MENJAMIN HAK PEREMPUAN BATAK SETELAH MENIKAH

Monang Naipospos

Ketika hendak menikahkan anak perempuan batak, SINAMOT NI BORU selalu dibicarakan namun yang menerima adalah parboru. Apa demikian yang sebenarnya?

Dalam tradisi batak saat ini yang terbayang adalah, berapa banyak duit yang akan diterima pihak orang tua perempuan (PARBORU). Mereka melakukan kalkulasi, beli pakaian dan perhiasan, beli ulos, beli ikan (dengke) ongkos (khususnya yang dibona pasogit). Semuanya itu dikatakan SINAMOT NI BORU.

SINAMOT NI BORU
Pada tradisi batak lama, setiap perempuan yang hendak dikawinkan harus dijamin hidupnya kelak setelah menjadi “pardihuta” bagi suaminya dihadapan mertuanya. Jaminan itu dibahas berapa besar dari harta calon mertuanya itu yang menjadi bagiannya. Ini disebut MANGGOLI, ada batasan yang jelas yang kelak menjadi PANJAEAN.
Harta benda itu terdiri dari, ruma, sopo, emas, gong, sawah, ternak yang terdiri dari kerbau, sapi dan kuda. Inilah yang disebut SINAMOT. Sinamot itu adalah harta benda yang menopang kehidupan dan kesejahteraan.

MANGGOLI SINAMOT, tujuannya agar kelak tidak terjadi konflik diantara keturunan paranak. Inilah yang kemudian ditinjau kembali oleh pihak orangtua perempuan saat dilakukan TINGKIR TATARING, ketika orangtua lakilaki melakukan acara PAJAEHON (memandirikan) pasangan itu.

Saat manggoli sinamot, raja parhata dengan tegas melakukan permintaan kejelasan akan sinamot ni boru ini, menguraikan beberapa bagian dari jenis harta yang lajim dalam pembagian hak waris.

Saya berikan satu contoh dari kedua keluarga yang memiliki harta benda yang lengkap.
Pihak paranak menjawab permintaan pihak parboru ;
Nauli Rajanami, ianggo sinamot ni borumu, rade ma sada ruma, saparinaan horbo, sandangka mas, dua turpuk hauma saba, jala bagianna ma porlak sisoding. Ba mamuhai tataringna ba rade ma 200 ampang eme.
Yang menjadi bagian mereka kelak ada satu rumah, sepasang kerbau, seuntai emas, dua petak sawah dan kebun. Untuk memulai kemandirian mereka akan diberikan 200 kaleng padi. Disini dijelaskan bila mereka tidak memiliki gong, lembu dan kuda.

Setelah ini disepakati, barulah pihak parboru menanyakan “adat marama”. Ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada orangtua yang membesarkan, membimbing dan merawat hingga dewasa. Ini dikaitkan dengan istilah “pagopas panoguna” memperkuat upaya menarik hati. Tapi dalam bahasa adat lajim disebut “somba maruhum”.

Dalam tradisi lama dengan contoh diatas, paranak menjanjikan satu ekor kerbau sebagai SOMBA NI UHUM. Kerbau ini diantarkan ke kampung halaman PARBORU pada waktu yang ditentukan.

NAPOSO bersiap membuka pintu gerbang kampung dan mereka kemudian disebut SIUNGKAP BAHAL. Saudara PARBORU bersiapsiap membuka pintu kandang “BARA” inilah yang kemudian disebut PAMARAI.
Pamarai dalam kaitan ini tidak dapat disamakan dengan pengertian MANGABARAI memikul beban di pundak.

PAUSEANG
Dalam anak TUBU BORU SORANG keterangan pauseang ini sudah lebih jelas. Ini merupakan penegasan bahwa bila parboru menuntut hak waris anaknya yang disebut PANJAEAN, dia juga berkewajiban untuk memberikan hak waris kepada putrinya yang disebut PAUSEANG.

LEGISLASI HAK WARIS
Setelah cukup waktunya menurut PARANAK maka dilakukan acara PAJAEHON. Mereka menjadi keluarga baru yang mandiri, akan mengelola semua SINAMOT yang sudah dijanjikan sebelumnya. Manjae bisa saja tetap dalam satu rumah tapi jelas pemisahannya dengan istilah MARHUDON PANJAEAN MARTALAGA OLAT-OLAT.
Dalam acara ini langkah parboru disebut TINGKIR TATARING. Pada saat itu parboru dapat menyaksikan semua SINAMOT NI BORU itu dalam bentuk nyata. Bila kerbau, dapat sentuh, sawah dapat dipijak, kebun juga disaksikan dengan mata sendiri. Emas juga diperlihatkan dan ditimbang.
Ini mempertegas bahwa tidak ada lagi silang sengketa kelak diantara menantunya bersaudara, karena sudah disaksikan sendiri dengan pengetua dan kerabat dekat kedua belah pihak.

Setelah itu, pihak paranak melakukan kunjungan ke kampung halaman parboru. Mereka disebut MEBAT, artinya mangebati kampung halaman hulahula. Disini dimanfaatkan untuk mempertegas PAUSEANG yang telah dijanjikan parboru. Pihak paranak berhak mengunjungi sawah yang dijanjikan itu.
Pada kesempatan itu juga dapat dibicarakan (jika mungkin) agar menantunya “marpauseang dihutana”. Ini bila tempat kedua belah pihak sangat berjauhan, hingga sangat merugikan kalau harus “marhauma tandang” mengolah sawah itu karena faktor waktu tempuh yang jauh. Harga jual, (bukan harga “dondon” gadai) sawah itu dialihkan membeli sawah di kampung halaman paranak.

Bila acara UNJUK pelaksanaan perkawinan adalah DIALAP JUAL berada dihadapan parboru, maka kunjungan ke tempat parboru ini disebut MEBAT. Pada acara ALAP JUAL inilah pihak parboru secara total terpenuhi haknya dalam adat dan disebut NANIAMBANGAN.
Bila acara UNJUK dilaksanakan di hadapan paranak disebut DITARUHON JUAL, Pada acara TARUHON JUAL inilah pihak parboru tidak terpenuhi haknya dalam adat karena mungkin tatacara adat dan parjambaron tidak sesua dengan mereka. Mereka harus tunduk dalam hukum adat MARSOLUP DI HUNDULAN. Apa tata cara adat dan parjambaron di pihak paranak itulah yang mereka terima.
Maka kunjungan ke tempat parboru ini disebut PAULAK UNE. Semua kekurangan dan yang tidak terpenuhi saat UNJUK, maka inilah saatnya memenuhi.

Ini sangat bertentangan dengan pemahaman para pakar budaya batak saat ini yang mengatakan PAULAK UNE itu sebagai solusi mengembalikan pengantin wanita yang tidak perawan. Mereka mengartikan PAULAK UNE itu dengan mengembalikan “manusia” dengan baik. Ini tidak ada dalam kamus kebudayaan batak. Kata SIRANG memang ada dalam masyarakat batak dulu tapi prosesnya adalah PAGO SIRANG, bukan paulak une. Pago sirang ada aturan mainnya yang dapat kita bahas di lain kesempatan.

Tidak semua masyarakat batak memiliki harta yang lengkap dan melimpah. Kadangkala dalam pembahasan (harta benda) SINAMOT itu tidak dapat memberikan janji. Pihak paranak hanya mampu menghaturkan sembah permohonan kepada pihak parboru. Tenggang rasa sudah sejak lama berlangsung. Bila pihak parboru lebih unggul dalam harta benda dari pihak paranak maka berlaku adat “tongka masipamaluan” jangan mempermalukan karena kelak mereka akan menjadi keluarga. “Napuran santampuk” sebagai wujud dari sembah penghormatan kepada parboru pun disepakati. Pihak parboru akan menanggung beban yang lebih besar. Walau proses yang tejadi adalah ALAP JUAL namun dalam hal pembahasan Sinamot dan Somba ni UHUM tidak ada hal yang memenuhi sehingga ada penghalusan istilah dengan SITOMBOL.
Ini hanya sebutan, bukan bagian pembahasan dalam adat manggoli sinamot. Istilah SITOMBOL dan RAMBU PINUDUN sebenarnya adalah menutupi kekurangan akibat kemiskinan.

Fakta saat ini, tidak ada lagi pemaknaan manggoli SINAMOT sebagai penjaminan hak perempuan di depan keluarga suaminya. Melulu membahas materi yang akan diterima PARBORU. Kesannya seperti MAHAR dan ada yang menyatakan seperti itu.
Pergeseran pemahaman itu berangsur sejak pihak paranak menyatakan bahwa, kerbau, sawah, emas semuanya sudah dijual untuk menyekolahkan anaknya dan itulah (ilmu pengetahuan, pekerjaan) kelak menjadi PANJAEAN bagi mereka.

Semakin jauh makna Sinamot ditinggalkan karena ada tradisi “langsung” saja. Tawar menawar pun terjadi, hitung hitung pos pengeluaran parboru; ulos yang akan diberi, dengke yang akan dimasak, ongkos rombongan yang diundang. Kesannya SINAMOT NI BORU tapi orang tua perempuan yang menghabiskannya.

Di sela keruwetan pelaksanaan acara adat, ibu pengantin perempuan berkelana menemui semua undangannya dan menyalamkan uang ribuan dengan ucapan “godang do jujalo tuhor ni borunta” atau sesuai dengan hubungan kekeluargaan. Dia menyatakan telah menjual anaknya.

Bila kedua belah pihak memang tidak memiliki harta benda untuk melaksanakan tata kelola adat perkawinan seperti lajimnya dilakukan orang berada, maka SINAMOT tidak lagi dibahas. Mereka memperkecil skop pelaksanaan adat itu. Bahkan tidak ada UNJUK (acara yang biasanya dilakukan di halaman terbuka) tapi dilakukan di dalam rumah. Acara ini disebut MANURUN. Paranak dan parboru berunding menanggulangi biaya.

Apakah dari keluarga yang sangat miskin dapat melakukan perkawinan?
Bila acara MANURUN yang paling sederhana tidak dapat dilakukan maka MANGEMBALHON GAJUT adalah jalan keluarnya. Hanya pengantin yang diberi ulos oleh parboru dan tulangnya bersama kerabat terdekat saja. Kadang tidak ada acara makan dan parjambaron. Kemudian ibu dari pengantin perempuan memberitahukan kepada para kerabat jauh waktu ketemu di onan perihal perkawinan yang sudah berlangsung itu.

Proses perkawinan itu sah menurut adat, dan tidak boleh ada klaim seperti yang sering terdengar saat ini “dang maradat dope”. Yang menikah dengan cara mangembalhon gajut tidak berhutang lagi untuk melakukan pesta adat yang lebih besar walau kemudian menjadi kaya raya.
Bila kemudian dia berniat memberi penghormatan kepada hula-hulanya karena sudah memiliki harta, tidak lagi disebut “mangadati”. Dia hanya memilki kesempatan dengan cara PAEBATHON PAHOMPU.

Konflik pelaksanaan adat perkawinan saat ini berkembang karena tidak ada yang mau mengalah, tidak ada dasar pemikiran makna tradisi itu. Cenderung berlomba meriah tanpa mengukur kemampuan yang ada, “Paihutihut gaja marhonong”. Bila acara dilakukan dengan sederhana, ada pula yang menyindir, “pesta apa ini”.

Banyak yang berkehendak untuk menyederhanakan tapi jarang yang mampu memulai. Adat perkawinan saat ini melelahkan karena lebih banyak asesori yang tidak penting daripada pemaknaan. Yang sederhana seperti MANURUN dan MANGEMBALHON GAJUT sudah dianggap tidak adat ladi. GOK NI ADAT dimaknai bila parboru menerima SINAMOT NI BORU dan ada acara yang meriah. Inilah yang dikategorikan para leluhur NATUNGGING DO NATEAL SONGON HUDON NA SO HINARPEAN.

Materi tulisan ini diurai berdasarkan pemaparan dari beberapa tohot adat di toba dan berdasarkan pengamatan dan kesaksian sendiri penulis.


Bookmark and Share

Tautan Perempuan Batak :

Lidya Semakin Cinta
Bila Boru batak Marhasapi
Perempuan Batak Memecahkan Kebisuan
Apa Pesan Siboru Tumbaga
Pesona Boru Batak

19 pemikiran pada “MENJAMIN HAK PEREMPUAN BATAK SETELAH MENIKAH

  1. @ Lidya Hutagaol.
    Teruskan saja berinteraksi dengan “amanta” Naipospos ini,saya jamin perbendaharaan habatahon mu akan luas dan dalam.
    sukses untuk semua.

  2. Bah tahe tulang, berarti na sonari on, nga godang naung ipangkas rangkaian ni adat i ateh.Sasintongna songonon do hape ateh. Bah, nga porlu marsiajar muse huida akka na mandok dirina mangantusi adat on.
    Horas

    *** Nunga godang ito adat nauli i disegai. Molo nidok i, sai nabinotona do dipartahanhon. Dang merujuk tu logika dohot kewajaran. Ingkon adong sada kajian pendalaman spritualitas budaya batak. Nuaeng on jotjot do adong seminar budaya batak, alai losok roha marnida alana dang tu impola ni paradaton i dibahas, melulu do penyederhanaan. Hape molo mulak tu makna adat, nunga sedehana be. Ai memang adat pinungka ni ompunta najolo, sederhana do alai mengandung nilai kemanusiaan dan keadilan. Adong do hata saonari mandok, “pinungka ni najolo pinature di pudi” hape lam marganjang dang marlapatan.
    Tokoh adat i ito angka parilmu sibagur do godangan, dang olo umurut sian pandapotna jala dietong apala tingkos nabinotona. Ba, iba ma sumurut, mamangke ilmu bodat, pinasip sotung didok “dang diantusi ho i”

  3. Mauliate lae dihatorangan muna taringot tu materi adat on.
    PAULAK UNE, mengenai hal ini memang banyak juga orang yg salah memahami termasuk aku.
    Tetap semangat lae! Horas.

    *** Tulisan ini terinspirasi sejak lama ketika lae melakukan pertanyaan itu via email. Saya jawab singkat, tapi setidaknya ini menjadi pelengkap jawaban saya kepada lae Nainggolan. Mauliate.

  4. Horas,

    Saat ini kawasan Hutan Lindung Register 66 di Batu Ardan, Desa Sopokomil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara sedang terancam dialih fungsikan. PT Dairi Prima Mineral sudah memasukkan pengajuan untuk mendapatkan izin dari Menteri Kehutanan untuk mengeksplorasinya.

    Kawasan hutan lindung tersebut adalah habitat harimau Sumatera dan 20 jenis tanaman langka. Menurut Walhi Sumatera Utara, saat ini harimau di kawasan itu tinggal sekitar 15 ekor. Sebagian besar sudah “mengungsi” ke Aceh Selatan, karena terusik oleh aktivitas penambangan seng dan timah hitam yang dilakukan PT Dairi Prima Mineral di perbatasan hutan lindung tersebut.

    Selain sebagai “rumah” hewan dan tanaman langka, hutan lindung tersebut adalah bagian dari sistem ciptaan Tuhan yang menjaga keseimbangan ekologi Danau Toba dan sekitarnya.

    Oleh karena itu kami merasa tergerak untuk mengajak semua warga negara Indonesia yang peduli kelestarian alam dan lingkungan hidup, terutama orang Batak di mana saja : mari kita selamatkan kawasan Hutan Lindung Register 66 di Batu Ardan, Desa Sopokomil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

    Mari kita lakukan dengan segala cara yang mungkin dan sah untuk menekan Menteri Kehutanan, agar jangan mengeluarkan izin eksplorasi hutan lindung tersebut. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih meridhoi dan memberkati perjuangan kita.

    Jakarta, 13 Juni 2008

    Raja Huta & Suhunan Situmorang

    http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/13/gerakan-penyelamatan-hutan-lindung-dairi/

  5. Horas,
    Lae, las roha adong na manuluhiti tarsingot hak ni boru/perempuan batak setelah menikah. Beha muse hak ni perempun batak na so mariboto tarsingot harta/warisan. Masalah on adong barita ni si Boru Tumbaga tinghi dakdak ahu sian opera batak do huboto baritana ale dung doli-doli hea tar jaha ahu sada karya sastra na marjudul Boru Tumba (gorar ni panuratna indang tangkas be huingot, molo so salah ahu Arsenus Lumbantobing). Ra boi do tong luluan ni lae tarsingot barita on. Molo ahu marpandapot na toho do tarjadi on jadi indang holan barita, jala boru Tumbaga ma Kartini halak batak . Sai anggiat lam godang na olo mamalihoro adat, hata, musik dohot surat batak.
    mauliate

    *** Usahahononta do manurathon i, mauliate di saranmuna.

  6. sude do hita amang las rohana didok maradat…ale sonari on ikkon adong sekian puluh juta asa boi kawin dohot mangadati…apalagi di jakarta on…

    bohama baenonnami akka napogos on na tinggal di pangarantoan… jlo papunguan ma sampe 10 taon asa sukkup. bah… molo mamante ido nga 40 taon .

    jadi godang do naposo ni halak batak naso kawin hape nga godang umur. alani biaya sinakkin…

    mauliate.

  7. Nadeak.
    Molo di BONA PINASA gumodang do anak ni namora sian anak ni dongan napogos jolo matua asa marhasohotan.
    Sada do ingotonmuna,”unang naganjang suhat-suhat ni najempek.

    Horas.

  8. Mauliate lae Naipospos di tulisanmuna on. Adong dohononku saotik sekedar masukan. Paihut-ihut adat ni halak Batak nuaeng naung lam marganjang jala lam arga sian segi materi lam ganda do keprihatinan di iba. Memang gumodang nama lipstikna (asesorisna) sian impolana. Ai nuaeng on pe ingkon sai hira na wajib marmusik di perkawinan. Ingkon porlu muse hepeng jalangkonon tu pengantin i. Jadi taringot au cerita ni angka donganta Nias na songon na ‘mabiar’ mangoli ala sinamot arga (ingkon tupa 100 ekor pinahan songon sinamot?). Ujungna sai marusaha ma angka baoa ni Nias mambuat boru sian luar Nias asa moru sinamot. Ujungna godang ma boru nias na matua so muli ala dang olo baoa ni halak Nias mangoli tu ibana. Masalah mahal tidak mahal on ma sonari keluhan ni godang halak Batak. Ingkon marpuluh juta baru boi maradat? Apakah budaya Batak menindas kehidupan Batak? Napaduahon, molo marpesta halak Batak dang ‘sah’ anggo so selesai sampe larut malam, ai baru pe pkl 08 borngin asa mulai marhat adat, sementara tingki tonga ari gumodang patortor parumaen do, gariada jam makan siang pe olo sampe pkl 05. sore. Oh hita Batak tapature ma naung rundut on.
    Horas

  9. Ise do na manontuhon pardalanni adat ikkon Alap Jual manang Taruhon Jual?
    Molo oppung ta na jolo, umum na Alap Jual manang Taruhon Jual?

    Antara Alap Jual manang Taruhon Jual, adong do on kaitanna tu daerah tertentu? Misal di Balige biasana Alap Jual, alai di Siantar biasana Taruhon Jual.

    Mauliate parjolo, tulang Naipospos.

  10. Alap Jual : Acara marunjuk, (adat) semua dilakukan di tempat parboru. Dalam kondisi ini parboru mengatur segalanya “parjambaron” dan dalam kondisi itu pula disebut parboru “naniambangan”
    Taruhon Jual : Acara marunjuk semua dilakukan ditempat paranak. Biasanya itu dulu saat “boru” sudah berada di rumah paranak, bisa karena kondisi “mangalua” atau kesepakatan lain. Dalam kondisi ini semua parjambaron sesuai dengan kehendak paranak, dan dalam kondisi ini parboru tidak lagi “naniambangan” Pada masa ini ada kesimpangsiuran di kondisi taruhon jual selalu parboru memaksakan kehendaknya sesuai adat istiadat di kampungnya. Dilupakan “sidapot solup di hundulan”

    Setelah kompomi “Taruhon Jual” sering berlangsung walaupun pengantin perempuan pada hari itu juga dihantar ke rumah paranak, perbedaan kedua hal ini menjadi buram. Pada jaman dulu di adat batak dimana pun daerahnya Alap Jual adalah lebih terhormat bagi perempuan dan bagi parboru. Karena pertimbangan untung rugi bagi paranak, maka apapun bentuk parjambaron yang dikehendapi parboru dimaui aja asalkan pesta dihalaman paranak, dan itulah kebiasaan dan menjadi adat batak (baru) dan bertahan sampai saat ini.

  11. sangat porlu doon bah apalagi tu akka hami pangaratton bah,,terutama akka na lahir di pangarantoan,,akkana kawin tu akka halak silom asa di boto mambedahon adati,,argani adat ni halak hitaima nian,,thaks you,

  12. Dalam pelaksanaan adat Batak masa kini, khususnya dalam peseta pernikahan, ada kebiasaan yang umum bahwa pengantin wanita Batak mengenakan kain songket Palembang. Kalau dipikir-pikir, aneh juga kenapa orang Batak mengenakan kain milik suku lain, apakah tidak ada pakaian khas Batak yang bisa ditampilkan? Bagaimana kalau dibuat tulisan/ posting tentang busana adat Batak asli?

  13. Banyak Halak Hita tidak menghargai karya kaumnya sendiri. contoh, orang sunda……….. banyak sekali karyanya dari pabrik sepatu, celana jean dan pakaian, makanan asinan dsb, kueh2, dan mereka mengajak orang luar untuk menikmatinya. Kota Bandung menjadi terkenal akan kreatifitasnya, bandingkan dengan Siantar..!! Sebagian besar orang kita lebih bangga menggunakan produk bangsa lain, ini yang menyebabkan lam tu pogosna halak na dihuta!!!

  14. Tulang Naipospos, saya mau bertanya, bagaimana prosedur adat seandainya boru Batak hendak diperistri lelaki non-Batak, atau seorang lelaki Batak ingin memperistri ‘boru sileban’? Tentunya nenek moyang kita pernah ada yang menikah dengan orang di luar Batak. Apakah ada keharusan lelaki non Batak itu menjadi anak ni namboru atau wanita non Batak menjadi boru ni tulang? Saya tertarik untuk mengetahui bagaimana aturan menurut adat Batak lama (bukan yang jaman moderen). Terima kasih.

  15. A. Siagian
    Setahuku tidak ada aturan mengatakan itu “keharusan”. pada jaman dulu, bila ada niat melakukan itu, maka harus ditempuh dengan cara;
    1. Si lelaki non batak diangkat menjadi anak oleh seseorang yang dipilih melalui prosedur “dirajahon”. Dia harus jelas menjadi anak dan titentukan punya hak waris atau tidak di depan para raja yang diundang saat upacara adat mangarajahon itu.
    2. Bila si anak itu hendak menikah dengan boru batak, maka orang tua angkat itu punya tanggung jawab sebagai orang tua penuh. Dia akan berdampingan dengan orang tua alinya sebagai saudara angkat. Dalam proses ini, hanya si anak angkat yang berhak menggunakan marga sesuai dengan orang tua angkatnya.

    Demikian juga halnya dengan perempuan non batak, bila dilakukan adat mangarajahon menjadi anak oleh satu keluarga.

    Acara “mangarajahon” tidak bisa dilakukan sekaligus saat pelaksanaan pernikahan.

    Bila non batak melakukan pernikahan dengan batak, maka biasanya, orang tua perempuan non batak disandingkan dengan tulang lelaki sebagai wakil parhata. Tak perlu harus menyandang marga tulang itu. Saat orang tua perempuan non Batak melakukan tradisi mangulosi dan semua pelaksanaan unsur adat. Biasanya karena masalah bahasa, maka sang tulang menjadi pembicara dengan umpama dan umpasa yang sesuai dengan tata laksana adat.
    Demikian juga sebaliknya bila laki-laki non batak, maka disandingkan dengan amang boru dari perempuan untuk mendampingi paranak non batak untuk tata laksana sesuai dengan adat. Tidak bisa disebut bahwa dia otomatis semarga dengan yang mendampinginya.

    Yang perlu diingat adalah; setiap pemberian marga kepada seseorang non batak, harus ada “suhut” yang menjadi orang tua angkatnya untuk bisa menggunakan marganya melalui tata laksana adat khusus yang lajim disebut “mangain”.

    Pemaksaan seseorang untuk menyandang “marga” tanpa proses adat dan tanpa permintaannya secara sadar adalah penindasan hak azasi seseorang dan penodaan marga tertentu.

  16. Berarti telah banyak org batak yg lari dari jalur “arti sinamot yg sesungguhnya” sehingga sekarang ini bnyk org menganggap adat batak itu mahal, padahal kenyataannya tidak. Yang membuat mahal adalah kesombongan pihak pihak tertentu yg tidak mengerti arti sesungguhnya dari sinamot…. itu,,, trmasuk saya yg jadi korban mahalnya sinamot, sehingga sampai umur 34 tahun blm bsa menikah
    kwkwkwkwkwkwkwkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s