OPERA DANAU TOBA DIPENTASKAN DI BATAM

Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) 3 April lalu berangkat ke Batam untuk mementaskan garapan terbaru yang berjudul Opera Danau Toba. 11 dari 16 personil yang sebelumnya dipersiapkan dalam garapan itu berangkat dari Medan via kota Dumai. Di Batam pentas dipersiapkan untuk dua tempat, yakni Alun-alun Engku Putri Batam Centre dan Rumah Hitam Sekupang.

Pentas di tempat pertama telah berlangsung malam 5 April 2008 dengan fasilitasi Ikatan Keluarga Besar Sumatera Utara (IKABSU) yang diketuai Jasarmen Purba. Di tempat itu ribuan penonton yang menyaksikan Opera Danau Toba adalah masyarakat Sumatera Utara serta tokoh-tokoh penting di Batam, seperti anggota legislatif dan perwakilan gubernur Kepulauan Riau. Mukhlis Paeni, Dirjen Nilai Budaya, Seni, dan Filem (NBSF) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata juga hadir dan sengaja datang untuk menonton bersama stafnya serta Dr. Pudentia MPSS, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta. Kehadiran mereka terutama karena dalam Opera Danau Toba ini PLOt turut membawa dua maestro Opera Batak, yakni Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap.

Pentas Opera Danau Toba malam itu dianggap mampu mengobati kerinduan masyarakat Sumatera Utara akan kampung halaman. Menurut perwakilan legislatif kota Batam dalam sambutannya, warga Sumut yang ada di Batam saat ini mencapai 40 % dari jumlah penduduk Batam dan ada 11 anggota legislatif yang berasal dari Sumut sangat berpengaruh untuk menentukan kebijakan-kebijakan di kota Batam. Hadirnya Opera Danau Toba malam itu memang menjadi semacam ajang informasi tentang kekayaan kultural Sumatera Utara dan peran warga Sumut di kota Batam. Garapan Opera Danau Toba juga memang ingin menunjukkan kekayaan itu, terutama sisa keindahan Danau Toba dari sudut pertunjukan seni Opera Batak dan media filem.

Sebelum pertunjukan itu dimulai tari Lima Serangkai diperkenalkan juga sebagai tanda kekayaan itu. Tari Lima serangkai ini menggambarkan kekayaan lima puak (Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pakpak) dengan lima orang penarinya (Erliani Silaban, M.Suwarsono, Imelda Manurung, Jones Tarigan, Lamtiar Nainggolan).

Di tempat kedua PLOt akan pentas (7/4) untuk penutupan Rumah Hitam Art Andalas Festival (RAAF) dan Temu Sastrawan Sumatera (TSS) yang telah berlangsung sejak 31 Maret lalu. Namun durasi di tempat kedua ini dibatasi sekitar 45 menit karena pertunjukan-pertunjukan lainnya akan mengisi penutupan acara.

Opera Danau Toba menceritakan situasi sekitar Danau Toba secara audio visual dan menampilkan asal-usulnya berdasarkan cerita rakyat. Audio visual menghantar pertunjukan dengan alur mundur sebelum penampilan cerita rakyat muncul dengan gaya Opera Batak. Asal-usul Danau Toba menurut cerita rakyat bermula dari cerita seorang anak yatim piatu bernama Burgus.

Pekerjaan Burgus adalah penangkap ikan. Suatu ketika dia mendapat seekor ikan yang dapat berbicara dan konon diutus Mulajadi Nabolon, Tuhan Pencipta langit dan bumi. Ikan itu menyampaikan kepada Burgus agar tidak usah menjualnya. Namun setelah tujuh hari dapat dijumpai di dangau. Rupanya ikan itu menjelma seorang perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Mereka sepakat menjadi suami-istri dengan sumpah agar Burgus jangan sekali-kali mengucapkan keturunan mereka sebagai anak ikan. Namun setelah sekian tahun mereka punya seorang anak sumpah itu dilanggar oleh Burgus karena nasi yang seharusnya untuk dia disantap berkali-kali oleh anaknya.

Rasa lapar memang dapat menimbulkan amarah. “Dasar anak ikan kau,” begitulah amarah Burgus kepada anaknya. Kemudian anaknya itu segera berlari pulang ke rumah untuk memberitahu hal itu. Si ibu pun sadar kalau Burgus telah melanggar sumpah. Disuruh anaknya agar menuju tempat yang lebih tinggi sebelum permohonannya meminta bencana untuk menimpa tempat dia berpijak dan kampung itu. Hujan, gemuruh, guncangan bumi, dan lahar menjadi pertanda bencana itu. Burgus pun tenggelam dan berakhir oleh bencana itu.

Semuanya itu digambarkan kembali dengan audio visual sampai situasi Danau Toba akhir-akhir ini. Teks dan garapan ini ditulis dan disutradarai Thompson Hs dan pernah diajukan ke Festival Fringe Esplanade di Singapura tahun lalu. Namun karena belum terseleksi garapan ini dipersiapkan kemudian atas undangan panitia RAAF dan TSS di Batam. Selesai pentas di Batam Opera Danau Toba akan ditampilkan di kota Siantar 12 – 13 April 2008 dalam rangka ulangtahun Metro Siantar.

Iklan

4 thoughts on “OPERA DANAU TOBA DIPENTASKAN DI BATAM

  1. Bonar Siahaan berkata:

    Salut buat Thomson HS yang konsisten terhadap opera batak. Teruslah berkarya,dan kalau ada pementasan di daerah TOBASA tolong sms saya dan keluarga akan hadir bila memungkinkan.

  2. parulian simamora berkata:

    terimakasih atas didatangkannya opera batak kepulau batam atas nama ketua perserikatan suku batak di lobam

  3. Hutabarat berkata:

    tarima kasih atas datangnya tim opera batak toba. tetapi sy ingin menanyakan suatu hal,masih tertarikkah generasi skrg menonton budayanya sendiri tidak kah mereka lebih tertarik nonton sinetron yg di produksi oleh kalangan selebritis. dan bagaimana cara anda membuat kalangan muda utk tertarik menyaksikan pagelaran opera batak yg hampir terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s