APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DANAU TOBA ?

Monang Naipospos

Spirit otonomi daerah semula diharapkan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam program-program pembangunan daerah. Tujuan pengembangan partisipasi masyarakat dalam hal ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas program-program pembangunan. Oleh karena itu segenap potensi yang ada pada setiap daerah harus digali untuk menggali inisiatif masyarakat lokal dalam sebuah proses pembangunan.

Sebagian pendekatan yang semakin popular dalam penumbuhan dan pengembangan inisiatif masyarakat local adalah Pemahaman Desa secara Partisipatif (PRA = Participatory Rural Appraisal). Pada hakekatnya, PRA terdiri atas beberapa pendekatan dan metode untuk memahami desa secara partisipatif. Sekumpulan pendekatan dan metode tersebut memberikan peluang terhadap masyarakat lokal untuk bersama-sama menganalisa permasalahan hidupnya dalam rangka meramu dan merumuskan perencanaan dan kebijakan sendiri.

Dalam rangka mempersiapkan implementasi PRA dalam proses pembangunan di catcment area Danau Toba membutuhkan tahapan sejak dari persiapan pendamping, pelaksanaan pendampingan, analisa bersama masyarakat hingga aksi.

Kegiatan yang mengarah pembangunan prtisipatif ini dulu pernah digagasi oleh sebuah Lembaga yang didanai Pemerintah Jepang yang dikoordinasikan JICA (Japan International Coorperation Agency) sejak tahun 2003 lalu. Tujuannya mempersiapkan para stakeholder dan Pemerintah Daerah mendorong implementasi PRA pada masyarakat lokal dalam seluruh proses pembangunan di Daerah Tangkapan Air Danau Toba.

Studi Penyusunan Kerangka Pengembangan Kawasan Terpadu dengan Pendekatan Konservasi Lingkungan di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, bekerja sama dengan Tim Studi dari IndoKoei dan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara pun sudah direalisasikan. Diusulkan suatu Master Plan bagi pengembangan kawasan DTA Danau Toba yang mencakup program-program jangka pendek maupun jangka panjang. Tim Studi juga mengusulkan sejumlah rencana tindak untuk menjawab berbagai permasalahan masyarakat dengan menggunakan pendekatan PRA yang merupakan metode perencanaan partisipatif yang popular saat ini.

Rencana-rencana tindak tersebut sudah dilaksanakan dalam case studies di 10 lokasi di DTA Danau Toba. Dan atas permintaan Pemerintah Indonesia, JICA menugaskan stafnya sebagai penasehat pembangunan daerah di Bappedasu selama dua tahun tiga bulan dalam rangka dukungan terhadap pelaksanaan desentralisasi dimana setiap daerah dituntut untuk mengembangkan inisiatif sendiri di dalam melaksanakan pembangunan daerah dengan tidak lagi menerapkan pendekatan top down.

Sudah banyak program berjalan di Sumatera Utara yang tujuannya untuk pelestarian Danau Toba. Yang terbesar adalah dengan terbentuknya Lake Toba Ekosistem Managenent Plan.

Seiring dengan issu program yang semuanya terbukti saat ini tidak membawa dampak positif bagi pelestarian Danau Toba, berbagai event di Danau “sakit” ini pun terus berjalan. Penaburan berbagai ragam benih ikan, pengembangan peternakan ikan yang menguntungkan kelompok kapitalis.

Para ahli, aktivis banyak yang berseru, menjelaskan kerusakan danau toba tapi tidak ada solusi, dan tidak ada aksi. Aksi sporadis cenderung tidak memiliki pola acuan terhadap manajemen pelestarian danau toba. Ini karena kurangnya informasi. Tidak jelas siapa stakeholder untuk pelestarian danau toba. Sehingga siapa yang berperan, siapa yang berpartisipasi dan apa yang dilakukan menjadi tidak jelas.

Masyarakat tetap terpinggirkan. “Doton” dan “bubu” sudah dibiarkan lapuk, saat ikan mujahir idola meraka tidak lagi mendukung. Penaburan udang adalah awal dari kehancurannya. Penduduk menjadi buruh keramba, dan nelayan pora-pora yang hanya dihuni lokasi keramba dan muara sungai. Ratusan ton ikan mati dari keramba setiap hari menjadi limbah yang semula dibuang ke danau yang mengembangkan lalat hijau. Sebagian ikan busuk menjadi bahan industri rumah tangga, dikeringkan dan dijual kepasar. Dampaknya, masyarakat akan memakan ikan busuk yang dikeringkan. Perajin memang diuntungkan, tapi konsumen dirugikan.

Program baik dengan tujuan baik, yang berdampak tidak baik rasanya perlu dipertanyakan. Untuk selanjutnya apa yang diprogramkan untuk danau toba?

Iklan

29 thoughts on “APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DANAU TOBA ?

  1. ya mo gmn lagi yah?
    habis alam toba rusak khan gara-gara kt jg,khan?
    makanya sekarang coba dech untuk peduli toba.
    Emanglu pade mau klu toba jadi hancu??????????
    NGGAK KHAN?
    padahal gw jg ikut-ikutan
    dasar…………..

  2. Foreigners berkata:

    1. Danau toba Indah hanya mitos lebih bagus danau di swiss…………………………………………………………….. ๐Ÿ˜€

    2. Danau toba pantas di jadii obyek wisata hanya mitos, mending ke Bali atau Thailand…………….. ๐Ÿ˜€

    3. Budaya batak menarik, hanya mitos. Lebih menarik budaya china………………………………………………… ๐Ÿ˜€

    4. Hotel di danau toba bagus, hanya mitos……………………………. bagusan di puket atu bali…………………………………………………………………… ๐Ÿ˜€

    5. Fasus, dan Fasos di toba lengkap? hanya mitos…………Kenyataan mebuktikannya…………. ๐Ÿ˜€

    6. Pantas kah danau toba dimasukkan menjadi salah satu tujan wisata dalam program Visit Indonesia Year 2008?

    SANGAT TIDAK PANTAS….

  3. sgt tdak stuju dgn foreigners!!
    anda sudah pernah datang ke danau toba?
    klo pernah, pasti anda akan tau sendiri apa alasan danau toba jadi dtw 2008..
    klo prihatin seh bisa tpi jgn lah hancurkan mimpi dan harapan anak2 bonapasogit yg ingin tanahnya dibangun dgn baik.
    viva Toba Lake!!

  4. SALNGAM berkata:

    Danau Toba indah?. By natural yes!. Lingkungan sosialnya landscapingnya indah?. Big question!. Foreigners statement itu adalah statement yang realistis, tidak membangga-banggakan diri. Gubernur, Bupati, Camat dan masyarakat wirausaha d Sumatera Utara tidak berbuat apa-apa untuk ditawarkan. Pematung, pemahat, pelukis dan pekerja seni kerajinan sama sekali buruk!. Saya pernah marah-marah sama penjual barang antik di Tomok karena menjual replika pustaha Batak yang bohong-bohongan asal ditulisin aksaranya entah apa saja yang ditulis di aksara itu tidak punya arti salah yang penting mirip aksara Batak!. Tidak ada tata ruang yang teratur dan asri lebih jago generasi kakek buyut kami jaman dulu. Neighbourhood yang tercipta jaman dulu yang artististik bukannya diimprove malah dibiarkan rusak dan dimodifikasi sangat buruk. Artistik kuburan yang baru sangat asal-asalan. Bandingkan dengan di Bali, hampir semua artistik dan pantas untuk difoto. Terlalu banyak yang harus dibenahi di Danau Toba biar dia layak jual. Nampaknya sudah nasib seperti itu, 63 tahun merdeka jalan ke Parapat tidak ada perubahan, masih 4 jam dari Medan!!! Masyarakat yang mendiaminya kurang banyak senyum dan mental penjual sekali pukul!. Pertanian Padi sekitar Tobasa hancur karena sistem bertani sudah meninggalkan cara nenek moyang dan sistem pengairan peninggalan Belanda hancur sudah , tanpa ada beban dari Bupatinya!. Persawahan yang tadinya indah menguning dan hijau bak permadani sudah banyak yang jadi puso karena air tidak ada karena hutan telah dirusak oleh PT. Indorayon!. Menurut saya problem utama disana adalah generasi yang tinggal banyak unexcellent karena masyarakat yang tamat SMA bermigrasi ke luar wilayah Danau Toba. jadi, wajar saja pernyataan Foreigner itu, jadikanlah itu camuk untuk introspeksi politically, economically, culturally dan lain-lain —ly. Horas

  5. sahat m. manullang berkata:

    seorang teman dari swiss berkunjung ke danau toba 2 tahun lalu, berkata ternyata danau di tempat saya (lac de genรฉve) tidak ada ada apa-apanya di banding danau toba.

    dan tahun lalu, pemkab simalungun menghapus danau toba dari tujuan wisata…ada apa?

    banyak yang harus di kerjakan;..dan terkadang kita tak dapat berperan dalam kerja tersebut..;diam kadang menjadi sebuah pilihan….komentar foreigners adalah sebuah ketololan.

    @partungkoan

    mohon maaf ngirim komentar seperti ini, salam kenal horas,,

  6. danau toba itu adalah instrumen yang tak akan pernah musnah keindahanya dari dulu hingga sekarang dia selalu berada dalam konteksnya, kita saja yang tak pernah menyadari dimana sesungguhnya letak keindahaannya. kalau anda hanya mengatakan keindahan dari segi bagaimana kita melihat (memandangnya) saja, maka saya beani katakan andalah manusia paling tolol di planet ini coba kalo seandainya danau toba itu sama dari yang dulu sampaai sekarang mungkin orang2 yang iri dengan bangso batak akan berkata “ah kuno kali pun orang batak itu”. maka untuk melihat keindahan danau toba itu JADILAH ORANG BATAK baru komentar, karena danau toba adalah bagian dari batak. “TIDAK ADA DANAU TOBA TANPA BATAK DAN TIDAK ADA BATAK TANPA DANAU TOBA”

  7. Tumpak Silalahi yang I berkata:

    Yang harus dilakukan:
    1. Lestarikan
    2. Promosikan
    3. Syukuri bahwa kita memiliki danau yang indah ciptaan yang maha kuasa..

  8. @ foreigner

    Saya sudah ke Bali, ke Thailand, M’sia meski jujur belum pernah ke Swis. Tempat-tempat itu memang bagus juga.

    Tapi kalau anda bilang Danau Toba tidak ada apa-apanya, saya sedih juga anda komentar seperti ini. Saya ragu kalau anda sudah pernah ke danau toba.
    Cobalah berkunjung ke kawasan danau toba. Lalu ke Samosir. Bisa naik ferry dari parapat/ ajibata atau via tele dan turun ke pangururan. Dari Pangururan berkelilinglah dengan jalan lingkar danau Toba ke Simanindo Ambarita lalu ke Tomok atau sebaliknya.

    Dan ambil beberapa foto diri anda dengan kamera resoluis tinggi dengan latar belakang danau Toba. Tunjukkanlah kepada semua orang, syukur-syukur posting di blog. (Btw blog saya siap mempublikasikan untuk anda) Dari sana kita akan lihat komentar orang-orang dan bandingkan dengan komentar anda tentang danau toba.

  9. Humbang Hasundutan berkata:

    Apa yang harus dilakukan untuk Danau Toba? Seperti uraian di atas bahwa telah banyak ahli, aktivis yang sudah berseru, tentu, sebagai seruan para ahli, seruan itu pasti disertai altrnatif pemecahan plus baik buruknya alternatif itu. Kalau demikian mengapa pemerintah tidak melaksanakannya? Apakah karena pemerintah tidak mempunyai kemauan dan keberanian?

    Saran dari sdr. Tumpak Silalahi di atas sudah cukup. Lestarikan, promosikan, syukuri. Hal yang pertama dilakukan adalah mensyukuri. Kita harus bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kita alam yang begitu indah, tanpa harus mengeluarkan biaya dan tenaga sedikitpun untuk membuatnya seperti yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia untuk membuat Tasik Kenyir. Sebagai bukti dari rasa syukur kita kepada Tuhan, kita harus punya keberanian untuk melestarikan (memelihara serta mengembangkannya).

    Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Sumut (hariansib.2/4/08), ada tiga hal penting yang menyebabkan rusaknya ekosistem Danau Toba, yaitu: adanya usaha budidaya ikan system keramba, adanya kegiatan penambangan illegal di sejumlah lereng dan tebing danau oleh masyarakat, dan penggunaan Danau Toba sebagai tempat mencuci dan mandi.

    Kalau benar sisa-sisa pakan ikan budidaya keramba itu mengakibatkan tumbuhnya gulma enceng gondok dan lumut, maka tidak ada pilihan, kegiatan ini harus dihentikan.

    Memang sulit untuk melaksanakannya, karena ada 5,600 lebih kerambah di sekitar Danau Toba. Bila kegiatan ini dihentikan akan ada 5,000 lebih keluarga yang akan kehilangan matapencahariannya. Bila pemerintah mau, pasti ada pemecahannya dan tidak terlalu berat.

    Kegiatan tambang illegal itu juga harus dihentikan. Bagaimana mungkin kita bisa menghimbau pemerintah untuk tidak memberi ijin pengrusakan hutan yang akibatnya masih sedikit jauh ke depan, sementara tambang illegal itu sendiri memberikan dampak kerusakan langsung?

    Akankah ada wisatawan dari negara negar maju yang akan berkunjung ke Danau Toba bila mengetahui bahwa limbah masyarakat ditumpahkah ke Danau Toba, sementara di negaranya biar di gunung sekalipun tersedia septic tank dan portable restroom?

    Bilah hal itu dibiarkan terus, maka perekonomian masyarakat tidak akan meningkat melainkan akan semakin menurun. Tetapi bila tindakan dilakukan, penderitaan sementara akan menghasilkan perbaikan ekonomi dimasa mendatang.

    Mari kita mulai sekarang untuk melakukan segala kegiatan ekonomi hanyalah kegiatan yang tidak merusak lingkungan dan tidak mempengaruhi kesehatan manusia.

    Tanpa tindakan nyata atas tiga hal di atas, keindahan apa dari Danau Toba yanga akan kita promosikan?

  10. Saya sangat sedih ketika melihat danau toba itu dijadikan sebagai tempat maksiat, seperti yang dipraktekkan didaerah laguboti, balige (tenda biru). Sepertimya kita tidak bisa beharap dari pemerintah daerah untuk menanggulangi hal ini, karena sebagian dari mereka pun termasuk di dalamnya Jadikanlah danau toba menjadi bagian dalam kehidupan spiritualitas kita, maka saya yakin kita pasti akan sangat menghargai keberadaan danau toba itu

    *** Betul lae, mauliate

  11. Sihaloho berkata:

    Diskusi yang menarik !

    Menurut saya, untuk menjadi daerah tujuan wisata (dtw) dan menarik minat wisatawan domestik dan internasional, tidak cukup hanya keindahan alam saja, tetapi nomor satu adalah ATTITUDE masyarakat setempat (pedagang, supir taksi, pelayan hotel, dll).
    Saya sebagai orang batak yang sering berwisata ke Parapat dan daerah sekitar Danau Toba, merasakan inilah hambatan terbesar untuk menjadikan Danau Toba sebagai dtw.
    Di urutan kedua adalah dukungan Pemda setempat untuk mempromosikan pariwisata daerah tersebut.
    Buat Anda yang sudah pernah ke Bali, Thailand dan tempat wisata favorit lainnya, pasti bisa merasakan keramahan pedagang ketika bernegosiasi harga, pada umumnya mereka tidak marah kalau akhirnya tidak terjadi transaksi.
    Namun, yang saya lihat dan alami, kebanyakan pedagang di sekitar DT akan mengomel kalau tidak jadi transaksi apalagi kalau di calon pembeli sudah lama melihat-lihat dagangannya. Contoh lain adalah rumah makan yang menaikkan harga dengan tidak wajar kalau kita makan di tempat dengan memanfaatkan situasi bahwa makanan sudah dimakan oleh si pengunjung.
    Ini hanyalah beberapa contoh nyata yang sangat mengganggu kenyamanan para turis.

    Salam kenal buat semuanya….

  12. Bonar Siahaan berkata:

    @foreigners
    Bagaimana menjadikan mitos menjadi kenyataan?
    @SALNGAM
    Saya juga agak sependapat dengan anda, namun mari kita fikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki. Sebenarnya tugas ini harus dipikul oleh exekutiv dan legislativ baru masyarakanya dapat mencontoh. Tapi coba kita telusuri,apa sebenarnya yang ada dibenak mereka?
    @Sahat M Manullang
    Bisa saja PEMKAB SIMALUNGUN menghapus Danau Toba dari DTW sebab danau Toba bukan Danau Simalungun namanya saja sudah danau toba. Tapi hampir semua kabupaten menginginkan agar sebagian danau toba ada di daerahnya. Nah adakah Bupati,DPRD yang tidak tamat SLTA? Coba kita lihat bila beliau-beliau ini mengadakan sidang,aduuuuh…. kayak apa?
    Kalau kita-kita ini hanya menunggu dan menunggu siapakah gerangan yang bangkit memperbaiki danau toba? mari kita tanya rumput yang bergoyang atau boru saneang naga serta ampilas.

  13. Sudah saatnya kita ‘tersinggung’ bila ada pihak manapun yang bersikap melecehkan Batak, Orang Batak, Tanah Batak, Budaya Batak, dan lain-lainnya menyangkut Batak, tanah dan peradabannya, termasuk yang mengatakan keindahan Danau Toba sebagai mitos (!!!). Entah siapa si foreigner (salah satu pengomentar halaman ini) ini kita tak perlu urus. Tapi………sekali lagi tapi…’ketersinggungan’ kita mestilah ‘terstruktur’, artinya jelas alasannya dan jelas tujuannya. Nah, tujuannya inilah yang pokok. Dan, sasaran ketersinggungan kita diarahkan kepada kita sendiri dengan cara mengajukan pertanyaan baru kepada kita sendiri: “Jangan-jangan isi yang terkandung dari sipengejek (foreigner) itu maksudnya baik?” Karena, sebanyak apapun kata pujian ke Danau Toba, tidak akan menambah keindahannya. Sebaliknya, sebanyak apapun kata sumpah serapah atau ejekan tak akan memperburuk Danau Toba. Oleh karena itu, biar pemkab simalungun, atau sekalipun pemerintah Republik ini menghapus Danau Toba dari peta, Danau Toba tak akan lenyap.
    Yang justeru dapat merusak atau bahkan melenyapkan Danau Toba adalah TINDAKAN KITA (perantau, pemerintah setempat, masyarakat setempat) sebagai pemilik danau tsb. Dan sebaliknya tentu saja yang dapat mengangkat kejayaannya adalah TINDAKAN KITA SENDIRI! Tindakan apa itu? Kalau kita pemerintah, bukan pula anggota dewan atau pejabat daerah lainnya, maka mulailah dari yang sederhana, seringlah (setidaknya 1 x setahun) pergi ke Parapat/Tomok/Kampung halaman dan nginap di sana/hotel barang sehari dua hari(berkorban uang sedikit) biar hotel disana tidak mati! (Ini hanyalah salah satu contoh konkrit) Jangan ditiru kaum Batak lainnya yang bicara sampai berbusa-busa tentang tur ke Singapura, Hongkong bahkan Jerusalem…tapi giliran ditanya sudah pernah belum bawa keluarga ke Parapat? Jawabannya ngalor ngidul sembari cengengesan! Jangan ditiru itu. Kaum pemilik Hotel (hosomtealelatlate) ini harus lenyap biar Bangsa Batak maju. Horas!

  14. Ralat: pada komentar saya sebelum ini pada paragraf 2 baris keempat tertulis:’kalau kita pemerintah’ seharusnya: ‘kalau kita bukan pemerintah’ (maksudnya kalau kita-kita ini masyarakat biasa terutama perantau)

  15. Tetty Tampubolon berkata:

    Pertama saya mo bilang salut pada anak2 dan boru2 batak yg telah peduli sama tanah leluhur. Saya tdk menyangka banyak sekali website ttg tanah leluhur kita ini dan yg peduli ini adalah generasi muda ya.
    Saya ini org batak yg lahir dan besar di bandung, tapi orangtua saya terutama bapak sangat menanamkan budaya batak. Jadi saya punya rasa memiliki dan bangga juga dgn leluhur saya (budaya, tanah dll). Pulang kampung ke Tampahan pertama th 81 dan lingkungannya masih bersih bgt. Bangun pagi saya sudah duduk2 di pinggir bukit liat kapal2 yg sdg berlayar, mandi di pancuran airnya masih bersih bgt, bahkan saya turun ke bawah utk berenang di danau (rumah ompung kan agak di bukit, jadi seru juga turun ke bawah. Waktu itu saya masih SD). Th 90 saya ke sana ternyata sudah rusak lingkungannya. (kampungku sih gak, tapi sungai yg berada di pinggir jalan raya menuju ke sana sudah tercium bau limbah. bukit2nya dah gundul. Daerah pastinya saya kurang paham tapi saya rasa daerah yg dkt pabrik kertas itu x ya). Sedih rasanya melihat kondisi begitu.
    Saya sebetulnya punya impian untuk bisa menjaga kelestarian lingkungan disana dengan tetap bisa meningkatkan taraf perekonomian di sana. Mungkin mimpi ini terlalu tinggi, tapi menurut saya kalo masalah melestarikan lingkungan sudah menjadi kewajiban dan bukan lagi hanya mimpi.
    Untuk bisa mewujudkan mimpi ini, saya berencana pulang kampung pada akhir 08 untuk melihat kondisi saat ini (kumpulkan data awal) dan buat kajian lingkungan dan perencanaan lingkungan. Lingkupnya masih di kampung sendiri sih.
    Kalo kita mengandalkan aparat pemda mungkin akan susah atau tidak akan dilaksanakan pelestarian lingkungan ini. Bukannya mengecilkan arti mereka, tapi tugas mereka sudah cukup berat untuk hal-hal lainnya. Jadi mungkin ada baiknya dari kita2 dulu nih dan biasanya kegiatan seperti ini lebih berhasil dipelopori oleh orang awam/masyarakat yg punya keinginan. Seperti yg sudah banyak terjadi sekarang ini, contoh sampah organik yg bisa dibuat jadi batu bara sbg ganti minyak tanah, dll nya d.
    Yah inilah mimpi saya….. dan untuk ito Monang Naipospos, kalo punya studi Lake Toba Ecosystem Management Plan apakah saya boleh pinjam? Sebetulnya kalo penerapan perencanaan ini digabungkan dgn metode PRA nya, mungkin bisa jalan ya pelestarian lingkungannya.
    Ayo kobarkan terus semangat “SELAMATKAN DANAU TOBA”….HORAS…

  16. Marudut Pasaribu berkata:

    @Tetty Tampubolon

    Salut…atas kepedulian ito terhadap bonapasogit walaupun lahir dan tumbuh besar di bandung. Sekecil apapun yang kita lakukan terhadap bonapasogit akan tetap lebih berarti daripada tidak melakukan samasekali.

    Selamat bekerja…Horas

  17. Monang Ringo berkata:

    saya adalah salah satu orang yang berdosa, karena tidak mampu menjaga dan merawat gerakan pelestarian Danau Toba bersama kawan kawan LSM. Kegiatan Sporadis yang dlakukan oleh JICA dan juga munculnya LTEMP ternyata tidak mampu menggugah berbagai Kabupaten untuk sadar dan mau mengikuti gerakan yang pernah dibangun dan pernah saya ikuti. Karena di dalam kenytaannya semua Pemda hanya mengambil energy Danau toba ntuk di jual sebagai suatu bngkai proyek ambisius.
    Apa yang digambarkan Bung Monang Naipospos ( sahabat saya ). perlu kita cermatai ulang melalui suatu gerakan bersama dan berbasis rakyat yang merdeka untuk melestarikan Danau toba dan legenda Batak yang terkandung di dalamnya.
    Jika kita sepakat mari kita bangun gerakan seribu rupiah untuk membangun gerakan pelestarian Danau toba melalui program study kebijakan, Advokasi dan penyadaran Masyarakat, agar seluruh kegiatan yang merusak danau Toba dan ekosistemnya dapat di keluarkan dari Danau toba.
    Harapan saya kiranya Bung Monang Naipospos Dapat menginisiasi gerakan tersebut, sebab saya tau latar Belakang Bung Monang Naipospos , Cuman lagi apakah orang batak yang hidup di kawasan Danau toba dan juga para anak perantau yang besar dan sukses karena alam Danau toba yang di pakai sebagai energy untuk bersekolah dan kemudian sukses, mau bersatu dan peduli untuk gerakan seribu rupiah tersebut.
    Mari kita satukan gerakan kita.

  18. miduh hutabarat berkata:

    Aku setuju usul Tumpak Silalahi, dengan uraian Host, respon Tumpak yang harus dilakukan:

    1. Lestarikan
    2. Promosikan
    3. Syukuri bahwa kita memiliki danau yang indah ciptaan yang maha kuasa..

    masalahnya Langkah aksinya gimana ?

    Benar bahwa, baik itu secara induvidu, partukkoan, yayasan, paguyuban/koperasi/lsm/pemerintah;LTME/BKPDTE/dll
    cuman inikan jalan sendiri-sendiri

    aku setuju pandangan Prof. Bungaran Saragih..kita perlu belajar kembali untuk bekerjasama baik Pemerintah. swasta dan masayrakat.

    lalu gimana caranya ?
    Menurutku kita perlu juga inisiatori KTT danau Toba 2010 ?

    Kita persiapkan selama dua tahun ini
    gimana ?

    Miduk Hutabarat
    medan

  19. johnner pasaribu berkata:

    pertanyaan ,apa yang harus dilakukan utk perbaikan Danau Toba (DT), terus terang memang sulit tgl 1 dan 2 jan 09 kami kel cuti dan menginap di hotel parapat melihat pantai nya dan trotoar sangat kotor sepanjang jalan tdk ada tempat sampah pengunjung dengan seenak nya membuang sampah di danau kemudian jalanan sangat macet dari pintu harbangan sampai ke tempat pemandian memerlukan waktu berjam jam dan lebih parah lagi dipersinggahan kapal ferry di tomok banyak tumpahan oil di permukaan danau dan turun dari kapal ferry kita langsung berhadapan dgn preman dengan menarik paksa 1000 rph /org dengan alasan restribusi tapi tdk dilengkapi karcis restribusi katanya kesempatan hari libur karena hari biasa pengunjung sepi inilah fenomena danau toba dtw 2008 , seperti yg saya katakan diatas memang sulit utk perbaikan DT kalau aparat pemerintah setempat tdk membuka mata dan pikiran nya utk perbaikan DT melihat alam nya sangat menakjubkan tapi tdk diimbangi dengan SDM aparat setempat dan juga kepada pengunjung DT hendak nya jangan membuang sampah disembrang tempat terusterang budaya kita masih sulit menerima hanya himbauan mungkin perlu di buat aturan yang ada sanksi nya agar DT bisa bersih dari sampah dan juga mungkin pemda setempat bisa menertibkan keramba di pinggiran DT karena sangat menggangu pemandangan dan airnya dipinggiran DT bau amis kepada pak BUPATI mungkin bisa di carikan alternatif lain dari nelayan keramba agar masyarakat sekitar bisa hidup dan pemandangan DT bisa lebih indah dan air nya jernih kembali , kepada pengusaha keramba ( kata nya org kaya dr luar) sebaik nya sadar lah simpan lah keramba nya cari lah dari sektor lain untuk mendapatkan uang .
    horas horas Danau Toba tetap jaya dan mudah mudah an Danau Toba lebih hebat dari SWISS dan Bali dan bangkok dan malaysia
    TUAHN MEMBERKATI

  20. Danau Toba tidak kalah dan malah jauh lebih indah dan natural dibanding Bali..dan Objek wisata lain..
    Hanya satu yang kurang dari Danau Toba: yaitu sikap masyarakat sekitar danau dalam menerima dan menghargai para wisatawan mancanegara maupun lokal..Juga sikap dalam menghargai lingkungan dan cara mengeksploitasi nilai ekonomis alam.
    Kalau mau memoles Danau Toba maka Pemda memprogramkan pendidikan sadar wisata dan lingkungan kepada masyarakat sekitar Danau Toba.

  21. Liberius Sihombing berkata:

    Tak perlu lagi diragukan bahwa danau toba memang indah, semua orang yang pernah melihatnya pasti berkata demikian. Hanya saja, mental orang-orang yang berada di sana yang perlu diperbaiki. Jika suatu tempat ingin dikembangkan sebagai pariwisata maka bukan hanya tanah dan objek itu yang dipoles, tapi terutama mental orang-orang yang tinggal di sana. Apakah orang di Samosir misalnya bersikap ramah terhadap toris atau malah membuat mereka takut, misalnya dengan cara mengompas atau membuat harga jualan langsung meningkat selangit jika pembeli adalah orang asing? Kemudian hal yang penting adalah: kebersihan. Dimana-mana dikenal memang lingkungan orang Batak sebagai Bajoka (Batak Jorok Kasar). Santabi da, au pe halak batak do. Tetapi sebagai tujuan toris, unsur kebersihan menjadi harga mati yang tak bisa ditawar. Contoh sederhana: Sejak kecil 30-an tahun lalu sampai sekarang, pelabuhan ferry di ajibata dan tomok tetap seperti itu banyak abu, jorok, tak teratur tak beraspal, terlalu amatiran. Apakah pemilik perusahaan itu pernah berpikir untuk membuatnya lebih indah dan nampak lebih profesional? Padahal orang yang menyeberang dari sana bukan hanya orang lokal tetapi toris manca negara. Mari lakukan hal yang kecil dulu supaya hal besar dapat diperbaikik. Horas jala gabe

  22. adikara hutajulu berkata:

    Lakukan apa yang bisa di lakukan,sudah tidak saatnya lagi untuk berkomentar,harus begini dan harus begitu.Danau toba bukan hanya milik orang batak tetapi milik semua suku bangsa di seluruh dunia.Untuk itu jangan pernah menutup diri apabila ada pihak-pihak yang peduli akan danau toba.Dan semua yang peduli akan danau toba harus dengan lantang mengatakan “STOP PEMBALAKAN LIAR DI SEKITAR DANAU TOBA,BAIK DIDARATAN SAMOSIR DAN DIDARATAN SUMATRA

  23. bonar manalu berkata:

    Saya sudah pernah berkunjung ke LAKE GEORGE di negara bagian New York, USA.
    Terus terang keindahannya dibandingkan dengan DANAU TOBA kalah jauh. Namun tempat itu termasuk salah satu objek pariwisata yang dituju masyarakat di NY USA.
    Setelah membandingkan, saran saya, buat Pemerintah atau departemen setempat yang terkait, agar Danau Toba termasuk Pulau Samosir ini menjadi Daerah Tujuan Wisata, terutama adalah:
    Mengusahakan agar semua Pedagang. tidak membuka toko/warung, pada sebelah sisi/tepi danau langsung. Mengatur agar mereka ditempatkan berada di sisi sebelah lain.
    Tujuannya agar semua turis/wisatawan dapat melihat keindahan Danau langsung dari jalanan. Dan tentu saja lebih tertata rapi & bersih.

  24. Gom Tobing berkata:

    Apa yang disampaikan oleh Foreign itu perlu menjadi bahan introspeksi. Memang wajar jika banyak yg marah dgn ke”polosan”nya berkomentar ttg danau Toba. Tapi, bisa saja bahwa Sdr. Foreign adalah bukan orang batak, dan menggunakan kacamatanya sebagai konsumen/wisatawan. Jadi, apa yg dirasakannya perlu menjadi pemikiran, bukan pertentangan, bagaimana Danau Toba yang Indah-katanya itu menjadi memang benar-benar indah. Indah dalam arti bukan hanya SDAnya namun, segala infrastruktur, fasilitasnya, Keramahan, dll sebagai salah satu tujuan wisata (yang secara singkat dijelaskan oleh Sdr, Salngam.)
    Kalau secara pribadi, saya sangat suka jika ke Danau Toba, saya bisa menemukan ketenangan saat disana. Namun, saya juga memimpikan Danau Toba , Tao na Uli milik kita itu berbenah diri, agar semakin cantik, bukan hanya molek.. Horas.. Horas..

  25. Gom Tobing berkata:

    Satu lagi, Pemerintah Daerah khususnya kepala-kepala daerah seprti Bupati, Wakil Bupati Samosir, apa tidak sakit matanya dgn kondisi infrastruktur sebuah daerah wisata penting seperti Danau Toba?
    Saya sangat yakin, mereka pasti pernah ke Bali, dan keluarnegri melancong.. masa tdk ada tergerak hati untuk melakukan sesuatu untuk DanauToba? Seprti apa yang dilakukan oleh pemerintah2 daerah2 di daerah wisata lainnya.
    Yang ke-2, Putra-Putri yang berasal dari sekitar Danau Toba pastinyakan sudah banyak yang berhasil… Kalau bukan mereka, terus siapa lagi yang perduli dan melakukan sesuatu untuk kampung halamannya??
    Ini pertanyaan sedrhana aja, daripada ngalor ngidul..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s