Reflexi Peringatan 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja Xll

Adalah menjadi catatan akhir panitia, dengan menangkap uraian dan elaborasi dari para narasumber dan peserta, diharapkan ada yang menjadi catatan penting bagi kita tentang nilai-nilai positif yang melekat dalam budaya batak dalam rangka membangun nilai-nilai budaya di Sumut maupun di Nusantara.

Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja Xll dilaksanakan oleh Panitia Sumut di Deli Room Hotel Danau Toba Internasional, Medan 26 Mei 2007
TEMA Seminar : RAJA SISINGAMANGARAJA XII SIMBOL PEREKAT MASYARAKAT INDONESIA
Sub TEMA : BATAK DAN KEBATAKAN DALAM KONTEKS KINI & YANG AKAN DATANG

Miduk Hutabarat : (Untuk mem-prosedingkan hasil seminar dan dialog interaktif. Dan juga tanggapan untuk membangun kebudayaan kita di tanah air)

I. LATAR BELAKANG

Perlunya refleksi kembali tentang sejarah panjang perkembangan Masyarakat Batak sebelum dan sesudah masuknya Belanda dan setelah masuknya misi Injil di Tanah Batak hingga memasuki 62 tahun kemerdekaan NKRI.

Seharusnnya pembahasan tentang masalah ini bisa diperoleh dalam makalah STRATEGI POLITIK SISINGAMANGARAJA XII DALAM MERESPON PERUBAHAN SOSIAL POLITIK DI TANAH BATAK. Mengingat batasan waktu tidak ada dalam judul makalah ini. Dan semula sudah dipesan, supaya dampak negatif dari otonomi supaya diulas sekalian. Dan juga bagaimana sebenarnya sistem politik dan kepemimpinan lokal yg strategis untuk di kembangkan di daerah. Namun sayangnya, pemakalah tidak sempat memberikan headline tersebut pada penyampaian makalahnya.
Khusus penjelasan tentang corak hidup sebelum dan sesudah masuknya agama, tidak sempat ter-cover mengingat jumlah narasumber yg akan membludak, menjadi tidak cukup waktu yg tersedia. Akhirnya tidak ada yg mewakili dari kelompok agama. Islam Sumbar, Silam Wahabi Dalu-Dalu, Protestan Tapanuli, Dairi, dan Katolik.

Mengingat perkembangan Masyarakat Batak saat ini di Bonapasogit dan di perantauan dalam serta luar negeri. Dalam rangka memperkukuh identitas diri, Masyarakat Batak perlu menginterprestasikan kembali nilai-nilai Batak dan Kebatakan dalam konteks kini dan yang akan datang..

Pembahasan ini di susun dalam dialog; mengingat belum ada hasil kajian yang dilihat panitia yang dapat memberikan rujukan. Namun karena isue-isue etnisitas semakin menguat, maka topik ini tetap menjadi prioritas pembahsan. Dengan pertimbangan, Sang narasumber dapat membangun dialog dan mencari pandangan-pandangan dari floor, untuk menjadi bahan masukan bagi narasumber, panitia dan pendengarnya. Sehingga pertimbangan untuk menghadirkan Pstr. Dr. Togar Nainggolan, mengingat buku yang sudah di publis oleh beliau tentang Identitas Batak Perantau. Namun pada sajian makalahnya, penekanannya pada pemetaan sosial masyarakat batak dalam konteks Sumut. Yang seharusnya; identitas yang dimaksud; produktivitas, mentalitas dan moralitas orang/masyarakat bataknya. Sekaligus, duet antara Identitas Batak dengan Dalihan Natolu menurut panitia, sudah cukup kaya dalam memberikan perspektif tentang identitas itu bagi peserta.

Konteks identias ini termasuk masalah tanah. Karenanya, ada topik : Sejarah Golat di Tanah Batak. Sekalipun Beliau tidak bisa lebih cepat datang, namun makalahnya masih kita tunggu hingga ke depan. Mengingat tulisan yg masih di sampaikan kepada Panitia, tentang sejarah perlawanan Raja SM XII. Semoga masalah tanah di tanah Batak sudah menjadi pemikiran kita bersama, mengingat daya tarik inestor yang dilakukan oleh Pemkab, adalah penyediaan tanah yang relatif murah buat mereka. Bahkan sudah mulai dirancang Perda-Perda di tanah Batak, untuk mendorong supaya tidak ada lahan tidur. Celakanya, yg tidak diusahakan oleh masyarakat akan diambil alih oleh Pemkab!

Mengingat berangsur-angsur semakin punahnya cerita dan pemahaman masyarakat Batak tentang situs-situs sejarah Batak dan khususnya sejarah perlawanan Raja Sisingamangaraja XII.

Hal ini memang tidak signifikan memberikan arahan yang jelas bagi pengembangan situs-situs kerajaan Sisingamangaraja I – XII, dan situs-situs batak laiannya. Yang seharusnya, dapat memberikan wawasan bagi peserta, bagaiaman melakkan konservasi, atau revitalisasi dan preservasi bagi situs-situs di tanah batak. Sekaligus, dalam kesempatan pada napak tilas, terpetakannya rute perjalanan gerilya Sisingamangaraja XII pada waktu melakukan perlawanan terhadap Belanda. Idea ini masih membutuhkan usaha lanjut dan yang cukup keras, mengingat, secara fisik, pembangunan yg dilakukan oleh negara paska merdeka, kurang sensitif terhadap hubungan antara dulu k ini dan yad. Artinya, secara tata ruang dan infrastrukturnya, mana jalan-jalan yang di buka oleh nenel moyang, dan mana oleh Belanda, dan kemudian dilanjutkan oleh mana masa kemedekaan. Sangat sulit bagi kita orang awam untuk mengidentifikasinya. Ini adalah suatu pekerjaan berat kita semua.

Tantangan identitas diri Masyarakat Batak di masa depan.

Sudah menjadi rasia umum, disamping stigmasi yang melekat pada pompaan si raja Bataka. Namun predikat sukses di hampir semua line di masyarakat sudah tidak bisa di nafikan. Dalam dan luar negeri. Namun perlu mulai dipikirkan oleh Pomparan Batak, bagaiaman Sukses secara bersama? Tanpa kerjasama; akan sulit melahirkan lembaga-lembaga atau perusahaan Besar dalam membangun pengaruh yang lebih luas. Belum ada Incorperate Batak yang cukup Besar di Negeri ini? Atau sebuah Bank yang sahamnya terbesarnya dimiliki oleh orang Batak. Atau yang sahamnya adalah milik pomparan si raja Batak? Dalam arti bukan membangun sebuah kesombongan etnis. Atau Chauvinis! Tetapi Suskses karena keampuan bekerjsasama juga adalah suatu mentalitas yang diperlukan dalam menjawab tantangan dan permasalahan yang besar dan kompleks. Bagaimana mungkin kita bisa mengolah resourches negeri ini kalau solidaritas dan nation building tidak dilahirkan !

Perlunya membangun persaudaraan dan solidaritas kemanusiaan dari nilai-nilai Batak dan Kebatakan dalam konteks kini dan yang akan datang.

Berkaitan sangat dengan paragraf diatas. Hanya lebih diperjelas, bahwa Batak itu ada yang Parmalim, Parbaringin, Islam dan Kristen Katolik, Protestan, Injili dan Karismatik. Tanpa adanya persaudaraan yang kuat : Sejati ? Sama saja. Semuanya akan menjadi sekat-sekat dalam kehidupan sosial kita. Artinya, ketegangan antar umat pemeluk agama turunan Pomparan si raja Batak ini harus kita cairkan. Akhiri ! Supaya ada perkembangan lanjut dan sehat di tengah-tengah masyarakat. Tadinya materi ini oleh Panitia ingin mendaulat Pstr. Anecitus Sinaga. Atau dari Pdt. Budha dan Tuan Syeck Ali Akbar Marbun. Namun masing-masing tidak bisa meyanggupi permintaan panitia, berhubung sudah ada jadual yang harus dilakukan.

Dalam rangka mencari sumbangsih nilai-nilai Batak dalam membangun modal sosial di Indonesia, Sumut dan Tanah Batak .

Adalah menjadi catatan akhir panitia, dengan menangkap uraian dan elaborasi dari para narasumber dan peserta, diharapkan ada yang menjadi catatan penting bagi kita tentang nilai-nilai positif yang melekat dalam budaya batak dalam rangka membangun nilai-nilai budaya di Sumut maupun di Nusantara. Hal ini juga tidak sempat di eksplorasi!

Dalam rangka membangun persaudaraan sejati manusia di tengah-tengah masyarakat yang semakin plural.

Dan dilanjutkan oleh uraian Pak Nin, sebenarnya sudah mulai disinggung tentang etnistis yang lokal kemudian menggelobal/menusantara ? Namun sayangnya, menjadi kurang ilmiah karena tidak disertai suatu metoda pendekatan yang jelas. Seakan-akan kita hanya dibawa untuk bernalar secara comoun sence sifatnya. Kurang dapat dipertanggungjawabkan, dan toh akan mengalami kesulitan ketika kita mulai masuk untuk memformulasikannya supaya menjadi suatu pedoman yang menasional.

II. MAKSUD & TUJUAN

Maksud SEMINAR adalah media untuk menyampaikan dan menghimpun buah-buah pemikiran dari para Sejarawan, Akademisi, Budayawan, Agamawan, dan para praktisi serta anggota masyarakat di Sumut, untuk disampaikan kepada Pemerintah, Lembaga-lembaga terkait dan universitas yang consern dalam pengembangan budaya batak dan kebatakan.

Menurut hemat Saya, yg telah membaca ketiga buku di atas, dan buku lainnya. Memang tidak banyak gagasan baru yang dipaparkan, apalagi berdasarkan suatu penelitian terbaru yg dilakukan. Memang sangat nayata; setelah buku Adniel Tobing yg berjudul : Sisingamangaraja I XII ( tahun 1953), O.L Napitupulu, SH : Perang Batak (1972) dan Prof. W.B Sijabat : Ahu Sisingamangaraja (1982), benarlah bahwa tidak ada lagi penelitian lanjut yg kemudian dilakukan oleh para ilmuwan kampus khususnya Sumut. Seakan-akan kisah kontroversi yg pernah dilakukan oleh Muhammad Said di koran Waspada tahun 1980-an (seperti penjelasan Pak Ichwan Azhari), seakan-akan melemahkan gairah untuk melakukan kajian tentang sejarah dan Sosok Raja Sisingamangaraja XII tersebut.

Benar bahwa, karena kesadaran itulah mengapa Panitia benar-benar memperjuangkan supaya Panitia Sumut menggelar seminar ini. Sekalipun Panitia Nasional sudah membuat seminar juga. Dengan alasan karena, Panitia Medan membaca tentang kebutuhan akan hal itu. Sehingga Medan tetap ngotot membuat seminar juga, mengingat substansi : tema dan judul-judul yg telah disampaikan oleh Panitia Jakarta kurang menjawab kebutuhan lokal Sumut ! Hanya saja kemudian, karena pelaksanaannya yang terkesan berdiri sendiri. Hanyalah karena waktu yg tidak bisa bersamaan dilakukan. Tadinya, Panitia Medan siap saja jika dilakukan 2 hari; sehari untuk Tema Nasional dan Sehari Untuk Tema Sumut. Namun Sayangnya, kedua Panitia tidak bisa ketemu dalam masalah waktu tersebut.

Membuat momentum untuk mereposisi dan mereinterpretasikan kembali tentang Batak dan Kebatakan dalam konteks kini dan yang akan datang.

Panitia mencermati dari situasi dan kondisi yg ada; bahwa Batak dan Kebatakan kita sudah saatnya di-re-interpretasi-kan dan di-konstruksikan kembali batak dan kebatakan yang ada. Sesuai dengan kondisi sosial kota dan perdesaannya. Mengingat penyesuaian Dalihan Na Tolu yg selama ini dilakukan, masih/hanya menjawab permasalahan masyarakat Batak Perkotaan. Sedangkan Masyarakat Perdesaan cenderung di/terabaikan. Padahal situasi yg dialami justru berbeda.

Kemudian yang dimaksud hal diatas; bahwa Batak dan Kebatakan tidak sama dan sebangun dengan orang batak kristen saja. Bahwa kenyataannya Pomparan si Raja Batak, ada yang Parmalim, Islam dan Kristen. Batak tidak yg Kristen saja. Tetapi semua pomparannya. Oleh karena itu, Panitia menganggap sangat mendesak supaya kita mendesain kembali persaudaraan yang sesungguhnya diantara kita pomparan Batak yg selama ini masih terselubung sama sejarah gelapnya kita. Menurut Saya, hanya butuh keberanian saja untuk menyingkapkannya.
Target Panitia awal, minimal kita sudah mulai membicarakan situasi gelap yang membayangi kita dalam konteks Sumut. Sekalipun Sayangnya, Tuan Syech Ali Akbar Marbun yg dianggap paling tepat untuk membawakan materi tersebut, tidak bisa hadir pada seminar itu untuk mencerahkan para peserta. Dan sekaligus merekomendasikan langkah-langkah konkrit untuk membangun persaudaran sejati itu di Sumut.

Upaya untuk menampung berbagai perspektif, gagasan dan konsep untuk melakukan proses rekonstruksi, revitalisasi dan preservasi terhadap situs-situs budaya dan situs-situs sejarah Raja-Raja Batak dan Raja Sisingamangaraja secara umum, dan secara khusus terhadap situs-situs perlawanan Raja Sisingamangaraja XII.

Banyak Situs-Situs kebatakan kita kurang mendapatkan perhatian untuk di kembangkan. Dalam konteks kuburan, semakin banyaknya sarkofagus (mengingat bisa menjadi informasi tentang keberadaan nenek moyang di masa lampau), yang mulai habis. Bahkan kurang di rawat. Sekalipun tugu-tugu perorangan/keluarga maupun pomparan marga kualitasnya semakin membaik. Namun keberadaannya masih belum disesuaikan dengan tataguna lahan dan tataruang yg dikembangkan. Sehingga peruntukan di sepanjang jalan (daerah yang lebih ekonomis) malah lebih di dominasi oleh kuburan-kuburan yg sifatnya budaya.
Termasuk situs-situs kampung Batak. Benar bahwa beberapa rumah-rumah Batak di Samosir sudah di inventarisir oleh dinas parawisata. Tetapi bagaimana pengembangannya dalam konteks skala kampung belum terpikirkan secara menyeluruh. Sehingga, bagaimana merevitalisasi kampung-kampung leluhur yang memiliki nilai-nilai Batak dan Kebatakan kita, belum jelas konsep pengembangannya hingga saat ini.

Menurut pengamatan sementara, hal ini besar disebabkan karena masyarakat Batak memang kurang terbiasa membangun aset-aset bersamanya? Apakah setelah meninggalkan agama aslinya ? Apakah masih perlu menjawab ini, terserah kepada masing-masing kita. Namun yang jelas, adalah tantangan buat kita keturunan si Raja Batak. Rendahnya perhatian masyarakat batak tehadap urusan bersama/publik di kampungnya. Perhatian kita terhadap saluran air kotor, pengadaan air bersih, WC umum dan pengaturan tentang masalah ternak seakan-akan suatu hal yang sulit dilakukan hingga saat ini .
Apakah hal ini tidak perlu menjadi perhatikan kita ke depan ?

Media untuk memekarkan upaya-upaya para pegiat dan pencinta kebudayaan; Melayu Pesisir Timur dan Melayu Pesisir Barat. Angkola, Toba, Karo, Simalungun dan Pak Pak. Serta etnis lainya ; China dan India.

Memang sama seperti halnya ungkapan konyol yg mengatakan; Sungguh ajaib kalau Tikus Mati di Lumbung Padi ! Demikian kondisi masyarakat Indonesia yg masih dilanda kemiskinan saat ini. Kaya tapi Miskin ! Medan kaya dalam hal aset budayanya ; memiliki 6 etnis lokal, ditambah beberapa etnis lainnya. India, Arab dan China. Namun belum menjadi perhatian yg strategis bagi penguasa di kota Medan dan Provinsi Sumut umumnya. Bagaimana mengembangkan aset budaya tersebut.

Tidak ada daerah-daerah asal dari masing-masing etnis yg dijaga oleh Pemerintah dalam pengembangan kedaerahannya. Tanpa bermaksud mempertebal sentimen kedaerahan. Bukankah seharusnya, Karo, Langkat, Gayo Alas, Tobasa, Samosir, lainnya bisa menjadi daerah yang unik di nusantara. Jika pembangunan berbasis pada memperkuat identitas yang ada. Jika program yang dikembangkan beanr-benar dapat memberikan nilai tambah bagi penguatan masing-masing etnisnya.

Etnis di Medan hingga saat ini belum optial untuk di kembangkan. Jika pengembangan ini tepat dilakukan, bukankah Medan akan menjadi kota yang sangat menggairahkan ? Sudah barang tentu bagi semua kalangan, karena tetap ada irisan dengan etnisnya masing-masing. Namun hingga saat ini, hal itu belum mendapatkan tempatnya. Kekuatan ekonomi yang sungguh mendominasi generasi ini, membuat potensi kebhinnekaan itu menjadi lumpuh. Bahkan terdesak pingsan ke tepi galian Kuburnya. Sungguh memilukan !

Sebagai ajang untuk mendorong para akademisi dan budayawan untuk terus semakin giat melakukan penggalian-penggalian terhadap situs-situs budaya dan sejarah di Tanah Batak.

Sebenarnya harapan Panitia sangat besar bagi para narasumber dalam menyumbangkan pemikirannya pada seminar tersebut. Bahkan dengan sempat memberitahukan, supaya dokumentasi tulisan bermanfaat bagi di masa depan. Di beri kesempatan hingga tanggal 30 juni 2007 untuk melengkapi makalahnya. Dengan tujuan, supaya di prosedingkan. Bahkan semula sempat mau dijadikan buku saja.

Oleh kaena itu, Panitia dengan berani membuat terobosan dengan memberikan apresiasi yang pantas kepada para narasumber. Adalah dengan sadar untuk memicu dan memotivasi serta menghidupkan iklim penelitian sejarah sosial budaya bagi para akademisi dan ilmuan di Sumut. Mengingat potensi yang ada di Sumut, amat dan teramat layak menjadi suatu aset bagi pengembangan Budaya Nusantara di masa depan !

Tujuan seminar itu dilakukan antara lain :
1. Menghimpun dan mensosialiasikan kembali temuan-temuan baru tentang khasanah kesejarahan Budaya Batak dan semangat perjuangan dari Raja Sisingamangaraja XII dalam konteks kini dan yang akan datang
2. Menjadi momentum bagi masyarakat, untuk bangkit membangun persaudaraan sejati di Indonesia, Sumut dan tanah batak
3. Reposisi terhadap Naskah Persiapan UUD 1945 tentang Sejarah Perlawanan Raja Sisingamangaraja XII yg tidak dicatatkan oleh Prof. HM Yamin, bahwa Perang Batak sebagai perang melawan penjajah Belanda
4. Menginterpretasikan kembali tentang Batak dan Kebatakan dalam konteks kini dan yang akan datang
5. Menjadi momentum untuk mensukseskan Kawasan Danau Toba Menjadi Objek Wisata Nasional dan Dunia
6. Menjadi momentum bagi masyarakat Sumatera Utara, Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota, untuk mewujudkan iklim kerjasama seluruh Kabupaten/Kota se-Sumut
7. Menjadi momentum bagi Masyarakat dan Pemerintah untuk memperbaharui komitmen tentang visi Pemerintah Pusat Provinsi/Kabupaten/Kota dalam menjabarkannya dimasing-masing Kabupaten/ Kota.

Catatan Khusus

Perlu Saya informasikan kembali, khususnya Pak Prof. BAS, DR. Subanindiyo, Dr. Ichwan, Pdt. DarwinTobing, drs. Irwansyah Harahap, Ir. Monang Naipospos, yang tidak hadir pada acara Seminar yang dilakukan Panitia Nasional Jakarta di Pesantren Al Kautsar. Antara lain :
1. Pada saat Seminar yg dilaksanakan Panitia Nasional; Parakitri Simbolon menyarankan, supaya sebelum kita membangun Museum dan Situs-Situs Sisingamangaraja di Bakara. ( Menurut berita terakhir 15 Juni 2007, bahwa akan dilakukan pencanangan pembangunan Museum di Bakara). Saran Beliau, lebih baik kalau kita mendirikan lembaga kajiannya saja dulu, supaya tidak salah dalam membangun dan mengelola Museum tersebut. Seperti pada banyak tempat yang sudah terjadi.
2. Dan gagasan tersebut sudah ada pada Gagasan Beliau, bersama Jansen Sinamo waktu di Jakarta. Bahkan sudah menyampaikan kepada floor tentang kontak person Mereka di Medan. Hanya tidak menyebutkan siapa namanya.
3. Memang di Medan sudah ada lembaga Sisingamangaraja, dan universitasnya. Namun yang kita liat hanya masih sebatas mengusulkan nama Jalan, membangun tugu dan beberapa sekolah. Bisa aja hal itu besar dipengaruhi oleh situasi dan zaman yg ada. Bahwa pembangunan yg dilakukan adalah bersifat fisik semata. Sehingga belum ada yg membedakan secara spesifik buat kita sampai saat ini, apa yg membedakan para lulusan Universitas Sisingamangaraja dibanding dengan lulusan lainnya. Kondisi Inilah yg terjadi bukan ? Apakah hal itu kita biarkan terus ?
4. Misalnya seperti apa yang sudah terjadi ; jelas ada bedanya Lulusan SMA Karang Taruna dengan Lulusan Pompes Al Azhar. Atau SMA negeri dengan SMA Plus Soposurung! Lalu apa bedanya sarjana pertanian RSM XII dengan sarjana dari universitas Unika?
5. Harusnya, melalui sosok Sisingamangaraja XII yg sudah menasional, kita bisa mengangkat lebih lanjut tetang Batak dan Kebatakan kita. Dalam arti yang positif tentunya. Sehingga Situs Kerajaan Sorimangaraja, Situs Kerajaan Hatorusan, dan Situs-situs Si Raja Batak semakin di ungkap, dimana kelak bisa menjadi sumber pembelajaran bagi peserta ajar di berbagai level pendidikan yang ada. Karena materinya memberikan kontribusi positif bagi pengembangan budaya dan mentalitas nasional kita.
6. Belum ada suatu lembaga yg consern dengan Batak dan Kabatakan kita. Khususnya dalam memekarkan budaya leluhur yg sudah baik dan bernilai. Tentulah sebagai generasi muda dan tua, kita perlu mulai mengalihkan kiblat kemajuan kita yg selama ini mungkin kebabalasan sudah. Artinya, supaya ada kebangkitan untuk membenahi kondisi yang ada. Mumpung Batak dan Kabatakan kita ini belum punah.

Salam Hormat Saya,
Miduk Hutabarat
Tim Perumus Seminar
a.n Panitia Peringatan 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja XII

Jalan Sisingamangaraja 132-A Medan
Tel. 061 7345957, Fax -061 7346175
e-mail panitia : rsmxii@yahoo.com &
Email Miduk Hutabarat : midoek2003@yahoo.com

Partungkoan :
Refleksi dari Panitia Seminar ini sudah kami terima sebulan lalu. Setelah melalui kesepakatan, akhirnya 28 Juli lalu, penulisnya Miduk Hutabarat menyetujui ditampilkan di halaman blog ini.
Makalah dari 3 orang pembicara sudah kami muat sebelumnya

Iklan

4 thoughts on “Reflexi Peringatan 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja Xll

  1. Horas,

    Saya tidak sempat mengikuti seminar ini. Apakah saya bisa memperoleh makalah-makalah para penyaji dalam bentuk soft copy atau hard copy. Bagaiamana cara memperolehnya.

    Terimakasih,

    Petrus Marulak Sitohang

    *** hubungi hamu ma panitiana Miduk Hutabarat 08126002350

  2. ND HUTABARAT:

    KONVERGENSI
    HISTORIOGRAFIKA

    MEMPERINGHATI 17 JUNI 1907
    HARI WAFAT PAHLAWAN NASIONAL
    SINGAMANAGARAJA XII

    1.Pada 17 Juni 1907 Wafat Pahlawan Nasional Singamangaraja XII
    1.1.Beliau adalah Raja Kordinator Raja-Raja Batak Kultur Primus Interpares
    1.2.Memenuhi syarat Dispot Tertinggi Mediko Priester.
    1.3.Beliau dari Dyansti Singamangharaja (Isum,baon, Sorimangaraja,Sorba Dibanua, 1.3.1.Siraja Oloan, Sinambela
    1.3.2.Setelah Wafat Pahlawan Singamangharaja XII ini
    1.3.3.Tegas Monarki Batak tidak diteruskan
    1.3.4.Sebagai Tatanegara Moderen
    1.3.5.Akan tetapi Pribadi-Pribadi Fenomenal GP Genertasi Penrus Dispot Batak
    1.3.5.1.Pejuang 1877/1907 (30 Th Perang Batak VS Belanda)
    1.3.5.2.Tidak berusaha mendirikan MNonarki Kerajaan Batak Raya
    1.3.5.3.Tetapi Perang Batak VS Belanda 30 Th itu gelorakan Usir Belanda
    1.3.5.4.dari Indonesia dirikan NKRI
    1.3.5.5.Pribadi Bergerilya misal Dr Ferdinand Lumbantobing
    (Th 1953 dari NKRI Pusat datang ke Balige: Pemakaman Kembali di Soposurung
    (dipindah dari Tarutung, beliau diminta Dynasti Singhamanagaraja, untuk Raja Batak (berikut, tetapi menolak, katanya NKRI Langkah Moderen Demokrasi Batak,
    (Demokrasi Primus Interpares Dispot Mediko Priester, biarlah ADAT Marga-Marga
    (Raja = berarti univertsal Perilaku TBB Tepat Baik Benar, Yangditiru/Vorbild:
    (Anak N i Raja, Boru Ni Raja = Mereka adalah berperilaku tbb tepat/baik/benar)
    (NB: Pd 1984, pada Teater Batak dan Missi Nommensen, Kelahiran Singamangaraja
    ( I 1450, terjadi Mistis, membacanya Pdt Sahat Tobing (Pemeran Raja Pontas LT (kagum menitikkan airmata, teringat kehadiran Messias Jesus ke tengah manusia)
    1.3.5.6.D LL : Bung Karno, Dr Wiliater Hutagalung, TB Simatupang, Dll
    1.3.5.6.Memperkuat Perjuangan Nasional NKRI:
    1.3.5.6.1.Th 1908 Casayangan Harahap insentip Perhimpunan Indonesia di Belanda
    1.3.5.6.2.Juga 1908 itu berdiri BUDI UTOMO diinsentip dr Hasibuan
    1.3.5.6.3.memakai nama Jawa, mengelabui Belanda dan NICAnya
    1.3.5.6.4.Pd 28 Okt 1928 Sumpah Pemuda Satu Nusa Bangsa Bahasa Indonesia
    1.3.5.6.5.Mr Amir Sysarifudin Harahap Pimpinan Bendahara
    1.3.5.6.6.Pada 1 6 1945 Batak dalam Formulasi PS Panca Sila
    1.3.5.6.7.Dan dalam Memproklamasikan Merdeka NKRI 17 8 1945
    1.3.4.6.8.Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam, PS Panca Sila itu.
    1.3.4.6.8.Sesuai Ajaran (Tuhan) Mulajadinabolon yg melegitimir Abad 19
    1.3.4.6.8.Tuhan Allah dalam Bibel / Quran / Dll.

    2.Konvergensilah Reorientasi Akademika Universitaria Honoriskausa

    3. Bersinambung Lestari AO AlfaOmega Ilmiah Rohaniah.

    4.NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus, Missi Voluntir.

    5.HH 26 9 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s