GONDANG NAPOSO

Monang Naipospos

Gondang Naposo sering juga disebut Pesta Naposo, namun perbedaannya tidak semua pesta naposo selalu diiringi dengan gondang. Ada pesta naposo dilakukan saat akan dilakukan perkawinan. Biasanya pesta naposo seperti ini dilakukan sehari sebelum acara pesta pwrkawinan itu.

Gondang Naposo adalah sarana membina hubungan generasi muda dan pematangan jiwa kemandirian dan tidak jarang menjadi ajang penemuan jodoh.

Pada dasarnya acara gondang naposo tidak semata-mata urusan naposo saja. Dari tradisi lama, acara seperti ini justru diprakarsai oleh orang tua, dan pembiayaan digalang oleh penduduk sepempat.
Naposo belum bisa “pahundul” pargonsi menurut cara taradisi batak. Pargonsi hanya dapat “masisisean” dengan pengetua dari “suhut”.
Pargonsi yang diundang itu lebih dulu “masisisean” dengan “hasuhuton” apa gerangan mereka diundang?

Suhut menjawab ; Bahwa di bulan purnama ini mereka berniat memberikan peluang bergembira bagi anak-anak mereka, kiranya mereka semakin dewasa, mendapat jodoh yang belum ada jodoh, “manogu na di lambung, manghilap di nadao”, merapat ke yang dekat memanggil kepada yang jauh. Kiranya generasi ini menjadi kebanggaan bagi orang tua, “panunduti” di harajaon “panorusi” di “hagabeon” generasi pemimpin dan pengembangan (populasi) klan. Manumpak Mulajadi (Tuhan Yang maha Esa) “dilehon hahipason dohot hapantason” diberi kesehatan dan kebijaksanaan yang utuh.

Gondang Naposo biasanya dilakukan saat bulan purnama setelah usai upacara Asean Taon. Mangase taon biasanya setelah panen raya. Asean taon merupakan “hari raya” besar bagi orang Batak tempo dulu. Di berbagai daerah ada yang benyebut Pesta Bius, pasahat Horbo Bius, Patasumangot dll menurut kebiasaan penyebutannya.

Inilah acara mamuhai gondang atau “mambuat tua ni gondang” Pargonsi memainkan gondang sipitulili tanpa ada yang menari. Setelah itu para orangtua bersama naposo “hasuhuton” menari bersama. Setelah mambuat tua ni gondang selesai, acara diserahkan sepenuhnya kepada Naposo. Selama acara berlangsung. Para orang tua tetap melakukan pemantauan, agar tidak melenceng dari aturan etika kesopanan dan ketertiban.

Minimal acara gondang naposo dilaksanakan 2 hari. Hari pertama mambuat tua ni gondang dimulai sejak sore hari. Semua naposo “hasuhuton” menari sepuasnya disini dan kadang mengajak para orang tua menari bersama. Disini kesempatan khusus memberi berkat kepada anak-anak mereka, bergembira menari dengan tata kesopanan yang sudah baku. Mereka dimatangkan “manortor” yang baik, “maminta” gondang yang runtut.
Hari kedua adalah ; pagi hari, memeberi kesempatan kepada naposo “mamuhai” memulai acara tortor bagi mereka dan dilanjutkan kepada para undangan hingga siang dan sore.

Para undangan umumnya dari naposo tetangga “huta” dan luat yang lebih jauh. Luat yang lebih jauh umumnya yang ada hubungan kekerabatan dengan klan “hasuhuton” itu. Misalnya generesi muda dari klan “bona ni ari, boru natuatua” dan yang berkaitan dengan persaudaraan klan itu.

Setiap rombongan undangan memenuhi panggilan “manortor” selalu membawa persembahan kepada naposo hasuhuton yang disebut “santisanti” berupa uang yang dimasukkan dalam “tandok” kecil, atau dengan diletakkan diatas “pinggan” berisi beras. Naposo hasuhuton menyambutnya dengan tarian hingga lokasi menari. Santisanti diberikan dengan tarian oleh yang pandai menari, dan pihak naposo hasuhuton juga mempersiapkan sambutan dengan penari pilihan juga.

Bila naposo dari pihak bona ni ari atau “tulang” mempersilahkan para “iboto” mereka menari, bahwa itu pertanda kepada naposo “baoa” lakilaki dari hasuhuton untuk melirik, mengajak menari. Gaya menari naposo yang kecantol dan mendapat sambutan biasanya dilanjutkan dengan tari kedua. Disini langkah pematangan pemberian signal apakah saling menyukai. Dari tarian itu dapat dilihat yang menerima dan yang menolak. Bila diterima, maka sang pria menyematkan daun beringin di kepala “paribannya” itu. Begitu pula sebaliknya, pihak naposo hasuhuton akan memberikan kesempatan kepada para “iboto” mereka menari. Ini pemberian kesempatan kepada naposo pria dari klan “boru natua tua” atau amang boru untuk melampiaskan hasrat kasihnya kepada paribannya dengan gaya tarian yang memukau dan menaklukkan.

Bila kasih terjalin, cinta tersambung, maka pihak orang tua yang terus mengamati akan mencatatkan dalam agenda mereka dan melakukan penelusuran lanjutan. Para orang tua tidak bisa membiarkan kisah itu berjalan sendiri dan itu menjadi tanggungjawab yang harus diahkiri baik atau buruk.

Peristiwa seperti ini juga dapat terjadi pada saat pesat “turun” Sebuah upacara pemakaman kembali tulang belulang ke “batu napir” dalam tradisi batak lama.

Bila upacara selesai sampai sore hari kedua, maka kembali kepada orangtua “hasuhuton” untuk menutup acara. Mereka adalah “sihorus nagurgur siambai nalonga” memenuhi yang kurang memaafkan yang berlebih dari semua acara yang dilakukan naposo tadi.

Kemampuan berstruktur, kematangan jiwa, ekspresi batin, lobby, diplomasi, kepemimpinan, dan pemupukan persaudaraan sejati tertempa melalui gondang naposo yang mengacu kepada kearifan leluhur. Dan itu sudah dilakukan sejak lama, konon lama sudah ditinggalkan.


Bookmark and Share

Tautan :

Warisan Yang Kurang Dihargai
Goar-goar ni gonsi Batak Toba
Tonggo Gondang Turun
Maminta Gondang
Sajak untuk Gondang Batak
Pargonsi dari Parsambilan Silaen
Pargonsi dari Ronggurnihuta Samosir
Tortor dan Ulos

11 pemikiran pada “GONDANG NAPOSO

  1. wow….informasi yg sangat menarik, I like it so much.Mauliate ma tu hamu da Tulang

    *** Dang haulahan be mulak poso😉

  2. Memang sangat bagus, dan menjadi sarana mangalului rokkap. Tapi entah mengapa, sekarang ini rasanya gondang naposo tidak pernah terdengar lagi ya? Mungkin di zaman tekhologi canggih ini, naposo sudah bisa mangalului rokkap di internet, ido ra ate ….. ?

  3. Gondang Naposo Pertama di Jakarta

    Batak Toba sebagai salah satu eknis bangsa Indonesia memiliki banyak kesenian tradisional. Salah satu diantara-nya adalah Gondang Naposo. Dahulu, acara ini dibuat pada saat seorang pemuda akan lepas lajang, dan saat rakyat panen, acara ini dilakukan persis terang bulan (rondang bulan). Momen ini sebagai ajang pemuda dan pemudi desa untuk bertemu, bernyanyi, dan menari bersama. Namun, sekarang tradisi Gondang Naposo sudah jarang digelar, prodak budaya yang pelan-pelan akan hilang.
    Gondang Naposo sendiri ada 20 macam; Goar-goar ni gondang naposo Naposo itu; (1) Gondang siburuk (2) Gondang sibane doli (3) Gondang sitapitola (4) Gondang siboru illa-illa (5) Gondang siboru enggan (6) Gondang siboru sanggul miling-iling (7) Gondang sibunga jambu (8) Gondang pinasa sidung-dungon (9) Gondang sibintang purasa (10) Gondang silote dolok (11) Gondang alit-alit aman jabatan (12) Gondang marhusip (13) Gondang parhabang ni siruba (14) Gondang sahali tuginjang sahali tutoru (15) Gondang tohur-tohur ni bajar-bajar langit somatombuk tano somagang-gang (16) Gondang pidong patia raja (17) Gondang pidong imbulu buntal (18) Gondang anduhur titi, anduhur tabu (19) Gondang sipitu dai (20) Gondang ni pargonsi sisia sauduran pulik pulik pandohan.

    Berangkat dari tradisi Gondang Naposon itu, saya pribadi berterimah-kasih pada Dewan Kesenian Jakarta dan tim Cerman Simamora mempelopori pelestarian budaya ini, khusus untuk kaum muda Batak Toba Jakarta. Untuk melestarikan budaya “Gondang Noposo” memperkenalkan kepada generasi muda supaya jangan meninggalkan kearifan budaya. Disinilah generasi muda dapat melihat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari–mengenal sisilah lae, ito, ompung, dan filosofi dalihan Na Tolu. Acara Gondang Naposo pertama di Jakarta, digelari di Gedung Gelanggang Remaja Rawa Mangun, Jakarta Timur (26/1) dihadirin ribuan orang pemuda-pemudi. Yang menarik adalah; dedikasi terhadap budaya dituntut dari naposo untuk melestarikan budaya.

    Oleh: Hotman Jonathan Lumbangaol adalah wartawan budaya Batak

  4. ndang haulahan be mulak poso…….., horasma ho…….., horas nang auuuuuuuuuuuuu………parhorasanma di hita sude

  5. Seneng nya ada info2 yang bisa aku ketahui lebih dalam,kangen banget lihat2 artikel tentang Bangso Batak dari negeri orang jadi kangen Bapa dohot Oma🙂

  6. Wah……
    klu di daerah tempat gw tinggal.
    Nggak pernah kedengaran lagi tuh yang kayak gituan.
    maklum namanya jg daerah perantauan.
    Tapi aku pengen lihat dech acara yang kayak gitu.
    duh….kacian bgt deh gw.

  7. GONDANG NAPOSO..WOW……jadi teringot ahu tikki Naposo…
    Molo adong pesta di huta…pesta perkawinan, sulang2 dohot na asingi dung sidung acara2 na penting di baen ma gondang naposo…alana naposo parhobas membantu tugas ni boru…
    Khusus do dibaen..semangat hian naposoi …manortorri …marinjakki …Pertama holan naposo dan bergabung ma dohot sebagian natua-tua (alana sebagian natua-tua nunga mulak)….ach…TABO NAI HUILALA…(MANORTORRI, MARINJAKKI) hami disi…Dang huboto goar2 ni halakki sude…( molo adong pesta gondang, godang ro naposo )…DANG TARULANGI I….DANG TARLUPAKKON I…
    Molo di Medan dohot di Jakarta…dang kea adong acara Gondang Naposo (Khusus Untuk Naposo).Biasanya.molo acara Naposo ya….sehari sebelum acara perkawinan tidak pakai gondang….Alai hea do ahu manortor di acara Punguan Sinaga Surabaya 1984 (gondang naposo)….
    Jadi untuk pertama kali Gondang Naposo ini diadakan di Jakarta…molo boi kembali poso..dohot ahu ….ha..ha..ha..

    KoreksiAda yang terbalik..pertama manortor dengan orang tua ..baru selanjutnya di serahkan pada naposo.

  8. tung mandok mauliate do iba, gabe adong parbinotoan taringot tu gondang naposo on, alana adong muse rencana nami mambaen gondang naposo di huta nami di ajibata, alai penyelenggara ima naposo ni gereja HKI ajibata do, jadi di akka dongan boloboi mangleon saran, mauliate

  9. adat batak itu penting bangat dikembangin. Salah satu caranya ya dengan gondang batak ini……….
    tapi ada juga beberapa org batak yang malu memainkan gondang dan adat batak ini…….. saya sangat kecewa dengan mereka……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s