Riwayat Singkat Perjuangan Raja Si Singamangaraja XII

Dari catatan Keluarga Sisingamangaraja dalam rangka peringatan 100 tahun perjuangan raja Sisingamangaraja XII

Raja Si Singamangaraja XII lahir di Bakara ditepian Danau Toba sebelah Selatan pada tahun 1848. Saat ini Bakara merupakan suatu kecamatan dalam Kabupaten Humbang Hasundutan. Nama kecilnya adalah Patuan Bosar gelar Ompu Pulo Batu. Sebagaimana leluhurnya, gelar Raja dan kepemimpinan selalu diturunkan dari pendahulunya secara turun temurun. Ketika Patuan Bosar dinobatkan menjadi Raja Si Singamangaraja XII pada tahun 1871, waktu itu umurnya baru 22 tahun dalam usia yang masih muda.

Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang. Kalau Raja Si Singamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang terbeang atau ditawan, harus dilepaskan. Sebagaimana dengan Raja Si Singamangaraja I sampai XI, beliau juga merupakan seorang pemimpin yang sangat menentang perbudakan yang memang masih lazim masa itu. Jika beliau pergi ke satu desa (huta), beliau selalu meminta agar penduduk desa tersebut memerdekakan orang yang sedang dipasung karena hutang atau kalah perang, orang-orang yang ditawan yang hendak diperjualbelikan dan diperbudak.

Dia seorang pejuang sejati, yang anti penjajahan dan perbudakan. Pejuang yang tidak mau berkompromi dengan penjajah kendati kepadanya ditawarkan menjadi Sultan Batak. Ia memilih lebih baik mati daripada tunduk pada penjajah. Ia kesatria yang tidak mau mengkhianati bangsa sendiri demi kekuasaan. Ia berjuang sampai akhir hayat. Perjuangannya untuk memerdekakan ‘manusia bermata hitam’ dari penindasan penjajahan si mata putih (sibontar mata), tidak terbatas pada orang Tapanuli (Batak) saja, tetapi diartikan secara luas dalam rangka nasional. Semua orang yang bermata hitam dianggapnya saudara dan harus dibela dari penjajahan si mata putih (sibontar mata). Dia merasa dekat dengan siapa saja yang tidak melakukan penindasan, tanpa membedakan asal-usul. Maka ia pun mengangkat panglimanya yang berasal dari Aceh.
Perjuangan Raja Si Singamangaraja XII melawan Belanda

Dapat dipadamkannya “Perang Paderi” melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga.
Karena itu, sejak tahun 1837, Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan seorang Residen berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Sedangkan bagian Tanah Batak lainnya, yaitu daerah-daerah Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka, atau ‘De Onafhankelijke Bataklandan’. Sampai pada tahun 1886, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Si Singamangaraja XII yang masih muda. Sebenarnya berita tentang masksud Belanda untuk menguasai seluruh Sumatera ini sudah diperkirakan oleh kerajaan Batak yang masa itu masih dipimpin oleh Raja Si Singamangaraja XI yaitu Ompu Sohahuaon. Sebagai bukti untuk ini, salah satu putrinya diberi nama Nai Barita Hulanda.

Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Saat itu Tanah Batak di mana Raja Si Singamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda. Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, Belanda mengumumkan “Regerings Besluit Tahun 1876” yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, Raja Si Singamangaraja XII cepat mengerti siasat strategi Belanda. Kalau Belanda mulai menguasai Silindung, tentu mereka akan menyusul dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan lain-lain. Raja Si Singamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi. Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dihimpunnya dalam suatu rapat raksasa di Pasar Balige, bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu diambil tiga keputusan sebagai berikut :

1. Menyatakan perang terhadap Belanda
2. Zending Agama tidak diganggu
3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.

Terlihat dari peristiwa ini, Raja Si Singamangaraja XII lah yang dengan semangat tinggi, mengumumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah. Terlihat pula, Raja Si Singamangaraja XII bukan anti agama dan di zamannya, sudah dapat membina azas dan semangat persatuan dengan suku-suku lainnya.

Tahun 1877, mulailah perang Batak yang terkenal itu, yang berlangsung 30 tahun lamanya. Dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa. Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Si Singamangaraja XII.

Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah Bakara, markas besar Raja Si Singamangaraja XII di Tangga Batu dan Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihambat. Belanda merobah taktik, pada babak berikutnya ia menyerbu ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Raja Si Singamangaraja XII di daerah Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara. Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda, sedangkan Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima-panglima Raja Si Singamangaraja XII antara lain Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea. Baru setahun kemudian Laguboti jatuh setelah Belanda mengerahkan pasukan satu batalion tentara bersama barisan penembak-penembak meriam.

Tahun 1883, seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya oleh Raja Si Singamangaraja XII, kini giliran Toba dianeksasi Belanda. Namun Belanda tetap merasa penguasaan tanah Batak berjalan lamban.Untuk mempercepat rencana kolonialisasi ini, Belanda menambah pasukan besar yang didatangkan dari Batavia (Jakarta sekarang) yang mendarat di Pantai Sibolga. Juga dikerahkan pasukan dari Padang Sidempuan. Raja Si Singamangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede. Pasukan Raja Si Singamangaraja XII juga dikerahkan berupa kekuatan laut dari Danau Toba yang menyertakan pasukan sebanyak 800 orang dengan menggunakan 20 solu bolon. Pertempuran besar pun terjadi.

Pada tahun 1883, Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Raja Si Singamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih. Tahun itu, di hampir seluruh Tanah Batak pasukan Belanda harus bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja Si Singamangaraja XII. Namun pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Raja Si Singamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda. Raja Si Singamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga ikut Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.

Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari persembunyian Raja Si Singamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Raja Si Singamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki Si Gurbak Ulu Na Birong. Tetapi pasukan Raja Si Singamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Tetapi Raja Si Singamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung. Panglima Raja Si Singamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap. Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Si Singamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun 1889.

Pada awal abad ke 20, Belanda mulai berhasil menguasai Aceh sehingga pada tahun 1890 pasukan khusus Marsose yang tadinya ditempatkan di Aceh, dikerahkan untuk menyerang Raja Si Singamangaraja XII di daerah Parlilitan. Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi persenjataan yang lebih modern dari Belanda, akhirnya perlawanan gigih pasukan Raja Si Singamangaraja XII pun terdesak. Dari situlah dia dan keluarga serta pasukannya menyingkir ke Dairi.
Raja Si Singamangaraja XII melanjutkan peperangan secara berpindah-pindah di daerah Parlilitan selama kurang lebih 22 tahun, disetiap persinggahaannya Beliau selalu memberikan pembinaan pertanian, adat istiadat (hukum) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga menimbulkan kesetiaan dan dukungan rakyat untuk berjuang.walaupun banyak di antara penduduk yang mendapat siksaan dan pukulan dengan rotan dan bahkan sampai terbunuh, karena tidak mau bekerja-sama dengan Belanda. Termasuk untuk menunjukkan tempat pasukan dan Raja Si Singamangaraja XII berada.

Pasukan Raja Si Singamangaraja XII di Dairi ini merupakan gabungan dari suku Batak dan suku Aceh. Pasukan ini dipimpin oleh putranya Patuan Nagari. Panglima-panglima dari suku Batak Toba antara lain, Manase Simorangkir dari Silindung, Rior Purba dari Bakara, Aman Tobok Sinaga dari Uruk Sangkalan dan Ama Ransap Tinambunan dari Peabalane. Dari suku Aceh antara lain Teuku Sagala, Teuku Nyak Bantal, Teuku Nyak Ben,Teuku Mat Sabang, Teuku Nyak Umar, Teuku Nyak Imun, Teuku Idris. Sedang dari rakyat Parlilitan antara lain: Pulambak Berutu, Tepi Meha, Cangkan Meha, Pak Botik Meha, Pak Nungkun Tinambunan, Nangkih Tinambunan, Pak Leto Mungkur, Pak Kuso Sihotang, Tarluga Sihombing dan Koras Tamba.

Pasukan Raja Si Singamangaraja XII ini dilatih di suatu gua yang bernama Gua Batu Loting dan Liang Ramba di Simaninggir. Gua ini berupa liang yang terjadi secara alamiah dengan air sungai di bawah tanah. Tinggi gua sekitar 20 meter dan mempunyai cabang-cabang yang bertingkat-tingkat. Sirkulasi udara di dalam gua cukup baik karena terbuka ke tiga arah, dua sebagai akses keluar masuk dan satu menuju ke arah air terjun. Jarak dari pintu masuk ke air terjun didalam gua lebih dari 250 meter. Dengan demikian, di dalam gua ini dimungkinkan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari bagi seluruh pasukan yang dilatih tanpa harus keluar dari gua.

Pihak penjajah Belanda juga melakukan upaya pendekatan (diplomasi) dengan menawarkan Raja Si Singamangaraja XII sebagai Sultan Batak, dengan berbagai hak istimewa sebagaimana lazim dilakukan Belanda di daerah lain. Namun Raja Si Singamangaraja XII menolak tawaran tersebut. Sehingga usaha untuk menangkapnya mati atau hidup semakin diaktifkan.
Setelah melalui pengepungan yang ketat selama tiga tahun, akhirnya markasnya diketahui oleh serdadu Belanda. Dalam pengejaran dan pengepungan yang sangat rapi, peristiwa tragis pun terjadi. Dalam satu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali memintanya menyerah dan akan dinobatkan menjadi Sultan Batak. Namun pahlawan yang merasa tidak mau tunduk pada penjajah ini lebih memilih lebih baik mati daripada menyerah.

Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Raja Si Singamangaraja XII. Pertahanan Raja Si Singamangaraja XII diserang dari tiga jurusan. Tetapi Raja Si Singamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Kaum wanita dan anak-anak diungsikan secara berkelompok-kelompok, namun kemudian mereka tertangkap oleh Belanda.
Tanggal 17 Juni 1907, di pinggir bukit Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Raja Si Singamangaraja XII oleh pasukan Marsose Belanda pimpinan Kapten Christoffel. Raja Si Singamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Raja Si Singamangaraja XII yang kebal peluru tewas kena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian, yang gugur di pangkuannya. Dalam peristiwa ini juga turut gugur banyak pengikut dan beberapa panglimanya termasuk yang berasal dari Aceh, karena mereka juga berprinsip pantang menyerah. Pengikut-pengikutnya yang lain berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Raja Si Singamangaraja XII yang masih hidup dihina dan dinista, dan kemudian ditawan di internering Pearaja Tarutung. Semua mereka merupakan korban perjuangan.

Perang yang berlangsung selama 30 tahun itu memang telah mengakibatkan korban yang begitu banyak bagi rakyat termasuk keluarga Raja Si Singamangaraja XII sendiri. Walaupun Raja Si Singamangaraja XII telah wafat, tidak berarti secara langsung membuat perang di tanah Batak berakhir, sebab sesudahnya terbukti masih banyak perlawanan dilakukan oleh rakyat Tapanuli khususnya pengikut dari Raja Si Singamangaraja XII sendiri.

Jenazah Raja Si Singamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dibawa dan dikuburkan Belanda di tangsi Tarutung. Pada Tahun 1953, Raja Si Singamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dimakamkan kembali di Makam Pahlawan Nasional Soposurung Balige yang dibangun oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga. Digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 tertanggal 19 Nopember 1961.

Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih, ulet, militan, Raja Si Singamangaraja XII selama selama tiga dekade, telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara. Itulah yang dinamakan “Semangat Juang Raja Si Singamangaraja XII”, yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda. Raja Si Singamangaraja XII benar-benar patriot sejati. Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi. Hal ini menumbuhkan semangat persatuan dan kemerdekaan di hati rakyat.

58 thoughts on “Riwayat Singkat Perjuangan Raja Si Singamangaraja XII

  1. WirelessGuy berkata:

    Tidak Mau Menyerah. Tidak mau Dijajah. DAHSYAT … ….
    Setelah 100thn sejak wafatnya Raja Singamangaraja XII.
    Kita bandingkan dengan kondisi sekarang …
    Setelah era modernisasi, banyak orang Batak yang cemerlang, tapi bisa terjajah, budayanya terjajah, banyak yang tidak paham PODA, UHUM dan PATIK bahkan bahasanya pun berpotensi untuk punah. Kita buat contoh, orangtua yang masih perantau dari kampung kekota besar, Medan atau keluar Sumatra, anak anaknya sangat banyak yang tidak fasih berbahasa batak. Ini baru satu generasi. Kegenerasi berikunya, bahkan banyak yang tidak mengerti bahasa Batak. Ironis, Bangso Batak, kelak bisa kehilangan jati diri. Mampertahankan bahasa saja tidak sanggup. Raja Singamangaraja XII, berjuang mempertahankan, tanah budaya dan harga diri, jati diri, sampai mati tidak mau terjajah.
    Sekarang? … ….
    Tapaganjang be mai dibagas rohata be …

  2. johnner pasaribu berkata:

    kalau kita baca riwayat singkat cerita ini sangat bagus tapi kenapa kisah(riwayat singkat) raja sisingamangaraja tidak ada yang mengangkat ke layar kaca atau ke layar lebar padahal beliau adalah pahlawan nasional, kalau bisa usul kisah raja sisingamangaraja layak di angkat ke layar kaca karena dulu opera serindo aja sangat populer bila cerita bersambung nya sisingamangaraja I sampai 12 mudah mudahan ada produser film dan sutradara yang mau mengangkat cerita ini ke layar kaca trimakasih atas perhatian nya

    **** Sinetron indonesia kan hantu-hantu dan eksploitasi cinta anak sekolah. Epos perjuangan para pahlawan kurang menarik hati mereka. Sebaiknya Thomson melalui operanya melakukan kaji ulang pementasan Sisingamangaraja dipadukan dengan seni pementasan dukungan toknologi yang sudah semakin modern. Setuju kan lae ?

  3. johnner pasaribu berkata:

    kisah riwayat singkat raja sisingamangaraja ini mudah mudahan ada yang mau mengangkat kelayar kaca tv karna perjuangan raja sisingamangaraja ini dapat menjadi panutan para generasi muda indonesia kusus nya orang batak yang yang sarat dengan budaya batak dan tidak pernah mengenal kata menyerah , agar generasi muda orang batak tetap mengenang bahwa pahlawan nasional ada juga dari batak yaitu raja sisingamangaraja trimakasih horas

  4. Jangan-jangan orang kita dari Tanah Batak sana bisa juga menghentikan lumpur lapindo itu..Maaf ya bukan mau mendahului kekuasaan Tuhan..Tapi kan mana tau tuhan mengizinkan tonggo tonggo(DOA) orang Batak seperti dulu..Dimana mendatangkan hujan,mengeluarkan air dari batu dan tanah kan tongkat Ni Ompunta Sisingamangaraja nya dicucukan aja ketanahHoras..Horas..Horas

    Mari kita pemuda / i,membentuk suatu wadah yang bergerak dibidang habatakon harus dilestarikan dan jangan malu sebagai orang batak..Misalnya bahasa indonesia yg kurang pasif atau marpasir _ pasir jgn langsung ditertawai memang justru itulah ciri kas kita..Aku selagi orang batak bangga…..Horas..Horas..Horas..dimana salah satu paranormal sedunia terpilih dari indonesia yaitu dari Tanah Batak kita yaitu marga Sitanggang bukanya yg ada ditelevisi Indonesia,,apa itu ga patut di banggakan.Haa…Haa..Haa…Horas..Horas..Horas…

  5. David Sibarani berkata:

    Saya lebih setuju jika kisah ini diangkat ke layar lebar.
    Kisah patriotik yang perlu diketahui oleh anak anak muda Indonesia secara umum, dan secara khusus buat anak anak muda Batak di seluruh Indonesia.

    Horas ma dihita sasudena,
    David Sibarani

  6. Saya setuju dan mendukung jika cerita perjuangan RAJA SISINGAMANGARAJA XII ditayangkan di TV.
    Untuk dapat mewujudkannya dari kondisi INDONESIA yang sangat bobrok ini… perlu tindakan politis yang bernuansa halus…

    Thanks.

  7. Rein Sihombing berkata:

    Perjuangan yang sangat membanggakan, setuju untuk mengangkat perjuangan ini ke layar lebar.

  8. LIZON SIJABAT berkata:

    Saya salut dan bangga dengan perjuangan pahlawan Raja Sisimangaraja XII terhadap tanah batak dan perjuangannya itu mestinya kita ingat dan peninggalan bersejarah dari Raja Sisimangaraja mestinya kiat rawat dan kita lestarikan…
    Dan semestinya kita mendukung cerita Raja Sisimangaraja dan menjeritakannya kepada keturunan kita supaya dia tahu bahwa dulunya ada raja dari tanah batak dan lahir di tanah bakara sebuah desa indah dan kecil tetapi jangan pernah menyembah dia menjadikan dia diatas segala-galanya atau menjadi dia tuhan kita.Kita harus tetap ingat Tuhan kita Tuhan Yesus Kristus

  9. christian Bakkara berkata:

    horas..
    anggo ahu bangga hian tu Oppung i.. semoga generasi muda semuabisa seperti Raja Sisingamangaradja..

    salamku..
    christ bakkara si nomor 16

  10. Aku salut kepada Sisingamangaraja XII yang setia tetap kepada pemerintah dan aku pingin tau anak-anaknya masih ada yang hidup dan dimana keberadaannya. Pada tahun 1877 katanya Bahal Batu tempat perang Batak yang pertama memangnya pada waktu perang Bahal Batu itu tempat apa dan masih ada ngak peninggalan perang disana tapi aku mau tanya Bahal Batu yang dimana ini dan mohon dibalas. mauliate

  11. Lamhot Sitorus berkata:

    Masih adakah orang batak sekarang ini yang mempunyai nilai luhur dari Sisingamangaraja XII….
    Saya harap semua bangso batak mengikuti jejak beliau….

    Horas…horas…horas…

  12. Horas ma dihita,
    sai anggiatma boi hita mambaen film na patuduhon perjuangan ni raja Sisingamangaraja tu sude halak di potibion, unang gabe holan manonton film nasian naasing hita. Jala boi maon gabe pedoman dohot motivasi tu generasi muda halak hita. Horasma. GBU

  13. semua kegigihan pahlawan batak itu akan muncul kembali kepada semua keturunannya sehingga kita akan berjuang seperti yang di harapkannya semenjak masih melawan Belanda…..
    semangat mempertahankan tanah batak walaupun titik darah penghabisan.
    horas …..
    horas….
    tano batak:

  14. RAYHAN DENGGANROHA SIMANJUNTAK , S/16 berkata:

    Horas…!!!
    Maaf saya hanya mau koreksi sedikit Sdr.Lizon Sijabat bahwa Raja Sisingamangaraja XII itu tidak menganut salah satu agama pada saat itu, jadi sangat TIDAK tepat kalau Sang Raja Batak dinyatakan menganut salah satu agama.(logikanya tak mungkin Sisingamangaraja XII menganut agama musuhnya Belanda pada saat itu, malah yang lebih mungkin Sang Raja menganut agama sahabat-sahabatnya dari Aceh).
    Saya sarankan Sdr.Lizon Sijabat untuk mengunjungi Makam Raja Sisingamangaraja XII dahulu dalam waktu dekat ini, nanti akan saudara saksikan bahwa di makam tersebut tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa Sisingamangaraja XII menganut salah satu agama, dan sejarah membuktikan itu. Jadi janganlah dirubah-rubah sejarah nanti seperti Orde Baru yang suka rekayasa-rekayasa sejarah akhirnya kualat dan bikin negara ini terpuruk hingga saat ini.
    Maaf ya Lae Lizon, saya tidak bermaksud apa-apa hanya ingin meluruskan aja agar generasi-generasi muda tau sejarah yang sebenarnya.
    Terimakasih dan terlebih dahulu aku minta maaf Lae Lizon.

  15. Hedmon Tampubolon berkata:

    Perlu sosialisasi yang meluas agar sejarah tersebut diatas dapat diketahui dan dipahami oleh para generasi muda zaman sekarang.(Caranya?)
    Atau para orang tua “generasi sebelumnya” juga tidak mengetahui sejarah tersebut?
    Mari kita bersama-melestarikan sejarah perjuangan Raja Sisingamangaraja XII tersebut.

    Horas.

  16. martina linda sihaloho berkata:

    salut dan bangga dengan perjuangan opung kita pahlawan dari tanah batak sisingmangarajaXII yg bnr2 gigih danpntg menyerah. seandainya pada saat ini masih ada sosok seperti beliau,sungguh takkan seperti ini bangsa kita. belajar dari cerita sisingamangarajaXII smoga perjuangannya tidak akan sia-sia bahkan menurun kesetiap generasi khususnya untuk kaum muda/naposo BATAK

  17. Bagaimana dengan kita sekarang , Apakah kita menghargai perjuangan para pejuang kita khususnya yang dari tanah batak ? sekarang banyak orang batak yang sudah berhasil tapi untuk memahami dan mengerti bahasa batak aj ga mau !!! jd cobalah kita sedikit menghargai perjuangan pejuang kita , mungkin kita ga akan bisa seperti ini tanpa perjuangan mereka . Horas tano batak , smoga batak berjaya ditanah kelahirannya juga yang ada perantauan .

  18. menunggu ada pihak yang mem film kan, kalau ada jalan bagi pemerintah setempat ( Tapanuli) untuk memasukkan kisah bersejarah ini ke mata pelajaran sekolah SD atau SMP , mata pelajaran MULOK gitu……..

  19. Horas !

    begitu besar nya jasa beliau, saya selaku orang batak walaupun lahir dan besar di jakarta, dan baru pulang ke 2 x ke bona pasogit, saya bangga jadi orang batak dan terus belajar adat istiadat batak, saya selaku generasi penerus kira nya kita jangan lupakan perjuangan opung kita dgn belajar ukt sukses dan memajukan hutanabe,
    horas horas ma dihita sasudena.

  20. adrirumbou berkata:

    Luar biasa, saya sangat mengagumi perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kita, termasuk raja batak. selain itu, saya juga mengagumi yansen. h. sinamo. meskipun saya belum pernah mengikuti trainingnya tapi saya sangat tekun membaca buku dan tulisannya. ini pula yang menginspirasi saya untuk membuat paket siaran motivasi dan etos kerja pada radio yang saya kelola swara mimika fm. banyak program yang saya buat justru terinspirasi dari nasehat bung jansen h. sinamo. dia memang tepat disebut sebagai guru ethos indonesia. saya sangat merindukan kehadirannya di kota timika…..

  21. S.Hutasoit berkata:

    Mauliatema di hamu namambaen tulisan on. Mudah-mudahan on sada contoh tu hita sude halak batak bahwa opputa Sisingamangaraja sada Pahlawan. Jadi sada kebanggaan untuk halak batak. Jadi unang maila hita gabe halak batak .Horas… horas…. Alai molo boi usul bohado taringot tu sejarah ni Sisingamangaraja na parjolo sahat tu XI. Mauliate
    Sian si Hutasoit – Palembang

  22. dyasyulia berkata:

    kuburan sisingamangaraja itu sebenarnya dimana??????????
    dan apakah memang benar sisingamangaraja yang di makamkan????????
    ataukah tunangan lopian ???????
    mengapa foto sisingamangaraja tidak ada?
    kenapa lukisan dari sibarani terus yang di pajang?

  23. edimanullang berkata:

    hay kamu semua orang Batak bangkitlah, sadarlah dan pahamilah bahwa ada rencana Tuhan yang begitu besar untuk bangsa Batak

  24. Tengku Syafiq Sipayung berkata:

    sisingamangaraja XII
    lbh bagus dikatakan sebagai kepala ugamo parmalim,karena ia punya kekuasaan dan pengikut semenjak ia medirikan agama parmalim,bahkan ketika ia datang ke simalungun Tuan Rondahaim tdk menerima ia layaknya seorang raja yg berkuasa,,
    bahkan ada cerita di kalangan masyarakat di daerah kami di simalumgun klw Sisingamangaraja itu adalah seorang pelarian dari pasukan paderi yg tlh digempur oleh belanda di bonjol,lg pula dari sejumlah pengkajian yg dilakukan oleh para sejarawan dan ahli antropologi menemukan bahwa agama parmalim dekat dgn ajaran agama islam..
    saya kecewa ketika saya memposting sebuah pendapat di blog ini ttg sisingamangaraja di hapus..
    saya bkn sentimen trhd rekan2 yg mengidolakan sisingamaraja,namun hanya mengatakan pendapat ttg sisingamaraja saja..

  25. tanobatak berkata:

    Banyak pendapat yang bukan hanya tidak mengidolakan beliau tapi mendapatkan informasi tidak benar. Informasi tidak benar bila disebar hasilnya tidak benar yang digandakan. Contohnya :
    1. Sisingamangaraja Kepala Ugamo Malim, adalah tida benar. Sisingamangaraja memiliki peran; Maningahon Adat, Patik, Uhum, Harajaon dan Hamalimon. Hamalimon itu adalah merupakan ajaran spritual yang dianut batak kebanyakan yang mengakui Sisingamangaraja sejak I s/d XII. Pada jaman kolonial, Sisingamangaraja mengamanatkan agar “Hamalimon” dalam Ugamo Batak itu dipertahankan untuk tidak tergeser dengan pemahaman baru. Artinya selama hidup Sisingamangaraja belum ada kelembagaan Ugamo Parmalim dan Agama batak itu terkonsentrasi di Bius dan merupakan bagian hidup kebudayaan itu. Seorang Panglima Raja yang bernama Guru Somalaing pernah mempropagandakan Ugamo itu tapi ditolak Sisingamangaraja. Raja Mulia menerima amanah itu dan mengembangkannya setelah Sisingamangaraja wafat. Hamalimon yang diamalkan dan diamanatkan Sisingamangaraja terlembaga dan muncul sebutan bagi pengikutnya “Parmalim” setelah beliau wafat.
    2. Sisingamangaraja pelarian dari pasukan Padri… tidak ada bekas cerita itu di Toba dan belum dapat diterima. Penjelasan pendek ini justru mengaburkan hubungan Simalungun dengan Toba.
    3. Ajaran Agama Parmalim dekat dengan Ajaran Islam, apa buktinya? Apakah karena orangnya dapat bergaul dekat? Untuk membuktikan ajaran tidak sama apakah harus menjauhkan dari pergaulan? Apakah hanya karena Parmalim tidak makan daging babi dan darah? Apakah karena Parmalim (Batak) melambangkan Putih Merah dan Hitam sebagai lambang kesucian, kekuatan dan Kepemimpinan, dan penganut Islam ada yang menonjolkan pakaian putih? juga ada pakai pakaian hitam. Total pelambangan spritual batak itu ada 3 warna itu; dan juga pernah saya temukan di Simalungun.

    Kebetulan blog ini untuk pencerahan budaya dan hal seperti ini sering dibalas namun tidak berakhir, sehingga cenderung merepotkan. Maaf kalau komennya pernah tidak dimuat. Tapi saya bersedia memuat di halaman blog ini bila anda sudi mengirimkan berbentuk artikel.
    http://www.parmalim.com/

  26. morgan manurung berkata:

    sisingamangaraja adalah pahlawan yang sangat pemberani dan pantas dihormati.
    kita haruslah menghormatinya, karena jasa jasanya yang sangat besar.

  27. Oloan Jefri berkata:

    Horas Tano Batak!!!!
    Saya sedikit menambahin Statement dari TANO BATAK di atas, tentang banyaknya kesimpang siuran dan opini serta kronologi yang mengarah ke – Mengada ada, terutama di media, dan terlalu banyak nara sumber jadi jadian.
    1. Ompu Raja Sisinga mangaraja !2 tidak pernah Meninggal gara-gara tertembus peluru, itu BOHONG! Ga ada itu! Beliau itu tidaklah mampan di tembus peluru, kalaupun luka, hanya dengan benda tertentu yang bukan pistol atau bedil…….

  28. ando sihombing berkata:

    bangganya punya leluhur seperti raja sisimangaraja,sikap pantang myerah dan stia pada prinsip itulah yang utama.
    maju terus orang batak,jadilah sisimangaraja yang berikutnya.
    tp jangan seperti lae sama ito kita yang ada di pemerintahan sana,yang suka korup tentunya!!!!!!!!

  29. Renold simatupang berkata:

    Jangan km menamba2in hal2 yang tak jelas, tentang raja kita itu suda perfek tak ada yang perlu di ungkit2, disangkal2, apa lg di debatkan, km anak kemaren tau apa??, tentang ajaran agama islam, parmalim itu sama sekali tidak ada sangkut paut nya, darimana pulak ajaran islam tu, hingga skarang aja islam sukar masuk di tano batak meskipun ada tp minoritas, boro2 sang raja mau mengikut islam, pakek otak kl mau bicara, tentang raja kita tu pelarian, darimana la crita itu ada, apa ada marga sinambela dari bonjol?? Ambil yang pasiif nya jangan mencari2 gado, malu sikit, makasi horas tano batak, rohaki sai mian disi

  30. Nelly berkata:

    senang mendapatkan pencerahan dari tulisan ini.
    ada beberapa point yg menggangu pikirannya saya tentang sejarah parmalim.
    pertama, bagaimana sejarah berdirinya ugamo malim ? pada tahun berapa, bagaimana proses pelembagaannya, apakah ada struktur organisasinya? (kalau ada bagaimana struktur organisasinya dan siapa yg menjadi pemimpin pertama)
    kedua, ketika dikatakan sebagai agama,apakah agama malim memenuhi kriteria sebagaimana yg disebut dgn agama (seperti pencipta (Debata mulajadi na bolon), ritual kepercayaan (saya pernah membaca ada beberapa), nabi (saya tidak tahu), komunitas (orang yg menyakini agama malim, jelas parmalim) rumah ibadah ( apakah yg disebut bale partonggoan) kemudian apakah ada kitab sucinya? kalau ada apa namanya dan dituliskan dalam bentuk yg bagaimana? (saya tidak tahu) kalau boleh tahu apakah memuat ajaran, aturan, hukum dan filosofi kemaliman
    ketiga, bagaimana keberadaan parmalim pada masa kolonial dan pasca kolonial? (pada aspek theologis, sosiologis, psikologis, politik dan kependudukannya)
    keempat, bagaimana pembauran parmalim ditengah2 agama mainstream pada masa kekinian? (apakah ada streotipe, stigma dan konflik) kalau ada apa, bagaimana dan sikap mengatasinya?
    kelima, adakah resistensi agama malim terhadap stigma, streotipe? kalau ada bagaimana dan bentuknya bagaimana?
    kelima, bagaimana agama malim memandang negara ? (kaitannya dgn persoalan adm dan kependudukan)
    keenam, bagaimana pembentukan identitas parmalim? (pengetahuan dan aplikatif) apakah ada bedanya identitas parmalim yg masih teguh thd kemalimannya dgn tetap mengosongkan kotak agama pada KTP dgn yg mencantumkan salah satu agama mainstream di KTP (maaf kalau saya mengasumsikan sbg tindakan taktis) tetapi tetap dgn keyakinan parmalimnya. kalau ada bagaimana?
    ketujuh, adakah pendidikan tentang ajaran malim yang sampai kini masih teguh diajarkan kepada anak-anak dalam pembentukan identitasnya? kalau ada apa dan bagaimana mendidiknya.
    kedelapan, bolehkan selain parmalim mengikuti acara ritual sipaha sada dan sipaha lima?

    beribu-ribu terima kasih untuk bisa melakukan coretan di Blog ini, beribu-ribu terima kasih juga untuk semua jawaban yang terus berputar-putar dikepala saya. semoga hasrat untuk lebih bisa memahami parmalim menjadi nyata dari blog pencerahan ini. terima kasih.

    NB: mencermati tulisan diatas, ada sedikit pergumulan tentang tidak diganggunya zending. karena hasil bacaan saya parmalim juga melakukan perlawanan thd zending, beberapa referensi tersebut , sperti tulisan Uli Kozok (2010, 92- 103) yg berjudul utusan damai di kemelut perang yang menyatakan parmalim merupakan bagian dari agama asli Suku Batak, (agama yang dikembangkan Sisingamangaraja) yang awalnya bergerak sebagai gerakan politik atau parhudamdam (perlawanan untuk menolak pembayaran pajak dan kerja rodi yang dilakukan oleh belanda) untuk menggalang kekuatan menentang kolonialisme Belanda. Perlawanan selanjutnya adalah dikarenakan kedatangan para Misionaris yang bermaksud mengkristenkan Suku Batak. pengkristenan yang dilakukan oleh Para Misionaris didukung oleh Belanda, begitu juga sebaliknya kolonialisasi oleh Belanda didukungan oleh Misionaris dengan tujuan semua Suku Batak menjadi Kristen. kemudian ada juga tulisan D.W.N de Boer (2009; 344-355) seorang Kontrolir Belanda tentang Parmalim. Boer menuliskan bahwa Parmalim adalah sebagai gerakan yang bersifat keagamaan (mesianis) dan sebagai gerakan Parhudamdam (pemberontakan yang diakibatkan persoalan beban pajak dan kerja rodi yang terlalu berat bagi rakyat) untuk menghadapi kolonialisasi oleh Belanda dan menghadapi penyebaran Kristen di Tanah Batak. Boer juga menuliskan bahwa gerakan itu sebenarnya merupakan “gerakan politik berkedok agama” dimana gerakan anti penjajah, anti asing dibungkus dengan “gagasan keagamaan”.
    jadi bisa dikatakan perlawanan thd misionaris kristen juga bagian dari keberadaan parmalim itu sendiri. ini asumsi saya, tapi tulisan diatas mengatakan zending tdk diganggu. mohon pencerahan ya amang nauli.

    salam hangat
    dari yg ingin mendapatkan pencerahan,

  31. tanobatak berkata:

    Nelly, sebaiknya baca dulu situs resminya http://www.parmalim.com
    Pertanyaan anda seperti draft seorang peneliti, sebaiknya melakukan wawancara langsung kepada komunitas itu. Buku yang ditulis orang asing tidak selamanya sempurna walau sebagian besar ada benarnya.
    Horas..

    Admin Tanobatak
    Monang Naipospos

  32. Nelly berkata:

    Terima kasih atas respon dari Amang Monang Naipospos. saya sudah membaca situs-situs yang memuat tentang parmalim, tetapi sayangnya saya belum menemukan apa yang ingin saya ketahui.
    terima kasih juga telah memberikan ijin bagi saya untuk datang dan melakukan wawancara. saya menyikapinya sebagai keterbukaan dalam transformasi pengetahuan tentang parmalim itu sendiri. penyikapan saya ini akan saya turunkan dengan langsung datang kekomunitas.

    horas,
    Nelly

  33. irsyad berkata:

    bangganya punya leluhur seperti raja sisimangaraja,sikap pantang myerah dan stia pada prinsip itulah yang utama.
    maju terus orang batak,jadilah sisimangaraja yang berikutnya.
    tp jangan seperti lae sama ito kita yang ada di pemerintahan sana,yang suka korup tentunya!!!!!!!!

  34. ramses simamora berkata:

    Dalam Nama Bapa,Putra,dan Roh Kudus Amin,
    saya anak rantau dari Salah satu desa simangaronsang dusun sosortobing yang lahir pada tahun 1968 telah lama ditanah borneo of kalimantan yang pada saat ini tuhan berikan berkat dan bertugas disalah satu kabupaten Kapuas Hulu Kalbar ujung perbatasan dengan Malasya Timur, dan Saya pada saat ini bertugas disalah satu instansi pemerintah Dinas Kependudukan dan pencatatan sipil kabupaten Kapuas Hulu, dan kurang lebih bertugas 21 Tahun, saya banyak membaca artikel sejarah profil perjuangan Raja Kita yaitu Raja Batak Si Singa Manga Raja XII dan membaca melalui media electronik Interneet,semua usul pendapat dan tanggapan dari saudara-saudara saya dari elemen marga-marga tentang wacana pembuatan satu filim layar besar SIsinga manga raja bisa-bisa aja,akan tetapi justru banyak orang kita dari tanah batak yang sukses dari artis,pengusaha,politik,pejabat negara dari berbagai sektor dan berbagai bidang professi cukup dikenal dibelahan asean,namun sayangnya dari dulu sampai sekarang tidak ada yang mampu mempersatukan orang batak,termasuk saya sendiri,halak luar do mamereng halak batak hera marsada,alai anggo tabereng tu sada parsadaan dang adong boi marsada,ala ni aha akka laekku.
    1. Halak batak sian najolo sahat tusaonari sai manimpan diate-ate Hosom,Teal,Elat,late. alias HOTEL.
    2. Molo tungpe adong sada Batak natarbukka pikiranna naeng pasadahon bangsotta,pasti ikkon adong gabe sihataon dipudian ari,ujung-ujung na tetap gabe gagal pasadahon.
    3. hita batak 65% nunga kawin campur tu berbagai suku dan sub suku naadong di Indonesia,sudena seca logis adat habatahon nadipaturun tu keturunanna anakna holan 0,5 Persen skian-sekian,jadi sianon akka laekku boido tanayakkon kehancuran ni budaya ni habatahon,jadi molo adong dongan bangsotta naboi pasadahon pikiratta naeng mamikiri songon perjuanganni opputta Sisinga Manga Raja XII secara materi dohot pribadi hudukungdoi,unang be dipasombu-sombu gabe hasesega ni adatta parsumatra.

  35. soal agama – raja kita ini tak menganut parmalim, kristen, islam… konon ada agama batak asli, itu lah dia. raja kita ini tak murni berdarah batak, ada acehnya, ada juga selatannya/minang… kita harus sama2 menggali sejarah, belajar dan belajar, supaya dapat sejarah yg benar dan lantas kita boleh mengamini yg baik/luhur utk kehidupan skrg… rendah hati thd ilmu dan informasi, pasti akan lebih bagus hasilnya daripada berdebat dgn sumber2 minim… nah, saya/kami tawarkan salah satu referensi ttg Raja kita ini, yakni Opera Batak Raja SM Raja XII di TIM, 6-7 Juli 2012 — minat, info lebih lanjut bisa melalui saya, thanks ya (markOes simanjuntak / 0813 8295 8523)

  36. Leonardo Gabriel Batistuta Sinambela berkata:

    Raja Sisimangaraja I – XII itu benar – benar raja yang paling hebat di indonesia .dan bahkan di dunia,Sikap perjuangan Raja Sisimangaraja menghapuskan perbudakan di tano batak ( melepaskan) ,memberikan makan yang lapar,mengobati yang sakit ,dan satu – satunya Kerajaan di dunia atau Pemerintahan yang tidak memungut Pajak ( Upeti ) terhadap rakyatnya.YOU IS MY HERO
    HORAS!!!

  37. @lae Koes,…..

    emang opera batak itu bisa dijadikan referensi yang benar?.
    Satu-satunya referensi yang paling benar adalah tanya keturunanya langsung. Masih banyak yang hidup kok. Dari cara lae memberikan komentar, aku menilai bahwa opera itu hanya mementingkan sisi seni peran saja.
    ada kalimat lucu yang lae tulisakn disini

    aja kita ini tak murni berdarah batak, ada acehnya, ada juga selatannya/minang…

    Kita tanyalah yang punya leluhur itu. Dan kita tanya SINGAMANGARAJA ke berapa yang menikah dengan BUKAN BATAK. Setahuku, dari silsilah yang banyak saya baca, marsundut-sundut, singamangaraja memperistri BORU SITUMORANG……

  38. ramses simamora berkata:

    jadilah kita batak pioner,diotonomi sekarang era globalisasi persaingan pembangunan segala bidang begitu ketat,. saatnya kita sekarang memegang teguh prisip membangun masyarakat tempatan, transpransi,kita orang batak harus membuang total sifat hotel,sepanjang didalam hati kita masing-masaing masih ada menyimpan rasa sifat hotel jangan kita berharap bahwa kemajuan yang dicapai oleh seluruh stakeholder tidak bisa tercapai seperti kemajuan segala bidang,kitalah yang bisa membangun daerah kita,kita bisa lihat daerah otonomi dikepulauan lain seperti pulau kalimantan yang beranega suku,tapi tetap eksis disegala bidangf, pada hal sumut bagian humbahas,pakapak,simalungun,balige,tobasa,sidempuan, mandailing natal,sidikkalang,brastagi ditempati 98% orang batak,tapi saya selaku putra humbahas meliahat dari segi politik persatuan kesatuan sudah hancur,begitu juga di sesektor bidang pembangunan fisik infra struktur,saya menyadari dan melihat secara jelas bahwa seperti Humbahas sangat sulit untuk mendokrak kemajuan segala bidang,sebab pembiayaan pembangunan publik dan pelayanan publik adalah pendapatan dari sektor riil pajak daerah seperti Pajak parkir, pajak restouran,pajak perhotekan,pajak terminal,pajak pasar,pajak SIUP/SITU,pajak galian C, Pjak Parkir,Pajak kendaraan Roda 2,Roda Empat,Pajak Penerangan, Pajak BBN,Pajak Pengurusan Sertifikat Tanah Masyarakat.
    sedangkan kita tau yang tidak ada khusus Humbahas Perusahaan yang bergerak bidang Perkebunan sawit,tambang tambang,secara keseluruhan jelas dapat kta bayangkan dana yang dikuncurkan oleh Pusat adalah Dana bagi hasil dari PAD tersebut diatas dengan rincian Pusat=20% dan Dearah=80% ditambah Dana Sumbangan pihak ke Tiga, kalau kita melihat daerah seperti ini menurut saya kasihan Pemerintah Daerah yang setiap tahun membuat program ribuan macam jenis kegiatan di setiap SKPD untuk demi tercapainya pembangunan disegala bidang,namun apa daya Pemerintah Daerah tidak bisa berbuat maksimal, karna tidak dapat di imbagi oleh pendapatan daerah tersebu,lalu apa gagasan kita untuk memenuhinya agar bisa mengejar ketertinggalan dari daerah lain……………………..tks

  39. H.Sijabat berkata:

    Komentar kyjabat sian Sriwijaya….
    Nungabe lulu-lullu hape bangsoi mangalului Ompungna jadi diangka dongan sai unang marna bosan hamu mangalului dohot papunguhan sude angka infomasi ni namambahen nabinotona di madia on jala molo masukdo dirohanta tapeop molo somasukdo unang dipeop dibagas roha, alana manang ise naolo mangalului jala naringkot ninna rohana botoonda,,, andigan sogot saina dapotna doi asalma sian bengetni roha botima horasma dihita sude….

  40. ipan tomi sitinjak berkata:

    ayo dong produser2 indonesia….angkat lah cerita rajs kami ke layar kaca…
    kami yakin filem nya pasti laris,,,

    salam sejahtra dan mauliate buat op.raja sisinga magaraja xII,yg benar2 memperjuangkan bangso batak dan bangso2 yang lain nya…

  41. Abner Samosir berkata:

    Ai berbeda beda do angka sejarah sisingmangaraja on molo di jaha muse bukku naasing, adong dinobatkan tahun 1876, di son didok tahun 1871, jala adong do di dok paragamo malim parjolo si Guru Somaling Pardede, adong muse mandok si Guru Somalaing Nainggolan, dia do na toho, hami angka panjaha jaha baritaon bohado, naeng tangkas botoon nian sejarah.

  42. Bhinneka Tunggal Ika berkata:

    Lebih baik dibuatkan biografi berbentuk novel dulu, mana tau tembus skala nasional…
    Horasss

  43. Banyak berkomentar dan menyatakan salut, bangga dan luar biasa, tapi yang menjadi pelaku untuk kebaikan seperti yang diperjuangkan orang Raja Batak hanya sedikit, mari bersatu, ” Bangso Batak”

  44. mauliate, tetaplah sejarah raja batak di seperti Sisingamangaraja XII diberitakan agar generasi batak selalu mengenal perjuangan raja batak, apalagi gua tempat tinggal Raja Sisingamangaraja XII dan pengikutnya diperkenalkan dan dijadikan bukti tepat bersejarah sebagai obyek wisata juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s