LESTARIKAN BATAKKU

Bungaran Antonius Simanjuntak [BATAK DI ANTARA IDEAL CULTURE VS REAL CULTURE]

Pengantar

Berkeinginan melestarikan kebatakan, itu berarti harus menelisik keseluruhan kebudayaan yang dimiliki, sekaligus berhadapan dengan budaya sekelilingnya, dan yang terpenting adalah pada saat yang bersamaan proses perubahan yang sedang berlangsung akan menghadang. Tidak ringan merealisasi keinginan itu. Untuk itu perlu mengetahui asset budaya apa yang pernah dan sedang dimiliki orang Batak.

Kemudian perlu sekali mengetahui bagaimana sikap orang Batak terhadap budaya di sekelilingnya. Bagaimana sikap dan persiapan orang Batak terhadap proses perubahan yang pasti akan melanda, serta bagaimana strategi untuk menghadapinya. Karena itu perlu mengetahui bentuk dan jenis perubahan yang bagaimana yang sekarang terjadi di Indonesia bahkan di dunia. Dengan mengetahui pola perubahan yang sekarang sedang berlangsung, maka orang Batak dapat melakukan pilihan strategi menghadapinya. Strategi bertahan-kah, beradabtasi-kah, konfrontatif-kah. Dalam term sosiologi antropologi, strategi akulturatif-kah, assimilasif-kah, adaptif-kah atau konfrontatif-kah dengan risiko muncul situasi konfliktif.

Lalu persoalan yang selalu muncul dikalangan orang Batak ialah, bagaimana menyatukan pandangan terhadap semua fenomena perubahan tersebut. Bisakah dibangun satu pandangan bersama yang sama? Karena kenyataan pada akhirnya setiap sikap dan strategi, berbeda aplikasinya terhadap satu unsur budaya dengan unsur budaya yang lain. Namun perlu ditemukan strategi umum yang berlaku untuk keseluruhan kebudayaan Batak baik dalam arti nilai maupum dalam arti sistem. Baru kemudian dicari strategi bagi setiap unsur sesuai dengan fenomena yang dihadapi. Mampukah orang Batak menyatukan pikiran untuk melakukan pilihan yang tepat dalam rangka memilih strategi untuk terlibat di dalam proses perubahan dunia yang dewasa ini sangat cepat berkembang?

Landasan Pemikiran.

Yang perlu diketahui pertama sekali adalah asset budaya Batak yang dimiliki sejak dahulu jaman nenek moyang hingga kini. Elemen-elemen budaya itu antara lain Marga, Struktur Sosial Dalihan Na Tolu, Partuturan, Adat dan upacara-upacara, sistem Organisasi dan sistem pemerintahan, sistem pengetahuan, sistem religi atau kepercayaan, sistem Bahasa dan Seni, sistem mata pencaharian, teknologi, dsb. Masing-masing elemen yang penting itu saling terkait satu sama lain bahkan saling mendukung dalam penerapannya di dalam lingkaran Kebudayaan Batak. Karena itu perlu diketahui bahwa kebudayaan Batak itu (termasuk kebudayaan bangsa-bangsa lain juga) merupakan gagasan atau cita-cita, (ada juga yang menamakan ideologi seperti Spencer ,1982), tindakan dan hasil karya manusia (Koentjaraningrat, 1990). Banyak batasan kebudayaan yang dikemukakan para ahli, a.l. E.B.Tylor, C.Kluckhohn, A.L.Kroeber, dll. Kemudian pengertian kebudayaan itu dirinci oleh ahli-ahli lain sesuai dengan penerapannya, misalnya oleh Ogburn dan Nimkoff, menyebutkan teori nilai yang membentuk stem-sistem budaya; Sumner menyebut teori kebiasaan (folkways and norms) yang mengarah kepada pembangunan norma-norma sosial atau social norms. Selanjutnya dari situ dibangun teori hukum formal dan non formal (Ogburn dan Nimkoff, 1956) di dalam sistem sosial.

Kita mengetahui bahwa geliat suatu masyarakat tampak pada saat proses hubungan-hubungan sosial berlangsung. Dalam proses hubungan sosial itu maka setiap orang diminta untuk mematuhi nilai dan sistem budaya yang pada umumnya terwujud di dalam adat istiadat yang mengandung norma-norma sosial. Pengingkaran terhadap norma-norma itu akan menimbulkan persoalan sosial, misalnya ketidak serasian hubungan, kekecewaan, kecurigaan, persaingan, pemaksaan, kekerasan bahkan konflik.

Masyarakat berkehendak mewujudkan tujuan bersama maupun yang sama, yang dinamakan cita-cita sosial (negara dalam konteks kenegaraan) melalui sistem pedoman hidup dan pedoman cita-cita. Oleh Spencer (1982) ini dinamakan ideologi, yang merupakan suatu unsur sistem nilai budaya. Secara operasional ideologi merupakan sistem pandang kelompok masyarakat terhadap kenyataan berdasarkan pandangan hidup tertentu. Ideologi adalah doktrin yang dipergunakan oleh kelompok masyarakat untuk mencapai cita-cita. Oleh karena itu semua sikap dan tingkah laku seharusnya disesuaian dengan pedoman pandangan hidup yang terkandung di dalam ideologi. Setiap penyimpangan atau penolakan terhadap ideologi berarti penyimpangan dari cita-cita yang ter-rumus-kan di dalam ideologi tersebut, akan berakibat buruk bagi masyarakat dan warganya. Dalam pelestarian Batakku diperlukan pencarian ideologi Batak itu apa dan bagaimana.

Asset Budaya Batak

1. Sejarah

Orang Batak masih mencari-cari (secara ilmiah/yang logic) dari mana asal mereka. Benarkah turun dari langit dan mendarat di Pusuk Buhit? Benarkah pendapat para ahli a.l. Harahap, Elizabeth Seeger, Edmund Leach, Boer, Keuning, Loeb, Niewenhuis, Sangti, A.B.Sinaga, Philips L.Tobing, Tichelman, Tideman, Vergouwen, Warneck, Duijvendak, dll. Benarkan dari Asia? Atau dari Hindia Belakang dan Hindia muka? Benarkah melalui tanah genting Kera di Semenanjung Melayu lalu ke pantai timur Sumatera atau dari Sulawesi tengah, turun ke Sulawesi Selatan lalu naik perahu ke barat dan mendarat di Lampung (Komering) kemudian ke Pusuk Buhit? Ini pekerjaan rumah yang menjadi asset budaya Batak yang harus digali untuk menemukan kebenaran dan kepastian..

2. Marga

Orang Batak sangat terkenal dengan marganya. Marga itu merupakan nama besar seorang nenek moyang. Mereka sepakat untuk tetap memakai nama nenek moyang itu sebagai identitas kesatuan, persekutuan dan spirit. Dari marga, orang mengetahui asal usul setiap orang, mengetahui partuturon (hubungan sosial genealogis), segera dapat mengetahui hubungan adat berdasarkan struktur sosial dalihan na tolu.

3. Struktus Sosial Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu adalah struktur sosial masyarakat Batak, yang timbul dari sistem perkawinan yang dianut (Patriarchaat, Patrilineal, Patrilocal). Akibat system perkawinan exogami yang dianut, masyarakat mengenal tiga kelompok sosial yakni pemberi istri menjadi golongan hula-hula, penerima istri menjadi golongan boru dan saudara semarga menjadi golongan dongan sabutuha/tubu. Struktur sosial seperti ini hanya dimiliki orang Batak. Filosofis yang menyertai bentuk hubungan sosial di antara struktur tersebut membuat orang Batak sangat tinggi nilai budayanya dan indah hubungan sosialnya. Tiga nilai filosofis hubungan social itu ialah pertama, Somba marhula-hula artinya sembah sujud alias hormat kepada golongan pemberi istri. Kedua, Elek marboru artinya kasih sayang kepada golongan pengambil istri. Ketiga, Manat mardongan tubu, artinya hati-hati bersaudara semarga. Ini asset hubungan sosial orang Batak yang sangat indah dan sangat fungsional. Ini harus disadari sepenuhnya. Walaupun dapat saja nilai filosofis itu kurang diterapkan secara sungguh-sungguh, sehingga tidak dirasakan nilai emosi dan religi yang terkandung di dalamnya.

4. Jaringan Hubungan Partuturon

Ada larangan memakai marga yang dilakukan oleh departemen tertentu yang tentu sangat merugikan. Tetapi ada juga sengaja tidak memakai marga dalam rangka strategi dalam kehidupan sehari-hari

Berdasarkan kepemilikan marga setiap orang Batak berkesempatan dan berkemampuan untuk membangun jaringan status hubungan dengan orang Batak yang lain. Marga adalah identitas utama pada orang Batak. Dengan menyebut marga maka orang lain terus dapat secara langsung atau melalui analogi membangun partuturan (reference). Membangun sapaan (address). Keakraban, keharmonisan, tanggung jawab, kebersamaan, dsb akan terbangun setelah saling mengetahui marga. Namun sebaliknya setelah saling mengetahui marga, juga dapat dihindari kecemburuan dan pertikaian, perkawinan incest, dll. Oleh karena itu keberadaan marga bagi orang Batak seharusnya dipertahankan.

5. Adat

Adat adalah milik orang Batak yang amat penting. Ini juga identitas yang membedakan orang Batak dengan sukubangsa lain. Adat adalah unsur budaya yang mengandung norma-norma yang bila dilanggar akan menimbulkan sanksi sosial dari warga komunitas. Terdapat berbagai-bagai adat yang dimiliki orang Batak. Kesemuanya disertai simbol-simbol kehormatan, kebanggaan dan commemorative. Itu sebabnya tampaknya orang tidak begitu suka merubah adat, tetapi pelaksanaannya disesuaikan dengan waktu yang semakin dihargai. Adat Batak mengandung konotasi reuni rohaniah dengan nenek moyang yang sudah lama meninggal. Karena itu keterlibatan dalam adat adalah keterlibatan yang saling mengakui dan menghormati setiap orang partisipan adat secara genealogis dan historis.

6. Demokrasi Batak

Ada delapan cabang nasip manusia pada hariara hangoluan tsb yang mengarah ke delapan mata angin.

Dalam pelaksanaan setiap upacara adat selalu diawali dengan pembicaraan proses adat yang dinamakan ria raja atau tonggo raja. Dalam even pembicaraan adat itu dirundingkan semua tahapan jenis adat yang akan dilaksanakan, tanggung jawab setiap struktur sosial, serta jenis simbol adat (hewan) yang akan disembelih. Semua partisipan ria raja ditawarkan untuk berbicara artinya mendapat hak berbicara, mengajukan pendapat, usul. Kemudian secara musyawarah diambil keputusan bersama.

Proses musyawarah seperti di atas berlaku untuk semua kegiatan yang akan dilakukan. Semua ulaon adat atau hajad orang Batak selalu dimusyawarahkan lebih dahulu secara terbuka, baru kesimpulan yang diputuskan itulah yang akan dilaksanakan. Kebiasaan demikian telah berlangsung sejak jaman nenek moyang. Bahkan Raja Sisingamangaraja sebelum memulai perang terhadap pasukan Belanda tahun 1987-1907 selalu bermusyawarah dengan pasukan dan raja maropat dalam rangka menentukan strategi perlawanan.

Oleh karena itu saya berkesimpulan bahwa nilai demokrasi pada orang Batak telah dikenal sejak dahulu kala. Bahkan saya telah mengatakan di dalam berbagai seminar bahwa demokrasi tertua di Indonesia adalah Demokrasi Batak. Artinya Demokrasi sudah menjadi darah daging orang Batak sejak dahulu kala.

Bahkan dalam keagamaan Batak yang asli, nilai demokrasi itu juga berlaku. Dikatakan bahwa Debata Mulajadi Na Bolon mempersilahkan roh/jiwa, tondi manusia memilih dan meminta nasibnya dan Dia akan mengabulkannya. Debata Mula Jadi Na Bolon akan menggantungkan nasib pilihannya itu pada salah satu cabang pohon kehidupan (hau hariara sundung di langit).

7. Bahasa dan Tulisan Batak (hata dohot surat Batak)

Semua suku bangsa di Indonesia, memiliki bahasa ibu-nya sendiri. Tapi tidak semua yang memiliki aksara/ tulisan. Orang Batak memiliki baik bahasa maupun aksara/tulisan. Ini juga adalah salah satu lambang identitas orang Batak yang penting. Namun problema dewasa ini, mulai hilang bahasa Batak dari kalangan pemiliknya. Bahkan aksara/tulisan Batak sudah hampir punah. Tampaknya orang Batak tidak menyadari bahwa salah satu kekayaan budayanya sudah ditinggalkan secara sengaja. Kenapa? Karena kurang berbobot? Kurang ilmiah? Kurang trendi dan bergengsi? Atau karena pengaruh globalisasi yang melanda tanah air dewasa ini?

8. Asset Lain-lain

Masih banyak asset budaya Batak yang pernah dimiliki, yang perlu disadari orang Batak (yang perlu pemikiran). Mau diapakan-kah semua itu. Antara lain: Pengetahuan arsitektur, seni tari, nyanyi dan musik (termasuk peralatannya), seni ukir dan perupaan, bercocok tanam, organisasi, pengetahuan, bertempur dan persenjataan, kedukunan dan pengobatan, dll. Silahkan dipikirkan.

Perubahan sosial

Orang Batak dewasa ini berada pada situasi budaya kenyataan (real culture) yaitu kenyataan sosial budaya orang Batak yang exist dewasa ini di wilayah pedesaan atau bona pasogit dan wilayah perantauan atau perkotaan. Kenyataan sosial budaya tersebut berhadapan dengan keindahan-keindahan budaya yang ditampilkan sebagai lambang-lambang identitas yang mengandung essensi keinginan, harapan, atau idealisme (ideal culture) yang kita warisi dari nenek moyang. Tetapi bagaimana sekarang? Kenyataannya sudah banyak yang berubah, ada yang sudah ditinggalkan tetapi ada yang tumbuh baru. Kita coba mengkritik diri kita sendiri, apalagi kalau kita hendak melestarikan Batakku (seperti judul yang diajukan panitia), kita buat beberapa daftar kecil sbb:

1. Anak-anak kita dewasa ini hampir tidak bisa lagi berbahasa Batak, teruama anak-anak yang lahir dan besar di kota-kota.

2. Orang dewasa Batak yang sekarang (sudah) hampir tidak tahu lagi menuliskan tulisan Batak.

3. Ibu-ibu dan bapak-bapak, sudah sering kedengaran berbahasa Indonesia sesama mereka dan tidak berbahasa Batak, walau di rumah. Kepada anak-anaknya mereka sudah cenderung berbahasa Indonesia.

4. Rapat-rapat lembaga agama yang homogen Batak Toba, juga sudah kebanyakan berbahasa Indonesia, walau nama gerejanya jelas gereja Batak. Bahkan karena pengaruh perubahan dan kebutuhan, tata ibadahpun sudah ditampilkan dalam bahasa Indonesia untuk kebutuhan kaum muda. Jadi tidak lagi hanya bahasa Batak.

5. Penganut sistem perkawinan tradisional yang katanya ideal (kawin pariban) sudah semakin sedikit. Bahkan sudah jarang terjadi perkawinan maranak ni namboru, marboru ni tulang. Sistem perkawinan yang berkembang dewasa ini ialah perkawinan lintas marga, lintas budaya, lintas suku, lintas bangsa, lintas denominasi, bahkan juga lintas agama.

6. Dan lain-lain, saya persilahkan kita teliti dan inventarisasi.

Semua situasi dan kondisi itu adalah perubahan yang dialami orang Batak dewasa ini. Perubahan Batak tersebut terjadi disebabkan pengaruh segala bentuk intervensi dari luar (ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi, politik, ekonomi, mobilitas dan budaya) maupun karena innovasi yang berkembang di kalangan orang Batak sendiri. Intervensi budaya tersebut juga datang dari dalam masyarakat lokal, regional, maupun internasional (global). Masyarakat Batak tidak dapat menghindar karena mereka berinter-relasi dan berinteraksi dengan berbagai budaya, bangsa, maupun dengan kemajuan jaman.

Kesimpulan

Ada dua faktor yang berhadapan di dalam kehidupan kebudayaan kita dalam rangka perubahan masyarakat Batak dewasa ini. Yaitu kebudayaan ideal dengan kebudayaan real. Kebudayaan real itulah yang membentuk ideologi. Karena ideologi adalah terjemahan manusia atas kenyataan yang dihadapinya, dan ideologi yang tetap berubah itulah yang mengendalikan hidup manusia.Termasuk manusia Batak. Kalau demikian apa yang harus lestari dari Batak itu? Saya kira nilai budayanya yang mengandung filsafat Batak. Yang berubah ialah system budayanya yaitu ideologinya. Silahkan direnungkan kalau merasa butuh dan perlu silahkan diteliti. Annabel B.Motz seorang ahli sosiologi dan antropologi memperingatkan kita sbb:

The rapidity of social changes in modern society has disrupted the old pattern.and the changing social situation has forced the individual to depart from conventional rules (Elliott dan Merril, 1961).

Prof Dr Bungaran Anton Simanjuntak adalah Guru Besar Sosiologi/Antropologi Universitas Negeri Medan, Ketua Program Studi Antropologi Sosial, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan. E.mail: bunganton@yahoo.com

Lihat buku Lihat Dr.Philips Tobing, The Structure of Toba Batak Believe in the High God., 1963, Dr.A.B.Sinaga, The Toba Batak High God Transcendence and Immanence, 1981, Bungaran Antonius Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, 2002.


Bookmark and Share

– Tulisan BAS :
– Perjuangan Holistik Raja Sisingamangaraja

Iklan

25 thoughts on “LESTARIKAN BATAKKU

  1. Arus materialisme dan sistem kedudukan/kekuasaan pemerintahan sangat berpengaruh kepada depresiasi masyarakat batak terhadap budayanya sendiri termasuk pengingkaran terhadap struktur sosial Dalihan Natolu yang notabene tidak memandang bulu terhadap keberadaan seseorang (kekayaan dan kedudukan/kekuasaan yang dimiliki).

    Mungkin kalau demokrasi yang sesungguhnya terterapkan di Indonesia, spt pelaksanaan demokrasi di USA (dipotong kapitalisme), ada kemungkinan budaya batak asli itu bisa terlestarikan ditengah kehidupan masyarakat batak.

  2. saya sedang mencari buku Bapak Bungaran Anthonius Simanjuntak judul KONFLIK STATUS DAN KEKUASAAN ORANG BATAK TOBA saya sudah mengecek ke seluruh toko buku Gramedia dan Gunung Agung namun sudah tidak ada lagi dan Penerbit Jendela yang menerbitkan buku itu sudah tidak ada di Yogyakarta. Mohon informasi saya membutuhkan buku itu. terima kasih sebelumnya

  3. Charlie M. Sianipar berkata:

    Suatu analisa yang baik, menambah wawasan.
    Bahkan belakangan ini, sebagian ada anak bangso Batak itu, sudah tidak bangga lagi dengan adanya unsur Batak dalam dirinya.

    Bahkan yang bangga menjadi bangso Batak, orang tua terutama di perantauan di kota besar, banyak yang tidak mengajarkan anak anaknya agar bisa berbahasa Batak. Mereka tidak menyadari, bahwasanya bahasa juga dapat punah. Sebaiknya para orang tua ini yang harus mempertahankan melestarikan bahasanya bila ingin budayanya lestari.

  4. bonar siahaan. berkata:

    Saya setuju dengan lae Charlie,bagaimana bisa mengerti apa itu falsafah orang batak sedang bahasa batak sendiri tidak dimengerti.

    Yang membuat saya heran,kalau melihat etnis tionghoa dimanapun,bahasa yang pertama diperkenalkan kepada anak-anaknya adalah bahasa ibu atau (tionghoa),namun bila di sekolah ponten tujuh berbahasa indonesia.

    Maka yang dapat melestarikan budaya batak sebaiknya orangtua yang konsisten mengajari anak-anaknya mengenal jatidiri orang batak yang sebenarnya yaitu;
    Keras namun lembut,pekerja keras tapi sangat cinta dan perhatian terhadap anak-anaknya,dan bangga menjadi orang batak.

    Saya yakin,bila orang batak bangga (dalam arti positif) menjadi orang batak maka batak itu akan tetap lestari sampai ahir zaman.

  5. Jane Ross br. Panjaitan berkata:

    Horas Prof Anton,

    Tulisan yang menarik namun hanya bersifat deskriptive. Sebatas memberi penilaian atas perubahan yang terjadi pada masyarakat batak yang saya kira begitulah kenyataannya.

    Masalah utama saat ini banyak muncul keluhan, bahwa ‘menjadi batak’ itu boros waktu dan boros biaya. ‘Menjadi Batak’ yang dimaksud seperti uraian bapak di atas…yaitu bermarga dan menjalankan dalihan natolu beserta acara-acara adatnya.

    Bagi yang kaya/mampu barangkali tidak masalah. Karena masih dapat “upah” berupa ikatan persadauraan/silaturahmi (bahkan status sosial ?). Bagaimana kami2 si miskin ini dan juga generasi muda, apa sih upahnya ?? Mau kawin, atau kawinkan anak biayanya besar ! Meninggal-pun biayanya besar !!

    Dimana wujud konkrit dari falsafah ‘HOLONG’ yang mendasari seluruh kegiatan adat dan dalihan natolu itu ?

    Budaya batak tampaknya hanya cocok untuk masyarakat agraris seperti jaman dulu. ‘Tindak tanduknya’ jauh tertinggal dengan kebutuhan dan problem jaman moderen ini. Apalagi dengan masyarakat urban perkotaan?

    ‘HOLONG’ yang mendasari budaya batak berhenti sebatas kata-kata/umpasa dalam ritual kegiatan adat. Tidak berlanjut secara sistimatis dan melembaga untuk membantu kebutuhan dan problem kehidupan sehari-hari masyarakat kota/urban secara kongkrit.

    Amatilah sebuah contoh yang sangat ironis. Dalam acara adat kematian orang batak di kota-kota, biasanya selalu hadir perwakilan dari punguan marga yang meninggal. Memberikan sumbangan paling-paling sebesar rp.200ribu’an. Padahal anggota punguan itu 500 Kepala Keluarga (KK). Artinya setiap KK menyumbang Rp.400…Hah!

    “Janganlah dilihat dari besarnya sumbangan dalam amplop ini, tapi rasakanlah sebagai ungkapan ikut berduka dan ‘holong’ kami kepada keluarga disini”

    Ironis…dan juga munafik !!, apalagi kebetulan miskin pula keluarga yang meninggal ini.

    Sedangkan di sebuah komunitas para-tetangga satu wilayah di Depok, yang sangat heterogen, tidak ada hubungan persaudaraan, berbeda-beda agama dan susah untuk saling kenal, sumbangannya mencapai rp.5juta lebih.

    Karena ternyata mereka sudah sepakat setiap KK memberikan minimal rp.20ribu untuk setiap ada yang meninggal. Uang ini sudah dikumpulkan sebelumnya menjadi uang kas cadangan bagi yang meninggal. Inilah produk budaya dan sosial yang positif. Disini saling mengasihi menjadi nyata.

    Jadi, mulailah kita beranjak pada upaya menggali ide-ide segar yang faktual yang terutama bermanfaat dalam kehidupan sehari2.

    Misalnya, bagaimana agar pasangan yang sudah sehati ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan, tidak terhambat oleh masalah biaya acara adat ?!.

    Bagaimana setiap orang batak yang meninggal, minimal biaya peti mati + ambulan + tanah kuburan ditanggung oleh Punguan ?!

    Bagaimana anak dan pemuda/i yang sudah tidak sekolah atau selesai sekolah sesegera mungkin mampu mandiri secara ekonomi ?!

    Bagaimana setiap anak Batak yang lulus sekolah menengah atas memiliki skor TOEFL diatas 500 dan juga tidak gagap-teknologi komputer dan internet ?!

    Bisa kita tambahkan banyak hal yang berguna untuk kita pecahkan bersama-sama.

    Adat batak tidak perlu kita lestarikan, yang penting kalau bermanfaat bagi masyarakatnya maka otomatis akan sangat dicintai………….

    Songon nima jolo komentar nami,..muliate

  6. Bonar Siahaan berkata:

    Untuk ito Jane Ross br.Panjaitan.

    Menurut penelusuranku,bahwa adat batak itu sangat perlu dilestarikan,namun kita harus mengerti apa arti sebenarnya adat batak. Mungkin ito hanya melihat adat itu hanya sebatas pada acara-acara tertentu,seperti pada saat kematian dan perkawinan.

    Coba ito renungkan bila tehnologi sudah menguasai seluruh kehidupan manusia (batak) tanpa ada keseimbangan moral.
    Memang manusia tanpa tehnologi pasti ketinggalan mengikuti perkembangan zaman dan seterusnya bisa tergilas oleh zaman. Namun bila tehnologi tanpa adat pasti akan menjadikan manusia menjadi orang bar-bar.

    Maka,sebenarnya adat itu adalah holong,terlepas dari pribadi yang menempatkannya seperti apa. Bukan adatnya yang tak perlu,tapi penggunaannya yang mungkin tidak pas.

    Horas, “sai anggiatma asi rohani adat tumpak’ roha ni uhum”.

  7. Rafina Harahap berkata:

    Horas eda Jane Panjaitan,

    saya kira utk “beradat” itu tergantung niatnya, tidak harus mahal. Yang penting, makna dan pesan dari ritual tsb dijalankan, dipahami, dan Insya Allah, dilaksanakan. Di keluarga kami, yang bukan golongan Batak elit, kerapkali Pasu-pasu dan Mangupa dilaksanakan dgn sederhana. Bahkan kemarin, salah satu sepupu yang yatim piatu dan hidup sehari-harinya pas-pasan, tetap “nekad” upacara Mangupa seadanya. Boro-boro beli kerbau, beli kambing saja gak punya duit, akhirnya cukuplah menggunakan beberapa ekor ayam. Kami yang tadinya suka cuek dan bosan dgn acara adat, jadi terharu dan mengikuti acara itu dengan sungguh-sungguh, di sebuah gang sempit dengan got hitam yang bau (sorry) di Jakarta Timur.

    Dalihan na tolu tetap diperkenalkan di keluarga kami. Ketika Parsadaan keluarga kami, halal bil halal Lebaran kemarin, markobarnya sesuai dgn urutan dalihan na tolu. Kalo gak gitu, bagaimana kami bisa tahu istilah yang “aneh-aneh” seperti pisang raut? Dulu kirain ini sejenis makanan 🙂

    Kalo soal sumbangan, wah, kayaknya itu punguan eda aja yang pelit 🙂 Di Parsadaan kami ada kegiatan mengumpulkan sumbangan utk anak yatim piatu atau kurang mampu. Pernah kami dapat surat dari kampung (Pargarutan Gunung Manaon Tap-sel) ada kerabat yang rumahnya terbakar habis dan butuh sumbangan. Kami rame-rame iuran utk membantu keluarga yang tidak kami kenal itu (habis belum pernah mulak tu huta, jadi gak tahu siapa aja kerabat di sana).

    Mauliate.
    Rafina Harahap.

  8. Jane Ross br. Panjaitan berkata:

    Horas Ito Bonar dan eda Rafina….

    Yang saya maksud sebenarnya budaya Batak itu nilainya sangat tinggi, ….tarombo/marga dan dalihan natolu adalah modal dasar sosial kita yang sangat besar. Saya yakin bisa kita setarakan dengan bangsa2 maju lain seperti Yahudi, Jepang, Skotlandia, Korea. Bedanya mereka telah berhasil memanfaatkan modal budayanya mencapai kemajuan peradaban seperti saat ini.

    Prof Dr Bungaran Anton Simanjuntak telah menjabarkan 8 aset budaya batak. ; sejarah, marga, struktur sosial dalihan natolu, partuturon, adat demokrasi, bahasa dan tulisan, dll sebagai modal sosial dasar yang telah terbukti dimasa lalu membawa bangsa batak ‘tidak punah’ sampai saat ini.

    Masalahnya, sejak masuknya agama kristen/islam dan terbentuknya negara Indonesia, terjadi perubahan yang sangat besar pada bangso batak. Sebuah perubahan sosial yang sangat cepat. Kebutuhan dan persoalan hidup-pun berubah dari masyarakat agraris-homogen-tradisional menjadi urban-heterogen-modern. Disinilah perkembangan budaya kita ‘tertinggal’…….

    Budaya kita masih belum banyak beranjak dari pemenuhan kebutuhan2 dan persoalan2 hidup dari masyarakat yang agraris agraris-homogen-tradisional. Belum lagi ditambah dampak dari perkembangan dunia akan teknologi dan informasi.

    Prestasi riil budaya batak sebagai sebuah komunitas…baru sebatas menjamurnya Punguan sebagai wadah ber-silaturahmi dan aktifitas seremonial. Dan bagi yang kristen ditambah lagi mampu membangun gereja HKBP, GKPI, GKPS, HKI, GBKP dimana2. Padahal kebutuhan dan persoalan hidup jauh lebih banyak dari ini ‘khan ????

    ——————————————————————-!!!
    (kutipan dari komentar saya sebelumnya)

    JADI SEKALI LAGI,….
    mulailah kita beranjak pada upaya menggali ide-ide segar yang faktual yang terutama bermanfaat dalam kehidupan nyata sehari2.

    Misal,..

    1. Bagaimana agar pasangan yang sudah sehati ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan, tidak terhambat atau menunda2 berkeluarga oleh masalah biaya acara adat ?!.

    2. Bagaimana setiap orang batak yang meninggal dikota, minimal biaya peti mati + ambulan + tanah kuburan ditanggung oleh Punguan ?!

    3. Bagaimana anak dan pemuda/i yang sudah tidak sekolah atau selesai sekolah sesegera mungkin mampu mandiri secara ekonomi ?!

    4. Bagaimana setiap anak Batak yang lulus sekolah menengah atas memiliki skor TOEFL diatas 500 dan juga tidak gagap-teknologi internet (ICT) ?!
    —————————————————————-

    Eda Rafina dan Ito Bonar….begitulah saya menekankan penilaian saya. Intinya bahwa budaya batak kita asetnya memang sangat besar, tapi daya gunanya masih sangat terbatas. Sayang sekali !

    Modal sosial kita sudah tersedia (given) dan sangat cukup, tinggal bagaimana kita mampu mengembangkannya. Terutama diarahkan untuk menata dan mengorganisir diri sebagai sebuah komunitas yang berdaya untuk meningkatkan peradaban dan kemajuan suku batak.

    Kuncinya, memang dibutuhkan sikap membangun budaya dengan prinsip-prinsip baru, yang modern….YAITU mengandalkan terbangunnya dan berfungsinya institusi2 dan organisasi2 sosial modern baru yang efektif, tranparan, dan efisien .

    Jangan lagi budaya kita dibatasi hanya pada perdebatan hal-hal teknis segala tetek-bengek acara adat ataupun tarombo/silsilah siapa marga yang paling tua………

    Kuncinya, kita gulirkanlah segera…..sebuah GERAKAN PERUBAHAN kebudayaan batak yang baru.

    Sebuah GERAKAN untuk lebih menatap dan mengelola masa depan secara bersama dengan penuh percaya diri…….yang dibangun dengan falsafah HOLONG.

    Karena memang kita telah dipersatukan sebagai sebuah komunitas BATAK, yaitu bagi siapa saja orang yang bermarga sekaligus menjalankan konsep dalihan natolu,…dialah yang disebut orang BATAK.

    Mimpi saya adalah, satu saja dari ke-4 misal yang saya sampaikan diatas dapat kita lakukan……itu pastilah menjadi awal dari capaian dari sebuah kemajuan besar dalam peradaban kita. Akan terus bergulir seperti bola salju…membesar..terus membesar..dan semakin cepat membesar ….

    Songon nima jolo, muliate

  9. petrick tambunan berkata:

    Horas Prof Anton
    saya adalah seorang mahasiswa di P. Siantar, saat ini saya sedang dalam proses pengerjaan skripsi dengan tema Akulturasi Islam Dengan Budaya di Indonesia; Secara Khusus Daerah Batak.
    Saya kebingungan mencari literatur-literatur mengenai tema persentuhan adat batak dengan islam di tapanuli. Dapatkah bapak menolong saya ?
    Horas Parjolo, Mauliate

  10. Anson Simanjuntak berkata:

    Untuk Ito Jane Ross Br. Panjaitan.

    Semua yang ito Tuliskan di blog ini betul semua dan tidak ada yang salah dari sudut pemikiran Ito.
    Itu sah-sah aja. Adat itu tidak ada yang salah karena mengajarkan pola hidup yang sangat jelas dan tergantung orang yang akan menjalankan dan melaksanakannya.
    Mengenai ada orang meninggal dan ucapan turut berduka cita hanya diberikan RP…………., Itu adalah tergantung dari kesepakatan dari masing-masing anggota dari perkumpulan tersebut. Nah kalau ito merasa itu sangat kecil, Ito bisa menambahkan-nya dengan istilah dalam perkumpulan kami ” ILU MANETEK” saya rasa masalahnya selesai.
    Itulah yang dinamakan HOLONG seperti yang disebutkan dalam tulisan Ito. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri, kalau itu sudah kita lakukan mudah-mudah ada orang lain yang mengikuti jejak kita.

    Untuk masalah-masalah pembangunan Gereja.
    Kalau jemaatnya sudah banyak dan gedungnya sudah tidak memadai, apa salah kalau gereja itu direnopasi atau dibangun dengan baik sesuai kebutuhan dari jemaat di gereja itu.
    Pembangunan gereja Itu pun tetap melalui rapat-rapat pengurus Gereja dan jemaat. (Beradat juga)

    Mudah mudahan tali persaudaran kita orang orang batak dapat berkembang dan maju bersama tanpa kita meninggalkan adat istiadat kita.

    Horas, Tuhan memberkati.

  11. Bonar Siahaan berkata:

    @ Jane Ross br Panjaitan.
    Mengutip kalimat ito …begitulah saya menekankan penilaian saya .Intinya bahwa budaya batak kita assetnya sangat besar,tapi daya gunanya masih sangat terbatas dst …
    Saya sependapat dengan penilaian ito,namun kita harus mengenal apa dan bagaimana sebenarnya budaya batak itu secarah utuh,baru kemudian kita mulai memikrkan bagaimana mengembangkannya tanpa menghilangkan nilai budaya itu sendiri.
    1. Budaya batak menggariskan;
    a. Menerima perbedaan pendapat untuk merumuskan sesuatu demi tercapainya cita-cita bersama.
    b. Sangat mengedepankan musyawarah untuk menyelesaikan setiap permasalahan (“sise mula hata,sungkun mula uhum”).
    c. selalu Memikirkan dan melakukan sesuatu untuk kehidupan yang lebih baik (bercocok tanam,beternak dan kegiatan ekonomi lainnya).
    d. Meyakini Tuhan maha pencipta (Debata Mulajadi Na Bolon)
    e. Menjaga dan menjunjung nilai “somba marhula-hula,elek marboru,manat mardongan tubu jala hormat tu raja jolo”.

    Horas,dan untuk lebih jauh silahkan hubungi e mail pribadi saya (lihat saya cinta budaya batak di blog ini). Dan Salam kepada semua pengunjung blog tanobatak ini.

  12. jantositohang berkata:

    Horas,
    dengan kodisi yang serba plural memang bisa mau menyamakan pendapat akan memerlukan waktu. Namun mari kita lihat bagaimana disebagian daerah (kumpulan marga atau Punguan lainnya) yang cukup berhasil dalam menerapkan hukum batak. Dan banyak yang harus diapresiasi.
    Sebaliknya tidak tertutup kemungkinan bahwa hal2 yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Ini bisa terjadi oleh beberapa hal : kurangnya perhatian terhadap punguan itu, tidak ditata dengan baik (biasanya ada ADRT) dan yang rate paling tinggi di orang batak adalah Hosom, Elat, Teal, Late.
    Tetapi kondisi dan waktu akan menguji ini semua bilamana kita punya niat baik dalam satu punguan, dan mulailah dari diri kita. Jangan membuat penilaian dulu kepada orang lain, karena ketika kita sedang menilai maka kita pun sedang dinilai.

    Buat saya, Budaya batak itu sangat indah . Mungkin perlu di sempurnakan penerapannya sehingga bisa diterima di era ini yang sarat dengan modernisasi dan saving time.
    God Bless, dari : Janto Sitohang (Baringin, Parlilitan)

  13. Warisan budaya Batak wajib di lestarikan oleh suku Batak. Kesadaran tinggi akan rasa memiliki sangatlah perlu di zaman sekarang .

    Makna Marga bagi saya adalah Penyangga keharmonisan sesama Orang Batak di manapun mereka berada .

    Horas jala gabe 😀

  14. beberapa hal yang harus kita perbaiki dalam kehidupan kita sebagai orang batak
    1. pola pandang yang salah mengatakan hepengdo namagatur duniaon. sehingga itu membuat kita tidak terpokus pada Tuhan tapi lebih besar presentasi hidup hanya untuk duniawi saja
    2. panatikisme terhadap kekristenan tetapi tidak panatik pada ingin menjadi serupa dengan Kristus. sehingga kita tidak menaruh iman diatas adat tapi adat semata menjadi diatas iman
    ( iman/ kekristenan dikalahkan adat)
    RENUNGKAN: APAKAH ANDA PENGIKUT KRISTEN??????? ATAU APAKAH ADAN PENGIKUT KRISTUS? APA UNTUNG DAN RUGINYA?

  15. Jane Ross br Panjaitan berkata:

    Horas Sasudena

    Kebetulan saya membaca artikel di blog ini. Saya agak terkejut ada komentator bernama sama dengan saya. Saya adalah Jane Ross, orang Australi yang diberi marga boru Panjaitan. Suami saya marga Tambunan. Profesi saya guru TIK (Teknologi).
    Saya hanya menjelaskan bahwa Jane Ross br. Panjaitan yang memberi komentar disini bukan saya.

    Muliate,

    Jane Ross br. Panjaitan

  16. Hello Jane Ross br, Panjaitan dari oz.
    sangat mengharukan sekaligus membanggakan jika mengetahui bahwa ito Jane Ross yg asli dari Australia, lantas diberikan predikat Boru Panjaitan ( Tuan di bangarna) Kemudian jadi sedikit tercengang, karena ternyata di dunia maya yg lingkupnya memang sudah begitu besar, namun sangat kecil kemungkinan bertemu dua nama yg persis sama hehehe…
    jangan jangan Jane Ross Br. Panjaitan yg asli dari Batak ini adalah mantan lae Tambunan hauhahahaha
    *joke*

    salam kenal.. Horas !!!!

  17. Bonar Siahaan berkata:

    @s.Aritonang
    Batak tidak seluruhnya ber-agama Kristen, dan agama adalah urusan manusia dengan Tuhan…..sedang adat adalah urusan manusia dengan manusia.
    menurutku kekristenan tak perlu dicampur adukkan dengan adat-batak sebab adat-batak bukan hanya milik Kristen.
    kita harus menyadari kesalahan pada “parsadaan marga-marga” yang selalu dimulai dengan cara Kristen, padahal dalam kumpulan marga ada yang tidak ber-agama Kristen sehingga mereka merasa dikucilkan sehingga mereka menyingkir.
    Mari kita fikir…. parsadaan marga hanya untuk umat Kristen? Atau kita harus memaksa mereka harus se-agama dengan kita?….
    Agama bisa memisahkan kekeluargaan, tapi adat dapat mempersatukannya. Fikirlah untung-ruginya.

  18. Rondang br Siallagan berkata:

    Memang betul yang dikatakan Amang Bonar “kita jangan mencampuri urusan adat dan agama.dalam punguan”. Kami sudah mengalami seperti itu…didalam punguan dicampuri urusan agama…Berdoa boleh tapi kegiatan jangan dicampuri…Dulunya punguan (BP) hidup tapi setelah dimasukkan masalah agama Kristen…satu persatu mundur teratur…akhirnya di bilang mati tidak dibilang hidup tidak…
    Dan tahun 2007 di bentuk pengurusan baru lagi. Dan beberapa orang beragama muslim mulai kembali masuk….satu persatu..

    Tadinya Punguan Silahisabungan kami akan seperti itu …ada pendeta ingin “memasukkan agama”…kami sebagai anggota menolak keras…karena kami tidak setuju caranya…akhirnya dia mundur dari punguan
    Tapi akhir2 ini dia mulai masuk lagi…Tidak terasa punguan Silahisabungan kami berumur 9 tahun.

  19. ND Hutabarat berkata:

    LESTARIKAN BUDAYA BATAK

    1. Studi timbul tumbuh Inrternal Eksternal
    2. Manusia Batak bisa mapan konvergentip
    3. Namun dalam budaya wajar konvensi
    3.1.Bukan hanya Garis IT S Ilmiahteknologi Sekular
    3.2 Tapi IT SS Ilmiahteknologi Sakral Sekular
    4.Ingat Awal Ajaran Bataraguru + Deak Parujar
    4.1.Diterima dari Mulajadinabolon (Tuhan Allah Debata Jahowa: Abad 19)
    4.1.Bibkl dan Quran
    4.2.Tatkala mereka di Dunia Para Dewa
    4.3.Dijabarakan Deak Parujar di Dunia Bumi
    4.4.Dalam Demografika Geografika Kulturologika
    4.5.Di Generasi Regenerasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s