REFLEKSI, LIMA TAHUN KABUPATEN SAMOSIR

Monang Naipospos [Apa perubahan di Samosir ?]

Saudara Suhunan Situmorang kirim SMS kepada saya tentang adanya rencana Pemerintah Samosir untuk membabat hutan 2000 HA untuk dijadikan taman bunga proyek investor Korea. Saya terkejut dengan kebijakan itu. Saya belum bisa memastikan kebenaran itu hanya dengan melalui pesan singkat. Saya jadi terkenang awal masyarakat Samosir mengimpikan daerah ini menjadi Kabupaten.


Ratusan warga Samosir bersama anak rantau, aparat Pemkab Tobasa menumpuk di komplek pesanggearahan Pemdasu Pangururan Selasa 27 Januari 2003 lalu, dalam rangka (paojakhon) pengantar pelaksana tugas Bupati Samosir oleh Bupati Toba Samosir Drs Sahala Tampubolon. Pada tanggal 15 Januari 2003 pelaksana tugas Bupati Samosir Drs Wilmar Simanjorang Msi telah dilantik oleh Gubernur Sumatera Utara T. Rizal Nurdin atas nama Mendagri.

Perjuangan pembentukan Kabupaten Samosir sudah lama diidamkan dan diprakarsai putra putri Samosir. Kabupaten Samosir saat itu berpenduduk 124.000 jiwa terdiri dari 9 Kecamatan 17 Desa 6 Kelurahan. Harapan itu terwujud setelah ditetapkan melalui UU No 36 Tahun 2003 tanggal 6 Desember 2003.

Sambutan masyarakat Samosir cukup antusias terlihat dari hadirnya para pemrakarsa dari Jakarta, Medan dan Bonapasogit Samosir. Tokoh masyarakat Samosir A.J. Naibaho dalam sambutannya mengatakan; “Kami masih miskin, mohon bantuan lebih besar kepada kami”. Kepada pelaksana Bupati Samosir Drs Wilmar Simanjorang, disampaikan pesan dalam bahasa Batak : “Tangki ma ualang galinggang jala galege, nungnga ampe tu ho amang Raja Wilmar harajaon i, uluhon ma Kabupaten on asa makmur rakyatna marmas jala mareme”.

Para pemrakarsa mengatakan, Kabupaten Samosir terbentuk didasari atas keprihatinan setelah 58 merdeka. Samosir sebenarnya mempunyai potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia, akan tetapi tidak pernah termanfaatkan. Mereka menyatakan akan mendukung sepenuhnya pembangunan di Kabupaten Samosir agar dapat sejajar dengan kabupaten lainnya. Saat itu dijanjikan satu bulan kemudian akan didrop beras raskin beberapa ton untuk membantu pangan bagi masyarakat Samosir disamping dana yang akan tetap diupayakan.
Masyarakat menyambutnya dengan bijak, dikatakan bahwa mereka mengharapkan diberi kail, bukan ikan. Bila diberi beras akan cepat lapuk. Niat memberikan raskin kepada masyarakat adalah spontanitas dari salah seorang dari putra asal Samosir yang bertugas di Bulog. Masalah diberi “kail” akan tetap diupayakan.

Hot Raja Sitanggang menyatakan bahwa awal pemerintahan di Kabupaten ini bukanlah penuh bulan purnama, tapi penuh jalan berliku. Dipesankan untuk menghindari perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme yang secara nasional telah merusak tatanan ekonomi.

Putra putri asal Samosir yang berada di Taput dan Humbahas pun memberikan dukungan moral dan material saat itu. Mereka terdiri dari pengusaha, PNS, tukang jahit, tukang becak dan parrengge-rengge. Diakui telah mengupulkan dana sebesar Rp 16 juta dan akan terus dilanjutkan. Dana itu akan diwujudkannya berbentuk barang berupa meja dan kursi kantor.
Diakui bahwa Samosir tidak memiliki Sumber Daya Alam yang potensial, tapi Sumber Daya Manusia dapat diandalkan. Mererka mengharapkan diciptakan motto Samosir yang indah dengan pola pikir Internasional tanpa meninggalkan nilai tradisional.

Drs Wilmar Simanjorang Msi saat itu mengatakan kerinduan hatinya untuk memberikan yang terbaik untuk Samosir. Diuraikan bahwa tugas pokok yang akan dilakukan adalah ; mempersiapkan struktur pemerintahan ; menyelenggarakan pemerintahan daerah ; memfasilitasi pembentukan DPRD ; dan mengkoordinasikan penyelenggaraan Pemilu 2004.

Pemilihan Kepala Daerah sudah berlangsung. Bupati yang dipih langsung rakyat sudah bekerja efektif 3 tahun. Apa yang sudah dihasilkan? Tentu saja sudah dilaporkan pada setiap sidang paripurna DPRD. Tanah yang terlantar apa sudah diaktifkan?, Hutan yang sempat digundul apa sudah dilestarikan? Kualitas produksi pertanian apa sudah ditingkatkan?, Pelayanan wisatawan apa sudah menyenangkan?, Sarana prasarana perhubungan apa sudah semakin dimuluskan? Ekonomi kerakyatan apa sudah dijalankan? Masyarakat umum apa sudah semakin dicerdaskan? Pencemaran Danau Toba sudah dihindarkan? Masyarakat akan mampu memberikan estimasi nilai untuk itu.

Forum masyarakat Samosir dibentuk, tujuannya menggalang partisipasi masyarakat untuk membangun Samosir. Cukupkah sampai disitu?
Setidaknya harapan seperti yang diutarakan Hot Raja Sitanggang dapat terpenuhi. Forum ini hendaknya mencatat semua harapan masyarakat yang juga harapan mereka, dan tidak menjadi bagian dari kolusi, nepotisme yang menyuburkan korupsi. Harus mampu melakukan evaluasi, menuntut pemerintahan yang akuntabel, transparansi ditegakkan.

Partisipasi masyarakat terbagun bila pemerintahan berjalan efektif. Siapa rela menggalang dana seperti dijanjikan bila yang terjadi adalah peningkatan insentif korupsi? Tapi saya tidak menuding ini terjadi di Samosir. Setidaknya harapan masyarakat yang menggalang terbentuknya Kabupaten Samosir ada titik terangnya. Kesejahteraan masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan publik, sarana prasarana yang baik adalah bukti kasat mata, bukan laporan tahunan. Selamat berjuang dengan pembangunan partisipatif Kabupaten Samosir.

63 pemikiran pada “REFLEKSI, LIMA TAHUN KABUPATEN SAMOSIR

  1. WHATTTT? MEMBABAT HUTAN 2000 HA?
    BUNGA APA ITU ….APAKAH BERMANFAAT SEKALI DENGAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN???

    **** Hyaaaat awas ya ….😉

  2. Horas ma di hamu sude dongan panjaha blog Partungkoan on. Tgl 6 Februari lalu, saya dan lima teman (Viky Sianipar, Bismark Sianipar, Charlie Sianipar, Ganda Simanjuntak (Medan), dan sahalak bule Perancis, Laurent), atas nama komunitas Tobadream Jkt, pulang ke Samosir untuk menyiapkan ‘Tobadream Conservation Program’ (TCP).

    Di Desa Martoba, Simanindo, kami menyiapkan perjanjian dng pemilik tanah yg sukarela menyerahkan 2 HA tanahnya utk ditanami pohon, mengadakan pertemuan dng teman-teman peneliti voluntir dari Badan Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli, Parapat. Juga melakukan sosialisasi dng orang-orang setempat (termasuk politisi-politisi lokal) dan Pemda (Bupati Samosir). Kami juga menjelajah dataran tinggi Samosir (Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan) dan mengelilingi Samosir hingga daerah Lagundi-Onanrunggu utk memetakan lahan kritis, dan, atas nama pribadi, mencari anak-anak asuh yg secara ekonomis kesusahan meneruskan sekolah. Untuk sementara, kami menyerahkan ke pastor Bernardus Sijabat dari gereja Katolik Paroki Pangururan. Beliaulah yg kami putuskan menyalurkan ‘aek santetek’ ke saudara-saudara kita, anak-anak di desa Sijambur, Salaon Dolok, Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan, yg sangat memerlukan bantuan biaya sekolah.

    Kami juga menemui seorang perajin eceng gondok di Pangururan (Gurning) dan membuat kerjasama utk membantu penjualan produknya di Jkt sekalian membantu disain yg lebih menarik agar diminati kaum muda Jkt. Pertemuan dng Bupati Samosir di rumah dinasnya dilakukan Viky dan Charlie, sementara saya dan Bismark menjelajahi Urat-Sipinggan dan melakukan pemotretan.

    Sebagaimana pertemuan kami di Jkt tiga bulan lalu dng Bupati Samosir, keinginan dan maksud kami menggugah warga (terutama para perantau) agar menggiatkan penghutanan kembali daerah Samosir dan sekitar Danau Toba melalui TC~P, mendapat dukungan. Kami senang dan tak lupa menekankan bhw program TCP murni swadaya, tak akan membebani keuangan Pemda. Kami hanya mengandalkan partisipasi pribadi-pribadi yg tergerak hatinya utk membantu membeli bibit pohon dan biaya perawatan (menggaji tenaga lokal), dan tiap rupiah yg kami terima harus bisa dipertanggungjawabkan.

    Tak dinyana, malam sebelum kembali ke Jkt (9 Feb), kami bertemu dng seorang parnamboruan yg membuka kedai makan di Pangururan. Tanpa bicara panjang lebar, namboruku ini (Ny. Siregar br Situmorang) menyampaikan sebuah berita yg mengejutkan, yakni: Bupati sdh memberi izin ke sebuah perusahaan Korea utk membabat 2000 HA hutan Tele utk dijadikan kebun bunga! Warga Tele dan pemegang hak ulayat (marga Situmorang dari Harianboho, Baniara, Tele, mayoritas keluarga dekat sastrawan Sitor Situmorang) sudah mengajukan protes dan melakukan perlawanan. Namboruku ini pun lantas memintaku agar turut jadi pengacara pemegang hak ulayat (ditambah pengacara lain) untuk menggugat Bupati Samosir. Mendengar berita tsb, saya dan kawan-kawan langsung lemas! Terjadi semacam antiklimaks atas rencana penanaman pohon di Samosir yg dijadwalkan mulai 3 Maret 08. Berulang-ulang saya tanya kebenaran berita tsb, namboruku itu kemudian memberi dua no.hp paramangudaon di Jkt agar saya hubungi. Malam itu pun langsung kami hubungi teman-teman di Pangururan utk verifikasi karena tak mungkin lagi berangkat ke lokasi (Tele). Ternyata mereka sudah tahu, bahkan pengakuan mereka sudah beberapa kali dimuat di koran-koran terbitan Sumut.

    “Bah! Ngeri nai puang namasaon!” ucapku spontan.

    Jelas, kami SANGAT KECEWA. Rencana melakukan penanaman pohon di atas lahan 2 HA, yang kami harapkan akan menjadi semacam “virus” positif bagi seluruh warga dan perantau Samosir dan wilayah-wilayah di Tano Batak utk melakukan hal yg sama, jadi sesuatu yg absurd, dilecehkan, dan “si parengkelon”.

    Minggu siang (10 Feb), kami ketemu Alvin Nasution (wartawan Metro Tapanuli/Metro Siantar) dan Andi Siahaan (wartawan dan kontributor Trans TV) di kedai kopi Koktong dan menanyakan kebenaran berita tsb. Mereka membenarkan berita tsb dan sdh pernah ditulis sebagian pers Sumut. Tanpa sempat berpikir panjang, spontan saya kirim SMS ke lae Monang Naipospos, mengungkapkan kekecewaan dan kesedihan saya dan kawan-kawan. Malamnya di Medan, di rumah Grace Siregar (Tondi), kami mengungkapkan berita tsb pada teman-teman yg sudah kumpul di sana (Thomson Hs, Alister Nainggolan, Miduk Hutabarat, dll). Mereka pun mengaku sudah mendengar tsb.

    Setiba di Jkt, dari bandara, saya kirim SMS ke Batara Situmorang (salah satu pewaris hak ulayat) utk menanyakan masalah tsb sekalian langkah-langkah yg sdh mereka tempuh. Jawabannya, mereka sdh menyurati Bupati, beberapa Menteri, dan tengah mengumpulkan beberapa dokumen sbg modal utk tindakan hukum bilamana Bupati tidak menghentikan. Paramangudaon ini pun meminta kesediaanku manakala diperlukan, dan saya jawab: siap amanguda!

    Tu hamu sude dongan panjaha blog Partungkoan on, sian roha naserep hupangido, kami mohon, dukungan muna laho menggagalkan rencana Bupati Samosir utk membabat hutan Tele seluas 2000 HA, apapun alasan dan tujuannya. (Alasan Bupati, kawasan tsb masuk hutan produksi dan tujuan konversi ke kebun bunga adalah utk meningkatkan pariwisata).

    Tak usah pun dikaitkan ke persoalan global warming, kawasan hutan yg mengelilingi Danau Toba sdh tahap sekarat menurut kawan-kawan peneliti kehutanan! Kita tahu persis, hutan-hutan yg mengitari danau yg indah itu sdh terancam dan ekosistem di sekitarnya sudah rusak sejak perusahaan pulp di Sosor Ladang-Porsea beroperasi sejak thn 90-an, ditambah tindakan para pencuri kayu.

    Masa depan danau kebanggan kita itu, asal-mula para leluhur manusia Batak itu, semakin terancam dan akan semakin hancur bila hutan-hutan yg mengitarinya dihabisi. Tegakah kita membiarkan danau, perbukitan, hutan, dan alam yg sudah berjasa memberangkatkan manusia-manusia Batak meraih kemajuan, dirusak oleh pihak-pihak yg hanya bertujuan meraup keuntungan bagi diri mereka? Saya yakin, tidak!

    Untuk itu, saudara-saudaraku sekalian, Batak atau non-Batak yg cinta lingkungan, kami imbau agar: MELAWAN SETIAP TINDAKAN YANG MERUSAK HUTAN DI SELURUH WILAYAH BATAK DAN YANG MENCEMARI DANAU TOBA!

    Horas.

  3. Saya pikir ide untuk menjadikan kebun bunga sangat baik dan sangat menjanjikan kalo di tinjau dari pangsa pasar international. Sebagai contohnya Singapure dalam perencanaan kotanya sekarang lebih menitik beratkan konsep green garden, sebuah konsep penataan kota dengan lebih menekankan area hijau , yang tentu meliputi pambuatan taman bunga skala besar, yang di orientasikan menjadi obyak wisata.
    Selain mendatangkan devisa, nilainya juga sangat bagus dalam membangun sebuah aspek visual bagi daerah tersebut.

    Kalo pengembangan taman bunga itu di bangun secara terintegrasi dengan kawasan hutan di Samosir sebagai tujuan Obyeik Wisata why not? Toh khan tercapai juga tujuan yang disebut Sustainable Development.

    Kalo membabat hutan 2000 HA< gw nggak yakin, karena toh Smaorsi adalah lahan gersang. Dan juga pengembangan Garden City bisa di integrasikan dengan keberadaan hutan kok….

    Saya agak mempertanyakan keraguan orang2 mengenai pembangunan Flower garden /Garden City ini .

    Kenapa orang kita Indonesai khusunya batak selalu berfikiran negatif dan cenderung tidak menrima perubahan , setiap pembangunan harus ada yang dikorbankan terlepas dari banyak atau dikitnya pengorbanan itu?

    Mungkin di benak yang mengirim SMS itu konsep pembangunan adalah hanya secara fisik saja (jalan–rumah–gedung)…
    Kalo anda hanya membangunan jalan tanpa ada sebuah Magnet Zone didaerah itu, apa jadinya dareah itu? Saya yakin daearh itu bakal jadi seperti daerah BATAM sekarang menjadi kota Mati.

    Sebuah mindset yang perlu dirubah. Setau saya Grand Strategy City Planning di dunia sekarang adalah Green Design ( IJO ROYO-ROYO) yang tercakup dalah Green Agenda seperti PBB summit di Bali kemarin. Sangat berbeda dengan kaalangan kita yang masih berpikiran Brown Agenda . Berusaha mengejar dunia barat, terutama dalah hal pembanguana dari segi fisik.

    Dari segi Feasibilty Study, itu cukup layak kok, dan itu sudah pernah di buktikan di Kazahkastan (Rusia)., belanda, jepang dang sekarang Singapore.

    (NB: Developer Flower garden yang di samaosir ini bukan gw loh… . Cuman mempertanyakan keraguan orang yang mengirim SMS itu aja. )

  4. Saudara arkitek, untuk negara S’pore memang sangat cocok menerapkan konsep green garden dalam perencanaan kotanya, karena hutan di negara itu adalah hutan gedung.

    Pengitegrasian taman bunga dengan hutan seperti yang sdr arkitek maksudkan sangatlah bagus, tetapi dengan syarat: “jangan sampai merusak hutan itu sendiri. 2000 hektar lho, kawan. Tidak tanggung-tanggung.

    Ditinjau dari aspek visualnya, tanpa kehadira kebun bunga itupun, danau Toba sudah indah sekali.

    Dari segi devisa yang mungkin akan didatangkannya, bisalah disebut “sustainable devolopment”. Bayangkan mas, konon harga satu pohon bunga bisa sampai ratusan juta, kalikan dengan seribu pohon per hektar, kalikan lagi dengan 2000, di tambah dengan nilai log log dari hutan yang 2000 hektar itu. Menjanjikan sekali. Sebaliknya, jika rusaknya/hilangnya hutan itu akan mengakibatkan permukaan danau toba merosot lagi, bukankah itu “susahinable development”?

    (NB: Susahinable/bikin susah itu gw bikin sendiri lho, bukan bikinan yang kirim sms itu)

  5. @ architect_singapore
    Danau Toba dan sekitarnya tidak butah Anggrek, kalau dikampung mu di Singapore tentu itu dicari orang.
    Kami butuh air yang mengalir, mengalir ke sawah, jernih memberi kehidupan untuk banyak orang.

    Anda menyebut:
    “Kenapa orang kita Indonesai khusunya batak selalu berfikiran negatif dan cenderung tidak menrima perubahan.”

    Orang Bataklah yang terlalu cepat menerima perubahan, bahkan warisan leluharnya cenderung untuk tidak bisa bertahan dalam tempo yang lebih lama lagi, termasuk hutannya. Ini malah berbahaya

    Jangan jadikan kawasan Tao Toba menjadi kawasan seperti dikampung mu. Cobalah berempati. Pernah ke Danau Toba dan berbaur dengan penduduk disana, melihat dari dekat kehidupan mereka?
    Mereka tidak butuh anggrek , tidak juga butuh gedung tinggi seperti dikampungmu.

  6. @architect_singapore

    Salam Kenal. Nama saya VIKY SIANIPAR. Kelahiran Jakarta, gak bisa Bahasa Batak (tapi lagi belajar..hehehe), pernah kerja di SIN juga.

    Saya mengerti maksud anda. Saya bisa menangkap anda orang yang berwawasan luas. Im very Proud of you🙂

    However, Problemnya disini adalah Good Purpose in The WRONG place.

    Jangan samakan dan S’pore, pak. Singapore sudah menerapkan penataan kota yang baik sejak awal pembangunannya tahun 70an akhir. Kondisinya SUDAH AMAN dari Banjir apalagi kontournya tidak ekstrim, jadi gak ada LONGSOR. Tititk-titik penyerapan air sudah ditetapkan dan tidak akan dibangun. Jadi sangat tepat kalau mereka mau bikin sisa tanahnya supaya cantik dengan bunga. Guna jadi object wisata. TOP memang.

    Sementara Tao Toba, (wiiuh.. sambil mengusap keringat di kening….) gak ada tuh yang namanya perencanaan tatanan ekosistem sejak dulu. Walaupun ada, gak pernah tuntas krn masalah dana dan gagal krn desakan para KAPITALIS yg butuh kayu.

    FYI, Tele,Dairi, Karo (bag utara Danau Toba) adalah daerah resapan air untuk Danau Toba yang dilakukan oleh hutan2 setempat supaya menghingdari longsor dan tanah amblas. Nah, Berdasarkan penelitian JICA, pada tahun 1985 hutan pada daerah tangkapan air Danau Toba seluas 30.609 hektar dan pada tahun 1997 berkurang menjadi 14.286 hektar atau tinggal 35%. Diperkirakan, jumlah kawasan hutan di kawasan tersebut sekarang 7.000 hektar atau hanya tinggal 23%
    Jadi kalo mau dibabat lagi tinggal 5000an hektar doong..😦 hik..hik..hik..

    Akar bunga kekuat apa sih… Dibutuhkan tanaman keras seperti Pinus, hariara, ingul, dll untuk menahan longsor dan menyerap air hujan supaya tidak terkirim ke Danau semua.

    Kalau Satu2nya hutan Tadahan air di Tao TOBA ini di babat juga, akibatnya Harian Boho, Sihotang, Sabulan, Limbong Sagala akan jadi korban Longsor DAHSYAT seperti bencana di longsor tahun 2005 dulu di kawasan hutan reboisasi dan hutan lindung Gorat Ni Padang, Kabupaten Karo, yang berada persis di bagian utara Danau Toba. Sedikitnya 20ha sawah habis gak bisa ditanami lagi pada saat itu, dan longsorannya masuk ke bibir danau sehingga warnanya jadi coklat lumpur.

    Jika Hutan tele di babat Say Good Bye lah pada kerabat2 anda yang ada di kawasan2 itu. Call them NOW since they are still alive! Coz you will not be seeing them by 5-10 years later. Untuk lengkapnya silahkan lihat di blogku: http://www.tongginghill.com

    Kalau pembangunan taman Bunga ini di lakukan di lahan yang BUKAN tadang air, tidak masalah. Seperti daerah Brastagi atau Simalungun. Apalagi kalo bunga untuk export.. harus deket sama Airport karena bunga itu Perishable Goods butuh Rush Handling dalam Logistic-nya.

    Jadi betul2 proyek ini gak masuk akal, yang ujung2nya hanya mau ngambil kayunya.

    Memang kita perlu positif thinking.. Tapi kalau sudah terbukti salah, apa harus terus positif thinking..

    Jadi lae architech na burju, sekali2 pulanglah ke Bona Pasogit, Lihatlah dulu kondisi Saudara2 kita yang sangat memprihatinkan disana.. Jangan nanti udah hidup susah, kena bencana terus karena para kapitalis haus harta…

    Tapature ma Huta ta…Horas!

  7. Kebon Bunga? Hehe he.
    Untuk melihat kebun bunga, ngapain juga harus ke Samosir? Tidak perlu. Bukankah ada Bogor, Belanda dan kota lainnya?

    Setiap tempat tentu memiliki ciri khas. Mau belanja, Hongkong atau Sinagapura tempatnya. Mau berdansa pergilah ke Brazilia. Lihat pemandangan dengan Danau terindah di Dunia, pergilah ke Samosir–Danau Toba. Anda bisa menghirup udara segar, mendengar gemericik air di pagi hari, desau angin danau di sore hari.
    Datanglah ke Danau Toba, karena anda bisa menyantap ihan bakar, pora-pora-undalap dan terutama ikan jahir paling gurih di dunia. Hanya dengan cabai, sedikit garam ditambah unte jungga (asam) anda akan serasa di Sorga.

    Dunia sudah tahu, Samosir itu Danau Toba. Dan Danau Toba itu Samosir. Kini, saya bertanya, adakah Samosir di masa yang akan datang, kalau Hutan Tele sudah ditebang?

    Saya sudah mendengar dari banyak orang. Tapi Suhunan keliru menyebut angkanya, 2000 ha. Bukan 2000 ha. Tapi 2250 hektar dan pohonnya sudah mulai ditebang oleh sebuah perusahaan Korea. Katanya PT EJS. Konon, pengerjaannya dilakukan di malam hari.

    Mencuri? Saya kira ini sebutan yang paling pas. Mengapa pula harus malam hari.

    Nah, bayangkan, jika hutan lindung yang sudah ratusan tahun dipelihara, termasuk orang Belanda, agar tanah perbukitan di Samosir tidak longsor pun agar ketersediaan tanah resapan lestari untuk menjaga debit air di Danau Toba, itu ditebang? Matilah…Maupma timba hudolok.

    Hentikan.
    Hentikan itu, Pak Bupati. Ingat anak cucu, dan seluruh penghuni Samosir kelak. Ingat dosa. Jangan gegabag, Masyarakat Samosir memilih anda bukan untuk menjual Hutan. Tetapi justru untuk menjaganya. Tidak ditebang dan dijual pun hasil Hutan Tele itu, masyarakat Samosir masih bisa makan. Buktinya…
    (gok di si hassang,
    eme nang bawang,
    rarak nang pinahan
    di dolok i.)
    ***

  8. @ architect_singapore
    Aku gak tahu lae udah berapa lama gak pulang kampung? Gak melihat keadaan pulau Samosir sejak dibabat habis untuk keperluan Indorayon? – Boleh-boleh saja seperti yang lae uraikan seperti konsep Green Design. Tapi harus dilihat dong keberadaan yang sebenarnya sekarang. Ada upaya beberapa orang yang peduli pada penghijauan di pulau Samosir untuk menanam pinus 2 HA, tentu bukan sebagai gagah-gagahan. Boleh jadi mereka sudah dibatas kesabaran melihat hutan “pondasi” pulau Samosir sudah sangat mengkhawatirkan. Konon pula Bupatinya mau merelakan 2000 HA hutan Samosir untuk dibabat perusahaan Korea, hanya untuk bisnis bunga? Emangnya, akar bunga bisa kali, ya, menahan erosi pulau Samosir. Lae sih enak ngomong karena sudah tinggal di negara maju [Singapore], dan gak peduli kesusahan orang di kampung! Kalo emang rencana Bupati Samosir ini berdampak baik bagi perekonomian rakyat, mungkin masih bisa dicari solusinya. Nyatanya, hampir satu suara penduduk di sana, ditambah para rekan wartawan yang merasa miris/prihatin dengan rencana itu. Dan dari pernyataan lae: “Mungkin di benak yang mengirim SMS itu konsep pembangunan adalah hanya secara fisik saja (jalan–rumah–gedung)…” – lae itu asal ngomong doang dan terkesan arogan. Mungkin orang kampung pun si pengirim sms itu, tapi aku yakin pola pikirnya tidak seperti yang lae tuduhkan itu, bahwa konsep pembangunan itu hanya sebatas fisik. Alamaak…, kok sombong kali lae bisa memvonis si pengirim sms itu sedangkal itu. Mentang-mentang udah tinggal di luar negeri, ya? Itu arogansi namanya, lae. Secara pribadi [walau bukan orang Samosir], aku menolak keras pembabatan hutan 2000 HA itu. Belum tentu bunga yang akan ditanam cocok di sana [?]. Jadi, laeku… Jangan terlalu aroganlah karena pintar dan dipakai oleh negara lain. Kok, lae yang pintar gak merasa prihatin, ya, melihat Tano Batak sekarang sangat memprihatinkan. Kalo merasa pintar dan terbeban, ikut dong menyumbangkan kepintaran. Horas!

  9. @”tuan arsitek from singapore”,
    Haloo… “tuan arsitek from singapore”, salam dulu deh…
    Ini komentarku buat “tuan”…

    Samosir memang ada persamaannya dengan Singapura, yakni ejaan namanya sama-sama dimulai dengan huruf “S”. Hanya itu saja. Titik! Anda bukan orang Batak, bukan juga orang Samosir, jadi Anda tak pernah [dan tak akan] mengerti apa yang dialami dan dirasakan mereka. Pembangunan seperti apa sebenarnya yang rakyat Samosir inginkan.

    Mungkin Anda tahu, sekalipun Garden City tidak dibuat di Samosir, dari awalnya tanah leluhur orang Batak ini toh sudah hijau. Yang membuat tidak hijau lagi belakangan ini, ya itu “mereka”, yang suka menebang hutannya atas nama keuntungan tanpaada etika sediki pun untuk menanaminya kembali.

    Penebangan selalu diatasnamakan. Atasnama devisa. Atasnama kesejahtraan rakyat setempat. Dan entah atasnama apa lagi. Dan kali ini aku dengar atasnama “Bunga” demi Sustainable Development [coba deh “tuan” artikan apa kalimat yang satu ini. Aku tak mengerti apa itu. Itu bukan retorika, kan? Aku takut!]

    Bukankah lebih arif jika kehijauan Samosir yang kian memudar dikembalikan dengan cara menanaminya pohon kembali. Jadi, juga tak perlu dihijaukan lagi atas nama “Flower”. [Ini kedengarannya seperti revolusi kaum hippies saja – “Revolusi Bunga”].

    Jangan juga disamakan Samosir dengan Singapura, yang memang tak punya hutan lagi. Jujur aja, segala keperluan mebel atau furniture untuk rumah, atau hotel-hotel di Singapura atau di belahan bumi lainnya, saya yakin juga banyak berasal dari hutan Indonesia.

    Kayu-kayu dari negara ini banyak yang mengalir liar [ilegal] ke luar negeri. Aparat menutup mata. Cukong-cukong “untouchable” bermain bagaikan belut yang licinnya – minta ampun – tak terjamah. Ya, jujur kita juga tak punya ketegasan hukum. Kita malah membiarkan mereka lolos. Hutan kita botak! Uang yang bicara, bukan? Kemiskinan kita lagi-lagi jadi sebuah kelemahan. Kita terlalu cinta pada uang!

    Jujur saja, hutan adalah salah satu aset paling berharga di negara ini. [mari jangan bicara soal Al Gore dengan Global Warmingnya, seperti yang disinggung Pak Suhunan Situnorang] Bisa saja, kayu kelak akan lebih mahal dari emas, maupun berlian yang ada di Ruwanda sana, karena memang kita sudah kelewat rakus melahap hutan-hutan kita selam ini, tapi lupa akan kelestariannya. [jujurlah pada diri sendiri. Apakah Anda tak cinta negar ini lagi. Mana jiwa nasionalis Anda.] Jadi jelas, hutan pasti lebih berharga dari bunga, yang menurut “tuan” bernilai visual tinggi.

    Soekarno pernah bilang “ Go to hell with u’r aid”.

    Sebenarnya kita tak perlu sibuk-sibuk mendatangkan investor asing untuk membangun negara ini, seperti Samosir misalnya. Kita hanya tinggal memulainya dengan satu tekad yang bulat, sautu tekad yang datang dari kemauan sendiri bahwa kita juga bisa. Sekalipun ada yang pihal asing yang ingin turut campur, silahkan tapi dengan etika baik, yakni ingin memberikan kontibusi penting untuk pembangunan Samosir, bukan malah datang ingin menguras kekayaanya lalu pergi.

    Memang kita terlalu asyik dengan tradisi Pak Harto selama ini, yang ketagihan dengan “kebaikan” pemodal asing. Itulah mengapa saya mendambakan sosok seperti Soekarno saat ini. Tapi, di mana dia, aku tak tahu. Yang jelas bukan orang seperti Anda!

    “Tuan” juga harus paham, Samosir itu adalah tanah yang masih natural, sekalipun Anda katakan gersang. Tapi, ingat sekalipun gersang, selama ini orang Batak hidup dari “tanah gersang” itu, yang Anda tahu sendiri “kegersangan” itu sekaligus menjadi motivasi untuk orang Batak untuk bergiat lebih maju.

    Terlalu jauh jika pembangunan Samosir langsung ke konsep Garden City. [lucu kali “tuan” ini]. Kalau Anda ke Samosir, sebaiknya jangan Anda sebut kata “city” di sana, Anda bakalan ditertawakan. Tapi sebutlah, “huta” yang artinya kampung. Karena memang sebenarnya memang masih alamiah sekalipun aku cemas nilai alamiah itu akan sirna oleh tangan-tangan serakah. [yang pasti jangan sampai atas nama “Flower”]

    Pembangunan di Samosir itu seharusnya jangan meninggalakan aspek alamiah dan budayanya. Jadi, jangan sekali pun berniat mengubah Samosir akan menjadi Singapura. Samosir adalah Samosir dengan segala kelebihan dan kekurangannya; Singapore is Singapore. Oke?

    Jangan pula terlalu polos [atau pura-pura tidak tahu] bahwa nilai wisata di Samosir itu jelas sudah diakui. Indah! Jadi, jangan pula katakan Anda ingin menambah “aspek visualnya” di sana. Toh, memang sudah ada. Bagaimana agar Danau Toba indah, tinggal bagaimana agar ia ditata kembali, dibersihkan, dan dipermak, tapi yang jelas bukan harus dengan menebang hutan seluas 2000 hektare. Gila! [Maccam betul aja, proyek “mereka” itu.]

    “Manusia tak hanya hidup dari aspek visual saja, kan “tuan”? Tapi, bagaimana agar kehidupan itu terjaga kelestarianya, yang tentu saja mengabaikan aspek visual [seni]. Ok, katakan seni. Tapi, seni bukan hanya yang indah, kan?”

    Salam…

    [aku akan senang jika “tuan” tidak tinggal diam setelah membaca komentarku yang “aneh” ini]

  10. @ architech_singapore

    Membandingkan perencanaan singapur dan samosir sangat tidak relevan. Singapur adalah negara “minimalis”, yang bisa dilakukan hanyalah menghijaukan bukan menghutankan . Pemerintah singapur tidak punya banyak pilihan untuk tetap melestarikan negaranya, kondisi ini disebut “minus malum” yaitu keputusan yang terbaik dari yang terburuk. Bandingkan dengan samosir. Apakah keputusan untuk membabat 2000 ha hutan dan menggantikannya dengan kebun anggrek kapitalis adalah keputusan yang terbaik? Bagaimana dengan perkebunan rakyat? Seharusnya, perkebunan rakyat itulah yang diutilisasi secara maksimal. Bukan hutan yang yang sangat dibutuhkan ekosistem yang dibabat.

    Samosir tidak memerlukan kebun anggrek yang luas untuk bisa dijadikan magnet zone. Alam di sekitar danau toba sendiri sudah merupakan magnet zone yang dahsyat untuk mendatangkan wisatawan, walau harus pula kita akui bahwa management pengelolaan objek wisata di danau toba masih sangat kurang.

    Bung, statement anda yang mengatakan bahwa “orang indonesia khususnya batak selalu berfikiran negatif dan cenderung tidak menerima perubahan” adalah statement yang sangat picik. Coba renungkan keberadaan anda di singapur sekarang ini. Kalau anda selalu berfikiran negatif dan cenderung tidak menerima perubahan, pasti anda tidak bisa diterima di singapur. Atau anda barangkali bukan orang indonesia dan batak, sehingga anda berbeda dengan kami.

  11. Sudah banyak Institusi yang mengatasnamakan Keperdulian terhadap Danau Toba, ingin berbuat sesuatu atau merencanakannya. Hasilnya belum kelihatan maksimum.

    Kita mulai saja, bila banyak komunitas yang perduli dan berbuat, hasilnya pasti kelihatan. Kami memulai dari komunitas kecil, TobaDream atas biaya perorangan dan sumbangan teman teman, kami akan memulai penanaman pohon di desa Martoba, Simanindo.

    Untuk langkah awal, memang jumlahnya tidak banyak, tapi kami akan melakukannya secara berkesinambungan, tanam dan pelihara. Kami memulainya dengan 300 pohon, penanaman perdana dilakukan tgl 03-03-2008 tepat pkl 3 sore.

    Untuk yang antipati seperti Sang Architech dari Singapore, biarkan saja, ndang diantusi ibana aha na nidoknai. Asing luat, asing do sihaporna. Ndang sarupa huta ni ibana dohot Samosir na uli i.

    Untuk pembabat hutan, mau menggantikannya dengan anggrek harus dilawan. Danau Toba tidak membutuhkan taman anggrek, Danau Toba harus disanggah dengan pohon. Tanam Pohon sebanyak banyaknya disekitar Danau Toba sebelum bencana tiba.

  12. Sepertinya kita jadi terpokus sama Mr. arkitek. Ah, lupakan itu. Mari kita pusatkan pikiran kita agar pembabatan hutan itu dapat di hentikan.

    Kalau memang tujuan perusahaan itu bukan untuk mengambil kayunya, tetapi murni untuk berkebun bunga, mari kita tawarkan lahan kosong.
    Mauliate.

  13. Lae architect_singapore,
    Wah sepertinya lae salah tempat nih, kalau yg lae katakan ‘garden city’ di singapore itu jelas beda konsep dan visinya dengan Samosir yg sudah hijau, massam mana pulak lae ini.

    Hutan yg akan dibinasakan itu seluas 2000 Ha, juga merupakan daerah tangkapan air dan apa resikonya kalau hutan itu disikat ?. Menurunnya debit air, Ancaman banjir dan longsor, hilangnya kawasan yang menjadi titik siklus air, rusaknya ekosistem dan lain sbgnya.

    Juga, “kenapa orang kita Indonesai khusunya batak selalu berfikiran negatif dan cenderung tidak menerima perubahan”. Lae tentunya kita cukup senang jika perubahan yg dilakukan dapat memberikan imbas yg baik utk rakyat, tetapi kalau ternyata ke depannya malah menyengsarakan rakyat, yah jangan diteruskan. negatif dan berpikir kritis tentu beda, mengkritik tidak selalu negatif.

    ‘Setiap pembangunan harus ada yang dikorbankan terlepas dari banyak atau dikitnya pengorbanan itu?”, Kalau alasannya ialah dibabatnya Hutan tsb untuk meningkatkan sektor pariwisata Samosir, kenapa harus Hutan yg dikorbankan. Masih banyak sektor-sektor yg perlu dibenahi yg menjadi prioritas pemkab Samosir, jalan yg amburadul, fasilitas utk pengunjung, dan lain-lain.

    “Kalo anda hanya membangunan jalan tanpa ada sebuah Magnet Zone didaerah itu, apa jadinya daerah itu?”. Walah, apa Danau toba dan alam sekitarnya kurang untuk magnet kpd Turis2,,aku rasa sudah cukup!. Amang tahe,,ditambah lagi sosio-kultural Batak, sudah lebih cukup. Buat apa orang Belanda jauh2 ke samosir hanya untuk melihat taman bunga, di negeri mereka juga sudah ada lae..Betul gak?

    “Setau saya Grand Strategy City Planning di dunia sekarang adalah Green Design ( IJO ROYO-ROYO) “. Harusnya kalau lae tahu ttg Ijo Royo2 ini, bukankah seharusnya Hutan dipertahankan, penanaman pohon kembali dan bukan malah Hutan dikonversi untuk cari keuntungan kelompok/pribadi.

    Pokoknya aku tidak setuju!! walaupun dengan alasan pariwisata maka dibuat taman bunga. Pikirkanlah Samosir untuk masa yg akan panjang, bukan hanya untuk jangka pendek. Renungkan apa ini yg terbaik untuk Rakyat. Kaji kembali rencana ini, jangan nanti kita menyesal kemudian, tiada arti!!.

    Tapi 2250 hektar dan pohonnya sudah mulai ditebang oleh sebuah perusahaan Korea. Katanya PT EJS. Konon, pengerjaannya dilakukan di malam hari. Bahh!!! nga sandap.😦

    Ta pahatop ma, unang sanga tarlambat!!
    Horas tu hita saluhutna!

    smn

  14. Horas bagi kita semua.

    Teman-teman kok jadi terpancing menanggapi sdr Architect-singapore. Biar ajalah dia kasi komentar seperti itu. Yang penting bagaimana mencari solusi segera untuk hutan Tele.

    Langkah yang perlu segera dilakukan adalah menemui Bupati Samosir menjelaskan permasalahan dan solusi yang ditawarkan oleh komunitas atau warga peduli hutan Tele. Saya tidak tau apakah kerjasama dengan investor Korea sudah dalam bentuk Kontrak yang mempunyai kekuatan hukum, atau masih dalam bentuk persetujuan prinsip.

    Kalau masih persetujuan prinsip, maka masalahnya lebih mudah dengan mengajak Bupati, DPRD dan tokoh masyarakat untuk meninjau kembali kerjasama investasi dengan Korea tsb. Dengan pertemuan itu, diharapkan ada solusi, misalnya dengan memindahkan lokasi yang semula dari hutan Tele ke kawasan lain yang memungkinkan. Mungkin masih banyak lahan yang kosong yang bisa digunakan meski biasanya kurang subur. Tapi dengan teknologi, kawasan kurang subur pun bisa diolah menjadi baik. (Ingat gurun di Israel bisa menjadi kawasan pertanian yang bagus). Tapi tentu saja ongkosnya menjadi lebih mahal, dan harga jual bunganya juga menjadi tinggi. (masih kompetitifkah?).

    Kalau sudah ada ikatan kontrak berkekuatan hukum, persoalannya menjadi lebih rumit. Teman-teman yang ahli dibidang hukumlah yang tau bagaimana menyelesaikan sengketa seperti ini.
    Kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa mendatangkan investor tidak mudah. Kalau dalam waktu singkat sudah ada sengketa hukum, maka kredibilitas Indonesia dimata investor asing menjadi kurang baik. Kita sangat membutuhkan investasi dari luar. Selain itu kepastian hukum di negara kita akan dipertanyakan. (Kalau kontraknya sudah punya kekuatan hukum).

    Tapi kalau pemutusan kontrak yang harus ditempuh, mau apa lagi. Kesalahan sudah terjadi akibat kelalaian beberapa orang. Sekarang bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu. Kalau cuma mencari siapa yang salah, itu tidak terlalu sulit. Kita harus membantu secara konkrit.

    Saya bisa memahami kalau Bupati berusaha mencari investor ke Samosir. Investor, tentu tidak mau rugi dan harus untung, maka dia cari lahan subur yang mudah diolah dengan hasil yang bagus. Pilihan pertamanya ya hutan Tele itu. Masalahnya teman-teman Pemkab Samosirlah yang harus menilai sendiri apakah hutan Tele menjadi kawasan penangkapan air atau untuk diolah menjadi kawasan perkebunan. Saya tidak tau kondisi hutan di Kabupaten Samosir, jadi tidak bisa memberi komentar yang lebih jauh.

    Semoga ada jalan keluar yang lebih cepat. Jangan lupa data yang akurat diperlukan untuk mencari solusi yang pas. Kurang efektif kalau kita berpolemik, tapi data tidak lengkap, jadinya ya cuma seperti jualan obat di pasar.

    **** Architect-singapore telah memancing kemampuan intelektual kita, saya rasa telah menghasilkan pemikiran yang mermanfaat. Bila dilanjutkan dengan solusi dari lae Togar maka persoalan semakin terpecahkan. Apakah perlu tim mediasi untuk itu?

  15. Saya tidak setuju tentang pembabatan hutan ini…Kalau mengenai bunga …di seluruh negara dunia pun banyak bunga. Bukan bunga yang terpenting di huta…pendidikan, air bersih, jalan yang tidak berlobang, lampu jalan…supaya kampung tidak gelap dll. Seharusnya Bapak Bupati mengadakan kerjasama dengan pihak luar yaitu mengatasi masalah limbah ini supaya tidak terlalu parah…Limbah ini juga merusak citra Wisata D.Toba.
    Kalau pun ingin menanam bunga…untuk keindahan dan meningkatkan pariwisata yach tidak membabat 2250 Ha..Itu namanya merusak alam dan lingkungan…Cari tanah kosong . Banyak hal untuk meningkatkan pariwisata…salah satunya memberi servis yang baik kepada tamu. Hal ini yang perlu di perbaiki. Walaupun saya bukan orang Tele….saya “TIDAK SETUJU”…pembabatan ini.
    Kenapa dilaksanakan malam hari….kenapa tidak siang hari?????

  16. Unang ma bunga, dang suman i disi ditempathon.Unsuman do i molo tetap hutan, menjaga keseimbangan ni Danau Toba do i. Demi kelanjutan anak cucu do i.

  17. Saya tidak tahu berita/fakta yang sebenarnya, tapi kalo sisi danau Toba (Tele) dijadikan taman bunga kayaknya OKE juga tuh. Tapi bagaimana dengan AMDAL-nya apakah cukup Bupati Samosir CS yang meng-approved ? Kalo ini yang terjadinya maka kiamatlah hutattaan (konon b*p*t* sekarang adalah mantan anggota atau setidaknya mendukung Mafia ILLEGAL LOGGING di Tap-Ut / TOBASA). Tapi kalo AMDALNYA dari pihak yang berkompeten (tanpa bisa disuap) saya setuju2 saja, khususnya perencanaan seluruh curah hujan utk kawasan 2000ha itu tidak boleh langsung tumpah ke danau toba misalnya dgn membuat danau2 buatan atau semacamnya. maulitate jala ditambai angka dongan.

  18. Horasss semua
    Sangat prihatin dengan berita ini. Terus kalau kita mau ambil tindakan atau apalah, wadahnya dimana dan apa yang akan saya lakukan?
    Mauliate

  19. wow… komentarnya bagus bagus iya…. Jadinya anda2 semua mendebat postingan saya dan anda jadi agak panas. Saya menghargainya. Tapi berdebat disini tentu tidak akaan menyelesaikan masalah bukan?

    Dengan mengajak utntuk menggagalkan Investor memulai usahanya saya pikir tentu tidak etis. Kenapa anda tidak membuka media diskusi dengan investor seperti pendapat beberapa rekan diatas.

    Anda bisa menanyakannya misalnya:
    1. Apa kunci startegy design kebun bunga tersebut.
    2. Activitas dan events apa aja yangakan diadakan.
    3. Apakah ada master plan, dan zoningnya?.
    4. Apakah benar 2000HA akan dibabat dan langsung dibabat sekaligus?
    5. Apakah bisa misalnya hutan di babat 1 ha tapi mereka menghijaukan 3 HA di daerah yang
    gersang di tempat lain.
    6. Apakah pemgembangan kebun ini bisa berdampak terhadap perekonomian daerah sekitar.
    7. Natural Irrigation Sytesm kebun bunga itu gimana..
    8. Dampak terhadap lingkungan gimana?

    khan lebih baik dialog daripada langsung menolak mentah2 ide dari Investor itu….

    Nah untuk ke bapak bupati dan pemda Samosir , anda2 mungkin bisa memberi masukan donk.
    Kenapa setelah ada deal dengan Investasi dan investor memulai usahanyaa anda2 pada ribut?

    Anda-anda juga mestinya dari dulu udah harus memberiikan solusi dan masukan donk , bahwa ada yang harus di pertimbangkan dalam pengmbangan kebun bunga /wisata bunga ini misalnya :
    1. Ecology Sustainability
    2. Pertimbangan Site
    3. Waterfront
    4. Treatment of Edge, Urban Forms, Street Sacpe
    5. Vistas dan vantage point
    6. Transportasi dan Akses kendaraan gimana
    7 Koneksitas pedestrian dan sirkulasi
    8. Perencanaan bisnisnya gimana
    9 Park programmingnya gimana dan terakhir
    10 FAse pelaksanaannya .

    Kalo toh anda hanya berteriak menggagalkan tanpa memberikan solusi dan menyodorkan sebuah konsep perencanaan sebuah kota wisata, hem . ……

    Thanks…
    NB: Buat apa dijadikan SAMOSIR sebagai kabupaten?

    OH Iya satu Lagi Tujuan akhir dari sebuah DESA adalah membentuk sebuah zona komunitas yang dinamakan KOTA…

  20. oiiii….. Kepada yang teriak menggaggalkan Investasi ini, harus berpikirian jernih donk. Khan bupatinya udah cape2 manggaet Investor, demi pembangunan di Samosir.

    Emangnya mencari Investor itu mudah?
    Kalo tiba2 anda demo ke Investor, apa ngga takut tuh Investor lain, Apa kata dunia……………..!!!!

    Kalo anda tidak setuju, kasih solusi dan masukan donk buat Bupatinya.

    Sekarang gw mau nanya anda punya kemampuan dalm menarik Investasi ke Samosir nggak?

    Seperti kata iklan ‘TUNJUKKAN NYALI LOE”.

    GW MAU NANYA APA YANG TELAH SELAMA INI BUAT DALAM MEMBANGUN daerah SAMOSIR?

    JANGAN hanya berteriak menggaggalkan sebuah rencanya donk.

    TARIK INVESTOR KE SAMOSIR SEBANYAK2NYA…..

    TUNJJUKKAN BAHWA ANDA mempunyai skill dan sumbangsih yang besar …….

    KALO ENTE-ENTE HANYA TERIAK kayak LSM di Jakarta… hahahah. SAMA AJA BOONG….

    KATANYA ORANG BATAK INTELEKTUAL….
    KALO HANYA INTELEKTUAL DALAM menggagalkan tanpa memberi solusi… ap kata NAGA BONAR……

  21. Setuju sekali dengan Partalitoruan, Tele peruntukannya adalah hutan resapan untuk mencegah longsor dan lainnya. Dalam membangun apapun idealnya dimulai dari pembangunan dasar infrastruktur (Kata moyang kita SALAH MANDASOR SEGA LUHUTAN), apakah jalan keliling Pulau Samosir sudah layak dilalui sepeda santai. Kalau untuk mountain bike dan trek-trekan sudah sangat layak sekali! Kalau pengunjung yang punya mobil apa masih sport jantung dengan kualitas jalan tersebut takut jok mobilnya copot. Apa kalo papasan harus berhenti dulu baru bisa lewat? Tidak gampang memang tapi harus dimulai dan dilakukan oleh pemerintah daerah. Harap harap perantau sukses mau membantu. Thanks to Bp Luhut Panjaitan and Bp TB Silalahi.. Yah..dengan pemerintah (Bupati) sekarang kalau sudah “Break Even Point” dari invest kampanye kemarin mungkin sudah mulai memikirkan pembangunan. Sekali lagi Tele nan terjal nan kariang karontang agak nyeleneh kalau ditanami bunga. Apalagi kalau ditanami Anturium..! Pembatatan hutan pake AMDAL!?!? setahu saya AMDAL dibutuhkan dalam tahap perencanaan proyek. ie, Pembangunan Jalan Tol Medan – Parapat. Kalo membabat hutan dampaknya sudah merusak. CORRECT ME! BABE..

  22. Arkitek, tanpa saran anda kami sudah lakukan terobosan-terobosan. Untuk menjawab anda cukuplah di blog ini.

    Terimakasih

  23. oiii oliver……, tidak seorangpun yang berusaha untuk menggagalkan investasi itu, tidak kawan. Yang dicoba dihentikan adalah pembabatan hutan itu. “Jangan habisi hutan yang tinggal sedikit itu.” Kalau memang tujuannya adalah untuk berkebun bunga, akan di tawarkan lahan kosong. Mengerti ngak sampai di sini kawan?

  24. Terjadi perbedaan pendapat yang sangat tajam dikalangan masyarakat, dan hal ini adalah lumrah. Kepada bapak Bupati, Gubernur, Presiden dan kepada pemangku jabatan yang berkepentingan disinilah Integritas, dan Hati Nurani Bapk-Ibu sekalian yang berbicara. Disinilah amanah yang harus bapak-ibu pangku. Berpikir yang tenang dengan wawasan yang lebih luas tentunya. Bukan pertimbangan pembanguan, pertimbangan kemajuan semata, tapi juga pertimbangan kehidupan yang akan datang. Sebagai masukan, Samosir yang sekarang adalah cerminan EROPA 50 tahun yang lalu, sekarang mereka menyesal dengan pembabatan Hutan dan mengharapkan negara-negara Dunia ketiga menjadi Paru-Paru Dunia. Mereka menyesali akan tindak tanduk para pendahulu mereka. Hal ini diakibatkan Isu pemanasan Global, Isu semakin hancuranya lapisan Ozon sehingga mengurangi gerak hidup Manusia. Ini sebagai contoh dan masih banyak contoh lain. Semoga Bapak-Ibu pemangku Jabatan memikirkan Nasib generasi mendatang. Mungkin tujuan bapak-Ibu adalah memajukan pariwisata, namun rasanya ada banyak jalan yang konvensional bisa ditempuh. Lagi pula kalau hanya sekedar Taman mengapa sampai 2000 HA? Sebagai masyarakat Awam rasanya ada yang perlu dipertanyakan. BIla bapak-Ibu memang harus melaksanakan hal itu, ada baiknya segala rencana harus melibatkan Masyarakat setempat. Apabila Kebanyakan rakyat menolak(Secara fair tentunya, karena bisa saja melaksanakan supa atai permainan kotor lainnya) hendaknya dibatalkan. Dan segala rencana yang akan bapak-ibu laksanakan seyogyanya tidak menjadikan peran/permusuhan kesesama warga samosir. (Mengacu kasus Indorayon dimana sesama warga baku Hantam). Semoga Bapak-Ibu melaksanakan Tugas yang diemban berdasarkan Hati Nurani. Dan semoga Tuhan selalu membimbing Bapak-Ibu. Dosa yang akibat kesalahan kita tidak saja harus ditanggung anak cucu kita saja, namun akan mengakibatkan kesengsaraan masyarakat Banyak. Semoga segala pelaksanaan tugas-tugas Bapak-Ibu memiliki Visi yang kuat akan Kemakmuran Umat Manusia. Horas..

  25. @ architech singapore

    Tau apa sih singapur soal lingkungan, kehidupan dan peradaban ?

    Singapore Itu negara parasit yang sok berperadaban tinggi. Negara itu bakalan mampus kalo nggak pintar-pintar jadi benalu terhadap Malaysia (air bersih) dan Indonesia (pasir dan hasil pertanian).

  26. Halo semua, amang/inang….,
    Salam kenal, nama saya Anastasia br Rajagukguk. Sejak SD hingga SMP saya tinggal di Dairi. SMA di balige dan setelah selesai kuliah balik lagi untuk kerja di laguboti selama 3 tahun. Mudah2an background saya cukup utk bisa mengutarakan pendapat di blog ini. Oh ya, sebagai tambahan, saya datang dari keluarga yg sangat mencintai alam, terutama danau toba + hutan di sekitarnya + gunung2 yg mengelilinginya. Selain itu, saya + mama jg penggemar berat anggrek.

    Saya sangat tdk setuju dgn pembabatan 2000ha hutan di tele. Di tele khan… bukan di samosir? Krn benar yg diutarakan architect_singapore bahwa sebagian samosir adalah daerah yg gersang, tp sebaliknya, tele adalah daerah yg subur sekali (in my knowledge). So, jika kegersangan ini dijadikan alasan penebangan hutan, maka ini sangat tidak tepat.

    Selama 3 tahun hidup di laguboti, hampir setiap weekend saya jalan malam dari laguboti menuju medan karena ortu hidup di medan sejak pensiun. Sepanjang perjalanan, saya sering diiringi ato melewati banyak truk yg mengangkut kayu. Saya yakin truk2 tsb sebahagian besarnya adalah illegal logging. Ini yg membuat saya dendam banget terhadap pemerintah lokal. Illegal logging begitu transparan dan mereka tinggal diam. Tetapi sebenarnya perusakan hutan yg begitu hebat bukan hanya dilakukan oleh illegal logging tsb tetapi juga MASYARAKAT sendiri! Saya tau hal ini karena saya sering banget ‘explore’ hingga ke pedalaman yg begitu terpencil, yang liat motor aja jarang bgt, yang bahkan saking terpencilnya laki2 dewasa di kampung itu (yg hanya terdiri dari 2 rumah) marlange naked di tao. Bayangkan betapa shocknya saya. Ternyata marlange naked bukan hanya tradisi di luar hehe….

    Nah, selama pengalaman saya menjelajahi pedalaman kab. toba n samosir, hampir tiap minggu saya melihat pembakaran hutan, ada yg besar2an dan ada juga yg kecil2an. Terus terang, amang2 di lapo mengatakan bahwa sebenarnya yg melakukan itu kita juga. So, spt nya mental kita yg harus terutama diperbaiki.

    Tentang menolak pembabatan hutan ini, saya sangat mendukung karena udah lama banget saya dendam pada pemda lokal yg hanya mikirin kantong pribadi tanpa pedulikan longsor yg semakin gencar terjadi! Apalagi dengan terjadinya pembabatan hutan, maka akan semakin punahlah habitat anggrek di pinggiran danau toba.

    Tentang rencara kebun anggrek….
    Tahukah kita bahwa daerah pinggiran tao sangat jodoh dgn anggrek, terutama phalaenopsis, catleya, dendrobium, etc? Saya pernah liat phalaeo n catleya yg udah bertahun2 ga mau berbunga di medan, tp ketika dibawa ke laguboti, dalam waktu sebulan, anggrek2 tsb berbunga dgn kuntum yg besar dan warna yg cemerlang, tanpa dikasi pupuk ato vitamin sama sekali. Wow!
    Tahukah juga bahwa semakin banyak anggrek tao toba dan memang asli tao toba dipatenkan jadi milik belanda ato negara eropa lainnya? Itu kenapa terjadi? Karena kita sebagai pemilik aslinya sama sekali tidak peduli akan tumbuhan indah ini yg hidup di hutan2 sekeliling tao toba.

    So menurut saya, ga perlu investasi besar utk berkebun anggrek di pinggiran tao, karena tanpa diapa2in juga anggrek itu akan mekar secara alami di sana. Tanpa investor korea, kita juga bisa melakukannya. Kalo penduduk diajarin cara bertani anggrek, maka akan mendatangkan income yg lumayan utk mereka, karena anggrek itu salah satu jenis bunga yg bernilai jual tinggi. Tapi ini BUKAN berarti dengan mengorbankan hutan! apalagi sampe 2000ha! Wooooow! Karena faktanya, ANGGREK TIDAK PERLU TANAH UTK BERKEMBANG BIAK! So, kalo ini yg dijadikan pemda lokal sebagai alasan pembabatan hutan, maka dapat dikatakan pemda lokal mengada-ada!

    Banyak lahan bekas pertanian nganggur di kampung kita itu, misalnya: ladang bekas nanam kopi ato sedang nanam kopi (yg membuat petani rugi besar krn harganya yg tdk menentu), bekas nanam vanili (yg harganya juga turun drastis), ato bahkan hanya sekedar lahan nganggur yg tidak diapa2in oleh masyarakat karena di negeri kita ini bertani hampir sama dengan suicide. Nah, pertanyaannya: kenapa bukan lahan ini saja yg diolah menjadi kebun bunga? Luasnya juga tidak begitu mengecewakan (imho).
    Bayangkan…., jika kita bisa menikmati indahnya tao toba sambil mengagumi keindahan anggrek di pinggir2 jalan. Anggrek2 asli tao toba lagi!

    Pertanyaan yg saya tidak bisa mengerti, apa maksud pemda yang sebenarnya di balik rencana pembabatan hutan 2000ha?
    Thanx

  27. @liverpool
    Saya tidak mengerti apa yang di benak anda saat anda membuat coment anda itu. Yang jadi pertanyaan saya, apakah anda orang Samosir? Kalo iya, anda sendiri rela investor itu merusak hutan Tele? Alasannya apa? Anda menjaga investornya,apakah anda memikirkan sekian masyarakat disana? Apakah anda memikirkan efek yang akan ditimbulkan dari pembabatan hutan itu? Anda fikir, pembabatan Hutan Tele, adalah pembangunan untuk Samosir? Sepertinya anda harus fikir baik2 terlebih dahulu.Bukan investor seperti ini yang kita butuhkan disana.Anda mau tau investor apa yang pas dengan keadaan Samosir dan Danau Toba saat ini? Kalo memang anda berdomisili di Jakarta, datanglah ke acara Toba Dream Coffee Morning yang akan kita laksanakan tanggal 1 Maret 2008, jam 09.00 di Toba Dream Family Cafe di Jl.Sahardjo No.90, kebetulan minggu ini topik kita adalah usaha penyelamatan Danau Toba yang sulit, tapi mungkin.. Anda akan kami jamu dengan sangat baik.

    @architect_singapore,
    ito ma hudok ateh…(santabi parjolo kalo tidak full bahasa Indonesia, untabo do makkata2i marbahasa batak)
    ito, kalau ada orang2 yang nantinya berkeinginan wisata untuk melihat2 kebun bunga, hurasa dang Samosir dope annon proritasna (kalaupun itu jadi). Alana ito, ungodang dope di kota on taman atau kebun bunga, dang tarhona jolma lao tusi nantinya. Dang investor si segai hutan na hita porluhon di Samosir ito, tapi kita perlukan investor yang mau menanamkan modal,membantu pemerintah daerah dan perantau yang concern dengan bonapasogit membangun apa yang sudah ada sebelumnya.Bukan malah jadi merusak. Kalo ito bilang, bisa ga membabat 1Ha lalu membangun 3Ha untuk penghijauan? Bisa aja ito investornya menyanggupi di awal, supaya rencana mereka tidak terhambat (bukankah janji itu juga yang dikeluarkan TPL semenjak dia masi pake nama Inti Indorayon Utama? Sampe sekarang, adakah penghijauan itu terjadi? Hutan dan alam semakin menangis!!!!Semakin hari semakin menyedihkan!Dan kenapa kita bersikeras mempertahankan hutan yang pantas disana? Itu untuk menyeimbangkan ekosistem ito.Karena, di Toba Dream Community, ada orang2 yang mengerti tentang masalah itu. Saya sendiri, saya lulusan dari Lingkungan-IPB.Karena saya mengerti tentang keseimbangan ekosistem, makanya saya tidak setuju dengan pembabatan hutan Tele untuk dijadikan kebun bunga. Dan kenapa juga tidak dilakukan pembabatan di siang hari?Kenapa musti malam2?Terkesan sembunyi2. Dan kenapa bupati tidak konsisten dengan omongannya? Kalo ito ada kesempatan, berkunjunglah ito ke Samosir sana, dan lihatlah betapa indahnya Dana Toba itu dikelilingi oleh Hutan, bukan dengan bunga. Dengan merasakan dan melihat langsung kesana,mungkin ito akan mengerti, kenapa sebegitu cintanya kami dengan huta kami itu? (walaupun aku sendiri bukan orang Samosir,tapi aku sangat bangga dan sangat mencintai Danau Toba dan lingkungan sekitarnya). Mudah2an dengan melihat langsung, ito akan mengerti kenapa kami sampai segitu marahnya dengan pernyataan ito yang terkesan mendukung investor itu. Kalo ito ada kesempatan, dari Medan naiklah pesawat yang ke Silangit, itu melewati Danau Toba, dan jarak terbangnya tidak tinggi, ito akan lihat, bahwa memang Tuhan memasangkan Danau Toba dengan hutan alam, bukan dengan bunga. Dang suman i ito. Unang jolo terjadi, manolsoli hita muse ito. Bukannya kami tertutup dengan perubahan, malah kami sangat senang dengan perubahan yang bertujuan membangun.Tapi, kali ini menurut saya, ini namanya perusakan.

    Horas-mauliate

  28. @ anastasia78

    Songon ito on ma na tutu boru Batak. Disigati rohana do angka suhi-suhi ni Bonapasogit i, gabe diboto ma angka arta nasotaparhaseang dope di rimba dohot ramba-ramba i.

    Las rohangku manjaha komentarmi ito. Jala gabe lungun roha marningot na masa di bangsonta nuaeng on.

    Mauliate ma ito.
    Horas ma di hita sude. Horas ma di Lae Monang Naipospos.

    Raja Huta

  29. Oh investor…oh…investor.
    Adakah investor yang mau membangun Samosir? Atau hanya membangun “di” Samosir?
    Sebenarnya Bangso Batak tidak membutuhkan investor dari luar.Yang dibutuhkan hanya orang Batak yang di perantauan mau mencerdaskan sanak saudaranya yang di Bona pasogit sesuai dengan kultur asli Bangso Batak. Dengan kata lain,”mari kita berfikir lokal tapi bertindak global”.

    Salam untuk semua pecinta Tano Batak.

  30. @ architect_singapore & liverpool

    Saya tidak antiinvestor (lokal maupun asing). Pekerjaan saya sehari-hari melulu mengurusi kepentingan investor (dari aspek legal), termasuk “bertengkar” di pengadilan. Tetapi, boleh percaya atau tidak, kantor kami (saya salah satu partner dng saham paling kecil) sejauh ini selalu berusaha menekankan aspek AMDAL, menghargai Hak Ulayat masyarakat adat setempat, bila menyangkut sumber daya alam. Bila klien tdk mau, silakan pergi ke kantor hukum lain. (Sikap ini sejak semula sudah saya tegaskan pada rekan-rekan di firma, dan bila tak setuju, saya siap pergi. Saya percaya, dng menjadi copywriter atau penulis naskah pun tetap bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak).

    Maksud saya menyebarluaskan keberatan atas rencana Bupati Samosir menyerahkan hutan Tele seluas 2000 ha (ternyata 2250 ha) kepada investor asing (Korea), semata-mata karena kekhawatiran atas kondisi ekosistem semua wilayah yg berbatasan dng Danau Toba yg sdh memprihatinkan.

    Ini bukan fitnah, cari sensasi, atau apalah namanya. Silakan tanya orang-orang kehutanan atau geologist. Dng kondisi hutan yg tinggal 20% di seluruh wilayah yg mengitari danau hasil ledakan gunung berapi purba itu, sejumlah bahaya mengancam: bukit longsor, tanah amblas, danau menyusut (atau malah kelebihan bila curah hujan berlebih, hingga menyebabkan banjir di sekitar tepi danau), dan iklim yg semakin panas. Dulu, sampai awal thn 80-an, setiap ke Samosir, saya selalu kedinginan. Kini, silakan buktikan. Udara mulai panas. Sawah-sawah di kampung Tulas, Bonandolok, Tulas, Limbong, Harianboho, Sihotang, Tamba, Rassang Bosi, Sabulan, Holbung, Janjiraja-Tipang, tinggal 20% saja yg bisa ditanami padi, yakni hanya yg dekat dng pantai danau. Sebabnya? Sungai-sungai (air terjun) yg berasal dari atas perbukitan, yakni sepanjang Huta Paung/Pollung-Baniara-Tele-Laepondom, sudah banyak yg kering karena tak ada lagi supply air dari hutan resapan di atasnya. Orang Sihotang, penghasil beras yg sangat enak itu, sangat sedih krn sawah-sawah yg dekat bukit/hutan Tele sudah “tarulang” krn tak ada air. Kemiskinan di kampung-kampung yg disebut di atas (termasuk di tanah Samosir) semakin parah, akhirnya semakin banyak yg bermigrasi ke tempat lain (perbatasan Aceh), juga melakukan urbanisasi ke kota-kota besar.

    Saya bukan ahli agrobisnis, kehutanan, perikanan, atau pariwisata. Tetapi menurut pengamatan saya, wilayah Samosir dan sekitarnya hanya cocok utk pertanian padi, ubi, singkong, bawang, jagung, dan perkebunan kopi. Tanaman keras, yg bisa menghasilkan uang bagi warga, adalah: kemiri, kelapa, nira, durian, mangga, dan pohon jati. (Menurut penelitian badan peneliti hutan Aek Nauli-Parapat, lengkeng juga cocok). Yg dibutuhkan warga adalah bantuan pembuatan tali air, bibit tanaman, pupuk, dan pengetahuan bertani/kebun yg baik. (Majalah Trubus punya segudang ahlinya, tinggal disewa, kalau pemda mau membantu).

    Sektor perikanan bisa dikembangkan dng menyebarkan lagi jutaan bibit ikan mas, mujair, nila, dng syarat tegas pada partoba (nelayan): supaya tdk menangkap ikan-ikan yg masih kecil. Di atas Samosir, ribuan hektar, tersedia padang rumput yg selama ini hanya lahan tidur. Kerbau dan sapi amat cocok diternakkan di sana, selain babi. Persoalannya adalah, membeli bibitnya.

    Sebelum perusahaan pulp (dan rayon) dari Porsea itu merambah hutan pinus (juga pohon sampinur tali, ingul/suren, jior/johar, dll) di sepanjang Dolok Sanggul-Tele dan Pulo Samosir, sungai-sungai (air terjun) kecil ada seratusan jumlahnya. Air sungai itulah yg membawa makanan bagi ikan-ikan di danau, termasuk cacing tanah yg ikut tergerus.

    Dalam sebuah pertemuan informal antara kami (komunitas Tobadream) dng Bupati Samosir, saya ingatkan bahwa pariwisata Samosir dan wilayah Danau Toba, tak akan berhasil bila meniru pola turisme Bali, Batam, Langkawi, Penang, apalagi Singapura. Karakteristik masyarakatnya mirip Toraja, konservatif dan belum tourist-minded. Kecuali di Ambarita/Tuktuk dan Tomok, orang Samosir belum merasa penting kehadiran turis. Jangan-jangan mereka merasa terganggu dan risih dng kehadiran turis, juga mengguncangkan kepercayan, adat dan budaya masyarakat setempat. Bayangkan bila di pantai-pantai Samosir para turis bermandi-mandi ria dng bikini, campur pemandian wanita-pria. Akan terjadi kegegeran sosial. Jadi, kata saya pada bupati, jangan paksakan dan bermimpi menjadikan wilayah Samosir sebagai daerah wisata modern seperti di wilayah lain, apalagi warga belum yakin bhw sektor pariwisata bisa meningkatkan perekonomian mereka. Kalaupun Samosir dijual sbg lokasi wisata, jadikanlah ‘wisata kultural’; tempat utk reat-reat, peristirahatan orang-orang sepuh (termasuk bagi penduduk dari manca negara). Juga bagi mereka yg ingin dekat dng keheningan alam dan butuh ruang terbuka utk berkontempelasi. Bukan wisata ala Bali, Lombok, apalagi Batam.

    Dalam berbagai kesempatan diskusi dng kawan-kawan, selalu saya katakan bahwa Samosir adalah kabupaten—yg secara ekonomi—mungkin tetap paling miskin di Indonesia. Tetapi ia memiliki kekayaan lain yg tak kalah mahalnya dengan batubara, minyak bumi, atau gas, yakni: tempat pertama dimulainya peradaban manusia Batak, keunikan adat-budaya, panorama alam yg menakjubkan, dan keramahan penduduknya yg khas. Ia amat cocok dijadikan wilayah “sanctuary” bagi pecinta budaya. Ia tepat dijajakan utk lokasi penjelajahan cinta-alam bagi penyuka naturalisme. Ia sangat tak cocok bagi pegawai Pemda yg mengharapkan banyak uang masuk, sebab sumber perekonomiannya hanya cukup-cukupan.

    Demikian pun, semiskin-miskinnya wilayah dan orang Samosir dan sekitarnya, akhlak dan peradatan tetap lebih penting bagi mereka dibanding uang. (Kearifan lokal ini mulai dikhawatirkan akan hilang perlahan-lahan krn terkontaminasi perilaku dan sikap politisi lokal yg hampir semua mendirikan cabang/sekretariat partai-partai politik, selain serbuan media elektronik yg gencar menawarkan peradaban dan nilai baru). Tapi, dng kemiskinan mereka selama ini pun toh tetap bisa juga anak-anak mereka sekolah ke berbagai kota, walau sulit dipahami bgmn cara mereka membiayainya.

    Andai saja Bupati dan pemda Samosir (termasuk anggota DPRD) cerdas dan tulus membangun Kab.Samosir, cukuplah dimanfaatkan berbagai potensi yg sdh ada di tanah yg indah namun miskin itu. Prioritaskan saja membangun jalan, tali air (irigasi), perikanan dan peternakan. Lalu, utk mendukung wisata kultural, dirawatlah sisa ruma bolon tua yg sudah banyak yg rubuh itu. Direhabilitasi pula situs-situs kuno dan tempat-tempat yg unik dng melibatkan arkeolog; bukan pemborong rekanan pemda. Buat peta dan brosur lokasi wisata yg available bagi turis (macam yg di Bali itu). Undanglah investor membuat resort, rumah peristirahatan bagi orang-orangtua kaya (warga Singapura, kabarnya, banyak yg membutuhkan tempat sejenis itu), namun harus tetap berkesan natural, akrab lingkungan, dan menghargai budaya dan kearifan lokal.

    Kalau memang tergiur membuat kebun bunga dua ribuan hektar, bisa juga. (Entah ke siapa dan negara mana nanti dijual bunga ini, sebab bagi pebisnis forwarding/kargo, bunga termasuk kategori barang yg mudah rusak/layu, hingga potensil merugikan). Tapi janganlah demi kebun bunga, nanas, atau tomat, harus menghabisi hutan! Bila tak mau memanfaatkan lahan luas di dataran tinggi Samosir, di sekitar Tele pun tak apa-apa. Syaratnya, manfaatkanlah tanah kosong bekas hutan yg sudah dibabat manusia-manusia yg tak beradab itu. Lagipula apa benar dengan dibukanya lahan bunga 2250 ha maka PAD Samosir akan meningkat? Berapa, sih, pajak yg bisa dikontribusikan sebuah perusahaan perkebunan bunga? Berapa pula tenaga kerja lokal yg akan dipakai? Jangan-jangan, seperti yg terjadi di Porsea-Tobasa juga. Annual fee pabrik pulp itu, juga karyawannya, bukan dinikmati dan berasal dari masyarakat setempat.

    Lalu, apa jaminan bupati bila ternyata investor Korea itu ternyata hanya mampu menanam 7-10 ha bunga saja, sementara masa tugasnya (mungkin) sudah berakhir. Atau, bagaimana bila pihak investor tiba-tiba (pura-pura) mengaku rugi atau pailit, sementara kekayaan hutan sudah dikuras habis? Apakah bupati mau membuat ‘Surat Jaminan’ yg isinya: siap mengganti kerugian negara dan masyarakat ratusan milyar rupiah atas kehilangan hutan dan kerusakan ekosistem di sekitarnya? Sebenarnya, untuk menguji kesungguhan investor Korea tersebut, tak sulit. Bikin saja klausula (dalam perjanjian) yg pelaksanaannya diawasi secara ketat, bila perlu dng melibatkan personil dari Kodam Bukit Barisan. Isinya: Investor hanya membutuhkan lahan, karenanya, satu batang pohon yang ditebang dari lokasi pun TIDAK BOLEH diambil, dimanfaatkan, atau dialihkan kepada pihak ketiga. Maukah Korea itu?

    Semoga dengan keterangan saya ini wawasan dan cara pandang kita tidak selalu harus berbau kecurigaan dan dilandasi pikiran-pikiran negatif. Terus terang, saya memang kelewat mencintai Samosir-Pusuk Buhit-Danau Toba. Walau bukan pejabat, pengusaha, apalagi “tokoh pemuda”, semampunya akan saya lakukan bila ada perbuatan utk merusak alam, keharmonisan dan budaya masyarakatnya. Setidaknya dengan menulis…

    Catatan tambahan:
    – Bupati Samosir sekarang adalah kerabat dekat saya dari pihak mertuanya perempuan. Pak Monang Naipospos sudah pernah saya beri tahu mengenai hal itu. Jadi, perlawanan saya (dan teman-teman) atas kebijakannya terhadap hutan Tele, semata-mata karena kekhawatiran atas nasib bumi Samosir-Toba-Tapanuli-Humbang, yg sangat saya cintai. Jika saya oportunis, tak peduli kehancuran lingkungan hidup dan nasib warga setempat, saya bisa tak ambil peduli dan mengambil keuntungan, misalnya, dengan mengajukan diri supaya diangkat Pak Bup konsultan Pemda Samosir. Ada beberapa kawan di Jakarta yg sudah melakukannya, dan itu sah saja.

    – Saya dan beberapa teman par Samosir di Jakarta yg seaspirasi dan ikut gelisah, juga dengan pihak pemegang hak ulayat (Situmorang Suhut Nihuta par Harianboho-Tele) terus menyebarkan permasalahan ini dan menyiapkan langkah-langkah advokasi, antara lain mengundang Jhonson Panjaitan dari WALHI. Juga sudah menemui Dirjen OTDA Depdagri, Sodjuangon Situmorang. Perjuangan kami hanya satu: selamatkan hutan Tele. Gerakan kami bukan memusuhi pribadi bupati, investor, DPRD, atau orang-orang yg mendukung pembabatan/konversi hutan tsb. Bila akhirnya perlawanan kami ditanggapi sebagai permusuhan, apa boleh buat. Hidup memang harus memilih, tetapi mari kita lakukan secara terhormat.

    Horas & Tabe sian au
    Par Samosir najotjot marsak

  31. Lae Monang,
    saya teringat waktu kecil dulu ada tetangga di rumah saya yang ikut aliran kejawen, suka menyanyi uro-uro berupa tembang , yang isinya :doa , turi-turian di hata batakna, larangan, ajakan, penyampaian pesan, seruan berupa syair lagu seperti yang saya dengar biasanya seperti ini:
    Lir-ilir, lir-ilir, Tandure Wong Semilir: tak IJO ROYO-ROYO tak senggoh Penganten anyar.
    Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi lunju-lunyu penekno Kanggo Mbasuh dododiro.
    Mumpung Gede Rembu cane, Mumpung Jembor Segarane yo surako, surak hore.
    Uro-uro ini mulai dinyanyikan oleh Raden Patah seorang putra raja majapahit dari putri cempa salah seorang selir dari raja. ia bernyanyi sebagai pesan kepada rakyat majapahit untuk berontak kepada raja dan mendukung dia mengantikan raja memenuhi ambisinya yang tidak dapat tercapai karena ia hanya seorang anak selir. budaya ini di pelajari oleh VOC ketika itu untuk dapat masuk menjajah Indonesia selama 350 th dengan cara memberi gelar dan melakukan devide et empera. Akibatnya timbul kerajaan kecil sendiri yang berhianat pada penguasa dan berlindung di bawah Belanda. Pendek cerita Lae setelah saya baca tulisan diatas saya jadi curiga apakah saat ini kita sedang di pecah belah agar para pembalak liar masih bisa berpesta pora dengan menebang pohon di hutan kita, atau sebaiknya biar masalah itu dibahas dalam satu forum oleh orang-orang yang mempunyai kompetensi dan melalui penelitian yang seksama, horas ma lae Monang .

    *** Mungkin ada benarnya lae..😉

  32. Teringat dengan mandi-mandi di danau, kenapa ya…harus berpisah mandinya pria dan wanita…itu saya perhatikan kalau setiap ada pesta di kampung saya lihat…Ito2, abang2, Uda2 dan Tulang2 mandi di sudut A dan kami yang perempuan di sudut B…
    Saya kira hanya keluarga kami saja yang demikian. Kenapa…ya. Apa beda nya sich kalau gabung?
    Mandi dengan bikini nggak apa toch…biar ada kemajuan……
    Tambahan…tapi kalau mandi-mandi di sungai seperti di Sembahe dan Tuntungan…kami gabung…hanya di kampung saja beda..Kenapa ???


    *** Lagian ito pantai Danau Toba kan Panjang, ngapain harus gabung😀 Di kampung masih dalam pengawasan “natuatua ni huta”. Di Sembahe tata krama siapa yang awasi😉

  33. Memang sich pantai Danau Toba panjangggg….tapi yach …sudah suami istri ini …keluarga ini…dan teman ini..masa sich harus mojok…jauhhh lagi… Aduch….capenya natua-tua ni huta…harus nungguin orang mandi….dibayar nggak sich? Ito kali yang bayarin..ya….Yang benar to…Mungkin Ito Suhunan yang tahu ini..
    Supaya bisa jelas in pada anak2 nanti…Bingung nanti mereka. ..Mamanya berenang di sudut A dan Bapanya berenang sudut B.. Kenapa…ya..???

  34. @ Rondang br Siallagan
    Kita jadi OOT, ya🙂
    Begini, pada dasarnya masyarakat Batak (semua puak), sangat konservatif dan banyak membuat tabu/pantang/tokka. Tapi yg terutama adalah mengenai seks. Itu sebabnya, setahu saya, hanya suku Bataklah suku di bumi ini yg paling ketat membuat aturan mengenai hubungan antaripar (anggi boru, amang bao/inang bao) dan dengan mertua (simatua doli/boru, parumaen/hela), dll. Tak diketahui persis alasan para leluhur Batak hingga amat ketat membuat aturan soal hubungan dlm keluarga batih ini. Tapi, dugaan saya, dahulu kala leluhur kita sdh bisa membayangkan dan memprediksikan bhw masalah seks adalah sesuatu yg potensil terjadi, rawan, dan akan terus terjadi—selama masih ada kehidupan. ntah dari mana mereka dapat kearifan ini. (Mungkinkah mrk sudah tahu riwayat Nabi Adam yg digoda Hawa itu?). Nah, saking ketatnya, urusan tidur dan mandi pun amat penting diatur leluhur kita, antara lain pantangan mandi bersama bagi yg beda jenis kelamin di tempat terbuka, walaupun sdh suami-istri. Kalau itu kita lakukan, maka siap-siaplah “dibursikhon” orang-orang. Akan dikatakan nanti: “Bah, jolma naso maradat do nadua an! Maup mai, padua-dua maridi di tao.” Padahal, saat mandi, kita tidak nudis (santabi). Pantangan semacam ini masih kuat dianut di wilayah Samosir, entahlah di wilayah lain. (Boha do di Huta Tinggi Lae Naipospos, boi do rap maridi dht nioli/tunggane di sada mual manang binanga? Lehon hamu ma jo hatorangan. Manang Amang Bonar Siahaan ma jolo manjelashon?). Ima jo taringot tu namandi-mandi bersama da ito. Horas.

  35. Mauliate Ito Suhunan, Jadi masalahnya karena hubungan beripar dan bermertua. Dulu saya tidak begitu mempermasalahkan hal ini. Waktu saya bawa pulang mereka (anak2) ini usia 2 tahunan 4 tahunan..Jadi tidak bertanya.. Sekarang mereka sudah belasan tahun. Keinginan tahu mereka pasti besar..ya..kan. Ada tidak alasan lain. Mauliate.

  36. == Mandi dengan bikini nggak apa toch…biar ada kemajuan…… ==

    Waduh, apakah ini benar makna kemajuan bagi kita? Apakah dengan mandi di tao pake bikini = suatu kemajuan? Maafkan aku, but i really dunt think so! Tapi justru suatu kemunduran, artinya kita ga punya lagi rasa segan pada tulang/amangboru/ipar/ito/etc…
    Ok, mungkin karena aku dibesarkan dengan nilai-nilai budaya batak yg ketat, tapi sebagai perempuan yg “maju”, kita juga harus mengerti aturan tidak tertulis tentang berpakaian yg tepat, di saat yg tepat, dan di tempat yg tepat. Ok, cut.

    Btw maaf yah amang/inang, udah OOT nih. Thanx

  37. Sudah bagaimana perkembangannya sekarang kebijakan Bupati Mangindar Simbolon ini? Minim sekali pemberitaannya di media apapun?

    Terimakasih ada komunitas ini, kita para perantau jadi tau.. Horas

  38. Molo pandapothu taringot tu hamajuon ndang ala somal halak Eropa mamahe bikini gabe dohot iba mamahe bikini. Alai molo boi taihuthon songon hapistaron nasida pature ngoluna ido hamajuon.
    Pinarrohahon nahinan,molo hundul hahadoli manang baona dijaga do asa unang di sada papan ni jabu, tarlumobi martapian tung subang do rap nabaoa dohot naborua. Boasa? Ia nahinan mansai jaga do jolma di angka “naniabitanna” sotung gabe tubu roha nasida “marbuni-buni”. Jala molo adong namangulahon sisongon i dipaduru do i sian luat i jala nasojadi topoton ni sisolhotna nasida manang didia pe maringanan.
    Digoari do di halak Batak saripe, alai dada gabe boi nasida marripehon ripe ni donganna sabutuha. Jadi molo adong mandok hamajuon do na rap maridi baoa dohot naborua dang sintong i dihabatahon, nasumurut do i tu jaman pra sejarah. Didia pe diportibion angka bangso namaju adong be do peraturanna, jala lam godang patikna (aturan) ido pataridahon timbo ni hamajuonna. Ai dang adong Bangso namaju ia sogodang aturan sioloan ni Bangsona. Sabalikna naso denggan aturan di Bangsona dang digoari i sada “Bangso”. Halak Batak digoari do i sada Bangso ala mansai godang aturan ima; Adat, marga dohot ugamo, jala piga ma Bangso di portibion songon Bangso Batak na adong marga (silsilah), suratna (aksara) dohot ugamona?
    Molo olo hita manulingkit dia do ummaju hita sinuaengon sian angka Ompunta namamuka marga, aksara dohot ugamo i? Molo tadok ummaju do hita sian Ompunta naparjolo i tabahen ma sada aturan naboi tarjalo roha ni saluhut halak hita mangganti aturan nabinahen ni Ompunta sijolo-jolotubu. Molo holan mandok “nunga hatinggalan jaman i” hape dang tabahen dia do bahenon aturan na umbuk tu jaman jala boi ihuthonon ni natorop boi ma dohonon na songon beo do i holan manghatahon do boi alai dang diantusi nanidokna.

    Taringot tu harangan (hutan) na di Tele, Kalau ada yang mengatakan hutan yang 2000 ha akan diganti dengan tanaman bunga saya berani mengatakan bahwa itu ibarat “itik hendak bertengger” Coba dihitung berapa biaya membuat kebun bunga? Dan bila telah berhasil kemana akan dipasarkan? Jadi tolong jangan korbankan rakyat hanya untuk kepentingan sesaat.
    “TINALLIK BULUNG SIHUPI PINARSAONG BULUNG SIALA,UNANG SUMOLSOL DIPUDI DANG SIPASINGOT NASOADA”.

  39. Molo di paridian/partapianan, sitongka do rampak maridi baoa dohot borua. Boi dohonon hira di sude luat/inganan do di tano batak papulik-pulik paridian ni baoa sian paridian ni borua. Molo tungpe dang tarbahen dua inganan paridian, sai ingkon jolo manggora do na baru ro. Molo songon di tao toba ma tutu, ala bidangdo pantai i, ba, marpulik-pulikma antong, asa suman.

    Marasing do maridi sian marlange. Molo holan maridido, tuaha pola marbikini? Molo marlange porludo mamahe bikini asa bebas bergerak. Alai di inganan naung di tontuhonma antong, songon di kolam renang, parlange langean na di parapat an. Ianggo tung di pantai ni huta do, songon di Onan Runggu manang Harian Boho rupani (holan sian na dua on dope na hea au), nunga tung mansai haduk i molo marbikini. Ima jo pandapothu inna hamu inang bao Rondang (nigoaran ma jo inang bao molo di blog on, santabi)

  40. Horas madi hita saluhutna.
    Di hamu Amang – Inang, mauliate ma huapasahat tuhamu naung mangalehon tingki dohot gogo nang pingkiran mu laho mangaradoti huta nami/pulo nami nang taonami.Takkas hujaha jala hupaihut-ihut angka nasinurat mu di situs on.Songgot jala marsak do roha umbege barita on, Pangidoan molo boi ,marsadani roha jala mardame – dame mahamu laho mangaradoti huta,pulo dohot tao nami on.
    Mauliate JBU
    NB: Tu amang V.Sianipar, S.Situmorang dll juga buat team TDC( namarholong ni roha tu Pulo Samosir dohot Tao Toba ) unang lupa hamu dihorhon tangiang do satonga ni ulaon.Tuihan Jesus mamasu masu hita saluhutna.Amen

  41. horas…..
    SaLam KenaL….nama saYa Efi…..
    sejak saya lahir dan sampai detik ini, keseharianQ lebih banyak di samosir,tepatnya di pangururan di desa hutanamora..walaupun skarang lagi lanjutin studi di medan….
    Setiap saya pulang, bingung liat keadaan samosir, makin hari makin gersang n makin panas..
    Dimana masa kecilQ yang indah dulu…
    Musim penghujan masih bisa diperkirakan,pertanian masih jalan..Dulu manuan bawang ma hami sakeluarga,,las roha balga2 dohot merah…
    Tapi skarang mana bawang merah nasian samosir i??,,kalau ditanam sebesar jempol yang dipanen sebesar kelingking,, apa n siapa yang salah
    Dulu berenang di danau toba adalah masa bermain yang mengasikkan,,tapi udah 8 tahun aq ga berenang di danau…ga tau mau brenang di sudut mana,(gabbo ma isan, ison,ni dege marbuttak, litta pe godang….eee makin godang namarsikkola, boasa ma samosir dang tudengganna)
    Nah….skarang muncul lagi persoalan baru hutan tadahan air danau toba di sekitaran tele mo dibabat (bahhh….)
    1. Tiap pulang kampung saya tu lewat tele, udah banyak perubahan yang terjadi..mulaai dari pelebaran jalan sampai membentangi tebing2,disini aq mempunyai ketakutan tersendiri,,sampai kapan yah jalan dan benteng2 tebing ini bertahan, pondasinya bagus ga ya…pemikiran ini di dasari pengalaman bahwa banyak jalan2 di bangun di samosir tapi beberapa tahun kemudian udah berlobang di sana sini…apa umur setiap infrastuktur itu sudah direncanakan sekian tahun, n nantinya ada proyek baru lagi yang bisa dikongkalikongkan..
    Tapi semoga pembangunan jalan tele di dasari planning yang bagus..
    2. Pembukaan hutan tele seluas 2250 Ha, untuk dijadikan kebun bunga, oleh investor dari Korea..wah lama2, pulang kampung jadi ajang menakutkan dari tele, kapan ya longsor ?????seharusnya kita perbanyak penanaman pohon.
    Memang suatu kemajuan dapat menarik investor asing (mis: korea)..dan juga pembangunan taman bunga merupan ide yang bagus untuk mendukung pariwisata…Tapi didalam sebuah ide harus dipikirkan juga kelayakannya. Seperti ide pembangunan taman bunga di tele…MENURUT INANG/AMANG/TULANG dihita sude YANG SUDAH PERNAH MELIHAT TELE ATAU TAU KONDISINYA, PANTAS KAH DI BUAT TAMAN BUNGA??? Menurut saya dari kelerengan, fungsi sebagai hutan resapan bagi danau toba dan trandportasi saja sudah tidak layak..
    Seberapa kuat akar bunga menahan tanah, seberapa besar laju ilfiltrasi dengan vegetasi tanaman bunga n seberapa tahan bunga dalam pengangkutannya???
    Sebagai bupati yang dilatarbelakangi ilmu kehutanan, seharusnya beliau sudah tahu syarat2 tumbuh dan tapak tumbuh suatu tanaman
    Masih banyak lahan2 kosong di kawasan samosir yang bisa dikembangkan jadi taman bunga, tidak harus membabat hutan (kalau memang harus taman bunga)..Coba di tawarkan kpada investor trsbut lahan kosong, tanpa pmbabatan hutan… mau ga?? Nti Cuma mau larikan batang2 kayu hutan Tele, habis tu cari alasan n kabur…menyesal di belakang hari tiada guna,klo dari awal sudah tau salah….di bagusi dunk!!! Lawong susah tumbuh kok enak banget babatnya, kan lebih baik menumbuhkan di tempat yang kosong….

    3… Dari perbincangan mengenai pembangunan taman ini dengan saudara dkampung, dapat saya ambil gambaran bahwa mereka mendukung…mreka mengemukaan bahwa bunga yang ditanam bukan bunga seperti anggrek saja tetapi bunga dengan ciri2 yang dapat menggantikan fungsi pohon….saya jadi bingung…memang bunga apa yang mo ditanam???
    Bingung…Pariwisata apa yang mau dikembangkan Pemda Samosir,apa seperti Bali, Batam, Pulau Seribu??? Ato pariwisata yang dapat menunjukkan Jadi diri samosir itu sendiri .

    Saya sangat setuju sekali dengan pendapat bapak Suhunan Situmorang…disitu sangat jelas dipaparkan dampak pembangunan taman bunga dan pembukaan hutan tersebut….dan berharap kita dapat bertindak seperti beliau, action, berwujud nyata menyelamatkan samosir bukan Cuma berdebat pendapat…..
    Sebagai catatan:
    saya kurang suka dengan slogan “Hutan adalah Warisan Anak Cucu Kita”
    Tapi kenapa ga diwariskan malah hutan di Indonesia di babat bahkan hutan Lindung disewakan seharga pisang Goreng,lebih mahal lagi mie Gomak… (PP no. 2 tahun 2008)
    Kenapa””Karena manusia sekarang merupakan cucu pewaris yang dulu n tidak mempunyai cucu yang akan diwarisinya nanti”

    Mauliate jala Horas

  42. Mauliate godang atas pendapat muna tu maridi/mandi2 di Tao dohot marbikini.
    Taringotna..aha do dalanna hita mar bao Ito HH. Unang alani ahu marbao tu Ito Monang, mar bao hamu tu ahu. Jangan2 marpariban muse …Aha do margam/ goar mu Ito?. Mauliate.

    *** Hatop paboa i HH, na so barani do ho gabe halak Batak😀

  43. Kenapa Heran ????
    Memang namanya politik itu selalu kotor, sewaktu kampanye janjinya manis, muluk muluk akan membangun dan menjadikan daerah makmur…. itu lagu lama. bohong. Setelah duduk di kursi empuk… timbul emangnya gua pikirin…. makanya setiap pemimpin di negara ini satupun tak ada yg dipegang omongannya.. kita lihat sendiri calon Bupati aja hrs ada dana u/ parpol puluhan juta bahkan milyar, lain lagi kampanye, money politic lagi.
    Setelah jadi Bupati susun program pertama : Kembalikan dulu duit gue. Kedua : Ciptakan proyek ATM pribadi. ketiga : Biaya Renovasi yang ada sisanya. keempat : Pembangunan Jalan dengan murk up setinggi tingginya. Seterusnya : Ajukan Anggaran Rumah Tangga Bupati, Tunjangan, Perjalanan Dinas………………… Inilah bibit Korupsi.
    Jd salah satu proyek babat hutan, sdh jalan uang tanda tangan, uang ganti rugi, uang salam tempel u/ ijin, Uang Keamanan, and Biaya peresmian Proyek.
    Jadi kita ngak usah heran selagi kita hidup pada jaman sekarang tak akan ada bersih KKN, kecuali anak anak kita yang masih baby dpt melaksanakannya, atau hukum yang berbunyi barang siapa / orang atau binatang yang korupsi : Hukum mati tanpa proses penyidikan ITU BAU SEEEPPPPlah alias Aman, tentram dan makmur.
    Horas ………. bye bye.

  44. Molo sian ompunghu boru, paribanhu do hamu inangbao, ai boru Simbolon do natumubuhon damang. Alai ndang pola sala molo gabe marbao au tu hamu. Marga Meha do au inangbao, sian Parlilitan, West Humbang.

    …unang alani marbao au tu ito….
    hehehheh, hamu nian inangbao, molo marbao unangbe marito.

    *** Marbun do ito Meha jala termasuk gerombolan Naipospos do i.😉

  45. ai bohama dohonon nuaeng, dibabat tobbak mambaen kobun bunga,….so binoto bunga aha be suanon disi, ai nga dohot ra bunga ni hepeng, bunga ni korupsi, dohot bunga desa disi…

    ai boasa ikkon di hubbang suanon bunga ateh, ba nanggo hau pinus i disuani, nga bagag be idaon i. molo so i akka hau tusam i nisuanan.

    daoma parkorea an manuan bunga di toba an ateh…aha kamssut ate!! ai memang hoan sammassam do bunga tubu dikorea, ima bunga sakura persi korea, jala ikkon ditano dingin do tubu on.
    biar roha, dibaen kobun bunga, dungi dibangun ma muse partapakan, dungi gok ma akka rumkit alias ruma kitik-kitik, manang sopo na ‘met-met’. gok ma akka na massam, sega ma sude akka hajolmaon di hita an…….
    nga tong rittik i molo diloloi pemda i,…masih banyak lahan yang bisa di korupsi untuk mengembalikan ‘modal’ pemilu yang lalu-lalu, tapi jangan tobbak…kemanalah nanti lao akka begu nadiharangan i??….

  46. @ Hendry Naipospos
    Kan dang lomo be rohani begu nuaeng maringanan di harangan, lae? Alana dang adong disi kape dht tenda biru manang ruma kitik-kitik. Hape begu nuaeng nalomoan rohana marpoco-poco jala gok hepengna hasilni manangko hau dohot hupang ni rakyat 🙂

    @ Lae Monang Naipospos
    Siap-siap ma hamu lae, nunga ro be si Lbn Gaol par Pakkat tu lapo ni lae on. Maup ma hita alana holan na suda do au saleleng on margak-argak manjaha komentar “nyeleneh” ni lae on di sada milis Batak naposo. Ai soadong naduldul, babiat pe hea do dipadar ibana🙂

    ***
    Jolo marguru ma jolo iba lae itu ibana, alana papungu ilmu do ibana saleleng on😀

  47. Horas…horas…horas…
    Kebun bunga dalam bayangan kita, mungkin tidak sama dengan kebun bunga yang akan dibangun itu. Oleh sebab itu saudaraku.. alangkah lebih bijak kalo kita minta Bapak Bupati kita, memberikan gambaran / proposalnya seperti apa kebun bunga tersebut kelak.
    Dari gambaran/proposalnya kelak kita bisa memberikan opini atau komentar baik mendukung ataupun tidak.
    Terima kasih, ingat saudaraku : “bersama adalah awal, tetap bersama adalah kemajuan dan bekerja bersama adalah kesuksesan”.

  48. Horas sasudena…

    @ arsitek singapura..
    mananggapi pendapat dari mas/abang/bapak/tulang/amangboru idenya memang bagus. tapi apa kata tulang/dll itu juga bagus, harus memperhatikan geografis dan struktur tanah di Samosir…

    berkaitan dengan grand strategy, or apalah itu..memang samosir sudah punya, TAPI YANG SAYA TAU (DARI HASIL WAWANCARA DENGAN PEJABAT DISINI) KABUPATEN SAMOSIR BELUM MEMILIKI PERDA TENTANG TATA RUANG DAN TATA WILAYAH..menurut informasi katanya masih dalam tahap SOSIALISASI…yaitu UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

    nah, saya juga mau menanggapi, “NB: Buat apa dijadikan SAMOSIR sebagai kabupaten? ”
    kalau dari informasi yang saya tau untuk percapatan pembangunan. ITU MENURUT INFO LHO…

    coba kita beralih ke PP No 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, dimana indikatornya “PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT, KUALITAS PELAYANAN UMUM, KUALITAS DAYA SAING”..

    dari ketiga indikator diatas, coba kita tanyakan diri kita sendiri, apakah KABUPATEN BONAPASOGIT kita ini memenuhi ketiga indikator diatas…???????

    bisa-bisa di kedepannya kabupaten samosir, dilebur atau digabung dengan kabupaten lain karena hasil evaluasinya nantinya menunjukkan ketidakmampuan memenuhi indikator diatas.

  49. Menurut saya sebagai putri daerah yang sudah besar di samosir sejak kecil tidak setuju adanya program kebun bunga…
    Taukah anda bahwa bagaimana kondisi kota-kota besar saat ini setelah merubah kota mereka menjadi kota yang penuh dengan seluruh aktivitas untuk menghasilkan uang tanpa melihat aspek ekologis (lingkungan)…
    menurut anda yang setuju program ini saya mau bertanya seberapa besar bangsa Korea tau bagaimana kondisi Samosir..Kebun bunga hanya bisa menambah keindahan dan menguntungkan secara ekonomis bagi Korea
    Boro-boro mau bikin kebun bunga,,hutan za uda ga ada..
    Kalau seandainya,,mau membuat HUTAN KOTA baru saya setuju karena hutan kota dapat menyerap polutan atau pencemaran kota..Jadi untuk pemerintah Samosir tolong dipertimbangkan matang-matang…Semakin bertambahnya penduduk dan Sumberdaya alam semakin habis maka lama-kelamaan manusia akan kembali mengkonsumsi bahan pangan hasil hutan…
    Keep ur forest…

  50. Abang-abang,,amanguda,,inanguda,,oppung boru,,oppung doli..
    molo naeng mamereng KEBUN BUNGA hamu RO MA HAMU TU BOGOR dison adong do KEBUN RAYA BOGOR…
    Untuk melakukan perencanaan sperti itu butuh waktu bertahun-tahun,,ga segampang dapat duit dari Korea,,,uda za langsung main tanam…
    Weee,,,dungo ma hita saluhutna,,,katanya SAMOSIR HUTA NA MASSAI ULI,,,
    Manusia paling gampang merusak tp plg susah memperbaiki,,,bikin bangunan,,merambah hutan seh gampang pak..Tapi coba klo uda ga ada hutan kayak sekarang,,,pusing kan mikirin solusinya..Nunga masa be naso hea masa,,,GLOBAL WARMING inna,,,
    Ayolah putra-putri daerah kita jaga Samosir kita yang kita cintai ne..Masa udah merdeka masih mau dijajah lagi..
    Intinya,,,Manusia yang berpikiran maju tidak harus dengan cara merombak yang sudah ada…
    Jadi goodbye ma di hamu Korea…

  51. bah aidia doh boasa gabe hutan dibabat habis laho mambahen kebun bunga, klo saya tidak setuju hutan dibabat hanya untuk membuat kebun bunga. karena nilai ekologi dan nilai ekonomi hutan jauh lebih besar, apalagi hutan itu jauh lebih baik dalam menyerap karbon. molo boi hutan kota i ma dohot potensi wisata di kembangkan hamuna akka tulang, nantulang, namboru, amangboru, akka ise pe naparduli tu bonapasogit. terutama akka putra-putri ni tano batak nauli. horas!!!!

  52. @Pesta Simbolon & Elfrida Simbolon
    @ Semua pembaca blog Partungkoan-Tanobatak
    Horas ma di hita sude. (Maaf, selanjutnya saya berbahasa Indonesia). Sejak rencana pembatatan hutan Tele untuk lokasi perkebunan bunga (oleh investor Korea Selatan) dihebohkan (antara lain, lewat penyeberan di milis-milis, blog Partungkoan-Tanobatak, blog tobadreams/batak itu keren, blog Ayo Merdeka, blognya Sitohang par Bintan, dll, juga atas kerjasama dng kawan-kawan di media-media Sumut macam koran Metro Tapanuli/Metro Siantar, koran Global, dll, dan imbauan agar bersikap tegas menolak pembabatan hutan yg terus-menerus kami sampaikan ke kumpulan marga-marga dari Samosir di Jkt dan Medan), akhirnya DPRD mendesak Pemkab Samosir utk menggalkan rencana tsb. Polemik soal ini cukup alot, dan tegang. Pemkab sendiri akhirnya tak berani melanjutkan proyek tsb setelah munculnya demo-demo penolakan dari masyarakat yg antipengalihan fungsi hutan Tele. Memang, pembabatan hutan secara ilegal (oleh pengusaha kayu setempat) masih terus berlangsung, yg entah kenapa seperti dibiarkan aparat. Artinya, walau si pengusaha Korea sdh menghentikan niatnya (blm permanen), proses deforestasi masih berjalan di sana. Tapi, setidaknya dng sikap Pemkab Samosir yg mendengar suara protes DPRD dan masyarakat Samosir, sudah harus syukuri dan disambut positif.

    Lalu, satu setengah bulan lalu, rombongan DPRD Samosir (sekitar 11 orang) bersama LSM, seorang pastor dari gereja Katolik, dan lima perwakilan masyarakat Samosir, menyambangi kantor Dephut utk meminta penghentian penebangan hutan oleh PT PTL di wilayah Tele-Dolok Sanggul, karena hampir kawasan hutan yg berbatas dng bukit-bukit di atas Danau Toba tsb sudah mendekati kepunahan (antara lain, pohon yg menghasilkan kemenyan atau haminjon, johar, suren, dan rotan). Dua hari mereka di Jkt (sayang, hanya sehari bisa saya dampingi krn dihalangi urusan pekerjaan), dan..tiga hari lalu, seorang kerabat saya, anggota DPRD Samosir, Tumpak Situmorang (yg juga ikut ke Jkt), mengirim SMS, isinya: “SK Kadis Hutan Provinsi sudah keluar ttg penyetopan RKT Blc Sitonggitonggi dekat Tele. Sekarang lagi mau konferensi persi di ktr DPRD.” Saya bersorak dan merasa lega, dan saking senangnya lantas meneruskan SMS tersebut ke kawan-kawan yg peduli nasib hutan di kawasan Tano Batak (tidak hanya Tele!), antara lain, adikku Petrus M Sitohang ‘Par Bintan’, Lae Robert Manurung, Lae Monang Naipospos, dll. Memang, sebagian besar kawasan hutan yg mengitari sisi Danau Toba bagian barat (Dolok Sanggul-Tele) tinggal 15-20% saja, tapi, setidaknya masih ada yg tersisa. Dan kita tdk boleh lengah dan berhenti berteriak krn si pembabat liar itu (konon, ia termasuk pengusaha paling kaya di seluruh Kab. Samosir sekarang).

    Secara pribadi, dari hati yg tulus, saya mengucapkan terimaksih, mauliate godang, pada semua pembaca blog Partungkoan ini, yg mayoritas menentang penghancuran kawasan hutan Tele. Dukungan kalian sungguh menyadarkan saya dan akwan-kawan bhw kita memang benar-benar mencintai alam Tano Batak, dang holan ende…

    Melalui blog ini pun, saya pribadi mengucapkan terimakasih utk rekan-rekan yg peduli dng kawasan hutan Dolok Sanggul-Tele dan seluruh wilayah Tano Batak dan juga alam Indonesia, antara lain: Robert Manurung, Frank Marudut Pasaribu, Charlie Sianipar, Viky Sianipar, Charly Silaban, Washinton Simbolon, Laris Naibaho, Sangap Sihotang, Alvin Nasution (grup koran Metro), Tonggo Simangunsong (Global), Deny Sitohang (Medan), Sahat Ferry Nainggolan (milis pulosamosir), para anggota milis ‘corona mae’ (alumni SMA-Seminari Budi Mulia P. Siantar), dan masih banyak lagi kawan/kerabat di Jakarta , Medan, Samosir, bahkan luar negeri (G. Meha di Kanada, Ucok Lubis di Jerman, Maryke Silalahi Nuth di Norwegia, dll), tokoh-tokoh marga Simbolon, Sitanggang, Situmorang, di Jakarta dan Medan, yg gencar menyebarkan berita keprihatinan ini dan melakukan berbagai upaya utk menyelamatkan kawasan hutan Dolok Sanggul-Tele.

    Last but not least, Laeku Monang Naipospos (toho ma hamu namansai holong tu Tano dht Bangso Batak), Jarar Siahaan, dan juga Amang Bonar Siahaan. Sai anggiatma diramoti Debata na di Banua Ginjang Tano dht sude Bangso Batak didia pe maringanan dht mula ulaon.

    Bonapasogit tetap dan selalu menanti perhatian kita, karenanya, mari kita terus berbuat, tak jadi soal apa yg bisa kita lakukan dan berikan. Bukan hanya uang-materi. Horas….

  53. Penyusuta (kedalam danau toba)disebabkan oleh proyek PLTA sigura gura tahun 1980.saya melihat pd waktu itu sunga asahan itu di keruk di dalamin supaya debit air yg mengalir ke turbin genator bisa diatur.Jangankan menyusud keringpun bisa apabila pintu air di buka full.kembalikanlah sungai asahan itu sesuai dengan aslinya.di jamin air danau toba tdk menyusut. Banyak orang tau memang sungai itu di keruk

  54. bulan 9 tahun 2008 yang lalu saya pulang kampung (samosir). kepulangan saya sebenarnya untuk melihat sinode godang HKBP di sipoholon. dari sipoholon saya pulang via tele menumpang bus ama ni hong naibaho yang setia melayani trayek samosir-tarutung. alangkah terkejutnya saya ketika memasuki daerah tele banyak sekali hutan yang sedang ditebang. herannya, proses penebangan itu dimulai dari tengah hutan, bukan dari pinggir jalan. saya mulai curiga. ini pasti ada apa-apanya. saya tidak tahu bahwa sedang ada “kasus” seperti yang dibicarakan di blog ini. ama ni hong bilang, penebangan itu sudah cukup lama berlangsung. dari luar tidak terlalu kelihatan memang. mungkin kita perlu naik helikopter untuk dapat melihat dengan jelas. jika terus terjadi, bencana menanti. sebagai putra samosir, saya tidak rela hutan itu digunduli. pertanyaan saya terhadap teman-teman yang bicara di atas, tindakan konkrit apa saja yang sudah kalian lakukan? apa yang bisa kita lakukan untuk membantu?

  55. Horas horas horas

    Apa khabar saudara2 orang batak khususnya anak samosir, sy sangatlah prihatin apabila hutan kita yg ada di samosir sana akan dibabat lg, tidak kalah kejam dari indorayon yg menyakitkan masyarakyat Toba dan Samosir telah mengambil aset penting yg sangat merugikan sekali bagi masyarakyat kita khususnya orang samosir , adapun dampak yg paling menonjol adalah kerugian materil dan inmateril yg tidak terhitung jumlahnya bagi penduduk samosir . Sy berharap kita orang2 batak khusus samosir bersatu untuk tidak mewujudkan impian orang korea mau menjajah bangsa kita dengan cara berinfestasi di wilayah kita dimosir yg kita cintai dan tetap menjaga keutuhan pohon2 warisan dari nenek moyang kita . Untuk pemerintah setempat, sy mengajurkan untuk tidak mengijinkan para infestor masuk ke daerah samosir dengan dalih pembudayaan bunga padahal mengambil dan menjarah hasil dari pulo damosir untuk itu bapak bupati dan anggota dewan ,masyarakyat samosir untuk bersatu melestarikan dan menjaga harta yg paling berharga PULAU SAMOSIR NAULI mauliate.

  56. Susah emang yah,,
    Saya secara umum sepakat dengan architect singapore,,

    Banyak dr kita(sadar atau ndak) angka dongan batak yang kadang memiliki perspektif yang sempit tapi merasa udah serba tau dan apalah, kurang Visioner dan sering Pragmatis.Pola pikir yang sustain.
    Kebanggan kita dengan kata haulion membuat kita terlena jalan di tempat dan statis,No change.
    Paling susah diberi masukan dan pandangan,dan ga tau apa maunya.
    Hal-hal sperti ini dapat sebagai penghambat cita2 untuk samosir lebih maju.
    (santabi tu hamu angka dongan na asing,,dang sude hudok)
    Hata na toho di hitaan kan pada umumnya pollung sian lapo do manang sian kode,,tulisan2 ilmiah dan ide2 yang bersifat ilmiah jarang itu di dengar.
    Kenapa perantau2 Batak atau orang batak yang secara SDM dan Finansial sudah diakui,,jarang yang concern untuk pengembangan samosir?
    Bukan mereka ndak mau atau benar2 concern .Mereka banyak membangun kampung orang,,mendapat prestasi dan apresiasi di kampung orang?Mereka bukan ndak mau bangun kampungnya sendiri loh.Tapi…,,nah ini dia.Ada apa??
    Mungkin salah satu jawabannya ada seperti di atas.
    Sebagai suku yang besar dan kwalitas yang besar,,kita harus berani introfeksi atas diri kita apalagi hal2 negatif dalam diri kita untuk perbaikan yang lebih baik ke depan.

    Mauliate,horas!!!

  57. @Teknokrat_Sinaga
    Lae Teknokrat,
    Sertakan bukti yang mendukung pendapatmu itu lae. Kalau tidak, komentar anda ini sama saja dengan apa yang lae bilang sebagai pollung sian lapo/kode. Dan kalau boleh yangan terlalu canggi dengan istilah istilah itu lae. Apa yang lae maksude dengan pola pikir yang sustain?

    Jadi tolonglah diuraikan lae, mengapa usaha menyelamatkan danau itu lae sebutkan sebagi prespektif yang sempit, kurang visioner,dan prakmatis.

    Kalau lae anggap orang orang dari Samosir bukan tidak mau membangun kampungnya sendiri, terlibatlah secara langsung lae untuk mendorongnya supaya mereka mau membangun, jangan lantas pesimis dang menganggap satu satunya jalan membangun Samosir adalah dengan mengorban hutan Tele dengan pohon-pohonnya yang bernilai tinggi itu.

    Horas.

  58. Saya yakin, apa yang diutarakan lae Teknokrat-Sinaga tidak dimengerti Masyarakat yang berdomisili di Samosir……ibarat orang Batak yang “manonsothon hata batak” kepada orang Eropa…….pasti gak nyambung……..hehehehehe

  59. Pesan ku tu Pemerintah untuk dapat dianggarkan kedepan :

    1. Hutankan kembali semua hutan di Pulau Samosir, penanaman dengan topik “sejuta pohon disamosir”
    2. Jalan keliling samosir diperlebar dan di perbaiki
    3. Semua tepi pantai danau toba di samosir ditata kembali siteplannya ( 20 m / 50 m dari tepi pantai tidak ada bangunan ,hotel atau rumah dan ada pasilitas umum tiap pantai di desa masing masing/ kecamatan.
    4. Tiap desa di utamakan tanaman yang khas sesuai kultur tanahnya

    Mauleate, Horas-horas-horas

    Maju kabupaten Samosir 5 -10 tahun kedepan kalau bisa ini di jalankan oleh pemerintah

  60. Horas…
    mauliate di hita sude…
    secara prinsip, aku dukung kegiatan blog ini yg bersifat positif dlm hal ini membangun tanah batak memajukan SDM dengan memberikan informasi mengenai keadaan dan kelestarian hutan.
    akhir kata, kiranya kita bs bertukaran informasi. yg tujuannya menjaga dan melestarikan tanah batak.

    Horas sian au, na tubu di parantaon…
    sukses selalu buat admin blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s