APA ADA MANDAR HELA DI ADAT BATAK ?

Patuan Raja Bonar Siahaan

Bila kita amati saat ini, didalam acara marunjuk (pesta kawin) pada masyarakat Batak Toba, telah umum terjadi pemberian ulos hela dan mandar hela. Namun bila diteliti lebih jauh apa dan mengapa ulos hela dan mandar hela diberikan oleh Orang Tua pengantin Wanita kepada menantu perlu dipahami, sebabnya:

Pertama, ulos hela telah dianggap oleh para orang tua terdahulu sebagai materai untuk pengantin, atau dengan kata lain bahwa ulos hela adalah suatu tanda pengantin laki-laki telah resmi dan sah menjadi suami putrinya. Sedang ulos dari pamarai, simolohon, pariban dan tulang adalah pendukung ulos hela sekaligus dapat di pergunakan pengantin kelak untuk acara pesta dikemudian hari. Itu pula sebabnya ulos suhi ni ampang naopat diusahakan dari berbagai jenis agar pengantin dapat mmemilih mana yang cocok dipakai bila menghadiri berbagai acara adat.

Adapun ulos sigohi parrambuan (yang dinamakan sekarang ini ulos holong) dimungkinkan untuk persediaan, apabila ke pengantin memberikan ulos kepada pamoruannya tanpa susah-susah mencarinya. Tetapi sekarang ini makna dan arti memberi dan menerima ulos sudah kurang dipahami karena yang memberi dan menerima ulos sudah terlalu banyak, tanpa diketahui lagi siapa yang layak memberi dan menerima ulos. Menurut para orang tua terdahulu, hanya orang-orang tertentu saja yang mangulosi dan diulosi, menjadikan ulos punya hikmad dan makna bagi yang menerima, sehingga yang menerima ulos merasa ada anugrah TONDI (Bathin) yang mengalir, menjadikan dirinya merasa dekat dengan hasuhuton. Dengan sendirinya dia tidak akan mau meyepelekan ulos yang dia terima karena ada rasa tondi (bathin) yang melekat.

Tetapi setelah cara memberi ulos saat ini sudah sembarangan, apalagi dengan ucapan yang menyatakan ulos ini adalah Ulos ni daging, yang dapat diartikan sama dengan selimut tubuh hilanglah sudah makna dan hikmad ulos itu sendiri. Dan bila kita telah menggangap ulos sama dengan selimut, maka memberi ulos adalah siasia. Lebih baik berikanlah uang atau barang yang lebih bermanfaat lainnya yang dipergunakan pengantin kedepan. Tetapi perlu direnungkan, dapatkah ulos hela itu disamakan dengan selimut? Dan dapatkah ulos dari suhi ni ampang naopat disamakan dengan selimut tubuh? Menurut hemat penulis, bahwa kedepan ini akan terjadi, melihat banyaknya yang menamakan dirinya Tokoh Adat tanpa pendalaman apa dan bagaimana TOKOH ADAT yang sebenarnya akibatnya, pada gilirannya nanti BUDAYA BATAK itu akan lenyap dan selanjutnya akan melenyapkan BATAK itu sendiri.

Gejala kearah itu dudah kelihatan dari banyaknya yang menamakan dirinya tokoh adat namun tidak atau belum berbuat sesuatu yang dapat menjadi panutan bagi masyarakat luas, selain paburnang-burnang diri (membesar-besarkan namanya). Sehingga masyarakat luas sulit membedakan mana TOKOH adat dan mana yang menokohkan din. Sebab bila benar sudah menjadi TOKOH adat dan budaya seharusnya dibuktikan dahulu apa tatanan yang telah diperbuat dan siapa menjadi pedoman bagi masyarakat adat dan budaya, dan dapat mengikuti jejak para TOKOH MOYANG seperti:
a. SIRAJA BATAK, tokoh yang penama-tama menyusun perkampungan dan hukum tata cara perkampungan di – SIANJUR MULA-MULA.
b. GURU TATEBULAN tokoh yang mendalami HADATUON dan KEDOKTERAN (TABIB) untuk menyangkal berbagai penyakit dan niat jahat musuh.
c. TUAN SORIMANGARAJA, tokoh yang ahli membuat HUKUM dan PERUNDANG-UNDANGAN serta HUKUM PERANG yang menjadi cikal bakal BIUS ditanah Batak.
d. RAJA UTI, tokoh yang ahli mengenai perundang-undangan BEA dan CUKAI di pelabuhan.
e. SISINGAMANGARAJA, tokoh sakti dan panutan di BANGSO BATAK.
f. Mungkln masih banyak lagi yang belum disebut karena tidak sepopuler nama yang disebut diatas.

Kedua, setelah era 1970, Masyarakat Batak Toba baru mengenal istilah Mandar Hela, dan selanjutnya menjadi suatu keharusan bagi orang tua pengantin wanita untuk memberikan mandar hela pada saat pesta pernikahan putrinya dengan ucapan; Agar menantu (pengantin laki-laki) Rajin mengikuti pesta adat, dan hendaklah hela memakai mandar ini, tetapi janganlah mandar ini dipakai ketempat judi : Bila menyimak ungkapan diatas, dapat diartikan dengan jelas bahwa bila pergi kepesta, wajib memakai mandar, tidak perlu lagi memakai ulos. Yang menjadi pertanyaan, benarkah mandar sesuai dengan Budaya Batak? Untuk ini penulis merasa terpanggil memafarkan sedikit tentang asal mula mandar hela.

Konon mandar hela bermula dengan kain sembahyang untuk laki-laki yang beragama Islam namun setelah terjadi perkawinan diantara Putri Angkola yang beragama Islam dengan Putra Silindung yang bukan bergama Islam, berobahlah pengertian kain sembahyang menjadi mandar hela dan ucapan rajinlah sembahyang lima waktu, menjadi rajinlah menghadiri acara adat dengan memakai mandar ini.

Setelah mandar hela populer disilindung ikut pula menyebar ke Toba Holbung dan populer di era 1980. Sebelumnya penulis belum pernah mengetahui orang tua pengantin wanita memberikan mandar hela di Toba Holbung. Memang mandar telah dipakai oleh parhobas (pelayan) pada jamuan pesta masyarakat Batak tapi tidak oleh pengetua terutama yang ikut memberi petuah-petuah di pesta adat. Kalaupun parhobas memakai mandar, hanya menjaga kesopanan terhadap para tetua apabila (mungkin) menjaga agar dia tidak risih bila ada pakaiannya (terutama celana) yang sobek.

Tapi sekarang ini sudah sulit membedakan mana pengetua dan mana parhobas, karena hampir seluruhnya telah memakai mandar atau telah mardodos songon simarunap-unap. Tidak tampak lagi, Tinanda do halak Batak sian Tali-tali na, tinanda do halak Batak sian Ulos pinangkena, Tinanda do halak Batak sian tungkotna. tinanda do halak Batak sian jambar na diadopanna: Hanya sering didengar Eme namasak digagat ursa i namasa i niula, Eme nabibi digagat horbo, manang diape i pinaula so binoto. Bila padi yang masak disantap rusa padi yang hijau dihabiskan kerbau apalagi yang tinggal bagi manusia! Demikian juga adat Batak, habis kena erosi oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Maka acara adat Batak yang sebenarnya sudah langka marjunjungan songon dolok, marbanggua songon rura. Hanya orang-orang yang semborono tapi bangga meneriakkan pepatah petitih yang bagi orang yang mengerti ruhut sudah menganggapnya suatu pelecehan bagi UMPASA BATAK. Namun apa mau dikata, umumya yang mengaggap dirinya Tokoh adalah karena kehidupannya (uangnya) yang mungkin lebih mapan di masyarakat atau orang yang pintar berpepatah-pepitih walaupun sudah tidak relevan pada tempatnya.

Maka pada kesempatan ini penulis menghimbau yang duduk dikepengurusan organisasi sosial budaya agar mau menggali adat dan budaya nenek moyang kita yang mungkin sudah terkubur, untuk kemudian diteliti dan dikembangkan setelah disesuaikan dengan perkemhangan jaman. Sebab tanpa kita lebih dulu mencari bagaimana sesungguhnya tatanan ADAT DAN UHUM yang telah digariskan para leluhur pada jaman Parbiusan, sangat sulit didapatkan formula untuk menjadikan adat Batak, bermakna hikmad dan praktis.

Bila kila tidak berusaha menggali dan meneliti tatanan adat dan uhum pada jaman parbiusan, besar kemungkinan orang Batak kedepan akan semakin tak mengenal jati dirinya dan mungkin akan malu menjadi orang Batak. Bila ini yang terjadi alangkah sedih dan nyerinya anak cucu kita kelak yang bisa jadi akan kehilangan habatahon dan jati diri sebagai bangso yang punya : AKSARA yaitu Surat Batak, silsilah yaitu tambo (tarombo) dan juga ugamo.

Berapakah bangsa didunia ini selengkap dan sesempurna tatanan orang Batak yang diwarisi dan leluhurnya? Maka marilah kita mengembangkan adat budaya kita ini tanpa keluar dari garis, (nilai luhur) yang sudah diwariskan para leluhur kita. Biarlah kita tidak dinamai tokoh, tetapi marilah berlomba menemukan formula yang tepat untuk membenahi untuk tatanam adat dan uhum yang sudah semakin tak tentu arah akibat; nungga tading hirang niba di bahen harang ni deba, nungga tading ugari niba dibahen adat ni deba ; ugari niba nungga tading adat ni deba pe ndang dapot tu dolok dang maranian, tu holbung dan marhasoan : Ganjang dang tuk, jempek maralitan. Dan inilah sebabnya adat Batak itu telah dianggap bertele-tele dan membosankan.

(Penulis adalah Murid dan Pewaris Jos Pohan l Guru Sinaingan tinggal di Siboruon Balige)
Artikel ini pernah dimuat di Koran Lokal Warta Martabe terbitan Balige tgl 28 Juli 2004

Iklan

15 thoughts on “APA ADA MANDAR HELA DI ADAT BATAK ?

  1. Horas amang Siahaan, marbahasa Batak sampur-sampur majolo ahu asa jonok, pandangan dohot kritik muna di artikel on nungnga leleng hupasahat tu akka raja parhata nang “tokoh” marga ‘Situmorang Sipitu Ama’ di Jabodetabek, lumobi ma no. 2(Lbn. Nahor Namora Panaluan).

    Alai alasanna sai dikutipma sada umpasa naso lomo rohakku mambege “Eme namasaki”; ba aha namasa ima siihuthonon. Hea do hudok, mardongan jut ni roha, ba molo songoni nama prinsip nuaeng on unang pola be taulahon akka ruhut-ruhut ni paradatoni molo pamuli boru/pangolihon anak,dung ulaon sian gareja manang akad nikah di masojid, pintor marpesta dangdut manang mardisko mada. Ai aha pola sai loja mambagi jambar, mangalehon ulos, dll, sampe pitu jom, molo akka namendasar pe nungnga ta sursari. Alai ima namasa nuaeng on, lumobi di tano parserahan, lomo-lomoni akka raja parhata nama mangatur ulaoni. Hape, santabi, pangalahoni akka raja par hata nuaeng onpe gok do nasursar. Di marganami, adong do dua tokoh penting raja parhata, alai molo diboto halak pangalahona, maila ma iba. Sada sirang so sirang jala “kumpul horbo” dohot boru sileban, sada nai mangalakkup ina-ina namabalu, niolini dongan tubu. Amang tahe, alai sai didok ma iba annon padokhu molo ni pasingoti tu akka nauntua, ai tong do iba dianggap “anak bawang”, ala umposo. “Mambege-bege ma joho anggia, haduanpe ho mangatur,” sai ninna akka paramangudaon dohot paramangtuaoni do, ba gabe sip ma iba tutu. Alai sai huingot do hata dht poda ni damang nahinan, Ompu Prima Situmorang, attar na targoar do natua-tua on raja adat dht parhata di Samosir nang humaliangna. Sai dipasingot-singot do hami ianakhonna nang akka Situmorang Sipitu Ama naposo na di huta: “Ikkon jaga on do moral, pantun manghatai, hot di ruhut-ruhutni paradaton. Molo pangalakkup manang panakko doho, unang be sai hinsa manghatai di loloan,” sai ninna do pasingothon.

    Paduahon, taringot mandar hela, nungnga gabe “mode” on nuaeng di Jkt, songon ulaon “nujuh bulanan” hape habiasaani donganta halak Jawa, Sunda doi nahuboto. Gabe taringot ahu pangalamanhu, Desember 91, tikki ualon pangolionhu di Sibolga, sanga do hami bingung mangihuthon ulaoni ala akka dongan tubu dht parboru, mambahen tahap-tahapni ulaonni marsampur tu adatni halak pasisir. Adong itak-itak dht pisang dijujung tu jabu ni parboru, adong mandar hela, nang akka naasing dope naso somal di hami par Samosir an. (Alai asa unang ditarik parboru annon borunai ba diihuthon hami ma songon dia ma namasa di pasisiran. He-he-he…)

    Nahudok amang, songon kekhawatiran muna, olo ma ra lam tulelengna lam mago ma aturan/ruhut-ruhut dht kesakralani adat Batak Toba i. Alana nungnga lomo-lomo ni halak nuaeng on mambahen ‘improvisasi’; dang dipardulihon be latarbelakang dohot pangalahoni akka parhata. Gabe hira meam-meam dht syarat sambing namara muse adattai. Sabulan nasalpu pamulihon boru do dongan tubu nami, diputushon parhata do: dang mangulosi akka nadigokhon; dijalanghon ma hepeng songon ganti ni ulos, demi efisiensi. Boha namai ate…?

  2. tanobatak berkata:

    Horas ma lae Suhunan. Hubaritahon komentarmuna i tu Amanta Bonar Siahaan, mengkel nasida. Hudok do asa dibalos muse, alai ingkon paimaon tingki, jolo copyon jala taruhonon tu bagasna di Siboruon Balige tondong ni pat ni dolok i, jala di parsitongaan lereng gunung i do nasida marjabu.

    Sasintongna adong do mardongan muruk do hihilala isi ni tulisan ni amang Siahaan i, nioruan ma deba ala posi tu angka na nidokna ‘paburnang-burnang diri’.

  3. sorta berkata:

    Dilema adat …..

    Horas amang, mauliate di keperdulian ni halak amang di adat batak. Nunga marmacam-macam nuaeng model-model ni adat i ate amang, mana yang gampang…dan cepat. Godang do saonari halak batak dang punya harga diri, Saonari nunga godang parboru manuhor paranak. Sitombol ninna, hape paranak manontuhon ruhut-ruhut ni pesta (gedong dimana, berapa undangan dsb) alai parboru sude mambiayai.dilehon ma sinamot 20% dari biaya pesta. Parboru daripada pesta tidak jadi… dang muli boruna, dipardukket-dukketi ma….minjam malah. Kasihan…

    Apa tidak bisa maradat dengan sederhana? Molo dijakarta pesta adat itu sangat mahal, songon dia do haroa amang asa didok adat na gok ?
    Sampe tingkat mana yang harus diundang ? Kalau cuma keluarga besar kedua belah pihak(bapatua, namboru, tulang, setingkat itu dan yang dianggap dekat) yang menghadiri tidak harus dihariapon, boi doi amang?. Toh ulos suhi ni appang naopatikan tusi do dibagi.

    Banyak sekali teman-teman yang menikah tanpa diadati (kebanyakan karena faktor ekonomi), selesai pemberkatan gereja (biasanya gereja HKI, Pantekosta) resepsi kecil2 di aula gereja, selesai. Simpel. Biaya pesta kurang lebih sama dengan biaya marhusip. Tinggal lapor ke catatan sipil. Resmi toh ? Dan kalau ditanya kapan mangadati kak? jawabnya “buat apa habis-habisin duit? asal ma sahat sikkola ni akka anaktaon”

    Dang songon najolo be molo so mangadati ninna dang boi dohot tu adat, saonari so mangadati dope dohot do manortori di jolo….

    Adat batak itu sekarang cuma bisa dijangkau oleh sebagian orang saja. Bagaimana solusinya biar adat batak (khususnya adat pamuli anak/boru) itu tetap lestari ?……

  4. jacson berkata:

    maccai lasdo rohangku manjaha artikel na sinurat ni amang on horas ma tutu jala mauliate di amang.Masalah mandar hela na gabe adong huhilala hurang pas do asal mulana i. hurang relevan nalobi pas do huhilala ala molo marhobas ingkon pake maddar, dang alani na sholat.Napaduahon molo tung boi Diciptahon ma jolo sada standar adat batak asa unang adong begeon hata ondo adat di luat nami an adat diluat an jala adui do adat di luat adui. mauliate ahu berharap naeng songononma nian posisi manang kondisi ni paradaton di halak batak asa sada halak batak ido nasai hu parsitta mauliate sahali naihupasahat di hamu.

    Tabe mardongan holong.
    Jackson F Sinaga.

  5. tanobatak berkata:

    @ Sorta & Jacson

    Andorang so pinatangkas tu angka narasumberta, adong dope niingot angka rumang ni adat najolo jala naung sanga niida. Lapatanna dang holan namora boi mangoli dohot muli, adong do tingkatanna.
    1. mangembalhon gajut : Dodiok ma i tu na direstui perkawinanna alai dang adong dope adat diulahon. Diborhati do i denggan sian sisolhot ni parboru jala dialap denggan dohot sisolhot ni paranak. Diupa paranak ma i muse dijabuna. Mebat ma muse nasida tu bagas ni parboru, jala boi ma mangihuthon paradaton, alai tong dope marutang adat ibana.
    2. Manurun : Dang sai sude pangoli namora jala dang tuk patupahon adat nabalga tu na naeng simatuana. Ala lomo do roha ni parboru di nanaeng helana ujungna dijabuna ma dibaen adat. Gok do adat i alai holan tutur nasumolhot ma dijou tarmasuk tulang. Diulosi do i denggan jala adong do hata ni sinamot. Dang maralaman ulaon i. Diboan nasida do jual tu hutana jala horong alap jual do goarna.
    3. Alap jual : Maralaman ulaon di jolo ni parboru alai paranak do paradehon parjuhutna, di parboru ma tanda hasuhuton (ima ihur-ihur), parboru do manjangkon sude sipir ni tondi na ro. mamboan jual ma mulak paranak jala diborhati dohot sian sipir ni tondi na ro. Di parboru malobi ni boras na ro songon singkat ni indahan pinaradena. Didok natuatua, tarsongon i do hasomalan ni adat najolo jala sumangap do ninna boru molo alap jual. Hea do hubege sada ina marbada dohot tungga ni dolina, didok; “tangkas do boruadi da dialap jual sian huta ni damang”, ninna.
    4. Taruhon jual : Somalna ninna najolo naung dihuta ni paranak do boruna. Dung dibahen adatna ro ma uduran ni parboru mamboan sipirni tondi dohot dengke dibagas jual. Mardalan ma sisongon i tu angka na mangalua dohot na mangembalhon gajut. Paranak ma mangarade sude natupa di ulaon i jala di nasida ma tanda hasuhuton (ima ihur-ihur).

    Dung lam ‘malo’ angka halak batak dibahen ma dos ni roha asa dijolo ni paranak ulaon, dioloi ma pangidoan ni parboru di angka hasomalan ulaon alap jual, di parboru ihur-ihur alai holip dibahen dijabu dipamasuk tu tandokna. Nuaeng nungga dipapatar i dialaman nang pe taruhon jual ulaon. Samak ma sude.

    Inti ni adat batak, adat do nametmet, adat do nabalga. Dang uhumon napogos di na pinatupana ala metmet gabe dohonon dang maradat ala so boi dijou pangisi ni desa naualu. Poda ni ompunta mandok ‘najompok do suhat-suhat ni naganjang’ ima adat na gok na boi patupaon ni halak na hurang sinadongan. Alai nuaeng ‘naganjang nama sijuhathon tu najompok’ ala so adong dope jou jou tu desa naulau didok ma dang maradat, hape nunga ditolopi natorasna, partubuna, boruna dohot tulangna, hape ido gok ni adat.

    Tapatangkas pe muse tu natumua ate?

  6. Bonar Siahaan berkata:

    @ Suhunan

    Mauliate ma di hamu amang ala sada pangkilalaan hita. Hubahen pe muse nahuingot angka kebudayaanta na manaringoti rumang nia adat nahinan na so pola marganjang-ganjang songon sinuaeng on. Memang sai holsoan do iba di angka pambahenan ni angka namandok “on do adat batak” gabe suhar sian adat batak na sasintongna.

    Horas

  7. Sahabat Tampubolon berkata:

    Horas ma dihita sude..
    sisada pakilaan do hita anggo taringot diadat Batak on.memeng tung godang do ragam ni ulaon dibaen jolma ditikion. Alai memeang takkas doi tabereng angka parhepeng do siula adat, jala on do siboto adat.Boasa songoni diama nidokna?? adong do deba halak manuhor raja parhata sian marga na asing asa mansai jago makatai diulaon nai. Adongdo nadeba dituhor Ulos laho pasahaton ni hulahula na tu ibana, asa dumenggan dibereng halak ulos i, ninna! Angka on ma deba adat nadiroharoha i angka sigodang arta..

  8. sonz berkata:

    horas ma boh, manang na ise pe hita na hea mabukka website on. alai otik do sidohonokku tu hita akka naposo. ai molo manurut parbinotoakku nuaeng, boido hita maradalan tupudi songon mangihutton akka ruhut – ruhut ni adat. ai tolu do anggo kunci hita namangolu on. Parbinotoan (Ilmu Pengetahuan), Paradaton (Adat – Istiadat) dohot Agama. Ido anggo nahuboto dabah. Ai molo hita akka naposo pe boido taihutton akka ruhut – ruhut ni adat. Ai Roa Situtu do Jolma Naso MARADAT. ai mansai kecil perasaan niba na adong mandok “Molo pesta mangoli uang pola mangadati” ai sattabi ma dihamu sude, “Holan Binatang Do Mangoli Na So Maradat”

  9. Bonar Siahaan berkata:

    @. Sonz

    Toho do nanidok muna i,tolu do siulahonon di ngolu on; Parbinotoan,adat dohot agama.

    Adong do asingna nasomangadati dohot naso maradat, naso mangadati ima naso adong sigamuon (kemampuan) dang pola didok naso maradat i.
    alai molo naso maradat nunga jolma naso marpaho (tidak ber etika) 😀 Sotung muruk angka dongan naso mampu patupa adat tu simatuana,ai dang sundat mangoli ala naso pintor tarpatupasa adat tu simatuana.

    Horas,jala mauliate di hamu.

  10. Betty Siahaan berkata:

    Horas ma di hita sude. Mangido maaf ma jolo ahu molo adong hata na hurang tepat, jala marpasir-pasir. Mohon di edit. Mansai las situtu do rohangku dung hudapot jala nijaha website on. Mandok mauliate do ahu tu hamuna sude na naung mengadakan website on. Molo nipamanat ulaon na hombar tu paradaton ni batak saonnari on, memang huhilala nungnga adong berubah, apalagi di pangarantoan, songon na huihuthon hami di Pekanbaru dohot di Jakarta, marasing-asing do carana. Toho do memang porlu nipingkiran taringot tu waktu, boi do nipersingkat acara i alai unang gabe merubah tradisi na aslina. Tarsingot tu biaya pesta, setuju do ahu tu angka dongan na mandok pa arga hu biaya ulaon ni halak batak, unang ma jolo tu na mangolu, tu na paborhatton na monding tu udean pe bahatdo biaya na. Ia ahu dison naeng menghimbau tu angka amang raja parhata di sandok marga batak, asa dipingkiri ma nian dalan laho menyederhanakan ulaon i asa menghemat biaya. Asa unang gabe marutang halak dung sae marulaon. Alana ndang sude hita on angka na marhepeng. Asa angka dongan na ndang godang sihumisik na boi tongtong mangulahon adat. Songon hata ni natua-tua : Adat do na metmet, adat do na balga.
    Molo memang na mampu do jala berkelebihan, ndang pola sala i mangulahon adat na balga, jala las do rohanta molo adong hita na boi mangulahon adat i secara sempurna, na gabe pelestarian tu adat i. Angka na so mampu, naeng ma nian niulahon adat i sesederhana mungkin sesuai dohot kemampuanna. Alai tong ma nihimbau tu hita on asa unang marpangalaho pantang so bilak, marsaing tu angka donganna.
    Tarsingot tu nujuh bulan, huhilala adong do tong adat i di hita halak batak (molo ndang sala ahu, ulos gabe goarna). Alai ndang ingkon ni tujuh bulan. Tingki nungnga tangkas binoto denggan pamatang ni sada ina-ina,boi ma niulahon ulaon i. On pe mangido penjelasan dope iba tu angka naumbotosa.
    Tarsingot tu mangadati, saran sian ahu, molo boi nian niulahon ma i asa berkesinambungan adat i, jala mararga adat i di hita. Molo ndang hita halak batak na menghargai adattai, ise ma na menghargai i. Tarlumobi di hita angka pangaranto na dao sian bona pasogit, sedapat mungkin ta lestarihon ma adat batak i.
    Mauliate, Sai dipasupasu Debata ma hita sudena. Horas!

  11. b.Parningotan berkata:

    @lae Bonar Siahaan,
    molo parbinotonku hala awam on, Mandar i ro sian India do i ndang sian Arab, ai dang adong di Arab Mandar, jadi dohot selendang pe sian India do i, jadi molo marmandar mar salendang hita mengihutton kebudayaan India do hita, ai pengaruh kebudayaan India tu kebudayaan nunga adong sian najolo jala angka dongan na maragama Islam na memangke mandar di tingki martangiang, pengaruh kebudayaan India do i ai dang adong di Araba Mandar, jala ulos pe bahat berengon di Buarama manang Siam
    Horas

  12. b.Parningotan berkata:

    Merek Mandar na tarbarita na ta boto sian India, ima MADRAS, ai kebetualan do Inanta mertua i pensiun partigatiga mandar. Jadi ulos pe bahat berengon di Thailand, Burma dohot Laos.
    Horas

  13. b.Parningotan berkata:

    Jala Picci/peci pe bahat do idaon di Burma manang India, Raja ni Burma mamangke pici do, Nehru sian india marpicci do. dang huboto sian dia ro ni pici i, ndang Kebudayaan sian Arab, ai dang adong di Arab Peci, jadi molo marpeci ompunta na jolo, mangihutihut Melayu manang Burma manang India do i, jala molo idaon halak laho tu Mesjid di tingki najolo marpeci i ndang sian Arab i. Molo na sian Arab i ima Topi haji, bontar do mangsina, jadi asal ni kebudayaan ta i rumit do molo piningkiron
    Horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s