tiket pulang pergi. jadi kalau ada orang musafir, biasanya tidak kembali ke negri asal; tetapi bercampur dengan orang lokal. itu sebabnya banyak orang batak berwajah seperti India, Cina, Iran Burma bahkan New Zeland, Tongga dll. Demikian juga bahasa bercampur baur. Sayang batak islam yang berasal dari pusat Batak seperti Balige sangat sulit untuk mengaku bukan Batak. Batak atau bukan …. tidak sepenting kejujuran dalam diskusi itu sendiri. Kalau kita tidak bisa jujur, boleh dikatakan bangsa apapun kita tetap sampah masyarakat.!!!!
b.Parningotan
September 6th, 2011 pada 05:01
Kebesaran kerajaan2 dapat terlihat dari sisa2 peninggalannya. Lihat kerajaan Majapahit dam Mataram dan lihat candi2 seperti Barobudur, Prambanan, candi Lorojongrang, candi sewu, CAndi AngKor Wat di Kamboja, lihat Thailand lihat sisa 2 puing Babilon, Roma dll. Kerajaan Sisingamangaraja ibarat Raja kampung jika dibandingkan dalam hal ini, lihat saja istananya. Kalau kita bicara tentang kerajaan Haru, saya belum melihat peninggalannya, walau mungkin itu telah lebih purba dari jaman Sisingamangaraja, kemungkinan besar memang ada tetapi kedigjayaannya terlalu dibesar2kan penulis sejarah maupun pemecah belah kolonial. hendaklah kita berpikir dan berbicara secara jujur, orang lain menilai mutu kita dari tutur kata dan perbuatan. Jangan menipu diri sendiri, memang banyak orang cenderung begitu. Sampai ada yang bisa mangatakan ?Tuhan memberkati kamu, apa urusannya Tuhan dengan kamu!!, apa kamu benar2 orang baik siapa yang tau. MALAH SAMPAI ADA YANG BERPIKIR MENJIJIKKAN ORANG LAIN, KELOMPOK LAIN ATAU BANGSA LAIN. Prilaku anda dan tutur kata dan cara berpikir anda menggambarkan kualitas kepercayaan yang anda miliki.
Hendra Wijaya Sembiring depari
September 7th, 2011 pada 16:08
Memang yang anda sebutkan diatas semua benar….
orang barat blg “YOU ARE ABSOLUTELY 100 % RIGHT”….hanya saja klo hrs mencari bukti kebesaran suatu pristiwa, tempat, atau sejarah untuk mendapatkan pembenaran, itu pun belum tentu benar..kita hanya bisa membaca tulisan yang ditulis oleh penulis itu sendiri..kecuali klo kita bisa menyaksikannya sendiri…
contoh sederhana, menurut para ilmuwan binatang purba sudah ada jutaan tahun yang lalu, sementara menurut kitab suci agama tertentu jarak antara periode ketika bumi atau manusia pertama diciptakan oleh Sang Pencipta sampai dengan manusia modern spt skrg ini adalah ribuan tahun, tidak sampai jutaan tahun spt yg mrk katakan…jadi siapa yang benar? ilmuwan atau kitab suci yang isinya hampir dipercaya setengah penduduk di dunia? padahal mereka semua bisa membuktikan sisa-sisa sejarah?
Sorry lagi ne bro, bukannya berniat menggurui atau sok ngajarin..
Menurut ajaran yang aku percayai (ada dikatakan dalam kitab suci) bahwa Tuhan tetap memberkati orang jahat sekali pun. Itu dibuktikan ketika Ia disalibkan dan penjahat yg disebelahnya memohon kepada-Nya “bawalah aku bersama-Mu” dan Ia menjawab “sesungguhnya hari ini engkau tlah bersama-Ku di taman firdaus” (kira-kira seperti itu lah, soalnya bukan tokoh agama).
Intinya adalah kita tidak berhak utk menghakimi orang itu salah atau benar…
masalah Tuhan memberkati atau tidak g ada urusannya dgn kita, itu urusan Tuhan dgn individu msg-msg…
Jadi biarlah setiap orang, kelompok, suku, atau pun bangsa membesar-besar kan kebesaran mrk sepanjang tidak merugikan pihak lain…
Nah buat b’parningotan, sorry klo aku salah…dari komen atau tulisan yang anda buat membuktikan klo itu menyudutkan atau merugikan pihak lain dan sebaliknya, SOMBONG atau ANGKUH..kenapa?
KARENA tulisan anda slalu menyebut ANDA yg artinya menunjuk kepada orang lain…
(Prilaku anda dan tutur kata dan cara berpikir anda menggambarkan kualitas kepercayaan yang anda miliki).
Kecuali klo ANDA sebutkan KITA, yg artinya Saya, Anda, dan juga orang lain yang ada di forum ini…..
Hendra Wijaya Sembiring depari
September 7th, 2011 pada 16:25
Klo masalah masuk tidak masuk akal dari awal sudah dijelaskan oleh rekan-rekan yang lain diatas…silahkan periksa atau dibaca kembali dari atas.
Masalahnya sederhana, tinggal terima atau tidak terima dan dua-duanya TIDAK ADA RUGI NYA…..
Bujur ras mejuah juah kita kerina
Hendra Wijaya Sembiring depari
September 8th, 2011 pada 16:31
Kerajaan Aru atau Haru merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara sekarang. Nama kerajaan ini disebutkan dalam Pararaton (1336) dalam teks Jawa Pertengahan (terkenal dengan Sumpah Palapa) yang berbunyi sebagai berikut “Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa” Bila dialih-bahasakan mempunyai arti : “Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa [1].
Sebaliknya tidak tercatat lagi dalam Kakawin Nagarakretagama (1365) sebagai negara bawahan sebagaimana tertulis dalam pupuh 13 paragraf 1 dan 2. [2]
Sementara itu dalam Suma Oriental [3] disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang kuat Penguasa Terbesar di Sumatera yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya, Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Melaka pada masa itu.
b.Parningotan
September 9th, 2011 pada 17:12
Ok mungkin saja itu benar, tapi kalau dipelajari penyebaran Bahasa Karo, terhadap lingkungan sekitarnya, sangat kecil, penyebaran bahasa Batak lebih luas. Bahasa Karo identik dengan bahasa Nias yang sangat intern dan tidak menyebar. Kalau kita lihat Bahasa Tagalog Filipina, Bahasa Jawa, Bahasa Melayu tua dan bahasa Batak ada banyak kemiripan walaupun arti kata terkadang sudah bergeser. Di Filipina ada suku yang bernama Batak, walaupun bahasanya mirip bahasa Jawa, ada namanya Kulonuwun dsb. Struktur bahasa Tagalog sangat sejalan dengan Bahasa Batak, ada awalan Ma, Pa akhiran an dsb.
Saya tidak mengerti mengapa Karo mempunyai bahasa yang berbeda dengan yang lain. Dalihan Natolu dapat dilihat pengaruhnya hingga Gayo dan Alas Termasuk Karo, saya tidak tahu siapa yang memulai. Kalau dilihat dari warna kulit dan bentuk tubuh, seperti saya telah katakan ini tidak bisa jadi pegangan karena sepanjang jaman banyak kawin campur antara penduduk asli dan pendatang kesasar. Secara umum orang Aceh lebih mirip dengan orang India dari pada orang Karo, tetapi Orang Karo mempunyai bentuk badan sangat berbeda dengan orang Melayu, malah kalau saya bandingkan orang Burma, Thailand , Kamboja dll terkadang masih ada kesamaannya dengan bangsa Indonesia pada umumnya.
Kalau dilihat dari ukuran tubuh, ada satu suku bagian dari Filipina (Mindanau) yang sangat besar2 perawakannya seperti sebagian orang Karo, tetapi banyak juga orang Karo bertubuh biasa2 saja, sedang Suku batak lainnya juga terkadang ada yang besar2. Kalau kita lihat suku Bugis dan Jawa Timur, banyak diantara mereka yang bertubung tinggi2 juga, mereka lebih besar2 dari orang2 Jawa Tengah. Orang Tongga, Cook Island dan Hawai dan New Zeland umumnya besar2, tetapi saya kenderung melihat ini adalah efek makanan mereka yang kaya akan protein, walau kalau dilihat dari postur tubuh dan warna kulit mereka lebih mirip kita.
Orang2 Eropa dan Asia besar dan bangsa Melayu umumnya mempunyai bentuk paha dan pangkal lengan lebih kecil dari orang Batak, orang india, sedang memang orang India utara yang disebut bangsa Aria umumnya juga berbeda dengan bangsa India dari Selatan.
Tetapi saya sangat menghargai kejujuran dalam diskusi ini. Saya tidak gampang menyimpulkan sesuatu hanya karena sentimenti, atau dibawa perasaan. Saya mempercayai sama pentingnya pertimbangan2 diatas dengan pertimbangan dari buku2 sejarah
Danfer Lubis
September 10th, 2011 pada 21:48
Wah……. ternyata orang Karo juga bertemperamen tinggi seperti orang Toba, ini dilihat dari komentar-konentar yang ada di blog ini.
Orang Karo memang tutur katannya lebih halus, tapi hatinya sama galak dengan orang Toba.
Ucapan orang Toba hampir sama dengan isi hatinya, tetapi yang lain…….. berbeda, lain bibir lain di hati, kebencian memang nyata ….. terlihat dari “sikap” dalam tulisan-tulisan diatas.
Saya ingat dahulu, “separatisme” Batak VS Karo mulai marak setelah terjadi Konflik antara Kol. Maludin Simbolon dan Letkol. Djamin Gintings. Konflik ini mewariskan kebencian terutama bagi orang yang imannya lemah.
Saya yakin sebagian besar pembaca blog ini adalah Nasrani, Yesus berfirman tebarlah kasih dan buang kebencian.
GBU
Danfer Lubis
Romerro Munthe Carro
September 12th, 2011 pada 16:25
dalam terombo si raja batak, salah satu keturunannya ada yg menikahi Beru Sembiring Meliala… itu saja sudah cukup membuktikan bahwa saat itu Karo dan Batak sudah hidup ber iringan… jadi ga benar klo Karo itu bagian dari batak/karo adalah pendatang… krn dlm Konteks ini Batak adalah Keturunan Si Raja batak yg masuk dalam Tarombo Si raja Batak…. LOL
Adonia Sihotang
September 12th, 2011 pada 18:15
Harusnya dilihat dari ilmu Antropologi. Tanggapan-tanggapan berdasarkan turi-turian Si Raja Batak yang turun temurun mungkin tidak menyelesaikan masalah ini.
Tapi kenyataannya, pada arisan-arisan di luar Sumatera Utara, umumnya semua bersatu (Toba, Dairi, pakpak, Karo, Simalungun, Sipirok, Angkola, etc) dalam nama BATAK.
b.Parningotan
September 12th, 2011 pada 18:39
dalam komentar2 pada website ini pernah ada komentar masuk dari saudara kita orang Padang yang mengatakan orang Padang keturunan Alexander The Great, wah itu omongan yang ngalor ngidul keterlaluan, Alexander orang bule, dia berwarna coklat, gimana ceritanya itu, …bisa saja Waktu Alexander The Great menyerang Padang dulu dia kawin sama orang Padang, makanya anaknya ada yang coklat dan menjadi moyang orang padang, hingga orang Padang mengaku keturunan Alexander The Great, tetapi tentunya ada juga bule mengaku keturunan padang viseversa (timbal balik), nah ini sama kasusnya sama permasalahan yang kita bicarakan. Sekarang kalau kita lihat postur tubuh. Orang Mauri dari New Zeland, orang Cook Island, orang Pacific, Hawai, Tongga semua mempunyai postur tubuh yang identik dengan kita, tetapi berbeda dengan orang Bule, China dan Negroid. Kita semua masih segolongan yaitu berwarna kulit sawo matang, Bahasa dan kebudayaan kita belum 100% berbeda, penyebaran orang berwarna kulit sawo matang umumnya disekitar Khatulistiwa, orang2 Indian dan Amerika Selatan berwarna kuning dan mempunyai wajah yang lebih tajam2 dari kulit sawo matang. Sekarang kita pelajari sifat2 pendatang. Pendatang itu umumnya mempunyai bahasa yang sangat berbeda dengan penduduk lokal dan sekitarnya. jadi kalau ada yang lain sendiri, maka yang lain itu adalah yang pendatang. Nah semua harus dipertimbangkan selain buku sejarah yang hanya ditulis oleh seorang penulis. Tetapi saya tidak gegabah memberi kesimpulan dalam hal ini, kasus yang mirip seperti Jawa dan Sunda dapat memberi kesimpulan cerita yang berbeda….. begitulah!!!
Christian Gultom
September 12th, 2011 pada 20:53
Mungkin karena dominasi suku Toba (walau kata ini gak enak kedengarannya ditelinga) sejak berdirinya Indonesia, sehingga setiap berkaitan dgn hal keBatakan, saudara suku2 lain di Indonesia dari luar suku “Batak” langsung tertuju pada Batak Toba..sehingga memicu kecemburuan dari “Sub Batak” lain..saya bangga menjadi orang Batak..dan saya jg senang setiap ada ekspose tentang suku Karo, Simalungun, pak2, dan mandailing..saya interest untuk mempelajarinya..dan saya merasa ada didalamnya..Saya sendiri sedih kenapa hal ini harus diributkan..tanpa harus menghilangkan sejarah awal dari setiap suku, saya rasa, kata BATAK sebagai identitas pemersatu bagi 5 suku yg ada, telah menjadi sebuah identitas yang BESAR saat ini..banyak prestasi lokal dan internasional yg telah diukir oleh anak bangsa Batak..Sekarang, kenapa harus diributkan ya? mari saling mendukung dan menghargai satu sama lain..kemajuan dari 1 suku, juga akan menjadi kemajuan Batak kita Batak..demikian jg sebaliknya..tapi bagi saudara dari Karo yg gak mau disebut Batak, it’s ok lah..itu gak akan mengurangi KEBESARAN dari BATAK itu sendiri..Peace..!!
Ropinus Sihombing
September 13th, 2011 pada 09:29
Salam persaudaraan…..
Saya berusaha mengikuti dan membaca hampir 80% koment yg ada dlm blog ini, khususnya ttg topik ini. Kesimpulan saya ialah:
1. Manusia zaman sekarang marasa lebih eksis jika berbeda, maka akan selalu mencari perbedaan, dan akan mem blow up sekecil apapun perbedaan itu. Sementara menurut pemahaman saya, “NENEK MOYANG KITA SELALU MENCARI PERSAMAAN SEKECIL APAPUN SBG PEREKAT”, dan kesimpulan saya ini juga tertuang dlm komen2 yg muncul, yg walaupun barangkali tdk disadari pemilik komentar.
2. Saya tidak merasa terusik sedikitpun, apalagi terganggu dgn keinginan Saudara/i yang mencoba menelusuri identitas atas masa lalu, hingga akhirnya menyatakan dirinya dgn statement yg mengatakan bahwa Karo bukan Batak. Malah saya akan mendukung usaha dan niat itu. Saya akan menjadi bangga memiliki saudara yg memahami dan mengerti masa lalunya.
3. Dari beberapa orang yang memberi koment, dan saya kenal melalui postingannya di blog lain, justru saya sangat kecewa dgn mereka, krn pada saat ini, di blog ini mereka tdk seperti yg saya bayangkan.
Dari perdebatan yg terjadi, menurutku menjadi sangat berbahaya dan tdk mendidik
4. Jika berkenan, ijinkan saya mengulangi apa yg saya katakan diatas, sebagai bentuk harapan saya: “NENEK MOYANG KITA SELALU MENCARI PERSAMAAN SEKECIL APAPUN UNTUK DIJADIKAN SBG PEREKAT”.
Horas, Mejuah-juah, Njuah juah.
Hendra Wijaya Sembiring depari
September 13th, 2011 pada 13:10
buat danfer lubis….
kayaknya dari sekian pendapat diatas otak anda tdk dpt menyimak.
masalah kebencian atau yang lain tdk ada dalam pembahasan, ntar buat aja topik baru, g da jg hubungannya dng agama..
buat b. parningotan
setuju sekali apa yang anda sampaikan..jujur saya mendapat wawasan yg baru dari forum ini..masalah benar atau salah kayaknya g perlu diperdebatkan krn kita bukan ahlinya yg notabene ahli sekalipun bisa salah….
Horas
Mauliate godang
b.Parningotan
September 13th, 2011 pada 19:09
Kita ingat pel;ajaran sekolah dasar bangsa Indonesia terdiri dari dua kelompok, bangsa Melayu tua, mereka adalah yang pertama masuk ke indonesia, termasuk didalamnya, orang DAyak, Toraja dan Batak. Bangsa yang datang kemudian adalah bangsa Melayu Muda termasuk didalammnya orang Jawa, melayu, Sunda. Nah saya tidak tau dalam hal ini orang Karo masuk yang mana, mau ikut Batak atau Melayu Muda. Kalau Melayu muda…ya datang belakangan … Logis. dan saya tidak tahu buku sejarah yang mana yang paling ampuh…!!!!. Nah yang jelas terdaftar sebagai keturunan mempunyai moyangnya orang hebat adalah impian orang2 umumnya. untuk itu sejarah bisa dipilih demi yang paling memberi keuntungan pribadi. tapi ini bukan suatu kejujuran dalam diskusi
Danfer Lubis
September 14th, 2011 pada 20:47
Semua Argumen baik yang mengatakan Karo adalah bagian dari Batak, atau bukan bisa dibantah. Argumen terakhir ini (keturunan siraja Batak menikahi Beru Sembiring), ini sangat dangkal, bukan kah turunan Siraja Batak itu saling menikah, hanya tidak satu marga. Kalau ada yang bertanya siapa menantunya ADAM ? tentu saja anaknya sendiri, kalau tidak siapa ya ??????
Yang jelas Budaya dan Adat/Istiadat dari semua “Batak” (Mandailing,Angkola,Toba, Silindung,Pakpak,Karo dan Simalungun adalah “sama” atau symetris :
- Sama-sama ber marga
- Dalihan Natolu symetris, mungkin sedikit berbeda di Mandailing
- Aksara nyaris sama
- Posisi kekerabatan symetris (ke pihak ayah dan pihak ibu sama sama berbeda)
- Kosa Kata banyak yang mirip
- Aksesoris banyak yang mirip (ulos, musik, alat perang)
- Mengikuti garis keturunan Patrilinial (garis ayah / laki-laki)
Bandingkan jika kita ambil persamaan antara “Batak” dengan Melayu, atau
“Batak” dengan Minangkabau jauh …….
Jika anda kelahiran tahun 50 an, mungkin akan ingat peristiwa Simbolon vs Gintings (PRRI), inilah sebenarnya yang memicu “separatisme” Karo vs “Batak”, pada hal antara Maludin Simbolon dan Jamin Gintings adalah konflik Politik bukan SARA.
Garth M Meha
September 16th, 2011 pada 23:17
@ Mr. Timotius A. Purba
kutip1:Buat juni,ini blog berbahasa Indonesia,bukan bahasa toba.disini Nampak keegoaan anda dalam berfikir
kutip2 man seninangku Tommy Surbakti…bujur man komen ndu e sen..
aq kuliah denga sen.semester 9 denga. lenga empo aq sen, e maka la padah kam kataken aq bapa..mela aq sen…hahahahaaaa,,,,,,
=>Kalau sekedar ber hahaha dengan senina, bilang denga lenga e_mail, eh…e maka, boleh ya bro? Kalau berkomentar seperti Ito Juni, tidak boleh?
Perlu anda ketahui bahwa blog ini bukan hanya berbahasa Indonesia. Kalau anda bilang bahwa artikel yang sedang kita bahas ini berbahasa indonesia, 100 untuk unda.
salam
G Meha
September 19th, 2011 pada 00:49
Timotius A. Karo-Karo Purba
November 6th, 2010 pukul 12:04
Kutip 1: @ Juni hutabarat
“Songon i do molo pamalo HU prinsipna, namangalului sensasi sian naposo doi asa sega tu haduan gabe ndang adong parsadaan, gabe perbedaan ma naro, boasa ndang dibahas ibana negara on? boasa ndang dibahen ibana “BOASA (HARUS) KARO BUKAN INDONESIA?” sai na adong do tahe si suar sair. “
Buat juni,ini blog berbahasa Indonesia,bukan bahasa toba.disini Nampak keegoaan anda dalam berfikir
Kutip 2:man seninangku Tommy Surbakti…bujur man komen ndu e sen..
aq kuliah denga sen.semester 9 denga. lenga empo aq sen, e maka la padah kam kataken aq bapa..mela aq sen…hahahahaaaa,,,,,,
Komentar: Mengapa kalau menggunakani bahasa batak toba di forum ini anda anggap egois dalam berfikri, sementara anda menggunakan bahasa Kerajaan Haru?
Perlu anda ketahui bahwa blog ini tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Batak Toba.
salam
Romerro Munthe Carro
September 26th, 2011 pada 01:34
@danfer Lubis
keturunan siraja Batak menikahi Beru Sembiring
SEMBIRING BUKAN KETURUNAN SI RAJA BATAK BOS…. ga ada sejarahnya itu
Sama-sama ber marga
- Dalihan Natolu symetris, mungkin sedikit berbeda di Mandailing
klo di karo lebih komplex bos.. yaitu merga silima, rakut si telu tutur si waluh perkade2n si 12 + 1 (bukan 13)
- Aksara nyaris sama
Semua aksara asli di dunia ini memiliki kesamaan jumlah induk dan pelengkapnya.. katakana, hiragana, kanji, kawi juga hampir mirip
- Kosa Kata banyak yang mirip
dengan sunda, jawa, bali juga banyak yg mirip… itu klo anda ngeri bahasa sunda, bali dan jawa
- Aksesoris banyak yang mirip (ulos, musik, alat perang)
di Flores, toraja, juga mirip, karo & jawa timur punya sarunei… seluruh nusantara punya gong..
- Mengikuti garis keturunan Patrilinial (garis ayah / laki-laki)
hampir seluruh nusantara mengikuti garis keturunan Patrilinial… setau saya yg matrilineal hanya Padang
-Simbolon vs Gintings
sedikit pun tidak pernah di ajarkan atau di Doktrinkan hal tsb di dunia pendidikan/keluarga karo… say slh 1 dari keturunan yg anda sebut, sama skali tidak pernah di doktrin keluarga utk membenci krn Konflik tsb
Dangkal banget seh. boss.. coba buka lagi Ensklopedi Indonesia boss
@B. Parningotan
terdaftar sebagai keturunan mempunyai moyangnya orang hebat adalah impian orang2 umumnya.
betul boss
tapi Mengakui dan di klaim sebagai keturunan moyangnya orang hebat yang bukan Moyangnya sendiri adalah Suatu hal yg sangat Memalukan
masa saya harus ngaku Keturunannya Soekarno, Che atau Fidel Castro atau Hitler???
P. Ginting
September 27th, 2011 pada 13:02
aku pernah begitu tertarik dengan pendapat bru sembiring di sebuah blog.. tapi aku lupa blognya…. ktanya gini…
orang Toba lebih suka menyebut mereka Batak, dan secara nasional orang2 melihat Toba itu sebagai Batak.
orang Karo ga mau disebut Batak, bukan karna apa2, sebenarnya maksudnya ingin mengatakan Karo bukan Toba. tetapi karena Toba itu sendiri lebih akrab dipanggil sebagai Batak. akhirnya Karo bilang, Kami bukan Batak. padahal maksundnya Kami bukan Toba.
marilah kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.
jika ada momen2 nasional atau internasional sama ratakan sub2 suku ” Batak ” jgn cuma menonjolkan toba,, itu yang membuat sub suku lain merasa kurang enak….,,, bahasa batak bukan bahasa toba…. Bahasa batak tidak ada….. yang ada bahasa Toba, bahasa Karo, bahasa simalungun dll…
pakaian batak bukan ulos… pakaian batak tidak ada… yang ada pakaian toba, karo, simalungun dll…
marilah kita jadikan batak itu sebagai nama bangsa seperti halnya indonesia….
hehehehe…….
aku orang karo,, tapi aku pernah smp di pangururan, dan sma di siantar (simalungun), dan nenekku tinggal di kutabuluh dairi (pak2),, aku juga seorang yang gemar menyanyikan semua lagu2 sub batak…. dan semua sub etnis itu indah…
bagiku semua sub suku itu sama rata……….. tetapi aku tetaplah berdarah karo asli, tapi aku punya teman2 yang baik2,,, ada orang toba, simalungun, pak pak.. dan semuanya kami adalah satu….
hehe….
aku bukan ilmuwan,, aku masih belum pintar,, masih mahasiswa semestr 3,,,, jika ada kata yang salah,,, mohon dimaafkan…
itu hanya CURHAT aja…. hehe… supaya kita semua satu…
Horas…
Mejuah-juah….
Njuah-njuah…..
Maridup Hutauruk
Oktober 1st, 2011 pada 00:08
Mengapa para komentator tidak masuk ke artikel cukup bagus, ‘Batak?” oleh Ahmad Arief Tarigan di sini >> http://tanobatak.wordpress.com/2010/08/12/batak/
agungginting
Oktober 3rd, 2011 pada 04:37
eah…batak jering..
Karo ya Karo
Toba ya Toba
masak semua mau kalian klaim..
kalau di karo ada kalimat yang sering saya dengar sewaktu kecil dulu..”piga tebamu?” yang artinya berpa tebamu (berapa orang tobamu?).
Bang Tarigan
Oktober 5th, 2011 pada 23:28
Sekedar informasi mengenai Karo di sciencedirect. http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/30/ilmuan-karo-meningkatkan-kualitas-bangsa-indonesia-melalui-jurnal-internasional/ Biarlah Karo tetap Karo, karena Karo adalah Karo. Selamat berkarya.
Bang Tarigan
Oktober 5th, 2011 pada 23:51
Yang pasti juga Batak adalah pelabelan orang lain. dalam sebuah tulisan ada yang membedakan antara Batac dengan Karrou..bisa di check di google. Sejak kapan orang orang disumatera mengaku batak? itu juga dipertanyakan. Dari diskusi teman-teman di atas jelas sekali karakter Karo berbeda dengan Batak lainnya apalagi Toba……….Itu menunjukkan ada budaya dan MORAL yang berbeda. Contoh istilah Toba adalah Raja nami…………kalau orang Karo DIBATA NIIDAH (‘Tuhan yang tampak), Terminal kata ini menunjukkan manusia dengan kelasi karakter Raja dan Karakter TUHAN berbeda. Apalagi Batak memengandung instilah negatif dan digunakan untuk membedakan orang besosia pada jamannya, tidak berALLAH dan bahkan KANIBAL, Itu menunjukkan KARO bukan dari bagian itu, Karo sdh bersosial, sudah berdagang ke PENANG dengan tongkan menjual Lada di abad 17, Karo sudah ada yang islam seperti Datuk Sungal, Karo dapat hidup 8 keluarga serumah, Semua itu membuat KARO mengkoreksi ISTILAH Batak…ini, Dan yang jelas batak itu identik dengan Tapanuli………..link wiki pedia Yong Batak (Tapanuli), artinya dari dalam diri orang Batak/Tapanuli itu tidak merasa nyaman untuk mengabungkan Karo dalam Batak………………..Karakter berbeda =======> metabolisme berbeda====> kemungkinan besar Gen juga berbeda =======> perlu dilakukan test, http://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Batak
Robinson G Munthe
Oktober 8th, 2011 pada 12:31
Ketika kami di SD – SMP dulu (1966 – 1972) di Tigabinanga, sewaktu mengisi kolom suku, kami menulis : KARO (bukan Batak atau Batak Karo). Kami menyebut diri kami Kalak Karo dan menyebut Kalak Teba untuk saudara2 pendatang dari Toba/Batak yag kebetulan banyak di Tigabinanga sejak tahun 1950-an. Secara spontan dan naluriah pada umumnya orang Karo menyebut dirinya Kalak Karo, bukan Batak Karo/Batak.
Robinson G Munthe
Oktober 8th, 2011 pada 15:01
Koreksi atas tahun SD-SMP di Tigabinanga (1966-1975). Tambahan : seperti sdra2 pendatang Jawa, Kalak Teba di Tigabinanga umumnya bekerja sbg buruh tani, beberapa sbg guru dan peg pemerintahan. Pendatang dari Aceh, Minang dan Tionghoa di sektor informal sbg pedagang kecil. Umumnya pendatang di Tigabinanga fasih berbahasa Karo dan dipergunakan sbg bhs pergaulan sehari-hari. Beberapa pendatang bahkan kawin-mawin dengan orang Karo dan ditabalkan ke dalam salah satu merga orang Karo (Merga Silima). Inilah sepintas kilas potret sosial di Tigabinanga yg saya kira representasi dari Tanah Karo pada umumnya. Bagi teman-teman di luar Karo yang sudah bisa memahami dan menerima pernyataan Karo Bukan Batak sudilah kiranya untuk meluaskan dan menyebarkan hal itu ke internal keluarga dan sahabat2nya dalam pergaulan sehari-hari. . Bagi yang belum bisa memahami dan menerima, silahkan terus menggali dan melakukan pencarian. Menurut yg saya pahami, pernyataan Karo Bukan Batak bukanlah upaya pemisahan dari Batak, tapi pencarian akar sejarah, pelurusan dan pencerahan atas jatidiri Karo yang sesungguhnya. Dan hal itu bebas dari prasangka buruk, emosional dan permusuhan. Setidaknya untuk saya. Bujur ras mejuah-juah.
sirait naburju
Oktober 9th, 2011 pada 07:43
@bonar siahaan
saya setuju dengan pendapat lae
memang Timotius A purba hanya mempertahankan pendapat sendiri dan mengatakan apa yang dipikiranya sendiri
saya sebagai halak toba bangga dan kehormatan bagi saya terlahir sebagai batak
yang ingin saya tanyakan kepada impal saya Timotius A purba
mpal konsisten gak mengatakan karo bukan batak??(oppss saya juga tidak ingin sebenarnya mengatakan karo batk)
silahkan kalau anda punya bukti dan nyali samapikan kepada semua orang karo dan deklarasikan karo bukan batak
perlu anda ingat nenek moyang atau omoung kita adalah pintar pasti ada alasan mengatakan karo itu batak
dan jika anda tidak setuju dngan pernyataan ompung2 kita ayo silahkan berembuglah sesama org karo dan nyatakan kalan bukan batak
(toba tidak akan pernah keberatan jika anda bukan batak)
perlu anda camkan itu
bukan maksud untuk membeda2kan
sirait naburju
Oktober 9th, 2011 pada 07:51
maksud aku disini
kalau karo memang tak ingin jadi batak kok harus diributin
biarlah apa yang menjadi maunya karo memisahkan diri dari batak dan gak make embel2 karo
menurut pribadi saya sendiri itu hanya IRI
kenapa?
masalahny kro tidak ada bedanya dengan sunda,betawi =jago kandang
Hendra Wijaya Sembiring depari
Oktober 9th, 2011 pada 13:45
@ Sirait Naburju
Makanya ente klo mo masuk ke rumah masuk dari pintu, jgn dari jendela..
siapa yg meributkan? coba baca dari awal..
itulah yg membedakan antara karo dan toba, SOK TAU NYA ITU….
klo ente bangga jd orang TEBA, ya silah kan saja….sapa yg keberatan…..
Masalah IRI???????
maksudnya kami iri ngeliat si Cyrus, Gayus, Haposan, Rosalinda,
atau si toke minyak yg ASBUN…..dimana letak irinya tolong lah dijabarkan biar kami tau…..
Masalah jago kandang….hmmmmm
boleh ditest……one on one ……..
Hendra Wijaya Sembiring depari
Oktober 9th, 2011 pada 13:49
dan hati-hati kalau memberikan komen…
jangan statement ente dibaca oleh saudara seberang sana (betawi, sunda) yang ente blg jago kandang….g enak malu…..
dari situ keliatan seberapa dangkal pemikiran ente, yg melebarkan masalah….
Robinson G Munthe
Oktober 9th, 2011 pada 14:38
@Sirait Naburju.
Banyak cara dan media menyampaikan dan menyebarluaskan pandangan, temuan dan pernyataan, tidak harus dgn cara deklarasi. Bisa anda bayangkan saya mendeklarasikan Karo Bukan Batak sementara kedua putri saya lahir dari rahim seorang wanita Br Sipahutar ???. Ini hanya sebagai satu contoh kasus. Tentu saya punya cara mencerahkan keluarga saya dalam hal ini agar mereka paham Karo Bukan Batak. Begitulah pula hal-hal yang harus disikapi bijak secara umum oleh orang Karo. Tidak perlu secara provokatif kan. Soal iri, saya tdk paham kepada siapa dan terhadap apa org Karo iri. Saya sdh meninggalkan kampung saya sejak tahun 1976 (usia saya skrg 51 thn) untuk sekolah, kuliah dan bekerja di berbagai kota Indonesia dan saya melihat bagaimana kehidupan keluarga2 Karo dari segi sosial kemasyarakatan dan ekonomi dibanding dgn masyarakat lain. Kesimpulan saya adalah : tak ada yg perlu di-iri-kan dari masyarakat lain. Coba anda baca referensi mis : Menuju Sejarah Sumatera, Anthony Reid, (khususnya mulai hal 16) dan referensi2 lain, maka wawasan anda akan dinamika org Karo akan bertambah.
Ricky Suhartono
Oktober 12th, 2011 pada 14:58
wah, saya kira dgn adanya marga2x, silsilah keturunan yg katanya msh tersimpan, masih memegang adat yg ditinggalkan leluluhur, dll orang batak ini persaudaraannya lbh kental, kokoh, kuat dalam perantauan dan sptnya terorganisir dari kampung hingga ke berbagai daerah perantauan.
Tp sptnya melihat tulisan dan komentar2x ini, sepertinya orang batak tidak akan mungkin bersaing dgn sekelas orang cina (“kuantitas”; dimana jmlhnya 1milyar lbh d cina, dan msh tersebar di berbagai belahan negara dan mereka bangga melabeli dirinya sebagai orang “cina”, meski banyak perbedaan internal seperti sub2x bahasa dll) ataupun orang Yahudi (“kualitas”; dimana jmlhnya sedikit kok di seluruh dunia, tersebar di amerika, eropa dan israel, tapi kepintaran, kebiijaksanaan dan persatuan mereka membuat kekuatan mereka disegani di berbagai negara).
Ricky Suhartono
Oktober 12th, 2011 pada 15:01
mungkin bisa jg diteliti kok bisa2xnya orang jawa menyisip jadi pejabat gubernur sumatera utara
Robinson G Munthe
Oktober 17th, 2011 pada 16:47
@Ricky Suhartono
Pertama, topik ini Karo Bukan Batak, utk itu anda hrs membacanya secara utuh dan runtut shg anda menangkap nas-nya. Anda hrs memotretnya dari angle yg baru, jgn angle yg lama terutama jika anda dari luar kultur Toba/Batak atau Karo. Kedua, ketika anda menyebut Batak, maka kami orang Karo beranggapan bhwa yg anda maksud bukanlah kami. Selain itu ketika anda membandingkan maka posisinya hrslah compatible/setara, jgn anda membandingkan jeruk dengan semangka. Ketiga, org Jawa (Gatot) jadi Gubsu kenapa anda heran atau bertanya-tanya? Orang Jawa sdh ratusan tahun di Sumut dan jumlahnya sekitar 37% dari seluruh penduduk, ditambah lagi dgn kebhinekaan dan sifat keterbukaan warga Sumut maka wajarlah orang Jawa jadi Gubernur Sumut. Agar anda tahu jumlah orang Karo hanya sekitar 4% dari warga Sumut (dan/atau hanya sekitar 15% dari org Batak/Tapanuli) shg kualitas adalah jawaban satu2nya utk bisa tampil baik di level Sumut maupun Indonesia. Orang Karo sadar betul akan hal itu. Namun jika anda kebetulan suka travelling atau tinggal beberapa lama di berbagai kota Indonesia dan mengamatinya , maka anda akan melihat bagaimana org Karo berperan di kota2 itu baik sebagai pengusaha, birokrat, militer, profesional, tenaga pendidik, politisi maupun bidang2 lain. Misalnya, apakah anda pernah mendengar di kota Salatiga Jawa Tengah pernah ada Merga Ginting jadi Ketua DPRD-nya? Di Lampung merga Karo-karo sebagai pengusaha bus terbesar, atau merga Ginting sbg eksportir Kopi dan rempah2 yang jaya. Begitulah pula yang ditemukan di pulau-pulau lainnya di Indonesia, walaupun tidak sedikit pula yang hidupnya berkekurangan. Itulah keberagaman hidup.
Dion Sinaga
Oktober 22nd, 2011 pada 04:37
Saya Sinaga (Toba 100%) & istriku campuran Karo-Sunda (br. Sembiring Brahmana). Cinta kami meleburkan bnyak prbedaan,sprti suku,agama,status,dll..& kami pnya anak yg manis2 & brprestasi..
RENUNGKANLAH: BEDA ITU INDAH
HORAS..MENJUAH-JUAH..BHINNEKA TUNGGAL IKA
Hendra Wijaya Sembiring depari
Oktober 25th, 2011 pada 15:11
susah emang diskusi ma org yang sok tau, jogal, jugul ato yg IQnya jongkok kali ya…
disini yang dibahas adalah masalah IDENTITAS..bukan diskriminasi ato perbedaan….
makanya, klo mo komen tolong dibaca dari atas ya guys….
Manu Gintings
November 18th, 2011 pada 22:53
Mejuah-juah,
Kalak Karo.. hmm… banyak juga yang membaca dan menyampaikan emosinya di atas sana… sebuah hal yang menarik yang perlu digelitik: Mengapa protes, dan bernada emosi? Sebuah hal yang tidaklah perlu terjadi bila mengingat kalak Karo ingin menegaskan sejarah dari mana asal budaya mereka… mengapa tidak ada bukti literatur tentang hal ini? Semuanya sayangnya sudah hangus terbakar ketika Belanda ingin menduduki Karo. Bangsa Haru, Umang, dan sebuah keragaman dari segi linguistik (saya adalah seorang dosen bahasa di Unimed). Sampai saat ini saya masih menganalisa hal tersebut dari segi bahasa. Bahwa “batak” yang lebih cenderung mirip adalah Batak Selatan, Simalungun, Toba, dan Mandailing. Kemiripan bahasa mereka lebih erat. Sedangkan “batak” utara diantaranya Karo, Gayo, Pakpak, dan Dairi memiliki kemiripan juga. Bahkan asal kata Simalungun yang diperkirakan (sekali lagi masih diperkirakan) berasal dari kata “Simelungen” dalam bahasa Karo, kemudian beberapa nama daerah di Medan seperti “Kesawan”, “Belawan” masih lebih erat kaitannya dengan bahasa Karo. Guru Patimpus Sembiring Pelawi juga ternyata telah didaulat sebagai pendiri kota Medan, inilah beberapa hal yang menunjukkan eksistensi suku Karo sebagai suku yang “diakui” keberadaannya…
Perdebatan tentang apakah Karo bukan Batak, tentunya sudah jelas bukan mengarah ke perpecahan. Ini lebih condong sebagai pendalaman sejarah dan budaya… Saya membaca penyataan sdr. Timotius dan agak tergelitik sedikit karena akhirnya beliau terpancing emosi dengan pernyataan2 rekan-rekan bermarga Batak Toba lainnya…
Memang benar. ada beberapa marga Karo yang juga hasil asimilasi dengan beberapa marga2 Toba. Setahu saya juga marga Ginting Suka yang saya miliki ini juga sejarahnya bukan berasal asli dari suku Karo, melainkan asimilasi dari Dairi… makanya kampung kami di Suka, Tigapanah sana dekat dengan Dairi.. Tapi dari kebahasaan, bahasa singalor lau dan bahasa gugung tetap memiliki kemiripan yang tinggi, tidaklah membentuk sebuah suku yang baru lagi. Hal ini membuktikan kedekatan merga Ginting ke rumpun Karo nya…
Saya cenderung mendukung Karo adalah Karo, karena toh, Karo tidaklah memaksakan diri bahwa Gayo adalah Karo Gayo (karena sekali lagi, dari sejarahnya ada dua versi, Karo berasal dari kata Haru, atau berasal dari bahasa India, Karee) karena kalau tadinya Karo itu memang ada sejarahnya disebut sebagai Batak Karo, tentunya akan ada peninggalan sejarah (atau minimal dari segi kebahasaan, ilmu yang saya dalami) ciri Batak dalam Karo (seperti Gayo dan Karo).
Karena bila dianggap Karo adalah “anak durhaka” Batak Toba yang tidak mau mengakui “satu ibu”. Saya kuatir, justru kenapa larinya menjadi mirip pemaksaan mengakui “ibu” orang lain untuk menjadi “ibu” kami? tapi kalau saya pribadi diajak untuk memutuskan hubungan “saudara” dengan apara dan lae ku dari Batak Toba sana, aku pribadi juga menolak. Karena memang aku merasa bahwa mereka adalah “saudara”ku, biarpun lain “ibu”
Lebih menggelitik bila juga kemudian ditanya, bagaimana dengan suku lain? Bah! kalau suku Nias, Jawa, Sunda, bahkan Asmat di ujung sana adalah “saudaraku” juga, berarti Batak Toba bisa dikatakan “sepupu” ku… karena memang hubungan kita lebih dekat di tapal batas Kabupaten itu. Toh intinya “saudara” toh?
Dan memang, untuk urusan budaya, tentunya saya tidak akan mengajarkan kepada anak saya bahwa “Angklung” adalah heritage dari leluhurnya. sehingga memang, “Ulos” juga bukan. tapi “Uis Gara”, “Kulcapi”, “Tapak Sulaiman” adalah heritage leluhur bapaknya… “Mejuah-juah” adalah ucapan salamnya, “Bujur” adalah ucapan terimakasihnya..
karena apa? karena saya juga akan mengajarkannya untuk mengucapkan “mauliatae” kepada paman dan bibinya yang dari Batak Toba, dan melarangnya untuk mengucapkan “Bujur” kepada tante dan om nya dari Sunda sana..
Itu saja pencerahan sedikit dari saya, satukan hati dan pikiran, perdalam budaya kita, dan bersatulah…
Atur ula ribut…
Bujur ras Mejuah-juah
Njuah-juah
Mauliate, Horas
Sawagolo, Yaahowu
Salam..
monangsembiring
November 26th, 2011 pada 02:08
Menurut saya batak itu bukan suku tp hanya sebutan kata ejekan masa jaman dahulu terhadap orang yg tinggal dipedalaman sumatra utara dianggap belum maju karena belum beragama (animisme/perbegu) disebutlah batak,padahal orang yang disebut batak itu sebetulnya telah memiliki suku seperti,suku toba,suku mandeling,suku karo,suku simalungun,suku pak pak,dan suku lainnya sudah memiliki bahasa budaya adat istiadat yang berbeda beda.
Jadi kemungkinan besar masa dulu itu suku suku yang ada di pedalaman sumatra utara ini tidak mengerti apa arti dari kata batak tersebut,bahkan kata batak itu mungkin dianggap suatu sanjungan terhadap leluhurnya yang disebut sekarang dengan siraja batak,padahal siraja batak itu tidak ada karena batak itu adalah sebutan bagi orang yang belum beragama masa saat itu, jadi yang ada adalah raja suku toba,raja suku karo,raja suku mandeling,raja suku simalungun,raja suku pak pak,dan raja suku suku lainnya yang ada di sumatra utara ,karena jaman dahulu itu semua suku ada rajanya
Roy Surbakti
November 28th, 2011 pada 12:02
Baru tahu saya kalo karo dianggap sama dengan batak
padahal suku karo dengan batak itu bak Suku sunda dengan suku bugis, tidak ada korelasinya. Kalo karo yang berdomisili di pesisir tidak pernah menggangab mereka sebagai bagian dari batak.
Darius Ginting
Desember 1st, 2011 pada 10:09
perdebatan yang takkan ada akhirnya.
sama2 ga ada yang mau mengalah
Reyders Munthe
Desember 1st, 2011 pada 12:26
Yg tdk setuju disebut BATAK, gali sejarahnya bgaimana sebutan itu ada jgn asal coment (dilat bibir sebelum mangkatai) puluhan tahun bersama dan seia mengapa sekarang ada kontra, apa lgi yg kau cari toh ga JUARA…
roy van halen
Desember 2nd, 2011 pada 16:15
kerajaan haru itu bukan milik orang karo.. tetapi milik orang melayu,aceh,india ttamil orang2 batak kuno yang merantau ke kerajaan haru.. bahasa kerajaan haru adalah bahasa melayu kuno.. bukan bahasa karo yang ada sekarang.. kebetulan kelompok orang2 batak yang ada di kerajaan haru ini sangat sering mendominasi dan mempengaruhi kerajaan ini.. sebab banyaknya komandan2 perang dan raja2, punggawa2 yang berasal dari kelompok batak ini,selama ratusan tahun masyarakat batak haru tadi berasimilasi dengan serta kawin mawin dengan orng2 masyarakatl lainnya yg ada di kerajaan itu yaitu orang2 india,melayu,orang aceh,bahkan arab..seiring dengan runtuhnya kerajaan haru kelompok orang2 batak tadi tetap membawa keagungan nama kerajaan tersebut dalam kehidupan dan diri mereka,sehingga timbullah jaman apa yang dikatakan dengan ORANG KARO atau SUKU KARO…
Robinson G Munthe
Desember 9th, 2011 pada 15:09
@DG : ini bukan perdebatan menang-kalah tp soal pernyataan dan pencerahan jatidiri Karo. Mau didebat atau tidak pencerahan ini akan terus bergerak, baik secara individu, keluarga dan komunitas terutama terhadap generasi muda Karo. Makin didebat justru gerakan pencerahan ini makin mengental dan menguat.
@RM : Coba kunjungi situs-situs spt Sapo Holland dll pemahaman anda akan lbh baik
@RVH : idem dito
elfan (elfizon anwar)
Desember 11th, 2011 pada 11:46
Tapi karena sebagian besar warga sudah menjadi Muslim, maka perlu ada kajian hubungan Islam dengan keberadaan adat itu sendiri. Dan salah satu permasalahan ‘besar’ yang cukup berat ialah masalah penambahan nama ‘suku’ atau marga atau nama ‘nenek moyang’ setelah nama dirinya.
Masalah penambahan nama nenek moyang dan bukan nama orang tua langsung pada nama setiap orang lalu dikaitkan pula dengan hubungan adat dan agama, inilah seyogianya dirasa perlu merujuk pada ajaran Islam itu sendiri. sebagai contoh menururt Al Quran ada suatu kewajiban dalam hal penggunaan nama sendiri ditambahi dan menambah nama ‘orang tua’ atau bapak-nya dan bukan nama atau identitas suku atau marga atau nama nenek moyangnya sendiri, mari kita simak QS. 33:5 sbb.
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Jika penambahan identitas nama atau suku atau marga dilihat dari kaca mata ajaran Islam, maka sudah nampak kecendrungan ke upaya ‘kesakralan’ atau pengkultusan sesuatu yakni nama suku atau marganya atau nama nenek moyang kita.
Akibat yang cukup mendasar dari penampakan identitas marga atau suku tersebut adalah dengan adanya ketentuan atau rumusan adat seperti tidak boleh kawin semarga atau sesuku. pada hal dalam Islam tidak ada larangannya seseorang lelaki dengan perempuan yang berasal dari satu marga semacam itu.
Atau akibat lainnya, kalau seseorang itu belum bermarga karena berasal dari suku lain, lalu akan dikawinkan maka ada suatu kewajibkan baginya untuk dipasangkan atau diangkat menjadi warga suku atau marga tertentu pula.
Atas dasar sederhana tersebut, maka dirasa sudah perlu untuk kita kaji kembali masalah hubungan adat dengan ajaran agama khususnya Islam. Salah satu contoh penting kita kembali menerapkan identitas nama ‘bapak’ kita secara langsung itu lebih baik dari pada nama ‘nenek moyang’ kita dimana kita tak jelas riwayatnya, Muslim atau bukan.
Karena pendapat saya di atas, maka saya mohon maaf jika tidak berkenan untuk dikemukakan. Wass.
Pakpahan
Desember 15th, 2011 pada 14:54
Dear All,
Setelah membaca 140 komentar di atas, saya tidak mendapat pencerahan, selain bisa membaca karakter orang yang berkomentar. Pada akhirnya saya jadi menyesal membaca komentar-komentar tersebut, karena saya telah mengorbankan 1 jam lebih waktu saya.
Saya jadi berpikir apakah saya termasuk salah satu dari mereka yang mudah terprovokasi, mudah tersulut, mudah di-adudomba?
Apakah saya perlu dijajah 350 tahun lagi untuk bisa belajar tentang pentingnya nasionalisme?
Belajarlah dari sejarah kelam bangsa ini.
Robinson G Munthe
Desember 21st, 2011 pada 14:35
@Pakpahan
Jika anda teliti aktivis atau pengakses tema Karo Bukan Batak (KBB) tersebut rata-rata berpendidikan tinggi dan usia dewasa, shg mereka amat kritis dan tak akan menerima ide atau temuan jika tidak didasari alur pikiran yang benar dan argumentasi yang kuat. Lagipula pemikiran KBB setau saya tidak memiliki tendensi dan target apapun kecuali menemukan dan menegaskan jati diri Karo yang sesungguhnya. Soal nasionalisme, saya tidak menemukan titik singgung apalagi pertentangan antara pemikiran KBB dengan tingkat nasionalisme orang Karo. Bahwa ada kebanggaan sebagai suku Karo tentulah iya, tp bukan dalam semangat etnisitas yg sempit dan eksklusif. Kita menyadari penuh dalam bingkai dan kerangka apa keberadaan orang Karo. Apalagi dalam sejarah bangsa tidak ada satupun fakta yg menunjukkan orang Karo pernah menentang NKRI atau pemerintah pusat. Soal dijajah 350 thn tampaknya anda perlu belajar kepada sejarawan Anhar Gonggong yang menggugat pelajaran sejarah bhw Indonesia dijajah Belanda 350 tahun. Jawa dijajah 350 tahun mungkin benar, tp Indonesia bukan hanya Jawa. Untuk info anda Belanda baru bisa memasuki Langkat dan Binjai (Karo Langkat) pada thn 1870 dan Karo Gugung (Kab Karo sekarang) thn 1902. Kata “memasuki” bukan berarti menguasai lho, karena rakyat Karo terus menerus melakukan perlawanan.
RGM
Maja Barus
Desember 25th, 2011 pada 14:17
wah wah…diskusi yang sangat menarik..
Dari atas sampai bawah saya belum dapat titik temunya, alangkahnya menariknya bila ada pertemuan semacam diskusi panel gtu untuk menelaah lebih lanjut membahas topik ini…
tapi klo saran saya untuk mencari kbenaranya bagaimana klo kita buat aja ritual memanggil leluhur kita untuk mengungkapkannya ya ^^…
salam…
Yedi Irawadi
Desember 25th, 2011 pada 21:35
kenapa harus dipikirin sih….. biar saja pak Juara Ginting melepaskan dirinya dari cangkang nya.. lah wong cuma beliau saja yang geger sendiri, ngga ada tuh saudara kita (Karo) yang lain mempermasalahkan ” BATAK ” yang melekat di ” KARO ” nya itu sendiri…. Saya sendiri keturunan Batak tulen… Ayah Mandailing (M. Nasution ) Ibu Simalungun ( K. Damanik ) kandati keluarga besar saya ( Ayah + Ibu ) Muslim tapi kami ( Saya ) sangat bangga dengan ” BATAK ” ga perlu harus dipungkiri kan? atau gengsi dengan predikat BATAK..?? sekali batak ya tetap BATAK…. Seharusnya bangga dong jadi orang BATAK banyak Family Tree nya Toba, Simalungun, Mandailing, Pakpak, Dairi dan juga Karo, oh ya ada yang lupa.. saudaraku Karo kehilangan anggotanya satu orang… yaitu Pak dosen Juara Ginting. Horas batak…!! Dejes ma Batak, Dear ma Bapak, and….. ULA KAM BEGE PAK JUARA…. By : Yedi Irawadi Nasution
L Ginting
Desember 28th, 2011 pada 14:58
Identitas Orang Karo, selalau saja anggapan orang bahwa orang Karo sama dengan orang Batak(Toba) / Tapanuli. Padahal sangat jauh berbeda ; bahasa tidak saling mengerti,adat istiadat berbeda jarang ada bisa menjalankan melaksanakan perkawinan secaraadat Karo sekalian adat Batak, makanya kalau ada Orang Karo kawin dengan Orang Batak ( Toba) pada pagi hari dilakukan perkawinan secara adat Karo siang hari setelah makan siang upacara secara adat Batak. Bahasa yang digunakan antara Orang karo dengan Orang Batak adalah bahasa Indonesia agar tidak salah pengertian. Disinipun sudah jelas bahwa Orang Karo tidak anggap dirinya sebagai Batak dan Orang Batak juga tidak anggap Karo sebagai Batak,sebab kalau samasama Batak cukup dengan adat Karo ataupun secara adat Batak saja. Ada kamus bahasa Batak disitu hanya menyangkut bahasa Toba saja , dan masih banyak contoh lain seperti lomba lagu Batak, siaran radio budaya Batak disitu pembawa acaranya memakai bahasa Batak( Toba) dan lagu dari daerah Toba .tks. LG
Ramlinton sinaga
Januari 22nd, 2012 pada 01:40
hahaha
LUHUT SINAGA
Maret 1st, 2012 pada 13:35
Halo teman-teman yang masih tidak suka dikatakan batak. Memang benar, secara umum, kalau seseorang mengatakan Batak, si pendengar langsung berpikir itu adalah suku toba. Tetapi teman-teman kita dari karo juga memang tidak memperkenalkan diri sebagai Batak. Lebih cenderung mengatakan karo. Dan inilah sebenarnya asal mula dari pokok bahasan kita kali ini. Orang toba selalu memperkenalkan diri dengan mengatakan ” Saya Batak”, dan teman teman kita Karo mengatakan ” saya Karo”. Karena tidak semua orang batak tahu bahwa karo termasuk orang batak, maka perkenalan dengan ungkapan ” Saya Karo ” menjadi sangat umum dan tidak terkendali karena tidak ada yang saling menasehati. Misalnya Teman kita dari karo seharusnya mengatakan kepada teman kita Batak toba, seharusnya kamu memperkenalkan diri “saya toba dari suku batak, bukan saya batak”. Atau teman kita dari toba juga harus menasehati ” kamu jangan bilang Karo, seharusnya kamu mengatakan saya karo dari suku batak”. Tetapi karena kita tidak saling mengerti dan juga karena kita memperkenalkan diri dengan cara yang berbeda, maka panggilan Batak, langsung tertuju pada komunitas “toba”. Maka dari ini seharusnya para praktisi pendidikan dari kedua belah pihak mengajar para generasi muda kita untuk memperkenalkan diri lebih baik lagi, misalnya ” saya batak toba, marga Saragi” sama halnya dengan teman kita dari karo, ” saya batak karo, marga sembiring”. Mudah-mudahan 20 tahun kemudian generesi muda kita yang telah mendapakan ajaran dan bimbingan dari para praktisi akademi kedua belah pihak tidak akan mengatakan saya bukan batak. Saya orang batak toba, dan bangga mempunyai teman orang Batak Karo (sori, kalau teman-teman kurang suka di panggil batak karo). Dan semoga teman-teman kita dari batak lain berkenan dengan sebutan Batak yang melekat pada suku tersebut, seperti simalungun, pakpak, dan dairi. Dimohon pada teman-teman yang lagi mencari kasus untuk mendapatkan gelar master atau doktor untuk lebih selektif mengambil topik kajian. Terimakasih pada forum sekalian dan semoga kita melihat persoalan sebagai hal yang harus diselesaiakan bukan sebagai perang yang harus dimenangkan.
Hesperonesia
Maret 6th, 2012 pada 13:02
silahkan check opini saya tentang batak
di…
http://hesperonesia.wordpress.com/
Joni Hendra Tarigan
Maret 12th, 2012 pada 20:23
Bebek tidak bisa mengerami telurnya, bahkan telurnya. Diletakkan seperti kotorannya saja. Ayam pun dijadikan mengerami telur bebek dan menetaslah telur bebek itu.
Sang induk Ayam memanggil anak bebek ” kruk kruk kruk, ” Ci cit cit cit,,, ” suara anak bebek itu sebari berlari ke kolam kecil bukan mendekat ke Induk ayam.
Setelah besar Induk ayam pun semakin heran, yang lain ” kukuk,,,,kukuk,,,,” kok yg satu ini ” gegekkkkkgekgekgek,,,”
Sang bebek tetaplah akan menjadi bebek kendati dierami oleh Ayam.
Jati diri yang sebenarnya seyogianya perlu disejatikan.
ChS Lubis
Maret 18th, 2012 pada 08:23
Kenapa ya Batak dari Toba tidak menperkanalkan diri sebagai Batak Toba atau Toba saja? Karo bukan Batak, kenapa tidak dibahas kenapa Karo harus Batak? Sehingga kesamaran menjadi jelas dan konflik semakin meruncing/mengecil!
Patuan Naraja
Maret 20th, 2012 pada 16:40
Dengan Hormat Kami Berpendapat:
1. Mungkin saja, Saudara-saudara kita dari (Batak) Karo banyak merasa “tidak ada untungnya” dengan mengaku Batak. Ini terlepas dari antropologi, sejarah, adat, silsilah, bahasa, dan lain-lain.
2. “Untung” di sini mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari perasaan, harga diri, ikatan bathin, materi, jabatan, kebanggaan tertentu, adat istiadat, pokoknya menyangkut social/ekonomi/budaya/politiklah. Mengapa? Jangankan Saudara-saudara (Batak) Karo, orang Tiongkok pun ada yang bangga “menjadi” Batak dengan atribut marga di belakang namanya. Mungkin orang-orang ini merasa nyaman dengan “perasaan menjadi Batak. Jadi, siapapun, orang Irlandia sekalipun akan nyaman dengan atribut Batak bila terpenuhi tuntutan hidupnya tanpa mengurusi ‘antropologi’ atau apalah namanya….
3. Dimanakah “keuntungan” menjadi Batak itu diperoleh oleh Saudara-saudara (Batak) Karo? Tempat yang paling strategis adalah Pemerintahan, dalam hal ini Pemprovsu. Bagaimana? Kalau (ini kalau saja) gubernurnya dari (Toba, Simalungun, Dairi, Mandailing), ya budaya, ya SDM, ya apa saja yang berbau ‘karo’ harus terakomodir. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penanggap, kapanpun, dimanapun, kalau sudah menyangkut Sumatra Utara maka yang terdengar adalah Horas, Ulos, Rumah dan lain-lain yang semuanya Toba.
4. Untuk itu bagi Saudara-saudara dari Toba, instrospeksilah, berbesar hatilah terhadap rasa terabaikan dari Saudara-saudara kita (Batak) Karo. Begitu rasa kebanggaan, harga diri dan hal-hal lain baik yang materil maupun immaterial dipenuhi, niscaya tak akan ada yang mengungki-ungkit hal seperti diungkapkan Saudara kita Juara Ginting ini. Ini tidak sulit dipahami. Contoh, orang Papua kalau merasa diabaikan, mudah saja mereka mengatakan: “kami bukan Indonesia”, tanpa perlu repot ber”bulshit”ria dengan sejarah, antropologi, Belanda, kerajaan anu, hantublau dan lain-lain!
5. Kami yakin, bahwa jumlah Saudara-saudara (Batak) Karo yang menggugat kebatakannya terlalu kecil untuk merubuhkan bangunan Batak (Karo, Toba, Simalungun, Dairi, Mandailing) yang sudah berakar berabad lamanya. Kalaupun tetap ada yang seperti itu (menggugat bahwa Karo bukan Batak) maka inilah saya katakan: Waspadalah kepada para “penumpang” yang tinggal di Sumut yang merupakan pendatang baik dari suku lain di Indonesia maupun dari negeri lain. Orang-orang ini, memang bukan Batak dan bukan Karo tapi sudah meleburkan dirinya menjadi bagian dari Karo. Silahkan diteliti. Orang-orang ini tentu membawa karakter bawaan dari bangsa induknya masing-masing yang “tidak ada ikatan bathin” dengan Batak!
6. Terhadap golongan ini (yang selalu menggugat kebatakannya) kita pantas mengenakan cap “provokator disintegrasi Batak. Dan kita sebenarnya bisa mengadukannya ke pihak berwajib dengan tuduhan melakukan tindakan “SARA”!
Demikian Pendapat Kami
Mohon maaf bila ada yang salah.
L Ginting
Maret 22nd, 2012 pada 16:54
Sudah lama Orang Karo ( kalak Karo) diam tidak mau berbicara, orang luar menyebutnya /memanggilnya kau Batak dia diam kau Batak Karo dia juga diam. Saat ini Orang Karo sudah mulai ingin buka mulut dan mau berbicara siapa sebenarnya ia. Apakah Orang Karo benar ada ,siapa dia, identitas dirinya, bahasanya, adat istiadatnya, pakaian adatnya ,rumah adatnya , sifatsifatnnya . Orang Karo tidak mengerti bahasa Toba dan adat istiadat Toba demikian juga Orang Toba tidak ngerti bahasa Karo dan adat istiadat Karo . Orang Karo juga ingin tampak kelihatan seperti Orang Toba yang sudah dikenal mendunia dengan menamakan dirinya lebih senang sebagai Orang Batak. sudah lupa Toba nya. Tano Batak, apa tidak indah Tano Toba, kalau kami Orang Karo, Taneh Karo Simalem.
Robinson G Munthe
Maret 25th, 2012 pada 20:43
@Patuan Naraja
Pendapat untung-rugi anda yg mendasari KBB terlampau dangkal. Kalaupun ada pikiran seperti itu, tempatnya minoritas sekali di antara org Karo. Memang banyak kejadian yg mengusik hati nurani seperti istilah2 Karo yg tereduksi baik oleh org Batak maupun di luar Batak yg belum paham beda Karo dengan Batak : Uis gara disebut ulos, landek disebut tortor, mejuah-juah disebut horas dll. Itu jelas mengganggu org Karo. Bolehlah disebut hal-hal spt itu menjadi semacam penambah energi bagi orang Karo utk menelusuri lebih jauh dan seksama mengenai latar belakang “Batak” dilabelkan ke orang Karo shg sampailah pada satu kesimpulan bahwa kata Batak itu bukanlah secara indegeneous (internal mandiri) lahir dari orang Batak , tapi dari orang luar (orang-orang pesisir Sumtim zaman dulu) yang akhirnya dikukuhkan dan digunakan para penjajah untuk kepentingan mereka pd zaman itu. Dengan demikian posisi kata “Batak” di “Batak Karo” sangat lemah, shg dapat dipahami orang2 Karo jauh lebih bangga disebut secara tegas orang/suku Karo ketimbang dilabeli Batak Karo. Ini menyangkut jatidiri Karo yang akan bersangkut paut dgn karakter Karo. Memang pencerahan Karo Bukan Batak ini akan berlangsung lama krn salah kaprah penyebutan dan pengelompokan Karo menjadi Batak Karo oleh orang-orang Batak maupun non Batak telah berlangsung lama. Namun bagaimanapun upaya itu hrs ditempuh.
Robinson G Munthe
Maret 26th, 2012 pada 11:52
@ChS Lubis
Cara berfikir anda tampak progressif, out of the box. Jika menjadi penengah dlm suatu persoalan tampaknya anda bisa menjadi penengah yg adil. Betul, kenapa Karo harus Batak ? Silahkan bagi yg berminat temukan dan kumpulkan bukti-bukti sejarah yang akurat yg merujuk bhw Karo memang Batak, lbh hebat lagi bila ditemukan bukti2 genekologis bahw org Karo seketurunan dgn org Batak/Tapanuli. Sementara ini tampak bahwa penggugat Karo Bukan Batak pada umumnya mendasarkan pendapat mereka lebih kepada “suasana batin yang heran” bhw orang Karo kok tidak nyaman dengan sebutan dan pengelompokan Karo ke dalam rumpun Batak. Sementara org Batak merasa nyaman bahkan bangga disebut Batak, tanpa terlalu peduli asal-usul kata Batak itu sendiri. Dalam hal ini org Karo tdk pernah heran apalagi mengusik dgn kenyamanan dan kebanggaan mereka itu. Silahkan saja bangga dgn Batak. Yang mengherankan, kok sebagian org Batak heran, terusik, bahkan menghabiskan energi menggugat pencerahan Karo Bukan Batak, bahkan ada yg menyangkutpautkannya dgn SARA. Sungguh pikiran yg tumpul. Kalau yg namanya persaudaraan dan persatuan ya tdk ada yg berubah, yg berubah adalah mind-set (cara pandang) terhadap persaudaraan dan persatuan itu. Simaklah makna persaudaraan atara org Jawa dan Sunda, Madura dan Jawa, Maluku dgn Papua dan Timor, Minang dgn Melayu. Begitulah cara memandang Karo dengan Batak. Kalo lebih dekat-dekat sikit bolehlah.
Patuan Naraja
Maret 28th, 2012 pada 13:11
Bersatulah! Sekali lagi kami menyeru: Bersatulah wahai Bangsa Batak!
Horas. Menjuah-juah!
Kambe Ginting
Maret 30th, 2012 pada 18:29
Buat saudara saya Maridup,
Saya baru membaca dengan seksama sekitar 15 responden dair atas, dan saudara mengatakan bahwa Drs. Juara Ginting tidak lulus kuliah di Leiden. Sumber mana yang anda maksud?
Bagaimana sebuah institusi pendidkan besar seperti USU memvalidasi gelar MA yang melekat pada nama saudara Drs. Juara Ginting?
L Ginting
April 2nd, 2012 pada 16:54
@ Luhut Sinaga, sejak dari dulu Orang Karo menyebut/mengatakan bahwa temanteman dari Tapanuli Utara ( Samosir,Silindung, Humbang, Toba) dengan sebutan Orang Toba atau kalak Teba ( bahasa Karo). Kenyataan temanteman dari Toba lebih senang memperkenalkan diri dengan sebutan Batak: Tano Batak, Kamus Batak,Adat Batak, akasara Batak,HKBP, Siraja Batak dan seterusnya. Coba Kalau Orang Karo juga menyebut dirinya sebagai Orang Batak dalam arti tanpa embelembel Karo maka pasti makin kacau, orang Karo mengatakan ucapan selamat adalah ” mejuahjuah” bukan kata ” horas”. Bahasa Persatuan Orang Batak jadi bahasa apa, Toba kah atau Karo, Teman dari Toba menganggap Orang Karo ngerti dan bisa bahasa Toba maka tidak jarang langsung ngomong Batak dengan Orang Karo. @ saudara Patuan Naraja ucapan selamat bahasa Karo adalah ” mejuahjuah” bukan ” menjuahjuah”, sebutan selamat dari teman kita Orang Pakpak ” Njuahnjuah”. @ Lubis, saya setuju pertanyaan anda kenapa Orang Batak dari Toba tidak memperkenalkan diri dengan isilah Toba saja & Kenapa Karo harus Batak ?. Margamarga pada Mergasilima di Karo tidak tercantum pada silsilah /tarombo pada Toba. Hanya pada dongeng cerita di Toba bahwa ada salah marga ini pergi ke Karo, Ginting disana dia bikin marganya, menjadi pertanyaan kenapa dia rubah marganya apa sebelumnya sudah ada marga Ginting di Karo sehingga mewajibkan semua pendatang harus menyesuaikan diri dengan merga Karo( Merga Silima). Namun apapun jadinya walaupun Karo bukan Batak saya kira persahabatan antara Orang Karo dengan Orang Toba tetap bersahabat seperti biasa bahkan lebih bersahabat lebih dekat bila dibandingkan dengan suku lain misalnya suku Papua.
Patuan Naraja
April 4th, 2012 pada 09:32
@ Robinson G Munthe
“Pendapat untung-rugi anda yg mendasari KBB terlampau dangkal …..”
Pola pikir saya praktis: “berangkat dari apa yang diinginkan di masa depan”! Saya menginginkan adanya persatuan ‘pribumi’ Sumut, dan ‘pengikat’ persatuan itu adalah BATAK. Justru pihak yang menggugat KBB adalah minoritas (dipelopori oleh orang-orang pendatang yang bukan Batak Karo dan bukan Batak Toba). Oleh karena itu persfektif saya tidak didasarkan atas HAL-HAL dimasa lalu yang sudah lapuk dan busuk dan cenderung memecah belah. Makanya pemikiran KBB bukan ‘pencerahan’ seperti istilah Saudaraku, tapi ‘pemecahbelahan!’ Dan ini dapat dikategorikan sebagai SARA.
@L Ginting
Bahasa Persatuan Orang Batak jadi bahasa apa,?
Melayu!
Mejuahjuah” bukan ” menjuahjuah”
Terimakasih atas koreksinya.
Hanya pada dongeng cerita di Toba bahwa ada salah (satu) marga ini pergi ke Karo,…
Saudara menyebut itu dongeng, karena itu diungkap/dikisahkan oleh orang Batak Toba, tapi coba yang mengisahkan itu si, John, si Smith, si Anderson…anda akan menganggapnya sebagai kebenaran.
Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah!
ANDIN LEO RANGKUTI
April 12th, 2012 pada 09:45
Para penggemar blog ini sekalian,
Saya adalah orang batak dari Mandailing, (Rangkuti) atau menurut nenek moyang saya Batak Mandailing, . Saya tidak mau dikatakan durhaka oleh nenek moyang saya, dengan mengatakan saya bukan BATAK, pantang.
Setelah saya membandingkan proporsi argument antara orang batak toba dan Karo, dalam hal quantitas, bukan kualitas argument nya, saya melihat bahwa 68% adalah orang karo, 28% orang batak toba dan 4% yang bukan batak toba maupun karo. Jadi saya berasumsi bahwa:
1. Kemungkinan orang karo lebih banyak di SUMUT daripada batak Toba, atau
2. Orang batak toba lebih suka berargumen di dunia nyata, daripada maya, atau
3. Orang batak toba penakut…? tapi mereka punya panggilan bergengsi seperti bangsa napistar, nanimiakan atau bangsa parbarani…!
4. Orang karo lebih kaya dari pada batak toba, karena mempunyai akses internet 24 jam dan bisa duduk di internet beberapa jam tanpa kerja,
5. Orang batak toba berpikir bahwa tidak ada untung ruginya karo menjadi batak atau tidak, atau..
6. atau,..ataua….ataua…
Teman-teman bagi saya hidup hanya sementara, menggali hal-hal yang kurang bermanfaat adalah sangat kurang bijaksana, menghargai apa yang dikatakan leluhur merupakan ibadah. Literatur belum ada yang mengklaim masalah yang dibahas di blog ini. Tapi bukti2 sudah banyak, seperti GKBP, siapa diantara kita di blog ini duluan ada di dunia ini, GKBP atau kita…? apa itu kurang menjadi bukti? Hormati leluhur kita yang telah berjasa menyatukan kita menjadi satu suku, dengan sub-subnya… Horas Batak…!
yang terpenting bagi saya adalah, apakah dapur saya masih menyajikan masakan bergizi untuk anak dan keluarga saya? Kemana saya dan keluarga saya liburan bulan depan, ke danau Toba, Bali, Mentawai atau malah ke Hawai…? dan tentu saja, saya selalu bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa,…!
Andreas Sinuraya
April 13th, 2012 pada 03:44
Terlalu banyak orang pintar yg jadi komentator disini. Saya bkn orang pintar, sekolah saya juga tidak tinggi. Saya asli suku Karo! Bkn Karo pendatang atau apalah. Sudah sejak nenek moyang saya, kami tinggal di kampung tanah Karo. Jd paling tidak saya juga mengerti ttg suku, adat, bahasa suku saya sendiri. Memang beda!
Apapun katanya, saya sebagai salah satu orang Karo di Indonesia ini, sampai kapanpun tidak pernah bisa terima kalo saya dikatakan sebagai orang Batak.
Untuk saudara2 yg bersuku Batak, terimalah keadaan ini. Bahwa memang udah sejak lama orang Karo itu mengetahui perbedaan antara kedua suku ini. Hanya saja orang2nya pada gak peduli.
Lalu knp sekarang bangkit emosi orang2 Karo ini, sehingga komplain?
Saya sendiri merasa aneh. Kota Medan itu yg mendirikan Guru Patimpus yg udh jelas2 bersuku Karo, itu artinya udh jelas suku Karo lah yg mayoritas mendiami daerah ini. Lalu knp gedung kantor DPRD Sumatera Utara dibangun bercirikan rumah adat Batak? Aapakah krn pd waktu itu kepala daerahnya bersuku Batak? Bandara Kuala Namo yg mau dibangun pun dipermasalahkan atas namanya! Aneh kan?! Knp hrs diubah2 nama itu? Agar ada ciri Batak-nya kah? Ada 2 suku yang akan tersinggung jika nama itu diubah. Karo dan Melayu yg secara sejarahnya memiliki hubungan erat dgn suku Karo.
Intinya, Karo adalah Karo. Batak adalah Batak.
Antara Karo dan Batak banyak persamaan (karena daerahnya berdekatan/Ada interaksi sejak dahulu). Tp lebih banyak perbedaannya.
Terimakasih.
Tengku Eduart zhein
April 16th, 2012 pada 13:37
Istilah Si raja Batak ada pada zaman kolonial Belanda untuk mempermudah politik devida at impera nya,jd saya ragu apakah Siraja Batak itu ada atau hanya mitos saja,,,
kemudian prinsip dalihan natolu itu bkn bersal dr org batak toba,tp dr org Mandailing,bagaimana kita menanggapi hal ini?
Patuan Naraja
April 18th, 2012 pada 09:40
@AndinLeo Rangkuti:
>>”Hormati leluhur kita yang telah berjasa menyatukan kita menjadi satu suku, dengan sub-subnya… Horas Batak…!”
Naraja; Good point!
@Andreas Sinuraya: “Intinya, Karo adalah Karo. Batak adalah Batak”
Naraja: Jenderalnya mengaku dirinya Batak.., para pejabatnya mengaku Batak.., gerejanya Gereja Kristen Batak Karo……anda ini siapa??
@Tengku Eduart Zhein: “Istilah Si raja Batak ada pada zaman kolonial Belanda untuk mempermudah politik devida at impera nya,jd saya ragu apakah Siraja Batak itu ada atau hanya mitos saja,,,”
Naraja: Dari nama saudara menunjukkan anda jenis ‘yang bukan-bukan’..Karo bukan, Toba bukan, Dairi bukan, Mandailing bukan, Simalungun bukan….akibatnya merecoki!
Patuan Naraja
Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah.
L Ginting
April 19th, 2012 pada 11:33
@ Aldin Leo Rangkuti, GBKP ada sejak 1940 an sebelumnya hanya Gereja Karo saja dan orang Karo sudah ada jauh sebelum ada GBKP. @ Naraja , Kata Batak sebagai pemersatu pribumi di Sumut ?. Apa selama ini kita tidak bersatu dan apakah kalau etnis Karo tidak mau jadi Batak mengakibatkan kita terpecah ?. Apakah kata Batak itu untuk membedakan antara Orang Aceh dan Orang Minang. Kalau lah Karo merupakan sub dari Batak kenapa bahasa Karo berbeda jauh dengan bahasa Toba, coba lihat mana ada hubungan kata Mejuahjuah dan Horas. Apakah bahasa Batak itu ada ?. , bahasa Toba kah, apa Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola/Mandailing. Lalu kenapa sub etnis Toba menyatakan dirinya sebagai Batak, bukankan lebih baik pakai suku Toba saja sebagaimana Karo. Coba lihat disini blog Tano Batak disitu dibahas hanya Toba saja, Kamus Batak adalah kamus bahasa Toba ,HKBP adalah gereja Toba dan masih banyak lagi. Perlu anda ketahui selama ini Karo tidak mau dianggap sama dengan Toba karena memang beda baik bahasa, adat istiadat, sifatsifat dll. Bersatu dalam Batak , kongkrit bagaimana , kan nggak mungkin bahasa Karo dihapus diganti bahasa Toba., dari bahasa ini kita langsung beda , bahasa menunjukkan bangsa.
Pasaribu
April 19th, 2012 pada 12:40
Tingki dakdanak ahu, molo naeng marmeam, biasa do digorahon angka dongan, ninna ma: ISE NA OLO RO MA TU SON< ISE NA SO OLO LAO MA SIAN ON. Jadi molo so olo halak gabe Batak, lok ma disi. Nuaeng hita na Batak ma ta pasada rohanta. Boi do hita sada?
Robinson G Munthe
April 20th, 2012 pada 11:51
Sekwilda Sumut Nurdin Lubis pada Sarasehan Pembinaan Mental Rohani TNI tgl 28 Maret 2012 mengutip data statistik (SP 2010) dari 12,9 juta penduduk Sumut, berdasarkian etnik rinciannya : Melayu 5,86%, Karo 5,09%, Batak 25,62%, Mandailing 11,27%, Nias 6,36%, Simalungun 1,04%, Pakpak 0,73%, Jawa 33,4%, Minang 2,66%, Tionghoa 2,71%, Aceh 0,97% dan gabungan etnis lainnya 3,29%. Kita bisa lihat dgn jelas dari data tsb bahwa Karo dari segi etnik/suku adalah berdiri sendiri, tidak masuk dalam kelompok Batak. Jadi saya melihat banyak kemajuan pandangan masyarakat luas termasuk didukung oleh data demografi mengenai Karo Bukan Batak ini. Dari banyak sumber dan media kita bisa melihat bhwa semakin hari semakin banyak masyarakat bisa membedakan mana Batak mana Karo.Atensi kita bukan asal berbeda, namun perbedaan yang proporsional dan bersahabat. Banyak hal yang menyangkut mitos yg selama ini ditanamkan dan diajarkan kepada kita, terutama disekolah-sekolah. Sama juga ttg mitos bhw bgs Indonesia dijajah Belanda 350 tahun. Sejarawan Anhar Gonggong, Taufik Abdullah dan Ichwan Azhari telah membantahnya dengan mengatakan bhw diantara tahun pendaratan Cornelis de Houtman di Banten thn 1596 sampai kemerdekaan Indonesia 1945 banyak daerah di nusantara yang bebas merdeka di bawah penguasa dan raja-raja lokal. Pelajaran sejarah memang harus ditulis ulang shg bebas dari mitos-mitos dengan kepentingan tertentu di belakangnya. Karenanya saya dapat memahami sinyalemen sdr Tengku Eduart Zhein di atas mengenai mitos Siraja Batak, tp utk hal tersebut saya tidak memiliki kompetensi utk membincangkannya.
The Surbaktian King
April 20th, 2012 pada 17:07
Wow, Marilah kita saling menghargai persamaan dan perbedaan tu. Jangan paksa seperti yang anda mau, apalagi ada benturan kepentingan, biarkan dia bebeda yang penting kita bisa memahami perbedaan itu, karena perbedaan itu termasuk hukum alam (sunatullah)
Analoginya bisa seperti :
Jus Jeruk versus Jus Mariquisa, kalo anda belum pernah mencobanya maka anda tidak akan tau perbedaanya, dan anda akan mengatakan; sama sama jus buah. tapi kalo kita memahami, kedua jenis buah ini sangatlah berbeda (bukan begitu he..he..)
Sekarang ada lagi Produk baru Jus Martabe (srupppptt….seger ini, mau…)
Salam Indonesia
LUHUT SINAGA
April 22nd, 2012 pada 05:15
Teman-teman, bagaimana ke lima sub batak ini bisa terintegrasi dibawah 1 payung, saya pikir tidak terlepas dari hegemoni bahasa BATAK pada jaman dahulu. Kita bisa melihat apakah sebuah bangsa itu besar dari bahasa yang digunakan. Jauh sebelum bahasa Inggris terkenal, bahasa Latin sudah menjadi bahasa Global selama 2 millenium (Janson, 2007). Latin menjadi bahasa Global terletak pada tajamnya pedang dan tombak para prajurit2 Roma (Janson, 2007). Tetapi Latin tidak bisa bertahan sebagai bahasa Global karena tidak didukung oleh kekuatan ekonomi Bangsa Roma (Crystal, 1998). Syukur pada Gereja Katolik yang masih tetap mempertahankan bahasa Latin sampai pada saat ini.
Dimasa vakum tidak ada bahasa Global, muncul beberapa bahasa besar kepermukaan seperti Jerman, Prancis dan Inggris. Namun, Bahasa Inggris yang tetap berjaya menjadi bahasa Global karena penyebaran secara geografis seperti penjajahan yang dilakukan Inggris, imigrasi orang-orang inggris selama terjadi penjajahan dan yang kedua adalah karena didukung oleh ekonomi Inggris yang kuat setelah terjadinya revolusi industri di Inggris.
Teman-teman apa kaitannya dengan Batak setelah melihat deskripsi diatas? Saya berasumsi bahwa DULU bahasa BATAK merupakan bahasa yang BESAR di SUMUT yang diperankan oleh kekuatan prajurit2 BATAK, sehingga membuat Bahasa Batak berfungsi sebagai “Gate Keeping Function” dengan kata lain, untuk mendapatkan sesuatu yang bergengsi seseorang harus mengerti bahasa Batak. Dan pada jaman dahulu BATAK itu referent nya hanya 1 yaitu TOBA.
Karena melihat kuasa dari BATAK itu maka setiap negeri jajahannya berusaha menguasai bahasa BATAK, terbukti, banyak teman-teman dari Karo bisa bahasa Toba, tapi orang toba tidak bisa bahasa karo, sama seperti orang Jepang bisa bahasa Inggris, tapi orang Inggris tidak bisa bahasa jepang. Selama penjajahan si raja BATAK, orang-orang batak juga ikut imigrasi ke negeri jajahannya dan menetap disana sehingga terjadilah penyebaran secara geografis. Jadi sepanjang SUMUT kita akan sangat mudah menjumpai teman-teman kita dari TOBA, karena penjajahan yang dilakukan si RAJA BATAK melalui ketajaman tombak dan pedang para prajuritnya. Jadi, suku-suku lain mau menjadi SUB BATAK karena melihat kekuasaan si Raja BATAK, tapi itu dulu, sebelum revolusi industri di Inggris, biasanya orang kecil kalau disamping orang besar membuat si kecil menjadi terkenal juga khan
???? Horas, mejuah-juah.
Patuan Naraja
April 23rd, 2012 pada 10:00
@Pasaribu : Boi do hita sada?
Wajib hukumnya!
Tahapannya: mulai dari diri sendiri! Kalau kita biasa-biasakan bersatu, kita sebenarnya mendidik diri sendiri untuk bersatu.
@L Ginting
#Soal perbedaan: Saudara Ginting saya amati selalu bertolak dari ‘perbedaan, bukan persamaan! Biar saudara tahu, anak kembar satu rahimpun berbeda!
#Soal blog : Gampang, saudara bikin blog Batak isinya Karo. Yang lain bikin blog Batak isinya Mandailing…dan seterusnya. Lihat orang Toba sudah memulainya: bikin blog Batak isinya Toba. Orang Toba sudah memulainya sebelum sauadara memikirkannya…!
#Selama ini kita tidak bersatu? : Bulshit!! Kita memang berantakan! Kalau kita bersatu, TIDAK SULIT bagi kita mendudukkan seorang GINTING memimpin Sumatra Utara. Tidak sulit bagi kita membangun Menara Patimpus setinggi Petronas Malaysia! Itu hanya sekedar contoh. Banyak hal-hal lain menjadi mudah….
Masalahnya: Kita kerdil! Dan yang bikin kita KERDIL adalah kita sendiri. Akibatnya kita jadi mangsa bangsa lain…….
Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah.
bastanta
April 23rd, 2012 pada 15:52
hahahahahha…..capek juga baca coment dari awal sampe yg terakhir ini….penuh dengan temuan2 baru yang bisa mencerahkan pendidikan sejarah yang selama ini tekesan dikaburkan untuk kepentingan penguasa yang ada di pusat sana..
dari fakta dilapangan…bahasa dan adat istiadat toba dengan karo adalah hal yang berbeda…bila dikatakan sama,akan menambah makin kaburnya sejarah yg ada pada saat ini…..
saya pribadi sangat menyayangkan statement2 dari orang2 yang punya marga / beru dari suku karo yang menyatakan bahwa ‘saya tidak perduli apakah karo termasuk batak atau bukan’…..untuk apa anda sekalian mahal2 disekolahkan bila anda sendiri tidak perduli dengan pencarian jati diri suku anda sendiri….!!!!!
begitu juga halnya dengan suku2 yang lain..carilah jari diri suku anda sehingga akan terbuka sejarah yang sebenarnya….
berbagai literatur dan penelitian tentang ‘BATAK’ telah disajikan oleh para peneliti dalam dan luar negeri…penelitian yang hanya sia2 bila kita masih berpegang teguh kepada cerita2 dongeng……
perbedaan bukanlah untuk memecah belah namun sebagai kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan….
salam sejahtera
damai negeriku
Tonggo Simangunsong
April 23rd, 2012 pada 21:54
Terkejut mendengar judul diskusi ini begitu membaca undangannya via sms dari seorang teman, yang adalah Karo. Menurutku, tidak perlulah mempersoalkan identitas mana Karo mana Batak. Sederhana saja, kalau bisa dipersatukan kenapa harus dipisahkan oleh batasan etnis. Di satu sisi, isu ini berhasil melahirkan polemik lagi. Sayangnya, polemik ini absurd!
raja asean sumbayak
April 24th, 2012 pada 00:29
RAJA ASEAN SUMBAYAK
sumbayjagokahn@yahoo.co.id
“Tongon do ai dahkam… Au pe lang setuju anggo hita ganub ihatahon batak. Tongon do ai memang sejarah ni peradaban suku ni ham ai na iulas iatas ai pasal sejarah harajan haru/ harou na gabe cikal bakal halak kita karo. Hanami pe lang ongga menentang in. Secara pribadi pe au lang setuju bani sejarah akal-akalan ni suku simbalog i siambiolu ni hanami….
tapi, naha ma bahenon, halani hita na manggoluhon
maningon do saling menghormati atap pe menghargai halak nalegan, se do mararti hita jadi suku halak ai…..
Pasal ni anggo rugi halani hita do na sukses, hapeni jadi batak do na jenges, batak do nasimbei tapi hita do na icap buruk in pe iahapkon hanami ganuban do… Se do pitah nassiam
Ai ma lobei tugah-tugahku, sebelum ni maapkon ham/ nassiam anggo dong na lepakku/ salahku hubamu.
Horas/ mejuah-juah”
sebelumnya, maaf ya… bahasa simalungun yang tertulis di atas tsb sebenarnya belum 100% bahasa/ sahap simalungun asli. hanya sekitar 25% saja yang asli, sisanya serapan dari bahasa indonesia skrg. dan wajar saja beberapa orang batak mengaku sok ngertid engan pernyataaan saya di atas.
saya tidak terlalu memahami bahasa asli, namun saya yakin tidak kurang dari 50% bahasa simalungun terdapat juga pada bahasa karo bahkan sampai 80%, namun hanya perbedaan e menjadi o, k menjadi h dan c menjadi k, dll pada simalungun. ini tidak saya ada-ada karena ada yang pernah meneliti hal ini klu nggak salah namanya Bpk. MASRUL PURBA DASUHA. Tidak hanya sebatas bahasa, alat2 musik tradisional, induk aksara dan urutannya, tarian dan juga sistem tatanan kehidupan yang sudah mengenal kerajaan juga sangat dekat antara simalungun, karo dan pak-pak. berbeda dengan mandailing, angkola dan toba. Namun, pada akhir2 ini, sepertinya budaya dan peradaban simalungun telah terpengaruh dengan budaya luarnya,tidak seperti saudara kami karo yang mana mereka masih terjaga kebudayaan aslinya, terlihat dari musik dan kerja2 adatnya..
Mungkin kemunduran peradaban simalungun ini juga tidak terlepas dari peristiwa GERAKAN BARISAN HARIMAU LIAR, di mana pada raja dan tuan di tanah sumatra timur (simalungun, karo dan melayu deli) dibantai oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan pengecut. peristiwa berdarah itu sangat parah dialami oleh suku simalungun itu sendiri, tidak seperti saudara2nya yang lain. Sepertinya simalungun saat ini telah kehilangan sosok pemimpin sehingga yang dulunya mereka yang berasal dari toba menjadi simalungun kembali lagi ke asal mereka dan justru lebih parahnya lagi, marga2 asli simalungun pun hanyut pada fenomena yang menyedihkan ini. Lalu keadaan simalungun yang condong ke batak untuk sekarang ini dimanfaatkan oleh mereka2 yang senang akan kondisi2 seperti ini. Seolah-olah simalungun itu berasal dari batak. apakah ini direncanakan oleh sekelompok atau alami terjadi, saya pun tidak tahu.Padahal dulunya simalungun ini lebih kemelayu-melayuan (80% melayu, asumsi saya). ini pernah saya tanyakan kepada orang tua saya dan juga leluhur saya.
Sebenarnya, bukan tidak ingin saya punya teman, saudara, rekan yang banyak. namun, siapalah yang mau ditindas, dijajah, tidak diakui identitasnya bahkan dianggap tidak ada….????? saya bukan menolak dikatakan batak dan tidak sudi juga dikatakan batak. tolong dicerna dengan baik pernyataan ini ….!!!!!!
ANDIN LEO RANGKUTI
April 27th, 2012 pada 08:36
Halo, teman-teman
Saya pikir kalau karo tidak menjadi bagian dari Batak, sah-sah saja, ini tidak akan mengubah struktur sub-sub batak yang lain. Sebenarnya dalam hal ini, karo yang ingin jadi sub batak, bukan toba yang paksakan. KAlau pengalaman saya selama ini, saya telah tinggal dibanyak kabupaten di Indonesia, dan melihat bahwa Karo yang memaksakan diri untuk masuk kumpulan Batak, alasannya karena mereka juga dikategorikan sebagai batak kita semua sadar BATAK senang buat perkumpulan. Dengan rendah hati dan hormat akan leluhur kita dulu, Toba membukan tangan kepada saudara nya ini. Disetiap kumpulan toba, kebanyakn karo, simalungun menjadi satu kumpulan. Dan karena saya sadar bahwa MAnddailing juga batak, kami masuk menjadi anggota kumpulan BATAK, walaupun hanya sebentar, karena tugas.
Akan sangat memalukan bilamana hanya sekelumit karo yang tidak berkenan kepada panggilan Batak, padahal hampir diseluruh Indonesia Karo masuk kumpulan Batak, bukan karena diminta toba, tapi karena mereka sadar mereka batak…:(
Kami Mandailing tidak terlalu meributkan hal-hal seperti ini. Karena pencarian identitas diri ini memalukan, bayangkan kalau asumsi karo benar bukan merupakan bagian dari Batak, Toba mungkin mengatakan, siapa bilang kamu bagian dari Batak? Ada nggak bukti tertulisnya kamu bagian Batak? selama ini kamu yang bergabung dengan kumpulan toba…! Ini mungkin yang akan toba katakan.
@LUHUT SINAGA, saya pikir gambaran mengenai Hegemoni Bahasa Batak di jaman dahulu itu benar. Bahwa Bahasa toba bisa dikatakan bahasa Global di sumatera utara dulu. Referensi saudara membuat argument anda lebih kuat.
@ PATUAN NARAJA, Saya kagum akan argument saudara,
hah,haha hahah
Naraja : “Jenderalnya mengaku dirinya Batak.., para pejabatnya mengaku Batak..,
gerejanya Gereja Kristen Batak Karo……anda ini siapa??”
Andin : Mungkin dia Simalin kundang Modern …
@ Andreas Sinuraya, kita tidak memerlukan orang pintar, mungkin kalau sekolah anda tinggi akan membuat suasana tidak kondusif pula, seperti si JG, syukur anda tidak pintar. Kita perlu orang yang bisa membuat suasana tenang dan kodusif.
Salam
ANDIN
Robinson G Munthe
April 28th, 2012 pada 22:51
@Luhut Sinaga
Penjajahan Siraja Batak yang anda analogikan seperti persebaran bhs Inggris, Latin dsb di berbagai negara, itu hanya ilusi semata. Itu lahir dari alam bawah sadar anda yang merasa Siraja Batak itu superior, muncul dari keangkuhan cara berpikir. Saya yakin hal Siraja Batak itu hanya mitos semata, sama seperti mitos kedatangan Ratu Adil di Jawa. Tak pernah ada dalam kenyataan. Faktanya adalah seperti dicatat peneliti Anthony Reid, orang2 Batak (Toba) telah melakukan migrasi ke daerah Simalungun dan Sumtim sejak tahun 1915 untuk membuka sawah dan perkebunan dibantu dan difasilitasi oleh Belanda, tidak lain karena sejak awal abad ke 20 Tanah Batak adalah wilayah terpadat penduduknya di nusantara sekaligus kantong kemiskinan. Semoga Tanah Batak sbg peta kemiskinan ini sekarang sdh berubah. Tapi tidak apa-apa, ilusi dan mitos Siraja Batak sbg penjajah spt yang anda sampaikan tsb malah membuat kami orang2 Karo dan barangkali teman-teman non Batak lainnya menjadi lebih sadar dan solid, bahwa barangkali mitos Siraja Batak ini memang sengaja dimunculkan dengan agenda tertentu. Jalan pikiran spt yang anda sampaikan membantu kami lebih waspada sekaligus lebih meyakini bahwa Karo bukanlah Batak. Hal lain pernyataan anda spt orang Karo bisa bhs Toba (kok anda tdk bilang bhs Batak ya ?) org Toba tidak bisa bhs Karo, atau orang Jepang bisa bhs Inggris, org Inggris tidak bisa bhs Jepang, itu malah menggelikan dan memperjelas seberapa dalam pengetahuan dan wawasan anda khususnya ttg Tanah Karo.
@Raja Asean Sumbayak
Sangat menarik sekaligus mengundang rasa hormat atas kejujuran, keberanian dan kerendahatian anda menuturkan kondisi sosial budaya Simalungun. Saran saya : yakinlah siapa diri anda sesungguhnya, jangan berada di area abu-abu. Menelusuri, menetapkan dan mengintrodusir jati diri anda (Simalungun) adalah hak anda sepenuhnya. Tak ada siapapun yg berhak mencegahnya, tak ada hukum yang dilanggar. Itulah inti dari kebhinekaan, jatidiri yang kuat namun tetap bersahabat dengan tetangga dan orang lain.
@Bastanta
Sayang sekali anda tidak mencantumkan merga anda, namun saya yakin anda org Karo dari nama anda. Orang2 Karo spt yang anda sebutkan adalah salah satu sasaran pencerahan KBB tersebut. Saya pun dahulu seperti itu. Sebagai salah satu media sosialisasi telah ada benih pikiran menerbitkan buku tentang hal ini, didahului dengan upaya menerbitkan hasil rangkuman dari berbagai diskusi dan forum tentang Karo Bukan Batak. Semoga bisa terwujud suatu ketika.
LUHUT SINAGA
Mei 1st, 2012 pada 08:59
Cara-cara kita dalam mengeluarkan pendapat masih dipengaruhi oleh budaya barbar. Yang biasanya dikategorikan lebih spontan dan merujuk langsung kepada interlocutor tanpa menggunakan coolheadedness (Wierzbicke, 2006). Orang barbar lebih mengutamakan physic dibanding dengan idea atau isi argument nya (Wierzbicke, 2006). Dengan kata lain orang barbar lebih cenderung menyerang pribadi dengan langsung tanpa menyerang substansi argument interlocutornya.
Dalam argument, theory2 bisa di propose dan dihubungkan dengan asumsi berhubung literature dari asumsi tersebut belum ditemukan. Asumsi saya mengenai hegemoni Bahasa batak toba hanya didasarkan pada theory penyebaran Bahasa dan penduduk melalui kekuasaan orang2 terdahulu sebelum penjajahan.
Kalau penyebaran Bahasa dan penduduk (sebelum penjajahan) diasumsikan Karena kemiskinan, saya pikir tidak logis atau absurd. Mengingat lahan yang harus dikelola ditanah sendiri masih sangat luas, dan bahkan diberi cuma-cuma kepada pendatang (menurut cerita2 orang tua) berhubung kepadatan penduduk tidak signifikan, tanah-tanah masih subur dan kantong-kantong mata air dimana-mana, dan kebetulan jaman dulu mayoritas masyarakat batak toba masih hidup dengan menggarap lahan pertanian.
Tetapi penyebaran Bahasa dan penduduk Karena kekuasaan (sebelum penjajahan belanda) sangat mungkin. Imigrasi besar-besaran bisa terjadi Karena keinginan menaklukkan daerah-daerah tertentu, ini bukan karena kemiskinan, tetapi karena keunggulan, yang mana orang-orang imigran ini membawa bahasanya sendiri dan berusaha membuat orang2 sekitarnya mengerti , ini akan mempermudah mereka menaklukkan negeri tsb.
Kalimat yang menyebutkan daerah kantong kemiskinan, Ini merupakan penggalan dari kata-kata motivasi untuk orang batak toba yang muncul di era tahun 90 an, bukan rujukan kehidupan yang riil. Karena kaya dan miskin itu terjadi dimana-mana, tetapi dengan adanya kata-kata motivasi ini, menginginkan semua orang batak toba bisa hidup lebih baik, daripada teman-teman yang tidak dirujuk dengan kata-kata motivasi seperti ini. Semoga penggalan kata-kata motivasi ini menjadi sumber inspirasi kepada teman-teman batak toba untuk tetap berkreasi, semakin sukses dan tetap rendah hati, jangan melupakan ajaran leluhur.
Horas, mejuah-juah
Patuan Naraja
Mei 3rd, 2012 pada 16:47
@Andin Leo Rangkuti: Salam Kenal Lae!
@Lae-lae yg suka berteori-teori:
Renungkan fakta-fakta (bukan teori) ini Lae_lae:
>>Pergilah ke Pemprovsu: Siapa pimpianannya dan karyawan-karyawannya? (fakta bukan teori)
>>Pergilah ke mal/mcdonald/fc/starbuck/….(representasi kemakmuran), apakah Halak Hita (karo/toba/simalungun/dairi/mandailing) yg bersiliweran/kongkow di sana? silahkan amati langsung! (fakta bukan teori)
>>Cek apakah bandara kuala namu dinamai Patimpus/Nasution/Singamangaraja atau lain2 yg ‘mewakili’ HITA? Lagian siapa yg peduli? (fakta bukan teori)
>> Cek lain2nya..yg fakta bukan teori!
Catatan: soal ‘kecil’ nama bandara misalnya, sy hubungi anggota dewan yg mulia2 itu, juga kawan2..tak ada respon! Sy informasikan melalui web untuk ‘memancing’ dukungan, hasilnya? NOL. Siapa peduli? Itulah kita yg selalu sibuk ‘bicara’, ‘berfikir’, ‘argumen’ teori2…Nihil tindakan! (Tuan Internet beri ‘jasa’ malah cuma ‘chatting’)
Horas, Mejuahjuah, Njuahjuah.
Patuan Naraja
Mei 3rd, 2012 pada 16:59
Saya juga kritik kepada Admin situs ini, kalau komentar kita diminta mencantumkan nama situs kita, saya pikir situs ini akan ‘bekerjasama’ dengan komentator yg kebetulan mengelola web sendiri, tapi nihil. Saya pikir kalau kita cantumkan alamat web kita akan dimasukkan ke blogroll-nya, tahunya nihil. Bagaimana mau ‘bersatu’?
(Saya sdh lama memasukkan “tanobatak” ke blogroll web saya, tapi blog ini hanya ‘diam’ saja. Saya ‘iri’ melihat keakraban blogger tetangga)
Ini juga cermin betapa rapuhnya ‘kekerabatan’ kita!
Robinson G. Munthe
Mei 3rd, 2012 pada 21:05
Jika anda pernah ke Tanah Karo maka anda akan tau persis, bahwa hampir semua pendatang non Karo yang tinggal di sana fasih berbahasa Karo, bahkan sebagian akhirnya menggunakan salah satu merga Karo (Merga Silima) di belakang namanya, terutama karena kawin mawin. Saya persempit ke daerah asal saya Kec Tigabinanga sehingga lebih aktual dan saya tahu persis. Teman main saya sejak kanak-kanak tahun 60 – 70 an di Tigabinanga adalah orang Jawa, Batak (Simbolon, Nadeak, Siringoringo, Silalahi dll) Aceh, Minang dan Tionghoa. Sehari-hari semua kami berbahasa Karo termasuk orang tua mereka. Ini bukan teori, sinyalemen, dugaan atau lain-lain tetapi fakta kehidupan. Kami anak-anak Karo, orang tua kami dan kakek nenek kami tidak mengerti bahasa Batak (Toba) walaupun sehari-hari kami mempekerjakan orang2 Batak (Toba) dan orang2 Jawa di kebun dan sawah ladang kami secara turun temurun, termasuk di keluarga saya. Mereka kami anggap bukan lagi buruh pekerja atau pendatang tapi sudah seperti keluarga kami sendiri. Kakek saya dari ibu Alm T.Sebayang yang dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat Tigabinanga bahkan memberikan lahan garapan dan tempat tinggal kepada salah satu keluarga Simbolon sebagai tanda kasih. Bahkan dalam pesta adat Karo mereka terlibat sesuai bagiannya masing-masing. Mungkin anda pernah ke Tanjung Pinang dan berkenalan dengan Dr Bob Naima Ginting ? Dia adalah salah seorang keluarga Tionghoa yang lahir dan besar di Tigabinanga dan fasih berbahasa Karo dan sangat bangga dengan merga Ginting-nya, juga seluruh saudaranya. Saya sendiri sedikit-sedikit mengerti bahasa Batak (Toba) itu karena pergaulan ketika mahasiswa di Malang, terutama karena beberapa “teman dekat” saya wanita Batak dan akhirnya menikah dengan Br Sipahutar. Jadi bukan karena secara sosiologis dan kultural sejak kecil di bawah “pengaruh” orang Batak. Gitu lhoooo…
ANDIN LEO RANGKUTI
Mei 4th, 2012 pada 09:49
Menarik sekali blog ini, banyak menyajikan informasi yang faktual dan bagusnya lagi pendapat tidak hanya beredar diatas angin, tapi memang didukung oleh beberap literatur yang relevant.
@ Halo Lae Luhut Sinaga, saya nggak termasuk orang yang masih mewarisi budaya barbar ya, karena saya tidak langsung menyerang pribadi orang lain, mudaha-mudah nggak ya…kalau karo tidak mengaku BATAK itu sah-sah aja, semoga betulllllll,,,,
@ Yang terhormat Moderator, saya pikir blog ini sudah bisa ditutup, karena yang memberikan komentar dari orang karo hanya beberap orang saja, banyak komentar hanyda dari mereka-mereka saja, dan ini tidak bisa menjadi representasi dari orang-orang karo secara keseluruhan. Teman-teman karo yang memberi komentar disini mungkin keahliannya di IT, yang ada access ke internet 24 jam, bukan orang-orang yang benar2 memiliki kompetensi menyatakan karo bukan BATAK. Saya takut, mereka bisa terbagi dua, ada yang mengaku batak dan sebaliknya, dan ini bisa mengakibatkan perang dingin diantara mereka, kalau untuk kita batak-batak yang lain nggak ngaruh karo menjadi batak atau tidak. Karena sebenarnya Karo yang selalu mengikuti BATAK, seperti kumpulan Batak, mereka ikut, arisan orang 0rang batak mereka juga ikut. Jaddi gimana, capek kita mikirin karo jadi batak atau tidak, saya ada pantun dibawah ini….!
Mangaraja najolo giotna boja
Ipangan halai di milas ni ari
Mangaso ma jolo pala loja
Anso sehat tu pudi ni ari
Kawat madung marbalun
Tiangpe madung teleng
Na tagima marpantun
Memang cocok iseng iseng, ha, hahahahahahh…
Sori pantunnya nggak nyambung semua………
Salam
Andin
L Ginting
Mei 7th, 2012 pada 11:44
Untuk Sdr. Andin Rangkuti, Karena sebenarnya Karo yang selalu mengikuti Batak ?, coba sdr tunjukkan di daerah mana orang Karo yang anda lihat yang selalu minta ikut perkumpulan orang Batak, arisan Batak perkumpulan/arisan batak apa namanya.
Patuan Naraja
Mei 7th, 2012 pada 17:13
Tabo ni Puisi mi ba Lae!
ANDIN LEO RANGKUTI
Mei 8th, 2012 pada 12:12
Akhir-akhir ini banayk orang mempromosikan produk2 nya melalui TV, radio, koran dll. Tapi kita sadar bahwa untuk mepromosikan produk2 itu seseorang atau perusahaan penghasil produk tersebut harus mengeluarkan banyak uang kepada pembuat iklan. Tetapi ada promosi yang tanpa mengeluarkan uang dan ditujukan kepada khlayak ramai melalui internet, dan salah satunya melalui blog ini.
Salah satu contoh yang konkrit adalah pamer kekayaan dan segala gengsi yang melekat kepada keluarga tertentu, yang bisa mempekerjakan beberapa suku dalam satu pekerjaan besar dan juga yang biasa berkontak dengan non-indigenous (non pribumi) seperti Cina, bule, dll. Wah, memang elit sekali keluarga ini…!
Selamat anda berhasil mejadi orang kaya dengan kecerdasan emosi yang rendah…! Ha,ha,hahahahhaha….:)
Salam
Andin
horas
Mei 13th, 2012 pada 19:22
Buat semua:
Napain kalian pusing2 mikirin si dosen ginting, ooooaalllaaahh… kalau dia gak mau ngaku batak y gpp lah, kalau dia mau ngaku leluhurnya dr india y biarin aja… aku gak mau maksa si ****** ginting ini untuk mengakui dirinya batak, tapi aku cuma mau kasi ada 2 pertanyaan aja ama si J ginting itu .
1. kalau memang leluhur karo dari india, apakah ada kesamaan budaya karo dan india..?? apakah ada sistem kasta ksatria, brahmana, sudra di dalam org karo spt india..??? (..ampe rontokpun jembutmu gak kn sanggup kw jawab ini, aplg klu kw tau makna kasta2 itu dan implementasinya)
2. si J Ginting menggunakan nalisis data zaman belanda,,muncul skrg pertanyaan,,belanda masuk ke tapanuli tahun berapa? dan istilah Batak itu sudah ada jauh sblum belanda masuk tapanuli….kw chek sana sejarah perdagangan barus/pusat perdagangan dipantai barat sumatera.
…………………..
jadi intinya: yg mau mengaku Batak y silahkan dan yg tidak mau mengakui dirinya Batak y juga silahkan,,,kenapa harus repot.
ANDIN LEO RANGKUTI
Mei 19th, 2012 pada 06:36
@Horas,
Saya pikir nada bicara kita bisa lebih sopan dalam berkomunikasi verbal BAIK TULISAN MAUPUN LANGSUNG. Belajar lagi lah dulu untuk bisa mengontrol emosi, karena saya pikir saat kita emosi, kata-kata yang kita ungkapkan bisa sembarangan dan tidak teratur. Saya pikir anda menuliskan pendapat anda diatas dengan emosi, terbukti banyak salah penulisan.
Kita setuju dan sependapat bahwa tidak ada untungnya karo mau jadi bagian dari batak atau tidak, tetapi kita masih mengunakan bahasa yang lebih sopan baik dalam merujuk orangnya langsung. Seperti anda bilang “si JG itu “, kita dalam adat batak tidak dianjurkan memanggil nama orang tua dengan memulai “si” ini kita alamatkan kepada anak-anak…!
Salam
Andin