ULOS BATAK UNTUK SULTAN JOGYA

Monang Naipospos

Keraguan saya tentang sah atau tidak utusan masyarakat Batak di Jogya “mangulosi” Raja Jogya itu sempat kupendam. Namun setelah sahabatku SM Nainggolan minta pendapat akhirnya kuberi komentar.
Saya ragu juga, bila komentar itu salah sehingga saudara Nainggolan menjadi korban ketidak jelasan pemahaman legalitas masyarakat batak mangulosi Raja Jawa, akhirnya kuposting di halaman ini. Saya pun bersedia dikritik bila komentar saya kurang berkenan.

Horas lae, tarjaha au do i di Kompas, Senin, 17 Desember 2007, Gubernur DI Yogyakarta yang juga Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X bersama Permaisuri GKR Hemas, Sabtu (15/12) malam, menerima ulos dari warga Batak yang tinggal di Yogyakarta. Mansai geok do huhilala, alana di ulos i adong tarsurat KERABAT.
Siulosan ima na tardok ianakkon, gelleng. Berarti iba namangulosi i ima horong natoras manang hulahula dohot tulang.

Sipata do diulosi dohot ulos sampe anang sipajoloon tu ulaon, ulos sampe ma goarna. Molo di lilithon do tu abara, ulos panghopol ma goarna. Molo pahean lengkap dohot tali-tali, bulang-bulang ma goarna.

Hubereng disi, adong ulos sampe (sampe-sampe), adong ulos panghopol (sampe di abara). Berarti marraja ma sultan i tu halak batak napasahathon i, ia so i marhulahula. Ima habetengon ni nasida. Alai ala so dipatorang i tu sultan, gabe asal dijaloi, mungkin dianggap cenderamata manang penghormatan tertinggi songon nidok ni nasida i.

Alai tartondong rohangku, ulos politik do i, bah… alai ra pajolohu iba mandok.

Masa do nahinan mamahe hulahula. lapatanna dilehon pahean hatongamon sian ulos tu hulahulana uju ro tu ulaon alai tongon dang diboan paheanna ima ulos hatongamonna. Dang namangulosi goar ni i, alai “mamahe” do goarna. Ingkon hulahula nasolhot do boi paheon, tarsongon simatua manang tulang. Namanginjam do tulang manang simatua i di pahean i.

Sikap kritis generasi muda batak untuk menempatkan fungsi budaya dalam kehidupan tidak dapat lagi disangkal. Ketelodoran para generasi tua “siboto adat” dalam praktek pemanfaatan simbol kebudayaan dalam relasi sosial sudah sering terjadi. Apa dampaknya?

Dalam keseharian kita sudah menyimpang dari fungsi tradisi dan penggunaan lambang tradisi itu. kehidupan dinamis yang mendorong budaya lebih dinamis membuat orang batak meninggalkan pakem budaya itu dan sudah sejak lama berlangsung. Bayangkan, bila yang sudah berusia 70 tahun keatas saat ini melakukan praktik plesetan budaya sesama etnik akhirnya menularkan kepada etnik lain. Kejanggalan ini semakin kontras manakala yang menerimanya adalah Raja Jogya.

Selama ini sering terjadi, masyarakat batak di bonapasogit memberikan seperangkat pakaian adat batak kepada petinggi negara. Ada dualisme pemikiran tentang sah atau tidaknya pemberian dari masyarakat kepada seorang pemimpin. Ada yang berpendapat bahwa pemimpin yang dianugerahi itu adalah “putra” masyarakat yang mengemban tugas kenegaraan. Sebagian lain menganggap bahwa pemimpin itu adalah “raja” sehingga masyarakat tidak layak memberikan ulos atau mangulosi.

Untuk memecahkan polemik pemikiran ini, kita perlu menelusuri makna pemberian ulos dan judul kegiatannya. Ulos kepada “anak” atau “boru” dapat berupa anugerah yang dikembangkan “herbang” diatas pundak seraya memohon kiranya Tuhan memberkati.
Ulos sampe yang terlipat lurus membentang dipundak kanan dapat berarti sebagai bekal pemberangkatan untuk memperoleh keselamatan dan perlindungan dari Tuhan untuk melaksanakan tugas atau mencari cita-cita.

Seperangkat pakaian “hatongamon” yang lajim disebut bulangbulang, terdiri dari ulos sampe, hobahoba, talitali, piso halasan dan talitali tumtuman diberikan kepada seseorang yang telah dinobatkan sebagai raja atas prakarsa dan keberhasilannya melakukan perjuangan kepentingan kehidupan masyarakat, diplomasi, perdamaian. Bulangbulang tidak disertai ulos “hembang” yang dibentangkan diatas pundak karena tidak permohonan lagi tapi sudah merupakan penganugerahan kehormatan dari apa yang sudah “herbang” terbentang dari perbuatannya.

Nah, mari kita berpikir,.. apa yang layak kita (mereka) anugerahkan kepada Raja Jogya?

Tautan :

Ulos Ragi Napitu
Ulos Produk Eksotik
Proses Pembuatan Ulos
Ulos Mesa
Sopo dohot Ulos
Perajin Ulos
Baliga Ditangan Pria
Songket Batak Tandingi Songket Palembang
Tenun Ulos ATBM
Mengenal Ulos Batak

Iklan

13 thoughts on “ULOS BATAK UNTUK SULTAN JOGYA

  1. Hotman Jonathan Lumbangaol berkata:

    Horas;
    Jadi menurut au amang ate, naso tardok mamboto adat-alai maradat, dang pola boha i hu hilala. Alana, ulos pe boi doi berubah makna songon na nilehon halak Batak di Yogya tu Sultan HB Ke X i. Alana ia hanya bentuk cendera mata dohot melambanghon–komunitas ni halak Batak na di Yogya menerima Sultan sebagai orang yang layak dikasihi, dang halak Batak Sultan i–dang huboto manang tohodo ibana mar-amangboru tu TB Simatupang?.

    Boi do tong ahu dijumpai di http://www.naipospos.com desk opini.

    Sian
    Hotman Jonathan Lumbangaol
    wartawan majalah TAPIAN hotman_marluga@yahoo.co.id

  2. Charlie M. Sianipar berkata:

    Molo ni jaha surat ni Lae SM Nainggolan dohot na sinurat ni Tulang Naipospos gabe longang do iba, angka natua tua pe, laho pasahat ulos songoni ma na binota nasida, on ma namambahen gabe dihasomalhon angka naposo annon tu joloan niari.

    Tagoari ma i, cindera mata.

    Asa diingot Sultan i, adong do halak Batak di Jogja namarhuta diluat i namanghaholongi Sultan.

  3. Marudut p-1000 berkata:

    Membaca berita: Orang Batak memberi ulos kepada Sultan menurutku adalah sesuatu yang sangat bagus dan perlu mendapat apresiasi. Itu menandakan bahwa kita,Orang Batak, adalah masyarakat yang sangat terbuka dan menghormati bumi [baca:daerah] yang kita pijak. Langkah diplomasi ini perlu mendapat dukungan dari seluruh Bangso Batak tentu dengan menempatkannya secara proporsional sesuai dengan tujuannya dengan tidak mengaitkannya dengan Dalihan Natolu.

    Kembali lagi menurutku, Adat Batak yang sangat kita cintai ini harus dinamis terhadap perkembangan jaman agar tidak lekang dimakan waktu sehingga tetap bisa menjadi identitas. Kita sebagai generasi penerus harus terus berusaha membuat terobosan untuk mengakomodir kebutuhan jaman dengan tidak meninggalkan ortodoksi adat di kalangan kita sesama Batak. Sebagai contoh, karena ulos yang ada sekarang ini belum tersedia jenisnya untuk mengakomodir kebutuhan diplomasi maka kita perlu membuat/menetapkan jenis ulos yang baru untuk tujuan ini dimana eksistensinya berada di luar Dalihan Natolu. Begitu juga dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti sering kita lihat suatu punguan memberikan kenang-kenagan kepada anggota punguannya yang akan pindak ke daerah lain atau kebutuhan untuk dijadikan pakaian atau stelan jas dan sekarang sudah banyak juga kita lihat ulos dijadikan taplak meja dan penutup sandaran sofa.

    Kita berharap banyak dari para designer Batak seperti Merdi Sihombing, Valentino Napitupulu dll untuk memikirkan perkembangan jenis ulos yang disesuaikan dengan penggunaannya sesuai dengan tujuan masing-masing.

    Songoni ma jo Amang pendapat sia ahu,mauliate.Horas.

  4. Bonar Siahaan berkata:

    Saya pernah memberikan ulos kepada mertua putra saya dengan maksud “mamahe” (melengkapi pakaiannya untuk upacara adat batak),tapi itu bukan untuk mangulosi.Benar-benar untuk melengkapi pakaian kebesaran untuk kepentingan adat martondong.
    Menurut hemat saya bila seseorang mangulosi atau “manghohophon” ulos kepada orang lain, itu jelas yang diulosi adalah “pamoruan atau anaknya” untuk diberkati.
    Tapi “mangulosi”sangat beda dengan memberikan “ulos” (mamahe),sebab pengertian mangulosi dalam adat batak jelas antara hula-hula terhadap pamoruan.
    Maka bila orang batak mangulosi Sultan Jokya itu sama dengan orang batak yang mangulosi adalah rajanya atau hula-hulanya Sultan Jokya, dan biasanya bila mangulosi disertai dengan “manjomput si pirnitondi” kepada yang diulosi. Maka yang mangulosi adalah “raja” bagi yang diulosi.
    Tapi saat ini orang yang telah merasa “dituakan” belum tentu pernah mempelajari apa arti (makna) mangulosi, sehingga gampang mangulosi sampai kepada pembesar negara sekalipun (sedangkan ayam induknya yang mangulosi anaknya).
    Memberikan (mamahe) tidak sama dengan memberi “saping bulang-bulang”, tapi dua-duanya sangat kontras dengan mangulosi.

    Saya sangat setuju bila orang batak memberi ulos kepada suku apapun, namun harus mengetahui makna mangulosi dan memberi ulos. Sebab bila yang diulosi mencaritau apa maknanya yang benar dia pernah diulosi akibatnya bisa fatal bagi yang mangulosi.
    Maka dalam hal ini mari kita sama-sama mempelajari “ruhut ni adat” agar kelak generasi mendatang tidak salah mengertikan “ulos”.
    Kalaupun saat ini ulos telah ada yang dijadikan macam-macam,itu bukan ulos yang sebenarnya tapi hanya “haen” yang bermotifkan ulos.
    Saya pernah dengar pada saat seminar di aula SMK Negeri 1 Balige kepada Valentino Napitupulu “dapatkah ulos ragi napitu”digunting jadi pakaian”?.

    Maka kepada siapapun yang sudah dituakan atau ingin dituakan, bergiatlah mempelajari “ruhut”. Sebab perbuatan andalah yang akan dicontoh.

    Mohon maaf bila ada kata-kata saya ini yang tidak berkenan. “Pauk-pauk hudali pago-pago tarugi, natading taulahi nasega tapauli”.

    Horas.

  5. Pahala Panjaitan berkata:

    Nadi minggu nasalpu i Bupati Tobasa dohot keluargana (inanta soripada) dibulang-bulangi masyarakat kecamatan tampahan dalam rangka perayaan 1(sat) tahun kecamatan Tampahan dan dirangkai maon dohot pesta Oikumene di Kompleks Gereja HKBP Tampahan isini bulang-bulangi tu Bupati berupa Hohop, ulos hadang, piso halasan, tongkat dohot sortali dohot tukeluargana (inanta soripada) berupa ulos hohop, ulos hadang, dan sortali serta rajut dipasahat amanta Op Maulina Napitupulu dohot inanta boru Silitonga, Op Martin Simanjuntak dohot inanta boru Marpaung, Op Rosmata Huta Gaol dohot inanta boru Simanjuntak(nunga boi masibuatan huta gaol dohot simanjuntak ?). Khabarna pemberian bulang-bulang i alana sukses do amanta Bupat dalam mengemban amanah untuk mempercepat pembangunan di Kabupaten
    Tobasa. Hurang paham do ahu masalah bulang-bulang on tohodo manang na bohado acara tersebut menurut paradaton ni halak hita batak. Botima Mauliate

  6. Rafina Harahap berkata:

    Horas!

    Di berita Kompas 17 Desember 2007, disebutkan bhw Sultan diulosi karena beliau mengayomi warga Batak di DIY.

    Hotman M. Siahaan dan Basyral Hamidy Harahap, dalam bukunya “Orientasi Nilai-nilai Budaya Batak”, membagi nilai budaya Batak menjadi 9 kelompok, dan “pengayoman” menempati urutan terbawah.

    Mereka berdua meneliti 600 ungkapan tradisional (umpama/umpasa) Batak Toba, Angkola dan Mandailing dari berbagai sumber, terutama buku adat-istiadat, hukum, cerita rakyat dan lagu-lagu rakyat. Makna pesan budaya 600 ungkapan itu dirinci menjadi 109 nilai yang memiliki 1.136 frekuensi yang dikelompokkan dalam 9 kelompok nilai utama.

    Kesembilan nilai utama itu adalah:
    1. Kekerabatan 34,86%
    2. Religi 22,36%
    3. Hagabeon 14,17%
    4. Hukum, patik dohot uhum 7,74%
    5. Hamajuon 5,9%
    6. Hamoraon 4,31%
    7. Hasangapon 4,17%
    8. Konflik 3,7%
    9. Pengayoman 2,82%

    Pengayoman dalam kehidupan sosio-kultural Batak kurang kuat dibanding ke-8 nilai lainnya. Ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayom, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak. Hanya dalam keadaan yang amat kritis, dia membutuhkan pengayom.

    Jadi jika Sultan dianggap sebagai pengayom halak kita, itu tidak sesuai dengan karakter bangsa Batak.

    Karena perjuangan hidup orang Batak dijalani dalam suasana hubungan primordial yang kuat, kehidupan keagamaan dan jaringan ikatan kekerabatan dalam lingkungan keluarga besar. Keluarga besar dapat berskala lingkungan Dalihan Na Tolu, tetapi pada tingkat yang lebih luas, dapat pula berarti ikatan primordial Batak yang di dalamnya tercakup seluruh puak-puak Batak.

    Dikutip dari buku tsb di atas, halaman 134, 137, 140, 141.

  7. Bonar Siahaan berkata:

    @ Amanta Pahala Panjaitan.

    Godang do sangkap ni roha ni jolma pasahathon sipasahatonna,molo dipasahat masyarakat Kec.Tampahan bulang-bulang tu amanta Bupati & Keluarga ala dihilala nasida hatop pambangunan dibahen amanta Bupati boi do tarjalo roha.
    (Masyrakat Kec.Tampahan do tumangkas mamboto i ala nasida do napasahathon)

    Molo sian adatbatak nasinungkun angka natua-tua,
    jolo marparbue do naniula ni “Uluan” asa dipasahat “bulang-bulang”,dititi do ari (dang sambillalu).
    Contoh.
    Didok barita dipasahat par Tarabunga do “saping bulang-bulang silima odor” tu Ompu Badia ala jasana manguluhon mambongkak bondar sian binanga siporing sahat tu Tarabunga gabe boi hauma (jumasaba) adaran na adong di Tarabunga.
    Laos marningot i gabe adong do sahat tusadarion hata umpama (umpasa) “binanga siporing binongkak ni tarabunga,disanggar ma amporik diruang ma satua”(dang binanga sihombing dibongkak tarabunga)
    Lapatanna;Jolo sahat do bondar i dihali tu tarabunga asa dipasahat saping bulang-bulang tu Op.Badia (dang tingki manghali dope).
    Dumenggan do jolo marujung masabhakti ni amanta Bupati asa pasahaton bulang-bulang alana, molo adong ulaon nasala muse dung dipasahat bulang-bulang hape masabhakti ni Bupati dope,gabe bulang-bulang napajolo-jolohon do i nagabe mantat haurahon.
    Alai nunga sange umbotosa nuaeng on, molo mangalehon silehonon na adong do sibuatonna.

    Molo ni ida nuaeng on di TOBASA,angka “musu” ni amanta St DRS Monang Sitorus MBA tingki PILKADA ido “hasian” saonari,alani aha?????

    Taringot tu hasintongan ni adat nunga mura mandok “nabinotomma i” ai nunga adong ratus taon
    di jajah adat batak jala tolupulu taon kebijakan
    ni Suharto membunuh karakter ni suku-suku di Indonesia (menurut berbagai sumber).
    Jadi dang adong be dapot “situngging ninna dakdanak sitongka didok natua-tua”
    Alani i tuise be sungkunon sala manang dang ai godang “namatua” alai nunga maol dapot “natua-tua”

    Songon i ma jolo pandapot sian ahu.

    Horas.

  8. Borotan berkata:

    Manang aha pe argumen ni angka rekan2 naung mangalehon komentarna taringot tu na pasahat ulos tu Sultan Jogya. Sada do narumingkot siingotanta ima behado asa boi tagunahon nilai budaya batak boi patubuhon sada rumang ni hadengganon antara suku batak dohot suku2 na asing. Jadi unang pola pa sompit hu itabahen adat i, boi do berkembang sesuai tu perkembangan ni jaman. Ompunta raja jolo martungkot sialagundi, na pinungka ni ompunta parjolo ihuttonon ni hita parpurdi. Namarlapatan haduan pe mungkin 20-50 taon na naeng ro, naung pinungka ni angka penetua2 di Jogya boi do gabe budaya na mangolu ala denggan do pangkorhonna.

  9. Bonar Siahaan berkata:

    Hinilala ndang pasompit adat molo di komentari napasahat ulos tu Sultan Jokja,alai porlu ingoton ndang sarupa “napasahathon” dohot “namangulosi”

    Mansai las do roha molo “budaya batak” i boi tabahen songon “hite” tu angka suku na asing, alai mansai denggan molo pas parpeak ni adat i taulahon.
    Hea do binoto dipasahat halak hita “tunggal panaluan tu sada pejabat tinggi Negara RI, alai ndang olo pejabat i manjalo ala diboto ndang talup lehonon tunggal panaluan tu ibana.

    Ia angka ompu naparjolo i ,jolo tangkas do di “rumang” asa di ulahon,laos ala ni i do umbahen molo marsiulaon halak batak sai jolo di “riahon” tu dongantubu manang tu parsahutaon nang pe naung diantusi hasuhuton siulaonna, asa tingkos ulaon i “marjung-jungan songon dolok marbanggua songon rura.

    Ginuruhon sian angka natua-tua,dang adong ompunta raja jolo martungkot “sialagundi”, martungkot “mundi-mundi” do,alai nuaeng nunga sange mandok martungkot sialagundi. Jala molo sinulingkit ndang suman sialagundi tungkot ni raja jolo, alai molo tungkot ni siolat pinahan manang parsoban tu robean boi ma umbuk sialagundi tungkotna. Sarupa do tu namasa nuaeng namandok “tampulak ni sibaganding di dolok ni pangiringan,horas na marhahamaranggi ma siirig-iringan”. Alai molo sinulingkit tu namandok i aha do tampulak alusna ndang hatahonon ni natua-tua i anggo so tingkos, hape naso ditanda do tampulak.
    “Natua-tua” mandok “tampunak” ni sibaganding do, ima nadapot di ginjang ni jabu ruma, jala panghatahonna songon on; Tampunak ni sibaganding diatas ni pangiringan (pangiringan=balatuk) horas na marhaha maranggi masipairing-iringan.
    Jadi ndang adong roha ni angka dongan “pasompit” adat i, holan pasintonghon do ra umbahen di bahen be “argumenna”.

    Horas jala gabe ma hita saluhut na manghasiholi budaya batakta i.

  10. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Menurut hemat saya bila seseorang mangulosi atau “manghohophon” ulos kepada orang lain, itu jelas yang diulosi adalah “pamoruan atau anaknya” untuk diberkati.
    Tapi “mangulosi”sangat beda dengan memberikan “ulos” (mamahe),sebab………………..
    Saya jadi teringat 30 tahun yg lalu waktu masih doli2, kebetulan saya ditempatkan di Biak-Irian Jaya, pada waktu itu transportasi dari Jakarta ke Irian menggunakan pesawat Merpati frekuensinya hanya 1x penerbangan dalam satu minggu.
    Waktu saya cuti ke Sumatera, mengingat jauhnya perjalanan ke Irian siapa tahu saya tidak ketemu lagi sama Ompung Bao tsb, saya memberanikan diri meminta ulos, tapi jawaban yang saya terima waktu itu : Ulos aha ma Ompung sipasahatonku tu ho, alana doli2 dope ho, ndang huboto Ulos aha nanaeng sipasahatonku tu ho, kecuali kalau mangoli kau sekarang.
    Memang menurut orang tua2 dahulu, Ulos tidak boleh sembarangan diberikan, harus ada maksud dan tujuan pemberian ulos tsb.
    Jangan seperti yang terjadi di parserahan khususnya di Jabodetabek, anaknya Malua(SIDI) saja, dalam tanda kutip “sebahagian” TULANG orang yg Malua tsb pasahathon ulos, tapi giliran ditanya ulos apa yg disampaikan, nggak bisa dijawab.
    Jangan semua digampangkan, ada yg bisa disederhanakan, tetapi yg benar2 prinsip seperti “Tungku Nan Tiga” alias Dalihan Na Tolu, jangan ada tawar menawar.
    Mohon maaf apabila tidak berkenan.

  11. Liberius Sihombing berkata:

    Bapak Bonar, terima kasih atas penjelasan mengenai ulos. Dari penjelasan itu ada sedikit saya mau tanya tentang umpasa ‘tampunak ni sibaganding di atas ni pangiringan’. Saya tak tahu sekarang mana yang benar untuk pengucapan umpasa ini karena saya juga pernah membaca buku yang menjelaskan rumah batak dan bagian-bagiannya di sana diterangkan mengenai ‘tampulon’ dan ‘pandingdingan’. Dalam rumah ada Batak, tampulon itu selalu berada di atas ni pandingdingan. Maka dari situ timbul umpasa: Tampulon ni sibaganding di atas ni pandingdingan….dst (bukan seperti yang dibilang bapak: ‘tampunak ni sibaganding di atas ni pangiringan’. Mana yang benar kedua sampiran umpasa ini, saya menjadi ragu. Kedua-duanya punya argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s