Sahala Simanjuntak

Langit napitu tindi, Ombun napitu lampis

Mempunyai batas tak bertepi :

Pembahasan  spiritualisme Batak ini lebih termakna dari dasar spiritualisme Batak Toba tetapi tidak menutup kemungkinan persamaan pemahaman dengan suku bangsa Batak secara keseluruhan (Karo, Simalungun, Pakpak/Dairi, Angkola /Mandailing), yang membedakan kemungkinan hanyalah segi bahasa. Apa itu spiritualisme? Dasar katanya adalah spirit, yang biasa diterjemahkan dengan Roh atau Semangat. Spirit telah ada pada diri manusia sebelum dia dilahirkan kemuka bumi ini, yaitu adanya nilai-nilai yang mendorong seseorang mengarah kepada dunia dan merespon dunia secara etis. Pengalaman manusia ini setelah ianya dilahirkan kedunia melampaui apa yang diajarkan agama, rumusan dogma serta ketaatan ritual. Ada 3 kemampuan yang berperan penting dalam proses selektifitas ini, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual.  Kecerdasan spiritual diperlukan untuk memampukan seseorang bertindak etis.

Mpu (Ompu) Malipatta, salah seorang dari 10 tokoh yang turut membantu Sang Isaka memimpin serta melokalisasi 20.000 keluarga migran dari Hindustan, Keling, Siam, Srilangka yang disebar ke pulau di Indonesia. Menurut Bratakuncara peristiwa tersebut tercatat pada angka 10 Isaka atau 78 Masehi. Besar kemungkinan Mpu Malipatta inilah yang disebut dalam berita Chao Yu Kua abad 13 oleh China yakni Thien Mai Patta. Tokoh Thien Mai Patta dalam silsilah tarombo Batak disebut TANTAN DEBATA (SIB, Herman Purba Tambak, MA). DEVATA, Dewata, merupakan bentuk jamak dari deva dan dewa (= ujud yang lebih agung dari manusia, kamus bahasa Indonesia Hassan Noel Arifin, 1951) beralih menjadi :  DEVATA/DEWATA, DEBATA, DIBATA, I BATA, NA I BATA, BATAK

Menurut penulis BATAK mempunyai arti yakni yang terlahir dari sifat keillahian Debata Natolu yaitu   PEMIMPIN  –  PENGASIH/PEMELIHARA  – PENGAWAS/PENGADIL. W.H.Hutagalung dalam tulisannya menyebutkan tonggo-tonggo yang sering diucapkan para datu : “Daompung Debata Natolu, natolu suhu natolu harajaon sian langit na pitu tindi, sian ombun na pitu lampis, sahata saoloan Ho  dohot  Debata Mulamula, Debata Mulajadi, napande manuturi, napande mangajari”. Konsep “Langit Na Pitu Tindi Ombun Na Pitu Lampis“ adalah teori penciptaan alam semesta menurut suku bangsa Batak Toba yang mempunyai batas tetapi tak bertepi. Jauh sebelum Einstein memproklamirkan teori relativitasnya,  suku bangsa Batak telah memahami seberapa besar dan luas alam semesta ini.

Lebih jauh personifikasi DEBATA NA TOLU ini sering disebut: Batara Guru melambangkan sifat kepemimpinan, Soripada melambangkan sifat mengasihi dan memelihara, Mangalabulan  melambangkan sifat mengawasi dan mengadili. Konsep dasar spiritual Batak, mengacu pada kosmologi Batak Toba tentang Banua Ginjang – Banua Tonga –Banua Toru, sebuah gagasan yang berhubungan dengan defenisi Ruang dan Waktu. Dimana Ruang mempunyai tiga batas yaitu Atas – Bawah/Depan – Belakang/Kiri – Kanan. Sedangkan Waktu hanya berdimensi Depan – Belakang.

Didalam Ruang manusia dapat pergi kesetiap arah, didalam Waktu manusia hanya dapat pergi ke Depan dan ke Belakang. Kejadian-kejadian alam kodrat yang menimbulkan keteraturan adalah hubungan sebab akibat perbedaan-perbedaan kwalitatip suatu materi (Louis O.Kattsoff-Pengantar Filsafat). Sumber keteraturan ini adalah JIWA yang dapat bergerak kedalam Ruang yang tak terhingga jumlahnya. Pemahaman tersebut menimbulkan teori MULA atas dasar ketertiban kosmos, dimana setiap Ruang dan Waktu mempunyai keseragaman.

Dikatakan Ruang itu tidak berbentuk tetapi mempunyai batas Banua Ginjang – Banua Tonga – Banua Toru (Bukan bawah tanah?). Jiwa adalah yang menggerakkan  manusia hidup dan tidak terpisahkan dengan alam, merupakan satuan  kwantitatif  sebagai  bahagian dari kosmos, yakni  Mikrokosmos. ‘MULA‘ lebih diartikan sebagai ruang yang tak terhingga, mempunyai keteraturan, merupakan sumber bagi adanya segala sesuatu, yang tak berwujud.

Suku bangsa Batak Toba mempunyai gagasan untuk mewujudkannya dengan sebutan OMPU RAJA MULAMULA / DEBATA MULAMULA, yakni Mula yang ‘Ada’, Awal yang ‘Jadi’, yang menciptakan ‘Ruang dan Waktu’, berada diluar dan didalam waktu itu sendiri. Ruang lingkup kekuasaannya berada di pusat alam semesta meliputi unsur bima sakti / khayangan / hajanghajang.  Sedangkan Jiwa lebih diartikan sebagai ‘TONDI’ yang merupakan kejadian-kejadian murni sebagai materi penyusunan-penyusunan terdalam dari apa saja yang bereksistensi, dipanggil dengan sebutan OMPUNG MULAJADI NA BOLON / DEBATA MULAJADI NA BOLON.  Ruang lingkup kekuasaannya berada dilapis ketujuh alam semesta yang terdiri dari unsur bintang atau disebut Banua Ginjang / Dunia Atas. DEBATA NA TOLU ruang lingkup kekuasaannya berada dilapis pertama alam semesta yang terdiri dari unsur planet/bumi atau disebut Banua Tonga/Dunia Tengah. Konsep Debata Sitolu Sada  adalah satu kesatuan yang terdiri dari tiga sifat/kedirian atau fungsi dalam satu tubuh yakni Ompu Raja Mulamula, Ompung Mulajadi Na Bolon, Debata Na Tolu.

Pandangan tentang Debata Na Tolu  sering disama-artikan dengan Dalihan Natolu (Ph.Tobing, The Structure of the Toba Batak Belief in the High God,1963) dimana Batara Guru disebut sebagai hulahula, Soripada disebut Dongan Sabutuha, Mangalabulan disebut Boru. Ini jelas pandangan yang sangat sangat keliru. Konsep Dalihan Na Tolu ( DNT ) adalah suatu sistem kekerabatan sebagai persekutuan: dongan sabutuha/senina/kahanggi, boru/beru/anak boru, hulahula/kalimbubu/mora. Penekanan patik dan uhum terhadap unsur hulahula yakni tidak boleh mengambil harta yang bukan miliknya terutama milik boru (hilang); Merampas harta yang bukan miliknya terutama milik boru (heum); Perasaan dengki terhadap anak maupun boru (hosom); Mengharapkan sesuatu terutama dari boru (hirim), itulah defenisi DNT.

Kenapa hulahula disebut pangalapan pasupasu atau pasupasu sian hulahula pitu sundut so ada mara?. Hal tersebut bukan berarti hulahula sama derajatnya dengan Debata. Pada saat pesta perkawinan, hulahula memberikan ulos kepada hela dan borunya disaat itu hulahula memohon kepada Debata Mulajadi Na Bolon melalui doa agar hela dan borunya diberi keturunan, kesejahteraan, keselamatan. Permohonan doa ini jika dilanggar sanksinya adalah ianya dapat tidak mempunyai keturunan, ianya dapat tidak sejahtera, ianya dapat tidak selamat. Sanksi ini oleh suku bangsa Batak Toba dituangkan kedalam Patik dan Uhum. Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-nilai kebenaran.

Patik ditandai kata: Unang, Tongka, Sotung, Subang, Pantang, dsb. Sebagai akibat dari penyimpangan tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah Uhum. Uhum/Hukum ditandai oleh kata : Aut, Duru, Sala, Baliksa, Hinorhon, Laos, Dando, Tolon, Bura, dsb.

Ulos adalah Lambang / Cap / Stempel sebagai pengesahan perkawinan secara adat dan budaya. Ulos tidak pernah dipakai sebagai medium permohonan kepada Debata Mulajadi Na Bolon. Permohonan selalu melalui Doa. Tonggotonggo adalah doa permohonan langsung kepada Debata dengan pengharapan agar dikabulkan permintaannya. Raksaraksa adalah doa tidak langsung kepada Debata tetapi melalui unsur nyanyian, pembacaan sanjak-sanjak, terkadang diikuti gerak panortoron serta diiringi musik tradisional. Tabastabas adalah doa kepada Debata agar sesuatu kekuatan diberi untuk dipergunakan demi kebenaran, utamanya untuk penyembuhan/pengobatan/sesuatu zat atau materi dapat menyembuhkan penyakit.   Jadi konsep Dalihan Na Tolu jelas mempunyai makna yang jauh berbeda dengan konsep Debata Na Tolu sebagai unsur penciptaan alam semesta. Tentang pengertian agama tidak ada seorangpun menyatakan kesimpulan defenisi yang satu. Yang dapat diterima diantara defenisi-defenisi yang ada bahwa agama mempunyai/mengandung nilai-nilai kebenaran bagi penganutnya masing-masing.

Habatahon mengajarkan: Aku/Iba yakin terhadap diri sendiri dan percaya Debata Mulajadi Na Bolon yang menciptakan aku/iba. Dogma: Ndang adong Debata ia so Sitompa hasiangan on (=Tidak ada Tuhan selain yang menciptakan alam semesta ini). Kecenderungan theolog dan ahli pikir untuk mendiskreditkan spiritualisme Batak memunculkan istilah sipelebegu bukannya sipalebegu. Istilah sipelebegu ini muncul setelah para misionaris masuk kedalam kehidupan suku bangsa Batak Toba, ditambah taktik pecah belah penjajah Belanda dengan cara memusnahkan budayanya lalu menguasai suku bangsa Batak Toba; pada akhirnya suku bangsa Batak Toba kehilangan jati diri dan kepintaran yang hakiki dari dalam dirinya.

Asal mula manusia

Amatamaguru mengkisahkan; Boru Deak Parujar adalah seorang bidadari yang diturunkan Mulajadi Nabolon dari atas langit ke ‘Bawah Langit’. Alasan Boru Deak Parujar turun ke ‘Bawah Langit’ untuk memenuhi keinginannya berkarya. Keinginannya terpenuhi dan hasil karyanya disebut Banua Tonga. Kemudian Mulajadi Nabolon menurunkan Raja Odapodap dari atas langit sebagai pendamping hidup Boru Deak Parujar. Dari hasil perkawinan Boru Deak Parujar dengan Raja Odapodap lahirlah Manusia bernama Raja Ihot Manusia dan Deak Ihot Manusia mendiami bahagian dari Banua Tonga yakni PORTIBI / Por = Hujan ; Tibi = Benih; Portibi = Hujan Benih, Mula Satwa & Fauna. 

Penulis : Simak tonggotonggo Siboru Deak Parujar.

Asalmula Kebodohan.

Amatamaguru mengkisahkan : Naga Padoha salah satu makluk ciptaanNya ‘Padoha’ (yang gagah; tampan; perkasa) bernama Naga menetapkan “hidup pilihan”nya sesuai dengan pengetahuannya tentang banyak pilihan. Ia ingin menjadi penguasa seperti Penciptanya. Ditinggalkannya gerbang kemahaan, pergi ber’tualang’ (tualang) mengarungi maha ruang ciptaanNya yang bertabur ‘banua-banua’ (planet; bintang). Keinginan Naga Padoha tercapai. Segala yang dilihat dan diraihnya menjadi kuasa dan miliknya. Kemudian dipilihnya salah satu ‘banua’ menjadi tempat pusat kekuasaannya. Mahluk-mahluk menyebutnya Banua Toru. Itulah mulanya ‘oto’ (bodoh) ketika Naga Padoha memilih meninggalkan kebebasan yang penuh pemberian di Banua Ginjang. Itulah mulanya ruang tempat ‘banua-banua’ dialam jagat disebut ‘tudu-tudu tualang nabolon ‘(ruang besar yang banyak mengandung pilihan; ruang angkasa). Mulanya mahluk-mahluk Banua Ginjang menyebut tempat Naga Padoha  bersemayam ‘Banua Toru’ (toru/bawah) dan gerbang kemahaan Debata Mulajadi disebut ‘Banua Ginjang’ (ginjang = atas).

Banua Toru bukan dibawah tanah seperti apa selama ini dipahami. Banua Toru lebih diartikan dibawah bumi merupakan bahagian  dari satu sistem lapis pertama kosmos.

Asalmula patik dan uhum

Sifat  Debata Na Tolu sebagai  pemimpin, pengasih/pemelihara, pengawas/pengadil, terrefleksi kedalam nilai-nilai kehidupan suku bangsa Batak Toba dan menjadi suatu ciri yang khas, yakni : Keyakinan dan kepercayaannya bahwa ada Maha Pencipta sebagai Tuhan yang menciptakan  Alam   Semesta beserta segala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi yaitu Mulajadi Na Bolon, Untuk mewujudkan keseimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai mahkluk sosial suku bangsa Batak Toba telah dinaungi Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-nilai kebenaran ditandai kata: Unang, Tongka, Sotung, Subang, Pantang, dsb.

Sebagai akibat dari penyimpangan tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah Uhum ditandai oleh kata : Aut, Duru, Sala, Baliksa, Hinorhon, Laos, Dando, Tolon, Bura, dsb.  Didalam menjalankan kehidupannya suku bangsa Batak Toba terutama interaksi antara sesama  manusia dibuatlah nilai-nilai antara sesama yang dinamai Adat, suku bangsa Batak Toba mempunyai sistem kekerabatan yang dikenal dan hidup hingga kini yakni Partuturon. Jika disimak arti yang terkandung dalam istilah “patamba partuturon“ yang berarti meluaskan sejauh mungkin relationship sebagai akibat daripada perkawinan kekeluargaan.

Warna Merah-Hitam-Putih.

Seni Gorga bukanlah media ukir-ukiran, tetapi suatu proses cara suku bangsa Batak Toba berdoa. Dalam konteks ini melalui seni ukir Pande Gorga/Ahli ukir-ukiran berdoa agar penghuni Ruma dijauhi dari marabahaya dan diberi kesejahteraan oleh Debata Mulajadi Na Bolon. Gorga mencakup segitiga depan Ruma mulai dari Ulupaung, Santung, Jenggar, Gajadompak; sedangkan Singasinga adalah lambang ilmu pengetahuan keduniawian. Kata Paningaon mengandung unsur ilmu pengetahuan.

Berdasarkan warna Ruma Gorga diklasifikasikan terhadap warna yang seimbang antara merah, hitam, putih. Sampu Borna untuk seorang pemimpin, yang didominasi warna Hitam disebut Silomlom Ni Robean untuk seseorang yang dituakan/perwira/panutan, yang didominasi warna putih disebut Sipalang untuk seorang Datu. Lebih jauh pewarnaan ini direfleksikan melalui bendera Batak yang terdiri dari Hitam melambangkan kepemimpinan/hahomion, Merah melambangkan semangat/kekuatan/hagogoon, Putih melambangkan kesucian/kebenaran/habonaron.

Ketiga perlambang tersebut terakumulasi kedalam falsafah ROMPU LIMA, yakni: Sirungguk sitata disi hita marpungu disi ma Debata Mulajadi Na Bolon na mandongani (Divinity); Na dapot sambil sipaluaon, na dapot bubu sirungrungon (Human Rights); Silima haroroan sisada haroburan (Sociality), Hata sada hata mamunjung, hata torop sabungan ni hata (Demokrasi); Hatian sora teleng Ninggala sibola tali (Etika dan Estetika/ Keseimbangan kehidupan).

ROMPU LIMA.

Sirungguk sitata disi hita marpungu disi ma Debata Mulajadi Na Bolon na mandongani.

Sirungguk diartikan sebagai jenis tanaman dan tanaman/fauna adalah salah satu sumber kehidupan yang diberikan Debata Mulajadi Na Bolon kepada manusia. Sitata diartikan cara memakan sesuatu oleh karenanya jangan ada tindakan yang berlebihan didalam memanfaatkan sumber kehidupan. Marpungu diartikan berkumpul di dalam suatu wadah kebersamaan sebagai mahkluk ciptaan Debata.

Sehingga falsafah yang terkandung daripadanya ialah didalam berkehidupan manusia sebaiknya tunduk dan hormat kepada Debata Pencipta Alam Semesta, oleh karena itu berbuatlah yang baik agar Debata selalu berada diantara kita.

Na dapot sambil sipaluaon, Na dapot bubu sirungrungon.

Sambil atau Bubu adalah alat untuk menjerat atau menangkap. Raja Singamangaraja, apabila lewat dari satu huta jika ada seseorang yang terhukum dihuta tersebut harus dibebaskan. Nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam hal ini adalah suatu proses pembinaan sikap mental yang salah jangan diulang kembali, oleh karenanya beri yang terhukum pembebasan untuk merobah kesalahannya. Jadi seseorang diberikan kebebasan menentukan jalan hidupnya karena manusia sama dihadapan Debata, dan  menghargai keberadaaan seseorang atas kodratnya adalah salah satu aspek Hak Azasi manusia.

Silima haroroan sisada haroburan.

Silima haroroan adalah sekatup Demban (Sirih) yang terdiri dari demban, kapur, gambir, pinang, tembakau. Sisada haroburan adalah satu jalan masuk. Pengertian harfiahnya, Demban apabila dikunyah berubah menjadi satu rasa dan satu warna. Keadaan tersebut menggambarkan betapa pentingnya arti kesatuan dan persatuan, karena hakekat pembangunan adalah adanya pertumbuhan dan perubahan-perubahan tetapi Ahklak harus dipertahankan sebagai katalisator proses pembentukan identitas. Proses perubahan yang komplek dan akhirnya memepengaruhi sendi kehidupan di era mellenium sekarang ini, perlunya istilah Silima haroroan sisada haroburan dipakai untuk mengggalang kesatuan dan persatuan.

Hata sada hata mamunjung, Hata torop sabungan ni hata.

Perkataan seseorang yang menyatakan A tidak dapat mempengaruhi terhadap B yang dinyatakan banyak orang. Falsafah yang terkandung dari kalimat diatas adalah musyawarah untuk mufakat. Musyawarah adalah proses pembuatan kesimpulan / mufakat yang dilakukan bersama-sama atas faktor kebersamaan.

Hatian sora teleng, Ninggala sibola tali.

Hatian=timbangan; Sora=tidak bergerak; Teleng=miring; Ninggala=Bajak; Sibola tali=Membelah lurus. Artinya: Keadilan tersebut bagaikan timbangan yang seimbang, kekiri tidak lebih dan kekanan tidak kurang, seperti bajak membelah tanah lurus tidak bergelombang. Begitulah manusia menyikapi hidup ini dengan tidak mementingkan diri sendiri. Sikap yang senantiasa kukuh berpendirian dalam berbudi luhur, dan teguh dalam berpendirian menegakkan kebenaran.

Dalihan Natolu.

Dalihan Na Tolu (DNT) adalah suatu sistem kekerabatan sebagai persekutuan: dongan sabutuha/senina/kahanggi, boru/beru /anak boru, hulahula/kalimbubu/mora. Penekanan patik dan uhum terhadap unsur hulahula yakni tidak boleh mengambil harta yang bukan miliknya terutama milik boru (hilang), Merampas harta yang bukan miliknya, terutama milik boru (heum), Perasaan dengki terhadap anak maupun boru (hosom), Mengharapkan sesuatu terutama dari boru (hirim), itulah defenisi DNT. Sistem DNT ini pada saat itu belum dicekcoki masalah-masalah penindasan manusia atas manusia, feodalisme, kapitalisme. Lain diera saat ini dimana sistem DNT telah bertujuan kearah yang matematis, terlebih tentang untung rugi. Sehingga arti “BOLI“ diartikan BELI = TUHOR bhs Batak Toba. Padahal BOLI arti sebenarnya adalah jaminan hidup sebagai “asuransi“ BORU di huta paranak disebut SINAMOT. Sebagai mahar perkawinan Paranak memberi SOMBA UHUM kepada Parboru.

DNT sekarang ini dijalankan dimana hukum adat itu dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat dimana hukum adat itu diberlakukan pada zaman sekarang.

Dulu sistem pertanian diterapkan atas dasar astrologi, sekarang ini diterapkan atas dasar teknologi pertanian. Beras sebagai salahsatu sumber kehidupan hingga kini masih tetap disebut Sipinir Ni Tondi. Karena Jiwa lebih diartikan sebagai ‘TONDI’ yang merupakan kejadian-kejadian murni sebagai materi penyusunan-penyusunan terdalam dari apa saja yang bereksistensi. Tiada yang salah dengan itu bukan?

Asalmula nama DEBATA IDUP.

Sorimangaraja cucu Siraja Batak dari anak keduanya yakni Isumbaon, mempunyai isteri tiga orang. Isteri ketiga bernama Na I Suanon atau Boru Sanggul    Haomasan berasal dari keturunan Sariburaja dan dinikahi di Balige. Lama tak mempunyai keturunan. Atas bantuan Boru Sibasopaet disuruhlah Sorimangaraja mencari obat penawar kemandulan. Setelah obat penawar berhasil dicari Sorimangaraja, diadakanlah suatu proses ritual martonggo kepada Mulajadi Na Bolon, sembari Boru Sibasopaet meminumkannya kepada Boru Sanggul Haomasan. Hari selanjutnya lahirlah seorang anak dan diberi nama Sorba Dibanua. Sebagai ucapan syukur Sorimangaraja kepada Mulajadi Na Bolon dibuatlah sepasang patung berwujudkan manusia lakilaki dan perempuan. Dibahagian ulu hati dibuat lobang, dimana setelah Sorimangaraja selesai martonggo dimasukkan sekatup sirih kedalam lobang Patung dan patung tersebut dinamakan Patung Debata Idup.

Tentang Kesaktian.

Kesaktian merupakan bentukan kata dasar sakti, dari bahasa Sansekerta. Menurut S.Prawiroatmodjo – Bausastra Jawa-Indonesia 1989, sakti berarti bertuah atau keramat; sedangkan Drs. YB.Suparlan – Kamus Kawi-Indonesia 1988 menyatakan sakti berarti kuasa atau sentosa. Menurut Moh.Yamin, Zat Kesaktian ada tiga jenis : a). Zat kesaktian lepas yang unsurnya ada pada benda mati, b). Zat kesaktian terikat yang unsurnya ada pada bahagian tubuh manusia, pada benda-benda pusaka, satwa. c). Zat kesaktian terpadu yang unsurnya ada pada batang tubuh manusia, yang lazim dinamakan: semangat, nyawa, jiwa. Zat-zat kesaktian lepas maupun yang terikat, keduanya dapat difungsikan manusia, yang salah satunya dipakai sebagai suatu kekuatan bagi eksitensinya. Rincian zat kesaktian itu yang dalam komunitas Jawa dikenal sebagai kekuatan magis, berkarakteristik netral. Sebagai kekuatan niskala/zat tidak nyata, tentu saja magi tidak kelihatan di pandang mata.

Namun bahwa kekuatan netral itu ada di alam metaphisika pada hakekatnya merupakan anugerah Tuhan bagi umat manusia yang punya kemampuan mengaktualisasikannya. Karakteristik tersebut dapat berubah, tergantung kepada motif dan tujuan manusia mengaktualisasikannya. Sekiranya untuk tujuan jahat, dengan sendirinya daya magi berubah karakter jadi hitam dan begitu sebaliknya. Salah satu cara suku bangsa Batak Toba berdoa kepada Debata Mulajadi Na Bolon ialah Tabastabas. Tabastabas adalah doa kepada Debata agar sesuatu kekuatan diberi untuk dipergunakan demi kebenaran, utamanya untuk penyembuhan/pengobatan/sesuatu zat atau materi dapat menyembuhkan penyakit; sebaliknya apabila doa ini dipergunakan untuk tujuan jahat maka doa berubah menjadi negatip untuk mencelakakan orang lain.

Habatahon  mengajarkan : Aku/Iba yakin terhadap diri sendiri dan percaya Debata Mulajadi Na Bolon yang menciptakan aku/iba; Iba na di san ima ibana/Aku yang disana adalah Dia. Yakin terhadap diri sendiri menandakan ada kuasa yang melekat dalam diri manusia yang senantiasa dapat diaktualisasikan demi eksistensinya, yakni : Dia yang disana adalah aku yang disini, yang tidak nyata dan tidak berwujud. Tak lain dan tak bukan adalah Jiwa.

Kejadian-kejadian alam kodrat yang menimbulkan keteraturan adalah hubungan sebab akibat perbedaan-perbedaan kwalitatip suatu materi. Sumber keteraturan ini adalah JIWA yang dapat bergerak kedalam Ruang yang tak terhingga jumlahnya. JIWA lebih diartikan sebagai ‘TONDI’ yang merupakan kejadian-kejadian murni sebagai materi penyusunan-penyusunan terdalam dari apa saja yang bereksistensi. Cerita Pahabang Losung menurut penulis benar adanya. Dimana seseorang dapat mengaktualisasikan Diri Sendiri/Jiwa/Tondi yang tak nyata dan tak berwujud itu dan menyuruhnya mengangkat sesuatu benda/materi/zat maka kita akan melihatnya melayang di udara melampaui batas hukum alam (lepas dari hukum grafitasi/daya tarik magnet bumi). Dari aspek ilmu pengetahuan hal tersebut telah dapat dibuktikan, seperti seseorang tidak luka jika di tebas dengan benda tajam, telepati, hipnotis, membaca pikiran, melayang 1 M dari permukaan bumi, berjalan diatas permukaan danau dsb.

Ki Hajar Dewantara mendefenisikan kebudayaan itu adalah hal-hal yang menyangkut Akal. Didalam proses perkembangannya merupakan  pengolahan tingkat daya dan perkembangan daya yakni cipta, rasa, karsa. Andaikan seseorang mempertonjolkan ciptanya, tapi tanpa rasa maka karsa dengan mudah dapat melakukan hal-hal negatip. Penciptaan bom atom yang tidak diimbangi rasa, sedang bekerja karsa, akhirnya difungsikan untuk membunuh umat manusia. Yang ditonjolkan karsanya, tanpa dilengkapi cipta, rasa, maka diidentifikasi orang tersebut Sakit Ingatan/Gila/Edan. Jadi sebaiknya manusia menyeimbangkan cipta, rasa, karsa, sebagai hasil daya dari Budi yang disebut Budaya.

Las ma dingindingin las ginolomgolom

Las ma tondinta jala madingin

Manumpahi ma Debata Mulajadi Na Bolon

Sumber:

Agama Suku dan Batakologi-Rudolf Pasaribu,STh-1988, Catatan pribadi, “Demokrasi, Otonomi dan   Transparansi”-Yakoma/URM Indonesia, Dogmatika Masa Kini-Dr.G.C.van NIFTRIK/Ds.B.J.Boland-1958, Louis O.Kattsoff- Pengantar Filsafat, Lembaga Budaya Batak Bonapinasa-2001, Pahlawan Kemerdekaan Nasional Raja Sisingamangaraja XII-Robinson Togap Siagian-1992, Pustaha Batak-Raja Darius Sibarani-1981, Pustaha Batak-W.H.Hutagalung-1992, Sejarah Batak-Batara Sangti-1975, Sumingahon Harajaon-Ir. Naek Jackson Tambunan.  

 

Tulisan Sahala Simanjuntak ;

KEBUDAYAN BATAK DIANTARA PUTIK YANG BERKEMBANG

 

Baca juga :
RUMA GORGA BATAK

Makna ragam Hias Ruma batak
Akhirnya Runtuh
FILOSOFI RUMA ADAT BATAK
PAJONGJONG RUMA DOHOT SOPO
SOPO DOHOT ULOS
MAMUNGKA HUTA DOHOT JABU
MULA NI GORGA BATAK
SANGKAMADEHA
MENYIBAK TABIR MENAMPAK ISI

About these ads