EARTH SOCIETY TOUR DANAU TOBA

Miduk Hutabarat [ Damai Bagi Bumi Semesta Alam Raya Danau Toba ]

Sangat mendesak lahir dan hadirnya Habitus Manusia Baru di sekitar kita. Habitus Manusia Baru yang tidak serakah dan tamak terhadap bumi serta seisinya. Yakni Habitus Manusia yang ramah terhadap lingkungan dan sesama. Serta bergairah dan berani tampil mengambil tindakan untuk mengembalikan kesehatan bumi serta seisinya.

Bumi Tanah Danau Toba tentulah sangat menantikan datangnya sosok Habitus Manusia Baru tersebut. Suatu Generasi Manusia yang berpikir dan sadar bahwa Bumi Semesta Danau Toba serta isinya sebagai rumah bersama manusia yang harus dirawat dan dipelihara keberadaannya. Sosok dan ekspresi manusia seperti itulah kelak akan melahirkan Masyarakat Danau Toba yang mencintai Bumi Semesta Alam Raya Tanah Danau Toba.

Hai Manusia Semesta Danau Toba, berkaryalah di Bumimu ! dan akan nyatalah.

Latarbelakang

Bermula dari perbincangan diantara Komunitas Plural Sumut, antara lain Monang Naipospos, Irwansyah Harahap, Mangaliat Simarmata, Irwansyah Hasibuan, Eliakim Sitorus, Erwin, Robert Simanjuntak, Thomson Hs, Miduk Hutabarat serta kawan-kawan lainnya. Tentang kondisi ekologi Danau Toba yang semakin hari semakin merosot kualitasnya. Sementara dari pihak Pemerintah sendiri, belum tanda-tanda yang jelas tentang arah pengembangan yang sedang dan akan dilakukan di Kawasan tersebut. Khususnya jika Danau Toba dimaksudkan akan menjadi satu daerah wisata andalan yang diminati di Sumatra oleh tamu nasional maupun mancanegara.

Begitu juga halnya dari perbincangan yang terjadi dikalangan para pakar maupun masyarakat awam lainnya. Dari serangkaian diskusi yang pernah dilakukan tentang kawasan Danau Toba ( tahun 2000-2007). Umumnya berpendapat sama ; “Kok potensi Danau Toba tidak bisa memberi dampak yang positif bagi masyarakat di sekitarnya ?”

Berangkat dari keprihatin tersebut di atas, tercetuslah sebuah gagasan untuk melakukan sebuah perjalanan mengelilingi Danau Toba lewat air dan darat. Dengan maksud untuk melihat dari dekat tentang apa sebenarnya sedang terjadi di kawasan tersebut. Maka tercetuslah gagasan Tour D Toba. Setelah itu, gagasan pun digulirkan. Namun mengingat waktu yang singkat, akhirnya berkumpullah diantara komunitas plural tersebut untuk menyusun agenda Tour D Toba agar terealisasi di tahun 2008.

Tujuan

Adapun kegiatan Earth Society Tour D Toba tahun ini bertujuan untuk membangun rasa cinta terhadap kawasan Danau Toba.

Melalui kegiatan Tour D Toba, Komunitas Earth Society dapat melihat dan merasakan secara dekat tentang kondisi Danau Toba yang terjadi sekarang ini.

Melalui kegiatan Tour D Toba, Komunitas Earth Society melakukan inventarisasi permasalahan yang tengah terjadi pada ekosistem Danau Toba.

Melalui kegiatan Tour D Toba, Komunitas Earth Society mulai merintis jalan alternatif bagi pengembangan parawisata alternatif di kawasan Danau Toba.

Strategi

Untuk mencapai apa yang diharapkan, Komunitas Earth Society Tour D Toba melakukan beberapa strategi dalam mewujudkannya. Antara lain;

Strategi pertama adalah menyangkut personel Earth Society. Hal yang dilakukan adalah dengan melibatkan peserta dari berbagai bidang displin yang ada. Artinya peserta Tour D Toba terdiri dari Multi-Displiner.

Strategi kedua adalah menyangkut metoda pengamatan. Metoda pengamatan yang dilakukan, lewat perjalanan keliling dari air dan darat. Mengingat air adalah komponen terbesar dan merupakan komponen dasar dari keseluruhan mata rantai ekosistem yang ada. Maka yang pertamasekali dilakukan Earth Society tahun ini adalah melakukan perjalanan lewat air.

Kemudian di tahun-tahun berikutnya, Earth Society Tour D Toba akan melakukan perjalanan lewat daratan.

Sedangkan strategi untuk membangun tumbuhnya kesadaran masyarakat luas-unsur pemerintah, kelompok profesional dan para pelaku wisata, Earth Society akan melakukan serangkaian kegiatan diskusi terbatas dan bersifat publik. Tentang aspek-aspek terkait di dalamnya. Sekaligus mensosialisasikannya kepada masyarakat luas, lewat media cetak maupun elektronik.

Strategi lainnya, akan terus di-diskusikan, sampai gagasan tersebut benar-benar terwujud menjadi sebuah kenyataan di depan kita. Seperti keyakinan yang tertoreh di akhir pesan pada sinopsis perjalanan yang telah disusun : akan nyatalah !

Demikianlah hal yang dianggap perlu untuk disampaikan kepada seluruh Earth Society Tour D Toba yang tercinta.

Damai Bagi Bumi dan Semesta Alam Raya Danau Toba. dan akan nyatalah !

Rangkaian Acara Perjalanan

1. Gala Dinner Komunitas Earth Society pada, Hari Mingu, 13 Juli 2008. Pukul 19.00 – 21.30 WIB. Tempat
2. Kumpul pada tanggal 14 Juli 2008 Pukul : 08.00 WIB

Sekretariat Jln. Sisingamangaraja No 132.A Medan

1. Prolog : Malam Gairah-Suka di Parapat , 14 Juli
2. Perjalanan Karya Pertama : Tomok-Pangururan, 15 Juli
3. Malam Wisata Bersama Ir. Mangindar Simbolon, 15 Juli
4. Perjalanan Karya Kedua : Bakkara-Muara, 16 Juli
5. Epilog : Sipahalima ; Hutatinggi-Laguboti , 17 Juli 2008
6. Sayonara di Taman Sri Deli Medan

Rute pertama :

Medan-Parapat
Tour D Toba Guide : Miduk & Erwin

Reute kedua :

Parapat – batu gantung – Tomok : kuburan sidabutar – Siallagan : Batu kursi – Simanindo : Batak Dancing, Museum, Tao Toba – Pangururan : Hot Spring, Tano Ponggol – Nainggolan : Batu Guru – Bakkara : Aek Sipangolu – Muara : Pulau Sibandang – Samosir : Tomok

Tour D Toba Guide; Frans, Erwin & Miduk

Rute ketiga :

Tomok – Laguboti : Hutatinggi – Medan

Tour D Toba Guide ; Irwansyah & Miduk

Peserta dari Luar Indonesia

1. Regina ( ahli lingkungan, swiss )
2. Sitor Situmorang ( sastrawan, Belanda )
3. Barbara Brouwer ( diplomat , Belanda )

Peserta dari Indonesia (dalam tahap konfirmasi)

Jumlah seluruh Peserta : 35 orang

Iklan

48 thoughts on “EARTH SOCIETY TOUR DANAU TOBA

  1. suhunan situmorang berkata:

    @ Lae Miduk, sebenarnya saya sangat tertarik dengan program yg kalian gagas ini dan sebelumnya sudah berencana akan mengikutinya. Tetapi, saya jadi lemas karena berita yang saya copy paste di bawah ini dari website-nya Pemkab Samosir (samosir online). Artinya, Bupati Samosir, yang ahli kehutanan itu, tetap menyerahkan hutan di Partungkot Naginjang, Tele (persisnya di atas kampung Harianboho-Sihotang-Tamba-Rassang Bosi) untuk digarap PT EJS AGRO MULIA LESTARI. Meski dipoles-poles Pemda, tak bisa disembunyikan bahwa dengan persetujuan pejabat nomor satu di Samosir tersebut, akibatnya: kawasan hutan yang selama ini menyangga air dan menjadi sumber utama sungai-sungai yang turun ke kampung-kampung di atasnya dan akhirnya bermuara ke Danau Toba, akan dibabat demi suksesnya bisnis PT EJS.

    Dengan ngototnya Bupati Samosir meneruskan maksud pengusaha Korea ini, yang pasti dampak negatifnya akan merusak ekosistem dan Danau Toba, apakah masih menarik dan perlu mengikuti acara bertajuk ‘Earth Society Tour Danau Toba’ , di mana salah satu agenda/acaranya adalah: ‘Malam Wisata dengan Bupati Ir Mangindar Simbolon’, yang dijadwalkan tgl.15 Juli? Apa lagi yang kita harapkan dari pertemuan dengan seorang pemimpin (malam wisata) yang seharusnya di garda depan menjaga keselamatan ekosistem Danau Toba, nyatanya malah—atas nama pembangunan, peningkatan PAD—merusak alam (hutan heterogen) yang pemulihannya belum tentu bisa dilakukan 100 tahun?

    Ai au do nasala memahami persoalan on?

    “PT. EJS AGRO MULIA LESTARI”, Selamat Datang Di Kabupaten Samosir.
    Pangururan, 28 Maret 2008.
    Diusia yang relatif muda, Kabupaten Samosir pantas bersyukur karena untuk pertama kalinya ada investor asing yang benar-benar serius menanamkan modalnya, yakni PT. EJS Agro Mulia Lestari. Peresmian kantor perusahaan sekaligus sosialisasi kepada masyarakat telah dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2008, dihadiri oleh Bupati/Wakil Bupati Samosir dan unsur pimpinan daerah Kabupaten Samosir.
    PT. EJS Agro Mulia Lestari yang beralamat di Dusun Hariara Pintu Desa Partukko Naginjang Kecamatan Harian merupakan milik Warga Korea yang nantinya akan mengembangkan Holticultura dan tanaman hias yang berkwalitas ekspor diatas lahan 2050 Ha. Perusahaan tersebut telah mendapat izin lokasi dari Bupati Samosir dengan Surat Keputusan (SK) Nomor : 320 Tahun 2007. Perusahaan tersebut akan mulai beroperasi setelah keluarnya izin Hak Guna Usaha (HGU) yang saat ini masih dalam proses serta perizinan lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.

    Perusahaan yang berinvestasi senilai Rp. 100 Milyar tersebut, nantinya diperkirakan akan menyerap tenaga kerja sekitar 3000 orang dan memprioritaskan putra daerah. Hal ini jelas dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mengurangi pengangguran.

    Pada rapat pematangan lokasi yang melibatkan lintas sektoral dan dengar pendapat dengan Komisi I DPRD Kabupaten Samosir bertempat di Ruang Rapat Kantor Bupati Samosir, Rabu 13 Pebruari 2008 disimpulkan bahwa lokasi PT. EJS Agro Mulia Lestari berada dikawasan Areal Pemanfaatan Lain (APL).

    APL merupakan istilah kehutanan yang dalam pengertiannya dapat dimanfaatkan diluar kepentingan kehutanan. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor :923/KPTS/UM/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 44/Hut-II/2005 tanggal 16 Pebruari 2005 Tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Propinsi Sumatera Utara, Kawasan APL tersebut memiliki luasan 5000 Ha berbatasan dengan Kawasan Register 41, 80 dan 82. Sementara Enclave Lintong dalam hal ini sebidang hamparan yang diakui sebagai hak ulayat Marga Situmorang berada di Kawasan Register 41, artinya lokasi yang akan dikelola oleh PT. EJS Agro Mulia Lestari berada diluar Kawasan Register 41.

    Pada areal APL tersebut saat ini ditumbuhi kayu hutan sekunder, oleh sebab itu nantinya PT. EJS tidak serta-merta sesuka hati dapat menebang pohon pada kawasan tersebut, tetapi harus seizin pemerintah yang akan diatur sedemikian rupa sehingga tetap menjamin keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

    Dari hasil pantauan dilapangan hingga saat ini dilokasi belum ditemui ada kegiatan penebangan kayu. Meskipun ada pembukaan jalan sepanjang 100 meter dari jalan protokol hanya semata-mata untuk penanaman bunga secara simbolis pada saat peresmian.

    Salam dari Bona Pasogit.

  2. Rondang br Siallagan berkata:

    Saya dari seberang hanya bisa mengatakan;” Semoga
    lancar dan sukses”..

  3. Foreigners berkata:

    Gw heran aja lihat orang yang diatas, yang selalu sok ppahlawan pemebela hutan…

    Kenapa esih ente selalu over negatif thingking terhadap niat baik pemerintah ente dalam menggagas kemajuan daerah ente,,,,,,,,,…??

    Toh Si Bupati tidak melanggar perundang2 undang yang berlaku kok……

    Kalo ente nggak setuju iya silahkan anda bawa ke Pengadilan……

    KEnapa nggak anda kasih kesempatan ke Pemda Samosir dulu, untuk membuktikan keputusannya adalah tepat dalam membangun kabupatennya?

    Typikal orang indoensia, selalu negatif thinking,,,,,,,kayak ente.,……………………………..

    Inget, hutan tele dibabat dan menjadikannya kebon bunga belum tentu membuat danau toba kering.

    Analisa yang terlalu dangkal dan masih perlu diperdebatkan.

    Pembabatan Huta bukan satu-satunya penyebab pemanasan Global my frend……………….!!!!

    Gw dukung tuh langkah bupati, membuat terobosan baru, dalam menarik invvestasi kedaeeah TOBASA.

    Good Luck……………….!!!!

  4. hh berkata:

    Foreigners, pembabatan hutan memang bukan satu-satunya penyebab pemansan global my friend…..!!!!!!!! Tetapi mengertikan anda, disamping merontokkan ekosistem, bahwa hilangnya pohon pohon itu akan sangat, sangat mempercepat pemanasan global itu?

    Selama teknologi untuk menangkap zat CO2 dari udara dan cara menyimpannya yang aman belum di temukan (kalaupun berhasil ditemukan, ongkosnya akan sangat mahal, jauh lebih besar dari keuntungan dari membabat hutan itu), maka pohon pohon itulah yag memegang peranan untuk menangkap CO2 itu dan sekaligus melepas O2 yang sangat kita butuhkan itu.

    Bila suhu permukaan bumi ini semakin tinggi, dapatkah anda bayangkan apa yang akan terjadi?

    Saya ada dapat brosur yang bunyinya seperti kini my friend, “We can have a strong economy while protecting the environment. The economy and the environment are not mututally exclusive. It’s not about choosing the environment or the economy. If we’re going to tackle climate change, it has to be both.”

    Satu hal lagi my friend, sekalipun ekonomi yang kuat itu belum di dapatkan oleh Kabupaten Samosir oleh karena mempertahankan keberadaan HUTAN yang sangat dibutuhkan itu, masyarakat kabupaten Samosir akan menerima kenyataan itu, akan dengan sabar menerima keadaan itu, menunggu adanya terobosan ekomi dari sumber yang lain yang ramah lingkungan.

    GW juga mendukung tuh langkah bupati yang membuat terobosan baru dalam menarik investasi ke Samosir, tetapi tidak investasi untuk pembabatan hutan Tele itu, my friend.

    Perlu kita memandang jauh ke depan my friend, besar kemungkinan hanya pohon-pohon itulah yang di incer oleh investor yang bernama Lestari itu, dan itu tidak akan berhenti sebatas 2050 (2500?) hektar saja. Kalau memang tujuannya murni untuk berkebun bunga, mengapa harus di Hutan Tele yang sudah pasti akan menambah ongkos produksi?

  5. Marudut Pasaribu berkata:

    @Foreigners

    Bung…Lae Suhunan mungkin tidak sepintar anda berbicara tentang pemanasan global. Dia cuma menggugat kebijakan bupati semata-mata karena dia sangat dekat secara emosional dengan samosir tempat dia lahir dan dibesarkan. Menurut ceritanya dan menurut para pakar lingkungan, dulunya di samosir itu ada 173 (koreksi kalau salah) sungai yang mengalir, tetapi sekarang hanya tinggal 17 saja (koreksi juga kalau salah).

    Anda boleh saja setuju dengan kebijakan bupati itu, tapi rasanya Lae Suhunan boleh juga dong untuk tidak setuju….bertindak sebagai oposisi juga dibenarkan di negara ini dan sangat diperlukan supaya ada check and balance.

    Mengenai kebijakan bupati yang tidak melanggar peraturan, bukan itu permasalahannya. Sangat naif kalau hanya melihat persoalan pembabatan hutan hanya dari sisi peraturan. Banyak hal di dunia ini yang tidak boleh kita lakukan walaupun tidak dilarang secara “hitam putih”. Misalnya: Melecehkan orang di internet tidak diatur dalam undang-undang, tapi ada etika dan moral yang melarangnya.

    Horas

  6. suhunan situmorang berkata:

    @ Foreigners

    Sebenarnya, saya rada malas menanggapi anda, terutama karena tak juga mau menyebut identitas anda yang sesungguhnya, walau itu hak anda. Padahal, saya sangat senang melihat orang yang mau menampilkan identitas aslinya, apa adanya, sebab itulah ajaran leluhur manusia Batak: sitedak rupa siboto goar, sebagaimana ada ditulis di blog ini. Saya pun tak ingin bila blog tanobatak ini akhirnya jadi wadah orang-orang picik yang tak beritikad baik sebagai ajang pelampiasan kebencian atau arena hujat-menghujat pribadi, agama, ras, sebagaimana di blog lain; apalagi saya tahu persis karakter dan misi Lae Naipospos pengasuh blog ini yang seratus persen berbuat demi revitalisasi adat-budaya, falsafah atau kearifan lokal, dan alam Tano Batak yang permai.

    Bila anda jeli memerhatikan, blog ini amat kaya, peduli, bahkan sangat cinta terhadap segala sesuatu menyangkut habatahon dan alam Bonapasogit, sekaligus mengkritisinya. Tulisan-tulisan yang dimuat di blog ini pun, sepegamatan saya, lebih dominan menyangkut habatahon (dalam berbagai aspek, termasuk puisi dan prosa) dan alam, serta menghindari tulisan atau tanggapan yang provokatif atau kontroversial, hingga terasa sejuk dibaca.

    Menurut saya, di situlah keunggulan blog ini dibanding blog sejenis. Itu pula yang menyebabkan mengapa saya lebih suka “nongkrong” di “lapo” ini ketimbang di “lapo” lain, kendati sama-sama menawarkan aroma Batak. Saya suka cara para penulis artikel (kontributor) menyampaikan pendapat mereka, demikian halnya para penanggap, yang umumnya: santun, serius, sesekali jenaka. Yang membuat saya lebih suka lagi ialah, perbedaan di antara para Batak pengunjung blog ini, terutama mengenai agama-kepercayaan, akhirnya tereduksi oleh ikatan yang amat kuat sebagai sesama manusia Batak (mangkuling mudar), daripada menonjolkan perbedaan masing-masing.

    Memang, sebagaimana pernah dikatakan Lae Naipospos kepada saya, sering juga masuk tanggapan-tanggapan ke blog ini berisi kata-kata kasar, menghina, tak berbobot, dan akhirnya harus dibuang karena komentar sampah seperti itu dianggap tak layak menghiasi halaman blog yang teduh ini—dan itu hak beliau sebagai pemilik blog. Umumnya mereka itu orang-orang Batak yang sangat fanatik terhadap agama-keyakinannya, yang menganggap adat-istiadat dan budaya Batak sebagai produk kesesatan belaka (bid’ah).

    Jujur, saya kecewa kepada anda (bila benar anda Batak), karena selain identitas anda yang tak jelas, sebetulnya saya sangat mengharapkan tanggapan yang kritis dari anda, terutama masalah pembabatan hutan Tele, bukan cuma semburan kata-kata sinis dan penuh tudingan tak bermutu. Mengapa? Saya begitu yakin bahwa anda sebetulnya seorang yang berpendidikan lumayan tinggi, bermukim di kota atau negara maju, hingga nama virtual anda pun foreigners. Bukan Jahoras, Jaultop, atau Jamaittan, misalnya. Andai anda berpikir kritis dan argumentatif memahami sikap saya dan kawan-kawan (komunitas Forum Pusuk Buhit, Tobadream) atas keputusan Bupati Samosir menyangkut Hutan Tele, “perdebatan” kita di blog ini akan dapat mencerdaskan, setidaknya memberi pandangan baru yang bermakna bagi kemajuan Batak dan Bonapasogit.

    Tak usah pun harus ilmiah, tetapi seandainya anda tanggapi keberatan dan perlawanan saya dengan argumen-argumen yang logis dan tidak dimulai dengan kata-kata bermuat konfrontasi, maka kesan atas tanggapan anda tak akan terkesan: antipati atau luap kebencian belaka terhadap seseorang yang bernama Suhunan Situmorang!

    Okelah, itu hak anda, kendati saya sayangkan. Namun, andaikan anda sempat berkenalan dengan saya yang cuma manusia Batak biasa (bukan pejabat, bukan pengusaha, bukan politisi, bukan selebriti, apalagi berambisi jadi pahlawan seperti tuduhan anda) hingga anda pun tahu kelemahan-kekurangan saya, bisa jadi persepsi anda terhadap diri saya tak seperti sekarang, walau tak mustahil akan semakin membenci, dan itu pun hak anda sepenuhnya.

    Tetapi ketahuilah saudara: saya memang pengagum dan pendamba (munculnya) manusia-manusia Batak yang bangga dengan identitas dan dirinya sebagai Batak namun tak jadi chauvinis, rendah hati dan terbuka bersahabat dengan tulus dengan etnis/bangsa dan agama-kepercayaan lain, tidak memalukan Bangso Batak karena ulah dan perbuatannya, mau memikirkan dan peduli kesusahan orang lain, mencintai alam Tano Batak dan segala penghuninya tanpa vested-interest, lebih suka menebarkan benih kedamaian ketimbang konfrontasi, dan karena karya dan prestasinya (di berbagai bidang), akan mengharumkan nama Batak.

    Nyatanya, dengan mengamati komentar-komentar anda di blog ini, khususnya mengenai kasus Hutan Tele juga cerpen saya ‘Keputusan Merlin’, keinginan menemukan manusia Batak yang berpikir kritis dan bersikap elegan itu, tak tercapai—walau tak harus saya ratapi. Baiklah, silakan membenci saya sampai kapan pun, kalau itu memang akan memuaskan diri anda.

    Tetapi, bila anda masih manusia Batak yang sepenuh hati mencintai alam Tano Batak, sesekali tengoklah kondisi riil di sana. Jelajahilah wilayah Parlilitan-Barus, Dolok Sanggul-Tele, Samosir, Dairi, Parmonangan, Habinsaran, bahkan sampai Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Lihatlah betapa hancur alamnya karena kawasan hutan sudah dua puluh tahunan dibabat PT TPL (dahulu IIU) selain para pembalak lainnya, dan sampai detik ini masih terus dengan ganasnya mereka cincang pohon-pohon yang sudah puluhan atau ratusan tahun usianya itu. Tengoklah betapa orang-orang rakus itu dengan enteng dan tanpa merasa berdosa kepada Debata, Sang Pencipta dan pemilik Alam Semesta, meluluhlantakkan hutan alam (heterogen) dan tumbuhan lainnya yang bernilai ekonomis seperti rotan.

    Bila anda tahu pohon kemenyan yang amat langka dan hanya cocok tumbuh di wilayah Tapanuli itu, yang harganya terbilang mahal dan selama puluhan atau ratusan tahun menjadi sumber mata pencaharian penduduk Humbahas, Samosir, Tapanuli, Dairi, terus-menerus disikat TPL—walau penduduk, antara lain warga Pollung, Hutagalung, dll, melawan keras sambil menangis-nangis karena mata pencaharian mereka, para manusia Batak yang hidup dalam impitan kemiskinan itu, diporakporandakan mesin pemotong kayu dan alat berat milik perusahaan yang sejak semula saham-sahamnya sudah listing di New York Stock Exchange.

    Tahukah anda siapa penikmat utama hasil usaha PT TPL itu? Tahukah anda siapa-siapa saja pemegang saham utamanya setelah Tuan Sukanto Tanoto menjualnya? Pihak asing, saudara! Dan, para bankir serta lembaga keuangan raksasa dunia itu tidak pernah mau tahu kemiskinan, derita, dan kesusahan saudara-saudara kami yang bermukim di Bonapasogit, tidak peduli bila suatu saat alam Tano Batak akan menjadi gurun pasir dan kemolekan Danau Toba tinggal kenangan!

    Mungkin anda bekerja di salah satu perusahaan asing atau domestik yang demi profit tak peduli keselamatan lingkungan hidup yang diberikan Sang Khalik secara cuma-cuma, dan anda mendapat gaji dan fasilitas yang menyenangkan. Silakan anda nikmati sebab itu hak anda sebagai hasil kerja keras anda. Namun, anda pun tak usah sisnistik (bukan kritis!) melihat orang-orang yang mau peduli atau meratapi bahaya kehancuran ekosistem, terutama kampung halamannya.

    Barangkali pula anda kira saya ini terlalu mendramatisasi atau mengada-ada soal kehancuran hutan Tele. Untuk membuktikannya, silakan saksikan video ini (semoga bisa kau lihat):

    hasil rekaman kawan-kawan kami (sebagian non-Batak) minggu lalu; orang-orang yang turut peduli dan amat sedih melihat keganasan para penjarah hutan milik Debata yang diberikan kepada manusia-manusia Batak dan Indonesia, bahkan dunia. Lokasi pengambilan gambar video tersebut di kawasan hutan Tele, cuma lima kilometer jaraknya dari lokasi yang diserahkan Bupati Samosir untuk dibabat PT EJS dari Korea untuk sebuah proyek kebun bunga itu! Setelah menonton video tersebut, barangkali anda akan menganggap biasa-biasa saja; siapa pula yang bisa memaksa nurani anda agar ikut sedih atau turut prihatin?

    Tetapi sekali lagi, saya bukan tak mendukung langkah Pemkab Samosir untuk memajukan daerah tersebut. Itulah impian saya dan ratusan ribu warga Samosir. Tak ada pula untungnya bagi saya (dan kawan-kawan) menyusahkan Bupati Samosir dan Pemkab dengan menentang rencana pembabatan hutan di kawasan Partungkot Naginjang (ada juga yang menyebut: Partungkoan Naginjang) Tele itu. Memang betul “saran” anda, bila kami tak puas karena bupati tetap ngotot, kami akan melawan lewat jalur hukum, dan itu sudah kami siapkan. Namun, agar tak terkesan bahwa niat kami cuma ambisi pribadi-pribadi yang tak suka pada Bupati Samosir (apa pula dasar dan alasannya?), dalam dua bulan terakhir ini kami (teman-teman par Samosir, melalui Forum Pusuk Buhit), terus menyebarkan berita buruk ini ke pengurus kumpulan marga yang berasal dari desa Harianboho, Sihotang, Tamba, Rassang Bosi, Sabulan, selain Urat-Palipi, Pangururan, Simanindo, di Jakarta-Medan. Kami (Komunitas Tobadream) juga sudah sepakat bertemu dengan tim dari Conservation International Inonesia, Communication for Northern Sumatra Corridor (NSC) untuk membicarakan langkah-langkah penyelamatan hutan Tele dan hutan di seluruh kawasan Danau Toba—yang ternyata, juga mereka pantau.

    Apakah selama ini saya dapatkan keuntungan dari secuil-cuil gerakan peduli alam dan budaya Batak, juga sedikit memerhatikan saudara-saudara yang berdiam di Bonapasogit, yang saya dan teman-teman lakukan? Tidak, saudara. Malah, uangku yang tak seberapa banyak itu jadi sering keluar. Oya, agar tak anda pikir bahwa saya dan teman-teman hanya mengumbar omong doang, salah satu contoh kecil, bulan lalu, anak-anak Samosir yang kuliah di ITB dan Unimed Medan sudah melaksanakan program pelatihan dan test terhadap 500 siswa SMA di Samosir untuk menyiapkan UMPTN. Kami dukung sepenuhnya, walau dana harus patungan, dengan cara mengedarkan durung-durung ke sesama kawan Tobadreamers. Penggagasnya, seorang Batak keren (istilah kami untuk orang Batak yang mau peduli ke Bonapasogit), mahasiswa ITB jurusan geologi, penuh idealisme dan dedikasi ke Samosir, namanya: Raja Sondang Simarmata. Ia juga salah satu penentang keras rencana Bupati Samosir, apalagi dosen geologi di kampusnya sudah mengingatkan betapa bahayanya tindakan pembabatan hutan Tele tersebut.

    Kami pun tak berharap banyak akan berhasil menghadang keinginan Bupati Samosir, apalagi kami sadar amat banyak orang Batak di Jakarta dan kota-kota lain yang diharapkan peduli kampung halaman, sejenis dengan anda: tak peduli melihat semakin rusaknya ekosistem di seluruh wilayah Tano Batak, dan cenderung sisnistik menanggapi sesuatu yg tak berasal atau tak menguntungkan diri atau kelompoknya. Tetapi, kalaupun akhirnya Bupati Samosir dan PT EJS dimenangkan hakim di pengadilan, setidaknya sudah ada pertanggungjawaban kami kelak kepada keturunan kami, dan yang terutama adalah kepada Debata na di Banua Ginjang.

    Jadi, keliru besarlah tuduhanmu itu, saudara: saya ingin jadi pahlawan . Cita-cita atau ambisi untuk diriku, sederhana kok: bagaimana caranya agar ketiga anakku kelak menjadi orang-orang yang rendah hati, berguna tak hanya pada diri dan keluarganya, mamboto uhum dohot adat, semoga maranak-marboru, dapotan jampalan nalomak, tidak suka membenci yang akibatnya jadi dibenci orang-orang, takut berbuat salah kepada Debata; dan ketika hari tua saya dan istri tidak harus ketergantungan pada mereka atau siapapun. Ambisi lainnya? Masih ada, sayangnya istri saya masih emoh, mungkin karena profesi notarisnya membuat ia merasa lebih enak tetap bermukim di Jakarta dan Jawa Barat yang kian sumpek dan beringas ini. Saya ingin secepatnya kembali bermukim di Bonapasogit, di bumi Samosir yang kupuja itu, sambil bertani, memelihara kerbau, sapi, ayam, menulis-nulis cerpen, novel, juga esai-esai tentang Batak; tetapi kalau bisa, saat sepuh, tak sakit-sakitan karena tak ingin menyusahkan anak-anak, selain takut mengalami penderitaan panjang seperti inongni si Merlin  Sangat sederhana kan ambisi saya? Apalagi tak pernah tergiur ikut peserta Pilkada atau Pilcaleg.

    Kita boleh berseberangan sikap dan pikiran, termasuk tak menyukai tulisan saya, tetapi tak usahlah langsung dilampiaskan dengan membunyikan terompet bernada “perang,” sebab kesannya sangat tak intelek. Dan kalau pun anda memang tak peduli nasib atau masa depan Danau Toba serta alam Bonapasogit, tak usah harus sinistik dan lantas memusuhi orang-orang yang mau mempedulikannya—yang sama sekali tak bermaksud dan tak berminat jadi pahlawan.

    Oya, sebagai tambahan, via email, gagasan dan ajakan mengikuti tour Danau Toba dan berakhir di Huta Tinggi, Lagu Boti, untuk mengikuti acara ‘Sipaha Lima’ ini, sudah lama disampaikan Lae Miduk Hutabarat kepada kami.

    Horas…

    * Mauliatema tu Lae Naipospos, alana nunga dilehon “lapo” Partungkoan on hupakke mansai ganjang laho patuduhon pandapot dohot sikaphu. (Ai aha do tahe bahasa Batakni sikap, Lae?)

  7. hh berkata:

    @Foreigners,
    “Kenapa nggak anda kasih kesempatan ke Pemda Samosir dulu, untuk membuktikan keputusannya adalah tepat dalam membangun kabupatennya?”
    -Bagaimana ya cara terbaik menjelaskannya sama anda? Begini saja kawan, karena di balik rencana ini, ada bahaya mengintai.
    “Toh Si Bupati tidak melanggar perundang2 undang yang berlaku kok……”
    -Peraturan itu perlu juga di tinjau frend, karena peraturan itu mengartikan bahwa hutan Tele itu adalah ‘areal non hutan.’ Hah? Hutan Tele yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air untuk Danau Toba adalah areal non hutan?

    Saya ada pertanyaan nih, my best friend. Tolong jawab ya.
    Sekiranya di lokasi rencana berkebun PT. EJS Argo Mulia Lestari ini tidak ada pohon sama sekali, apakah EJS akan memilih lokasi itu? Sekiranya secara tiba tiba pohon pohon yang ada di Hutan Tele itu tiba tiba hilang, apakah EJS masih akan meneruskan rencana itu? Kalau ya, mengapa bukan bupati beserta masyarakat saja yang menebang pohon pohon itu, menjualnya sebagian ke TPL atau perusahaan timber lainnya, sebagian lagi di pergunakan untuk membangun rumah rumah yang lebih bagus? Hal itu akan langsung di nikmati oleh masyarakat.

    Typical/average orang serakah memang…..kayak ente. Parahnya, positive thinkingpun dinilai negative thinking.

  8. Oopss.. kita jangan berpolemik disini, gak ada manfaatnya.

    Salut untuk Miduk Hutabarat cs, jangan kecil hati kalo ada orang macam Foreigners itu, justru itu jadi tantangan untuk terus bergerak.

    Biarpun Bupati terus dengan programnya, justru Tour D’Toba harus dijalankan secara periodik dengan berbagai bentuk untuk menggalang perhatian dan kepedulian masyarakat. Sekaligus Tour D’Toba mengawasi Bupati cs .

    Justru disinilah peran masyarakat itu, kalau Tour D’Toba terus dijalankan, maka itulah sesungguhnya Masyarakat Madani yang ditunggu.

    Mudah-mudahan Lae Suhunan Situmorang bertambah semangat, jalan terus dengan Tour D’Toba, bikin macam-macam kegiatannya, bisa di danau dengan perahu, kano dll. Bisa didarat dengan sepeda, mobil atau bahkan jalan kaki alias Gerak jalan massal di tepian Danau Toba.

    Kalau dipersiapkan dengan matang, saya yakin banyak yang akan mendukung.

    Horas,
    Togar Silaban.

  9. Eliakim Sitorus berkata:

    Saya mengimpikan, seandianya bisa, kawan-kawan pencinta D.T di mana pun berada yang tidak bisa ikutan program kali ini, turut juga mendukung secara finansil. Bagaimana ya?. Tahun berikutnya bergilir peserta, kami yang sudah ikutan sebelumnya mendukung finansil dan saran konkrit. Saya tak tahu apakah comittee/organizers sudah berfikir bagaimana cara menanggulangi dana, walaupun prinsipnya SWADAYA MURNI. hehehe…tetap butuh suntikan dana dari kawan lain, asal jangan mengikat apalagi mendikte.

    *** Horas lae, kapan ke Bitan memenuhi undangan lae Sitohang ? 😉

  10. @ Lae Naipospos tentang “foreigner”,

    Tradisi orang Batak kesempatan berbicara di partungkoan itu merupakan bagian dari parjambaron atau hak. Dan orang batak kalau diberi kesempatan berbicara orang harus menampakkan jati dirinya.

    Saya mengajak kita menerapkan tradisi yang baik itu di partungkoan ini: hanya mereka yang mau membuka jati dirinya yang berhak berbicara di majelis ini.

    Mari kita junjung kebebasan berpendapat yang bertanggungjawab. Kalau foreigner merasa pendapatnya baik seharusnya dia berani membuka jati dirinya.

    Saya masih sependapatn dengan pepatah lama yang mengatakan “berani karena benar…”

  11. batuhapur berkata:

    Horas…

    saya sangat setuju dan sepaham apa yang diutarakan oleh amang Suhunan Sirtumorang..

    memang bagus ada acara tersebut, tapi seolah-olah kita tutup mata dan pura-pura tak tau masalah apa yang sedang kita hadapi saat ini.bukankah saat ini kita sedang mengahadapi para perusak lingkungan Samosir, yang dapat dukungan penuh dari seorang Bupati samosir??

    Sepertinya kita tidak serus dalam menaggapi dan merespon setiap permasalahan saat ini.

    @ Foreigner
    Pernah gak anda ke samosir?? ke tele?? tau gak daerah samosir itu gimana..??? tau gak wilayah itu semua kebanyakan batu

    Kalau seandainya gak ada pohon lagi krn sudah habis ditebang, dan diganti dengan Bunga. mampukah akar bungan ini segabai resapan air?

    sendainya terjadi jujan lebat dan terjadi longsor, batu2 tersebut akan runtuh dan berguling menabrak dan mannghancurkan kampung2 dibawahnya.

    okelah anda ga punya saudara di dekat situ, sehingga anda ga peduli,??

    tapi yang membuat gw paling penasaran, apa yang membuat anda lebih bersemangat ??

    saya juga sekarang ini bekerja di perusahaan Plywood. bahan baku Log. jadi saya tau nilai 100 M itu dibandingkan dengan hutan seluas 2250 hektar nilai ekonomisnya aja kita udah rugi, belum lagi ekologisnya.

    mauliate

  12. larisnaibaho berkata:

    Gabe mulak ma oto huhilala au manjaha hata ni si Foreigners on. Ai halak aha do puang ho. Ai diattusi ho do akka na pinandok mi?

    Ai dang pola iba loja marsiajar, anggo holan hutan i do babatan laho manarik inverstor. Na ideot pe diboto do i. Manang tabaen ma debat umum bah. Hadirhon ma Bupati dohot ahli lingkungan hidup dohot hita sude. Unang sembunyi-sembunyi, ate!

  13. Sahat Ngln berkata:

    Pernah aku baca satu kalimat ‘Pengembangan pariwisata(ekonomi) bukan(tidak) harus menumbangkan pohon di hutan, merubah alam sekitar!’. Kupikirkan kembali..ada benarnya. Mudah saja untuk menumbangkan pohon di hutan dalam kedipan mata, tetapi itu bukan solusi yg terbaik dan masih ada cara lain yg dapat dilakukan.

    Tentunya kita sangat berterimakasih atas upaya Pemkab Samosir yg bersusah-payah utk menarik investor masuk guna meningkatkan ekonomi disana. Tetapi jika investasi tersebut akan mendatangkan bencana dan dampak dari semuanya malahan membuat Pemkab juga rakyat menjadi sengsara, buat apa??.

    Ataukah memang Pemkab Samosir sudah kehabisan akal/ide sehingga perlu utk membabat dan mengorbankan hutan Tele?.

    @ lae Miduk,
    Horas lae, kalau memang memungkinkan aku juga mau ikut bah. semoga.

    @ lae Foreigner,
    Siapa yg tidak senang kalau kampungnya maju?.
    Tentunya semua orang suka, tetapi kalau ternyata pemerintah membuat rencana yg membuat ‘bom waktu’ bencana, apa kita diam saja?.

    Semoga proyek ini bukan proyek tangisan di masa 5-15 tahun mendatang. Allahualam..Dang huboto…only GOD knows.

    Horas!!

  14. tanobatak berkata:

    Horas kepada semua penanggap halaman ini.

    Seperti yang dikatakan lae Suhunan, blog ini akan berusaha menuntun sikap kita untuk lebih santun walau setajam apapun kita memberikan komentar. Memang partungkoan adalah ajang dialog seperti direncanakan semula. Ini sepadan dengan pantun leluhur “Purpar pande dorpi mantat tu dimposna” Memang dialog yang cenderung gaduh sudah lajim ditemukan sejak dulu tapi harus ada output yang diperoleh dan bermakna.
    kami mempertimbangkan komentar Foreigners yang agak tendensius mengarah kepada seseorang. karena kami nilai masih dalam ambang batas, dan pantas untuk ditanggapi.

    @ Lae Sitohang Parbintan.
    Himbauan agar kita semua jujur mengungkapkan identitas memang sudah saya paparkan dalam SITEDAK RUPA SIBOTO GOAR. Penegasan akan penerapannya sudah saya uraikan di TOPIK 2008. Penerepannya sudah dimulai di NONANG, namun masih ada “dongan” dekat kita yang belum terbuka.
    Tapi dengan semakin meningkatnya respon kepada blog ini maka sejak bulan depan akan saya hapus semua komentar yang tidak jelas identitasnya dan menerapkan meloloskan komentar yang isinya tidak menghujat, menghina dan yang menganggap blog ini milik agama tertentu. Syarat yang akan kami berlakukan adalah :
    1. Nama lengkap dan jelas.
    2. Nama pendek dengan menyertakan blog pribadi yang dalam blog itu dapat dilihat identitasnya yang jelas.
    3. Nama blog dengan menyebutkan nama identitas pemiliknya dengan jelas.

    Semoga tidak ada yang kecewa bila komentarnya tidak dimasukkan dengan persyaratan yang kami buat.

    @ Lae Suhunan
    lHata batak ni “sikap” hurang apala pas huboto. Husungkun pe amanta Bonar Siahaan 😉

  15. Bonar Siahaan berkata:

    Saran untuk amanta Suhunan.
    Komentar dari foreigners nggakusalah ditanggapi, sebab makin ditanggapi makin senanglah dia. Saya telah lihat komentarnya, dan kesimpulan saya bahwa dia adalah seorang manusia yang senang “manjuiti”, dan setelah yang “di juiti nya” pusing dia akan tertawa maka untuk apa amanta Suhunan sudi menanggapinya dengan langsung? Biarkan teman-teman lain yang menanggapi lebih baik terfokus kepada apa yang diperjuangkan.
    Selamat berjuang dan semoga berhasil.

    Eh lupa sadikiiit hata batak ni sikap nahuboto hadirion do.

  16. Horas Tu Hita Sude;

    Mengenai Tour D Toba 14-17 juli 08, masih gagasan perdana. Karenanya masih terbatas yg bisa dilakukan; misalnya, hanya untuk 1 kapal, maks 4o orang. Jatah jakarta 10, medan, 20, dan 1o kota lainnya.

    Tour D Toba kali ini, senangnya dengan swadaya, dan sembari keliling, kita akan mematangkan acara ini untuk ke depannya. Sembari, melalui blog ini, dan milist terbatas, segala ide-ide dan masukan akan kita tampung

    motivasinya untuk bangkitnya kepedulian kita terhadap danau toba, cuman kita hanya inisiator saja, semoga ke depan akan terlembaga. Tetapi mencoba membangun kerjasama diantara pomparan tetea bulan isombaon itu. supa ada satu aktivitas yang benar-benar dilakukan oleh Pomparan Si Raja Batak Teta Bulan Isombaon di Tano batak

    Kita harus Bangkit kan kembali apa yg pernah disampaikan oleh Jong Sumatrabond 1911 : ” Maluku Masa Lalu, Jawa Masa Kini dan Sumatra Masa Depan

    Boleh saja kita tampung yang mau ikut ; titik berangkat dari Medan. Tapi kita sharing bersama, bagaimana mengatasinya.

    Memang lewat blog ini, kita coba dulu gimana respon dari kita semua, jika besar, kami akan bicarakan lagi bersama.

    Mari Membangun Masa Depan Sumatra !

    Miduk Hutabarat
    di bagian barat nusantara indonesia

    horas Lae Suhunan S, ikkon dohot do Lae, malam bersama dengan Pak Bupati, di rapat Kami minggu lalu memang ngak jadi. Karena belum waktunya kita berdialog dengan pejabat setempat. Tolong sampaikan kepada toba dream, supaya di respon. Karena hanya Lae Charly yg merespon. Juga diberitau kepada Oppung Tigor S dan Itok Dolorosa S ya.

    Horas, Ito Lydia Hutagaol : Prempuan Batak Pemecah sunyi ! Ada hasrat tuk mengenal Mu ito ..

    Tu Appara Silaban, Lae Sihotang Parbinta,

    Tu Abang, Eliakim, usul bisa di catat, intinya gimana kita semua enak ..dan bisa semangat membangun sumatra sumut dan Tapanuli

    Perlu La Kita Pikirkan OTORITA DANAU TOBA !

    Horas……

  17. foreigner berkata:

    buat ente2 semua, saya kira adalah sungguh mengherankan kenapa panas dengan komentar gw,…bebas toh gw mengkritik anda terutama mr Si Tumorang. Lah dia juga mnegkritik pemda nya sendir, masa sih dia nggak bisa gw kritik.

    Beranti dia juga arogan donk, tidak berkepala dingin. So funny……………!!

    Nggak bermental pemimpin dan tidak bijak donk kalo begitu karakternya. So apa bedanya dengan yang lain…………………:D

    Inget, kritik gw khan nggak pake kata kasar, dan bukan ngajak berantem.

    So gw mengkritik cara dia aja yang menurut gw sangat lucu kayak LSM kebanyakan di Indonesia. Berani teriak tapi nggak bisa jadi rekanan pemerintah untuk memajuka sendiri daerahnya.

    So sebelom mengkrtik, tolong ente2 instropeksi. Pantas nggak di kritik dan pantas nggak ente mengkritik orang kalo anda sendiri cendrung panas dan tidak bisa berbeda pendapat.

    Sory, gw bukan pendukung Pemda, dan gw nggak benci ama yangdiatas. Gw nggak kenal dia, dan gw bukan provokator.

    Gw cuman orang asing yang menilai sesuatu lebih fair…

    Sekali lagi gw bilang penebangan hutan tele tidak akan membuat Danau Toba gersang dan hancur. Itu masih kesimpulan yang sangat mentah dan perlu peerlu diperdebatkan.

    GW ADALAH ORANG BODOH YANG PERLU PENCERAHAN……………..

  18. pahala panjaitan berkata:

    Pertama-tama yang jelas dari Polemik ini Pihak Korea yang selalu diuntungkan.

    Sehebat apapun program yang disampaikan Pihak Korea tetap merusak lingkungan dan kita lihatlah hasilnya atau anak cucu kita nanti yang akan merasakannya.

    Saya belum pernah melihat program-program seperti ini di Indonesia yang bisa memperbaiki kondisi lingkungan yang sudah dieksploitasi.

    Program tanaman bunga itu hanya sebagai kamuplase saja tetapi kemungkinan ada sesuatu dibelakang program tersebut entah programnya bersifat positif atau bersifat negatif.

    Marilah kita pelihara, kita perbaiki kembali kondisi alam di Tapanuli yang sudah rusak selama ini.

    Sebagai orang Batak kita harus tunjukkan jati diri kita bahwa kita adalah orang batak dimanapun berada tunjukkan nama dan marga jangan jadi bunglon ini bukan sikap orang batak

    Karena sekali kita jadi sifat bunglon untuk selamanya sifat yang begini akan menjadi bagian hidup kita dan saya belum pernah melihat orang batak yang tidak mau menunjukkan jati dirinya.

    Maaf terlalu keras / pedas kata-kata saya ini dan inilah sikap orang batak yang tegas dan terbuka walaupun saya sudah 40 tahun merantau.

    Horassss………. jala gabe.

  19. Apakah arti investasi Rp.100 milyar untuk lahan 2,050 ha?

    Mari kita gunakan matematika sederhana saja untuk memahaminya.

    Luas lahan 2,050 ha = 20,500,000m2 (1 ha= 20,000m2)

    Uang investor yang ditanamkan/ m2 lahan = Rp. 100,000,000,000/20,500,000 = Rp. 4,878 (empat ribu delapan ratus tujuh puluh delapan rupiah). Haruskah kita menggandeng investor luar untuk investasi Rp. 4,878/ m2 lahan di bona pasogit kita yang malang ini?

    Perlu juga kita sadari kalau investor sering menyamarkan pengertian niilai investasi dengan perkiraan total budget untuk periode tertentu.

    Nilai investasi adalah jumlah uang yang disuntik oleh pengusaha (modal sendiri) atau hutang diluar cash yang diperoleh dari hasil operasi. Cash yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan tidak boleh disebut investasi.

    Ilustrasinya: bisa saja tahun pertama si pengusaha menyuntik uang Rp. 1 milyar, tetapi dia membuat anggaran belanja tahun tersebut Rp. 20 milyar. Caranya adalah:

    1. Modal sendiri Rp. 100,000,000
    2. Pinjaman pd pihak ketiga Rp. 900,000,000
    3. Proyeksi penjualan th I Rp. 19,000,000,000
    Total Rp. 20,000,000,000

    Dalam hal ini yang disebut nilai investasi adalah Rp. Rp. 1 milyar, bukan Rp. 20 milyar. Tapi yang muncul di koran biasanya disebtukan pengusaha tersebut akan menanamkan investasi Rp. 20,000,000,000 karena masyarakat awam hanya akan terpesona dengan nilai Rp. 20 milyar.

    Realistiskah budget plan seperti diilustrasikan di atas?

    Jawabannya untuk industri tertentu, ya.

    Lahan 2,050 hutan Tele adalah lahan hutan sekunder yang sudah memberikan hasil bagi investornya bahkan sebelum investor tersebut beroperasi, yaitu stok kayu ratusan ribu ton yang segera bisa menjadi uang puluhan milyar rupiah….

    Mari kita lihat bagaimana rencana anggaran investor korea ini untuk 5 tahun ke depan.

    Ini hanya dari sisi persoalan investasi, belum menyangkut masalah bahaya ekologi yang akan ditimbulkan oleh pembabatan hutan tersebut.

    Petrus Marulak Sitohang

  20. hh berkata:

    @Foreigners, anda tidak bodoh. Anda hanya buta, tidak dapat melihat keserakahan yang ada dibalik proyek tersebut.

  21. Radja M Nadeak berkata:

    bah,… nga habis hape di tabai….!! aha be dohononta??
    adong do hita (punguan) na rutinitas na mambahas jala memperjuangkon on dijakarta on? molo boi baen hamu jo boa2 amang asa dohot iba manghihuti.

    mauliate
    Radja M Nadeak

  22. Miduk Hutabarat berkata:

    Sattabi tu hita sude,
    adong na ketinggalan

    Pertama;
    Tujuan Tour D Toba sembari melakukan assesment, melalui minat peserta yg ikut. Dan akan kita rangkum, kemudian untuk kita bicarakan tindak lanjutnya.

    Kedua,
    aku kelupaan mendelate acara tgl 15 Juli – malam bersama Bupati-, itu memang sudah di batalkan oleh rapat terakhir ii\nisiator, 20 Mei 2008, mengingat pertimbangan supaya kita bebas dulu dengan pihak yang berkepentingan. Walaupun tujuan awalnya, kita mau tukar pikiran ttg pengembangan parawisata samosir 2010.

    Ketiga,
    Perlu kuberitaukan buat amang M. naipospos, supaya ada tambahan Mewakili Inisiator, Miduk Hutabrat, karena kita memang sharing dalam mendiskusikan keinganan kita itu

    Tak masalah
    Tour D Toba ini jadi membicarakan masalah Penebangan Hutan Tele, dapat menjadi indikator tentang apa saja isue mendesak yg perlu kita sikapi

    imajo tusi
    mauliate tu hita sude

    miduk hutabarat
    di bagian barat nusantara indonesia

    bangkitlah Bang Batak….; Bangkitlah Indonesia
    Jayalah negri inii

  23. Miduk Hutabarat berkata:

    Buat Lae Sitohang Prbintan, dan Lidya, besok jumat, 06 Juni panitia akan rapat, sekaligus membawa respon yg ada dari kita semua. Apakah jika sudah lebih, tapi tetap akan di akomodasi . Akan segera diberitahukan

    Menurut laporan yg kuterima, melalui Kom 03 Juni 2008, memberitahukan bahwa Pesta Danau Toba jai undur, ke 14-16 Juli 2008

    Kemudian melalui waspada hari ini 05 juni 2008, Panitia Pesta Danau Toba, mencatut nama kegiatan Kita ; Tour D Toba 2008

    Esok panitia akan membawa ke rapat, bagaimana sikap kita kepada sesama warga indonesia ini

    Tak terbiasa membangun sikap hormat atas hak cipta sesama

    mohon di maklumi
    miduk hutabarat
    medan
    bagian barat nusantara indonesia

  24. @ TanoBatak :
    “Syarat yang akan kami berlakukan adalah :
    1. Nama lengkap dan jelas.
    2. Nama pendek dengan menyertakan blog pribadi yang dalam blog itu dapat dilihat identitasnya yang jelas.
    3. Nama blog dengan menyebutkan nama identitas pemiliknya dengan jelas.”

    Molo halak hita do denggan ma dibahen margana. Unang nidok Lae, hape dongan tubu.

  25. partalitoruan berkata:

    Agoiii amang, naeng dohot do nian au tulang.Amang jo tahe, dohot jo au.
    @Ito/uda/bapatua/ompung Miduk Hutabarat,
    Hutabarat nomor piga do hamu?
    Au, Desy Hutabarat, Partalitoruan nomor 17 sian Pagar Sinondi do au
    Horas

  26. Pak Miduk….dosenku yang menurutku unik…..
    Acara seperti ini menurut saya kecil manfaatnya…..hanya sekedar refreshing aja…dan hasilnya lagi-lagi kita dapat menduga, paling-paling akan keluar komentar ” Indah sekali tetapi kok ga bisa dimanfaatin ya…cck..ckkk”

    Kami sekarang ada program ” School Forestry” ..anak-anak SMA yang baru masuk Asrama Yayasan Soposurung wajib menanam 10 pohon di satu pegunungan di Balige…..

    Kemudian kami punya rencana untuk membangun septic tank untuk digunakan oleh masyarakat yang tinggal di tepi danau……tujuannya supaya air danau bersih……

    hanya sekedar masukan aja Pak…..no offence….

  27. miduk hutabarat berkata:

    Hai Namboru Desy,,udah kuliat foto Namboruku…he hee
    aku partalitorun par pagarsinondi juga, no. 18.. gimana apa ngak mau ikutan ? Masih bisa jatah 5 orang lagi

    Hai Alonso…aku dengar pernikahan Kamu dari Andre..met menikmatinya.

    Mengenai tanggapanMu, makasih ya, untuk memberi kewaspadaan : tahun lalu, aku kordinator napak tilas dan penghijaun ; 100 tahun gugurnya pahlawan nasional sisingamangaraja xii ; 15.000 bibit kami bawa ke Bakkara, Samosir ; sosor tolong, siallagan, pangurruan tele , doloksangggul dan pak pak bharat

    tahun ini, kami sedang mau menyiapkan inventori situs2 Sisingamangaraja XII dan Tour D Toba, untuk mencari langkah tepat yang harus dilakukan

    Salut buat Program Kamu, apalagi sekarang dan besok Polri nanam sejuta pohon katanya di Samosir, maunya terus semakin banyak ya, biar sembuh bonapasogit kita itu

    tapi aku akan hati hati Lonso, umurku sudah 38 tahun :

    Harap Hati-hati
    Sebab
    sekali berarti
    sudah itu mati ..

    miduk hutabarat
    nusantara indonesia
    bagian barat/medan

  28. Sayang sekali ya tak ada yg mengenal foreigners ini. Dan sayang sekali dia ini hanya bicara tanpa pernah kita tahu orangnya seperti apa dan apa yang sudah dia lakukan. Apakah dengan menggantikan hutan tele menjadi kebun bunga sebanding dengan kerusakan danau toba yg diakibatkan proyek tersebut? Apakah tidak ada lahan lain lagi di Kab Samosir di jadikan lahan untuk proyek tersebut?

    Sebagai orang yang juga memiliki blog dan memelihara beberapa website batak saya juga sering menemukan komentar-komentar yang asbun seperti foreigners ini. Entah jelmaan seperti apa mereka mereka ini kita tidak tahu, mereka hanya berani berkomentar di balik nama yang asal-asalan mereka buat (menurut saya orangnya juga “asal ma mangolu”), tanpa bertanggungjawab dengan apa yang di katakan.

    Untuk amang Miduk Hutabarat, Suhunan Situmorang, Monang Naipospos, dll. Saya ucapkan salut dengan kampanye2 melalui dunia internet ini. Saya yakin akan semakin banyak muncul orang yang sadar lingkungan dan akan semakin banyak orang orang seperti amang yang peduli dengan pelestarian Danau Toba.

    Harapan saya kedepan semua pihak semakin sadar perlu satu pemahaman yang sama tentang pelestarian Danau Toba dimana pemerintah jangan semudah membalikkan tangan memberikan ijin membabat hutan di sekitar Danau Toba sementara orang lain mati-matian kampanye pelestarian lingkungan disana. Sia-sia semuanya itu jika tidak dari sekarang di tutup semua perijinan pembabatan hutan di sekitar Danau Toba. Sia sia Sutanto menanam sejuta pohon di Samosir sedangkan dalam 1hari PT TPL membabat berpuluh2 hektar hutan di daerah Tapanuli

    horas ma di hita sude

    Menuliskan komentar di blog orang lain

  29. midian sefnat sihombing berkata:

    Adapun kegiatan Earth Society Tour D Toba tahun ini bertujuan untuk membangun rasa cinta terhadap kawasan Danau Toba.

    Melalui kegiatan Tour D Toba, Komunitas Earth Society dapat melihat dan merasakan secara dekat tentang kondisi Danau Toba yang terjadi sekarang ini.

    Melalui kegiatan Tour D Toba, Komunitas Earth Society melakukan inventarisasi permasalahan yang tengah terjadi pada ekosistem Danau Toba.

    Melalui kegiatan Tour D Toba, Komunitas Earth Society mulai merintis jalan alternatif bagi pengembangan parawisata alternatif di kawasan Danau Toba.

    HORAS…..mohon maaf sebelumnya apabila ada yg merasa tersinggung dgn informasi ini.

    “PELATIHAN PEMBUATAN MOTIF TENUN IKAT DGN MEMGGUNAKAN ZAT PEWARNA KIMIA YG DILAKUKAN PEMKAB.SAMOSIR tgl 24-06 sd 4-07-08
    apabila nantinya bisa menjadi skala industri yg nantinya akan membantu peningkatan ekonomi para perajin berakibat tercemarnya air Danau Toba.
    Keberatan sudah kami sampaikan secara ketemu langsung dgn Bupati Mangindar Simbolon dan pejabat terkait Kadisperindagkop J.Limbong dgn beberapa alasan dan akibatnya. Jg dgn memberikan solusi yg tepat pelatihan2 jenis apa saja yg tepat u pengembahan ulos(sbg ahli) saat ini.Saat itu jg ketepatan ada saksi yg menyaksikan/mendengarkan
    bersama dlm ruang dinas Bupati tsb al:Lae Robert Simanjuntak(Toba Leuser),Bpk.Siahaan(Kepala RS.Pangururan).
    Mohon semua teman2 Earth Society,Toba Dream
    atau siapapun yg perduli dgn Danau Toba agar mengetahuinya.Inikan bentuk keperduliaan kita…..

    Strategi kedua adalah menyangkut metoda pengamatan. Metoda pengamatan yang dilakukan, lewat perjalanan keliling dari air dan darat. Mengingat air adalah komponen terbesar dan merupakan komponen dasar dari keseluruhan mata rantai ekosistem yang ada. Maka yang pertamasekali dilakukan Earth Society tahun ini adalah melakukan perjalanan lewat air.

    Strategi kedua adalah menyangkut metoda pengamatan. Metoda pengamatan yang dilakukan, lewat perjalanan keliling dari air dan darat. Mengingat air adalah komponen terbesar dan merupakan komponen dasar dari keseluruhan mata rantai ekosistem yang ada. Maka yang pertamasekali dilakukan Earth Society tahun ini adalah melakukan perjalanan lewat air.

    Strategi kedua adalah menyangkut metoda pengamatan. Metoda pengamatan yang dilakukan, lewat perjalanan keliling dari air dan darat. Mengingat air adalah komponen terbesar dan merupakan komponen dasar dari keseluruhan mata rantai ekosistem yang ada. Maka yang pertamasekali dilakukan Earth Society tahun ini adalah melakukan perjalanan lewat air.

  30. miduk hutabarat berkata:

    Tu sude akka dongan na naeng bergabung di tour d toba 14-17 juli 2008; pahitca otik mandaftar, nga jenek be tikkki ,

    sekaligus mamareng pesta danau toba hita
    dungi ta ida ma aha na boi sibaenonta tu jolo

    horas

    miduk hutabarat

  31. miduk hutabarat berkata:

    Acara TOUR D TOBA EARTH SOCIETY

    Horas…Horas…Horas !

    Datanglah Pada :
    Hari : Sabtu, 12 Juli 2008
    Jam : 10-12 WIB
    Tempat : Toba Leuser Jl. Singamangaraja 132 Medan
    Acara : Performance Arc Tour D Toba 14 – 17 Juli 2008

    orasi, pembacaan puisi dan pentas suarasaama

    sekaligus persipan acara keberangkatan kita
    Senen, 14 Juli 2008
    Pukul 08.30 WIB
    Kumpul di Jl. Singamangaraja 132 A Medan

    Mauliate
    Horasssssssssssss……………………….

    Bangkitlah Manusia Semesta Raya Danau Toba !

    Miduk Hutabarat
    Mewakili Inisiator

  32. miduk Hutabarat berkata:

    rencananya, minimal akan ada tiap tahun. jika demandnya ada, akan kita organize juga, enam bulanan, atau kwartal atau tiga bulanan.

    sedang dipikirkan dan dilihat peluangnya

    mauliate
    Miduk Hutabarat
    Mewakili Inisiator

  33. Tu sude Hita Batak na Adong di luat Portibion ..
    Saat ini, sedang dipersiapkan rencana Tour D Toba 2009, yang rencananya akan di lakukan 2 sesi

    Juli 2009
    Agustus 2009

    Siapkan waktu, perlengkapan dan amunisi untuk kita berjalan menikmati bersama dan berbuat bersama

    Horas
    Miduk Hutabarat

  34. miduk hutabarat berkata:

    Buat Kawan- Kawan Sebangsa Setanah Air/SSA :

    Dalam rangka menggairahkan keparawisataan Danau Toba, Kami dari Komunitas ES telah menggelar event Tour D Toba Juli 2008 dan Juli 2009.

    Mengingat Pesta Danau Toba/PDT 2009 akan berlangsung pada tanggal 07-11 Oktober 2009, maka tahun ini Komunitas ES akan menggelar kembali event Tour D Toba Gelombang II ; 09-11 Oktober 2009. Sekaligus mengikuti acara penutupan Pesta Danau Toba 2009 di Parapat.

    Bagi yang ingin menikmati sajian khas gelar event Tour D Toba oleh Komunitas ES, silakan mendafatarkan dirinya mulai sat ini; by phone ke secretariat maupun by email.

    Korfirmasi peserta dari Sumut mulai dari, 01 September – Senin, 05 OKtober 2009
    Tiap peserta dikenakan biaya Rp. 1. 250.000/orang, (Sejuta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah per orang)
    Biaya tersebut meliputi; marchandise, akomodasi dan transport serta restribusi.
    Bagi peserta yang akan ikut, dimohon untuk mentransper lunas, mulai dari tanggal, Senen, 07 September – 05 Oktober – 2009

    No Rekening Panitia
    106- 00 – 0533579 -2
    Bank MANDIRI
    K.K Medan Sisingamangaraja
    P.T TOBA LEUSER

    Kesekretariatan Tour D Toba
    Jln. : Sisingamangaraja 132 A Medan 2012
    Phone: +61–7331 555–(734 5957)
    Fax. : +61–733 1927

    Kontak Person
    Christin S : Mb.Phone + 61 – 0811 603416
    Miduk H : Mb.Phone + 61 – 0812 6002350

    SINOPSIS PERJALANAN TOUR D TOBA
    ( 09-11 Oktober 2009 )

    Rangkaian Acara : 07- 09 Oktober 2009
    • Louncing TOUR D TOBA 09
    Pada, Hari Rabu, 07 Oktober 2009
    Pukul 11.00 – 12.30 WIB
    Sekretariat Jln. Sisingamangaraja No 132.A Medan

    • Keberangkatan Gelombang II
    Pada hari, Jumat, 09 oktober 2009
    Pukul : 08.00 WIB
    Sekretariat Jln. Sisingamangaraja No 132.A Medan

    Damai Bagi Bumi Semesta Alam Raya Danau Toba

    Jumat, 09 Oktober 2009
    • 13.00 Check In di Carolina Hotel
    • 13,00- 14.00 Istrahat
    • 14.00 – 18.30 Eksplorasi sisi selatan Tao Toba : Muara Binanga Lhom dan Bakkara
    • 18.30 – 19.30 Mandi istrahat
    • 19.30 – 20.00 Makan Malam bersama
    • 20.00-22.30 Malam Gairah – Suka di Tuk Tuk
    • 22.30 – 06.00 Istrahat

    Sabtu, 10 Oktober
    • 07.00 – 09 Breakfast di Toledo Hotel
    • 09,00- 13.30 Eksplorasi sisi utara Tao Toba : Pulau Tao dan Simanindo
    • 13.30 – 14.30 Makan siang di Silalahi
    • 14.30 – 18.30 Eksplorasi sisi barat Tao Toba : Desa Sitio Tio
    • 18.30 – 20.00 Mandi Belerang di Lereng Pusuk Buhit
    • 20.00- 24.00 Malam Gairah – Suka di atas Kapal di Taa Toba
    • 00.30 – 07.30 Istrahat

    Minggu, 11 Oktober

    • 07.30 – 09.00 Breakfast Saulina Hotel
    • 09,00 – 13.30 Eksplorasi sisi utara Pulau Samosir : Pulau Tao dan Simanindo Sidabutar
    • 13.30 – 14.30 Makan siang bersama di Tomok
    • 14.30 – 15.30 Eksplorasi wisata di Tomok
    • 15.30 – 16.30 Eksplorasi suasana di Panggung Penutupan Pesta Danau Toba
    • 16.30 – 20.00 Menikmati Panggung Utama PDT 2009 dan persiapan pulang
    • 20.00 – 24.00 Pulang ke Medan

    Kontributor Acara
    • Puisi : Idris Pasaribu|Thompson HsIJones Gultom
    • Musik : Komunitas ES : Irwansyah Harahap IMark RannerI Marsius Sihotang
    • MC : Rawalpen Saragih Miduk Hutabarat|

    Daftar Calon Peserta :

    1. Christin Simanjuntak
    2. Efendi Naibaho (Politisi, Medan )
    3. Eliakim Sitorus ( Aktivis Humanitarian, Medan )
    4. Hennita Purba ( Guru, Medan )
    5. Janersen girsang ( Penulis, Medan )
    6. Leo Sitorus ( Pemkab Tobasa)
    7. Lita Tarulaselej
    8. Mark renner
    9. Parlin Maniuruk ( Politisi, Sumut)
    10. Parlindungan Purba ( Poiltisi, DPD asal Sumut)
    11. Parlindungan Siallagan ( Deputy GM Perum Perumnas Sumut )
    12. Tohap Simamora ( Pegiat Radio Komunitas,Haranggaol )
    13.
    Jumlah Target Peserta : 35 orang

    Logistik A : Properti Perorangan
    No Nama Satuan/buah Keterangan
    1 T-Shirt o2 buah Panitia
    2 Topi 01 Idem
    3 Tas 01 Idem
    4 Pin 02 Idem
    5 Gelang 2 Idem
    Sarung dan Ulos 01 Bawa sendiri

    Logistik B : Property Kelompok
    No Nama Satuan/buah Keterangan
    1 Buklet & Poster 10 Bahan sosialissi
    2 Spanduk 2 Idem
    3 Banner 2 Idem
    4 Bendera 3 Idem
    5 Panji Panji 6 Idem

    Catatan
    1. Siapkan dan bawa pakaian renang anda masing-masing !
    2. Jaket dll

    Inisiator 2009 & Jejaring
    • Jhon Robert Simanjuntak
    • Miduk Hutabarat
    • Thompson Hs
    Penutup
    Perjalanan Tour D Toba oleh Komunitas ES ini di kemas dengan menampilkan berbagai pertujukan seni budaya dan spontanitas mengketapel biji2an ke tebing-tebing sisi danau oleh peserta tour dalam rangka menikmati suasana selama dalam perjalanan di atas kapal.

    Demikianlah yang perlu disampaikan, selamat bertemu di event TDT 2009 tahun ini .
    Hai Manusia Semesta Tao Toba, berkaryalah di Bumi Nusantara Indonesia !
    dan akan nyatalah.

    Miduk Hutabarat
    Mewakili Tim Organisir TDT 09

  35. Horas…..
    Sedang dibuat blog Save The Tao (Earth Society)…jadi isinya masih sedikit..tolong berikan masukannya dan saran-sarannya…
    sorry…lupa…..akan digelar juga Tour D Toba Tahap 3 pada tanggal 18/20 Desember 2009….informasi lengkapnya hub,,…sekretariat…jl. Sm Raja No 132 A atau kunjungi…blog savethetao…(www.savethetao.org)

    Mauliate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s