Tulisan dari ‘Renungan’ Kategori

Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

 

Sulaiman Sitanggang (Cepito 07)

Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Read more…

Api Nan Tak Kunjung Padam

 

Sulaiman Sitanggang  (Cepito 006)

Adalah kalimat yang ditorehkan para cendekiawan bumi persada ini bahwa pembangunan tidak akan berhasil apabila di dalam masyarakat yang sedang membangun itu sendiri tidak ada api semangat. Yang menjadi sumber pendorong, memotivasi masyarakat yang bersangkutan untuk senantiasa membangun dirinya sendiri secara berkesinambungan.

Read more…

BILA DIA MEMANGGIL

 

Jones Gultom

TIBA-TIBA aku mengingatmu lagi, ketika lama  tak saling bertegur sapa. Dua puluh 4 tahun kita pernah bersama, mengeja kearifan-kearifan yang begitu kau agungkan. Sebagaimana anak-anak, tentu aku tak mengerti kisah Sinabung yang berkelahi dengan Pusuk Buhit, tentang Ompunta Raja Uti, yang katamu bisa melompat dari bintang ke bintang, tentang naga penjaga tao, tentang kalau jumpa begu ganjang mesti aku mengelilingi tanah tempat kuberpijak sebanyak 3 kali, tentangmu yang mengajariku untuk marsantabi di mana saja, tentangku yang tak mesti takut dengan hantu jika merasa akrab dengannya, tentang pulau tulas, tentang makna pangir yang kerap kau suguhkan bila aku demam atau tartondi, katamu.

Read more…

Tona ni Tao

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 04 : Sangkamadeha dan Hariara Sundung Dilangit)

 

"Sedikit tentang batak, apa yang sudah pernah ada kini menjadi tiada. Dan ada upaya untuk melupakannya sama sekali". Hingga pada satu titik, manusia bertanya dan menunggu jawaban.Tak hanya menunggu, ia bergerak dalam sebuah jalan pencarian. Mencari jawaban. Tentang apa dan mengapa segala keberadaan ini. Sejenak merenung dan mengingat kembali. Apa saja yang pernah dicapai oleh sebuah peradaban, dan apa saja yang terlupa dan terabaikan oleh peradaban. Ialah insan sejati, sang manusia yang melangkah dan meninggalkan jejak di bawah matahari yang sama, menuang dan meneguk kelegaan dari sumber mata air yang sama, dalam rentang ruang dan waktu kesementaraan ini.

Read more…

Pak Donald di Mata Hati Saya

MJA Nashir

28 Mei 2007, ketika malam di Pantura Jawa terasa dingin, saya terima kabar via sms; “Mas, bapak sudah pulang ke rumah Tuhan”. Rasanya angin semakin dingin, tak sekadar tulang yang ngilu. Tapi juga hati ini ! Kenyataan harus dihadapi, Donald Hutabarat, sahabat terbaik di planet Bumi ini telah pergi untuk selama-selamanya, di usianya yang ke 57 .

Read more…

untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 003: judul Asli : Tak Hanya Diam)

 

Ada yang menyeru dalam relung terdalam. Menyusup di pelataran hati yang riuh oleh jaman. Dia yang merajut rindu akan sebuah pertemuan. Menguntai cinta dalam isyarat tak berujung. Rindu ini hanya kepadamu. Cinta ini hanya untukmu. O Danau Toba.

Namun mengapa, Anginmu hanya diam? Tak kah kau ijinkan aku mengarungi ombakmu?

Read more…

Sisi Lain, Pesta Danau Toba 2010

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 002)

Kebudayaan Batak dibangun diatas fondasi keluarga marga. Dengan menganut sistem kemasyarakatan yang terstruktur dengan rapi dan sistematis. Seperti Tarombo, Partuturon, Dalihan Natolu dan konsepsi sosiallainnya yang menjadi benang pengikat interaksi sosial dan kehidupanbermasyarakat. Menjadi Batak adalah dengan memahami dan menjalankan adat-istiadat. Sebutan "tak beradat" kerap menjadi hukuman sosial paling menyedihkan dan menyakitkan dalam interaksi sosial masyarakat Batak.

Read more…

Masihkah Cemaraku di Toba?

Zulkarnain Siregar

waktu itu kudengar kicau pilu sepasang pungguk
yang hinggap di sebatang cemara, kaku ringkih
di sepanjang pagi utara jalan menuju bukit toba
tentang tanah menanti pepohonan rindang lalu
membungkus bumi dari keserakahan siang yang
tiada berhingga meluruh dedaunan tanpa tersisa
Read more…

ANGSA HITAM DI TEPIAN TOBA

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 001)

Pada suatu siang di pertengahan Mei 2010 bertempat di sebuah cafe sederhana berlokasi di tepian Danau Toba yang kembali akan saya katakan memiliki potensi dan keindahan yang istimewa. Entah sudah berapa ribu kali ungkapan dan tulisan tentang Danau Toba dan kawasan sekitarnya menjadi topik yang sering saya utarakan. Itu juga yang mengundang kehadiran saya dan beberapa sahabat dalam sebuah pertemuan yang tak terduga. Hanya sebuah SMS telah cukup untuk mempertemukan orang orang yang berasal dari berbagai ragam perbedaan. "Hei anak muda, ayo ngopi, kita duduk dan bertemu di tepian Toba. Kami berangkat sekarang." Demikian pesan yang saya terima.

Read more…

TAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

Jones Gultom

SELALU saya ingat pesan seorang sahabat; "Dunia kehabisan tempat bagi orang yang biasa-biasa saja!"

Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 119 pengikut lainnya.