Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen

Limantina Sihaloho*

Di luar sudah sepi dan mulai gelap padahal baru pukul 4:00 sore. Dingin. Pohon-pohon meranggas tanpa daun kecuali cemara. Saya berjalan cepat-cepat menuju ruangan yang hangat. Waktu itu awal Desember 2006 di Christian Jensen Kolleg, Breklum, Jerman. Saat berjalan itu, pikiran saya tak dapat lepas dari Ingwer Lodewijk Nommensen ( 1834 – 1918 ) yang terkenal karena dedikasinya mengkristenkan suku bangsa Batak. Kampungnya di Noordstrand, sekitar 20 menit naik mobil dari Breklum. Pikiran saya dipenuhi pertanyaan: Bagaimana kira-kira keadaan Noordstrand pada abad ke-19? Bagaimana kehidupan orang-orang miskin seperti I.L. Nommensen dan keluarganya di era di mana listrik belum ada? Alangkah beratnya hidup di Eropa terutama di musim dingin pada zaman itu terlebih-lebih bagi orang-orang miskin seperti keluarga Nommensen.

Dalam kehidupan yang berat semacam itu, manusia Eropa terutama dari kelas bawah memerlukan pegangan yang kokoh, agama. Mereka sendiri adalah korban penindasan kelas atas, para tuan tanah. Mereka adalah orang-orang yang tidak berdaya untuk melawan sistem sosial yang tidak adil itu. Karl Marx yang juga seorang Jerman dengan jelas menggambarkan situasi sosial itu dan menyimpulkan bahwa agama adalah candu bagi orang-orang miskin yang dihibur terus oleh kaum agamawan yang seringkali justru setali tiga uang dengan para tuan tanah bahwa nanti di kehidupan setelah di dunia ini, Tuhan akan mengaruniakan kehidupan yang penuh susu dan madu bagi mereka.

Manusia Eropa di zaman yang berat dan sulit itu memerlukan keselamatan dan mereka juga memiliki obsesi untuk menyelamatkan manusia-manusia di negeri-negeri yang jauh, manusia-manusia yang belum mengenal Kristus. Dalam pandangan mereka, agama Kristen adalah satu-satunya agama yang dapat menyelamatkan manusia dan orang-orang Asia akan binasa jika tidak mau mengenal Kristus dan menerima agama Kristen. I.L. Nommensen datang dengan semangat yang demikian dengan ketulusan hati dan kepasrahan yang penuh akan bimbingan Tuhan.

I.L. Nommensen, lahir di Pulau Noordstrand pada tanggal 6 Februari 1834 dalam sebuah keluarga yang miskin dan sebagian masa kanak-kanak dan remajanya dihabiskan untuk bekerja bagi orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah di pulau itu, menggembalakan ternak dan bekerja di ladang-ladang mereka. Berperawakan kecil dan kurus serta kekurangan gizi tetapi dia dikenal sebagai orang yang gigih dalam belajar dan bekerja.

Secara pribadi, saya juga kagum pada I.L. Nommensen. Masalahnya, kagum saja tidak cukup. Menjadikan seseorang menjadi legenda bahkan mitos juga dapat berbahaya. Sayangnya manusia mempunyai kecenderungan untuk melegendakan dan memitoskan seseorang terutama yang telah lama meninggal. Saya melihat tendensi ini dalam diri sebagian orang-orang Batak dalam memperlakukan Nommensen termasuk T.B. Silalahi melalui The Life of Ompu Nommensen, opera yang disutradarainya yang baru saja ditampilkan di Stadion Teladan Medan pada puncak perayaan Jubileum 50 tahun Dewan Gereja Asia (Christian Conference of Asia), 7 Maret 2007.

Nommensen adalah anak zamannya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hidup dan zamannya berada dalam bingkai kolonialisme walaupun bukan Jerman yang menjajah Indonesia melainkan Belanda tetapi Nommensen dalam pekerjaannya di Tanah Batak bergantung pada kemurahan hati pemerintah kolonial. Seperti layaknya para pemimpin agama zaman ini, ia tak dapat menghindari bekerja sama dengan pemerintah sekalipun pemerintah itu adalah penjajah. Nommensen memerlukan pemerintah kolonial untuk mendukung dan melancarkan pekerjaan-pekerjaan misinya.

Pada zaman yang sedang berjalan, sulit untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah, penguasa, termasuk dalam perayaan Jubileum 50 tahun Dewan Gereja Asia yang baru saja berlalu. Maka tak heran, di luar stadion Lapangan Teladan Medan berderet spanduk-spanduk yang sebagian luar biasa besarnya dari setiap kepala pemerintahan tingkat kabupaten dan kotamadya Sumut lengkap dengan foto diri mereka, yang nampaknya hendak mendekatkan diri yang sudah dekat kepada rakyat. Adakah kepentingan tersembunyi yang hendak disampaikan dengan spanduk-spanduk itu? Untuk merebut simpati dan curi start dalam pilkada mendatang, misalnya? Bukankah jumlah penganut agama Kristen di Sumut termasuk besar? Ah, semoga saja tidak ada motivasi tersembunyi semacam itu.

Opera The Life of Ompu Nommensen arahan T.B. Silalahi, nampaknya banyak didasarkan pada tulisan J.T. Nommensen, Ompoei Toean Ephorus Dr. Ingwer Lodewijk Nommensen, Parsorionna Dohot Na Nioelana. Buku ini ditulis oleh J.T. Nommensen, anak I.L. Nommensen sendiri dan diterbitkan oleh Pangarongkamon Mission di Laguboti pada tahun 1921, tiga tahun setelah Nommensen meninggal dunia. J.T. Nommensen adalah juga anak zamannya, yang memandang orang-orang Batak dengan kacamata Eropanya, yang tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Buku ini mencatat pujian-pujian untuk Nommensen dan sebagai anak zamannya, J.T. Nommensen mencatat sisi-sisi gelap manusia Batak seperti yang didengar dan dipahaminya.

Manusia Batak yang memakan manusia sebelum agama Kristen datang, suka perperang dan bertengkar, penyembah berhala (sipelebegu). Juga tak kalah penting, J.T. Nommensen memandang Islam secara negatif seperti kebanyakan missionaris Eropa pada zamannya.
Orang-orang Eropa di masa kolonialisme, entah pemerintah atau missionaris senang dan sering memakai jargon-jargon negatif untuk menggambarkan penduduk pribumi jajahan mereka, antara lain sebagai orang-orang yang masih memiliki kultur membunuh dan memakan manusia. Jargon-jargon negatif ini diciptakan dan dibesar-besarkan untuk melegitimasi penjajahan (pemerasan) yang mereka lakukan termasuk untuk melegitimasikan penyebaran agama Kristen. Apakah orang-orang (Kristen) Eropa lebih beradab dengan segala macam dosa mereka seperti melakukan inkuisisi terhadap jutaan manusia yang tidak berdosa? Jumlah manusia yang mereka bunuh jauh lebih banyak dan itu atas nama agama Kristen.

Anehnya, penduduk pribumi bahkan sekaliber T.B. Silalahi masih juga percaya dengan jargon-jargon negatif ciptaan kaum penjajah itu. Koq bulat-bulat menampilkan citra negatif itu kembali dalam operetnya? Menelan begitu saja apa kata J.T. Nommensen dengan segala macam citra negatifnya tentang orang-orang Batak sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak? Kalau suku bangsa Batak sudah memiliki aksara, musik, tortor, ulos dan falsafah dalihan na tolu (tungku nan tiga) sebelum para missionaris itu datang, tidakkah ini sudah cukup sebagai bukti bahwa mereka adalah komunitas yang jenius dan bermartabat?

Mengapa kita masih begitu senang berkiblat kepada Eropa, menganggap mereka sebagai manusia yang lebih baik daripada kita dalam banyak hal? Kita belum juga berhasil mendekolonisasi pikiran kita dari jargon-jargon yang diciptakan pada zaman kolonial dari masa lalu. I.L. Nommensen perlu ditempatkan dalam bingkai zamannya tidak lalu menjadikannya leganda sebab hal itu dapat meminggirkan dan mengecilkan peran dan perjuangan para missionaris di zamannya dan juga sesudahnya serta orang-orang pribumi yang banyak membantu kelancaran pekerjaannya di Tanah Batak.

Tentu saja saya setuju Nommensen seorang yang tulus dan berbakti untuk orang-orang Batak tetapi jangan lupa, kalaupun dia tinggal menetap di Jerman, apalagi di kampungnya di Noorstrand, kemungkinan tidak terlalu banyak hal yang dapat dilakukannya dibanding jika ia berada dan bekerja di Tanah Batak yang memang mendapat dukungan dari Rheinische Missiongesellschaft (RMG) yang sekarang berubah nama menjadi Vereinte Evangelische Mission, VEM. Tanah Batak pada masa itu lebih indah daripada Noorstrand. Rura Silindung lebih cantik daripada kampung Nommensen yang sering dilanda pasang air laut. Bekas rumah keluarga Nommensen sekarang tidak ada lagi di Noorstand, sudah digenangi air laut.

Pada tahun 1900, salah seorang anak laki-laki Nommensen yang bernama Christian mati dibunuh para kuli Cina di Penang Sori. Christian bekerja di perkebunan kopi dan tembakau di Deli dan nampaknya perusahaan di mana dia bekerja meluaskan usaha mereka sampai di Penang Sori. Apa artinya kejadian semacam ini? Mengapa para kuli membunuh Christian? Ann Laura Stoler dalam Capitalism and confrontation in Sumatra ’s plantation belt, 1870-1979, (1985) memberikan gambaran yang jelas mengapa para kuli membunuh orang-orang kulit putih di perkebunan. Salah satu alasannya adalah untuk balas dendam atas perlakukan orang-orang kulit putih yang kejam terhadap mereka. Ironisnya, orang-orang kulit putih itu sebagian adalah penganut agama Kristen bahkan di antara mereka yang terbunuh itu ada anak seorang missionaris sehebat I.L. Nommensen.

* Penulis adalah dosen di Sekolah Tinggi Teologi Abdi Sabda, Medan


Bookmark and Share

Tulisan Limantina Lainnya :

Apa kabar Protestan?
Untung Atau Buntung
Sejarah Pergerakan Perempuan Di Sumut
Gereja di Sumut Mau Kemana
– Adat dan Kepentingan Ekonomi ….
Gereja di Sumut mau ke mana?
Untung Atau Bungtung ?
Sejarah Pergerakan Kaum Perempuan Di Sumut

Iklan

62 thoughts on “Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen

  1. Tulisan luar biasa. Saya seorang Batak yang sangat cinta dan bangga akan budayanya. Sedikit bukti, saya bisa memainkan hampir semua instrumen musik tradisional Batak, mengerti beberapa ritual Batak, karena kebetulan almarhum ayah saya seorang Datu lulusan Sopo Godang.

    Ketika TB Silalahi mengatakan, “Tanpa Nommensen, orang Batak sekarang mungkin masih pakai cawat,” hati saya luka. Hanya saja, karena saya muslim, saya merasa agak sulit bereaksi.

    Terima kasih untuk tulisan luar biasa ini, Bu Limantina.

    Syaloom aleichem.

    ***Mauliate

  2. tulus tampubolon berkata:

    saya sangat tertarik dengan tulisan ibu di sini. satu sisi saya sependapat dan di sisi lain saya kurang setuju. ada baiknya kita berpikir kritis dan positif. pendapat T.B Silalahi sah-sah saja. suatu karya pasti punya latar belakang dan tujuan artinya bahwa T.B silalahi punya alasan tertentu untuk menampilkannya, dan sebaiknya supaya tidak terjadi kesalahpahaman lebih baik bertanya langsung kepada sutradara itu sendiri.
    saya juga lagi mencari data dan fakta tentang nomensen dan pekerjaannya di tanah batak. kalau ibu punya sumber-sumber, bolehlah berlapang hati untuk menolong saya. besarlah harapan saya untuk mendapat respon dari ibu, mengingat tulisan yang diperbuat ibu ini pasti ada alasan yang kuat disertai dengan sumber-sumber terpercaya.

  3. limantina sihaloho berkata:

    Pak Toga Nainggolan,

    Terimakasih untuk tanggapan Anda. Salut untuk kemampuan Anda bermusik dan memainkan alat-alat musik Batak kita. Menurut saya, musik adalah salah satu jiwa-Batak.

    Salam,
    Limantina Sihaloho

  4. limantina sihaloho berkata:

    Pak Tulus Tampubolon,

    Terimakasih atas tanggapan Anda. Latar belakang studi saya adalah: Kajian Budaya. Saya tertarik pada kebijakan-kebijakan yang diberlakukan dalam bidang kebudayaan, melihat siapa yang diuntungkan dan dirugikan dalam setiap kebijakan atau siapa yang berada di garis abu-abu, diuntungkan dan sekaligus dirugikan. Perjumpaan Kekristenan dengan orang-orang Batak yang datang bersamaan dengan kolonialisme Eropa melahirkan tubrukan-tubrukan yang tak terhindarkan dan ada kelompok yang mengalami kerugian yang paling rugi karena dikambinghitamkan.

    Tentu TB Silalahi memiliki hak untuk berkarya sebagaimana dilakukan tetapi kita kan manusia juga yang sejatinya perlu berdialog terus. Masalahnya juga adalah TB dalam karyanya itu masih memelihara image yang negatif tentang Parmalim yang menurut saya tidak relevan.

    TB saya yakin adalah seorang yang sangat religius, sangat setia dengan kekristenannya tetapi menurut saya adalah lebih bijak kalau karyanya yang terakhir itu, The LIfe of Ompu Nommensen juga tidak melulu menampilkan pandangan lama.

    Sekarang sudah mulai dibongkar kebijakan-kebijakan kolonial dulu termasuk berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan misi. Kalau Pak Tulus sempat mencari tulisan saya yang dimuat di Batak Pos tanggal 12-13 Maret yang lalu, mungkin dapat melengkapi apa yang saya sampaikan secara sekilas di sini.

    Saya mengajar di STT Abdi Sabda Medan. Anda tinggal di mana?

    Sekali lagi terimakasih atas respon Anda,
    Limantina Sihaloho

  5. Julius Silalahi berkata:

    Tuhan menunjukkan kasihNya pada bangsa Batak saat itu (baca: yang ateis) melalui Nommensen. Saat itu ada kolonialisme adalah hal kecil di luar (atau mungkin di dalam?) grand design konstruksi Tuhan. Tidakkah rencana Tuhan sangat besar untuk bangsa Batak dari sekedar melihat “bantuan kolonial” sebagai kampanye negative.
    Tujuan utama kolonial di tanah Batak adalah gagal, tetapi tujuan Tuhan (via Nommensen) di tanah Batak nyata berhasil.

    Kekristenan di dunia ketiga pada awalnya, umumnya membonceng kolonial, tetapi jangan lupa, misi-misi Kekristenan ini tentu berprinsip: cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.

    Sudut pandang Pak TB adalah sah-sah saja; tetapi rangkuman semua itu lihatlah bagaimana hampir semua orang Batak (Kristen)secara iman sepakat menjadikan Nommensen seorang Rasul. Menurut saya malah nilai kerasulannya bisa melebihi rasul yang ada di jaman Alkitab (penilaian saya pribadi..) bila ukurannya apa yang dihasilkan.

    Tubrukan budaya? sulit dihindari; bagaimana mungkin seorang Batak yang Kristen berlaku adil dengan budaya pamelean (tamiang) dengan mengadopsi dalam kehidupannya sehari-hari? Kekristenan tidak meniadakan budaya setempat tetapi meniadakan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus (pertama sekali untuk komunitas kristen itu). Garis pisahnya tegas.

    Terbunuhnya putra Nommensen di Pinang Sori? saya justru melihat harga dari sebuah dedikasi (pengorbanan) penuh untuk pelayanan Tuhan di daerah seperti itu. Pisahkan antara tindakan kejam akibat perlakuan si bontar mata yang nota-bene kristen (tapi sebenarnya sibolis) dengan anak Nommensen yang berada di lingkungan kerja itu. Orang yang marah sampai ke ubun-ubun (pikirannya dikuasai sibolis ??) cenderung membabi-buta.

    Apakah kita Batak Kristen setuju tindak-tanduk kolonial Belanda “yang katanya Kristen” itu? Ompungku yang Sintua dan pejuangpun dibal-bal Belanda.

  6. sintong berkata:

    Dalam tonggo-tonggo batak selalu mengandung kata Mula jadi nabolon (sang pencipta agung), Debata (Tuhan) yang menciptakan segala yang ada. Banyak istilah-istilah batak yang diadopsi dalam gereja batak seperti Debata, bagas joro, dan sebagainya. Bahkan untuk memulai tortor, orang batak selalu lebih dahulu mangalualuhon tu Debata Mulajadi nabolon (sang pencipta agung) (ingat gondang batak batak melekat lama dalam kebudayaan batak.
    Apakah ini belum cukup untuk menunjukkan orang batak telah dalam waktu berabad-abad mengenal pengertian maha pencipta agung dan Tuhan? Animiskah mereka?

    Banyak orang menganggap bahwa orang batak hanya maju karena datangnya penjajahan kolonial dan keristenan. Tetapi menurut saya, kebudayaan orang batak bukanlah seperti katak dibawah tempurung. Pada zaman Sisingamangaraja XI (sebelum Belanda datang ke tanah batak), yang disebut Pustaha bakara telah ditulis pada kertas Italia dan menggunakan tinta cina. Lagi, menulisnya tidak dengan pakai cawat. Orang batak bisa maju karena punya dasar budaya yang kuat sebagai pendukungnya. Karena itu orang batak bisa maju dengan memeluk agama apapun. Coba kita renungi yang disebut dengan “si siasia ni na lima ni habatahon”.
    Sebelum Nomensen datang ke tanah batak, misionaris yang lain yaitu Pendeta Pilgram telah bertemu dengan SSM XI (bahkan katanya sampai sempat memotret SSM XI segala), dan dia tidak mati di bunuh.
    Kita jangan pakai kaca mata kuda untuk melihat masalah ini. Horas.

  7. tanobatak berkata:

    Santabi amang Sintong,
    Sisiasia na lima habatahon, ido nidokna :
    1. Mardebata
    2. Marpatik,
    3. Maruhum,
    4. Maradat,
    5. Marharajaon ?

    Molo hurang lobi pature amang.

  8. Eben br Manurung berkata:

    Awal awal nya saya tertarik membaca tulisan ini, lama lama merasa ada yang janggal. Nomensen memilih jadi misionaris bukan karena kemiskinannya dan tidak bisa berbuat banyak di negerinya. Tapi karena sebuah komitmen. Sepertinya si penulis terlalu membanggakan diri sendiri (termasuk analisanya yang belum tentu valid)dan terbiasa menyepelekan orang lain. Maaf atas komentar saya.

  9. sahat manullang berkata:

    adakah orang batak yang lain selain saya dan ito eben boru manurung ini yang kecewa membaca tulisan bu dosen? pasti sangat..sangat banyak saya yakin itu. tulisan ini bukan janggal, tapi bersifat provokatif…

  10. sahat manullang berkata:

    terus terang saya sangat kecewa membaca tulisan ini sampai saya mengomentarinya lagi. saya yakin banyak teman-teman yang kecewa bila membaca tulisan ini, apalagi ini di tulis seorang dosen theologia.tulisan ini bukan janggal, tapi bersifat provokatif…Pekerjaan mulia dari DR IL Nomensen di tanah batak di berkati oleh Tuhan, saya mengimani itu.terlepas karena bantuan siapa..itu adalah rencana Tuhan.Kolonialisme adalah hal yang berbeda dan itu hanyalah bagian dari sejarah panjang negeri ini.Saya bangga terhadap mereka yang telah melakukan banyak hal , sehingga Napak Tilas DR IL. Nomensen dapat terlaksana dengan baik.Ketika saya berbicara dengan saudara saya di porsea ( yang datang ke sigumpar menyaksikan pemutaran operete), komentarnya adalah…penyegaran iman.Tuhan memberkati

  11. Tanggapan untuk Bung Julius Silalahi, Sdri. Eben br Manurung dan Bung Sahat Manullang. Terimakasih untuk komentar Anda bertiga.

    Bung Julius,
    Bangsa Batak sebelum datangnya Nommensen tidak ateis Pak Julius! Saya mengusulkan agar Anda membaca buku-buku yang banyak berbicara tentang Tanah Batak sebelum masuknya kekristenan di sana.

    Pada tahun 1841, Junghuhn yang telah sampai menjelajah di Tanah Batak menulis seperti ini tentang orang-orang Batak yang dilihatnya waktu itu: “ Mereka mempunyai undang-undang, yang dipegang teguh; mereka berbudi pekerti halus, sangat baik dan bersyukur untuk hal-hal yang dinikmati; mereka adalah sahabat baik dan memiliki kesetiaan yang tidak diragukan; mereka senang pada musik dan suka akan kegiatan-kegiatan sepi dan seni; mereka menenun pakaian-pakaian bagus dan membangun rumah yang besar dan kuat, yang dihiasi dengan ukiran-ukiran seni; mereka mengerti seni metal (besi) dan melebur berbagai metal; mereka mengerjakan barang-barang seni dari gading; mereka tidak menyerah pada hawa nafsu-murka, dan mengadakan musyawarah terlebih dahulu pada setiap menghadapi hal-hal yang penting, persesuaian yang matanglah yang didahulukan; mereka mengambil keputusan-keputusan penting dengan suara terbanyak dalam pertemuan-pertemuan rakyat dan mereka memakan daging manusia…” (OL Napitupulu, Perang Batak Perang Sisingamaradja, Jakarta, Yayasan Pahlawan Nasional Sisisngamaradja, hl. 95.)

    OL Napitupulu memberikan ulasan untuk kalimat Junghuhn yang terakhir, dan mereka memakan daging manusia. Ulasan itu tidak perlu saya ulang di sini panjang lebar. OL Napitupulu melihat ketidaksinkronan Junghuhn dalam gambarannya tentang suku yang sedang dibicarakannya. Poin-poin yang disebutkan oleh Junghuhn sebelum kalimat terakhir di atas jelas tidak padu dengan kalimat-kalimat sebelumnya.

    Isu tentang manusia makan manusia tidak hanya menjadi persoalan yang dibesar-besarkan di Tanah Batak. Modus seperti ini terjadi di hampir semua negara jajahan di Asia, Amerika Latin dan Afrika. Para penjajah membawa kabar (yang banyak bohongnya) ke Eropa bahwa penduduk pribumi yang mereka jumpai memakan manusia. Malah, para perempuan dan laki-laki yang sedang nginang (makan sirih pun) dikira sedang memakan darah karena bibir mereka merah. Maklumlah, di Eropa tidak ada tradisi makan sirih sebab mereka nampaknya tidak membudidayakan sirih. Di Asia, sebelum gebrakan rokok melanda, baik laki-laki maupun perempuan biasanya makan sirih. Para raja kalau bertandang juga siap sedia dengan sirih mereka yang biasa dibawakan oleh kacung-kacung mereka.

    Mungkin Junghuhn menulis setelah meninggalkan Tanah Batak. Dia, sebagaimana kebanyakan orang-orang Eropa yang datang ke Nusantara juga tidak dapat menghindarkan diri dari fenomena zaman itu. Dia saya kira telah banyak juga mendengarkan cerita-cerita tentang orang-orang pribumi (dalam hal ini suku bangsa Batak) yang memakan daging manusia.

    Kalau Pak Julius memeriksa arsif-arsif dan tulisan-tulisan sebagian besar orang-orang Eropa mengenai khususnya Tanah Batak, maka isu tentang barbarisme Batak masih melekat pengertian mereka sekalipun mereka sudah lahir di abad ke-20 dan mungkin belum pernah ke Tanah Batak secara langsung.
    Adat dan budaya masih merupakan perdebatan yang seru di kalangan kita Batak Pak Julius. Pamelean seperti yang Anda sebutkan? Cobalah ingat kembali betapa dramatis ketika Abraham membawa anaknya yang tunggal itu ke puncak sebuah bukit untuk dikurbankan. Cobalah ingat kembali bagaimana Israel mempersembahkan kurban bakaran berupa hewan (merpati, domba, lembu…) bagi Tuhan yang mereka sembah. Mengapa Anda seperti keberatan kalau orang Batak melakukan hal yang mirip atau bahkan sama? Mengapa Anda seperti berpikir bahwa Tuhan orang Batak berbeda dengan Tuhan orang Israel? Saya sarankan Anda membaca The Toba Batak High God, karya Bongsu Sinaga, seorang pastor Katolik. Katolik di Indonesia memang jauh lebih membumi daripada Protestan, mungkin karena teolog-teolog mereka telah lebih maju dalam hal mendalami tradisi-kebudayaan-agama Batak pra Kristen.

    Cobalah tunjukkan pada saya (kita) apa-apa saja budaya Batak yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus itu. Ini penting dihamparkan jadi kita mempunyai titik tolak untuk berbicara. Jangan menganggap orang lain sudah tahu padahal belum tentu kita mempunyai kesepakatan yang sama berkaitan dengan satu-satu topik. Anda perlu cermat sebab di Tanah Batak ada saudara-saudari kita Parmalim yang selama ini telah banyak disalahpahami oleh terutama orang-orang Kristen Batak. Di Tanah Batak ada pertarungan teologis yang bertumpang tindih dengan adat-istiadat. Ini masalah yang menurut saya rumit dan memerlukan penelitian yang serius dan tentu saja kerendahan hati dari berbagai pihak.

    Sebagai seorang sutradara TB Silalahi hebat tetapi dia perlu belajar banyak tentang teologi dan kebudayaan sebab operet-operetnya sebagian besar berada dalam bingkai teologi dan kebudayaan. Sumber-sumber seperti buku saya anggap sebagai raw material, sebagai informasi. Kita perlu menggunakan intelegensia kita untuk mengolah informasi dan bahan-bahan mentah itu, tidak menelannya bulat-bulat. Operet TB bagi saya adalah sebuah penelanan bulat-bulat dari buku-buku yang telah berbicara tentang IL. Nommensen. Melihat operetnya, saya seperti membaca biograpi IL Nommensen yang ditulis oleh anaknya sendiri tiga tahun setelah IL Nommensen wafat.

    Christian anak IL Nommensen yang terbunuh di Penang Sori adalah karwayan di perkebunan milik orang-orang Eropa. Pak Julius terlalu bersemangat sehingga mengira si Christian seorang yang berkorban untuk pelayanan Tuhan? Saya sarankan Anda membaca buku-buku yang berkaitan dengan perkebunan di Sumatra Timur dan juga di wilayah-wilayah lainnya di Sumatra bahkan di negara-negara jajahan lainnya sehingga Anda dapat melihat gambaran tentang bagaimana kejamnya penjajahan itu terhadap khususnya orang-orang pribumi yang bekerja di perkebunan-perkebunan. Christian hanya salah satu korban dari orang-orang pribumi yang telah lama ditindas. Hampir setiap orang kulit putih yang dibunuh di perkebunan adalah mereka yang pernah melakukan hal-hal yang kejam atau tidak pantas bagi para kuli. Christian bukan missionaris seperti bapaknya IL Nommensen, ia seorang karyawan yang bekerja bagi kepentingan pemilik modal di Penang Sori ketika dia dibunuh itu.

    Saya kira lebih enak melihat orang Batak Kristen yang memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, berpikiran terbuka dan tidak melulu memandang agama miliknya sebagai yang paling benar, yang tidak serta-merta membawa setiap persoalan ke ruang rohani dan merohanikan apa yang sebetulnya tidak rohani. Gun, Gold, and God (God, baca: agama) adalah paket yang dijalankan pada masa penjajahan di Asia, Amerika Latin maupun Afrika. Ketiganya datang bersamaan dan sering kali setali tiga uang.

    Siapa yang menentukan kerasulan IL Nommensen di Tanah Batak? Saya malah jadi ingin tahu latar belakang di balik keputusan itu. Siapa yang memutuskan itu? Para pemimpin gerejakah? Seberapa banyak warga gereja di Tanah Batak yang terlibat dalam hal itu?

    Secara pribadi saya salut pada dedikasi IL Nommensen di Tanah Batak sebagaimana juga saya salut terhadap dedikasi para missionaris sezamannya dan yang datang kemudian, termasuk orang-orang Batak (yang tanpa mereka pekerjaan para missionaris Eropa itu tidak akan selancar yang terjadi) tetapi saya tidak menutup mata terhadap apa-apa yang terjadi pada masa itu, yang berada di dalam kendali dan di luar kendali IL Nommensen. Saya sudah sebutkan bahwa IL Nommensen adalah anak zamannya. Dia berada pada bingkai zamannya. Kalau Anda berada pada zaman itu dan membayangkan diri menjadi IL Nommensen, tentu Anda sampai batas-batas tertentu harus bekerja sama dengan pemerintah yang pada waktu itu adalah Belanda.

    Kita tidak mempunyai sumber-sumber selain apa yang ditulis oleh J.T. Nommensen dan belakangan oleh para teolog-teolog Protestan yang semuanya bernada memuji bahkan mengagungkan IL Nommensen. Sumber-sumber yang berbeda perlu dicari dan direkonstruksi. Tentu, ini harus saya tegaskan, bukan sebagai bentuk rasa tidak hormat kepada IL Nommensen tetapi adalah untuk mengerti diri kita pada saat ini. Kan ada konflik teologis dan kebudayaan di Tanah Batak dan dalam diri orang-orang Batak baik di Tanah Batak sendiri maupun di perantauan. Konflik adalah juga sebuah dinamika tetapi kalau kita tidak cerdas dalam mengelolanya, konflik dapat menimbulkan petaka. Salah satu contoh yang bisa saya sebutkan sekarang adalah arogansi warga Kristen Batak di Air Bersih di Medan terhadap saudara-saudari kita Parmalim yang mendirikan rumah ibadah mereka di sana. Saya kira, apa yang terjadi di Air Bersih di Medan adalah puncak gunung es yang nampak.

    Sdri. Eben Boru Manurung,
    Tidak perlu Anda minta maaf atas komentar Anda. Yang perlu Anda lakukan adalah membaca tulisan yang Anda baca dengan teliti dan alangkah bagusnya kalau Anda juga memberikan sumbangan pemikiran dari gudang pemikiran Anda sehingga kita dapat saling berbagi. Coba sekali lagi Anda baca paragraf kedua terakhir tulisan saya itu dengan teliti dan padu. Jangan hanya terpaku pada kalimat yang membuat Anda tidak suka lalu mengatakan si penulis yang tulisannya Anda baca “terlalu membanggakan diri” — komentar Anda yang seperti itu tidak berguna apalagi dalam arena akademis di mana kita memerlukan penjelasan naratif yang alitis untuk saling memperkaya. Kalau Anda mengatakan analisa saya tidak valid, baiklah Anda memberikan analisa Anda yang valid. Itu akan membantu tidak hanya saya tetapi juga orang lain. Tunjukkanlah di mana saja analisa saya yang tidak valid itu, jangan hanya mengatakan tidak valid sebab bagi saya, tindakan Anda yang seperti itu tidak elagan. Kalau kita berani menilai, kita juga harus rela (bersusah payah?) memberikan penjelasan. Begitu baru sportif. Salam saya untuk Anda!

    Bung Sahat Manullang,
    Komentar Anda menarik bagi saya. Anda yakin betul dengan apa yang Anda pikirkan itu. Saya sarankan Anda melakukan penelitian kecil-kecilan dululah untuk membuktikan apa yang Anda pikirkan itu baaah. Apa yang kita pikirkan dan yakini belem tentu seperti itu realitanya di lapangan looh.

    Mengapa harus kecewa hanya karena sebuah tulisan? Kenapa kalau saya seorang dosen teologia? Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak Anda ketika berpikir tentang seorang dosen teologia. Baiklah Anda membeberkan hal itu sehingga paling tidak saya dapat mengetahuinya.

    Bung Sahat Manullang, iman itu berada di dalam dan di tengah-tengah konteks zaman yang terus bergerak dan berubah. Anda mengatakan mengimani tugas mulia IL Nommensen di Tanah Batak terlepas dari bantuan siapa. Bagi orang lain, terlepas dari bantuan siapa itu adalah persoalan tertentu yang menarik untuk digali dan dikaji. Mengapa? Sebab, ada konsekwensi-konsekwensinya! Kekristenan di Tanah Batak telah membuat saudara-saudari kita yang Parmalim menjadi kelompok yang marginal. Arogansi teologis dari kalangan Kristen telah berlangsung cukup lama terhadap pihak Parmalim dan perlu waktu yang lama lagi untuk menyembuhkan kedua belah pihak (terutama yang Kristen). Menyembuhkan ‘penyakit teologis’ adalah salah satu pekerjaan yang paling sulit.

    Saya pecinta opera, teater, drama, film…termasuk opera TB Silalahi. Sulit membuat opera seperti The Life of Ompoe Nommensen itu. Kan sayang kalau opera sebagus itu dari segi penampilan lalu tidak kritis dalam hal isi khususnya, yang saya komentari berkaitan dengan citra orang Batak yang memakan manusia dan pandangannya yang tidak tepat mengenai Parmalim.

    Bacalah tulisan saya dengan proporsional, tidak dipenggal-penggal. Anda tidak perlu kecewa karena tulisan saya dan tidak perlu membawa-bawa orang lain yang menurut Anda juga akan kecewa — padahal, teman-teman Anda itu belum tentu membaca tulisan saya. Kalau Anda mau berpartisipasi dengan lebih baik, daripada hanya menunjukkan rasa kecewa, mengapa tidak memberikan sumbangan pemikiran yang lebih tertata dan analitis?

    Salam saya untuk Anda yang mudah-mudahan tidak kecewa berkepanjangan.

  12. Tanggapan untuk Bung Sintong,

    Terimakasih untuk komentar Anda.

    Uraian Anda yang singkat dan padat, perlu digali dan dijadikan milik bersama khususnya di kalangan kita yang masih berindentitas Batak ini, entah Kristen, Muslim atau Parmalim atau yang bukan ketiga agama ini tetapi masih beridentitas Batak.

    Sebagian besar teolog-teolog Kristen juga menyebutkan bahwa orang-orang Batak sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak adalah penganut animisme. Bagaimana mungkin mereka dapat mengatakan hal itu semudah itu ya ketika kata-kata seperti yang Anda sebutkan, seperti Debata, diambil dari dunia sebelum Kristen. Orang Israel juga melakukan hal yang mirip, mengadopsi nama-nama ilahi dari penduduk di sekitar mereka untuk menyebut dan menyapa Tuhan mereka. Kalau kita membaca Sejarah Tuhan karya Karen Amstrong, kita lalu dapat mengetahui dengan lebih jelas bahwa suku-suku bangsa yang tinggal di sekitar bangsa Israel bukanlah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Malah, mereka bisa jauh lebih maju dalam hal religiositas dan keagamaan dibandingkan dengan Israel.

    Kalau agama Kristen yang ada di Tanah Batak mengambil kata Debata dari perbendaharaan komunitas Batak pra Kristen, itu kan berarti orang-orang Batak pra-Kristen juga sudah mengenal Tuhan. Kalau orang Kristen Batak mengira bahwa Batak pra-Kristen itu animis padahal mereka mengambil kata Debata dan dibawa masuk ke dalam gereja, itu kan berarti orang-orang Kristen Batak itu yang arogan dan egois. Mengambil kata yang sepenting itu mau, kok mengakui bahwa pemilik kata itu juga mengenal Tuhan tidak mau?

    Kalau Anda tidak keberatan, paragraf kedua dari komentar Anda penting untuk dikembangkan menjadi paling tidak sebuah essay. Selama ini telah ada kesan kuat bahwa kemajuan orang Batak tidak dapat dilepaskan dari sarana-prasarana yang dibawa oleh Belanda dan missionaris khususnya dari Eropa. Keadaan Tanah Batak seperti hari ini dan
    Orang-orang Batak secara umum baik yang di Bona Pasogit maupun yang di Tanah Rantau, apakah ini hasil yang paling baik yang dapat kita capai? Belakangan ini, saya melihat kemerosotan di kalangan kita Batak (Kristen). Salah satu penyebabnya bisa saja adalah akibat pengkristenan yang tidak muncul dari kesadaran pribadi. Di Tanah Batak sebagaimana di berbagai suku lainnya di Indonesia, kalau pemimpin suku sudah dikristenkan, maka serta merta para pengikutnya juga akan menjadi Kristen. Jadilah, kekeristenan tidak meresap ke dalam hati tapi sekedar ikut-ikutan.

    Kita juga dapat melakukan perbandingan antara komunitas Batak yang Kristen, Muslim dan Parmalim berkaitan dengan komentar Anda bahwa orang Batak dapat maju dengan memeluk agama apa pun. Memperbandingkan bagaimana ketiga komunitas ini berinteraksi dengan adat-istiadat Batak dan bagaimana dinamika di antara ketiganya. Apa yang membuat orang Batak dikenal hebat khususnya dalam bidang hukum atau sastra? Apakah karena agama (Kristen, Islam, Parmalim) atau karena tradisi-adat-kebudayaan mereka? Salam saya untuk Anda.

  13. sorta berkata:

    Terima kasih atas ulasan ibu Limantina Sihaloho, memperluas wawasan saya mengenai asal-usul Kristen di tanah Batak. Saya adalah ibu rumah tangga biasa yang tidak terlalu mengerti asal usulnya Bapak IL Nomensen, tapi saya rasa tidak pantaslah membicarakan beliau begitu. Kita syukuri dan kita hormati beliu bahwa dialah yang mengenalkan Kristen ke tanah Batak, khususnya saya yang Kristen, terlepas dari gun, gold and god. Bagaimana perjalanan beliau dari jerman (yang pasti belum ada pesawat) ke negeri antah berantah yang katanya penduduknya suka makan sesama/orang. Pastilah beliu sudah rela mati. Beliau sendiripun mungkin tidak menyangka kalau kita di tanah batak khususnya yang Kristen begitu mengagungkannya sekarang. Tingkah laku seseorang tidak dipandang dari kepercayaan yang dianut, saya rasa itu berpulang dan tergantung orang-nya/pribadi masing-masing, banyak faktor selain agama. Saya Kristen tapi saya tidak pernah mempermasalahkan atau memarginalkan Parmalim. Waktu saya masih kecil masih ingat sering melihat mereka jalan bersama seperti pawai di pasar laguboti lengkap dengan jubah dan sorban hitamnya.Tidak masalah bagi saya keberadaan mereka. Kan tidak ada yang salah dengan mereka.
    Terima kasih.

  14. Sibarani berkata:

    Saya pikir sudah selayaknya kita menempatkan segala sesuatu pada porsi yang sebenarnya. Menafikan karya dan dedikasi Nommensen mungkin kurang bijaksana juga ya. Memujanya setinggi langit juga mungkin tidak pada tempatnya.

    Tapi, suka atau tidak suka, harus diakui bahwa Nommensen telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan keristenan di Tano Batak, walaupun harus diakui pula bahwa ada banyak putera-puteri Batak yang juga berkontribusi dalam hal ini.

    Mungkin ito boru Sihaloho bisa menuliskan juga tentang orang-orang selain Nommensen yang dulu aktif dalam kegiatan misi di Tano Batak?

  15. andris berkata:

    “Kita tidak mempunyai sumber-sumber selain apa yang ditulis oleh J.T. Nommensen ” dikutip dari penjelasan Limantina Sihaloho

    Terus Operettenya mau ngarang sesuka hati.
    Paling tidak Operetenya berdasarkan sumber-sumber yang tersedia pada saat tersebut. Nanti kalau Inang sudah ada bukti tambahan, ya direvisi untuk operete selanjutnya. Gitu aja kok repot…

    “Tanpa Nommensen, orang Batak sekarang mungkin masih pakai cawat” dikutip dari komentar Toga

    Bukannya sekarang orang batak masih banyak yang pakai cawat? Cawat kan celana dalam. Ngak tahu, kalau yang lain pakai celana tapi tak pakai cawat 🙂

    Malah katanya nih, justru tidak pakai cawat jika memeluk salah satu agama terbesar di negeri ini pada saat ibadah memakai sarung. Benar nggak ya? juat kidding…

  16. Albert Pasaribu berkata:

    Sebagai seorang alumni Nommensen dan juga orang batak,tulisan ini baik sebagai penambah wacana kita tengtang IL Nommensen yang telah memperkenalkan Kristus pada orang batak.

  17. Dear all,

    Sangat menarik membaca Catatan untuk para pengagum I.L. Nommensen tulisan Limantina Sihaloho, seorang dosen teologi yang memiliki kesadaran teologis yang mampu merangkul dan memahami perbedaan kepercayaan terhadap Tuhan. Pemikiran moderat dan analisis kritisnya terhadap I.L. Nommensen, saya nilai suatu hal yang harus didiskusikan secara elegan, intelek tanpa stigma, hingga menempatkan penulis sebagai seorang “penghujat” Nommensen.

    Saya kira, jika dialog ini dibaca oleh Nommensen dan beliau ikut menonton Operet yang di sutradarai oleh T.B. Silalahi, akan ada gumaman yang tidak kita duga “saya tidak seperti yang kalian lukiskan”.

    Dengan segala kehebatan, kemauan keras, suasana zaman dan keterbatasan yang melingkupinya, bagi saya Nommensen seorang sosok manusia yang berupaya mengaktualisasikan pemikiran, ideologi dan kepercayaannya melalui pengalaman jasmani dan rohani penuh tantangan.

    Nommensen, saya kira tidak berharap pengkultusan, hingga didaulat menjadi “rasul”, sebab bagi anak manusia yang jujur berbuat bagi sesama, gelar justru mengurani upah “di sorga”.

    Selamat berdialog.

  18. elumban berkata:

    Bagi saya, seseorang yang berbuat baik bagi orang lain, bahkan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap suatu komunitas adalah legenda. Seorang Ibu Janda yang ditinggal mati oleh suaminya dengan anak-anak yang masih kecil berhasil membesarkan anak-anaknya memperoleh kehidupan yang lebih baik adalah Legenda bagi anak-anaknya. Tidak ada orang yang lain yang boleh menyalahkan pandangan tersebut. TB Silalahi boleh membuat apresiasi dia terhadap Nomensen setinggi apa pun. Barangkali generasi seperti kita ini – terutama dari Tapanuli Utara atau orangtuanya dibesarkan di Tapanuli Utara mungkin setuju dengan pendapat TB Silalahi tersebut. Menurut saya presetasi terbesar dari Nomensen untuk Orang Batak adalah merubah kultur orang batak saat itu untuk menghargai pendidikan dan membawa sudut pandang baru bagi mayoritas orang batak di Tapanuli Utara (dulu) bahwa pendidikan adalah gerbang baru menuju kemajuan – perubahan hidup. Bukti-bukti boleh kita lihat melalui sekolah-sekolah yang didirikan di hampir semua gareja godung HKBP di Tapanuli Utara. Saya pernah menanyakan hal ini kepada orangtua saya yang baru menikmati sekolah pada umur belasan tahun. Bagaimana para pelayan-pelayan gereja menjemput anak-anak Batak untuk mau ber “sekolah” , dan juga bagaimana orang batak mempunyai sudut pandang baru bahwa kekayaan terbesar adalah “sekolah”. Saya tidak tahu apakah kita pernah mendengar cerita “memelihara itik – makan kulitnya”, yang menggambarkan perjuangan seluruh anggota keluarga agar salah satu anaknya bisa merantau untuk pendidikan yang lebih tinggi. Saya juga tidak tahu apakah anda pernah merasakan bagaimana posisi professi guru demikian tinggi di mata orang batak. Semuanya ini adalah buah pengaruh dari Nomensen. Sungguh, saya tidak tahu apakah hal-hal seperti ini dicantumkan dalam Dokumen-dokumen tentang Nomensen. Saya sebagai warga HKBP (saya tidak mengatakan semua orang Batak) mengakui seandainya orang tua saya tidak berhasil dipengaruhi oleh kehadiran Nomensen, barangkali sekarang kami masih pake cawat. Tapi dengan budaya menghargai pendidikan yang ditanamkan orangtua kami, lumayan,…kami bisa hidup seperti sekarang walaupun belum bisa menjadi Jenderal dan pengusaha seperti TB Silalahi. Tanpa harus mengurangi rasa penghargaan kami atas upaya dan jejak karya dari Nomensen dalam kehidupan kami sampai saat ini, yang saya percaya tidak tercantum dalam dokumen-dokumen ilmiah atau referensi tentang Nomensen.

  19. Gerrits berkata:

    Well, for me, Nommensen is a legend. Wong Susi Susanti aja udah dibilang legenda bulu tangkis, jangan sewot dong bu kalau ada yang bilang Nommensen itu legenda.

    Awalnya sih oke2 aja baca tulisan bu listiana. Tapi setelah melihat balasan nya yang menggebu-menggebu dan sarat dengan nada emosi, keliatan sekali kalau bu listiana ini seperti kebakaran jenggot, defence-nya kebangetan. Jadi nya ulasan balasan itu tidak menarik.

    Jangan marah ya bu, saya tidak menyerang , kita ga ada masalah pribadi kok. Namanya juga “comment”! Ga harus ilmiah seperti yang diagung-agungkan oleh bu listiana kan.

    Semoga ulasan berikutnya bisa lebih baik. Peace…

  20. Eddy P. Simanjuntak berkata:

    Pekerjaan mulia dari DR IL Nomensen di tanah batak di berkati oleh Tuhan, saya mengimani itu.terlepas karena bantuan siapa..itu adalah rencana Tuhan demikian komentar Lae Sahat Manullang di situs ini, itu kan kata orang Batak dari Tapanuli Utara khususnya yg menganut agama Kristen.
    Manusia Batak yang memakan manusia sebelum agama Kristen datang, suka perperang dan bertengkar, penyembah berhala (sipelebegu). Juga tak kalah penting, J.T. Nommensen memandang Islam secara negatif seperti kebanyakan missionaris Eropa pada zamannya

    Apa kata Saudara kita Yg dari Tapanuli Selatan yg mayoritas beragama Islam, mereka kan tidak kenal dengan IL Nomensen, tapi lihat prosentase kaum intelektual dari keturunan Marga Nasution, Siregar dll,
    Bahkan ada diantara mereka yg sdh berangkat Haji sebelum Nomensen datang ke Tapanuli.

    Kalau kita berandai-andai, Apabila Nomensen tidak datang ke Tapanuli Utara, apakah kita akan tetap primitif seperti yg diakatakan Togar dalam dialog The Life of Ompu Nommensen yg disutradarai TB 766hi, bahwa kalau Nomensen tdk datang ke Tapanuli Utara orang Batak akan tetap pakai cawat, ……………………………………. jangan2 malah kebalikannya, yaitu orang Batak pakai CAWAT di luar seperti Superman alias HEBAT donk, kan Superman bisa terbang, haaaa…haaaa.haaaa, …….just kidding.

  21. Ranto P Turnip berkata:

    Salam untuk semuanya dari Bandung

    Senang menemukan blog atau situs (?) ini. Senang juga mendengar komentar-komentarnya. Ada yang lucu, ada juga yang serius. Ada yang ilmiah, ada pula komentar dengan wawasan yang sederhana saja.

    Kalau saya tertarik ikut beri komentar, bukan karena saya punya data ilmiah yang lengkap, malah mungkin saya hanya punya pengetahuan tentang orang Batak dan IL Nommensen sekadarnya saja. Secara adat, saya tidak dibesarkan dalam atmospher adat batak yang kental, sekadarnya saja. Secara kekristenan, saya tidak dibesarkan dalam kekristenan yang kental, sekadarnya saja. Pengetahuan saya tentang Parmalim juga, sekadarnya. Jadi saya tidak punya kapasitas untuk memberi komentar. Tapi tergelitik, karena beberapa hal yang lucu.

    Pertama, orang Batak pakai cawat.
    Saya malah bertanya-tanya, apakah orang Batak jaman purba itu pakai cawat. Saya malah punya pendapat, orang jaman dulu itu tidak pakai cawat, tapi sudah barang tentu tidak juga seperti Adam dan Hawa. Pasti mereka punya pakaian. Apakah dari kulit kayu yang disamak, atau dari kulit binatang, atau mungkin juga sudah bisa menenun, sehingga mereka sudah berpakaian modis pada jaman itu. Jadi kesimpulan saya, datang atau tidak datang IL Nommensen, orang Batak pasti tidaklah seprimitif yang dibayangkan orang. Tapi soal pakai cawat, sekali lagi, saya hampir diyakinkan, orang Batak jadul tidak pakai cawat, apalagi pakai cawat seperti Superman yang kebalik itu.

    Kedua, orang Batak makan orang. Stigma ini, paling banyak disangkal oleh orang Batak. Apakah benar atau tidak orang Batak makan orang, ini tergantung dari pengertian atau penafsiran tentang orang Batak makan orang. Saya hampir diyakinkan, bahwa sebagian besar orang purba, makan orang. Tapi tidak dalam pengertian sebagai makanan sehari-hari, atau sebagai makanan favorite. Mungkin mereka memakan orang, karena orang itu musuh yang dikalahkan dan kekuatannya harus diambil dengan cara memakannya. Ini hanya dugaan saya saja. Saya tidak belajar antropologi atau arkeologi. Tapi saya mendengar cerita-cerita, yang mungkin juga hanya untuk memberi stigma saja. Tapi ada satu cerita menarik dari bapak saya (usianya kurang lebih 80 tahun saat ini), dia mendapat cerita dari bapaknya juga, jadi tidak ada data yang bisa mendukung apakah ini ilmiah atau hanya sekadar turi-turian atau cerita pengantar bobok. Bahwa pada jaman dulu itu, ada satu hari tertentu di mana tidak ada yang boleh keluar rumah, baik orang, ataupun ternak, kalau ada yang keluar rumah dan tertangkap oleh sekelompok orang yang juga keluar, maka yang tertangkap itu dimakan oleh mereka, apakah itu ternak, apakah itu manusia. Mungkin ini yang menimbulkan stigma orang Batak makan orang. Tapi ini hanya sekadar cerita. Apakah cerita itu benar atau tidak, siapa yang tahu? Apakah cerita ini pernah didengar orang lain, saya juga tidak tahu. Tapi kalaupun benar orang Batak jaman dulu makan orang, kenapa harus dirisaukan sampai saat ini. Sekarang kan orang Batak tidak makan orang?

    Tentang orang Batak animis. Saya tidak tahu apa pengertian animis menurut masing-masing pikiran kita pribadi, tapi saya percaya orang Batak, bahkan semua orang purba di seluruh dunia yang ada pada waktu itu, menyembah sesuatu yang supranatural, apapun namanya, dan bagaimanapun caranya. Apakah itu, Debata Mula Jadi Na Bolon, atau Allah, atau Yahwe, saya kira, di alam bawah sadar mereka, mereka menyembah Sang Khalik Pencipta alam semesta dan Pencipta mereka dan pemberi hidup mereka. Ini saya kira, sekali lagi saya hanya mengira-ngira, karena saya bukan teolog, karena citra, atau gambar, atau sesuatu yang bersifat ilahi masih tertinggal di dalam alam bawah sadar mereka. Apakah yang mereka lakukan itu benar atau sesuai dengan yang Sang Khalik harapkan, saya beranggapan, siapakah kita, sehingga kita bisa berlaku seperti Allah menentukanyang benar dan yang salah?

    Tentang Nommensen. Apakah Nommensen berjasa atau tidak berjasa, ini tergantung kepada apa yang ada di belakang kepala, atau yang ada di dalam hati yang menganggapnya. Bagi sebagian besar orang Batak yang beragama Kristen dan berjemaat di HKBP, pastilah Nommensen berjasa besar. Bagi yang di luar itu, siapa yang tahu? Tapi saya kira, sekali lagi, saya hanya mengira-ngira, karena memang kita harus bertanya kepada Nommensen sendiri, ketika kita nanti bertemu dia di alam sana, Nommensen tidak datang ke Tanah Batak, karena kampungnya kurang hebat, kurang seronok, dari Tanak Batak sendiri. Atau kerana dia perlu pekerjaan, karena dia dari keluarga miskin di kampungnya, saya kira bukan karena ini alasannya. Saya kira, alasan utamanya adalah, karena keimanannya. Imannya mengatakan, bahwa orang di luar Kristus adalah orang yang terhilang, sehingga patut diselamatkan dengan menceritakan Injil kepada mereka. Saya kira Nommensen, karena keimanannya, punya keharusan menjalankan perintah Tuhannya, “Pergilah ke seluruh dunia, dan jadikanlah semua bangsa murik-Ku.” Karena dia beriman, dia melakukan perintah itu. Apakah ini salah atau benar, saya kita kita tidak berhak menghakiminya. Semua orang, sesuai dengan imannya, berhak menjalankan perintah imannya. Apakah ini berbenturan dengan keimanan orang lain, ini memang tidak terhindarkan. Aturannya hanya satu, sejauh tidak kriminal, orang tidak bisa dihakimi oleh karena dia menjalankan syariat keimanannya.

    Tentang Rasul. Dalam teologi sebagian orang Kristen, mereka percaya bahwa nabi-nabi dan rasul-rasul masih ada hingga hari ini. Itu sebabnya di Amerika sana ada banyak rasul-rasul dan nabi-nabi baru. Apakah ini salah? Lagi-lagi tergantung kepada teologi apa yang kita anut. Tapi saya sendiri percaya bahwa Nommensen adalah rasul untuk orang Kristen Batak yang HKBP, dalam pengertian dialah yang memulai pekerjaan kekristenan di HKBP. Dialah pendiri HKBP. Dalam pengertian rasul sebagai pendiri suatu agama, maka Nommensen adalah rasulnya orang Batak Kristen yang HKBP.

    Tentang apakah orang Batak masih tinggal primitif atau bisa maju kalau Nommensen tidak datang ke Tanah Batak, ini hal yang relatif. Dan kita tidak bisa berandai-andai lagi, karena memang sudah terjadi. Dan senyatanya, orang Batak sudah ada yang maju, tapi jangan pula kita nafikan bahwa ada orang Batak yang tidak maju. Tapi itu pun dalam ukuran-ukuran yang diciptakan oleh masing-masing pribadi. Pribadi yang satu bilang belum maju, tapi pribadi yang lain bilang, kita bukan orang primitif lagi. Mana yang benar, kembali kepada siapa yang mengukurnya, dan apa parameternya.

    Tentang Limantina Haloho. Saya tidak berhak mengomentarinya. Siapakah saya, sehingga saya punya hak untuk menilai orang lain? Tapi bagi saya, saya punya pendapat pribadi. Inilah pendapat saya, kalau saya hidup sebagai preman atau penjahat, maka saya harus hidup dengan kredo-kredo kepenjahatan atau keperemanan. Kalau saya orang jalanan, maka saya harus hidup dengan kredo-kredo orang jalan. Kalau saya seorang bankir rumahan, maka saya harus hidup dengan kredo-kredo bankir rumahan. Kalau saya seorang wartawan, saya harus hidup sesuai dengan kredo-kredo kewartawanan. Kalau saya seorang politikus, saya harus hidup sesuai dengan kredo-kredo kepolitikan, minus tikusnya. Kalau saya seorang teolog Islam, saya harus hidup dengan kredo-kredo keislaman. Kalau saya teolog Kristen…? Kalau ada yang ingin mengubah hidup saya, saya persilakan. Tapi apakah saya mau berubah sesuai keinginannya, itu tergantung saya sendiri. Tidak ada satu pun yang bisa memaksa saya. Tidak juga yang di atas sana. Bukan karena Dia tidak mampu mengubah saya, tapi kerena Dia menghargai hak azasi saya sebagai manusia yang pernah Dia berikan kepada saya. Dia tidak akan mencabut hak azasi saya. Saya mau jadi apa pun, Dia tidak bisa menghalanginya. Jadi, kalau Dia tidak menghalangi, maka kita kita pun tidak bisa menghalangi orang lain untuk menjalankan hak azasi. Kalau Dia sendri tidak menghapus banyak agama dan menjadikan satu agama saja, mengapa kita berusaha untuk menghalangi orang lain menjalankan keimanannya, termasuk menjalankan perintah-perintahnya, walaupun akan terjadi benturan yang tak bisa terhindarkan. Hanya satu yang tidak bisa kita lakukan, mencabut hak azasi manusia lain.

    Ada banyak yang ada dalam pikiran saya selama saya membaca semua tulisan yang ada di blog/situs(?) ini. Tapi kalau saya komentari semua, maka saya akan menjadi komentator.

    Salam hangat untuk semua, khususnya untuk Limantina Haloho. Salam persahabatan (bersahabat jauh lebih baik dan menguntungkan daripada bermusuhan)

    Catatan.

    Kalau ada yang tidak berkenan, atau komentar saya berubah menjadi tuduhan di dalam pikiran pembaca, saya mohon maaf.

  22. Henry LTS berkata:

    Horas boto Limantina,
    Saya sangat bangga bahwa skrg ini masih ada yang kritis dan mau menuangkan pikiran dalam tulisan yg bisa diakses banyak orang.Kontraversi pasti akan datang selalu.Ndak apa-apa.Bila kita menerawang ke masa lalu dengan sejarahnya, dunia semakin maju karena ada orang yg mau mengkritisi kemapanan pada zamannya. Bukankah Yesus menjadi pribadi yang berbeda pada zamanNya dari orang disekitarnya?Demikan juga dengan George Newton, Galileo Galilei dan pemikir pemikir lainnya. Ternyata dengan buah pikiran mereka dunia menjadi lebih baik to?
    Buat kita kita yang mau memberi tanggapan pada pikiran orang lain, tentu akan lebih baik tanggapan tidak didasarkan pada emosianal semata, yang membuat kita menutup mata terhadap hal lain yang MUNGKIN membuat dunia dan pemahaman kita menjadi lebih baik.
    Kita tentu tidak berbicara dalam ranah perasaan saja.Tapi membuka kemungkinan melihat sesuatu dalam persfektif yang lebih luas.
    Mungkin dengan demikian akan dihasilkan pengetahuan yang baru, yang bisa saja akan membuat kehidupan manusia lebih baik.
    Semoga pendapat saya ini bisa membuka kesempatan untuk berdialog dalam suasana terbuka tanpa dilatar belakangi curiga. Dan sudah barang tentu diskusi ini lebih baik diikuti orang yang punya latar belakang intelektual yang memadai. Sehingga diskusinya menjadi hidup dan berguna.
    Bagi Kristus lah puji, hormat dan kemuliaan.
    Syaloom

  23. Alfared D berkata:

    Menurut saya pemahaman tentang “kekristenan” dan pemahaman tentang ” barat” harus dipisahkan. Jadi dibutuhkan semacam pemisahan jilid dua. Pemisahan jilid satu adalah pemisahan antara agama (kristen) dengan negara, dan itu sudah sukses dilakukan di eropa. Akibat tidak adanya pemisahan jilid dua ini, maka sekarang pemahaman antara kekristenan dengan barat menjadi campur baur, dan merugikan kekristenan itu sendiri. Misalnya serangan AS ke Irak tanpa resolusi DK PBB, ada yang memahami sebagai serangan agama Kristen . Ini sangat merugikan kekristenan, karena Paus pun mengutuk serangan ini. Sepertinya pemisahan atas pemahaman “kekristenan” dengan “barat” ini, belum dipahami sepenuhnya oleh Ibu Limantina, sehingga terjadi kekacauan di dalam tulisannya, yang mana “kolonialisme barat” yang mana “misi Injili”. Kalau para penginjil datang ke Tanah Batak sebagai barat tidak perlu mati martir seperti Liman & Munson. Sebagai barat semata, tentu Lyman & Munson akan mengeluarkan pistol dan menembak melakukan perlawanan sebelum mati konyol.

  24. Dumpang Lumban Gaol berkata:

    Pertama kali kita ucapkan terima kasih kepada ibu Limantina Sihalolho atas artikel tanggapan atas artikel operetnya bpk TB. Silalahi tentang alm. IL. Nommensen. Alasan saya karena artikel ini telah menggugah banyak orang untuk membaca, merespon riwayat alm. IL. Nommensen sebagai sorang penginjil yang diberkati menyebarkan kabar baik di Tanah Batak khususnya yang menganut agama Kristen sekarang.
    Namun ada beberapa catatan saya perihal artikel ibu Limantina yang mungkin boleh direnungkan sbb:
    1. Artikel yang menuturkan bahwa IL Nommensen adalah keluarga miskin, dan rumahnya sering banjir, kampungnya terendam, mudah2an diungkap sebagai fakta saja, dan bukan untuk memasukkan jarum pelecehan keluarga. Miskin bukan sesuatu yang memalukan kalau kita bekerja cukup rajin.
    2. Pengandaian kalau IL Nommensen tidak datang ke Tanah Batak maka tidak banyak yang dapat dilakukannya saya kira tidak ada dasar kuat. Banyak orang ternama dan besar dunia berasal dari keluarga miskin? Bahkan Tuhan Yesus lahir dikandang ternak. Nabi Muhammad juga bukan orang kaya, tapi karyana besar bukan.
    3. Perihal pak TB Silalahi saya kira patut diberi ucapan salut, berbuat banyak. Menjadi seorang Jenderal itu bukan gampangan, perjuangan yang cukup panjang dengan suka sukanya. Dikalangan agama, beliau berbuat dalam pesta-pesta Natal brtaraf nasional, bagi kampungnya dia mendirikan sekolah Unggulan Soposurung, untuk investasi beliau mendirikan hotel, dalam bidang budaya menampilkan operet ini. Adalah hak beliau mengapresiasi dengan sudut pandangnya dan tentunya hak ibu Limantina mengomnetari bukan.
    4. Ucapan pak TB senadainya tidak hadir Nommensen mmungkin kita masih pakai cawat, janganlah diartikan harfiah, barangkali dapat diartikan tidak sebagimana kita sekarang. Hal ini dapat kita fahami dari keluhan berbagai fihak akan kurangnya referensi, padahal IL.Nommensen bekerja 57 tahun di tnah Batak. Barangkali cendekiawan kita belum banyak saat itu tidak seperti nsekarang sudah banyak yang ahli dalam bidangnya. Hal ini tidak terlepas dari gagasan dan karya IL.Nommensen membangun sekolah di Narumonda, Sipoholon dan gereja di berbagai tempat sampai mencapai desa desa kecil. Demikian jua rumah-sakit. Kalau Nommensen datang pada tahun 1862 dan meninggalpada tahun 1918. Banyak yang telah dilakukan utama pembinaan rohani dan juga sumberdaya manusia. Antara tahun 1862 sampai 1945, banyak kemajuan persiapan SDM sebaghagian karena karya IL. Nommensen, sehingga pada saat proklamasi banyak orang Batak yang mengambil jabatan dari kolonilis Jepang dan Belanda. Ibu barangkali perlu mengajukan bukti konkrit, kalau IL Nommensen tidak datang, maka sekolah ada sekian, rumah sakit sekian, orang terpelajar sekian, agar pembahasan ini tidak menjurus pada debat kusir.
    5. Perihal motivasi IL.Nommensen datang ke Tanah Batak, menurut beberapa referensi yang saya baca adalah komitmennya kepada Tuhan kalau dia sembuh dari penyakitnya. Komitmennya dia pegang teguh dan seperti pernyataan ibu, dia tulus dan berdedikasi tinggi.
    6. Perihal ucapan jargon bahwa orang Batak zaman dahulu orang makan orang. Satu bukti referensi bahwa Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman mati dibunuh di Tpanuli. Untuk itu ibu barangkali perlu mengajukan bukti referensi bahwa jargon itu tidak benar agar dialog ini tidak menjadi debat tak terarah.
    .7.

  25. Dumpang Lumban Gaol berkata:

    7. Perihal kecurigaan bahwa alm IL.Nommensen bekerjasama dengan kolonial Belanda, mungkin sekedar untuk mengikuti aturan ya, tetapi ibu perlu menunjukkan bukti referensi bahwa terjadi kerjasama yang merugikan masyarakat Batak. Jangan lupa bahwa Douwes Dekker lebih senang dipanggil Multatuli karena simpati terhadap pribumi.
    8. Perihal anak alm IL. Nommensen yang menulis biografi ayahnya karena tidak ada referensi lainnya karena diuga subjektif. Ini bukti lain bahwa pada saat itu belum banyak masyarakat yang terpelajar dan terketuk hatinya menyusun biografi IL. Nommensen padahal karyanya cukup signifikan. Tetapi itupun sah-sah asja. bahwa ada subjektivitas itu mungkin ya, tetapi itu masih lebih baik dari pada tidak ada. Ingat penulis biografi orang besar sekarangpun tidak terlupur dari subjektivitas, tergantung dari sudut mana dia melihat.
    9. Perihal kematian anak alm. IL. Nommensen di Pinangsori mestinya kita bedakan dengan kebencian terhadap pekerjaan alm. IL.Nommensen.Lebih baik kita lihat hal itu dari tekanan dan kemarahan massa terhadap penguasa kebun yakni Belanda. Massa tidak sempat meneliti siapa yang terkena amukan. Andai mereka tahu bahwa orang tersebut adalah anak alm. IL. Nommensen, maka massa utama yang beragama Kristen barangkali akan mencegahnya.
    10. Perihal simpati ibu terhadap kelompok kepercayaan Parmalim itu baik saja. Ketika saya membaca skripsi putri saya tentang Kepercayaan Parmalim dapat saya duga bahwa masyarakat Batak tidak antipati terhadap mereka. Sampai saat ini mereka mempunyai tempat ibadah yang tidak diganggu. Masalah masyarakat Batak Utara mayoritas telah dijamah oleh Injil kebenaran yang dibawa oleh alm. IL. Nommensen itu hal yang berbeda. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus.
    11. Perihal penyebutan alm IL. Nommensen sebagai ” rasul orang Batak “, kita perlu mengacu pada Paulus yang kemudian dinobatkan sebagai rasul dan disahkan oleh murid Tuhan Yesus. Memang sebaiknya ada kesepakatan misalnya PGI dan HKBP serta gereja lokal lainnya.
    12. Kalau saya refleksikan kepada diri sendiri, sekalipun miskin, mungkin saya tidak punya nyali untuk melakukan seperti yang dilakukan alm. DR.IL. Nommensen keculai oleh jamahan Roh Kudus. Bagaimana dengan ibu Limantina?
    13.Sebagai kesimpulan artikel ibu Limantina, baik untuk menggugah hati, upaya bapak TB. Silalahi kita syukuri yang telah berbuat banyak,namun tidak sombong . Mungkin ada baiknya ibu Limantina menulis skrip dan membuat operet yang dapat dinikamati masyarakat. Juga diharapkan tanggapan dari Ephorus HKBP dan para mantan Ephorus serta cendekiawan dan budayawan Batak untuk pencerahan.
    Demikian dan terima kasih.

  26. Bonar Siahaan berkata:

    Sebagai orang awam saya salut dengan TB Silalahi yang mau berbuat di kampung halamannya. Namun untuk operette tentang DR IL Nomensen saya meragukan kebenaran dan kebaikan dalam operanya. Saya menilai bahwa dasar cerita murni dari buku yang ditulis para orang Eropa atau Batak yang mungkin hanya menelan bulat-bulat apa kata Eropa.
    Yang menjadi pertanyaan bagi saya,benarkah orang batak serupa dengan bar-bar yang makan orang seperti yang diungkapkan operanya TB Silalahi?
    Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap tulang TB Silalahi saya sangat meragukan kebenaran yang dikandung dalam operanya dan merasa kecewa sebab sekaliber beliau masih mau menonjolkan sisi yang sangat menyudutkan “Bangsonya” sendiri. Bukan berarti saya tidak mengakui bahwa DR IL Nomensen tidak berbuat kebaikan di Tanah Batak, tapi saya meragukan para penulis biografi Nomensen yang mungkin tidak lebih dulu meneliti apa dan bagaimana sebenarnya komunitas batak sebelum Nomensen datang.
    Tentang Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman yang di bunuh atau terbunuh? di Tapanuli,menurut saya hal itu belum dapat kita buat menjadi referensisebab, kita tidak tau percis apa penyebab sebenarnya sampai kedua missionari tersebut dibunuh atau terbunuh. Kalau soal bunuh membunuh saya berani katakan orang batak sangat tidak suka membunuh,karena apa? Jauh sebelum orang kulit putih datang ke tanah batak “Bangso Batak” telah mempunyai tatanan hukum di masyarakat.

    Untuk bahan renungan:

    a. Untuk apa komunitas batak menciptakan aksara batak kalau belum punya tatanan hidup yang tinggi?

    b. Untuk apa “partuturon” kalau tidak punya rasa kasih atau saling mengasihi sesama mereka?

    c. Untuk apa “patik dan uhum” kalau masih seperti orang bar-bar?
    Apakah orang kulit putih yang mengajarkan ini kepada orang Batak?
    Saya berpendapat; seluruh buku sangat perlu kita baca,tapi mari kita gunakan untuk mencerdaskan dan membuat wawasan kita makin luas,dan jangan kita telan bulat-bulat apa yang terkandung di dalamnya,sebab bila kita terlampau percaya tanpa kita memikirkan logika kita akan korban seperti anak-anak yang nonton smack down yang saat ini telah dilarang pemerintah untuk disiarkan setelah banyak yang jatuh korban.

    Banyak orang yang ingin dan mau berbuat,tapi tak semua orang yang punya kesempatan jadi Jenderal atau orang kaya. Tapi dalam fikirannya ada sesuatu yang dapat mencerdaskan,menurutku orang seperti ini penting diberi dorongan agar kebenaran yang sejati dapat terungkap. Ini juga yang membuat saya tak pernah menyatakan atau mengambil referensi dari buku atau tulisan oranglain,sebab saya khawatir,bila buku yang ditulisnya tidak mengandung kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan,saya telah membenarkan dan menguatkan sesuatu kebohongan. Maka saya lebih berani mencari data-data yang dapat dipertanggung jawabkan sampai ahir jaman sekali pun,dan itu pula sebabnya saya masih belum membuat satu buku tentang apa dan bagaimana sebenarnya “Bangso Batak” sebelum Missionari dan orang kulit putih masuk ke “Tano Batak”.

    Horas dibagasan adat dohot uhum.

  27. Salam Habonaron do Bona.
    menanggapi reaksi Limantina Sihaloho anak Urung Panei Tigarunggu, saya berpandangan :
    1. Sebagai orang yang sering berhubungan dengan arsip kolonial dan lokal termasuk wawancara saya dengan orang-orangtua di Simalungun pun, zaman sebelum Kristen datang, orang Batak adalah pemakan orang (kanibal). Dalam karya J. Wismar Saragih yang khusus menulis tttg Rondahaim atas perintah Tichelman (P. Raya, 1931), ditulis bhw memakan daging manusia (musuh) itu dilakukan dalam rangka ritual dan memuaskan kejengkelannya jadi bukan pemuas rasa lapar.
    2. Kita akui zending Jerman itu bermental kolonialis dan itu terlihat dari cara mereka menginjili nenek moyang kita yang memakai cara Jerman bukan cara Batak (tetapi tidak juga selalu begitu, krn Nommensen belajar habatahon, menulis Injil dlm aksara Batak Toba), sayangnya Nommensen tidak memakai marga Batak, kenapa ya?
    3. Apa yang dikatakan T. B. Silalahi itu tidak 100 persen salah. Untuk konteks zaman itu, memang demikian halnya, buktinya sampai hari ini masih ada sisa permusuhan orang Batak itu diwariskan ke kita. Tanya aja marga Simanjuntak par horbo pudi dan horbo jolo, dll. Jadi mari kita menilai secara fair. OK.

  28. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Horas,
    @ Juandaha Raya Purba
    Permusuhan apakah gerangan sampai hari ini yg masih diwariskan terhadap orang Batak?
    Kebetulan saya marga Simanjuntak, saya tidak pernah merasa bermusuhan dengan marga Simanjuntak.
    Maaf ya Lae kalau saya salah, apakah Pdt didepan nama Lae adalah singkatan dari Pendeta?, kalau ia, alangkah piciknya mengaku seorang hamba Tuhan, tetapi membicarakan permusuhan di Web ini, tidak ada angin tidak ada hujan, Lae membawa-bawa marga Simanjuntak sebagai contoh yang bermusuhan.
    Yang saya tahu apabila seorang Pendeta akan berkhotbah di Gereja, sebelum membuka alkitab, selalu menyampaikan salam Damai bukan permusuhan.
    Saya akan selalu berdoa, semoga Lae diberikan Tuhan umur panjang, agar kedepan didalam menyampaikan sesuatu terlebih dulu memikirkan baik buruknya.
    Salam dari kami dari parserahan.

  29. Tuahman Saragih berkata:

    Horas..

    Di buku “Tole! Den Timorlanden Das Evangelium” dijelaskan zending berlindung dibawah kolonial Belanda, dan itu diakui oleh zending daripada berita Injil tidak disebarkan karena pengaruh islam sudah mulai disebarkan di tanah Simalungun.
    Dan Belanda memfasilitasinya karena Belanda kuatir dengan kekuatan “jihad” yang akan mempengaruhi daerah kekuasannya.

    Mungkin inilah yang membuat kita kurang bersahabat dengan saudara kita yang Islam karena faktor penjajah yang selalu berusaha memecah-belah kita.

    Cukup sekian, terimakasih…salam kenal

    Thuva Saragih

  30. Sahala S'jtk berkata:

    Salam buat Limantina Sihaloho.
    Saya bukan pengagum Nomensen,tapi respect tdp apa yang dilakukan.Nomensen sama spt kita hanyalah manusia biasa yang mempunyai kemampuan menjabarkan arti:Keyakinan,Pengharapan,dan Cinta Kasih.Nomensen identik dgn HKBP.HKBP mengakar dari Batak Toba.Batak Toba tidak terlepas dari peristiwa heroik para Pejuang Batak melawan invasi pasukan Imam Bonjol ke Toba/Singamangaraja X.Tanpa perlawanan tsb Batak Toba tidaklah seperti sekarang ini.Kenapa peranan mempertahankan “Hadirion”na para pendahulu kita itu dilupakan?Terlalu mengagungkan Nomensen sy khawatir Batak Kristen lupa akan Yesus/Kemarin,Kini,Esok,DIA yg Abadi.Mari bersama kita merenungkannya.HORAS.

  31. Saya sangat kecewa dengan tulisan ini, terlalu gampang memberi opini dan juga sangat memprovokasi.

    Benarkah anda Limantina Sihaloho yang seorang dosen di Sekolah Tinggi Teologia Abdi Sabda Medan ?

  32. Bonar Siahaan berkata:

    Saya mempunyai buku tentang perjalanan Nomensen di tanah batak yang dicetak thn 1944. Dalam buku tersebut tak pernah diungkapkan bahwa Batak memakan manusia (hanibal),malah Nomensen sangat mengagumi ke teraturan masyarakat Batak.
    Anda tak percaya ? Dalam waktu dekat saya akan mengkopy buku tersebut dan akan saya muat di blog ini.

    Salam untuk semua.

  33. samosir berkata:

    Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
    1 Korint 13 :2

    maaf saya tidak dapat memberi komentar lebih lanjut.
    terimakasih
    tuhan Memberkati
    🙂

  34. Marangin Silalahi berkata:

    Terlepas dari paham pro dan kontra, Nomensen telah memberikan berbagai fakta sejarah.Dalam segala hal selalu ada faktor positip dan negatipnya . Faktor positip mencitrakan baik dan bermanfa”at.Faktor negatip harus disadari bahwa tidak ada gading yang tidak retak. Kita sebaiknya objektip bahwa faktanya Nomensen berperanan besar di Tanah Batak untuk Warga Batak yang tahu dan mengikuti sejarah hidup Nomensen di Tanah Batak .O Tano Batak lagu yg baik bagi kita, demi untuk kemajuan bersama.Horas, Horas,Horas.

  35. Marangin Silalahi berkata:

    Mungkin kita perlu mendukung pendirian ” Perpustakaan Nomensen ” ( kalau belum ada.) oleh Penda berisi hal-hal tentang nomensen di dalam dan di luar negeri.Ide baik, Lae Bonar Siahaan untuk mengkopi buku tentang perjalanan Nomensen dan dimuat diblog ini. Terima kasih. Kalau mau kirim kealamat saya juga baik sbb: Michael Silalahi, 10 B Percy St, Melbourne 3015, Australia.

  36. Peterson Pangaribuan berkata:

    Secara pribadi, saya sangat bersyukur dan yakin bahwa DR. IL Nomensen adalah rasul yang dikirim oleh Tuhan Yesus, sesuai dengan kepercayaan yang saya imani. saya mendasari pendapat saya pada salah satu ayat di Alkitab yang mengatakan kurang lebih, suatu pohon bisa dikenali dari buahnya, seseorang bisa dinilai dari buah karyanya, pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik bukan buah yang tidak baik, pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik bukan buah yang baik.
    Saya melihat, merasakan dan mengakui buah-buah baik yang saya alamai hingga saat ini berkat hasil karya Ompui IL Nomensen. apakah saya masih harus berandai-andai, seandainya yang datang ke tanah batak harusnya lebih hebat dari IL Nomensen? Kenapa? Untuk apa lagi? Jika saya mau hasil yang lebih maksimal dan lebih memuaskan dari apa yang saya alami kenapa saya harus menggugat seseorang yang melalui buah-buah pekerjaannya bahkan telah membuka mata dan hati saya melalui proses panjang dari zaman Nomensen hingga sekarang secara turun-temurun dan berkelanjutan, bukankah lebih bijak jika saya meneruskan apa yang telah dilakukan oleh mereka semua sekaligus melakukannya dengan segala fasilitas dan ketrampilan yang kita miliki saat ini? jika hal itu saya tidak bisa lakukan atau saya tidak punya dasar dan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal untuk membantah hasil karya atau fakta yang telah diterima dan diyakini banyak orang, saya yakin saya telah melakukan pekerjaan sia-sia yang malah akan membuat saya merasa bersalah dan merasa bodoh. Oleh karena itu berbicara dan menggugat karya dan sosok IL Nomensen secara asal-asalan adalah sesuatu yang akan dinilai orang absurd.

  37. B.Parningotan berkata:

    tinapul hau sada, sinandehon tu sitorop,uli pe hata pintor , ulian do hata torop…., habang sirubaruba, tu bonani saesae, uli pe hata pintor, ulian hata sae.

    tangkas pe jabu suhat, tangkasan ma jabu bona, tangkas pe namaduma, tangkasan ma namamora.

    catatan mengenai sejarah akan hilang bersamaan dengan berjalannya waktu, tetapi tulisan atau pendapat mengenai jalanny sejarah dapat diubah2 sesuai dengan kebutuhan jaman tersebut, sebagai conton semasa hidup presiden Sukarno dan semasa hidup presiden Suharto banya hal2 positif dan negatif yang tercatat dalam buku harian banyak orang, tetapi sesuai dengan berjalannya waktu, setelah masa beliau berlalu, catatan 2 tesebut hilang perlahan-lahan yang tinggal adalah pendapat2, yang mungkin pula dibuat oleh orang2 yang belum lahir saat kurun itu. ….ndang dope hulingga, ba nungga hulanggo, ndang dope huida ba nungga huboto,……(ramba ni naposo na so tubuan lata, angka na poso na so umboto hata),
    Demikian pula halnya dengan memang Sosok IL Nomensen. Pada satu kurun sejarah batak ia sangat berpengaruh dalam penkristenisasi di Tanah batak. Ini harus diakui. Bangsa Batak adalah satu bangsa yang sangat kuat dalam memegang adatnya . seperti dikatakan dalam pribahasa berikut Habang sitapi-tapi, songgop siruba-ruba, patik na so jadi mose, uhum na so jadi muba. Demikian pula adat Batak dikatakan sebagai berikut: jongjong adati tung so boi tabaon, tung peak pe tung sojadi langkaon. Mengenai pelanggar adat, dikatakan manuan bulu dilapang-lapang ni babi, mambahen na so uhum, mangulahon na so jadi….., ginjang abor ndang jadi surokon, jempes suga ndang jadi langkaon.

    Il Nomensen mendapat gelar Ompu, yang diberikan oleh para pemuka adat batak, tentunya ini harus diakui bahwa bangsa batak telah menerimanya dengan baik, tentunya banyak pro dan kontra pada saat usaha pemberian titel tersebut seperti pepatah yang mengatakan : dipasintak, dipatebur, songon parabit ni na so malo, jala na tujolo tu pudi songon pangambe ni paronan.

    Mengenai ajaran Il Nomensen dahulu jelas terdapat perbedaan prinsip dengan ajaran kekristenan sekarang, atau bisa dikatakan bahwa ajarannya telah bergeser.
    seperti diketahui alkitab saat terjemahan Nomensen berbeda dengan alkitab2 terjemahan masa kini, dimana pada alkitab dan buku ende terjemahan jaman IL Nomensen nama Allah diutamakan, sedang alkitab masa kini nama Allah dihilangkan. Demikian pula jaman IL Nomensen kegiatan zending diutamakan, sedang masa kini lebih utama pada persembahan, perpuluhan dsb.

    Seperti doa Bapa Kami: Bapak kami yang di kerajaan Surga, Dipermuliakanlah namamu, datanglah kerajaanmu, jadilah kehendakmu di Bumi seperti disurga, beri kami makanan kami yang secukupnya, ampuni kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan jangan bawa kami dalam pencobaan melainkan jauhkanlah kami dari yang jahat, karena engkaulah yang mempunyai kerajaan, kekuasaan dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

    tetapi kekristaenan saat ini, pada umumnya nama Allah pun mereka tidak tahu, mencari harta sebanyaknya, kemuliaan diri sendiri, minta pengampunan dosa tetapi tidak pernah mengampuni orang yang bersalah, menganggap kekristenan tidak lebih dari soal rejeki, persepuluhan, makin besar persepuluhan makin besar berkat, hilang kemuliaan allah, lupa akan kata2…..datanglah kerajaanmu . Seperti halnya kristus sendiri, dia tidak pernah memuliakan namanya melainkan nama Allah bapa di Surga. Gereja tidak mempunyai missi dan semua uang persembahan hanya untuk kesejahteraan pendeta.

    Yang perlu diingat dalam perkembangan sejarah batak dahulu sekitar Th 1912, Belanda pernah berusaha menghapuskan perbudakan ditanah Batak, dan secara tidak langsung juga berupaya menghapuskan adat Batak. Dulu di batak ada yang disebut keturunan Hatoban dengan rumahnya yang bertangga genap.
    dan ada juga rumah yang bertangga ganjil. Belanda menghukum setiap orang yang berusaha mengembalikan adat Batak yang ada, dengan cara mengangkat Demang-demang di tanah Batak. Juga sekitar saat itu Belanda memasukkan sekitar 5000 orang Keling dari India ke Barus dan berbaur dengan masyarakat Batak.adat Batak baru mulai kembali sekitar th 1940 (baca buku Pustaha Tumbaga Holing na pinatomu ni Guru Patik Tampubolon).

    Memang kurun itu sangan dekat dengan kurun waktu dimana IL Nomensen melakukan penyebaran zending ditanah batak. dalam saat itu dia juga tentunya menggunakan banyak fasilitas yang bisah didapat akibat masuknya belanda di Tanah Batak.

    Seperti halnya komentar2 sejarah dapat diubah sesuai dengan kebutuhan msyarakat saat itu maka kita harus hatihati dalam menganalisa jalan sejarah.

    ijuk di para-para, hotang diparlabian, na bisuk na puna hata, na oto tu panggadisan…., Topot mulani hata, sudung mulani uhum, molo dung sae, sae soada mara.

  38. B.Parningotan berkata:

    Ada pepatah batak yang mengatakan:
    Parbue ni bosta na so marloak bota, hata niingot na so lupa di tona.
    lapatanna padan dohot uari ima hata naung diadathon, naung diundukhon dohot diolohon , naung dirajahon adat patik dohot uhum, naung tinahi dohot ria dibagasan dos roha.
    Demikian pula IL Nomensen telah diterima oleh bangso Batak dan dberi gelar kehormatan yang tertinggi oleh bangso batak, yaitu ……” OMPU”

  39. Bonar Siahaan berkata:

    Menurut pendapatku yang memberi gelar “OMPU” bagi IL Nomensen adalah warga Kristen Batak bukan Bangso Batak, sebab kita tidak dapat menyatakan bahwa Bangso Batak adalah Kristen. Apakah Batak Islam dan Batak Parmalim tidak Bangso Batak? Dan apakah kemajuan yang didapat oleh saudara kita yang di Tapanuli Selatan sana juga karena IL Nomensen?

    Tentang gelar OMPU bukan hanya IL Nomensen, tapi seluruh EPHORUS HKBP digelari “OMPU”. Apakah EPHORUS HKBP sama dengan IL Nomensen?

    Kita akui memang IL Nomensen telah banyak berbuat bagi orang batak (khususnya toba) dengan hati yang sangat ikhlas, itu harus kita hargai dan sedapat mungkin kita teladani dan meneruskan keteladanannya selama hidup. Namun bila kita amati pada saat sekarang, para Kristen masakini (Kristen batak) hanya mengagungkan IL Nomensen secara seremonial.
    Maka, bila kita mengagumi IL Nomensen berusahalah seperti Dia yang dengan tulus memberi yang terbaik bagi sesama manusia,bumi dan segala isinya. Dan jangan merendahkan Bangso kita untuk mengagungkan orang lain.

    Salam dalam Kasih bagi kita semua.

  40. B.Parningotan berkata:

    Bangsa Batak telah memiliki banyak variasi kepercayaan sebelum kedatangan agama2 dari arab dan yahudi, sebagai contoh agama2 yang pernah ada : parugamo sitekka, parugamo somailing, parugamo sidamdam dan paralemo
    seperti kalimat yang dikatakan sebagai berikut: Marsiar, marsiupsiupan , marhajingjingan. Holan ibana do mamboto sihata siarna.
    Pulung2an ni obatna sian duhut2, bulungbulung, ampapaga, saripitpit, sipellet, situdu langit, rugirugi dohot bonangbonang.
    marsalundangsalundang , marsambolasambola partandaan ni zaman, adong botobotooanna.

    Orang Batak juga telah mengenal Poda dan Patik, contohnya:
    POda na unang; ima tu dakdanak manang tu na hurang roha. Poda na tongka: tu na magodang jala na hurang marroha.
    Poda nasojadi: molo tu natuatua dohot raja.

    Bangso Batak juga mengenal Patik.
    Sebagai contoh Unang ho mamunu alai boi do….
    Unang ho mangalangkup alai boi do…..
    Unang ho manangko, alai boido…..

    Semua patik batak selalu diakhiri dengan alai boido….,
    disini tidak diterangkan mendalam tetapi sebagai contoh dalam membunuh, bila musuh datang ke daerah kita maka kita harus membela diri , mungkin pula membunuh. dalam manangko , yang disebut alai boido adalah “takkoraja”. (ref. Pustaha Tumbaga Holing)

    Kalau saya perbandingkan menguapnya kebudayaan Batak oleh kedatangan agama dan kebudayaan asing serupa dengan lenyapnya kebudayaan dan agama di AZTEC, INCA di amerika latin oleh datangnya Portugis.
    Oleh karena itu kita harus menghargai kebudayaan kita sendiri.

  41. Petrus Aritonang berkata:

    Kepercayaan — dalam hal ini agama — pada hakekatnya tidak pernah lepas dari kebudayaan. Bisa kita saksikan pada agama – agama besar saat ini. Para pengikutnya tidak segan – segan mengikuti kebiasaan – kebiasaan yang dibawa dari tempat asal agama tersebut. Yang paling sederhana adalah pemberian nama pada seseorang. Ada yang bernama Achmad, ada yang bernama Paulus, dan ada pula yang bernama Khrisna. Ada yang bernama Nurlela, ada yang bernama Kezia, dan ada pula yang bernama Laksmi. Dan banyak lagi lainnya. Bila kita perhatikan, akan kita peroleh kenyataan bahwa keyakinan / kepercayaan kepada YANG MAHATINGGI secara sadar ataupun tidak sadar telah membawa kebiasaan – kebiasaan (dengan kata lain : budaya) yang dibangun oleh manusia sendiri. Tidak perlu heran bila kita menemukan seseorang yang dengan bangga memakai sorban atau yang lainnya memakai jas, padahal itu bukan dari budayanya. Manusia telah terjerembab dalam simbol – simbol, bukan lagi pada hal yang paling mendasar dari kepercayaan tersebut, yaitu iman yang dibangun atas dasar kasih dengan mencintai TUHAN ALLAH – mu dengan segenap hatimu dan mencintai sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
    Tidak perlu heran bila persaingan antar agama / kepercayaan akan selalu terjadi sepanjang sejarah kemanusiaan. Siapa yang paling kuat, dialah yang menang; apakah itu agama Batak, agama Zoroaster, agama Yahudi, agama Islam, agama Kristen, atau kepercayaan lainnya.

    (PS : Ibu Limantina Sihaloho, apa boleh meminta email Anda? Thx before…)

  42. B.Parningotan berkata:

    Ajaran IL Nomensen yang tidak ada dasar alikitabiah

    Penyelenggaraan perayaan Hari Natal atau kelahiran Isa Almasih.
    Ajaran ini tidak ada dasar alkitabiahnya. karena pada kitab injil Kristus tidak pernah marayakan hari Ulang tahun. dan Ulang tahunnya sendiri kabarnya tidak sesuai dengan Hari Natal.
    Perayaan Natal sekarang secara praktis dimulai dari awal Desember hingga hari natal. masing2 perkumpulan, gereja/indifidu merayakan Natal berulang2, cenderung pesta pora. Agama hanya dipegang sebagai simbol untuk menyemarakkan pesta2 tersebut.. Perayaan natal ini lebih berakar dpada kebudayaan Eropa dari pada ajaran agama.

  43. audoi berkata:

    Siapa yang tak kenal nomensen apalagi orang batak….
    dia memang seorang tokoh yang banyak di saluti oleh orang2 kristen yang medalami agama dan berpengaruh pada kristen di tanah batak..
    Namun untuk meyetujui yang di katakannya bahwa orang batak sebelum dia datang adalah anemisme, pemakan manusia, dan sipelebegu sungguh mustahil bagi saya…
    sejak dulu masyarakat batak sudah mengenal yang dinamakan dengan (OPPUNG DEBATA MULAJADI NABOLON) /TUHAN …..
    apakah menurut anda kata yang DEBATA itu adalah hasil ciptaan Nomensen yang menjadi bahasa batak ?
    tentu saja itu adalah bahasa batak yang di adaptasi olehnya untuk sebutan TUHAN dalam penyampaian misi nya…
    makanya kita jangan terlalu EGOIS mengatakan batak dulu tidak mengenal TUHAN…
    dapat juga dilihat dari berbagai falsafah, umpama dan umpasa batak yang menunjukkan bahwa batak itu sungguh bermartabat, dan bertuhan….
    dan bagi saya khususnya lebih baik BERTUHAN daripada BERAGMA…
    sebelum kristen datang ke tanah batak masyarakat na sudah mengenal HUKUM, DEBATA, PEMERINTAHAN, yang untuk menjadi sebuah negara pun sudah bisa…..
    Dan bila masih ada orang yang percaya stigma bahwa masyarakat batak dulu adalah pemakan manusia dan si pele begu ? maka gelar bodoh, idiot, dan bloon yang melekat pada saya akan kucabut karena ternyata ada yang lebih dari saya, yang mulutnya sudah sanggup, percaya dan bahkan memberitakan hal bodoh seperti itu hanya dengan modal mendengarkan kabar burung…, itupun dari burung sakit..
    tanpa pernah mempelajarinya secara langsung.
    Kalau masih berpikiran seperti itu berarti anda adalah keturunan pemakan manusia dan sipelebegu…
    Ya betul,,,, berarti oppung anda dulu seperti itu karena manusia sekarang tidak lepas dari manusia dulu dan bersiap-siap lah menerima azab atas perbuatan oppung anda dulu, klo oppung saya sih tak seperti itu……..
    janganlah kita terus termakan dengan dogma2 agama…..
    semua agama di muka bumi ini adalah benar maka jangan kita sesatkan agama kita dengan cara berpikir kita yang selalu tiarap…….

  44. Bonar Siahaan berkata:

    @ audoi
    Saya sangat sependapat dengan anda……namun aku telah memeluk Agama Kristen Protestan,tapi bagaimanapun saya tetap yakin bahwa nenek-moyang saya adalah orang beradab,beragama dan punya budaya yang tinggi.

    Horas

  45. audoi berkata:

    Horas ito limantina……..
    Mudah2 makin banyak orang2 seperti anda yang berpikiran kritis yang idak memandang suatu hal hanya dari satu sisi saja…….

  46. Priyanto Halomoan Sihaloho berkata:

    Horas ito ku………..
    Mudah2an sehat selalu n diberkati Tuhan dlm melaksanakan aktivitasnya.lanjutkan perjuangan ito yang selama ini ito cita2kan.oh ya to boleh aku tahu profil ito,klu boleh tlong kirim ke email aku.mauliate…………….

  47. Duga Girsang berkata:

    Blog ini saya baca justru setelah anak pertama saya baptiskan dengan nama INGWER GIRSANG – mengambil nama dari ompui Ingwer Ludwig Nommensen. Ludwig / Lodwijk telah banyak dipakai nama oleh orang Batak, sedangkan Ingwer belum pernah saya temukan.
    Dengan penulis ternyata saya satu asal Tigarunggu – Kecamatan Purba Simalungun. Menurut anda kalau tetap tinggal di Jerman apalagi di kampungnya di Noorstrand, kemungkinan tidak terlalu banyak hal yang dapat dilakukan Nommensen dibanding jika ia berada dan bekerja di Tanah Batak. Demikian juga anda sendiri, kalau anda tetap di Urung Panei, sudah pasti tidak terlalu banyak yang anda dapat lakukan. Semua orang adalah anak pada zamannya, dan Nommensen sudah menghidupinya dengan makna. Menurut saya Nommensen tidak datang memperkenalkan NAIBATA – DEBATA – DEWATA – TUHAN – ALLAH – MULA JADI NA BOLON ke Tanah Batak, tetapi memperkenalkan INJIL YESUS KRISTUS Anak Naibata – Debata – Dewata – Allah – Anak Tuhan – Anak Mula Jadi Na Bolon yang adalah Tuhan dan Juruselamat yang mengasihi umat manusia. NAIBATA – DEBATA – DEWATA – TUHAN – ALLAH – MULA JADI NA BOLON memakai Nommensen untuk menyampaikan Khabar Baik itu kepada orang Batak. Itulah sebabnya makanya beliau mendirikan sekolah-sekolah dan layanan kesehatan. Dengan sekolah-sekolah itu yang biasanya dekat dengan gereja, saat ini orang Batak termasuk yang paling tinggi literate ratenya di Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan ratio sarjana per penduduk, orang Batak termasuk paling tinggi di Indonesia.
    Sebenarnya Bangso Batak telah dikelilingi oleh Muslim yang kuat mulai dari Aceh, Minangkabau, Melayu, dan interaksi dari mereka tidak pernah membuahkan hasil yang berarti atas Dakwah Muslim ke Tanah Batak. Bahkan Islam di Indonesia pertama tiba di Aceh Serambi Mekah yang hanya selemparan batu dari Tanah Batak. Ratusan tahun Bangso Batak tidak mau menerima ajaran mengenai TUHAN – ALLAH – MULA JADI NA BOLON dari Islam. Kalau kemudian Nommensen berhasil memperkenalkan YESUS KRISTUS, itu hanya iman yang dapat memahaminya. Kalau dibilang itu hasil dari kolonial Belanda, memangnya Tanah Batak saja yang menjadi koloni Belanda sehingga ianya mampu ‘dikristenkan’ ?
    Kesimpulannya saya tetap sangat bangga dan kagum pada Nommensen dan pemberian nama INGWER pada anak saya adalah keputusan yang paling tepat yang pernah saya buat.

  48. Duga Girsang berkata:

    @B. Parningotan,
    Apa maksud anda alkitab dan buku ende terjemahan jaman IL Nomensen nama Allah diutamakan, sedang alkitab masa kini nama Allah dihilangkan…. dan tetapi kekristaenan saat ini, pada umumnya nama Allah pun mereka tidak tahu ? Nama Allah yang mana maksud anda ?
    Allah adalah Bahasa Arab yang setahu saya tidak pernah dipakai dalam terjemahan Alkitab Bahasa Batak. Alkitab Bahasa Indonesia memang menggunakan kata Allah untuk menerjemahkan Elohim dan Theos, sedangkan Bahasa Batak menggunakan Debata (Toba), Naibata (Simalungun) dan Dibata (Karo). Jadi sekali lagi Bahasa Batak tidak mengenal kata “Allah” baik yang dilafalkan secara Indonesia “al-lah” maupun secara Arab “al-loh”.
    Sekalipun Alkitab Bahasa Indonesia menggunakan kata Allah dari Bahasa Arab, tapi pemahamannya bertolak belakang dengan yang dipahami dalam Islam (Al Qur’an).
    Kalau dalam sahadat Islam ; Tiada Ilah Selain Allah / yang lebih sering diterjemahkan Tiada Tuhan selain Allah, maka Alkitab adalah : Tiada Allah Selain Tuhan !
    Juga dalam Islam dipahami, Allah, Tuhan kami, sedangkan dalam Alkitab yang dipahami adalah Tuhan, Allah kami !

  49. HUMALA SIMANJUNTAK berkata:

    Untuk ,mengerti Batak ada benerapa sjarat : mempelajarin sejarah ,mengetahui silsilah /tarombo ,mengerti peranan Danau Toba ,dalam kehidupan Orang Batak Sejarah kita bagi dua dekade sebelum Kristen ,dan sesudah Kristen ,atau kita pembatasan zaman jaitu: zaman Raja Sisingamangaraja dan Nommensen atau zaman Kristen .Baik pada zaman Sisingamangaraja maupun zaman Kristen peranan danau Toba itulah yang mempengaruhi atau menentukan kehidupsn orang Batak dalam arti luas tidak benar kalau orang Batak pakai cawat kalau Ompui Nommensen tdk datang ketanah Batak Tidak ada Manusia “Primitif” yang bermukim dipinggir danau atau dipinggir laut ,cenderung mereka lebih pintar dan bersih ,mereka mampu membuat sampan ,perahu mampu menangkap ikan dan pengetahuan lain yg berhubungan dgn pantai bandingkan orang Minang yg tinggal di danau Maninjau atau danau Singkarak dan danau Tondano di Minahasa Orang Batak ada raja Sisingamangaraja yg I sampai X|| yg tinggal di Bakkara di pinggir danau Toba yg dapat mrnjangkau seluruh daerah dipinggir danau tentu tdk dapat menjangkau jauh ke pedalaman karena faktor alam ..Pembunuhan atau kannibalisme memang ada terjadi didarah pedalaman yaitu didaerah yang tdk terjangkau pengaruh Sisingamangaraja kalau didaerah pinggir danau Toba tidak ada pembunuhan semua daerah pinggir danau pengaruh Nya kuat pada mulanya basis Raja Singamangaraja ada didaerah Toba ingat perang Lbn Gorat, perang Tanggabatu baru belekangan karena terdesak pasukan Belanda , maka pindah kedaerah Dairi..Didanalah pada akhirnya beliau gugur .Kita semua mengakui bahwa Ompui Nommensen membawa kemajuan bagi Bangso Batak terutama pendidikan pada mulanya didaerah Silindung Sebenarnya secara jujur harus diakui Nommensen.atau Kekristenan mulai berkembang hebat setelah Raja Singamangaraja gugur karena tdk ada lagi penghalang yang berarti Memang menurut keterangan dari pendahulu kita Singamangaraja pernah berjumpa dgn Nommensen dan berdialog .Pada waktu itulah dapat dikatakan pertemuan ADAT dan INJIL Sebelumnya sudah terjadi Perang Bonjol./Perang Paderi dimana Imam Bonjol merangi .bangso Batak untuk Memgislamkan ,tetapi gagal karena wabah penyakit .”kolera”.Sejak itulah timbul kesadaran orang Batak Dibawah pimpinan Raja Sisingamangaraja ber Bangso untuk melawan segala bentuk penjajahan yang menurut nya penjajahan Kolonialisme dan penjajahan Agama. Perlu dikahui pada zaman Sisingamangaraja orang Batak dibawah pengaruh Agama Hindu yang berkembang menjadi Parmalim . {bandingkan dgn suku Komering di Lampung suku Dayak di Kalteng .suku Toraja di Sulsel } Jadi kesimpulan utk mengetahui budaya Batak kita harus mengetahui :1.Sejarah 2 Silsilah .3.Keadaan geografiis Tanah Batak /Danau Toba .[baca buku Dalihan Natolu Nilai2 Yang Hidup .karangan Humala Simanjuntak .} Pantun Hangolan Tois Hamagoan. HORAS.

  50. ND Hutabarat berkata:

    NDH:
    1. Syukur temukan Info Limantara
    2. Saya dapat segera kejelasan untuk kerjasama
    3. TB Sillahi perlukan Tim Pakar (jangan terburuburu)
    3.1.Persiapan seb Opera ILN 50 Th EACC di Teladan Medan
    3.2.Agar TBB Tepat Baik Benar
    3.3.IT SS-nya Ilmiahteknologi Sakral Sekularnya
    4. Namun komentar saya setelah selesai, biarkan untuk segera timbul
    4.1.Reaksi bertanyak
    4.2.Dan Para Pakar

  51. Rajani Simatupng berkata:

    Orang batak makan orang pada zaman dulu(kannibal)??kecil kemungkinannya karena adanya hukum2 dan adat batak yg sudah mapan pada zaman itu.Tetapi apakah orang batak pernah melakukan pengorbanan manusia pada upacara-upacara karena alasan ritual atau karena HADATUAN pada zaman seblum masuknya islam atau kristen?kemungkinan itu ada,sebab didaerah Sipirok ada namanya Dolok Pamelean dan sudah diratakan setelah masuknya islam secara paksa oleh Perang Imam Bonjol. Di daerah Toba silindung ada di Dolok Siatas Barita.Sementara di Batak Simalungun juga ada di daerah Panei Tongah.Perbuatan ini erat kaitannya dengan HADATUON. Apakah daging manusia yg dikorbankan dimakan?susah membuktikannya.Tetapi dizaman sekarang juga ada yg makan daging manusia(Ingat Sumanto yg makan mayat manusia di Jawa Tengah beberapa tahun lalu)..Pada kurun waktu tahun 50,ketika terjadi Darul Islam di Jabar,konon ceritanya dikirimlah tentara pasukan TNI dr Sumut pasukan Malau.Didaerah itu banyak anjing ,maka setiap pagi dipotongilah anjingh itu dan ditampung darahnya lalu di asami , saat bertempur dibawa darah itu,Kemudian ketika ada yang terbunuh pembrontak, diangkat badannnya,sambil meminum darah anjing yg dibawa dihadapan masyarakat kampung.Hal ini menimbulkan ketakutan dimasyarakat.Kembali kepada peran Nommensen,bahwa adalah realita bahwa beliau yang membawa pembaharuan .Paling tidak ada 3(tiga)realita yang kita rasakan:Dalam iman KRISTIANI,PENDIDIKAN DAN KESEHATAN.Apakah beliau pernah ingin diagung-agungkan?menurutku tidak,sebab menurut pandanganku bahwa Nommensen pasti SANGAT menghayati kata2 Rasul Paulus:”Hidup dalam Kristus adalah keuntungan,mati dalam Kristus adalah keuntungan.”Pekerjaannya TOTAL.Jangan salah lho,banyak sekarang maunya hidup dalam keuntungan termasuk mereka yang mengatakan dirinya HAMBA TUHAN. Coba Pergi saja ke Papua sana khususnya di Pegunungan Tengah dihutan belantara,banyak saudara2 kita sebangsa yg tidak ada gembalanya(kebetulan aku pernah bertugas disana selama 32 tahun).Jadi kalau sekarang kita menghargai pekerjaan Nommensen dengan menyebutnya Rasul Batak Kristen, apa yang salah?walaupun maunya beliau,kita meneruskan pekerjaannya lebih baik.Mauliate,anggota Gereja Kristen Oikumene(belum pernah menjadi jemaat HKBP)

  52. ND HUTABARAT berkata:

    KOMENTAR KONVERGENSI IL NOMMENSEN RE L SIHALOHO:

    NDH :
    .
    1. Syukur temukan Info LimantINA
    2. Saya dapat segera kejelasan untuk kerjasama
    3. TB Sillahi perlukan Tim Pakar (jangan terburuburu)
    3.1.Persiapan seb Opera ILN 50 Th EACC di Teladan Medan
    3.2.Agar TBB Tepat Baik Benar
    3.3.IT SS-nya Ilmiahteknologi Sakral Sekularnya
    4. Namun komentar saya setelah selesai, biarkan untuk segera timbul
    4.1.Reaksi bertanyak
    4.2.Dan Para Pakar
    4.2.1.GP Generasipenerus menjkabarkan makin tuntas tbb tepat baik benar
    4.2.2.IL Nommensen telah mengkontribusi sebagian di apostulasi
    4.2.3.Dan Pastoralisasi dilakukan dg GB Gurubolon Batak Johannsen
    .
    5.NDH Turut Pencerah GP Generasipenerus.

    (TAMBAHAN)

  53. ND HUTABARAT berkata:

    KONVERGENSI PENUTUP NDH :

    1. Bersama Limantina Sihaloho
    1.1.Semua Komentator jadi Pencerah
    1.2.Beri Bahan Konvergensi TBB Tepat Baik Benar
    1.3.Artinya, yang ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral
    1.4.Sehingga Kontribusi IL Nommensen di Batak TBB
    1.4.1.Dalam Konsep Visi dan MIssi
    1.4.2.Dan ASM Akuratip Symbiose Mutualis
    1.4.3.Swemua kit jadi Tiom BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama
    1.4.4.Demokratis

    2.Finalisasi tuntas dilakukan GP Generasipenerus
    2.Tentu dan pamrih Amanah Tuhan ASupranaturalkultural.

    29.6.2010 HH

  54. A Siagian berkata:

    Statistik menunjukkan bahwa agama Kristen Protestan merupakan agama mayoritas di empat kabupaten yang disebut “Tano Batak”, masing-masing Tapanuli Utara (90%), Tobasa (85%), Humbahas (83%), dan Samosir (60%). Secara keseluruhan di empat kabupaten itu, agama yang paling banyak dianut adalah Kristen Protestan (82%), Katolik Roma (13%), Islam (4%), dan sisanya menganut agama asli/Parmalim, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, serta kepercayaan lain/tidak menjawab. Tentu saja, tidak semua penduduk di wilayah tersebut suku Batak, akan tetapi dapat diasumsikan bahwa hasil statistik tersebut mencerminkan sosioreligius suku Batak, mengingat daerah ini memang merupakan “kampung halaman” suku Batak, dan relatif homogen dalam hal etnisitas.

    Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa agama Kristen Protestan merupakan agama yang sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang Batak. Saya tidak punya data statistiknya, tapi dapat diasumsikan bahwa aliran/sinode utama kaum Batak penganut Kristen Protestan adalah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang notabene merupakan buah perjuangan IL Nommensen. Tidak semua orang Batak Kristen Protestan menjadi anggota HKBP, ada juga yang menjadi anggota gereja-gereja yang secara historis terpecah dari HKBP (GKPI, HKI, dsb), gereja-gereja Pentakosta, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Gereja Methodist Indonesia, dan berbagai gereja/aliran lainnya. Terlepas dari apa gerejanya, agama Kristen Protestan tentunya menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan sebagian besar orang Batak. Tidak heran, adat istiadat Batak sangat dipengaruhi agama tersebut. Misalnya, saat anak tardidi (pembaptisan), malua (peneguhan sidi), atau martumpol (pengikatan janji akan menikah di gereja) yang aslinya tidak dikenal dalam adat Batak sebelum Kristen, kini menjadi bagian dalam horja adat.

    Bagi saya, orang Batak penganut Kristen Protestan, IL Nommensen merupakan sosok yang saya kagumi dan hormati, karena melaui pelayanannyalah nenek moyang saya menerima Kristus. Namun saya sadar tidak semua orang Batak penganut Kristen Protestan, ada yang Katolik, Islam, Parmalim, dan lain-lain. Tentu tidak sepatutnya saya mengklaim bahwa IL Nommensen adalah tokoh yang membawa orang Batak kepada kemajuan, karena itu dapat menciderai perasaan saudara-saudara saya yang bukan Kristen Protestan. Bahkan tidak semua suku Batak penganut Kristen Protestan menjadi anggota HKBP (atau gereja-gereja yang memisahkan diri darinya), karena ada yang Pentakosta, Advent, Methodist, dan lain-lain, yang secara historis dan teologis tidak terkait dengan pelayanan IL Nommensen.

    Kalau ada orang Batak warga HKBP (atau GKPI, HKI, dsb) yang mengatakan bahwa IL Nommensen adalah “Apostel ni Halak Batak”, ya silakan saja. Sah-sah saja dalam konteks gereja masing-masing, tapi bukan untuk diakui secara publik, karena bagaimanapun ada orang Batak lain yang non Kristen Protestan, ataupun aliran Kristen Protestan yang berbeda dengan IL Nommensen.

    Perlu diakui, masuknya agama Kristen Protestan melaui zending berdampak kepada kemajuan suku Batak, karena melalui zending itulah sekolah/pendidikan modern diperkenalkan kepada suku Batak. Namun tidak adil kalau dikatakan sebelum Kristen, orang Batak adalah suku primitif, bodoh, atau biadab. Bagaimanapun setiap bangsa/suku punya kearifan masing-masing.

    Kepada orang Batak Kristen Protestan, saya berpesan, silakan mengagumi IL Nommensen, tapi yang lebih penting lagi teguhlah dalam iman yang diajarkan beliau. Teladanilah perjuangannya dan ketulusan hatinya, jangan hanya sekedar mengagungagungkannya dengan gelar “Apostel” atau “Ompu i”. Hanya Tuhan yang layak disembah.

    Mauliate.

  55. Saya sangat setuju dengan pendapat @ A Siagian diatas….Keadaan masa IL Nomensen berbeda dengan keadaan kita sekarang, jadi segala kesimpulan yang dikemukakan oleh ibu Limatina Sihaloho, sulit untuk disetujui. Saya bukan penganut Kristen protestant, tetapi saya mengagumi IL Nomensen juga. Bayangkan dia dia masuk ke negeri yang sangat asing baginya, negri ang masih makan manusia….. ingat Dua pendeta Amerika terdahulu yaang mati didekat Sibolga ( Pendeta Munsen dan pendeta ….lupa), dan Nomensen dengan bimbingan Rohkudus ………. dapat berhasil mengubah pemikiran umum Batak termasuk juga pemuka2 adat mereka

  56. MOHONULNGKIRIM KOREKTURSEKEDAR
    DARI TULISAN KONVERGENSI
    SAYA DI ATAS :

    ND Hutabarat
    November 27th, 2009 pukul 15:05

    NDH:
    1. Syukur temukan Info Limantina
    2. Saya dapat segera kejelasan untuk kerjasama
    3. TB Silalahi perlukan Tim Pakar (jangan terburuburu)
    3.1.Persiapan sebelum Opera ILN 50 Th EACC 2006 di Teladan Medan
    3.2.Agar TBB Tepat Baik Benar
    3.3.IT SS-nya Ilmiahteknologi Sakral Sekularnya
    4. Namun komentar saya setelah selesai, biarkan untuk segera timbul
    4.1.Reaksi bertanyak
    4.2.Dan Para Pakar

    ND HUTABARAT
    Juni 29th, 2010 pukul 14:20

    KOMENTAR KONVERGENSI IL NOMMENSEN RE L SIHALOHO:

    NDH :
    .
    1. Syukur temukan Info LimantIna
    2. Saya dapat segera kejelasan untuk kerjasama
    3. TB Sillahi perlukan Tim Pakar (jangan terburuburu)
    3.1.Persiapan seb Opera ILN 50 Th EACC 2006 di Teladan Medan
    3.2.Agar TBB Tepat Baik Benar
    3.3.IT SS-nya Ilmiahteknologi Sakral Sekularnya
    4. Namun komentar saya setelah selesai, biarkan untuk segera timbul
    4.1.Reaksi bertanyak
    4.2.Dan Para Pakar
    4.2.1.GP Generasipenerus menjabarkan makin tuntas tbb tepat baik benar
    4.2.2.IL Nommensen telah mengkontribusi sebagian di apostulasi
    4.2.3.Dan Pastoralisasi dilakukan dg GB Gurubolon Batak Johannsen
    .
    5.NDH Turut Pencerah GP Generasipenerus.

    (TAMBAHAN)

    ND HUTABARAT
    Juni 29th, 2010 pukul 14:30

    KONVERGENSI PENUTUP NDH :

    1. Bersama Limantina Sihaloho
    1.1.Semua Komentator jadi Pencerah
    1.2.Beri Bahan Konvergensi TBB Tepat Baik Benar
    1.3.Artinya, yang ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral
    1.4.Sehingga Kontribusi IL Nommensen di Batak TBB
    1.4.1.Dalam Konsep Visi dan MIssi
    1.4.2.Dan ASM Akuratip Symbiose Mutualis
    1.4.3.Semua kit jadi Tim BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama
    1.4.4.Demokratis

    2.Finalisasi tuntas dilakukan GP Generasipenerus

    3.Tentu dan pamrih Amanah Tuhan Supranaturalkultural.

    29.6.2010 HH

    DAN TAMBAHAN 21 9 2004

    NDH

    1.MISSI BIBEL INGWER LUDWIG NOMMENSEN
    1.1.1861/2 – 1918 (Peb 1834/11 Mei 1918?)
    1.2.Pada DGK Demografika Geografika Kulturologika Batak Sumatra
    1.3.Jubileum HUT 150 di Nordstrand Peb 1984
    1.4.Meminta Kontribusi Acara Batak dio Hamburg / Jerman
    1.5.Saya NDH dimohon Gereja Setempat Odenbull Nordstgrand
    1.5.1.Kerlahiran dan Gereja Sidi IL Nommensen
    1.5.2.Pd 9 Okt 1983 Mggu, saat Sinkroni Khotbah Bish Pdt ZF Harahap, HKBP-A/GKPA
    1.5.3.Saya janji seminggu berikut berikut jawab
    1.5.4.Konseptir Dirigir Acara Batak pd Jubileum HUT 150 ILN di Nordstrand
    1.5.5.Nyata diundang Pdt Hauke Heuck Odenbull Pdt DR JR Hutauruk dari KP HKBP
    1.5.5.1. Melakukan Serial Khotbah di Jerman Utara
    1.5.5.2.Sekaligus Bergabung Melengkapi Acara Batak:
    1.5.5.3.Teater Pra Dia Epilog Batak/Missi IL Nommensen + Gerejani +
    1.5.5.4.Seremoni Batak : Makan/Gondang/Tortor/Ulos/Lagu Rame Pemuda/i.
    1.5.5.5.Sangat Rame Dihadiri:
    1.5.5.6.1.Batak 125 Dibatasi disediakan nginap, Jerman Dll Ratusan: Seluruh Jerman

    2.Berakibat banyak :
    2.1.Hubungan Lanjut Nommensen dari Nordstrand Jer ke Batak Indonesia
    2.2.Dipelihara Hubungan Batak di Jerman Eropa dgn Nommensen Nordstrand
    2.2.1.MBI Jerman (Masyarakat Batak Indonesia) : 1983/84/89-1992
    2.2.2.Dilanjutkan HIMABONI (Batak Jerm,an Eropa) : 1992 Dst
    2.2.3. 1994 Khusus Batak Hamburg MNI (Masyarakat Nauli Indonesia)
    2.2.4.Hubungan Gereja Jerman dan Batak Indonesia berlanjut
    2.2.5.Turut memberi ide Pemugaran Pusat-Pusat Missi IL Nommensen Dkk
    2.2.6.Salib Kasih 39 M Siatasbarita di Buklitbarisan.
    2.2.7.Salib Jesus 45 M Peatolong (Hutan Tombak Sibonggarbonggar)
    2.2.8.Dst

    3.Demi Menjabarkan Mengkonvergensi Lanjutan Kasih Tuhan Missi IL Nommensen.

    4.NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus, Missi Voluntir.

    5.HH 21 9 2014

  57. NDH:

    1. Masa hidupnya Eleonore Nommensen (Ny Pdt JT Nommensen, Putra ILN)
    1.1.Kami bertemu di Bordesholm Jerman Utara, HUT 92,
    1.2.Lore Berkata: Mereka Nommensen dirajakan jadi !”Marga Siahaan”.
    1.2.Tentu oleh Raja Oppu Ginjang (Siahaan, re Tuturan Missi di Toba) ?
    1.3.Hanya tidak populer pada umum
    1.4.Seperti sepopuler Johannsen dirajakan Marga Lumbantobing
    1.4.dalam Keluaerga Raja Pontas (Obadja) Lumbantobing
    1.4.Johannsen Rekan Nommensen menyusul ke Batak
    1.4.5 th sestelah Apostulasi Nommensen.
    1.4.Agar Johannsen lakukan tugas Pastoralisasi
    1.4.Johannsen sangat berterimakasih kepada Raja Pontas
    1.4.Menghindari Johannsen direjam Para Raja dari Toba
    1.4.Tatkala Johannsen dg perlu menemani menghantar Pdt Schreiber
    1.4.ke Batas Humbang-Toba dari Bukit memandangi Keindaghan Tao Toba
    1.4.Sebelum Schreiber pulang ke Jerman berdinas di Tano Batak
    1.4.Saat itu tiba-tiba diserang chalayak hampir merejam Johannsen
    1.4.Tapi dapat dihindarkan Raja Pontas LTobing
    1.4.Yang piawai bijak kukuh dispot Rura Silindung itu.

    2.Re Pertanyaan di atas pd.:

    Pdt. Juandaha Raya Purba
    Oktober 23rd, 2008 pukul 05:11

  58. Horas Bu Limantina…..
    Sebagai Kristen tidak seharusnya kita memilah milah orang pribumi atau non pribumi.
    ibu yang terhormat, sebagai orang yang berpendidikan tentunya ibu juga pernah mendengar istilah barbar. Adanya istilah seperti ini, dikarenakan di beberapa belahan bumi pada era kolonial masih belum memiliki peradaban itu jelas adanya sifat kejam dari beberapa raja-raja kecil yang semena mena kepada siapa saja yang mereka anggap berada dibawah kekuasaan mereka. Sungguh sangat sulit bagi para misionaris menjangkau daerah daerah yang seperti ini. Saya menjadi teringat kepada bangsa Israel dan jehuda dimana mereka harus diserahkan Tuhan kepada bangsa bangsa Kafir seperti Babilonia, medo- persia dan Yunani, adalah tidak lain supaya pengajaran Tuhan itu dapat mereka terima dan terpari di dalam hati mereka. Dan kita lihat bagaimana pada Zaman Kaisar Artasastra, Israel di ijinkan pulang kenegerinya Jerusalem untuk membangun kembali negaranya, itu karena Tuhan sudah melihat pertobatan mereka.
    Begitu juga bangsa kita telah diserahkan Tuhan ke Pada kita Tahun 1945, karena kita sudah berpendidikan dan Percaya kepada Tuhan yang maha Esa.

    Maaf jika kata-kata saya kurang baik.
    Horas Salam Kasih dan damai dari saya.
    Pinomparni Raja Pardede.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s