Perjalanan Seni Pertunjukan Di Tanah Batak

OPERA BATAK BERAWAL DARI PERTUNJUKAN TUNGGAL

Dari Hasil wawancara Lambaik Manalu dengan Thompson Hutasoit, Manager Pusat Latihan Opera Batak (PLOB)

Salah satu budaya seni yang pernah menjadi tontonan menarik bagi masyarakat batak sebelum adanya media elektronik adalah opera. Seni pementasan cerita ini kini dirasakan sudah mulai terlupakan akibat adanya dominasi teknologi berupa radio, televisi. Bahkan pementasan seni opera batak yang melakonkan sebuah cerita rakyat itu pun kini sudah langka.

Opera Batak merupakan sebuah label dalam budaya batak. Namun istilah opera sebenarnya lebih akrab di Eropa. Pengertian opera di Eropa merupakan drama yang dinyanyikan. Jadi dalam kesenian opera orang sambil berakting, menyanyi dan sekaligus menari. Yang ketiga unsur tersebut saling terkait antara satu dengan yang lain. Mulai dari bagian pertama nyanyian, tarian dan lakon cerita saling terkait. Jadi orang bisa mengetahui hubungan lagu dengan tarian dan lakon.

Awalnya dalam opera batak kesannya memang seperti nuansa yang ada di Eropa, tapi antara nyanyian, musik, tari dan lakon cerita tidak berkaitan. Ada tiga aspek dalam opera batak yaitu tortor, musik atau lagu dan lakon cerita. Dalam pementasan ketiga aspek ini tidak ada kaitannya antara satu dengan lain, dalam opera batak tari, nyanyian dan lakon sepertinya bersaing dalam pementasannya, tapi sama-sama menarik.

Catatan sejarah opera batak dimulai dari sekira tahun 1920-an. Cikal bakal opera batak dimulai dari pertunjukan seni seperti Tilhang Parhasapi, Parjamila atau Parjabalungan. Modelnya seperti pengamen yang pergi berkeliling, berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain atau kerumah-rumah. Pertunjukannya ada yang dilakukan oleh satu orang saja dan ada yang harus dilakonkan oleh laki-laki. Misalnya Parjabalungan adalah seorang laki-laki, tetapi dirinya juga melakonkan seorang perempuan. Perempuan pada jamannya tidak gampang keluar rumah, tampak dijalanan apalagi dalam pertunjukan karena kuatnya tradisi orang batak.

Kemudian berkembang menjadi sebuah seni pertunjukan yang diperkaya oleh cerita lakon yang disebut dengan teater. Timbul pertarungan masuknya budaya baru dan penamaan opera batak menjadi popular oleh seorang Pastor misionaris sekitar tahun 1930-an yang bernama Pastor Diego Van Den Bigglar. Pastor tersebut mempopulerkan opera batak dimulai dari daerah Mogang Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir. Nama opera batak yang bertahan hingga kini. Sebelumnya sempat dinamakan tonil, tonil asia.

Kemudian opera batak mengalami perubahan dengan masuknya pengaruh teater bangsawan. Teater bangsawan ini merupakan gaya pertunjukan yang pementasannya khusus untuk keluarga kerajaan. Sumber ceritanya tetap dari tanah batak tapi pola atau gaya aktingnya diadopsi dari teater bangsawan ini. Bahwa sejak dahulu ditanah batak tidak ada teori tentang lakon atau akting. Diperkirakan ketika para pelaku teater batak pergi ketanah Deli dan melihat teater bangsawan setempat, kemudian mengadopsi pola, gaya aktingnya.

Di opera batak yang sangat dibutuhkan adalah bagaimana seseorang aktor yang memerankan tokoh dapat menjiwa aktor tersebut dan cerita yang dipentaskan. Dalam opera batak pemerannya tidak ada yang menjadi bintang yang menonjolkan keglamouran. Tapi aktor nya berakting sesuai dengan dialog cerita dan konsisten dalam keaktoran. Tapi dulunya actor dalam opera batak tidak konsisten dalam dialog cerita. Semua dialog muncul begitu saja disesuaikan dengan materi ceritanya.

Bahwa dalam opera batak bisa saja terdapat beberapa versi cerita yang pentaskan. Seperti dalam cerita si Boru Tumbaga. Ada satu versi mengatakan bahwa dua orang pria yang melepaskan atau menyelamatkan si boru tumbaga dan adiknya perempuan dari tengah-tengah hutan sudah beristri. Tapi ada versi yang lain mengatakan bahwa kedua pria tersebut masih lajang. Munculnya beberapa versi ini akan mempengaruhi pola akting dalam opera batak tersebut. Akting seorang lajang akan berbeda dengan akting orang yang sudah beristri.

Perjalanan pementasan opera batak sendiri di tanah batak sangat dipengaruhi oleh perkembangan jaman dengan adanya media elektonik seperti televisi. Pertarungan media dalam menyajikan film-film juga memberikan pengaruh, karena opera batak dipentaskan secara langsung dihadapan penonton.

Tapi yang paling mempengaruhi perkembangan opera batak dari dahulu adalah kurangnya regenerasi. Sehingga tidak dapat berkembang, bahkan berkelanjutan pun sulit untuk sekarang ini. Para pemain opera batak terdahulu tidak melakukan Sistem regenerasi kepada pemain-pemain baru.

Tapi harus disadari juga bahwa pemain opera batak saat itu masih belum mengecap pendidikan tinggi. Karena saat itu masih sulit bagi masyarakat batak secara bebas mengakses pendidikan. Hanya bagi orang-orang tertentu saja bisa sekolah. Dengan keterbatasan pendidikan tersebut, pemain opera batak masih mampu menyajikan sebuah pertunjukan yang menarik.

Setelah sekarang ini banyak orang batak sudah mengecap pendidikan bahkan tidak sedikit yang masuk sekolah teater. Namun belum banyak yang melirik bahwa opera batak itu sebuah budaya yang dapat digali kembali. Meskipun direvitalisasi dalam bentuk yang modern namun tidak meninggalkan ciri atau prinsip dasar kebatakannya.

Pernah salah satu stasiun televisi meminta mereka untuk mementaskan opera batak dengan cerita Si Boru Tumbaga yang disiarkan sebanyak 33 episode ternyata surplus penontonnya. Untuk tetap eksis mempertahankan seni budaya opera batak ini, telah dibentuk pusat latihan. Yang akan melatih generasi muda untuk memerankan tokoh dalam cerita yang akan ditampilkan. Bagaimana pengembangan opera batak selalu debenahi, termasuk manajemennya.

Dalam perjalanan pementasan opera batak sampai tahun 1980-an diperkirakan masih ada sekitar 30-an grup opera batak. Saat itu yang terkenal adalah grup Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang pemainnya sudah plural, yaitu ada orang batak, jawa dan lainnya. Bahkan grup ini pernah diundang ke istana oleh Presiden RI pertama alm Soekarno untuk beropera. Sepulangnya grup Serindo ini diberi hadiah.

Opera batak ini dinilai merupakan salah satu benteng untuk mempertahankan dan mempromosikan nilai-nilai budaya yang ada di tanah batak. Karena opera batak ini merupakan seni pertunjukan yang punya potensi khusus dari akar kultural. Meskipun bisa secara fleksibel untuk menerima hal-hal yang baru. Opera batak dalam perjalanannya selalu dalam masa transisi, tidak baku dalam tradisi tapi juga tidak modern.

Dalam catatan sejarah teater di Indonesia bahwa opera batak belum masuk rekap, baik dari tradisi maupun teater modrennya. Bagaimana agar opera batak ini masuk dalam daftar teater Indonesia karena selama ini lebih dikategorikan dalam musik. Selama ini dianggap kalau pemain opera batak itu identik dengan pintar main musik. Padahal opera batak kecenderungannya adalah lakon.

Opera batak dalam menampilkan lakon ada yang diambil ceritanya dari Torsa torsa atau cerita legenda, Turi-turian atau cerita rakyat ada juga dari mitos atau kepahlawanan. Sesungguhnya inventarisasi cerita rakyat batak yang bisa dimainkan dalam opera batak. Disebutkan, bahwa ada seorang Profesor tentang opera batak bernama Rayne Charle di eropa sudah menginventarisir cerita opera batak. Raune juga sudah mentransfer cerita opera batak menjadi sebuah buku dalam bahasa Jerman.

Saat ini dipandang perlu untuk mempertahankan seni budaya batak, maka Pusat Latihan Opera Batak yang berkantor di Pematang Siantar saat ini sedang konsentrasi melatih para pemain muda. Meskipun tetap bekerjasama dengan pemain lama untuk rekonstruksi tentang lakon dan cerita yang ada. Agar inti cerita yang disampaikan dalam pementasan opera batak tidak bergeser dari cerita yang sesungguhnya.

Seperti cerita Siboru Tumbaga yang menceritakan bagaimana perjuangan seorang perempuan batak yang pada masanya sangat kesulitan untuk memperjuangkan hak waris. Karena tradisi batak tempat lahirnya cerita ini, seorang perempuan tidak berhak mendapat warisan jika tidak memiliki saudara laki-laki. Sehingga warisan harta orang tua Si Boru Tumbaga akan diwariskan kepada adik bapaknya yang masih hidup.

Seni pertunjukan opera batak bukanlah sekedar pertunjukkan yang fungsinya hanya membuat orang senang saja. Tapi lebih dari itu, opera batak kini dikemas dalam sebuah cerita yang memberikan pesan nilai-nilai luhur orang batak dalam bentuk perpaduan antara akting, musik dan nyanyian serta tari.

Iklan

11 thoughts on “Perjalanan Seni Pertunjukan Di Tanah Batak

  1. lisbeth tampubolon berkata:

    saya ingin melihat opera batak dong serta ingin mewawancara mengenai opera batak, karena saya tertarik ingin membuat skripsi mengenai opera batak. tolong bantu aku yah. kalo bisa ada juga tarian batak yang sudah lama.

  2. pusat latihan opera batak (PLOt) berkata:

    tonton opera batak “Guru Saman” di gedung aula nommensen pematangsiantar, Minggu 28 Oktober 2007 dan di balai tiara Medan, Minggu 25 November 2007. produksi ini akan dimainkan siswa seminari menengah siantar dengan sutradara thompson hs (direktur artistik Pusat Latihan Opera Batak/PLOt) yang berkantor di jalan lingga No.1 pematangsiantar.
    contact person PLOt: 085270420492 (imelda)

  3. Andreas Simbolon berkata:

    terima kasih untuk layana ini.karena sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah

  4. tigor sitohang berkata:

    Hasil wawancara ini menambah pengetahuan saya tentang Opera Batak. Yang menjadi pertanyaan dalam benak saya:
    1. Apakah ada rujukan pernyataan Anda bahwa
    “penamaan opera batak menjadi popular oleh seorang Pastor misionaris sekitar tahun 1930-an yang bernama Pastor Diego Van Den Bigglar. Pastor tersebut mempopulerkan opera batak dimulai dari daerah Mogang Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir”.
    Saya bangga sekali atas penyebutan nama kampung saya karena saya Sitohang dari Palipi.

    2.Menurut saya, opera batak akan sulit bangkit lagi selama orang batak sendiri tidak menghargai kebudayaannya.
    Apakah yang Anda wawancarai ini (Thompson Hutasoit) adalah Thompson Hs. yang banyak menulis tentang opera Batak? Jika iya, mengapa dia tidak pernah mencantumkan marganya ya? Saya pikir Thompson Hs itu bukan orang Batak yang bermarga!

  5. Johansen Silalahi berkata:

    Sekiranya Pemda Samosir mau mengambil prakarsa dan bersedia memfasilitasi gedung opera permanen yang didukung dengan soundsystem yang bagus, kemudian mengadakan pertunjukan terjadual seperti tari kecak di Bali maka jadilah opera batak menjadi salah satu tujuan wisata di Samosir, saya dan keluarga pasti menontonnya. lagian hanya sektor pariwisata barangkali yang bisa dikembangkan di Samosir. Cina setiap peropinsi punya fasilitas seperti ini. Semoga

  6. PANDA berkata:

    ayo donk sdr2ku orang batak yang punya taleta,hidupkan kembali opera sbg wadah seni budaya. lihat tuh orang Jawa n Sunda,Beawi, banyak jadi artis top melalui pagelaran seni tradisional..Para Mahasiswa Batak..jangan ragu mainkan budaya kita opera Batak.

  7. Rully Panjaitan berkata:

    Dari tahun 2000 saya sudah mencoba membuat opera batak. Namun bentuknya dalam opere batak musical..

    Tahun 2009 ini lagi dipersiapkan opera tersebut…

    Tunggu tanggal mainnya…

    rully panjaitan
    081361001123

  8. wendy darmawan berkata:

    saya mau untuk membantu menghidupkan kembali opera batak.. dulu ketika saya kuliah d pulau jawa saya aktif d sebuah BSO SASTRO BUDOYO yg ada d kmpus dan ada satu divisi yaitu Ketoprak Lesung Sastro Budoyo. saya rasa antara opera batak dgn ketoprak tidak ada bedanya hanya pada bahasa dan setting tempat yg beda. kalau masalah cerita juga sama2 mengangkat cerita2 rakyat local.. apabila memang ada yg akan berproses untuk opera batak ini saya siap membantu.. terus terang untuk daerah di luar jawa kesadaran akan kesenian dan kebudayaan masy lokal masih sangat minim sekali untuk saat ini. terutama sumatera utara ini sendiri yg nota bene adalah INDONESIA KECIL.. terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s