Tulisan dari ‘Cerita Tepian Danau Toba’ Kategori

Menunggu pilihan Mula Jadi Nabolon

150 Tahun Masa Diam

Sulaiman Sitanggang  (Cepito 13)

Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan berhenti di sebuah kota transit di kawasan Tapanuli, yaitu Balige. Kota kecil yang kian ramai sebab letak strategisnya yang menghubungkan beberapa Kabupaten, seperti Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan. Balige tampil sebagai salah satu titik sentral formasi bintang dari lima kabupaten dan segala pergerakan massa di dalamnya. Bagaimana tidak, hanya perjalanan 15 menit Bandara Silangit siap menerbangkan pelancong dari dan ke Bumi Tapanuli. Dan Balige tampil sebagai salah satu kota pendidikan dan kota sejarah yang disegani di Tapanuli. Setiap tahunnya, ribuan orang beranjak dari kota pendidikan itu menuju arah rantau yang jauh dan penuh tantangan. Ibarat pintu gerbang peradaban, Balige menjadi penjaga sekaligus penyaring keluar masuk kebudayaan ke Bumi Tapanuli.

Read more…

Akulturasi Batak dengan Eropa

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 12)

Samosir Art Festival 28-28 Desember 2011.

Apapun latar belakang event ini, siapapun yang terlibat, bagaimanapun manajemen organisasinya, bukan menjadi persoalan bagi saya, dan itu bukan bagian dari tema tulisan ini. Yang jelas saya melihat sebuah fenomena yang menjadi pertanda. Lantas apa yang terjadi disana? Setidaknya nama "Samosir Art" telah menggugah kehadiran saya kesana.

Tak banyak areal melandai bisa ditemui di tepian Danau Toba. Mengingat geografis vulkanik kaldera Toba yang didominasi lereng terjal, curam dan berbatu. Sebuah keindahan lain yang memacu adrenalin. Pasir Putih Parbaba adalah pengecualian. Ia telah menjelma menjadi sebuah kawasan wisata keluarga. Barangkali, sejenak kembali mengakrabi alam setelah lelah bertarung dengan aspal dan kemacetan lampu merah, tembok gedung tinggi yang penuh teror, arus modal uang dan segala tuntutan jaman yang serba modern dan mencekik ini. Pantai sederhana itu perlahan mulai didatangi masyarakat pulau dan turis-turis dari luar pulau.

Read more…

Pondok Imajiner

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 011)

berada di ketinggian 999 m dpl, kampung itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari kota kecil pangururan, sebagai ibukota kabupaten yang masih relatif muda, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-8. dialah kabupaten samosir yang dikelilingi keindahan danau toba, danau yang juga dikelilingi pegununan bukit barisan, dan beberapa gunung yang telah menjadi mitos bagi kebudayaan bangsa batak sejak dulu kala. dari sini, peradaban bermula, kehidupan generasi demi generasi silih berganti takluk oleh waktu yang tak mungkin berulang, yang membentuk ingatan manusia.

Read more…

Tembok bambu yang kian usang

 Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 009)

Sore itu sebilah pelangi terlihat membelah langit toba, warna warninya menikam tepat di jantung kota kecil Balige. Matahari meniti senja dari balik bukit barisan sejajar tebing curam Tarabunga. Seolah hendak ikut ambil bagian menyapukan seberkas sinar kekuningan yang dipantulkan oleh dinding rumah-rumah penduduk. Rumah-rumah yang terdapat di tepian danau biru itu tak juga mau balik kanan, dengan wajah mengarah dan menghadap ke danau. Hingga sore ini, Danau Toba belum menjadi orientasi tata kota. Lembaran sejarah kembali terisi dengan pola pembangunan yang asal, tanpa perencanaan yang rasional, berestetika, dan harmoni. Padahal di belahan pulau sana, semisal Yogya, Laut Selatan dengan mudah menjadi orientasi pembangunan tata kota. Artinya, sebelum Danau Toba menjadi orientasi, tidak bisa berharap banyak akan kemajuan dan pengembangan yang harmonik.

Read more…

Teluk Harapan Danau Biru

Sulaiman Sitanggang (Cepito 08)

Ada yang terlupa dari sifat dan sikap purba yang melekat pada darah kemanusiaan kini, terkhusus bangso Batak. Dengan apakah leluhur menitipkan sejarah dan etika hidup kepada generasi kemudian? Dengan api unggun yang dilingkari anak-anak jaman. Penuh simak mengikuti gerak tubuh tetua-tetua kampung menuturkan kisah. Dingin berbalut hangat. Kuriositas berbalut amanah. Yang diantara jilatan lidah nyala api, barisan leluhur menanamkan semangat kearifan dan kesejatian. Dengan cara jamannya. Tercatatlah kisah-kisah cerita rakyat lagu rakyat yang hanya efektif penyampaiannya melalui mulut sejarah semata. Tak hanya itu, budaya aksara pun digurat untuk mencatatkan inspirasi dan tata cara kehidupan yang beretika, berbudaya, berkesenian, dan berkemanusiaan. Buku-buku laklak itu pun raib di tangan-tangan penjajah dan penakluk peradaban. Dan kita hanya tinggal diam di tengah gerak sejarah yang dipaksa membelot? Tak hanya itu, kita pun tak punya peninggalan kearifan untuk generasi kemudian.

Read more…

Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

 

Sulaiman Sitanggang (Cepito 07)

Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Read more…

Api Nan Tak Kunjung Padam

 

Sulaiman Sitanggang  (Cepito 006)

Adalah kalimat yang ditorehkan para cendekiawan bumi persada ini bahwa pembangunan tidak akan berhasil apabila di dalam masyarakat yang sedang membangun itu sendiri tidak ada api semangat. Yang menjadi sumber pendorong, memotivasi masyarakat yang bersangkutan untuk senantiasa membangun dirinya sendiri secara berkesinambungan.

Read more…

Risalah Waktu

Sulaiman Sitanggang

Seiring waktu, apakah orang modern lebih bahagia dari orang dahulu? Apakah orang kota lebih bahagia dari orang desa? Apakah yang tinggal di tepiannya lebih menikmati danau toba dari mereka yang jauh disana? Waktulah yang menentukan.

Read more…

Tona ni Tao

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 04 : Sangkamadeha dan Hariara Sundung Dilangit)

 

"Sedikit tentang batak, apa yang sudah pernah ada kini menjadi tiada. Dan ada upaya untuk melupakannya sama sekali". Hingga pada satu titik, manusia bertanya dan menunggu jawaban.Tak hanya menunggu, ia bergerak dalam sebuah jalan pencarian. Mencari jawaban. Tentang apa dan mengapa segala keberadaan ini. Sejenak merenung dan mengingat kembali. Apa saja yang pernah dicapai oleh sebuah peradaban, dan apa saja yang terlupa dan terabaikan oleh peradaban. Ialah insan sejati, sang manusia yang melangkah dan meninggalkan jejak di bawah matahari yang sama, menuang dan meneguk kelegaan dari sumber mata air yang sama, dalam rentang ruang dan waktu kesementaraan ini.

Read more…

untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 003: judul Asli : Tak Hanya Diam)

 

Ada yang menyeru dalam relung terdalam. Menyusup di pelataran hati yang riuh oleh jaman. Dia yang merajut rindu akan sebuah pertemuan. Menguntai cinta dalam isyarat tak berujung. Rindu ini hanya kepadamu. Cinta ini hanya untukmu. O Danau Toba.

Namun mengapa, Anginmu hanya diam? Tak kah kau ijinkan aku mengarungi ombakmu?

Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 146 pengikut lainnya.