Keputusan Merlin

Suhunan Situmorang

SEKUAT tenaga Merlin menenangkan dirinya yang mulai goyah melanjutkan keputusannya. Dibacanya lagi tiket Lion Air yang ia beli setiba di Bandara Polonia, seakan belum yakin jam keberangkatan pesawat terakhir yang akan ditumpanginya. Ia berusaha keras untuk meyakinkan dirinya bahwa keputusannya tak salah. Bilapun sanak-saudara serta orang sekampungnya akan menyalahkan dan menganggap dirinya keterlaluan dan kejam, apa boleh buat. Hidup harus memilih, sepedih apapun akibatnya.

Onan Runggu harus ia tinggalkan. Baginya, desa yang sesungguhnya indah berkat panorama Danau Toba dan perbukitan tinggi yang mengitarinya itu, tak ubahnya penjara yang mengurung dirinya sekian bulan. Kepergiannya dari desa yang terletak di selatan Samosir itu tentu tak diketahui janda 68 tahun yang sudah sembilan bulan tergeletak di rusbang kayunya. (Airmata Merlin menetes lagi setelah sekelebat terlintas wajah tipis perempuan tua itu; juga mata yang terus memandang hampa ke langit-langit rumahnya dengan mulut menganga).

Sebelum pergi, diciumnya kening perempuan tua itu seraya membisikkan ‘maaf’ dan ‘semoga Tuhan menyembuhkanmu.’ Langkahnya hampir dijegal airmata perempuan yang melahirkannya 37 tahun lampau itu; seolah tahu akan ditinggal anak gadisnya. Merlin tak goyah, walau harus berjuang keras untuk meneguhkan niatnya. Bukan karena tak iba lagi dirinya melihat penderitaan ibunya, bukan pula karena tak menyayanginya. Ia merasa tak mampu lagi mengalahkan sebuah dorongan yang gencar membuncah dari dalam dirinya: kembali ke habitatnya di Jakarta.

Padahal, enam bulan lalu, sukarela ia tinggalkan kantornya walau jabatannya lumayan bagus di perusahaan pembuat perangkat telekomunikasi itu. Ditinggalkannya pula kehidupan yang dibayangkan orang-orang, mapan dan menyenangkan, walau sebenarnya tak selalu demikian. Ia turuti permintaan kakak-kakaknya untuk merawat ibu mereka yang mendadak lumpuh dan kehilangan memori ingatan karena stroke, dan menurut diagnosis dokter RS Elisabeth Medan, tipis harapan sembuh.

Selain kasihan dan ingin berbakti-yang sejak lumpuh hanya mengandalkan perawatan dua kerabat dekat yang ia panggil namboru dan Rosinta, putri sepupunya, sementara mereka pun harus mengurus keluarga masing-masing dan bekerja di sawah-tinggal dirinya yang paling bebas dan bisa berlama-lama di Onan Runggu.

Empat kakaknya dan dua adiknya sudah menikah semua; beristri, bersuami, punya anak, memerlukan pengurusan. Tambah lagi, domisili mereka amat jauh dari Samosir: Tanjung Karang, Samarinda, Jakarta, dan Semarang. Sementara, tak satu suster dari Medan atau Siantar pun bersedia merawat ibu mereka, meski sudah ditawari bayaran mahal, barangkali karena lokasinya terpencil di bumi Samosir dan jauh dari kota. Tak mungkin pula ibu mereka dibawa dalam keadaan lumpuh ke salah satu kota hunian anak-anaknya. Merlinlah satu-satunya yang bisa diharapkan. Statusnya masih lajang, tak ada yang keberatan bila ia pergi berlama-lama.

Sejak tiba di Onan Runggu, sepenuh kasih ia rawat ibunya. Setidaknya dua tiga kali sehari tubuh yang kian mengecil itu diangkatnya, dipangku, dilap, dibersihkan, agar segar dan tak bau. Juga menyuapkan bubur, air, buah, obat. Pekerjaan mencuci baju, menyetrika, memasak, membersihkan rumah, pun harus ia lakukan, karena Rosinta hanya bisa diharapkan sepulang sekolah, itu pun bila tak langsung diminta ibunya bekerja di sawah. Kerap pula ia terbangun saat tidur nyenyak. Biasanya karena ibunya mengigau, terkadang karena mencret. Meski mulanya risih, ia sudah terbiasa membersihkan tinja bercampur urin yang begitu saja diserakkan ibunya di kasur kapuk yang sudah bergelombang itu. Juga mendengus bau yang memualkan perut dan mengundang muntah itu; bau yang terus menguap dari kasur kapuk ranjang yang tiada henti ditiduri ibunya, padahal spreinya selalu diganti dan sudah pula dilapisi perlak.

Telah berbulan-bulan pula ia dengar suara erang itu, hingga telinganya begitu hafal dan terkadang seperti mendengar (yang sebetulnya tak ada) tatkala ia sibuk mencuci pakaian di perigi belakang rumahnya, atau ketika menatap hamparan sawah dan panorama Danau Toba dari jalan raya di depan rumahnya sekadar melegakan kelelahannya. Biasanya, bila ibunya mengerang kesakitan, akan ia elus-elus kening, lengan, dan punggung ibunya, sembari membisikkan kata-kata penghiburan dan ajakan berdoa. Terkadang ia nyanyikan sebait kidung rohani ke telinga ibunya. Semua itu ia lakukan dengan tulus, meski awalnya tak mudah.

Namun, memasuki bulan kelima, tiba-tiba ia diserang rasa kesal dan amarah atas kegiatan yang setiap hari harus dilakoninya. Bertubi-tubi pula pikiran-pikiran liar mengganggu hatinya. Pikiran-pikiran yang begitu gencar menggugat: mengapa hanya dirinya seorang yang dibebani mengurus ibunya. Ia mulai tak sabar merawat ibunya, kian sering mengumpat anak-anak ibunya, karena menurutnya tenang-tenang bersama pasangan dan anak masing-masing, sementara ia harus siaga 24 jam. Siang-malam ia berkutat di seputar kamar tidur, dapur, kalau tak di sumur.

Semakin hari, pikiran-pikiran liar itu kian gencar menghinggapi benaknya, mempertanyakan kelanjutan masa depannya. Akhirnya ia tiba pada satu kesimpulan: telah dikorbankan saudara-saudara kandungnya, hanya karena statusnya masih lajang. Ini sangat tak adil, gerutunya di hati. Anak-anak ibunya yang lain seolah tak diwajibkan melakukan sebagaimana yang sudah berbulan-bulan ia lakukan, hanya karena mereka punya rumahtangga. Ia merasa anak-anak ibunya begitu tega memunahkan masa depannya, tak peduli masa depannya, tak mau tahu kelelahannya, juga kebosanannya berdiam di sebuah desa yang amat sunyi dan hanya dikelilingi hamparan sawah serta kuburan besar.

Ia bukan tak berterimakasih pada kakak-kakaknya. Berkat bantuan merekalah bisa ia lanjutkan sekolahnya, walau ada imbalan yang ia berikan. Selama menumpang di rumah mereka untuk melanjutkan SMA, semampunya ia bantu mengurus rumah dan anak-anak mereka. Tak dipungkirinya bahwa ijazah SMA itulah modal utamanya ketika melamar sebuah pabrik elektronik milik pengusaha Jepang hingga bisa menabung untuk membiayai kuliahnya di fakultas ekonomi sebuah universitas swasta. Tetapi, lonjakan karirnya hingga bisa berposisi manajer madya akuntasi di perusahaan yang sudah ia tinggalkan, tak lain sebagai ganjaran atas kerja keras dan loyalitasnya.

Bukan kemauannya pula bila masih melajang hingga usianya bertengger di angka 37. Jodohnya saja yang belum datang, dan itu bukan karena kesalahannya. Kendati umurnya kian mendekati titik rawan, masih tetap ia nyalakan harapan, akan menemukan lelaki idaman, lalu menikah dan punya anak. Bukan seperti tuduhan sanak-saudaranya: ia keasyikan bekerja dan terlalu ambisius mengejar karir hingga abai berumahtangga. Sesungguhnya masih tetap ia impikan datangnya kesempatan yang diidamkan hampir setiap wanita itu, walau tak harus blakblakan diungkapkan.
Sambil menunggu, ia habiskan waktunya memperdalam bahasa asing dan pengetahuan akuntasi, di waktu senggang membaca majalah atau novel dan sesekali bercengkerama dengan teman-teman sekerja di berbagai mal. Untuk menjaga kebugaran tubuh dan wajah, ia ikuti fitness di Ratu Plaza dan sekali sebulan creambath dan facial di salon langganan. Untuk membuang kepenatan, Jumat sore menonton film di bioskop 21, lalu dilanjutkan mengunjungi kafe yang menyajikan musik top-fourty atau jazz hingga larut malam.
Jadi, bukan karena tak dikehendakinya lagi menikah dan bukan pula karena belum menemukan jodoh maka sukarela ia pulang ke Onan Runggu; meninggalkan sebuah jabatan yang diidamkan banyak karyawan, melupakan sebuah kehidupan yang diimpikan banyak orang. Tekadnya hanya satu: merawat ibunya sebaik-baiknya.

***

ANEHNYA pikiran-pikiran liar itu tak kuasa lagi dienyahkannya. Rutinitas yang berbulan-bulan ia lakukan, tak ubahnya penjara yang mengerangkeng hak-hak pribadinya. Ia sudah jenuh dan benci melakoni kegiatan sehari-harinya, juga tak toleran lagi mencium bau kasur yang memualkan perut itu. (Bau itu bahkan seperti mengikutinya hingga ke ruang tunggu Bandara Polonia, mengalahkan sisa aroma parfum yang ia semprotkan ke lehernya sebelum menaiki kapal kayu bermesin yang menyeberangkan dirinya ke pelabuhan Ajibata).
Bahkan pikiran-pikiran yang lebih liar acap mampir di benaknya, di sudut pikirannya terkadang mengharap kematian ibunya ketimbang tersiksa, walau sesudahnya perasaan bersalah akan mencabik-cabik sanubarinya.

Namun, kehidupannya di Jakarta sudah kelewat dirindukan hatinya, juga kangen suasana kerja di lantai 19 sebuah gedung pencakar langit di Jalan Sudirman. Tak sabar lagi dirinya mengunjungi toko-toko baju, tas, sepatu, parfum, yang dikemas mewah di sejumlah mal dan plaza. Onan Runggu tak bisa lagi menahan dirinya. Kampung kelahirannya itu tak mampu memberi satu orang pun yang cocok untuk temannya bersendagurau dan berbagi cerita. Pun tak menyediakan sebuah kafe untuk minum kopi cappuchino sambil membaca. Ia sudah kangen menceburkan dirinya di lautan pergaulan kosmopolitan, penasaran mengetahui film-film Hollywood terbaru, berselancar di dunia maya, membaca email dan berkomentar di milis.

Desa berhawa sejuk yang dikelilingi hamparan sawah dan bentangan danau yang amat luas itu hanya menawarkan kesunyian, lenguh kerbau, kotek ayam, dengus babi, gonggongan anjing, kicau burung, dan… rintih perih seorang ibu tua yang dilumuri derita.

Betapapun hatinya pedih, ia harus pergi. Kepada dua namboru-nya dan Rosinta, keponakannya, ia mohonkan agar sudi merawat ibunya. Berkali-kali ia jelaskan alasan kepergiannya ke Jakarta, namun tak berterusterang bahwa dirinya sudah jenuh mengurus ibunya dan merindukan kehidupannya di ibukota. Ia titipkan pula sejumlah uang untuk membeli makanan dan keperluan ibunya, selain imbalan sekadarnya atas jerih payah mereka. Janjinya, ia akan terus mengirim uang, susu, obat, vitamin, namun tak mengatakan kapan kembali ke Onan Runggu. Tak lupa ia ingatkan agar segera menelepon ke HP-nya atau saudaranya yang lain bila terjadi sesuatu pada ibunya. (Tiga nomor telepon sengaja ia tulis besar-besar dengan spidol biru dan ditempelkan di dinding sebelah kanan tempat tidur ibunya).

KEPUTUSANNYA yang sudah bulat itu, ternyata tak mudah dilakoninya. Sepanjang jalan menuju Medan airmatanya terus menetes, mengherankan dua penumpang bus Muara Nauli yang duduk di sampingnya. Ia merasa tubuhnya masih terus dikerangkeng Onan Runggu, kedua matanya pun terus menyaksikan ibunya tergeletak tak berdaya di kasur kapuk itu. Di telinganya bahkan seperti terus mengiang rintih pilu sang bunda; memanggil dan mencari-cari Merlin supaya punggungnya yang sudah melepuh karena kelamaan berbaring, dielus-elus.Airmata Merlin kembali menetes, kelopak matanya membengkak.

Tak disadarinya para penumpang Lion Air sudah memasuki kabin pesawat. Ia terhenyak ketika petugas perusahaan penerbangan yang akan ditumpanginya menyeru panggilan terakhir bagi penumpang tujuan Jakarta. Ia panik, lalu bergegas mengangkat tas tentengnya yang lumayan berat. Tangga pesawat sudah kosong dan tinggal didorong petugas bandara agar menjauhi badan pesawat. Merlin berlari seraya melambaikan tangan. Untunglah seorang petugas menyongsong dan mengambil-alih tas yang ditentengnya.

Napasnya terengah-engah saat menelusuri lorong kabin. Hampir semua penumpang mengalihkan pandangan ke arah dirinya. Ia gugup mencari kursi 27 A. Buru-buru ia masukkan tas tentengnya ke bagasi kabin lalu duduk seraya memasang seat-belt ke tengah pinggangnya. Tak lama kemudian roda-roda pesawat bergerak, bersamaan dengan pengumuman pramugari agar penumpang tidak mengaktifkan handphone selama penerbangan. Merlin tergesa mengeluarkan telepon selulernya dari tas kecilnya. Di layarnya terlihat sebuah miscall dari nomor telepon yang tak dikenalinya. Ketika jari tangannya hendak mematikan HP-nya, tiba-tiba terdengar nada dering.

“Hallo…, siapa ini?” ucapnya dengan napas memburu.
“Kau ini, Merlin?”
“Ya, saya Merlin. Siapa ini?”
“Aku tulang-mu, Bere! Amani Nober, dari Onan Runggu!”
“Ada apa dengan omak, Tulang?”
“Baru saja pergi, Bere! Baru saja! Sudah di mana kau sekarang, Bere?”

Merlin tak menyahut. Ia termangu dengan mulut menganga. Jantungnya berdentum hebat, tatap matanya hampa, sekujur tubuhnya mendadak lemas. ***

( Diilhami perjalanan ke sebuah desa yang indah, kampungnya marga Harianja, Onan Runggu, awal Februari, 2008 )

Sebelumnya ; Kebaya Pengantin ; Permintaan Marojahan ; Cucu Panggoaran

* Suhunan Situmorang adalah penulis novel SORDAM

Iklan

32 thoughts on “Keputusan Merlin

  1. Nice story to read. Mengingatkanku utk menelepon mamaku di Medan sana pagi. Mauliate Bang Suhunan, Mauliate bang Monang ^_^

    *** Ya ito,… semoga tidak terjadi lagi seperti nasib Merlin ini.

  2. Hodbin Marbun Lbn Batu berkata:

    Mauliate to Tulang Suhunan.S

    Ini sebuah Sunggul-sunggul kepada pembaca,agar menjadi bahan renungan, Orang Tua adalah Tuhan(Debata) yang Hidup. Sorga adalah dibawa Telapak kakai Ibu (Inong,Oma)

  3. Makasih ya Abang, bagus sekali Bang karyamu ini. Jaid ingat Mama & Bapakku sekarang di rumah. Ya sepertinya besok aku akan pulang menemui mereka. Pray for us. mauliate Bang.

  4. Anson Simanjuntak berkata:

    Tabu situtu antong cerita muna on Lae, Molo dibereng sian gambar ni Si Merlin On, Nauli ma nian Rupana, alai dang sarupa ulina to rohana.
    Ido ra namambahen so marna muli ibna.
    On nama namasa saonnari Khususna diakka Pinopparna naung mamora jala gabe.
    Molo tung pe tujolona ditogu natua-tuanai, tong do tu panti jompoi titiphon nonna alani kesibukan dohot gaya hidup.
    Horas ma dihita sudena.

  5. Lungun nai, mansai lungun. Dipesta, di Gorga 2 do ahu nuaeng manjaha on mamangke Dopod. Ndang hupaihut ihut be ulaon on. Gabe lungun hu hilala. Niingot muse da inang naung lam matua pamatang na.

  6. arso dohape berkata:

    Manetek ilu so binoto lae. Na girang-girang i bahen hamu turi-turian i sahali nari lae, jala mardongan poda atehe.

  7. Hendry Lbn Gaol berkata:

    Imadah Amang,..

    Ai nga godang sisongoon sarita binege, jala sada halungunon do nian molo so boi niurus natua-tua i. Ni ingot ma nadihutaan, ai adong dope namatua dijabu, nga 95taon tu ginjang, jala amang dohot inang do mangurus dihuta, nunga oseon.

    molo lao sikkola, mangajar, natua-tuaon, ikkon dikucci ma dibagasa kamar oppung on, ai molo so i, olo do lao mardalani, jala biar roha marnida molo mago di hauma dipudi ni jabu i.

    Dang tardok manang aha, ai molo ikkon mangurus oppung on do amang di jabu, bohama, tong do mangajar,….

    jiaha suhutan on, gabe ro pangauon tu diriniba…

    ido sipata, attar sarupa do ra sitta-sitta ni roha tu amang Situmorang on, molo nga bosan di pagarattoan on, mulak ma nian tu huta, asa adong mangurus natua-tua i,…….

    Jai andorang poso dope natua-tuai saonari, ba pinapuas-puas ma na mangaratto on…..

    Dangi na ruhamuna amang??

  8. Marudut Pasaribu berkata:

    Bah…gabe mello iba di ari senin pagion dibaen lae situmorang on. Salut aku dengan tokoh merlin ini, mau mengorbankan kehidupannya demi merawat sang ibu. Walaupun setelah beberapa bulan akhirnya dia bosan, jenuh dan merasa dikorbankan oleh saudara-saudara sekandungnya, adalah perasaan yang sangat manusiawi. Hanya seorang ibu yang sangup berkorban secara total kepada keluarganya, bahkan seorang ayahpun masih diragukan loyalitasnya.

    Rumah jompo adalah suatu alternatif. Memang bagi orang batak, menempatkan orang tua di rumah jompo masih dianggap tabu. Tapi kalau kita mau lebih terbuka, di rumah jompo inilah orang tua bisa lebih dimanusiawikan, ada orang-orang profesional secara skill dan mental yang siap merawat dengan kasih sayang ,yang kita sendiripun belum tentu sanggup melakoninya.

    Mauliate, Horas

  9. Foreigners berkata:

    IYA Elah…. ceritanya katro banget seh,,,,,,,,!!! Ngak kreatif banget. Cuman mengungkapakan kehidupan sehari-hari…………Nggak ada nilai lebihnya, membuat orang hanya terlena doank dan nggak ada unsur2 motivasi didalamnya.

    Nggak ada bedanya dengan sinetron Bajaj Bajuri……..

  10. Marudut Pasaribu berkata:

    @Foreigners

    Kayak tukul aja…hehe…Bung, apakah ada cerita yang tidak berasal dari kehidupan sehari-hari? Suatu cerita adalah buah kreatifitas dan imaginasi. Tidak semua orang bisa menghasilkan suatu karya (cerita). Perlu sensitifitas untuk bisa menangkap fenomena kehidupan dan perlu ketrampilan untuk bisa menuangkannya ke dalam tulisan yang bisa dinikmati orang lain.

    Mungkin anda punya kemampuan mengarang suatu cerita yang lebih baik, tapi sayang aku belum meliahtanya di blog ini. Maukah anda berbagi kepada kami? Percayalah, apapun yang anda hasilkan pasti akan kubilang bagus karena aku selalu menghargai karya seseorang. Bukan kualitasnya yang kuhargai tetapi prosesnya dan yang lebih penting lagi adalah sisi humanisnya.

    Horas

  11. Sintong Sinambela berkata:

    Kondisi yang dihadapi Merlin memang sangat dilematis. Saya menjadi teringat ketika ibu saya memaksa untuk pulang ke kampungnya/rumahnya setelah selesai operasi kanker. Dokter telah memperkirakan usianya, dan semua anaknya sudah ada di Jakarta. Walau kita telah berjaji akan membawanya pulang apabila dia sampai meninggal di Jakarta, namun tetap memaksa untuk pulang. Suatu perjuangan batin yang dalam harus terpaksa meluluskan permintaannya. Dan ternyata 6 bulan berikutnya dia meninggal ….. di rumah sakit!!!! Bukan dirumah yang dipungkanya.

  12. Ceritanya manungguli ate2. Aku termenung sejenak, apakah aku akan tetap setia merawat ayah dan ibuku kala mereka sudah tua dan tak berdaya..?
    Aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan tetap memberiku hati dan Roh yang benar agar aku bisa melangkah di jalan yang benar. Agar aku tak menjadi anak durhaka sampai ajal menjemputku.

    @Foreigners
    Selalu saja ada orang yang tak menyukai orang lain.
    Jangan patah semangat Tulang Suhunan, tetaplah berkarya karena tidak semua orang punya talenta seperti itu.

    Very nice story..

  13. suhunan situmorang berkata:

    @Lidya Hutagaol
    Mauliate muse hudok tu ho ito, tung mansai las rohakku molo boi ceritani si Merlin on manambai holongmu tu inang pangintubumu.

    @Hodbin Marbun
    Mauliate lae Marbun, sai hira nahutanda lae bah… Ai par Pangururan do tahe lae?

    @Si Tasha
    Mauliate muse hudok tu ho itonan, tetap semangat namarsiajar bahasa dohot budaya Batak i ate.

    @Anson Simanjuntak
    Lae, cerita songon pengalaman ni si Merlin on, sasintongna godang do terjadi di halak hita. Hami pe hampir mangalami. Thn 1996, opname 4 bln di RS Cikini dht RS UKI dainang ala sahit diabetes parah (hampir diamputasi). Sai dipangido natua-tuaon mulak tu Samosir, masihol inna mamereng jabuna di Pangururan. Leleng do hami mamutushon, piga hali marrapot, pola do dijou hami hula-hula Nainggolan (Lbn. Raja) dohot akka dongan tubu Situmorang. Tung mansai maol mambahen keputusan: oloan nami do pangidoanna mulak tu Samosir manang dang. Molo dioloi, ise ma mangurus alana ianakhonna di pangarantoan do; molo dang dioloi pangidoanna, mabiar hami mardosa. Dilematis. Sempat do terjadi perdebatan antara au dht siangkangan nami. Au setuju pangidoanni natua-tuai(alana infus pe nunga ditolak pamatangna, jala dang olo be mangan), sementara dahahang mencemaskan: proses mamboan sian Jkt tu Mdn-Samosir yg sangat riskan, jala ise ma mangurus di huta. Dilului akka tondong do suster di Medan, alai dang adong naolo. Sebetulnya, kami kurang yakin saja dengan kehendak Tuhan, terlalu mempertimbangkan banyak hal dan mengandalkan rasio. Buktinya, dua minggu dung sahat tu Samosir, persis tgl.1-1-1997 pkl.3, marujung ma ngoluna, disaksihon damang dht sude ianakhonna dht puluhan pahompuna. Las hian do rohana dung sahat ambulans namamboan sian Medan di fery Ajibata-Tomok. “Sabas bah huhilala, mansai lumbang andorangku dung huanggo uap ni tao Toba nauli on…,” inna huhut mengkel. Ternyata, kekhawatiran kami (terutama ise mangurus, berbulan-bulan), tidak terbukti.

    Tolu taon nasalpu, topet mulak au tu Pangururan, hombar ni jabu nami, marsahit songon sahitni inongni si Merlin. Stroke, lumpuh, dan… (santabi)kasurnya sangat bau krn endapan urin dht kotoran. Asi hian rohangku mamereng partinaonanni parnamboruan on, peak marbulan-bulan di podomanna. Dang ditanda ibana be manang ise naro mandulo, morong-orong arian borngin, pamatangna lam marmetmet. Sude ianakhonna akka naboi do di Jakarta, alai holan hepeng do inna ditongos laho marsiubat dht tu namanjaga.

    Mansai jotjot do ro tu pingkiranku pengalaman parsahitonni dainang dht hombar jabu nami na di Pangururan i. Ingin menuliskannya dlm bentuk fiksi, anggiat boi semacam renungan manang bahan pemikiran tu angka pangaranto. Sapandapot do ra lae bhw masalah songon on dang mura adopan; anggiat ma dang ta alami sisongoni marsogot haduan.

    @Charlie Sianipar
    Dang na husangaja mambahen tarlungun-lungun ho laekku naburju 🙂

    @arso dohape
    Olo lae bah…, husurat pe nagirang-girangi, dipaima lae ma; jotjot ma ro lae tu lapo ni lae Naipospos on ate.

    @Pahala Panjaitan
    Pogos pe hita diparartaon, naumporlu asalma mora di parrohaon dohot holong lae 🙂

    @Hendry Lbn.Gaol
    Lae, songon situsi ni ompung boru ni lae ima ompung boruni inangbaomu pitu taon nasalpu, di Sibolga. Boha bahenon lae, sabar ma angka pomparanna, tanggungjawab ta tu Debata doi. Alai molo siat pangidoan, unang nian sampe songoni ta alami molo tung dilehon namarhuasoi umur naganjang tu hita ate.

    @Marudut Pasaribu
    Dang mellow be perasaanni lae, kan? Andigan ma tadorguk JD i, lae? 🙂

    @Sintong Sinambela
    Sapandapot do hita lae…, songon na hupatorang saotik tu lae Anson Simanjuntak. Mauliate di tanggapanni lae.

    @Gloria Limbong
    Porsea do au ito br Limbong, pasti boru naburju do ho. Unang lupa ho mangirim sebagian gajimi tu orangtua da; bukan soal jumlahnya dan mungkin mereka tdk butuh, tapi…perhatianmu yg tulus, begitu luarbiasa nilainya bagi orangtua.

  14. @: Foreigners
    Foreigners, di/pada April 30th, 2008 pada 1:08 am Dikatakan:
    ” IYA Elah…. ceritanya katro banget seh,,,,,,,,!!! Ngak kreatif banget. Cuman mengungkapakan kehidupan sehari-hari…………Nggak ada nilai lebihnya, membuat orang hanya terlena doank dan nggak ada unsur2 motivasi didalamnya.
    Nggak ada bedanya dengan sinetron Bajaj Bajuri…….. ”
    ——————————————————————————
    Anda bebas berpendapat tanpa meninggalakan id yang jelas.

    Tapi kita juga mau tau kemampuan anda menulis cerita, silahkan posting di blog ini atau ditempat lain dengan id yang sama. Bila bagus kita ancungkan tiga jempol, bila lebih jelek dari sinetron yang anda sebut itu, tentu thumb down tiga kali juga.

  15. hh berkata:

    Alang nai panghophopmi di natua tua i ito Merlin. Sapala naung ditinggalhon ho nian karejom na denggan i, sapala naung di lehon ho nasa gogo dohot roham, boasa ingkon talu holong ni rohami.

  16. suhunan situmorang berkata:

    @hh
    Lae, semalam (18 Mei), RCTI sudah menayangkan kisah si Merlin ini dlm bentuk FTV. Sayang sekali, lae bermukim di Kanada, RCTI tak masuk. Juga sayang karena alasan biaya produksi yg lumayan tinggi utk sebuah FTV, MNC Group tak bisa membuat shooting sesuai setting cerita asli (Onan Runggu-Samosir). Alur cerita dan tokoh-tokohnya pun ada yg diubah/ditambah. Apa boleh buat, lae, aku terima saja… Tapi andai kisah si Merlin ini bisa utuh difilmkan dan di-shoot di Samosir-Danau Toba-Polonia, senang kalilah hatiku; sekalian promosi bonapasogit kita yg indah namun kurang diurus itu. Bukan soal honor atau popularitas penulis ceritanya, lae 🙂 Mauliate utk support lae, kian menyemangatiku utk terus berkarya.

  17. hendry berkata:

    Amang Situmorang,…

    Kebetulan dang adong hobbi manonton sisongonon bah, (ai on ma gabe marsirebutan remot ni tipi di jabu dohot borumuna, kebetulan dang adong dope ‘juri’ naboi manolai di jabu nami….jai holan ni luluan barita manang olah rang, nga tor dang selera na diambirang on…)…alai molo akka kisah nyata do, na boi mambaen nspirasi kehidupan…songon cerita muna on, boi do tong tontonon nian, molo boi, sms hamu hami paboahon na adong ‘ftv’ na denggan tontonon ateh…..

  18. batuhapur berkata:

    gabe holan na tarilu do iba manjaha cerita on…tarbereang dongan sa karejo muse..gabe tamba maila iba..hehheheh.. mantap amang isi ni cerita i….

    alani tabo ni cerita i hu forward tu akka dongan sakarejo..

    ale gabe loja do au amang patorangkon didia do huta on runggu, pangururan dohot ahata batak na lain…ai bohama, halak cina do sude ,… hehehhe…

    ale gannga do au. sekalian promosi, akka dongan china on pe lomo do rohan i asida mardongan tu halak batak… dohot mangallang saksang tu senayan.. hehehheh

    mauliate

  19. Bonar Siahaan berkata:

    Gabe taringot ahu amang Suhunan di parmulakhu tu Siboruon ima huta nametmet i ala sahit ni dainang pangintubu. Laos sahat tu tingki on tongtong nama ahu maringanan di Siboruon.
    Jadi tu angka dongan namanjaha si Merlin on ingkon adong do keberanian mambahen pilihan,jala barani menghadapi konsekwensina.
    Salut tu amang Situmorang . Jala anggiat tongtong berkarya.
    Motto. Berguna bagi dirinya,berguna bagi Masyarakat pasti akan berguna kelak di Sorga.
    Salam untuk keluarga amanta Suhunan dari Op.Tumitang.

  20. suhunan situmorang berkata:

    & Bonar Siahaan
    Mauliate ma Amang tu apresiasi muna. Sai anggiat ma boi torus au manurat, jala adong gunana tu akka namanjaha. Alai taringotna Amang, on pe huboto ala namangurus natua-tuai do hape hamu asa gabe mulak jala maringanan sahat saonari di huta Siboruon. Didia hian do Amang maringanan/mangaranto?

  21. Bonar Siahaan berkata:

    Amanta Suhunan Situmorang.
    Ndang tarpaboa-boa amang pangarantoanhu, alai 20 taon mengembara sian Sumatera, Jawa, Kalimantan Timur jala parpudi di Jakarta 4 taon. sian i ma mulak tu Siboruon ala sahit ni Dainang pangintubu.
    Gabe songon nidok ni namandok “TUNDUK NABEGU DIULA MA PANGHAILON”. Jala tong do hinamauliatehon Tu Tuhan I ala diajari amanta Naipospos iba mandogil tombol ni komputer on sahat tu naboi mangakses internet, gabe hira sombu panghilalaan marningot angka tingki nasalpu di panguntor ni pamatang. Alai molo nirajuman , “hira napatibuhu do iba tubu tu hasiangan on,alai hurang tibu saotik nari”.
    Horas.

  22. Ganda Simanjuntak berkata:

    Tabo Fuang…!! Alai gabe Nasehat do on tu sude hita.
    Adong do Muse hubege di ende / Lagu Batak ninna :
    NUNGNGA SI SULANGAN MANGAN ANGGO AMANGMON, SIPAINUM INUMON AU , SIPADIDI DIDION, UJU NGOLUKKON MANIAN TUPA MA BAEN NADENGGAN……MARISUANG DOI MOLO DUNG MATE AU , MAREMBAS EMBAS HO…MAMBOAN HORBO HO , HAPE JAIS DI NGOLUKKON…
    > Hita ingot ma Patik Palimahon i…Mauliate.

  23. parsidikkalang na burju berkata:

    kok baru sekarang yah saia ngeliat blog anda? knapa ga dari kemaren?
    dan anda tau? saia menangis bombay membaca kisah merlin, karena saia pernah mengalami itu, saat saia masih kelas 5 sd, popung(opung boru) sakit parah, maklum sih dah renta gitu dah oseon juga, sebenernya saia sedikit menyimpan dendam terhadap keluarga dan kerabat, mengapa mereka yang sudah dewasa tidakmau merawat si popung?
    dan sampai sipopung berpulang, saia yang merawatnya.
    saat membaca kisah si merlin, saia jadi teringat si oppung tersayang, dan….

    tartangis2 ma au di kantor on…
    hiks…

  24. suhunan situmorang berkata:

    @parsidikkalang
    Maafkan aku, ya. Sungguh, tak ada niatku membuatmu sedih dng mengingatkan kembali alm. ompung borumu yang sangat kau sayangi 😦 Amang tahe…

  25. Betty Siahaan berkata:

    @ Foreigner.

    Saya harap nama itu bukan samaran.
    Jika kita tidak lebih baik dari orang lain, janganlah hendaknya kita menilai orang. Sedangkan lebih baik pun kita dari orang lain, tidak sepatutnya kita meremehkan orang. Sebab segala kelebihan dan kekurangan manusia adalah karunia Tuhan, yang mana Tuhan pasti punya rencana indah di balik semuanya itu.
    Thanks untuk Ito Situmorang atas cerpennya, mana lagi yang lain?

  26. mauleate ma ito hasian, sai dapotan rongkap ma ho ito tujoloan on. Ito harus berterimaksih banyak pada Tuhan dapat menolong ibu kandung anda. Ingatlah, ito sudah bahagia telah dapat menolong orangtuanya, boa ma ito?, dang hea dope hubaen nadenggan tu natua-natuaku, baik secara materi dan pelayanan. Ingatlah ito, itu sudah merupakan pengorbanan yang cukup, daripada tidak pernah samasekali, anda akan dapat jodoh yang baik dan pasti suatu saat. Aku ito, bapaku sudah meninggal belum pernah saya berikan suatu materi (makanan yang enak) dari hasil jerih payahku. Dan saya sangat merasa berdosa dan menyesal, padahal saya sudah disekolahkan disalah satu PTS terkenal di jakarta sampai lulus. Tapi ingat, orang tua lebih senang dengan perhatian daripada materi. Ya saya ngerti, ito harus memutuskan masa depan, dan menurut saya itu bukanlah kesalahan, karena ito sudah mengorbankan pekerjaanya demi ibu ito yang tercinta. Ito, klp aku punya kehidupan yang sederhana saja, saya berjanji dalam benak hatiku, suatu saat klo aku sudah hidup sederhana, aku akan merawat ibuku dan aku akn bawa dia ke tanah lahir Yesus Kristus untuk jalan2, tapi mungkin ini hanya angan. Tapi klo aku ada uang, aku akan membawanya ke Jerusalem.

  27. @ Mr. Malau

    Nunga “hupasahat” be ucapan simpatini Lae tu itonta si Merlin, nangkin “pajumpang” do hami di kantin kantor 🙂 Mauliate ma parhatianni Lae tu serpen on dohot serpen ‘Cucu Panggoaran’.

    Sai anggiatma sangkap ni Lae nauli nadenggan laho pasonanghon natua-tuai dibege Debata nadibanua ginjang.

    Horas jala tabe sian au.

  28. sal hutahaean berkata:

    Baru pertama ke situs ini, langsung baca cerpen lae suhunan situmorang. Mauliate ma lae, mansai uli. Pukulan mallabab di akhir cerita bikin mataku basah. Teruslah menulis laekku.

  29. Saurma berkata:

    Betapa tanggungnya pengorbanan seorang Merlin…., sudah yang ketiga kali aku membaca cerita ini to, tong manetek ilu poang… gabe lungun roha mulak tu huta….hape nabaru pe oma ro tu Bandung…..

  30. murni pardede berkata:

    boi do log in di blog on tulang? molo boi asa tiap ari nibukka….
    mauliate……

    ,*** Dang daba ito, gabe dua ma hita annon administraturna molo boi ito log in. Link ma di komputer manang hp ni ito.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s