ARTI SEBUAH NAMA

OLEH : PANGGORGA

Saya sadar akan arti nama, baik yang bernama HAPOSAN ataupun tidak bernama HAPOSAN kedua-duanya bisa mencuri uang, apa lagi jika bathin, hati dan pikirannya di penuhi dengan keserakahan dan kekotoran. Nama hanyalah pengenal bagi seseorang, tidakkah saudara memahaminya?

Nama adalah hanya sebagai alat pengenal bagi seseorang, demikian yang pernah diterangkan oleh seorang guru Bahasa Indonesia. Biarpun berfungsi hanya sebagai pengenal bagi seseorang, tak satupun di dunia ini senang dengan nama yang kurang bagus, misalnya; si Malas; si Bopeng; si Nakal; si Bandal dan lain-lain.
Untuk merehabilitir nama yang tercemar dilakukan melalui perjuangan yang berat dan lama. Untuk mempopulerkan sesuatu nama juga perlu pengeluaran biaya. Terkadang untuk mengharumkan atau mempopulerkan seseorang sering diadakan perlombaan atau pertandingan seperti; tinju atau vestifal seni, vocal grup memperebutkan tropi yang puluhan juta harganya yang ditanggung oleh seseorang. Demikianlah harganya nama itu bagi kebanyakan orang.

Seorang penulis Pujangga dan Sastrawan dari dunia Barat yang bernama William Shakespeare pernah berkata tentang nama sebagai berikut, apalah arti sebuah nama, mestinya sungguh berarti bila nama itu telah melahirkan sesuatu yang besar, sesuatu yang sangat berharga, (Shakespeare).

Di Tepi Danau Toba ada satu keluarga dan mempunyai seorang anak yang nama; Parjahat atau sering dipanggil si Jahat. Semenjak bersekolah dari SD, SMP dan SMU, si Jahat sering diperolok-olok oleh temannya dan diganggu. Mereka memanggil; “Kemarilah Jahat!” atau “Pergilah Jahat!” dan lain-lain, dengan berbagai ucapan yang mengganggunya.

Setelah tamat SLTA, si Jahat bertanya kepada orang tuanya, kenapa begitu teganya Ayah memberikan nama saya si Jahat? Dan si Jahat akhirnya memohon kepada orang tuanya agar mereka mengganti nama yang artinya kurang baik itu. Si Jahat merasa namanya itu banyak membawa sial dalam perjalanan hidupnya.

Dengan berat hati dan sedih, sang ayahnya menceritakan kenapa mereka memberikana namana si Jahat. “Abangmu yang nomor satu bernama si Burju, meninggal dunia dalam usia satu tahun. Kemudian ibumu melahirkan lagi dan anak itu meninggal dunia pada usia 6 bulan. Demikianlah ibumu melahirkan anak sampai 9 kali, 8 orang meninggal dan hanya kaulah satu-satunya yang hidup. Ayah dan ibumu menjadi trauma akan kelahiran dan kehadiran seorang anak, makanya kami sepakat membuat nama anak kami si Parjahat atau si Jahat”. Demikian cerita singkat ayahnya kepada anaknya yang di berinama si Jahat.

Kemudian si Jahatpun memohon kepada orang tuanya agar dia diijinkan merantau dan mencari nama yang cocok baginya. Menurut pikiran si Jahat, dia akan menemukan nama di perantauan yang berkesan bagus. Dan yang menarik dalam hatinya adalah nama si Robert, Edyson, Christian, Jonhson dan lain-lain, atau ada lagi nama-nama yang lain berkenan dihatinya nanti di perantauan nanti.

Ayah si Jahat pun berkata; “Pergilah anakku, dan kalau boleh jelajahilah seluruh Indonesia ini sampai kau memperoleh nama yang kau impikan, dan setelah kau dapatkan nama yang kau inginkan cepat pulang, kita ganti namamu serta dan kita umumkan kepada masyarakat luas”.

Anak muda itupun akhirnya berpetualang dari kota ke kota, dari desa ke desa sampai ke Propinsi; Medan, Pematang Siantar, Sidikalang, Tarutung, Sibolga, Pekan Baru, Palembang sampai ke Batam, sampai kepedesaan di jelajahinya bertahun-tahun lamanya. Ketika ia berjumpa dengan sekerumunan orang yang menghakimi seseorang karena mencuri, lalu si Jahat bertanya kepada salah seseorang di antara kerumunan tersebut; “Kenapa dia dihakimi, dan siapakah namanya?” Lalu orang tersebut menjawab; “Karena orang ini mencuri uang dari laci kedai itu, dan namanya si Haposan”. “Apa? Bagaimana Haposan (pengertian Haposan adalah orang kepercayaan red) biasa mencuri ya?” Lalu dijawab; “Benar saudaraku, orang yang bernama Haposan telah tertangkap basah mencuri uang”.

Mendengar hal itu, lalu si Jahat melanjutkan perjalanannya dengan tidak merasa puas akan nama Haposan yang mencuri itu. Enam bulan kemudian disuatu tempat dia melihat seorang wanita menangis dan menjerit, serta melihat beberapa orang mengeluarkan barangnya dari rumahnya. Melihat kejadian itu ia menanyakan kepada salah seorang yang ada ditempat itu; “Kenapa wanita itu diperlakukan sedemikian kejamnya, dan siapa nama wanita itu?” Orang tersebut menjawab; “Wanita itu tidak mampu membayar hutangnya, rumah yang ditempatinya itu adalah sebagai jaminannya, serta batas akhirnya sudah habis, dan hari ini waktu penyitaan rumah dan pekarangannya, namanya adalah; Nur Kaya”. Lalu si Jahat terkejut dan berkata; “Apa? Bagaimana Nur Kaya tidak bisa membayar hutangnya?” Lalu orang yang ditanya si Jahat tersebut menjawabnya; “Benar saudaraku, Nur Kaya telah jatuh miskin dan tidak mampu mencicil utangnya”. Melihat kejadian itu baik Nur Kaya ataupun Nur Miskin keduanya bisa jatuh sengsara serta tidak mampu membayar hutangnya.

“Nama hanyalah pengenal seseorang. Tidakkah engkau mengerti fungsi dari nama itu?”, kata orang yang disampingnya. Lalu si Jahat melanjutkan perjalanannya dengan melangkahkan kakinya, dan tiba-tiba dia bertemu seseorang yang tersesat dan lagi kebingungan. Si Jahat bertanya kepada orang tersebut; “Siapakah nama anda?” Lalu orang tersebut menjawab; “Si Pemandu”, jawabnya. Lalu si Jahat berkata; “Apa? Bagaimana Pemandu bisa tersesat?”

“Si PEMANDU atau bukan Si PEMANDU keduanya bisa tersesat. Nama hanyalah pengenal buat seseorang. Tidakkah anda memahami hal itu?”, kata orang yang disampingnya.

Kini si Jahat merasa puas dengan namanya sendiri dan diapun sudah merasa rindu akan pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun lamanya di perantauan. Akhirnya dia sampai di kampung dan langsung menjumpai orang tuanya lalu berkata; “Pak, ketika saya di perantauan saya telah menemukan bahwa kematian seseorang itu datangnya dari yang bernama Hidup dan Mati, dimana Haposan bisa mencuri dan korupsi, bila jiwanya jahat dan serakah, demikian juga bernama Nur Kaya dan Nur Miskin, keduanya bisa hidup sengsara dan tak mampu membayar hutangnya. Pernah saya bertemu yang bernama Pemandu, padahal orangnya bisa juga tersesat, malah kebingungan. Akhirnya saya menyadari bahwa nama hanyalah sebagai pengenal bagi seseorang. Pak, saya sekarang puas akan nama saya, dan tidak ada lagi maksud untuk menganti nama saya itu”.

Akhirnya si Jahat pun merasa senang tinggal dikampung halamannya dan akhirnya dia membuka sebuah warung untuk mengisi kegiatannya. Dia banyak bergaul dengan orang-orang di kampungnya, dan nama kedainya tersebut adalah “Kedai Kopi Nasional” atau disingkat dengan “KKN”.

Masyarakat kampung tersebut banyak yang datang ke kedai tersebut, ada yang minum sambil ngobrol. Tidak lama kemudian ada orang baru yang singgah di kedai si Jahat, lalu dia bertanya; “Kenapa nama kenai ini KKN? bukankah nama KKN dibenci orang pada saat ini?” Lalu si Jahat pun menjawabnya; “Oh…itukan hanya nama saja, kenyataannya sampai sekarang ini warga masyarakat di kampung kami ini bersih dari KKN (Kolusi-Korupsi dan Nepotisme).”

Janganlah kita terlampau percaya kepada nama saja. Di dunia ini hanya asamlah yang serupa namanya dengan rasanya, selainnya belum tentu. Kita harus ingat tentang ucapan seorang Pujangga Seniman dan Sastrawan Barat yang bernama Shakespeare yang berkata; “Apakah arti sebuah nama, mestinya sungguh berarti bila nama itu telah melahirkan sesuatu yang sangat berharga”. Oleh karena itu, marilah kita bangun desa kita ini menjadi desa baru, desa percontohan, dan desa teladan. Demikianlah harapan kita semua.
(Penulis adalah Ama Morlan Simanjuntak, seorang ahli seni ukir gorga batak, tinggal di Balige)

Iklan

8 thoughts on “ARTI SEBUAH NAMA

  1. Enrico berkata:

    Tapi kau panggil dirimu dengan NAMA… Ama Morlan Simanjuntak… Masih berani bicara nama!!!???

  2. B.Parningotan berkata:

    Nama seorang bayi yang baru lahir diberikan oleh orang tua dan kerabatnya, tapi umumnya pemberian nama cenderung pada apa yang populer pada masanya. Dulu banyak nama Tapiomas di batak, tetapi sekarang lebih banyak nama2 asing seperti betty, Robert dll. Pada waktu Agama kristen datang ke Toba berlomba2 masyarakat mengganti namanya menjadi nama2 yang ada referensinya di Alkitab, juga demikian halnya dengan nama2 Muslim yang ber referensi kepada agamanya. Orang2 yang berkiblat kepada kegagahan memberi nama pada anak2 mereka seperti Ronggur, Lalo TAufan dll, sedang yang berkiblat pada kepandaian memberi nama anaknya Bistok dll.

    yang jelas arti nama lebih cenderung menggambarkan sifat orang tua mereka dan keadaan pada jaman itu.

  3. Bonar Siahaan berkata:

    Apalah arti sebuah nama…. Tapi sesungguhnya nama adalah alamat…alamat menunjukkan dimana orang ber-ada….ke ber-adaan adalah identitas…. identitas adalah nama dan alamat.

  4. betty simanjuntak berkata:

    Syallom Amang, kami sekeluarga dibesarkan di jawa timur tapi asal ompung kami tampahan Balige, Ompung kami sering dipanggil Ompun Jhony. yang saya tanyakan apakah Amang kenal Beliau semasa hidupnya ?

  5. Haposan berkata:

    Dang setuju au dibaen Goar Haposan Pencuri,.Molo boi ikkon di ganti Goar i,ai Au margoar si Haposan gabe merasa Tersinggung….

  6. GIANA berkata:

    PAS MAI ANAK KU PE MARGOAR HAPOSAN DO ALAI DIAU KEPERCAYAAN DO DILEAN TUHAN NI TUHAMI ALNA NUNGGA 3 TAON DIPAIMA HAMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s