ARGA DO BONA PINASA

Ir. Imran Napitupulu

Pohon nangka atau pinasa, kini mungkin sudah terkategori langka. Bahkan hampir kurang berharga, jika dibandingkan durian Bangkok atau tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya. Interpretasi dari ungkapan bona pinasa, bisa diseimbangkan menurut anggapan atau pemahaman tentang kecintaan terhadap kampung halaman.

Manusia sebagai ciptaan sang Khalik, yang diturunkan ke muka bumi, akan senantiasa berada pada dimensi ruang dan waktu. Pada tatanan ini, manusia menjalani kehidupan yang terkait dengan berbagai aspek. Seluruh rangkaian aktivitas manusia di dunia tidak terlepas dari ruang, waktu dan perjuangan hidup.

Unsur ruang terkait dengan alam. Waktu terkait dengan sejarah yang memaparkan peristiwa dan perubahan. Pengalaman masa lampau, pemahaman masa kini dan perencanaan masa depan. Sangat logis, jika sebuah variabel dari sebuah sistem akan berpengaruh terhadap variabel lain. Atau, sebuah peristiwa memberi implikasi maupun dampak terhadap peristiwa lainnya.

Untaian kata dari bona pinasa yang dihadirkan, bukanlah sebatas pohon nangka pada hakekatnya. Pemahaman yang akan dibentangkan, bukan hanya sekedar merentangkan arti dan nilai ekonomis pinasa. Konteksnya adalah, mencoba memaparkan sebuah persoalan yang berpaut dengan pengertian rasa memiliki untuk diungkapkan.

Sepenggalan arti bona pinasa yang dicantumkan, merupakan terjemahan yang digunakan halak hita secara spesifik. Pengertian dalam menerangkan kandungan yang bermakna kampoeng halaman. Soal ungkapan ini, manakala disimak sepintas lalu, seolah tiada lagi menarik untuk diulas dan ditelaah. Rasanya, tidak perlu lagi untuk dirunding guna diperhitungkan buat dipecahkan Karena mungkin sudah terlalu sering kita dengar dipergunakan.
Lihat saja, daerah Toba Holbung yang homogen. Penduduknya banyak merantau ke tano parserahan. Satu sama lain terikat tali keluarga, hubungan kekerabatan marhula/marboru. Pemahaman pattun hangoluan, tois hamagoan menggambarkan indahnya kebersamaan. Implementasi sikap fastabiqul khairiyah, berlomba mengerjakan kebajikan, sesuai ruhut, raksa dohot risa. Dalam tatanan adat, philosopi dalihan na tolu. Somba marhulahula, manat mardongan tubu, elek marboru.

Kemudian, mari kita coba mengheningkan riak pikiran sejenak. Berkontempelasi tentang situasi anak negeri yang berpacu dengan kemajuan memuncak. Adalah kebanggaan semu, dari sebuah pengakuan universal. Predikat sangat terhormat, disandang bangso batak sebagai anak ni raja. Lazimnya keturunan raja, sudah barang tentu segala atribut menyangkut kesantunan dan pemahaman budaya, hampir nyaris sempurna. Akan tetapi, realitas objektifnya telah banyak mengalami pergeseran nilai. Stigma negatif, cenderung ke arah krisis identitas. Terutama, bona pinasa yang seakan terlupakan.

Kawula muda yang bergelar harapan bangsa bunga tanah air, lebih banyak mengucapkan salam horas dengan how do you do atau hoe maak je’t ? Atau, selamat pagi dengan good morning, goeden morgen dan entah apa lagi. Itu suatu kemajuan positip. Akan lebih arif, jika dibarengi pemahaman rasa memiliki bona pinasa, sehingga nuansanya terasa lebih sempurna.

Patut diakui, perkembangan pesat teknologi informasi dan kemajuan yang terjadi, memberi konstribusi significant pada model interaksi sosial masyarakat. Beragam pola dan gaya hidup diadopsi, atas trend yang berlaku dari belahan bumi lain. Boleh jadi, sifatnya kurang bisa diterima, atau bahkan bertitik tolak dengan kultur yang ada.

Sejalan dengan perkembangan kemajuan zaman, bukan berarti harus merobah sikap dan prilaku keseharian. Juga tidak menganjurkan kaum muda meninggalkan stelan jeans atau jas, kemudian menggantikannya dengan kain sarung. Mengganti sandal kulit dengan sepatu, kopiah dengan topi. Kemajuan teknologi yang melintas batas ruang dan waktu, seperti uraian Alvin Toffler, merupakan sebuah keniscayaan. Dengan kata lain, bahwa perubahan akan selalu menghasilkan perubahan. Tinggal bagaimana menyikapinya, sehingga perubahan itu bisa bergerak dengan harmoni. Arga do bona pinasa. Konotasi ungkapan ini, sangat patut kita pahamkan. Karenanya, tetaplah memiliki rasa bangga, sebagai bangso batak yang berasal dari bona pasogit. Unang lupa adat batak dohot hata batak. Horas !

Catatan : – Bona pinasa = Kampung halaman
– Bona ni pinasa = Pokok nangka

Tautan ; Mungkinkah bahasa batak punah? klik disini
Tulisan sebelumnya, Tuak Takkasan, Parsubang, O … Tao Toba Nauli

Iklan

5 thoughts on “ARGA DO BONA PINASA

  1. tanobatak berkata:

    @ Rianthy
    Silahkan bere. Adt dua orang minta reposting tulisan lae Haji Imran ini. Tapi sayang, tidak banyak yg baca di blog ini. Semoga bermanfaat

  2. @Holmes Holmesq
    I ma tutu, lae da…!!
    Tung dao pe au di parjalangan
    Tung leleng pe au di pangarantoan
    Hutamglki do tong sai ingotonku
    Hutangki sai marsihol do au tongtong
    horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s