JANJI LINTONG KE BAKKARA

Monang Naipospos

Perlawanan seru Sisingamangaraja XII bersama pendukungnya terhadap Belanda semakin seru. Ada yang membuat hati sang ratu Belanda begitu geram. Entah siapa yang membuat surat atas nama Sisingamangaraja, masih kurang jelas. Sisingamangaraja tidak menulis suratnya sendiri dan stempel dipegang sekretarisnya yang disebut parmaksi.

Saya tidak hendak membicarakan adanya penghianatan terhadap Sisingamangaraja, tapi gerakan Belanda dengan ancaman itu membuat Sisingamangaraja mengungsikan semua keluarganya ke hutan.

Semula mereka berada di Hutan Lintong. Ada Ompu Babiat Situmorang pendukung perjuangan itu menjamin keselamatan sang raja dan keluarganya disana. Ada ikatan batin yang kuat pada kedua orang ini. Situmorang adalah “tulang” Sisingamangaraja turun-temurun. Situmorang adalah “pamupus” keluarga Sisingamangaraja. Situmorang memangku kewajiban “sada lulu” pada kerajaan Sisingamangaraja. Itu yang dilakonkan Ompu Babiat bersama klannya didukung oleh marga lain seperti Nadeak dan klan Siraja Oloan.

Bakkara diobrak abrik. Tidak ditemukan Sisingamangaraja dan keluarganya, akhirnya komplek istana beserta bangunan pendukung semuanya dibakar. Mendengar itu Sisingamangaraja XII bersedih. Kesedihan beliau dapat dipahami Ompu Babiat Situmorang. Sebelum pengungsian diarahkan ke Dairi, beliau berjanji. Kelak bila istana akan dibangun “parhau” bahan bangunan untuk itu dapat menggunakan kayu yang ada di Hutan Lintong.

Janji ini tidak tertulis, jadi siapa saja dapat meragukan kebenarannya. Namun, yang saya pahami. Janji para Raja yang terhormat walau tidak tertulis, saling percaya menjadi ikatan turun temurun. Cerita ini pun diutarakan Raja Punantun Sinambela cucu Raja Parlopuk abang dari pemangku Raja Sisingamangaraja XII. Cerita ini kembali diingatkan oleh putra beliau Raja Sintong Sinambela kepada saya dua minggu yang lalu saat kunjungan kami bersama Raja Tonggo Tua Sinambela ke Bakkara.

Istana Sisingamangaraja di Bakkara sat ini kondisi menyedihkan. Sebagai asset sejarah harusnya mengikuti tata cara habatahon yang dilaksanakan Sisingamangaraja. Ini mempengaruhi kualitas bangunan.
Apakah ini karena bahan material dari Hutan Lintong tidak disinggung? Apakah karena keluarga Sisingamangaraja tidak langsung melakukan pembangunan dan memohon kepada Situmorang merealisasikan janjinya?
Apakah mungkin Situmorang saat ini tidak lagi merasa memiliki hutan dan tidak tau ada janji kepada Sisingamangaraja?

Saya sendiri tidak tau, atau mungkin mereka juga tidak tau. Yang saya tau turunan Ompu Babiat Situmorang ada seorang sastrawan besar yaitu Sitor Situmorang. Saya pikir tak mungkin hanya beliau. Sitor sendiri pernah mengkritik pemugaran istana Bakkara melalui harian Waspada Medan November 1983 dengan tajuk “Pemugaran Istana Bakkara yang menyimpang dari sasaran budaya”. Taukah beliau ada janji itu?

Saat ini beredar informasi hutan Tele hendak “dimusnahkan” menjadi taman bunga. Saya ragu, apakah hutan Lintong yang telah dijanjikan itu termasuk dari bagian hutan Tele yang diperbincangkan? Atau setidaknya, apakah hutan wilayah pangkuan marga Situmorang itu termasuk hendak dibabat?

Kepada penguasa negeri perlu diingatkan.
Nikmat yang anda rasakan di alam kemerdekaan janganlah melupakan mereka yang berjuang.
Tetesan darah mereka masih berbekas saat bergerak dan belindung di hutan.
Janji dan harapan mereka patutlah dikenang.
Melupakan sejarah adalah bagian dari pengingkaran dan awal dari penghianatan.

Iklan

6 thoughts on “JANJI LINTONG KE BAKKARA

  1. permisi numpang berita dulu ya !!!!!
    [penting soalnya ini]

    tolong disebarkan ya

    Wakil Bupati Samosir : “No Comment” Soal Hutan Tele

    KETIKA para pecinta lingkungan berteriak marah, lantaran hutan alam Tele dibabat dengan semena-mena, Ober Sagala hanya bisa mengatakan : No Comment. Kasihan! Karena sebenarnya, politisi Partai Demokrat ini punya dua dasar kewenangan, untuk menghentikan penebangan hutan alam itu.

    Kewenangan pertama, karena kampung halamannya, Desa Sagala, berada persis di bawah perbukitan hutan Tele. Apabila nantinya hutan itu sudah dipangkas habis, kemungkinan terjadinya longsor sangat besar, dan bisa jadi kampungnya bakal terkubur. Kewenangan kedua, karena Ober Sagala adalah Wakil Bupati Samosir.

    Lalu kenapa dia hanya bisa bilang : No Comment ?

    Tampaknya Wakil Bupati ini merasa sungkan dan ewuh pakewuh, kalau harus mengeluarkan pendapat yang terkesan mengkritik atau menyalahkan Bupati Mangindar Simbolon. Mungkin dia beranggapan, selaku Wakil Bupati tidaklah pantas baginya menimbulkan kesan kepada pihak luar, bahwa antara dirinya dan Mangindar sudah pecah kongsi.

    DARI sebuah sumber yang dekat dengan Wakil Bupati diperoleh informasi yang mengejutkan, ternyata Ober Sagala merasa ditinggal oleh Mangindar Simbolon dalam proses lanjutan proyek hutan Tele. Dia memang pernah dilibatkan ketika PT ESJ, sang investor asal Korea, mempresentasikan berbagai keuntungan dan manfaat yang bakal dinikmati Kabupaten Samosir, apabila hutan Tele dijadikan kebun bunga untuk komoditas ekspor.

    Namun dalam proses selanjutnya, sampai kemudian penebangan hutan itu menimbulkan heboh, ternyata Wakil Bupati Ober Sagala tidak dilibatkan lagi. Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Ober Sagala selaku Wakil Bupati tidak memiliki akses terhadap data proyek kebun bunga yang kontroversial itu.

    Kenapa bisa begitu? Kok Bupati Mangindar Simbolon jadi main sendiri ? Tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari Ober mengenai hal ini. Dia menolak untuk memberikan jawaban yang jelas.

    Sangat disayangkan sikap yang dipilih Wakil Bupati Samosir itu. Menjaga etika politik boleh-boleh saja, namun yang lebih penting adalah tanggung jawab kepada rakyat. Perilaku politisi yang saling menutupi seperti itu hanya berguna bagi karir politik mereka sendiri, tapi bisa menjadi sumber bencana bagi masyarakat.

    Sebagai Wakil Bupati, apalagi di era demokrasi ini, Ober Sagala seharusnya bisa membawakan diri sebagai figur yang punya otoritas dan integritas. Jabatan Wakil Bupati itu bukanlah seperti asisten pribadi, yang ikut saja apa kata bos; karena bos tertinggi sebenarnya adalah masyarakat Samosir.

    Masih ada waktu bagi Ober Sagala untuk memperbaiki sikapnya yang keliru. Setidak-tidaknya secara internal dia bisa meminta Bupati mengadakan rapat dan kemudian menanyakan perihal hutan Tele. Kalau ternyata hal itu tidak diindahkan oleh Bupati, tidak ada salahnya Ober membuat pernyataan kepada masyarakat; jika memang ada kejanggalan prosedur dalam proses keluarnya izin penebangan hutan Tele.

    Kalau Wakil Bupati tetap bungkam, maka masyarakat Samosir dan para perantau Batak di seluruh dunia akan menganggap Ober Sagala ikut bertanggung jawab atas pembabatan hutan Tele.

  2. permisi numpang berita dulu ya !!!!!
    [penting soalnya ini]
    tolong disebar luaskan

    Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.

    Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.

    Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.

    “Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.

    “Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.

    “Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “

    Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.

    “Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”

    “Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.

    Hutan lindung

    Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.

    Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.

    Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.

    “Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.

  3. serem bgt dah!!
    di luar banyak yg kejam,ternyata di kampung sendiri ada yanglebih seram plus kejam!!
    sadarlah wahai manusia!!
    apa gak puas MAKAN uang rakyat??
    tega2nya ngerusak harta orang banyak.
    panas kali hati ini kurasa bah!!
    grrrrrrr….

  4. miduk Hutabarat berkata:

    Semoga belum terlambat..,
    Begitulah percakapan dengan Sitor S waktu di PlOT Siantar 2006; Dia katakan; masak ngak ada Istana Sisingamangaraja ? Bahkan harusnya pemerintah menyediakan lahan untuk pembangunan istana raja tersebut

    Namun, aku belum tau pada waktu itu, bahwa ada janji Alm. Oppu Babiat akan membuatkan istana buat nya. Tapi masalahnya, dalam konteks apa itu bisa mengikat oppu Babiat ? Mengingat Istna itu – yg sudah di robohkan padri 1833- kemudian di bangun RSM XI – pada tahun 1850 an? _ itulah yg di bumi hanguskan kembali oleh Belanda 1878 ?

    Kan Belanda yg membumi hanguskan! Dan itu legal dalam situasi perang yang sudah di dekalrkan oleh RSM XII 1876 : melalui PULAS nya.

    Hal ini lah yang membuat semangatku mengendur, ketika aku mau mengusulkan kepada Batara Hutagalung; supaya mengagendakan juga – pembayaran Hutang atas pembumi hangusan Istana Bakkara- di KHKB ; selain tuntutan perang rawagede nya.

    Menurut penjelasan Batara Htglg, pihak Belanda hanya mau membayara kerugian dari 1945 -1950.

    Kembali kepada persoalan Lintong tentang Bakkara

    itulah pentingnya kita marpungu ; pomparan Teta Bulan dan Isumbaon – sangat mendesak : urgen! Mengingat Batak dan Habatakon kita perlu di desain ulang kembali dan bahkan disegarkan ekspresinya. Supaya jangan ada pula yang pabalion kalau dia ngak bisa bahasa batak : alias ngak boleh ngaku batak ! He he ee

    Tapi ini penting untuk kita selenggarakan disude akka hita Pomparan ni si Raja Batak : Kongres Batak Sedunia !

    Mardebata
    Marpatik
    Maruhum
    Maradat
    Marharajaon

    Dalam konteks kekinian dan YAD

    Miduk Hutabarat
    Jl. Bunga Ester 81
    Padang Bulan
    medan 20131

  5. sangat menyedihkan sekarang negara kita ini begitu banyak pahlawan mati berkorban untuk negara kita tetapi sayang banyak pemimpin pemerintahan yang korupsi .seperti itulah orang orang yang menghianati negarasendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s