HARAJAON INDONESIA

Ama Tamaguru Sianipar (Artikel ini ditulis tahun 2003)

Kata ‘harajaon’ berasal dari tiga suku kata marhara–raja–on. Marhara yang berarti menggerakkan sejumlah orang untuk berkumpul. Asal kata tersebut menjelaskan, di suatu zaman seorang tokoh yang dihormati menggerakkan sejumlah raja untuk berkumpul membicarakan hal–hal penting yang menyangkut kepentingan bersama. Dalam konteks ini, para raja (dlm pemahaman Bahasa Batak ) diundang untuk membentuk organisasi masyarakat yang lebih besar daripada yang sudah ada. Organisasi tersebut mencakup wilayah hukum dan penyelenggara yang lazimnya disebut pemerintah. Sejak itu mereka ‘marharajaon’ (memiliki organisasi yang besar) yang organisasinya disebut ‘harajaon’. Dengan demikian pemahaman ‘harajaon’ tidak dapat disamakan dengan kerajaan dimana raja berkuasa secara absolut atas rakyat serta wilayah dan hukum yang berlaku hanya ada di benak penguasa.
Konon harajaon Batak sudah berdiri diawal tahun masehi di kawasan Sumatera Utara, sebagaimana yang tercatat dalam documen Cina di zaman dinasty Tang ( 685 – 696 ). Waktu itu seorang Pendeta Budha bernama T.Tshing datang ke Sumatera dan menemukan satu kerajaan bernama Pat’ta.

Keabsahan catatan itu didukung pakar sejarah Prof. M. Yamin yang mengatakan kerajaan Pat’ta terbentang di sepanjang pulau Sumatera. Karena aksen bahasa yang berbeda, T. Tshing menyebut Bataha atau Batak menjadi Pat’ta.
Mengacu pada tulisan Op.Buntilan Simanjuntak, kerajaan itu diserbu kerjaan Sibaso Paet yang dipimpin Panglima Gaja Bada. Pada serangan pertama, armada si Basopaet dipukul mundur. Demikian telaknya kekalahan si Basopaet yang dipimpin Panglima Gaja Bada bersumpah akan menghancurkan kerajaan Bataha yang pusatnya di wilayah Bius Haru. Tiba waktunya, kerajaan Bataha diserbu dari laut dan dari wilayah kerajaan Sriwijaya yang sudah takluk. Seluruh kekuatan rakyat dari kurang lebih 20 wilayah Bius mengangkat senjata menyongsong invasi kedua yang kekuatannya berlipat ganda dari invasi pertama. Perang hidup-mati berakhir dengan kemusnahan hampir seluruh rakyat dan pemimpin kerajaan Bataha. Wanita-wanita yang masih layak pakai semua diangkut ke ujung barat pulau Jawa, sementara yang lainnya dibunuh. Raja Mutia Bulan gelar yang dipertuan Sorimangaraja ke-25 dibiarkan hidup setelah kedua kaki dan tangannya dipenggal dan wajahnya dirusak.

Dua Raja penyelenggara kerajaan Guru Tatian Bulan dan Raja Isumbaon bersama keluarga serta putra mahkota Sori Maya Raja ke 26 yang masih dibawah umur dewasa diloloskan saudara-saudaranya menyelematkan benih bangsa dan ‘ugari’ (kebudayaan yang berpaut dengan Debata Mula Jadi Na Bolon ) yang tercatat dalam kitab–kitab pustaha, dengan harapan lahirnya kembali bangsa Bataha/Batak yang tangguh dan teguh mempertahankan jati dirinya. Demikian juga harapan seluruh rakyat Batahan sebelum mereka mati sahid diatas tanah dan di bawah bumi.

Dua keluarga yang terdiri dari 14 orang hijrah ke daerah pedalaman mengisolasikan diri di kaki sebuah gunung yang nereka namai Pusuk Buhit. Disana mendirikan pemukiman Sianjurmulana, yang berarti menganjur ke mula atau kehidupan kembali ke awal. Mereka membuka lahan pertanian, beternak, bertenun, yang semuanya kegiatan diawali dari mula.
Selama kurun waktu 200 tahun keturunan kedua raja itu lambat laun bertambah. Tokoh – tokoh yang dituakan diantara mereka disebut raja–raja Batak atau Siraja Batak. Mereka mendirikan kerajaan yang dipimpin oleh Dewan Raja–Raja Batak. Keputusan itu diambil demi memenuhi ‘tona‘ (amanah) bukan disebabkan ancaman persatuan, kedaulatan atau penetapan wilayah.

‘Arga uhum ummargaan tona’. Karena pendirian kerajaan berdasarkan amanah serta lemahnya tingkat populasi manusia, Siraja Batak mengabaikan politik dalam mempertahankan dan mengembangkan ketatanegaraan. Dewan raja-raja mengkonsolidasikan diri mengatasi masalah maupun menyusun rencana jangka panjang.
Selain menjalani kegiatan sehari–hari Siraja Batak lebih meningkatkan kegiatan kerohanian. Menjalin hubungan yang lebih berdisiplin dengan Tuhan Mulajadi Na Bolon, yang satu–satunya harapan, yang berkuasa mengaruniakan ‘hagabeaon, hasangapon, hamoraon’. Untuk itu mereka mengangkat sembah, memohon berkat ‘hagabeon’ enam belas putra dan tujuh belas putri, anak yang pintar dan bijak, putri yang rajin bekerja dan makmur, sehat walafiat, panen melimpah, ternak yang subur, pemimpin yang negarawan dsb.

Bersama sembah sujudnya apa yang terbaik diangkat dan dipersembahkan kehadapan Tuhan. Baik itu berupa ternak, hasil panen, kalimat–kalimat indah yang puitis, nyanyian dan alunan “gondang sabangunan” bersama gerak penuh hikmat (tortor). Sedemikian rumit dan menyeluruh sehingga segala sesuatunya harus ditata rapi. Diantaranya, Doa Tonggo–Tonggo, Doa Raksa-Raksa dan Doa Tabas–Tabas.
Bentuk–bentuk doa tersebut membuktikan keteguhan ‘batahan’ (sandaran ; iman) Siraja Batak dalam Tuhan. Hayatnya sujud menyembah Tuhan Mulajadi Na Bolon, mula nasa na adong, mula na sa na jadi, pencipta alam semesta beserta segala isinya. Tuhan tertinggi dan ditinggikan, layak di sembah karena Ia sumber dari segala sumber. Mula ada mula jadi, awal jadi. Penguasa kebenaran, kesucian dan kekuatan yang maha abadi. Ia andalan bagi kehidupan.

Siraja Batak, juga mengedepankan permohonan diturunkanNya ‘Ulu Bangso’ (pemimpin atau negarawan) yang singa–mangaraja, singa so halompoan……. dst. Pemimpin yang dikaruniai peta (singa) pengetahuan tentang kebenaran yang terbungkus kesucian dan kekuatan menegakkan keadilan.
Kesetiaan di pertahankan kebenaran dicari dalam ‘batahan’ Mulajadi. Tidak ada yang mustahil bagiNya. Pemimpin lahir ditengah keajaiban alam yang rahasianya tidak akan pernah teraih pengetahuan manusia. Lahir dari manusia biasa namun dikaruniai sifat–sifat Tuhan yang lebih sempurna dari manusia lainnya. Wujudnya terjamah namun pengetahuannya tidak teraih. Penuh misteri. Hadir mewakili kebenaran, kesucian dan kekuatan. Nama baptisnya dikukuhkan dan ia Si Singamangaraja. Konon katanya nama itu akan tercatat sepanjang masa.

Dua ratus tahun setelah kedatangan Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon kekaki Pusuk Buhit, pada abad ke 15, bersamaan dengan berdirinya Kesultanan Aceh, kerajaan Batak yang permanen berdiri disekitar Danau Toba yang berbatas disebelah Barat dengan Kesultanan Aceh dan Wilayah Minangkabau, sebelah arah angin lainnya adalah laut. Kerajaan tersebut berdiri permanen dan ditata dengan pengetahuan ketatanegaraan. Hukum dicanangkan, keadilan dan kedaulatan rakyat di tegakkan, pengakuan negeri– negeri tetangga dan suku–suku yang ada dipulau Sumatera dan sekitarnya dimenangkan. Ajaran luhur disebarluaskan, yang semuanya membangun sikap mental, pola berpikir, etos kerja, etika dan estetika Orang Batak dan anak cucunya.

Kehadiran wujud Singamangaraja tidak merubah sikap Siraja Batak terhadap Tuhan Mulajadi Na Bolon. Rendah hati, tidak angkuh bahkan lebih taat menyembah dengan seluruh hayatnya sebagaimana juga Raja Singamangaraja. Mereka adalah panutan bagi masyarakat yang menjalankan kegiatan sosialnya di bawah naungan lembaga Dalihan Na Tolu. Dimana masyarakat memohon berkat bagi dirinya, bagi anak cucunya yang lahir dan yang belum lahir, bagi keluarga yang lainnya bagi siapapun yang ingin berkat dimohonkan. Doa mohon dilakukan dengan taat, a.l: dalam upacara karya adat baptis (martutu aek), menikah, memasuki rumah baru, meninggal, mengantar perantau, mamio dsb. Mohon dalam doa sudah hayat bagi orang Batak.

Duabelas generasi lamanya Singamangaraja hadir di tengah orang Batak sebagai pemimpin penyelenggara ‘harajaon’ yang terdiri dari wilayah-wilayah otonomi, huta, horja, bius, yang merupakan kelanjutan ketatanegaraan ‘harajaon’ leluhur. Selama kurun waktu itu, tidak banyak yang diketahui. Kebanyakan beredar adalah ceritera-ceritera rakyat yang cukup berjasa membantu terungkapnya sejarah yang mendekati kebenaran antara lain;
a. Lahirnya Raja Sisingamangaraja dari clan marga Sinambela.
b. Usaha Raja Sisingamangaraja ke-4 mengibarkan kembali bendera harajaon Bataha/Sorimangaraja.
c. Usaha Raja Sisingamangaraja menggagalkan islamisasi di seluruh Tanah Batak.
d. Usaha Raja Sisingamangaraja menggagalkan penjajahan Belanda atas Tanah Batak.

Setelah Raja Sisingamangaraja ke-12 gugur tahun 1907, tanah Batak dijajah sepenuhnya selama tigapuluh delapan tahun. Sebelum Bung Karno membacakan Proklamasi yang mengalihkan seluruh kekuasaan Kerajaan Belanda di kawasan Asia Tenggara menjadi negara Republik Indonesia, berdasarkan UUD 1945 yang pembukaannya Pancasila sebagai dasar dan tujuan bangsa.
Pada tanggal 17 Agustus lalu, kita merenung di bawah kibaran sang saka Merah putih berbagai media cetak maupun elektronik menggoreskan pena dan menanyangkan suka duka perjuangan para pahlawan negeri tercinta ini, agar bangsa ini memberikan waktu sejenak memasuki renungan hikmat. Cendikiawan, politisi, kaum ulama, tokoh masyarakat memberi tanggapan yang menggugah rasa nasionalisme kita. Bangsa beradab merenungi sejarah dan tokoh–tokohnya agar memahami keberadaannya.

Dalam konteks ini, Orang Batak adalah ujung mata rantai sejarah panjang. Sebut saja Batak kini. Ujung mata rantai lainnya adalah mula. Itulah mula jadinya mata rantai sejarah yang di panggil “Ompunta sijolo–jolo tubu“ (leluhur) Mulajadi, mula yang ada dan yang jadi, yang dipercayai dalam iman Mulajadi. Ia pejabat tertinggi alam semesta berpangkat ‘Debata’.
Tuhan Muljadi yang Roh, tidak pernah lepas dari setiap mata rantai sejarah bersamaan dengan waktu. Dari awal mulajadinya alam semesta beserta isinya juga. Ia menyertai seluruh karya manusia hingga produk karya terakhir.
Kepercayaan ini mengarahkan keyakinan bahwa Orang Batak adalah bagian dari kemajuan peradaban di penjuru angin manapun itu berada dan berkembang serta berhak atasnya. Tidak tepat apabila Orang Batak menyakini bahwa awal dari mata sejarahnya adalah Pancasila 1945. Bung Karno sang Proklamator tidak menyarankan itu. Ia mencantumkan Ketuhanan Yang Maha Esa bukan ke Allahan Yang Esa yang baru dikenal sejak abad ke 19.

Dari pemahan tersebut Indonesia berdasarkan UUD 45 merupakan kelanjutan mata rantai ‘harajaon’, bukan kerajaan atau kesultanan. Betapa konyolnya pemerintahan orde baru ketika mengatakan Indonesia merupakan kelanjutan kerajaan Majapahit. Akibatnya bangsa ini jatuh kejurang kemiskinan/hutang, oleh kefeodalan kerajaan Mataram yang diwakili pemerintahan orde baru. Sesungguhnya selama tiga puluhan tahun pemerintahan orde baru, Orang Batak berkesampatan menggugat dengan keteguhan Nasionalismenya agar kemurnian ‘harajaon’ ditegakkan kembali. Sepertinya Orang Batak lupa atau merasa risih merenungi sejarahnya sehingga feodalisme sempat merembes kepemerintahan kabupaten sebagaimana yang dituduhkan ‘Raja Kecil’ yang mencari modal lewat KKN agar setelah pensiun menjadi ‘Raja Besar’ di kampungnya lewat pembangunan perusahaan, sekolah, rumah ibadah dsb, yang semuanya tidak layak dihadapan Tuhan Mulajadi.

Pertanyaan yang aktual menjelang pemilu adalah, siapa figur pemimpin/bupati yang ideal dan apa kriterianya?. Pertanyaan disusul pertanyaan. Apakah Orang Batak masih memahamii sejarah ‘Harajaon’ nya. 12 generasi lamanya Singamangaraja hadir di tengah Orang Batak namun hingga hari ini Orang Batak belum melihat, menilai dan memilih satu Si–singamaraja. Perlu diingatkan kembali bahwa Singamangaraja adalah karunia Tuhan, namun Si–singamangaraja adalah pilihan hati sanubari rakyat. Dengan demikian Harajaon Batak tidak dapat disebut Theokratis melainkan demokratis berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Mulajadi.

Bagaimana kriteria Pemimpin/Sisingamangaraja? Orang Batak sepantasnya memahami ‘cap harajaon’ yang bertuliskan ‘Ahu Sisingamangaraja’. Cap itu adalah milik ‘Harajaon’ dan setiap orang berhak atas filosofnya. Sebelumnya beberapa pertanyaan perlu diajukan dalam era globalisasi ini. Apakah kita masih berdiri di ujung mata rantai kepercayaan sendiri sebagaimana bangsa Israel yang tersohor itu? Atau hendak menjadi kernet (kenek) diatas mobil sejarah orang lain. Bukankah MEE (Massyarakat Ekonomi Eropa) menggunakan politik ekonomi ‘On-an’ (ini–itu) agar dapat bertahan dan menjadi negara–negara makmur. Apakah bangsa ini berhutang Rp.1.120.000.000.000.000. jika dari awal memahami arti ‘onan’ ? (bilateral).
Tidak di pungkiri pelaku politik ‘onan’ hanya dapat dilakukan bangsa yang memahami keindahan bunga bakung atau ‘hau jior’ yang mampu bertahan di musim kering. Masihkah Orang Batak mengagumi keindahan tumbuhan tersebut ?.

Himpitan hutang makin terasa ketika seseorang berkata bunga bakung adalah bunga orang mati, ‘ndang masa be manuan ompu–ompu’ atau masihkah kita mengajarkan anak–anak kita melakukan itu dengan hikmat?. Apa yang terjadi akhir- akhir ini?. Keturunan dari yang dikubur menjadi pejabat tinggi atau rendah yang kehidupan ekonominya lebih besar pasak daripada tiang namun tetap berlimpah karena banyak tiang – tiang gelap. Hutang rakyat dikorupsikan. Dan teman sekampung menyebutnya ‘na hona pasu–pasu’. Semua itu tidak benar di hadapan Tuhan Mulajadi. Namun kata beberapa penginjil ada banyak Roh iblis ber ‘ulos’ di tengah Orang Batak. Mungkin saja salah seorang diantara jemaatnya merestui sangjungan itu.

Tulisan ini memakai kata Tuhan bagi Mulajadi. Kata ‘tuhan’ tidak ada dalam bahasa Batak. Namun indah ketika injil meminjam kata ‘debata’ dan Batak meminjam kata ‘tuhan’. Yang harus diperhatikan jangan sampai bertukar nama sebagaimana Jahwe Tuhan tertinggi bagi orang Israel dan Allah Tuhan tertinggi bagi orang Arab. Yang mana diantara keduanya Tuhannya Abraham?. Hanya Debata Mulajadi yang tahu.

(Ama Tamaguru Sianipar. dpl Eng, Cicit Op. Pulo Batu Sinambela, tinggal di Jakarta)

Iklan

2 thoughts on “HARAJAON INDONESIA

  1. Horas !!!

    Rasa syukur dan halalas ni roha paboa na blog2 yg diasuh rapih sebagai sumber pelajaran bagi halak hita terutama mengenai sejarah,adat dan kebiasaan leluhur dengan tujuan yg baek dan niat yg baik pula.
    Penyampaian nya sangat bagus dan menarik, namun sedikit kurang dalam pengkajian, hal ini mungkin berbenturan dengan banyaknya artikel artikel yg harus dimuat sebagai tuntutan akan maju nya sebuah blog. Sangat disayangkan jika pengkajian menjadi hal yg dianggap sepele, karena tujuannya adalah sebagai media pembelajaran bagi manusia manusia yg masih menginginkan pengetahuan dari berbagai media termasuk internet, maka jika pengkajian tidak menjadi prioritas utama atas fakta fakta yg akan dijadikan pedoman untuk sebuah artikel, maka akan sangat berbahaya bagi mereka yang membaca lantas mengamini.
    Ada beberapa fakta masih bisa dipertanyakan atau kurang tepat:
    1. [ Dua Raja penyelenggara kerajaan Guru Tatian Bulan dan Raja Isumbaon bersama keluarga ***
    ***mengisolasikan diri di kaki sebuah gunung yang nereka namai Pusuk Buhit *** Tokoh ? tokoh yang dituakan diantara mereka disebut raja?raja Batak atau Siraja Batak ***]
    – Perlu dicermati bahwa Tateabulan ( tatian Bulan) dan Isumbaon ( Raja Sumba) adalah keturunan siraja batak, bukan sebaliknya sesuai dengan fakta yg ditawarkan artkel tersebut diatas (kutipan)
    2. Kerajaan Majapahit sudah musnah padatahun 1300 an dibawah pemerintahan Hayam Wuruk (anak dari Thribuwana Tunggadewi) jauh sebelom Indonesia Merdeka. Jadi tidak benar pemerintah dalam konteks apapun menyatakan Indonesia adalah lanjutan dari kerajaan majapahit, namun jika mengenang kejayaan majapahit dengan segala bentuk ‘imperialisme” nya diharapkan menjadi sebuah bentuk impian yg bisa dicapai Indonesia, itu bisa diamini.
    3. Kerajaan Mataram pada akhirnya terpecah menjadi empat kerajaan kecil ( Terakhir menjadi 3 kerajaan kecil diakhir masa penjajahan ** Paku Buwono surakarta *** Pakualaman *** dan *** Hamengkubuwono Keraton Ngayogyakarta***) dan pada bulan September 1945 ( paska proklamasi) mengeluarkan pernyataan bersama untuk bergabung dengan Negara Republik Indonesia dengan status daerah istimewa.
    Dalam konteks diatas bisa dicermati bahwa kerajaan Mataram ( 3 kerajaan kecil) diatas lah yg bergabung dengan Negara republik Indonesia, bukan sebaliknya.

    Jadi artikel artikel selanjutnya janganlah menyajikan faakta fakta yg bias, apalagi menyangkut sejarah atau ketatanegaraan.

    Horas’

  2. ” HABONARAN DO BONA ”
    Tidak ada dan belum muncul sebelumnya fakta yang otentik mengenai pendapat bahwa ada upaya si Singa mangaraja menghalangi dan menghambat perkembangan Islam di Tanah Batak.
    Melalui adat dan tradisi yang masih kita pegang sekarang bahwa setiap penyelenggaraan acara adat, selalu kita dapati sikap yang sangat toleransi dan saling menghargai dalam penempatan masing masing kepercayaan dan agama yang telah di imani masarakat Batak.
    Pada prinsipnya Dasar Pandangan Batak membentuk sikap masarat Batak dapat menyesuaikan dan bisa diterima oleh masarakat dari suku lain.
    Sampai sekarang masih dapat ditemuka Simbol yang dipakai di tempat dan bangunan adat Batak adalah Cicak.
    Cicak mengartikan bahwa orang Batak dapat bergerak dan berjalan pada posisi apapun.
    Semoga pemahaman yang menyempitkan arti sejarah yang terjadi di Tanah Batak dijauhkan dari motifasi yang inggin mendiskreditkan pihak manapun.
    Si Singamangaraja adalah figur yang penuh makn bagi Orang Batak, penempatan SiSingamangaraja sebagai Imam Raja pada masanya menunjukan sikap demokratis yang luhur dan perlu kita pelajari lagi.

    “ARGA DO BONA NIPINASA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s