SAPING BULANG-BULANG

Tulisan ini dikutip dari Catatan pertinggal Almarhum Gr. Mulia Pitara Siahaan tahun 1988 yang diberikan kepada bapak Raja Bilher Marpaung.

Saping ialah pakaian Kerajaan. Saping Singa ialah Pakaian Sisingamangaraja. Saping Padang Ursa ialah Pakaian Raja Sorinomba. Saping Gajah ialah Pakaian Panglima Kerajaan. Dan Saping Bulang-bulang ialah Pakaian Raja yang berjasa luar biasa.

Hanya pada keempat kelompok ini digunakan Batak Toba digunakan saping. MARSAPING MANGKATAI ialah ucapan seseorang yang selalu sopan dan beradab berbicara. Bulang-bulang berasal dari kata Bulang. Bulang artinya kain penutup mata. Kerbau atau Lembu, yang ditarik dari Dusun ke Kota, selalu dibulang, supaya jangan meronta bila dilihatnya orang ramai. Dulu kala, musuh terkepung, bila dianggap sulit ditempatkan jadi budak, dia dibulang dan dibunuh. Maka bulang itu, membulatkan pikiran untuk menempuh arah penderitaan. Sering Bahasa Toba, bila diucapkan dengan kata ulang jadi berobah artinya, demikianlah kata bulang-bulang. Maka Bulang-bulang artinya membulatkan pikiran menjurus pada ketekunan dan keuletan untuk melaksanakan kebahagiaan rakyat. Yang berhak menerima Bulang-bulang, ialah orang yang berjasa luar biasa dan keturunan Raja.

Menurut Batak Toba: Orang yang berjasa tanpa Keturunan Raja, Pengalaman menentukan bahwa perbuatannya NDANG GOK DIRUHUTNA arti bebasnya pejuang tidak sempurna. Biasanya perjuangannya tidak dibarengi Kesalehan dan cinta kasih pada rakyat kecil. Serupa dengan Hitler pada Perang Dunia kedua, memakasakan tenaga rakyat diluar kemampuan. Sipenerima Saping Bulang-bulang, disamping jasa luar biasanya, seharusnya tidak pernah berbuat keresahan. Karena Saping Bulang-bulang, adalah pakaian kebesaran Raja-raja. Sedang Raja tidak boleh ceroboh pada sesuatu perbuatan diluar kesopanan dan peradaban, apalagi yang menimbulkan keresahan rakyat.

Autentiknya disaat ini : Keturunan raja-raja Batak, jarang mereka Koruptor atau meminta uang terimakasih. Hal-hal itulah penyebab, pemberian Saping Bulang-bulang dikuatiri penyerahannya bagi sembarang orang. Defenisi penghidupan Batak Toba : RAJA DO URATNI UHUM JALA SIPALUMBANG HOSA LOJA, arti bebasnya : Raja harus pengendali Rechtsouvrenitas dan pengendali Volksouvrenitas. Tanpa URAT NI UHUM yaitu Rechtsouvrenitas Jasa jadi mandul. Dan tanpa SIPALUMBANG HOSA LOJA Yaitu Volksouvrenitas jasa jadi hampa. Maka sipenerima bulang-bulang tidak boleh luput dari defenisi penghidupan itu.

Itulah penyebab, Jika hendak diberikan pada seseorang Bulang-bulang, harus dicarikan lebih dahulu genetiks-byografi. Karena Raja bagi Batak Toba bukan ningrat, melulu orang berjasa atau keturunan orang berjasa. Menurut Cerita : Pernah seorang rakyat jelata dianugerahi Saping (pakaian) Bulang-bulang. Selesai tugasnya sipenerima Bulang-bulang jadi perampok, dan keturunannya kebanyakan jadi perampok. Itulah penyebab, untuk memberikan saping Bulang-bulang, diperlukan Batak Toba ilmu keturunan.

Sejak Maharaja Pitara Ing Banua, Simarimbulubosi, Sirajauti dan Sisingamangaraja jadi Kepala Kerajaan Batak, masing-masing Kepala Kerajaan itu sering menyamar, dengan mengenakan pakaian Compang-camping, untuk retro dan intro inspeksi diwilayahnya. Cara itu dibuatnya mengutuk orang kaya kikir dan Raja pendurhaka. Retro dan intro inspeksi itu dilakukan Kepala Kerajaan, bila disuatu daerah terjadi malapetaka, ibarat : Gempa bumi, kemarau berkepanjangan, banjir pelongsor, harimau mengganas, hama merusak padi dan lain sebagainya. Karena menurut keyakinan Batak, bila malapetaka terjadi, adalah disebabkan dosa Raja-raja daerah. Ditilik dari keyakinan inilah, membuat Batak Toba hati-hati menganugerahkan Saping Bulang-bulang, dikuatiri jika sipenerima Bulang-bulang berdosa, akan menambah malapetaka pada rakyat. Dan bagi Raja yang berjasa luar biasa, selalu diberikan Batak Toba Saping Bulang-bulang.

Karena Saping Bulang-bulang itu, merupakan Bintang jasa tertinggi. Tetapi setelah penjajahan, pemberian Saping Bulang-bulang jarang terjadi, membuat jarang pula diketahui pemilik adatnya, disebabkan pepatah :

“Nungnga punggurpunggur gabe sapa, nungnga olo naburiapus gabe raja”

Naburiapus artinya manusia egoistis. Mereka ialah orang kaya kikir, abang adiknya pun dilepaskan sengsara. Dan orang cerdik yang tidak pernah membela kepentingan rakyat, malahan kedua duanya berbuat sebalik/dengan kata lain menghisap darah rakyat.

Cara pelaksanaannya:

Bulang-bulang diberikan dengan MARTUAHON INDAHAN NALAS yaitu dalam jamuan makan. Pada perjamuan dipotong SISEMET IMBULU Yaitu seekor lembu, atau LOMUK SIPARMIAK-MIAK yaitu seekor Babi, disertai DENGKE NA MAR-BURERAN yaitu Ikan yang hamil telur. Kerbau atau ternak lainnya tidak boleh. Maka sipenerima Saping Bulang-bulang di dudukkan pada HALANGULU yaitu tempat terhormat. Dan dikenakanlah Saping Bulang-bulang. Selesai dikenakan, disugukanlah makanan yang disebut ULIAN NI RAJA yaitu santapan kebahagiaan Raja dan disulangkan. Seorang menyulangkan nasi, seorang menyulangkan daging, seorang menyulangkan ikan bertelur dan seorang sipemberi minum. Selesai sipenerima Saping Bulang-bulang disulang makan, maka disugukanlah NAPURAN SIMAULIATE yaitu sirih ucapan terima kasih. Dikala sipenerima Saping Bulang-bulang makan sirih, disaat itulah sipemberi bulangbulang makan. Dan pada sipenerima saping bulang-bulang tidak boleh dijemput PARBUE SIPIRNI TONDI yaitu ditepung tawari, karena jiwanya cukup kuat.

Itulah yang disaksikan penulis dikala penyerahan saping bulang-bulang pada A.S.T. SIAHAAN SH, yang diselenggarakan Raja-raja yang berusia 70 sampai 90 tahun pada tahun 1973 di Baligeraja.

Ceritanya :

  • Ompu Sinomba membuat tali air yang dinamai BONDAR TARABUNGA, panjangnya sekira lima kilometer, dengan melalui jurang puluhan meter dalamnya, melilit dibukit 150 derajat, dan melalui batu-batu pahatan. Andaikata Dinas Pengairan yang sekarang membuatnya, akan menelan biaya miliaran rupiah. Dalam alat-alat primitif, Ompu Sinomba dapat melakukannya. Dan tali air itu dapat menggenangi sawah puluhan hektar. Maka seluruh rakyat membulang-bulanginya, dengan defenisi RAJA URAT NIHOSA yaitu Raja pembangunan.
  • Selesai diserahkan Saping Bulang-bulang, namanya pun diganti dengan nama OMPU SINOMBA Yaitu manusia yang harus dihormati. Atas usahanya itu, timbullah pepatah : Binanga siporing binongkakni tarabunga, Tu sanggar ma amporik tu ruang ma satua, Sinurma napinahan jala tugabena naniula, Simbur magodang ma dakdanak ulluson pura-pura, Tu togosna namagodang jala penggeng lao matua, Manumpak mula jadi saur matua Ompu Sinomba.
  • Maka Belanda memasuki Baligeraja, dan Tarabunga diperintah Raja Ihutan Ompu Raja Huala dari Lumban Silintong, termasuk Ompu Sinomba didalamnya. Sekitar Tarabunga telah ditempatkan Belanda Raja Ihutan, di Tanggabatu Ompu Baja yang digantikan pula Ompu Badia Porhas. Digurgur Ampar Hulanlan alias Guru Tahuak. Di Meat Ompu Sanduduk. Di Lintongnihuta Ompu Sotaronggal dan Ampar Hutala. Dihinalang Guru Sosuharon. Dipagar Batu Guru Tinuturan.
  • Maka tidak ada alasan bahwa Tarabunga tidak diperintah Raja Ihutan lagi. Tetapi setelah beberapa tahun kerajaan Ihutan, maka penjajah Belanda memanggil Ompu Sinomba, untuk diangkat jadi Raja Ihutan dengan alasan : Tidak layak Saping Bulang-bulang diperintah Mahkota Raja Ihutan. Membuat Ompu Sinomba jadi Raja Ihutan Terakhir di Baligeraja.
  • Dikala Kolonial Belanda memasuki Balige Raja, devide et impera terjadi, membuat permusuhan antara desa dengan desa berkecamuk, dengan menggunakan senapang dan intai mengintai. Jabatan Raja Ihutan telah ditempatkan Belanda di masing-masing desa, namun Baligeraja masih merupakan daerah tidak bertuan. Permusuhan bukan karena pro dan kontra, di rakyat sehaluan pun terjadi permusuhan.
  • Maka ada seorang bernama Tuan Diraja Ama Tumiang. Beliau adalah anak sulung Raja Sorinomba Siadong almarhum Patuan Nabisa. Segala permusuhan dapat didamaikan Tuan Diraja Ama Tumiang, membuat seluruh rakyat kembali Damai dan sejahtera. Atas jasa-jasa baiknya, rakyat memberikan Saping Bulang-bulang padanya, dan menetapkan predikat nama AMPAR JANGGUT, dengan makna : Tali Janggut perdamaian. Menurut Batak Toba : Tali Janggut ialah Pengikat atap dengan rumah. Sedang nama kecilnya Tuan Diraja, yang dinobatkan dimasa kecilnya dari nama nenek moyangnya. Pernah ditawarkan Belanda supaya Tuan Diraja jadi Raja Ihutan, tetapi tidak diterimanya, karena selalu gigih mempertahankan kerajaan Sisingamangaraja.
  • Tetapi setelah kerajaan Sisingamangaraja tidak berkuasa lagi, maka Belanda memberikan kampung Voorming padanya untuk Saping Bulang-bulangnya jangan dibawah mahkota Raja Ihutan, sekalipun Tuan Diraja tidak mempunyai rakyat, yaitu mempunyai daerah.
  • Pada Tahun 1909 Tuan Diraja Ampar Janggut meninggal. Seluruh rakyat sekitar masing-masing memanggul senjata, dan menembaki Bambu di tembok perkampungannya, membuat daun bambu jadi masak dan rontok. Adat PANOMBAAN NI UHUMNA yaitu kurban meninggalnya seekor kerbau dari rakyat, jadi penghormatan terakhir. Upacara penguburannya ditentukan raja-raja dengan adat MAMARIS dengan mendaulatkan Parjambaran Horbo Nurnur, yaitu mendirikan beberapa panggung yang disebut PANSA, untuk seluruh penduduk dapat menerima jambar dengan baik.
Iklan

3 thoughts on “SAPING BULANG-BULANG

  1. Santabi Lae Monang, hea hubege molo nungga matua natau-tua dibagasan Saur Matua Maulibulung, molo mambagi jambar ninna sian pansa ma ninna pambagi jambar tikkos do songoni ?

    **** Ninna natuatua songon i do, alai angka raja do i jala “uja” manotari roha dohot ngolu ni angka natorop. Ai molo sigotil monis do dang olo mangurupi jala dang adong hata siingoton jala dang adong raja pangalahona, ba, dang sai dibahen sisongon i tung naung saurmatua ibana.

  2. Saor Silitonga berkata:

    Mauliate di hamu Rajanami. Namalo do bangso Batak i hape, mameakhon angka ulaon dohot ruhut-ruhutna sasude. Sotung loja hamu mambahen angka hatorangan sisongonon…unang gabe mumpat hita sian tano dohot adat ta nauli i. Horas Rajanami….mauliate.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s