Sisingamangaraja

Untuk renungan menjelang peringatan 100 tahun Raja Sisingamangaraja XII

Kutipan dari tulisan PANGGORGA (A. Morlan Simanjuntak ) Desa Hutabulu Balige

…………. Raja Parbaringin di daerah Toba mempunyai kedudukan tertinggi di dalam bius mengenai soal-soal adat, pembagian tanah melaksanakan upacara persembahan tahunan kepada TUHAN atau dalam bahasa belanda JAARLITKS OFFER FEEST. Raja Parbaringin pada satu-satu waktu bertindak selaku wakil dari Sisingamangaraja di dalam bius berhak dan mampu meminta hujan di musim kemarau atas nama Sisingamangaraja.

Di daerah Silindung tidak ada Raja Parbaringin. Yang menjadi wakil dari Sisingamangaraja ialah yang dinamai Raja ber EMPAT (Raja Marampat) atau juga “Raja NAOPAT”. Sisingamangaraja mengangkat raja Naopat di 1. Hutatoruan : Bagot Sinta, 2. Di Sitompul : Rangke Tua, 3 Di Hutabarat Raja Ilamula (orang kaya muda ), 4. Di Sipoholon : Baginda Mulana (Baginda Maulana).

Untuk kebahagian penduduk seluruhnya, Sisingamangaraja sering mendatangkan hujan di musim kemarau yang panjang. Menjauhkan bala dari manusia, tanam-tanaman, dan ternak. Menciptakan mata air dengan hanya memancakkan tongkatnya ke tanah dan bermaca-macam lagi mu’jizat yang diperbuat.

Lebih jauh lagi mengenai kedudukan Sisingamangaraja di tengah-tengah masyarakat Batak, dibawah ini diambil dan dikutip pendapat dari para ahli-ahli dan para sejarawan yang ditulis dalam bahasa Belanda.

Zentgzaaf, seorang Jurnalis Belanda mengatakan ; ”Sisingamangraja Wasvoor de Bataks de Groote Weldoener, Omdat hij veler lei zegenigen Kon brengen ann jin volk, dat om hem riep in tijden van nood”.
Sisingamangaraja adalah seorang yang besar jasanya pada rakyatnya, karena dapat memberikan kebahagian pada masa-masa kesulitan dan kesukaran.

Dr. F. J. Nainggolan didalam harian PARSAORAN, menulis : “Alleen enn figuur, de eene slechts, werd het wel- algemeen vererrd, de figuur van Sisingamangaraja. Geen Batak van de ouden Stempel, de niet met hiling ont zag de naam Sisingamangaraja in den mond neemt. De figuur van den Sisingamangaraja, die Voor de Batak was gelijk de pausen in de midde leeuwen voor de volkeren in Europa.
Sisingamangaraja adalah satu-satunya pribadi yang umum diabdi dan dipuja dengan segala kemuliaannya. Tak ada seorang pun dari suku Batak dari zaman itu, yang tidak dengan hidmat menyebut nama Sisingamangaraja.. Pribadi Sisingamangaraja untuk suku batak, adalah sama kedudukannya dengan Paus pada abad pertengahan untuk penduduk Eropa.

Ada lagi sebuah tulisan Zentgraaf yang berbunyi sebagai berikut : “Er was sind onheuglijke tijden aktijd een Sisingamangaraja geweest, en nadat de laatste der mystieke figuren opge jaagad door de marechussee’s van Christoffel, den 17e Juni 1907 was getroffen door een kogel van de Compagnie, moest in het zie leleven der Bataks een leegte ontstaan welke noch door den Chistelijken godsdients, waartoe velen waren overgegaan, noch door de verbetering der occonomische omstandighe den kon worden vervuld”.
Seorang Sisingamangaraja tetap ada sejak waktu-waktu yang tidak menyenangkan (bagi Belanda). Dan sesudah tokoh ajaib yang terakhir yang di buru oleh marsuse dan Christoffel, gugur pada tanggal 17 Juni 1907 karena kena peluru dari kompeni, maka kekosongan di dalam kehidupan jiwa masyarakat batak timbul, yang tidak dapat di isi, baik oleh agama KRISTEN yang sudah di peluk oleh banyak orang, maupun oleh perbaikan-perbaikan perekonomian.

Pada tanggal 17 Juni 1957 yaitu pada hari peringatan genap 50 tahun wafatnya baginda Sisingamangaraja XII, P.Y.M Presiden Soekarno dalam amanatnya menyatakan bahwa Raja Sisingamangaraja bukan saja pahlawan nasional, bahkan jika diukur dengan perjuangannya juga adalah pahlawan internasional. Hanya bangsa yang tahu mengagungkan perjuangan pahlawan rakyat yang bisa menjadi bangsa besar di dunia ini.

Selanjutnya Bung Karno dalam amanatnya itu menyatakan bahwa pahlawan Sisingamangaraja adalah pahlawan internasional yang menentang kolonialisme. Karena itu Presiden RI mengharapkan supaya seluruh bangsa Indonesia mengagungkan jasa-jasa pahlawan Sisingamagaraja.

Sendi kerajaan Sisingamangaraja tidak terletak diatas kekerasan senjata, tetapi semata-mata berdasarkan kesaktiannya. Jangankan mengadakan fluister kampagne untuk mempertahankan atau memperluas kekuasaannya, mempergunakan kekerasan pun untuk menaklukkan sesuatu daerah, tidak mau.

Baginda sangat benci pada percekcokan dan permusuhan. Malahan peperangan antara sesama kampung atau bius kontra bius harus dihentikan. Jikalau Baginda Raja lewat dari tempat itu. beliau tidak pernah memberi instruksi supaya di sambut secara besar-besaran apabila baginda hendak mengunjungi sesuatu tempat, namun demikian tiada tokoh yang lain di seluruh tanah Batak yang disanjung, diagung-agungkan setinggi-tingginya selain dari pada baginda sendiri.

Sumber-sumber keuangan untuk baginda terdiri dari persembahan raja-raja dan rakyat yang berupa emas, kerbau, gong dan sebagainya, secara suka rela. Ada yang langsung menyampaikan ke istana baginda di Bakkara, dan tidak jarang pula yang menyerahkannya sewaktu baginda berkunjung dari daerah-daerah.

Penyerahan persembahan itu pada umumnya berlangsung dengan menabuh gendang. Jika penduduk mendengar berita tentang kedatangan Sisingamangaraja mereka sangat gembira, karena kedatangan baginda pasti akan membawa bahagia. Mereka dapatlah meminta sesuatu yang dibutuhkan, misalnya agar hasil tanam-tanaman berlipat ganda, menjauhkan penyakit dan sebagainya. maka tidak heranlah orang kalau mengibaratkan tanah tandus yang diinjak oleh Sisingamangaraja lantas menjadi tanah subur.

Sisingamangaraja sangat menghormati kaum wanita. Baginda menyebut, “Ina do nampunasa” dalam artinya, kaum ibu (wanita) yang memiliki jalan, ini maksudnya supaya kaum wanita dimana-mana saja harus dihormati.

Sisingamangaraja selain dari kesaktiannya, kepribadiaannya pun sangat tinggi, peramah gemar dan suka bertamu. Tamu-tamu yang datang dari daerah-daerah maupun dari Aceh disambut dengan hormat sekali. Hubungan tanah Batak dengan Aceh pada waktu itu jauh lebih kental dengan sekarang. Oleh karena ramahnya bertamu, orang membilang “Paramak sobalunon, parsangkalan so ra mahiang” atinya yang ber~ambal (tikar) yang tak di gulung-gulung dan yang bertelenan yang tak kunjung kering. Sisingamangaraja tak suka banyak berbicara. Baginda mempunyai juru bicara tersendiri ( panuturi) yaitu : 1. Panonggak, 2. Punta Piolan

Kemudian perlu rasanya diterangkan di sini arti, “Sisingamangaraja” perkataan “Si” yang di tempatkan dimuka Singamangaraja bukanlah menunjukkan pribadi biasa, sekalipun artinya sama dengan yang dimaksud dalam bahasa Indonesia seperti si Badu, si Ali, si Polan. Baginda tidak suka terlalu di puja-puja seperti dengan ucapan, “Seri Baginda Maha Raja” dan sebagainya.

Baginda mencantumkan di dalam stempelnya: “AHU SAHAP NI SISINGAMANGARAJA” artinya saya cap dari Sisingamangaraja. Lain halnya terhadap nama asli baginda yaitu : Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, yang tidak boleh menempatkan kata “Si” didepannya.

Yang dimaksud dengan perkataan “Singa” bukanlah binatang buas seperti dalam bahasa Inggris “Lion” Justeru binatang seperti itu pada jaman dahulu kala tidak dikenal oleh peduduk Batak Toba. Arti “singa” dalam bahasa Batak ialah “Konstruksi (rumah Batak)” Mangaraja sama artinya dengan “Maha Raja” di dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian nama Sisingamangaraja mempunyai tafsiran : “Singa ni harajaon” bagi suku Batak. Baginda bukan hanya dipandang selalu “Singa ni harajaon” tetapi juga “Singa ni uhum” (Patik, Undang-undang ) dan “Singa ni Hadatuon”……….

Datu, diyakini selalu mengatakan yang benar, mensyaratkan kebenaran yang tidak diketahui kebanyakan orang. Mengatakan yang benar “tutu” dikuatkan dengan pernyataan “nda-tutu” atau “da-tutu”. Sama halnya pernyataan seorang ibu “da-inang”.

Istilah dan pemahaman arti Datu mulai bergeser saat terjadinya pembohongan dan kekebasan mengaktualisasikan diri dalam masyarakat. Kesalahan yang pernah terjadi dilakukan seorang datu akhirnya berdampak kepada merosotnya penilaian tentang Datu.
Datu, saat ini cenderung diartikan hanya sekedar ahli pengobatan dan nujum, perdukunan diartikan pula perilaku perbuatan jelek kepada orang lain seperti santet dan lain sebagainya

Iklan

8 thoughts on “Sisingamangaraja

  1. Jaya berkata:

    cerita yang menarik saya sebagai orang batak yang lahir bukan di tanah batak, menjadi tahu asalusul dari sisingamangaraja. tapi mengapa nilai2 itu sekarang terasa sudah menghilang pada peradaban hidup orang batak sekarang ini. karena image orang batak sekarang ini lebih banyak yang negatif dari pada yang positifnya.

  2. joy simanjuntak berkata:

    Mauliatema amang. Saya bangga jadi orang batak yang punya suatu riwayat yang amat khas dan mengagungkan. Semoga batak semakin maju terus. Terutama bagi orang batak yang sudah sukses ekonomi dan yang menjadi pejabat tinggi agar membantu melestarikan melestarikan situs-situs yang memiliki nilai habatahon. Horas

  3. Siapa bilang di Hutan Samosir tdk ada Singanya Sisingamangaraja?
    Justru Singa inilah yg mengawal pertempuran Raja Batak tersbt, Keramat Singa Sisingamangaraja jgn ditutupi. Tapi bila saudara tdk pernah mengenal Singa tersbt tdk apa-apa. Karena jika saudara mengingkari keberadaan Singa tersbt, sama halnya menutupi sebagian sejarah serta kekeramatan Sisingamangaraja.

    SIlahkan mencari keberadaan Singa tersebut jika anda juga masih bersilsilah dgn 0mpu pulo batu, temukan kebenaran yg hakiki. Dan jgn menutupi bagian mistis dr suatu sejarah.

  4. Sisingamangaraja = Singa dan Maharaja
    Artinya : Seorang Raja besar yg memiliki Singa, kebesarannya bukan hanya diakui oleh Manusia tapi juga diakui & direstui oleh Raja dr penghuni Gaib Pulau dan Hutan Samosir.
    Wujud dr restu alam tersebut adalah berupa dititipkannya seekor Singa yg memiliki kekeramatan/kesaktian kpd Raja Batak tersbt.

    Semoga sejarah asli & Jatidiri Nusantara segera terkuak.

  5. (SURAT TERBUKA)

    Kepada Yth.
    Penulis Artikel ini
    PANGGORA (A. Marlan Simanjuntak) Desa Huta Bulu Balige
    (https://tanobatak.wordpress.com/2007/05/24/sisingamangaraja/)

    Horas,

    Bersyukur menemukan artikel ini karena ada kaitan dengan garis keturunan Raja Naopat dari Sipoholon yang kebetulan bermarga Hutauruk (saya salah seorang keturunannya).

    Perlu adanya koreksi dalam tulisan ini mengenai Raja Maropat (Raja Naopat) tersebut, terutama atas penamaannya. Dari catatan keluarga kami, yang tercatat adalah sebagai berikut:

    1. Di Hutatoruan adalah Bagot Sinta bermarga Hutapea
    2. Di Sitompul adalah Rangke Tua bermarga Sitompul
    3. Di Hutabarat adalah Baginda Mulana bermarga Hutabarat
    4. Di Sipoholon adalah Raja Ilamuda bermarga Hutauruk (Sihahaan ni harajaon raja maropat)

    Demikian penjelasan kami agar menjadi koreksi dan menjadi informasi yang benar dikemudian hari, terutama untuk keturunan mereka, Mauliate.

    Horas
    ttd.
    Maridup Hutauruk (Hutauruk Gen. A-13)
    [Anak Mangulahi Raja Ilamuda (Hutauruk Gen. A-10)]

  6. Mengenai penggelaran Sisingamangaraja. Memang tidak ada catatan sejarah yang mengatakan bahwa binatang singa pernah ada di Tanah Batak, bahkan di Indonesia. Mengingat sejarahnya bahwa Batak pernah bersentuhan dengan budaya Hindu (semasa pasukan Chola bermukim sekitar tahun 1025 masehi) maka boleh jadi penggelaran tersebut berasal dari bahasa Pali atau Sansekerta, yaitu dari asal kata ‘Sanga (Sangha) = menyatu (Associate)’ dan Mangaraja (Maharaja? / Menjadi Raja).

    Jadi menurut saya, kata penggelaran Si-singa-mangaraja (Si-sanga-mangaraja) dapat diartikan menjadi ‘Orang yang menjadi raja menyatu dengan rakyatnya’

  7. Yaa benar-benar raja yang tahtanya untuk rakyat, bukan kunjungan kerja yg selalu merepotkan khalayak masyarakat… Mengenang Sisingamangaraja bagai mengenang danau purba yang menyejukkan mata dan menghidupi apapun yang ada di dalamnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s