MEMBANGUN PERSAUDARAAN SEJATI MASYARAKAT DI SUMATERA UTARA

Dari Seminar 100 tahun Sisingamangaraja XII

Oleh : Dr. RM. H. Subanindyo Hadiluwih, SH, MBA

PENDAHULUAN
Pada tahun 1980-an penulis pernah mendapatkan tugas untuk tampil berbicara pada Seminar Adat Batak Karo bersama-sama dengan antara lain Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan, Prof. Dr. Payung Bangun dan lain-lain, dibawah supervise Bupati Tanah Karo pada waktu itu, Prof. Dr. Ir. Meneth Ginting, MADE. Melalui makalah berjudul “Adat, Sumber Norma Yang Tidak Harus Abadi”, penulis mencoba mengingatkan penunaian tuntutan zaman untuk bergerak maju dan berkernbang (progressing dan developing), sesuai dengan proses rnodernisasi, meski tidak harus meninggalkan identitas diri sebagai suatu bangsa (nation) (Sarjani Tarigan, 1986).

Pada kesempatan yang lain penulis memperoleh kepercayaan pula untuk tampil dalam Konferensi Gereja dan Masyarakat Wilayah Sumatera Utara – Aceh (1999) bersama dengan Dr. J. Sirait, Prof. Dr. Ridwan Lubis, Prof. Dr. Sri Edi Swasono, SH, dan lain-lain sebagai salah satu narasumber bidang hukum. Sebuah bincang masalah yang sayangnya tak usai-usai juga dibicarakan tentang ketidak adilan, pelanggaran hak orang lain, penistaan bahkan berbagai bentuk kejahatan dan penganiayaan, pembunuhan yang dikesankan meninggalkan peradaban menuju kebiadaban.

Kali ini, mendapatkan kepercayaan serta tugas menyusun makalah bertajuk ‘Membangun Persaudaraan Sejati Masyarakat di Sumatera Utara’ yang sesungguhnya merupakan kehormatan bagi penulis, meskipun mempersiapkan makalah sedemikian sesungguhnya bukan perkara mudah, karena selain menyusun dalam kertas (paper) yang relatif harus lebih sederhana, mudah dipahami dalam waktu yang singkat, sementara materi sebagai substansinya amat banyak dan pada umumnya ditulis cukup mendalam oleh para pakar dalam berbagai buku yang sebagian dapat penulis sajikan sebagai bahan acuan. Apalagi dalam rangka peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII. Tepatnya, pada tanggal 17 Juni 1907-2007 di Rura Silindung. Tepatnya di sebuah jurang di kaki gunung Sitapongan dekat Pearaja, Sionomhudon. Beliau gugur bersama-sama dengan putera puterinya, Patuan Nagari, Patuan Anggi, dan Lopian (17 tahun) serta para Panglimanya, antara lain Tengku Ben, Tengku Nyak Bantal Situmorang dan Matsawang melalui perang panjang lebih dari 30 Tahun (1878-1907). Kehormatan sekaligus kebanggaan ini terutama atas kepercayaan yang dilimpahkan kepada penulis untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat, sekaligus penghormatan terhadap jasa-jasa seorang Pahlawan Nasional, dimana bagi keturunannya tidak hanya ingin mengenang, akan tetapi juga mempertanyakan apakah yang hendak disumbangkan oleh mereka syukur-syukur lebih penting dan fundamental ketimbang jasa Sang Pahlawan Nasional, Sisingamangaraja XII.

Setiap berganti zaman, berganti pula jenis dan bentuk tantangannya. Apabila pada zaman Raja Sisingamangaraja XII tantangannya adalah melawan penjajah dan menghapus kolonialisme, maka era berikutnya adalah mengantarkan negeri ini melepaskan diri dari belenggu penjajahan menuju alam kemerdekaan. Era berikutnya tentu saja mengisi kemerdekaan itu sendiri dari belenggu penjajah menuju alam kemerdekaan. Raja diraja Sisingamangaraja telah memberikan teladannya. Ia menunaikan misi merespon tantangan jamannya. Menjadi salah satu martir yang menyediakan jiwa dan raganya, berkorban bagi tanah airnya. So, what can we do ? Apabila Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan-bahkan menyediakan – semuanya bagi negeri tercinta ini, berupa kekayaan alam, mulai dari pertambangan kehutanan, kelautan dan lain-lain, mengapa kita tidak bisa memakmurkan rakyatnya? Mengapa kita membiarkan orang-­orang Amerika, Belanda, Inggris, Portugis, Jepang “menjarah” harta kita? Baik secara kekerasan pada masa penjajahan maupun secara halus di era menjelang globalisasi ini?

Mengapa kita tidak bisa mengelola anugerah ini dan “memilih” menghadapi masalah-masalah kemiskinan, pengangguran dan serangkaian korupsi, yang seharusnya sudah lama kita tinggalkan? Bukankah itu bermakna “penghianatan” terhadap Sisingamangaraja, Teuku Umar, Cut Nya’ Dhien, Imarn Bonjol, Gajah Mada, Sultan Agung, Diponegoro, Kartini, I Gusti Ngurah Rai, Sultan Hasanuddin dan para Pahlawan Nasional lainnya?

KONDISI MASYARAKAT SUMATRA UTARA
Provinsi Sumatera Utara dihuni oleh 44,66 % orang Jawa. Bahkan ada catatan yang menyebutkan lebih dari 50%. Suku Melayu, 7,63%. Batak (Toba) tercatat 19,44%. Karo, 6,64%. Mandailing, 6,32%. Simalungun, 2,72%. Nias, 0,40%. Pakpak, 0,16. Sementara kelompok pendatang selain Jawa, adalah Cina, 3,63% (Kelompok ini pernah mencapai jumlah lebih dari 20%), Minangkabau, 3,30%, Aceh 1,26%. Berarti Suku Batak secara keseluruhan meliputi jumlah lebih dari 36%, Lingkungan masyarakat majemuk (multrkultur), secara potensial memungkinkan terjadinya beragam tingkat dan jenis konflik. Mulai dari aspek etnis ekonomi, agama, budaya, dan sebagainya.

Tingkatan konflik itu sendiri selain mungkin dalam kawasan yang relatif kecil, bukan mustahil menjangkau kawasan yang cukup luas. Sebagaimana dipahami, wilayah Sumatera Utara merupakan wilayah yang heterogen. Heterogenitas tersebut antara lain oleh karena aneka ragam suku dan etnik, berikut sub-etnik yang ada di daerah tersebut Kalau orang Batak dengan berbagai sub etniknya, Batak Toba, Batak Karo, Simalungun, Mandailing, Dairi, Pak-Pak dan lain-lain, masih ada lagi yang dianggap asli Sumatera Utara misalnya Melayu. Suku Melayu inipun mempunyai aneka sub etnik lain seperti mereka yang sesungguhnya bermarga. Yang dianggap khas barangkali adalah Nias. Sementara etnik pendatang juga cukup banyak, misalnya Aceh, dan Minangkabau. Pendatang dari seberang, antara lain dikenal sebagai orang Jawa, sesunguhnya juga berasal dari berbagai daerah dengan budayanya masing-masing yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Ada yang dari Jawa Timur (Surabaya, Malang, Kediri, Jombang, Ponorogo, Madura); Jawa Tengah (Semarang, Tegal/pesisir, Jepara, Kudus, Purwakarta, Purwokerto/Banyumas, Solo-Jogya): Jawa Barat (Sunda, Banten, Betawi) dan lain-lain. Meskipun dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, hadir pula di Sumatera Utra orang-orang dari Kalimantan (Dayak), Bali, Makasar (Bugis), Menado, Maluku (Ambon) dan Irian (Papua). Berikutnya, adalah kelompok keturunan yang terdiri dari keturunan Cina, India, Timur Tengah (Arab, Jordania) dan keturunan Eropa.

Tak heran kalau Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara, dianggap sebagai bentuk “Indonesia Kecil” sebagaimana halnya dengan Jakarta. Perbedaan agama tantu saja juga mewarnai wilayah Sumatera Utara. Selain ‘agama modern’ seperti Islam, Kristen (Katholik clan Kristen Protestan) juga Hindu (Mahayana dan Hinayana) dan Buddha (termasuk Nichiren Syosu Indonesia, aliran Buddha dari Jepang). Sementara agama yang ‘baru’ masuk perbendaharaan adalah agama Kong Hu Cu (Confusians). Padahal masih ada agama pra agama modern misalnya Parmalim, Perbegu, Kaharingan bahkan Kejawen. Di antara pemeluk agama modern ada pula yang masih yakin dengan agama lama sehingga tampil dalam bentuk ‘sinkretik’. Bukankah pada rnasyarakat Batak yang usai melaksanakan sakramen nikah di gereja melanjutkan acaranya dengan acara adat? Demikian pula dengan berbagai acara adat lainnya yang tak sepenuhnya Islami seperti tepung tawar, Suroan, mbha ku lau, tedhak siti, berikut memandikan pusaka (keris), bahkan juga upacara-upacara perkawinan dan pemakaman.

Kekayaan dan okupasi anggota masyarakat Sumatera Utara juga beragam. Ada yang menjadi pedagang, pejabat, penjahat, penguasa, pengusaha. Barang tentu ada yang menjadi kuli, pencuri, preman, gelandangan, pengemis dan lain-lain. Melalui okupasi tersebut, perbedaan kekayaan juga terkesan mencolok. Ada yang amat kaya, sedang-sedang saja, ada pula yang amat miskin. Yang menganut agama Islam misalnya, ternyata hanya Melayu, Aceh dan Minang. Banyak pula orang Batak yang sering dianggap pasti Kristen, ternyata Muslim. Demikian pula dengan Nias, Jawa, bahkan Cina dan India. Sebaliknya ternyata tak semua orang Jawa beragama Islam. Cukup banyak diantara mereka yang beragama Kristen, bahkan Buddha. Sama halnya dengan orang Nias yang agamanya nyaris ‘terbagi’ antara kelornpok yang Islam dan yang Kristiani. Sementara Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia, kini Perhimpunan Iman Tauhid Indonesia (PITI) adalah organisasi bagi keturunan Cina yang memeluk agama Islam. Bagi keturunan India, meski memang masih banyak yang menganut agama Hindu, namun banyak pula yang menganut agama non-Hindu. Bagi yang Islam dan Kristen biasanya mengaku sebagai orang Pakistan, Afghanistan atau malah Srilangka (Ceylon) bagi yang beragama Buddha. Ikhwal okupasi, meski memang ada stereotype tertentu misalnya keturunan Cina dan etnik Minangkabau yang dianggap sebagai ‘spesialis’ pedagang, toh tidak sedikit orang Batak yang menjadi pedagang. Sementara orang Jawa dan Melayu yang lazimnya menjadi petani dan nelayan, ternyata tak semua menekuni profesi tersebut.

Bahwa sikap persatuan dan kesatuan, sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh Sisingamangaraja XII, ternyata di masa sekarang ada pula yang mengelak dari identitas etnik dan atau keturunannya. Banyak orang ‘Jawa’ yang mengaku bernama pak Siman, rupanya Simanjuntak, atau pak Mangun, ternyata (Si) Mangunsong. Sementara pak Sutopo aslinya malah Sitepu. Bagi keturunan Cina hal ini bahkan dianggap lebih lazim lagi. Sehingga ada yang bernama Muslim, ternyata bukan beragama Islam sama sekali karena namanya diambil dari sei/marga Lim. Ada yang bernama Chandra Wijaya, tentu namanya tak berkailan dengan masalah bulan (Chandra) dan kemenangan (Wijaya) tapi marganya memang Chan. Jangan lupa, ada juga tokoh cendikiawan kita yang bernama Harry Tjan Silalahi dan S. Lo Ginting. Meski mereka keturunan Cina namun keterkaitan dengan marga yang dipakainya memang ada. Bukankah tidak semua orang yang bergama Islam juga bernama ‘Islami’ ?

Anehnya, ada orang Batak yang malu dengan namanya yang berbahasa Batak, misalnya Sounggalon, Tiur, Ronggur, Olo, Horja dan lain-lain tetapi memilih nama Barat, misalnya Robert, Johnny, Alex dan lain – lain atau setidak-tidaknya nama baptis seperti Antonius, Franciscus Xaverius, Paulus dan lain-lain. Pada orang Batak Karo, nama-nama yang dikaitkan dengan peristiwa kelahiran, Bren, Janggun, Koran, Supir dan lain-lain juga mengalami perubahan. Padahal, sistem pengambilan nama sedemikian justru mirip orang Belanda. Misalnya nama van den Berg, van Dorp, ter Haar dan lain – lain.

KONFLIK ETNIK DAN KETURUNAN
Konflik etnik maupun keturunan tidak selalu berdampak negative. Ada kalanya justru positif. Pepatah Melayu sebagaimana pernah dikemukan oleh Chalida Fachruddin menyebutkan, ‘kerana bersilang kayu, maka hiduplah api’. Maksudnya, ‘karena adanya perbedaan pendapat, maka dinamika kehidupan menjadi lebih bermakna’ (Subanindyo, 2006:48). Bagaimanapun konflik antara etnik Batak dan Melayu di Belawan, atau Aceh dan Jawa di Medan serta beberapa kali konflik dengan keturunan Cina, yaitu tahun 1966, 1994 dan 1998 (Subanindyo, 1998) merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan meskipun dengan sebab yang berbeda-beda pula. Gabungan antara permasalahan sikap eksklusifitas dan politik merupakan penyebab tampilnya berbagai ketegangan antar etnik dan keturunan, meski tak selalu berujung pada konflik terbuka hampir tak pernah terjadi. Apalagi para pemimpin formal maupun informal dengan tekun mencegah hal itu melalui konsep SARA, atau masalah-masalah yang terkait dengan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan. Konflik antar agama tak tercatat selain – justru – konflik se agama. Sikap ini menimbulkan kebersamaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan masing-masing kelompok, antara lain dengan ikut menjaga keamanan oleh pihak yang tidak ikut merayakan hari besar keagamaan bersangkutan.

MEMBANGUN PERSAUDARAAN SEJATI
Apabila konsep Bhneka Tunggal lka (Tan Hana Dharma Mangrwa), sering dimaknai sebagai ‘bersuku-suku, berpuak-puak namun satu jua’, berikut ‘tidak ada kesetiaan yang mendua’, maka ia menjelaskan konsep persatuan dan kesatuan (Subanindyo, 2006). Konsep yang dihayati oleh hampir semua suku bangsa di Indonesia. Tak heran kalau pasukan Sisingamangaraja menyertakan panglima-panglimanya dari Aceh, selain dari berbagai huta di Tanah Batak. Belanda memang tidak pernah merasa aman selama Raja Si Singamangangraja XII, Raja Raya Tuan Rondahaim Saragih, beberapa Sibayak di Karo dan pejuang dari Aceh (Gayo, Alas) masih mengadakan perlawanan bersenjata (Sijabat, 1983:416–417). Kerjasama di antara mereka memang membangkitkan semangat perlawanan di Padang (Tualang?), Bedagai dan Deli Serdang. Bahkan kemudiaan Datuk Sunggal juga mengadakan perlawanan terhadap Kesultanan Deli yang pada waktu itu sudah dilindungi oleh Belanda. Lima ratus orang Melayu dan seribu orang Batak dikerahkan Datuk Sunggal menyerang posisi Belanda. Kerjasama yang erat antara pejuang Batak dan Gayo – Alas dari Aceh, membakar gudang tembakau, bahkan mengancam ladang minyak di Telaga Said dan Telaga Tunggal, Langkat (Sijabat, I983:418).

Raja Si Singamangaraja XII memang meneruskan perjuangannya bersama dengan pejuang dari suku lain, khususnya suku Aceh. Hubungan dengan suku-suku bangsa lain juga tatap dipelihara secara kontiniu. Dalam kerjasama seperli inilah mereka sama-sama mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Secara stereotype, baik oto maupun hetero stereotype, orang Batak memang merupakan kelompok dengan kesadaran solidaritas yang tinggi, rasa setia kawan yang tinggi, meski juga mempunyai temperamen yang tinggi pula. Terutama sejak Sisingamangaraja mengamalkan konsep Raja Merampat, konsep dari Aceh, juga Melayu. Meski bukan bermakna bahwa Si Singamangaraja menundukkan diri kepada Aceh. Di Simalungun konsep ini dibentuk oleh kerajaan Tanah Jawa, Dolok Silau, Pane dan Siantar (Sijabat, 1983:71). Di Tanah Karo disebut Raja Si Empat, terdiri dari wilayah Lingga, Barus Jahe, Sarinembah dan Suka (Sijabat, 1983:73). Di Asahan, Habinsaran dan tempat lain di Batak, konsep ini dikenal sebagai Raja na Opat. Konsep kekerabatan Dalihan na Tolu atau Sangkep si Telu pada etnik Batak pada umumnya secara prinsipiil memang berbeda dengan konsep kemasyarakatan pada etnik Minangkabau yang disebut Tungku Tigo Sajarangan atau Tali Tigo Sapilin. Kalau Dalihan na Tolu menunjuk pada stelsel segitiga Hula-hula/Mora/Kalimbubu dengan Anak Boru/Anakberu dan Dongan Tubu/Kahangi/Senina maka Tungku Tigo SajaranganlTali Tigo Sapilin memiliki unsur-unsur Ninik Marnak, Cadiak pandai dan Ulamo. Meski Dalihan na Tolu merupakan sistem kekerabatan, namun ia membuka diri terhadap masuknya ‘orang luar’ dalam kerabat melalui perkawinan. Kalau hak prioritas memang diberikan kepada pariban atau impal pada etnik Batak, Karo, namun marga dapat diberikan kepada pariban atau impal dari luar, sehingga tak merusakkan system Dalihan na Tolu itu sendiri. Apalagi sistem ini memang memungkinkan masuknya orang luar melalui tiga jalur, yaitu perkawinan, pengangkatan dan penganugerahan. Barang tentu mendapatkan marga sesungguhnya adalah tanggung jawab. la harus mampu menyandang kewajiban sebelum menikmati hak.

KESIMPULAN
Mencoba menyusun kesimpulan dari pada uraian singkat tersebut diatas, menghasilkan butir-butir rumusan sebagai berikut :

Bahwa deretan tonggak-tonggak bersejarah mulai Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 sampai Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan dilandasi Pancasila dan lambang Bhinneka Tunggal Ika (Tan hana Dharma Mangrwa) merupakan hakekat kemanunggalan atau persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia

Bahwa tokoh-tokoh yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Nasional, termasuk Raja Si Singamangaraja Xll, berikut tokoh lain seperti Gadjah Mada, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Imam Bonjol dan lain-lain senantiasa melandaskan perjuangannya dengan konsep perjuangan bersama, tanpa mempedulikan suku, agama dan perbedaan-perbedaan yang lain. Justru yang menjiwai perjuangannya adalah persamaan; tekad mencapai Indonesia Merdeka.

Bahwa dengan mencoba memahami dan selanjutnya rnenghayati apa yang pernah dilakukan oleh tokoh pendahulu kita, generasi sekarang, untuk menjawab tantangan zaman bagi perkembangan dan kemajuan bangsa di masa yang akan datang.

Bahwa segala penyimpangan dari pada tujuan perjuangan, termasuk korupsi, manipulasi dan lain-lain pada hakekatnya bukan hanya pengkhianatan terhadap para Pahlawan Nasional, akan tetapi juga penghianatan kepada warga bangsa ini.

7 thoughts on “MEMBANGUN PERSAUDARAAN SEJATI MASYARAKAT DI SUMATERA UTARA

  1. Iran adalah salah satu negara terkaya di dunia dilihat dari tambang minyak.

    Tapi sejak para mollah memerintah di negara ini dengan sistim agama yang mencampuri setiap segi kehidupan warga Iran, maka sekarang negara persia ini mengalami krisis besar. Kehidudapan di Iran saat ini sangat susah. Jauh lebih susah dari pada kehidupan waktu di Rusia komunis (USSR). Anak-anak muda sekarang berontak. Jangan-jangan negara ini menjadi seperti Afganistan.

    Gara-gara agama, suatu negara yang bagamimanapun kayanya bisa menjadi hancur.

    Sayang sekali!

  2. Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    – Bs. Belanda selama 300 tahunan
    – Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    – Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    – Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    – Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    – Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    – Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    – Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    – Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    – Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    – Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    – Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    – Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    – Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    – Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    – Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    – Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    – Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

    – Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    – Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    – Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    – Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    – Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    – Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    – Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    – Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    – Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    – Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    – Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

  3. Mohon direvisi, Agama Hindu tdk terdiri atas Mahayana & amp; Hinayana seperti pada teks. ……….Selain ‘agama modern’ seperti Islam, Kristen (Katholik dan Kristen Protestan) juga Hindu (Mahayana dan Hinayana) dan Buddha (termasuk Nichiren Syosu Indonesia, aliran Buddha dari Jepang)…………… kalo Budha memang Hinayana & Mahayana thank’s


    *** Terimakasih atas koreksinya

  4. mas, aku wong jawa, pancen kudup bisa ‘manjing ajur ajer’ kejawenku dudu dideleng saka klambi lsp, naning saka jatining diri wong jawa, andhap asor, lembah manah lsp.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s