Sulaiman Sitanggang (CEPITO 002)

Kebudayaan Batak dibangun diatas fondasi keluarga marga. Dengan menganut sistem kemasyarakatan yang terstruktur dengan rapi dan sistematis. Seperti Tarombo, Partuturon, Dalihan Natolu dan konsepsi sosiallainnya yang menjadi benang pengikat interaksi sosial dan kehidupanbermasyarakat. Menjadi Batak adalah dengan memahami dan menjalankan adat-istiadat. Sebutan "tak beradat" kerap menjadi hukuman sosial paling menyedihkan dan menyakitkan dalam interaksi sosial masyarakat Batak.

Marga menjadi landasan identitas seseorang sehubungan dengan eksistensinya sebagai manusia Batak. Marga terkait dengan identitas dan pengenalan turunan DNA orang Batak. Pemberian nama (marga) untuk DNA ini diantaranya, samudar (saudara kandung), haha anggi dongan sabutuha (semarga, garis turunan laki-laki), boru bere ibebere (garis turunan perempuan) adalah hal-hal mendasar yang mesti dikenal dan dijaga dalam proses perkembangan manusia Batak. Marga ini jugalah yang membedakan suku Batak dari suku lainnya. Sebuah kearifan leluhur yang unik dalam menjaga eksistensi kemanusiaan Batak dan esensi kebudayaannya.

Dalam proses menjadi manusia Batak (yang tak pernah selesai selama nafas dikandung badan), seseorang akan menjalani dan melaksanakan beragam perayaan. Kesadaran yang berpola dari sejak menjeritkan tangis pertama pada kelahiran ke dunia, lalu menikah, berketurunan, hingga menutup mata dengan damai, manusia Batak tak pernah lepas dari ragam rupa perayaan dan ritual. Melihat fenomena unik ini, Batak termasuk salah satu suku bangsa yang tak pernah berhenti merayakan kehidupan.

Pesta menjadi bahasa populer masyarakat Batak sebagai turunan pertama perayaan dan ritual manusia dalam merayakan hidup. Pesta telah menjadi tradisi yang nyaris tak bisa lepas dari wajah kebudayaan Batak. Pesta menjadi salah satu aktifitas Batak dalam mengisi kehidupan ini. Bagaimanapun situasi dan kondisinya, besar atau kecil, meriah atau sederhana, tetap saja namanya Pesta. Aktifitas sosial yang melibatkan segenap keluarga dan masyarakat sekitar. Pesta menjadi sebuah itikad Batak dalam merayakan kehidupan, metode untuk menghormati, menjaga, dan menghargai sesama manusia dan alam semesta. Tak jarang dalam Pesta jugalah generasi muda belajar memahami kebudayaan yang akan membentuk jati dirinya. Secara langsung melihat generasi yang lebih tua mempertontonkan kearifan sosial yang dilestarikan secara turun temurun.

Segala aspek kebudayaan terlihat dalam pesta. Artefak budaya seperti ulos, gondang, rumah adat, dll memegang peranan penting. Juga tata cara bersopan santun dalam tutur bicara yang terwujud dalam artefak bahasa seperti umpasa dan umpama turut menjadi mata pelajaran berbahasa bagi generasi muda. Melalui artefak kebudayaan itu, generasi muda mempelajari nilai-nilai kesejatian yang luhur dan sikap-sikap kearifan yang diwariskan nenek moyang. Singkatnya, pesta telah menjadi sekolah budaya bagi generasi muda.

Pendidikan budaya yang seperti apa yang akan dipelajari generasi muda melalui pesta-pesta itu? Pertanyaan ini kerap menjadi reaksi kritis berbagai kalangan dalam menyikapi hegemoni peradaban modern sekarang.  Selain tantangan dominasi modernitas yang menghimpit perkembangan kebudayaan, termasuk diantaranya sikap-sikap individu yang justru mendangkalkan kebudayaannya sendiri. Tak   pelak, kita mesti meredefinisikan kembali tentang pesta yang layak dijadikan sebagai sekolah budaya generasi muda.

Hingga tersebutlah Pesta Danau Toba. Yang melibatkan masyarakat Batak secara keseluruhan merayakan Danau Toba sebagai pemberian semesta yang tak ternilai manfaat dan keberadaannya. Untuk jutaan manusia yang sedang membangun peradaban di tepiannya. Bahkan, Danau Toba sudah seperti menjadi rumah semesta bagi orang Batak. Bagian yang tak terpisahkan dari Bonapasogitnya, tanah leluhur. Bagi generasi Batak-rantau, kerinduan akan kampung halaman kerap termanifestasi melalui sikap merindukan Danau Toba. Tak sedikit Batak rantau yang menitikkan air mata kerinduan dan kecintaan ketika menyebut nama Danau Toba dan Tanah Batak (Bonapasogit). Apalagi jika lagu ciptaan Nahum Situmorang "O Tano Batak" dan "O Tao Toba" disenandungkan. Orang Batak akan serentak khusuk dan bersungguh-sungguh melantunkan nada-nada abadi yang diinspirasikan oleh sang maestro itu. Lagu yang istimewa ini sudah menjadi seperti lagu kebangsaan Batak saja. Khususnya dalam pesta-pesta yang diselenggarakan orang Batak, lagu ‘O Tano Batak’ ini sudah menjadi pertanda musikalitas tinggi yang ada pada manusia Batak rantau dan juga kepada manusia Batak bonapasogit.

Demikianlah, runutan singkat asal usul ‘pesta’ yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak. Dalam hal ini, pelaksanaan Pesta Danau Toba 2010 tentu saja menjadi salah satu tumpuan harapan dalam mengembangkan dan memberdayakan masyarakat di sekitaran Danau Toba. Beragam ide dan gagasan disuarakan dalam membentuk Pesta Danau Toba untuk semakin dinamis dalam meng-inovasi ciri khas dan keunikan tradisi kebudayaan Batak. Pencitraan pesta dalam opini masyarakat tak lepas dari keberadaan hidangan dan makanan. Untuk itulah, dalam kesempatan perayaan Pesta Danau Toba tahun ini sekiranya mengangkat sisi lain dari kebudayaan Batak. Yaitu, keistimewaan dan keunikan Kuliner Batak.

Mengapa belakangan ini pesta-pesta Batak menjadi seperti ajang tak beradab, khususnya menyangkut tata cara makan dan perlakuan terhadap makanan. Tak sedikit yang prihatin melihat tata cara makan ala pesta Batak yang bisa disimpulkan dengan, "aduh, taklah elok dipandang mata". Apalagi jika dibandingkan dengan tata cara makan dalam budaya tetangga suku lainnya. Ada dikatakan, orang Perancis makan dengan lidah. Artinya, mengutamakan cita rasa yang tinggi. Orang Jepang makan dengan mata. Artinya, mengutamakan estetika dan penyajian yang menarik, rapi, dan bersih. Nah, orang Indonesia khususnya orang Batak itu makan dengan perut. Alias makannya seperti orang kelaparan yang tak mengenal estetika dan tata krama. Mendengar ini, siapa yang tidak tersinggung sebagai orang Batak?

Kerisauan itu diharapkan mampu terjawab pada Pesta Danau Toba tahun ini dan kedepannya. Bukankah dalam Kuliner Batak terdapat rahasia tata cara yang arif dan bijaksana? Baik dalam peramuannya maupun dalam penghidangan dan penjamuannya? Keseimbangan Dalihan Natolu (Batu Tungku Tiga) justru diambil dari aktifitas masak memasak. Disimbolkan sebagai filosofi ramuan dan masakan yang menyimpan keping teka teki yang diwariskan leluhur untuk generasi kemudian. Bahwa orang Batak itu jagonya meramu dan memasak. Ini sangat penting sebab tak satupun ritual Batak tanpa kehadiran makanan. Bahkan jika jumlah makanan kurang dalam sebuah perhelatan pesta, itu sudah aib bagi tuan rumah. Betulkah Kuliner Batak adalah ternyata perpaduan cita rasa makan ala Perancis dan estetika makan ala Jepang itu? Makanan yang memadukan cita rasa tinggi dan penyajian yang menarik, rapi, dan bersih? Untuk kita jawab bersama-sama.

Orang bisa saja mengenal suatu kebudayaan dari makanan dan tata cara makannya. Bagaimanakah mengenalkan kebudayaan Batak kepada dunia luar melalui makanan kita yang berciri khas dan unik. Bagaimanakah melestarikan ramuan leluhur dalam varietas makanan tradisional kita yang semakin langka. Bagaimanakah menjamin mutu gizi, kelezatan, sanitasi, keamanan dan kesehatan produk kuliner Batak. Bagaimanakah mengenalkan olah kuliner hasil alam Danau Toba seperti ihan Batak, ikan mas, mujahir, sibahut, pora-pora, dll kepada dunia luar, khususnya wisatawan. Bagaimanakah mengenalkan seni dan estetika dalam menghidangkan makanan untuk dipelajari dan dibudidayakan masyarakat Bonapasogit. Bagaimanakah menjadikan kreasi-inovasi kuliner ini menjadi penyokong ekonomi kreatif kerakyatan untuk memperbaiki dapur-dapur keluarga di Tapanuli yang kerap tak berasap lagi.

Untuk itulah, inisiatif bersama ini menggabungkan beberapa ide dan gagasan dalam menggali dan menancapkan kembali kejayaan Kuliner Batak yang menggetarkan dengan andalimannya, yang bercita rasa unik dengan racikan bumbu-bumbu Bonapasogitnya, yang bersahaja dengan gaya dan penampilannya yang menawan. Jika sekarang Hotel berbintang dan restoran terkenal hanya dihuni daftar masakan ala Barat, maka dengan pembenahan dan inovasi Kuliner Batak ini, kelak Naniura, Naniarsik, Natinombur, Namargota, dsb akan kita temui dalam daftar menu makanan di Hotel berbintang itu.

Semua impian ini, bisa dimulai dan dikerjakan dari aksi kecil dan sederhana yang kontinu. Dengan melibatkan masyarakat dalam sebuah kompetisi kuliner. Melalui kegiatan yang masih dalam rangkaian kegiatan Pesta Danau Toba ini, masyarakat akan terlibat secara aktif dalam menemukan formula Kuliner Batak yang akan dipelajari, dicari, diinginkan, dan dibanggakan oleh semua orang.

Semoga kegiatan kecil dan sederhana ini dapat berdaya guna untuk masyarakat. Kita sadar bahwa, "mengubah dapur Batak adalah mengubah kehidupan dan peradaban Bonapasogit". Demikian paparan singkat mengenai penggabungan ide dan gagasan untuk Pesta Danau Toba 2010.

Tawaran kegiatan pendukung Pesta Danau Toba 2010 yang akan dilaksanakan di Balige-Tobasa :

1.       Kompetisi Kuliner Batak

2.       Potret Masakan Batak Melalui Perspektif Seni Photography

3.       Pagelaran Seni Hiburan Rakyat

4.       Kajian, Inventarisasi dan Dokumentasi Varietas Kuliner Batak

 

-Tim Kerja Kreatif Tobasa-

ps.

Tulisan ini dikerjakan (dengan sederhana dan seadanya) setelah menikmati sajian makan malam dan kopi bareng (terima kasih kepada ibu-ibu kami namboru, nantulang, kakak, yang telah menyediakan hidangan dan jamuan ala Toba Art. Diskusi bertempat di lokasi unik di kolong rumah (bara ni jabu) yang dijadikan oleh Sebastian Hutabarat cikal bakal Resto unik natural ala Batak (Toba Art-Balige) yang dihadiri oleh:

Edward Tigor Siahaan (photographer internasional), Monang Naipospos (anggota DPRD Tobasa), Marandus Sirait (finalis konservasi alam tingkat nasional, beserta beliau juga turut hadir rekan-rekan aktifis lingkungan hidup dari kelompok Taman Eden dan KSPPM), Imran Napitupulu (jurnalis), Bintang Siahaan (technopreneur yang baru kembali ke Bonapasogit setelah melanglang buana belasan tahun di Denver Colorado USA), Freddy Siahaan, Alan Rajagukguk, dan ss sebagai trio pemuda lokal yang tamvannyaaa ……..  

Harapannya interaksi ini bisa berlanjut lebih luas lagi dalam menyatukan ide dan gagasan untuk direalisasikan dalam membangun peradaban Bonapasogit yang kita cintai bersama. Semoga Menginspirasi.

Mauliate Horas jala Gabe

 

Tautan :

ANGSA HITAM DI TEPIAN DANAU TOBA

Tona Ni Tao

About these ads