Kebaya Pengantin

Suhunan Situmorang

TARINA sadar malam sudah tua, namun resah yang sudah berbilang minggu menggelinjang di hatinya, membuat dirinya tak bisa tidur. Dibukanya lagi jendela depan rumah kayu berkolong itu seraya melepas pandang ke hamparan sawah dan danau yang samar-samar terlihat di kejauhan. Malam tak begitu gelap, bulan purnama merayap ke ufuk barat. Sunyi malam sesekali diusik suara jangkrik.

Keluhnya mendesah lagi. Dalam. Terngiang percakapan dengan ayah-ibu, adik-adik dan kerabat dekat mereka di kampung itu; percakapan bermuat kecewa dan juga amarah atas tindakan Linggom yang tinggal hitungan jam akan menikahi Riana. Namun, walau sempat tersungkur akibat perbuatan kakak kelasnya di SMA itu, semampunya ia redam emosinya agar tak ikut menghujat Linggom. Mungkin maksudnya agar kekecewaan dan kemarahan orangtua, saudara-saudara dan juga kerabatnya, tak terlalu parah; barangkali pula karena cintanya pada lelaki yang hampir sewindu merajut asmara dengan dirinya itu belum seluruhnya sirna. Ketika orang-orang yang menyayanginya itu gencar menyumpah Linggom, rekaman masa lampaunya malah menari-nari di benaknya.

Linggom adalah lelaki pertama dan satu-satunya yang mampu membuat dadanya bergelora, yang menghibahinya perasaan-perasaan aneh yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Terlintas masa-masa mereka kuliah di Medan , menjalin cinta di tengah keprihatinan, berjuang bersama demi menggapai cita-cita. Juga masa-masa ketika sama-sama mencari pekerjaan di Batam, di mana Linggom harus menitipkannya di kamar kos sepupu perempuannya-buruh sebuah pabrik elektronik-karena tak cukup uang menyewa kamar, sementara Linggom sendiri harus berpindah-pindah dari satu tumpangan ke tumpangan lain. Mereka saling menghibur manakala lamaran kerja ditolak perusahaan yang dipinang, juga tatkala uang untuk membeli nasi, membuat pasfoto dan biaya fotocopy, atau ongkos angkot mencari pekerjaan, kian tipis. Lalu, setelah mendapat pekerjaan dan mendapat gaji, mulai menabung untuk mewujudkan sebuah impian yang mereka bangun sejak kuliah: menikah di Samosir dengan prosesi gereja dan adat nagok.

Linggom sudah meruntuhkan impian mereka dalam sekejap. Pengakuannya, ia dipaksa ibunya menikahi Riana, perempuan yang masih terbilang pariban-nya. Padahal selama ini tak pernah ia katakan ikhwal keinginan ibunya itu, bahkan seingat Tarina tak sekalipun pernah ia sebut Riana, perempuan yang lahir dan besar di Lubuk Pakam, perawat di RS Pirngadi, Medan itu . Kata tetangga dan kerabatnya, ibunya Linggom-lah yang melamar Riana dan kebetulan langsung mau. Bahkan orangtua Riana bersedia pula pesta adat pernikahan putri mereka dilangsungkan di Hatoguan dengan cara taruhon jual.

Berhari-hari Tarina lunglai, bahkan hingga kepulangannya ke Hatoguan masih sulit percaya bahwa Linggom bukan lagi miliknya. Orangtua dan kawan-kawannya di Batam sebetulnya keberatan ia pulang, karena menurut mereka hanya menambah luka batin, sementara yang melukainya bersenang-senang dengan perempuan lain. Ia mampu memenangkan pergumulan batinnya, betapapun belum seluruhnya percaya bahwa Linggom akan sungguh-sungguh menikahi perempuan lain. Yang sempat membuat dirinya bingung adalah menentukan kado yang tepat untuk Linggom, walau akhirnya ia putuskan memberi ulos bittang maratur; dengan harapan, Linggom akan bahagia bersama istrinya, memiliki putra-putri.

Orangtua dan adik-adiknya kaget sekaligus gembira ketika ia tiba. Mereka memang sempat cemas memikirkan Tarina. Wajah ayah-ibunya terlihat lega setelah melihat senyum dan cara bicara Tarina yang seolah tak menanggung pikiran berat. Seusai makan malam, ayah dan lima kerabat dekat mereka, coba menyabarkan hatinya, walau nadanya bermuat amarah. Kata mereka, umur Linggom saja yang sudah dewasa, pikiran dan sikapnya masih kanak-kanak. Ia bukan lelaki sejati sebab tak bisa menetapkan sikap sendiri; karenanya ia bukan lelaki yang tepat untuk mendampingi Tarina hingga saur matua.

Orang-orang di Hatoguan tahu, putusnya hubungan Linggom dengan Tarina, semata-mata disebabkan persoalan orangtua mereka. Ayah Tarina dan ayah Linggom yang sama-sama guru di SMP Hatoguan dan sintua di gereja mereka, sekitar 15 tahun lalu terlibat pertikaian hebat akibat ulah petinggi gereja-yang juga mengimbas ke hampir semua jemaat dan pengurus gereja Batak Protestan itu. Bertahun-tahun dua kelompok itu berseteru, memperebutkan bangunan gereja yang diklaim masing-masing kubu sebagai pemilik yang absah.

Ketika konflik antarjemaat gereja itu berkobar, Tarina masih gadis kecil murid kelas empat SD dan Linggom kelas enam. Sebagaimana anak-anak lain seumuran mereka, kedua bocah itu tak cukup paham akar persoalan yang mengakibatkan maraknya api perseteruan orangtua mereka. Cinta mereka tumbuh alamiah dan bersemi ketika Tarina kelas satu SMA dan Linggom kelas tiga di SMA 1 Pangururanwalau baru setahun kemudian mereka ikrarkan. Mereka pikir permusuhan orangtua mereka sudah menguap. Ternyata tidak bagi orangtua Linggom. Kesumatnya tetap membara hingga masa tuanya menjelang.

***

PIKIRAN Tarina masih terus mengelana dan akhirnya tiba di sebuah ruang dormitory milik perusahaan asing tempatnya bekerja; tempat tubuhnya biasa berehat usai kerja. Foto-foto Linggom tak lagi ikut menghuni kamar sempit itu. Sebelum kepulangannya ke Samosir, kesemua gambar lelaki itu, termasuk foto kesukaannya saat mereka pesiar ke pantai Bintan, sudah ia singkirkan. Mendadak pula ia minta cuti dari kantornya dengan alasan neneknya sakit keras-yang sebetulnya sudah lama mati.

Ia tak merasa sayang lagi mengeluarkan delapan ratus ribu rupiah untuk ongkos perjalanannya ke Samosir, juga membelanjakan sekitar tiga setengah juta untuk membeli oleh-oleh bagi kedua orangtua dan keempat adiknya. Tadinya, uang yang dua tahunan susah-payah ditabungannya itu akan ia serahkan pada ibunya untuk membiayai pesta pernikahannya. Setengahnya kini sudah dikuras; anehnya ia merasa puas.

Dan, dua potong kebaya dan sarung Palembang yang susah-payah dicicilnya dari Inang boru Gultom pedagang kain di Batu Ampar itu, telah ia serahkan pada ibunya, diberikan berikut oleh-oleh lain yang dibawanya dari Batam. Ibunya tertegun saat menerima dua potong bahan kebaya dan sarung yang berkilauan itu. Perempuan 40 tahunan itu tentulah tahu, kendati tak ada yang memberitahu, kebaya dan sarung yang baginya termasuk barang mewah itu sedianya dibeli Tarina untuk busana pernikahannya. Sepasang untuk acara martumpol, satu lagi untuk acara pamasu-masuon di gereja sekaligus pesta adat.

Ibunya tak kuasa pula menutupi galau hatinya ketika memperlihatkan selembar ulos bittang maratur yang pekan lalu ia beli di pasar Mogang atas pesanan putri sulungnya. Tarina tahu hati ibunya pastilah teriris-iris saat memilih ulos tersebut, karena mestinya ulos untuk dirinya dan Linggom-lah yang dibeli-yang diberikan saat upacara adat perkawinan mereka.

Sampai percakapan mereka berujung karena malam sudah membubung, ibunya tak menyinggung perihal kebaya dan sarung berjenis songket Palembang pemberian Tarina itu. Perempuan beranak lima itu cuma membekapkan bungkusan besar itu ke dadanya, lalu beringsut menuju kamar tidurnya. Ketika Tarina memasuki kamar adik-adiknya yang bersebelahan dengan kamar tidur ibunya, dari sela gorden kusam yang menjuntai di atas kusen pintu, tertangkap matanya ibunya rebah di atas dipan dengan lengan kanan menggeletak di kening, sementara lengan kirinya menindih bungkusan berisi kebaya dan sarung itu di atas perutnya.

Tarina bisa menduga pikiran-pikiran yang berkecamuk di benak ibunya, juga meraba kepedihan hati perempuan yang amat disayanginya itu. Sebetulnya amat ingin ia bicara, memohon agar ibunya tak lagi menyesali sesiapa pun atas kegagalan pernikahannya; semata-mata karena Linggom memang bukan jodohnya. Niatnya terganjal karena kedua adiknya, Sinta dan Romauli, mengajaknya berbincang seraya meluapkan rindu bersama.

Sinta, adik di bawahnya persis dan guru SD di Tebing Tinggi, agaknya sengaja memilih topik pembicaraan seputar pekerjaan Tarina dan suasana kehidupan di Batam; sementara Romauli, pelajar SMA kelas tiga itu, lebih suka meneruskan kecaman pada Linggom, yang dikatakannya pengecut dan penipu. Tak lupa Romauli mengimbuhkan betapa kegagalan pernikahan Tarina dan Linggom menjadi bahan pergunjingan menarik di seantero Hatoguan, bahkan menyebar hingga Palipi. Di sawah, pasar, kedai, danau, apalagi saat kaum perempuan bermalas-malas sambil mencari kutu di tangga depan rumah mereka, ketidakjadian Linggom mengawini Tarina itulah bahan gunjingan utama.

Tarina bersikap tenang saat Romauli dengan emosional menyampaikan tanggapan orang-orang. Ditambahkannya pula bahwa menurut penilaian orang-orang, perempuan yang akan diperistri Linggom itu tak lebih cantik dari Tarina; harga dirinya pun dianggap rendah sebab mau dinikahi lelaki yang seumur hidupnya belum pernah dikenal. Selama Romauli bercericau, Tarina hanya senyum walau sesekali mendenguskan napas panjang. Bisa dimakluminya kekecewaan Romauli, sebagaimana ayah-ibu dan semua kerabatnya. Bisa pula dipahaminya alasan-alasan mereka menuduh Linggom lelaki pengecut yang tak bertanggungjawab.

Tapi ia tak ingin bila adik-adiknya, apalagi ayahnya, semakin beringas menghujat Linggom. Bukan karena Linggom masih menyisakan serpihan-serpihan cinta di relung hatinya, bukan pula karena malam itu masih ada harapan akan terjadi sebuah keajaiban: Linggom tiba-tiba datang menemuinya dan berkata sudah membatalkan perkawinannya. Ia ingin, di tengah persoalan dirinya dengan Linggom, harus dibuat pagar pembatas, yang tak perlu dimasuki orang lain, kendati yang memasukinya berstatus orangtua atau saudara kandung. Walau amat kesakitan ditinggal Linggom, ia ingin dirinya saja yang menanggung derita, seberat apapun itu.

Dan, maksud kepulangannya ke Hatoguan itu, tak lain untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa tegar-walau hatinya remuk. Juga untuk menyerahkan oleh-oleh istimewa untuk perempuan yang melahirkannya, dua potong bahan kebaya buatan Paris dan sarung songket Palembang yang kebetulan amat ia sukai warna dan motifnya.

***

TARINA benar-benar tak tidur. Tubuhnya bagai patung di tengah jendela depan rumah orangtuanya. Matanya terasa perih, mungkin karena semalaman melek. Ditatapnya pematang-pematang sawah dan hamparan danau yang mulai jelas terlihat karena pantulan cahaya matahari fajar, ditambah bias sinar rembulan yang sudah tertutup perbukitan Ulu Darat.
Tak lama lagi lelaki yang sekian lama mendebarkan jantungnya itu akan resmi dimiliki perempuan lain.

Langkahnya perlahan menuju kamar tidur adik-adiknya lalu merebahkan tubuh di sisi Sinta. Tak seberapa lama kemudian ia dengar ibunya bangun dan bersibuk di dapur. Tarina berusaha memejamkan mata, sayangnya pikirannya kembali mengelana.

Dadanya berdentum-dentum tatkala terbayang perjalanan Linggom dan Riana menuju gereja-diikuti rombongan orangtua, handaitolan, tetangga–yang harus melintasi jalan di depan rumahnya. Belum yakin pula ia apakah benar-benar siap menyerahkan ulos bittang maratur yang sudah dibungkusnya dengan kertas kado warna ungu itu.

Tiba-tiba ibunya membuka pintu, menghampirinya, dan dengan suara pelan membangunkannya.
Tarina masih memejamkan mata.
“Bangun dulu kau Inang, sebentar saja,” ulang ibunya. “Nanti kau teruskan pun tidurmu.”
“Kenapa, Mak?” Tarina seolah baru terbangun dari tidur yang lelap.

Ibunya menatap Tarina beriring senyum, tapi bola matanya berkaca-kaca. Beberapa jenak mereka termangu, perasaan Tarina kembali dihanyutkan galau.
“Omak harus mengembalikan kebaya dan sarung songketmu ini, Inang …”
“Kenapa, Mak? Omak tak suka?”
Ibunya menggeleng, senyumnya tipis.
“Uangku sendiri kok, Mak, yang membeli…”
Ibunya mengangguk.
“Lalu, kenapa Omak kembalikan?”

Ibunya tersenyum lagi, “Semalaman mataku tak bisa lelap, Inang. Lalu aku berdoa terus-menerus, memohon-mohon pada Tuhan agar jodohmu ditunjukkan.”
Ibunya tak kuasa menghentikan desakan air matanya.
Tarina terdiam, menahan napas sembari melipat kedua bibirnya, “Tapi Omak jangan sedih. Tak kuat aku melihat Omak menangis.”
Ibunya mengangguk, matanya mendadak berbinar.
“Apakah Omak belum yakin permasalahanku dengan Linggom akan bisa kuhadapi dengan tenang?”

Ibunya menghapus kelopak matanya dengan punggung telapak tangannya, “Tangisku ini tangisan senang, Inang…,” ucapnya lirih. Beberapa saat ia terdiam. “Tadi di dapur, saat menanak nasi untuk sarapan kita, kudengar malaikat Tuhan membisikkan sesuatu ke telingaku.”
Dahi Tarina sontak mengernyit.
“Katanya, lelaki yang sungguh-sungguh mencintaimu tak lama lagi akan datang, Inang…”
Mata Tarina membelalak, kerut di keningnya semakin rapat.
“Kebaya-kebaya cantik inilah yang kuingin kau kenakan saat lelaki yang akan dikirim Tuhan itu menikahimu…”

***

Jakarta, Januari 2008

Selanjutnya : Keputusan Merlin ; Permintaan Marojahan ; Cucu PAnggoaran

Suhunan Situmorang adalah penulis Novel SORDAM

38 thoughts on “Kebaya Pengantin

  1. Nah……… ini ada kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg.
    Awal bulan Januari 2008 yang lalu saya pergi ke Jakarta kebetulan ada urusan keluarga sambl mencari buku – buku bacaan yang lagi trend pada masa kini (maaf saya hobbynya membaca buku). Sebelum ke Jakarta saya sudah berencana membeli beberapa buku bacaan seperti Buku Tuanku Rao, Greget Tuanku Rao, Anak Penyu Menggapai Laut dan Buku Sordam karangan Suhunan Situmorang. Tiga judul buku tersebut diatas tidak terlalu sulit untuk mencarinya. Tetapi buku yang keempat yaitu Buku Sordam sangat sulit mencarinya, dicari ditoko buku Gunung Agung, Toko buku Gramedya se Jakartaan tidak ketemu, karena pingin memiliki buku tersebut terpaksa saya cara alamat penerbitnya di Jalan Tanjung Jakarta Pusat. Mereka menyarankan agar saya lebih baik ke alamat penerbitnya di Lenteng Agung. Dengan rasa kesal saya pergi ke Lenteng Agung dalam cuaca yang sangat panas demi mencari buku kesukaan. Setelah saya baca sampai habis buku tersebut isinya cukup bagus dan tidak merasa rugi saya untuk mencari buku tersebut sampai ke Lenteng Agung. Terima kasih.

    *** Wah … memang Novel Sordam bikin banyak orang gregetan😉

  2. ah tahe nasib ni si boruadi ate.
    Tu hamu akka baoa uang baen hamu akka siboruadi lungun – lungunan laos gabe madele bah

    *** Unang mandele angka ito namarbaju, ai godang dope harapan, lomobi molo sabar songon cerita i😉

  3. Songon dia ma ulaning cara ni ito Tarina on pasahatho ulos bintang maratur i tu lae Linggom i, mardongan hata pasu pasu asa anggiat gabe maranak marboru si doli na hinaholongan ni roha i. Dohot do ulaning ito Tarina on marpoco poco? Tu Batam dope ibana mulak muse? Hape……

    Isema ulaning baoa na nidok ni inanta i ate. Nda tung lae Linggom do i? Naung malum rimas ni natoras ni si Linggom doli na sai marpiar piar na saleleng on? Happy ending do ending2 ni serita i tulang Suhunan?

  4. Salam untuk “amanta” Suhunan.

    Apakah lelaki yang benar-benar mencintai Tarina telah datang amang? Ataukah hanya ilusi mama’nya Tarina? walaahwalaaaah.

  5. Cerita yang luar biasa lahir dari tangan seorang yang memilki kemampuan luar biasa, kalau boleh tahu masihkah ada lanjutan ceritanya, kalau ada kutunggu laeku …. horas
    salam bertemu kembali buat laeku suhunan setelah sekian lama aku menunggu tulisanmu .

  6. Jangan penasaran menunggu kelanjutan cerita…atau pun tidak bisa tidur…
    Kalau dilihat dari akhir cerita…akan ada kelanjutan tunggu saja ….ya, ito…Horas…..

    *** Jangan kalah ito, buat cerita😉

  7. Horas….
    Saya juga termasuk orang yang senang membabat habis novel2 dan cerpen apalagi sudah berhubungan dengan budaya dan adat istiadat dari suatu daerah yang diangkat secara dinamis dalam pergerakan dominasi kebudayaan modern. Budaya lokal yang sering kekolot-kolotan tapi berusaha mengimbangi hegemoni budaya modern sehingga ada kalanya terjadi konflik sosial tanpa disadari penyebabnya. Saya sedang menyusun (baru menulis dan mengumpulkan bahan) sebuah novel yang rencanaya saya beri judul : Mereka bilang Ayahku Parbeguganjang. Ada rencana awal membuat judul novel ini ‘Parbeguganjang’ tapi saya takut judul itu menghilangkan makna sosial budaya lokal yang menjadi pokok dari tulisan ini, sehingga orang lebih mengapressiasi judul ‘Parbeguganjang’ dengan novel horor, santet, yang penuh dengan ringkikan mahluk halus dimalam hari.
    ‘Mereka bilang Ayahku Parbeguganjang’ lebih menceritakan kehidupan sosial seorang sintua sebuah gereja yang dituduh warga bahkan jemaatnya memelihara begu ganjang (konon artinya, mahluk halus yang bisa diperintah oleh pemeliharanya). Tuduhan itu semakin mantap karena profesi keseharian orangtua tersebut lebih sering bekerja mulai pukul 3 dinihari dan tempat kerja dibawah pohon rindang (hau riara = pohon beringin). Dalam novel ini saya ingin menceritakan puncak emosi warga dan klimaks hidup putri seorang sintua tersebut yang melihat ayahnya mati terbunuh didepannya sendiri oleh calon mertuanya sendiri yang seorang Penghulu.

    Kepada Pak Suhunan Situmorang dan bapak2 yang lain mohon diberikan bimbingan dalam pengerjaan tulisan ini. mauliate..

    **** Selamat berkarya lae, kami mendukung, saya yakin lae Suhunan akan mendukung… Horas …

  8. @ Sahat Ngl
    Mauliate lae, alai unang sampe songon serita on parbogason muna ate:-)
    @Rondang Siallagan
    Mauliate ito. Tabo do ito maringanan di Sydney?
    @ Pahala Panjaitan
    Bah…, gabe loja lae alani novel si saddap i ate:-) Mauliate ma diusaha muna da lae. Mudah-mudahan boi husurat muse karya naundenggan siani.
    @ SIALLAGAN
    Au pe hujaha do tontong puisi dht serita-seritami, lae.
    @ boru
    Imadah ito, jumonjotan do boru-boru nadirugihon dibanding baoa. Molo sada baoa manadingkon boru-boru, didok do i “anakni amana”, manang “sirimbur rara.” Alai molo boru-boru manadinghon sada baoa, pintor didok doi “boru-boru nasosuman”. Eh tahe… Taringotna, dua borungku, onom ibotongku ito. Jadi pasti berpihak tu kaummu do au:-)
    @ Humbang Hasundutan
    Ai so saut dope lae dipasahat si Tarina ulos bittang maratur i? Huhilala songon laguni dahahang si Bunthora ma ra rohani itoani, ima tahe di ende ‘Rodo Au tu Pestami’.
    @ Bonar Siahaan
    Dang binoto dope Amang manang naung ro do lahi-lahi nalao manopot si Tarina i, ai so ro dope boa-boa sian inanta i:-) Sehat do, Amang?
    @Sahat Sipahutar
    Nang pe dang jonjot be hita “jumpang” lae, tong do hujahai angka nanisuratmu di blog-mi. Mauliate dipujianmi laeku.
    @Oloan Radja
    Lae, didia hamu maringanan? Molo dang dao sian Jkt, boima hita jumpang, asa tataringoti draf novel nanisurat munai. Songon na menggetarkan do huida tema nai. HP-ku adong di lae Naipospos.

  9. Lae Suhunan Situmorang. Denggan lae ceritamunai ba. Alai molo baenon muna do sambungan ni cerpen munai, baen hamuma bahwa baoa nanaeng rongkap ni ibotonta si Tarina i, di Tarakan dope. Tambaru on mulak do. Sabar ma ibana paimahon. Selamat berkarya.

  10. Horas..Ito Suhunan Situmorang.
    Molo naeng mandokkon tabo di huta halak..
    Asing2 do jawaban di jolma.
    Songonan..adong sada halak…tabo ibana tinggal di huta na leban alana….ndang adong pesta adat di jumpai setiap minggu atau bulan, muse dang godang tondong. Ai biasa na ..molo di hutantta mola adong problem sude keluarga dohot mangkatai/ komentar….haciit ulu ninna. Jadi bah tabo ma tinggal di huta na leban..Alanna dang setiap minggu atau bulan adong acara2 adat. Molo adong problem keluarga yach holan halakki…

    Molo ahu bah umtabo do tinggal di Medan…Jakarta….Ai disan do sude dongan, keluarga, tondong, huta, muse si panganon, na niura, nanigotahi, tinombur, pinadar, saksang, lapet beras, ombus2, sayur ubi, mie gomak, markebaya, gondang, manortor, adat…ai sude mai…TARHIRIM AHU BO….
    Walaupun macet terus Jakarta….Sudah SEJARAH itu.

    Dang adong nimpiku tinggal di luat na leban, ai doli2 batak do na di roha….dang pe na soro, holan hona hulit tu hulit..Dang berani …dang huboto manang aha…”ai mungkin alana boru raja i…ate”… Mahal pikiran mereka…”sinamotnya”..AICH……STOP. RUANG PUBLIK INI….

    Ito Suhunan, adong naeng hu sukkkun, adong do donganku NHKBP Petojo (1990).Goarna Nelson karejo na pengacara di Jakarta. Umurna molo dang salah hira2 50 tahun saonari (Amang tahe nunga matua sude dongan ku, molo matehalakki dang boi ahu ro, imada susah na sipatta tinggal di huta na leban on). Ai adong do donganmuna margoar i . Lupa ahu marga na alai isterina Menado. Ibanna parjolo muli.
    Molo adong titip salamma/ salam siholtu ibanna dohot dongan2 naasingi Molo hu goari dongan2 ku dang muat annon komputer on.

    Tambahan, di luat na leban on..na tabo na..
    Dang adong macet, dang adong jalan mar lobang-lobang tudia pe hita laho, bersih udara, bersih jalan raya, tidak ada rumah2 kumuh, hutan2 bagus, tidak pernah berkeringat kecuali sport dll.
    Seandainya di Indonesia bisa seperti iniya.
    SURGA.
    Mauliate Ito.

  11. Saotik tu naposo doli-doli…
    Molo adong rohamu tu sada borua, unang ma hamu…martandang tiga halak, delapan halak….margrup ninna.. Boasa hudok songoni…..Ni roha Doli A nian, adong roha na tu borua i hape Boru A adong roha na tu Doli D….Asi roha…bingung sukkun2 si borua , Ai ise do nuaeng doli2 na olo tu ahu sian halakkon sude…ni rohana?.Dang mungkin di patudu rohana tusada halak kan….
    Dan muse di kelompok doli2.i..dang olo maju, patuduhon diri..adong roha na alana..mamikiri roha di dongan2na.
    Ai jadi susahkan tarsongon on. Dang adong namandapot. Akhirnya, mangalului sian luar….dibege barita.boru A naeng muli..songon na muruk doli2 i….terbakar jenggot.ma sude..Susah kan.. Unangma songon ni hamu…songon masa-masa nami naposo, Ai pengalaman do on.. Molo adong namerasa ….rap mekkel ma hita. Horas.

  12. @adonia sihotang
    Tabo do lae serpen i? Mauliate ma lae (Taringotna adong do laekku marga Sihotang, par Sihotang tulen, maringanan di Tomohon halahi saonari). Molo mulak lae taon baru on, jumpang ma hita di Samosir ate, rope au, asa hupantadahon lae tu si Tarina boru… [ Bah, ai boru aha do tahe lae Naipospos si Tarina on? Gabe lupa au…:-) Mungkin alani rundutni pingkiran di pudi ni ari on]. Dang adong be lanjutanni serpeni lae, alai minggu naro hutongos pe sada serpen naimbaru tu blog Tanobatak on, anggiat ma lomo muse rohani lae manjaha jala olo laenta Naipospos manempelhon di bologna nauli on…

    @ Rondang br Siallagan
    Toho do ra nanidokmi itonan, tar songon au ma ullomoan do rohangku maringanan di sada huta na longo, dang gaor jala gok motor, kareta, jolma. Ai siteress do au itonan mardalan tu kantor manang mangihuthon paradaton di Jakarta namabaor on…:-) Ndang holan hatakku, sasintongna ndang tolap be au ito tading di Jakarta, alana nunga lam rundut sude. Maronjat jolma, masset dalan, beringas angka par sepeda motor (ai aha do tahe hata Batakni ‘beringas’?). E tahe…, marnasip ma nian molo boi iba songon apparakku Par Bintan, sonang imana dohot keluarga di Tj. Pinang, godang muse sihumisikna:-) jai mura-mura mulak tu huta di Palipi, Samosir an. Husungkun pe donganni ito namargoar si Nelson i da. Adong do nian dua halak donganhu namargoar Nelson, alai marga Hutasoit dht Simanjuntak do, jala dang pengassara ulaon ni halahi. Dang halahinoni ate, ito?:-)

  13. @ abang Suhunan

    Sarupa do sitta-sitta ni rohanta bo… Molo dung sidung sikkola nian angka gellengta on naeng mulak do nian pangidoan tu Palipi. Boanon ma tu bonapasogit aha sisa ni naniula di pangarantoiannon songon modan pajongjong sopo-sopo dohot manuhor sappetak pargadongan ulaon tikki manogot sebelum las ni ari…

    Di arian manurat-nurat artikel na laho sikirimon tu media massa, manang pature bukku sian akka pengalaman naung nialaman di tano pangarantoanon.

    Sasahali manaripar ma tu Bakkara mamereng inang simatuai. Dungi ni sangahon ma martapian di mual sitio-tio i manang tu aek sipangolu.

    Sasahali pajumpang hita dohot lae Naipospos mar giliran, di Palipi manang di Laguboti manang sasahali di Bakkara…

    Tabo nai namarangan-angan on ateh………..

    *** Gabe ingoton nama i 😀

  14. Kebetulan lagi banyak yang post topik ini…

    Amang, Sordam…
    Borumuna sudah menagih janji padaku,..dulu pernah kubilang, kalo Amang mau menulis Buku lagi, lalu dia sering tanya,..mana bukunya…oalahhh…pikirku, jadi tarutang pulak awak….

    sabtu kemaren aku nyari buku sordamku, mau baca ulang….bongkar-sana-bongkar sini, taunya…bukunya dah nyampe ke medan sono……

    nb: ceritanini aja ku kopy dan ku print yah…
    nnb: walo nanti capek sendiri awak menerangkan arti kata bahasa batak yang gak dimengerti…

  15. Horas ma Bapak Tua,
    ai ninna Bapak Uda Petrus par Bintan, nunga adong be calon pengganti ni Sitor Sutumorang, i ma –> Suhunan Situmorang:)
    Mansai tabo jahaon cerita on Bapak Tua. Sai boi ma nian iba marsiajar tu Bapak Tua. Mauliate.

  16. Nunga lam marojat jolma dohot motor di Jakarta dang songonna taon 1990 an? Terbalik…Di huta namion….terutama dilingkungan nami…ma sopi hu huilala…dang godang jolma, dohot kendaraan…
    Bus sada-sada do…(hira2 1 jam selingan)…dang adong kendaraan nasing (transport) kecuali mobil, pintu/jendela2 jabu tertutup boi dihitung piga halak didalan, dang jonok toko2 ..fasilitas2..
    Stress do ahu alanna pasopihu. Nion ma dang tabo tu ahu diluat leban on

    Asing do di jabu na lama/Leichhardt..(hira2 13 taon ahu disi).tonang roha ku alanna dang pasopi hu, dang paramai hu….jonok tu sude fasilitas kebutuhan sehari-hari, (10 – 25 menit jalan kaki) mis. sekolah ( pra sekolah – SMA), dokter, super market, pertokoan2, restaurant2, bioskop,gereja, kantor pos, toko kacamata dll, jonok tu daerah pusat (Opera House), dan Universitas 15-25 menit naik bus tidak macet…. Sonang ahu, merasa di rumah sendiri..

    Saonari (hira 2 taon ahu dison/Castlehill) tarsongon na dang merasa di rumah…Kirim hamu ma bo..transport sian Jakarta tu huta/lingkungan nami on…asa unang pasopihu….asa unang susah mangulului transport.
    Ehh…tahe…

    Lupa situtu ahu marga ni donganki si Nelson..Ito…holan bohi2 na boi si ingot on..Dang Simanjuntak, Simanjuntak dongan hu si Jekson do goarna…
    Hutasoit…???H…? Santabi Nelson lupa ahu margam? Alai hu ingot hea do di songgoti hamu ahu,……Atik ra diingot hamu i….

  17. Dang kea ho ro tu jabu ku sahalak muna, alai di songgoti hamu ahu…..di gereja dohot si Solten Rajagukguk..sadari dua persoalan. .Marmikiri ahu disi….Hu ingot doi dongan…Molo di jaha hamu on…kirim email tu au ahu…da..

  18. Lae…ceritanya sangat bagus.
    Juga secara lembut dan halus lae memperkenalkan daerah-daerah di tanah batak dan warisan budaya (ulos) batak. Bagus sekali. Maju terus.

    Horas.

  19. @ riyanthi
    Dang toho nanidokni bapa udam Par Bintan i, ito, ai “partiga-tiga nonang” do ualonhu siapari:-)

    @ jamoslin samosir
    Arop hian do nian rohangku songoni lae, alai inna amangni si Tarina: “Unang disoba-soba si Linggom be manjonohi borungku! Sotung huseat ibana!” :-)

    @ anastasia rajagukguk
    Jadi, maunya ito, kita lanjutkan lagi? Bagaimana kalau cerita yg lain saja kukirim ke ‘Partungkoan Tano Batak’ ini? Setuju do ito?

    @ Robert Siregar
    Mauliate utk pujian lae, aku memang berkeinginan kuat utk terus menceritakan kisah-kisah manusia dan alam Tano Batak, semampuku. Tunggu ya lae yg berikutnya…

    @ Ganda Simanjuntak
    Molo dang mangoli dope hamu lae, olo do hamu mangganti si Linggom? Asa tahatai denggan-denggan tu inanta dht amantai :-)

  20. Tulang…Di ingot tulang dope carita ni..: Taringot Horbo di Samosir i…?? Alana Di husiphon Parmahani do Ninna: DOKKON TU AKKA DONGAN MI DA..TUBARIBAAN MAHITA MARLANGE ALANA GODANG RUPPUT DISAN…he…he…

    *** Ah …. limut nama disi 😀

  21. @ Ganda Simanjuntak
    Ai ho doi hape laeku naburju? Aboha di si? Bereng-bereng jala jaga jo harangan Tele i da… Alai huhutma ho martangiang tu dompak banua ginjang.

    @ sihomb
    Kalau sudah manetek, mana bisa lagi Lae tarik?:-)
    Nunga hubereng lapo ni Lae i. Saddap mai, gabe holanna mengkel suping sahalak au:-)

  22. Uda sunan, makin produktif aja nih kayaknya. Siplah. Baca “serpen2″nya uda jadi makin pengen pulang ke indo dan ke samosir, hehe…

  23. Bah…, boruku yang sedang bermukim di Paris pun sudah ikut-ikutan marmeam tu ‘Partungkoan Tano Batak’ on. Tahu dari siapa blog ini, ito? Tak kusangka bah… Sebenarnya Udamu ini tdk begitu produktif menulis. Maklumlah ito, masih pontang-panting utk memenuhi keperluan rumah dan adik-adikmu, sok repot di beberapa komunitas:-) dan kesempatan menulis yang tak selalu mudah didapat. Kapan kalian pulang, biar kita kunjungi Tano Batak nauli dan kampung leluhur kita yang sunyi di bawah pegunungan Ulu Darat, tepi Danau Toba, Desa Sabulan yang penuh batu-batu besar itu:-)

    Lae Naipospos, apala borungku do si Lany on, siampudanni haha nami siangkangan. Muli tu marga Simanjuntak do ibana, mansai burju jala serep do rohani hela i. Jonok hian do borungkon tu au, sian nametmet. Sanga do di joloni natorasna au maringanan, tingki singkola. Hampir sude buku sastra na adong di au dijahai borungkon. Kalas opat SD nunga dijaha ibana angka bukuni Pramoedya A. Toer (hea do muruk amongna tu au ala diboto buku-buku nadilarang pamarenta doi sude), jala cerpenhu nahea dimuat di koran-majalah (tahun 80-an) dijahai ibana. Hurimpu hian do gabe sastrawan borungkon, hape fakultas psikologi do ujungna dibuat. Eh tahe…, gabe sombu siholhu tu borungkon bah…, alana dung di Paris halahi maringanan dang hea be hami kontak. Mauliate ma Lae, alani blog muna on gabe boi iba “pajumpang” dohot boru niba namaringanan di luat na dao. Didok boru-hela on do nian asa ro hami mardalani tu Paris, alai nunga mangantusi Lae boha argani ongkos tu si. Manuhor sada tikket ni hopal habang pe ra dang nalaho tolap molo holan mangasanghon gogoni juma nami na di Sabulan i:-)

    @ Lae Suhunan Situmorang.
    *** Tung so dipaboa la pe, ianggo angka datulang Simanjuntak nunga hupangkilalahon angka naburju do tu angka berena. Dang huboto molo tu hula-hulana😉
    Godang do manungkuni sian email, “ai na so diposting hamu dope cerpen ni amang Suhunan na terbaru”, ninna be. Bah, ai so adong dope ditongos, naung adong i ma jolo ulahi hamu manjaha ningku ma. Alana ; AKU, ANAKKU DAN NOVEL SORDAM 2,059 manjaha, Kebaya Pengantin 1,476 manjaha, Keputusan Merlin 459 manjaha. Tabotabo dihilala manjaha ceritai ate lae, aut dibukuhon i tagadis ba halihon lae ma.😀 Alai nunga dihasiholi nasida parbue ni angan-angan ni lae i, ima las ni roha. Ubati lae angka sihol ni roha nasida i.
    Molo tung jumpang ni nantulanghu pe Partungkoan on, ima tandana na sai dilului do bona pasogitna. Sompit do hape portibi i lae, molo bisuk jolma i ate😀

  24. Awalnya dari kangen ama lagu-lagu batak, nyari2 lagu viky di youtube, lihat blognya viky, pengen beli tobadream3 tp blum nyampe paris, hehe, trus ketemu link-link blog yang lain sampai kesini deh. Aku juga jadi tau kl uda dah jadi seleb juga ternyata, gara2 paltibonar (ngutip omongannya echa nih). Da, ntar kalo kita pulang, sekalian kita diajakin nongkrong di tobadream cafe ama seleb2 lainnya yah, hehe…

    *tetap setia menunggu serpen2 dan novel terbaru uda*

  25. Catatan untuk Lae Suhunan atas ”Kebaya Pengantin” (KP)

    Meskipun saya belum pernah menghasilkan sebuah karya sastra tetapi saya rasakan gaya Lae bercerita sama dengan gaya saya: bahasa ringan dan sederhana dalam ”logat” khas yang terasa. Sulit menahan diri untuk memunculkan kejutan bahkan sensasi (paling tidak beragam informasi) dalam satu kalimat, sehingga sulit bagi Lae dan saya merangkum sensasi ide dalam kalimat pendek.

    Karakter Tarina sudah cukup bagus. Kepulangannya ke Hatoguan untuk menghadiri pernikahan Linggom dan caranya melipur lara hati Omak dengan membawa (membeli) dua pasang kebaya buatan Paris dan kain songket Palembang merupakan karakter positif Tarina yang layak dipuji dan menjadi contoh bagi pembaca. Akan tetapi, dialog Tarina dengan Omak tidak menggambarkan kecemerlangan karakternya Tarina.

    Sayang sekali, alur cerita terlalu cepat bergerak dan minim peristiwa. (Biarkan pembaca yang menentukan peristiwa global dari detil cerita yang dibangun secara njelimet.) Gagasan utama dan yang mengikut juga terlalu konvensional (ciri penulis cerita dari kalangan umum, bukan oleh praktisi sastra apalagi sastrawan…).

    Mengapa tokoh Linggom disembunyikan? Padahal terjadinya cerita ini adalah karena Linggom hendak menikah. Linggom adalah tokoh sentral kedua maka semestinya kehadirannya secara konkrit menjadi bagian penting yang mengejutkan dalam membangun alur cerita walaupun bukan mesti mengakhiri cerita.

    Penyelesaian cerita terlalu buru-buru dan sengaja digampangkan dengan kehadiran suara malaikat di telinga tokoh Omak. (Inilah bagian paling buruk dari ”KP”). Dalam konflik Tarina – Linggom yang ruwet itu (peristiwa seperti itu sangat dekat dengan kejadian nyata), semestinya di situlah muncul kecerdasan pengarang untuk menyelesaikan konflik secara mengejutkan bagi pembaca. Iintelektualitas pengarang berperan menyelesaikan masalah dengan cara berinkarnasi dalam sosok salah seorang tokohnya. Jadi sangat buruk jika konflik cerita diserahkan kepada kekuasaan adikodrati… (kecuali dalam cerita rakyat hal seperti itu sangat lazim bahkan merupakan ciri kahsnya…).

    Akan tambah mendebarkan seandainya pesta pernikahan Linggom dan Riana diceritakan dengan letupan-letupan kecil yang membuat pembaca menjadi pro kontra. Apalagi Tarina sudah datang dari Batam dengan hatinya yang remuk tetapi masih cerdas dan dewasa menyiapkan kado ”Ulos Bittang Maratur” untuk pengkhianat cintanya… Dan…, ”Kebaya Pengantin” sebagai judul menjadi tidak relevan. Mana kebayanya? Mana pengantinnya…???
    (Maaf kalau tanggapan ini ternyata tidak seperti Lae harapkan.)

    Catatan:
    1. Meskipun saya bukan HKBP, Lae, tetapi saya menolak jika dalam bentuk apa pun mengungkit kembali konflik HKBP yang sempat sangat memalukan umat (agama) Kristen dan etnis Batak itu di tahun 1980-an. Saya yakin, kasus dari masa 15 tahun silam itu masih berdampak luas sampai sekarang terhadap citra Kristen dan Batak di negeri Pancasila yang tidak Pancasilais ini.
    2. Saya pernah keliling Samosir waktu dulu bekerja di lingkungan MSA System apalagi ketika menangani majalah ”Bona Ni Pinasa”. Memang masih sedikit nama kampung dan pasar di Samosir yang pernah saya dengar. Kampung Hatoguan termasuk nama kampung yang belum pernah saya dengar. Mau konfirmasi saja: maksudnya, apakah Pasar Mogang adalah juga ”Onan” bagi warga Kampung Hatoguan, dan mobilitas warga Hatoguan sehari-harinya sampai juga ke Palipi?
    3. Maaf…, catatan tntang ”KP” ini hampir sama panjangnya dengan KP itu sendiri.
    4. Kapan Lae main ke Jayapura? Kutunggu Lae di Perbatasan… hah hah hah…
    5. Horas…

  26. Horas Bang… edaku yang rekomendasikan cerita ini ..”bagus banget” katanya …dan ternyata setelah membaca sampai selesai, ternyata saya sependapat dengan komentar eda ku….di tunggu ya Bang cerita berikut nya…Dan ternyata kita satu almamater nih di FH – UKI…. GBU

  27. Waduh ceitanya menghanyutkan perasaanku tapi sebagai perempuan batak kekuatan Tarina bisa sebagai teladan dan semestinyalah perempuan batak seperti dia.

    Salut buat Tulang Suhunan Situmorang yang bisa mangangkat cerita ini.
    H o r a s

  28. Mengapa tokoh Linggom disembunyikan? Padahal terjadinya cerita ini adalah karena Linggom hendak menikah. Linggom adalah tokoh sentral kedua maka semestinya kehadirannya secara konkrit menjadi bagian penting yang mengejutkan dalam membangun alur cerita walaupun bukan mesti mengakhiri cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s