Apa yang perlu kita kembangkan ke depan ?

Mdiuk Hutabarat [ dari perjalanan ]

Horas ….
Pada 17 Juni 2008 kemaren, Kami 17 orang ; ada Raja Tonggo Tua Sinambela, Raja Parlagutan Sinembela dari Siantar, R.A.J. Sinambela dan keluarga Raja SM XIi di Balige dan di luar keturunan yaitu Panitia 100 tahun (lalu) gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII melakukan Ziarah ke Tugu/Makam Ompung di Soposurung Balige.

Hingga saat ini Panitia 100 tahun Gugurnya Pahlawan SM XII 2007 yang lalu belum bubar, bahkan sedang melakukan serangkai diskusi2 untuk mencari wadah dan bentuk untuk meneruskan semangat kepahlawanan dan Kepemimpinan Raja Sisingamangaraja ke depan dalam menjawab problematika di tanah Batak, Sumut dan Nasional.

Maksud Ziarah Kami tak lain adalah turut upacara bersama Pemda, Doa dan sekaligus membangun tim yang sedang berproses ; ada banyak yang didapatkan dari sana :

Bahwa Raja Sisingamangaraja XII telah melakukan konsolidasi Politik diantara Bius-Bius yang ada di tanah Batak. Dan masa 1871-1907; adalah masa perlawanan terbesar secara kolketif di Tanah Batak atas Kolonila Belanda. Sekalipun tidak mengabaikan perjuangan Raja-Raja Batak di Biusnya masing-masing

Apakah Raja Sisingamanagaraja sebagai Imam, seperti yang di sebutkan oleh Belanda, dan bahkan telah membuat film dokumenter nya yang berjudul : The Last Batakkoning ? Atau Sisingamangaraja XII adalah Raja Batak ?

Benar bahwa sejak 1928; ketika sumpah Pemuda di Deklarasikan, Bangsa/Ethnos di nusnatara ini di ubah menjadi Suku Bangsa. Suatu peristilahan dari politik – karena Bangsa Indonesia lahir karena lahirnya Negara : Z. Pangduan Lubis – . maka Bangsa Batak – turun levelnya ? – suku batak. Sukur-sukur ngak jadi suku cadang . Sejak saat itu, mulailah ke-identitas-an etnistas mulai bergeser banyak. Namun sayangnya, etnis Jawa semakin menguat. Ditandai dengan transmigrasi, kemudian duta budaya yang selalu menampilkan perwayangan dan simbol-simbolnya sementara etnis lain jarang mendapatkan porsinya. Hal ini menurut laporan dari berbagai rekan2 yg sering keluar indonesia; ruang utama duta besar RI umumnya selalau ada patung/model Gatot Koco nya.

Dan Tanah Batak ; oleh kekuatan perubahan yang dilakukan institusi Gereja – dalam hal ini HKBP, Methodis, GKI, HKI dan Gereja Kahrismatik – kurang bersahabat dengan budaya dan produknya. Agaknya lebih bersahabat Gereja Katolik – ketika ada istilah Ilkultrasi Katolik – melahirkan lagu2 Gereja yang bernuasa etnis.

Eeh kembali ke masalah RSM XII
Apa yang perlu kita kembangkan ke depan ? Adalah mengaktualkan seluruh produk budaya Batak yang sudah ada, dan membuatnya menjadi suatu yang di gandrungi dan diminati oleh Batak dan Non Batak

itulah ‘PR’ kita ke depan kurasa Rajanami/ Oppung/Tulang/Amamngboru/ ….

mauliate

Tulisan Miduk sebelumnya :
Reflexi Peringatan 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja Xll

Iklan

3 thoughts on “Apa yang perlu kita kembangkan ke depan ?

  1. @ Lae Miduk

    Saya mau usul konkrit…Mungkin nyeleneh untuk konteks saat ini…

    Usul saya mari kita hidupkan kembali dinasti Sisingamangaraja.

    Toh keturunannya masih ada yang hidup..Yang perlu ditambahkan, perlu dibuat sebuah statuta dinasti dengan memperhatikan masukan dan pendapat tetua-tetua seluruh wakil marga-marga Batak melalui sebuah Kongres adat Batak.

    Tanpa bermaksud mengurangi kebaikan yang telah dibuat lembaga-lembaga yang selama ini mengklaim sebagai pemegang otoritas budaya Batak, sejarah panjang dinasti ini dalam memperjuangkan identitas kebatakan menjadi dasar tak terbantahkan untuk mengambil kembali peran sebagai pelestari identitas dan kebudayaan Batak kepada dinasti.

    Yang diperlukan hanya suatu keberanian orang Batak hanya butuh untuk menerobos semua tabu yang telah diciptakan oleh Belanda dan dilanjutkan oleh semua rezim yang berkuasa di Indonesia sejak merdeka hingga saat ini: yaitu menghidupkan kembali dinasti Sisingamanagaraja adalah sebuah kemunduran abagi bangsa Batak.

    Tidakkah aneh melihat kenyataan bahwa hingga saat ini masih ada Sultan di Deli, Cirebon, Yogya, Solo, Ternate, Banjarmasin dll yang diakui otoritasnya dibidang kebudayaan di daerahnya masing-masing tetapi tidak ada Raja Batak yang mengayomi budaya dan identitas kebatakan…?

  2. Marudut Pasaribu berkata:

    @Lae Miduk

    Anak-anak muda adalah subyek yang paling agresif untuk menghidupkan atau paling tidak mempertahankan suatu budaya. Keterlibatan mereka akan menciptakan dinamika dalam budaya tersebut. Semakin dinamis suatu budaya sudah tentu akan semakin menarik. Sayang sekali dalam budaya batak keterlibatan aka naposo sangat minim bahkan di dalam paradaton tidak masuk hitungan sama sekali.

    Dengan kemajuan teknologi sekarang ini anak-anak muda sudah berani menunjukkan jati dirinya melalui blog yang mereka kelola. Sudah banyak blogger naposo batak sekarang ini dan isi blognya juga cukup menarik.

    Dengan phenomena blogger sekarang ini justru membuat aku optimis bahwa budaya batak akan tetap eksis. Kesenjangan komunikasi karena usia maupun partuturan sangat diminimalisir dengan komunikasi virtual sekarang ini. Kalau face to face seperti dulu rasanya tidak terbayangkan orang yang telah berusia 40 tahun seperti aku ini masih bisa dapat kawan yang baru lulus sma bulan lalu.

    Kami di Toba Dream sangat menyadari ini. Istilah “Batak Keren” beserta philosophinya memang sengaja diciptakan untuk mengakomodir para naposo. Tidak hanya agar habatahon bisa tetap eksis ,tetapi kami dan tentu kita semua berharap para naposo ini bisa berkarya dengan tetap menjunjung tinggi traditional value yang telah diwarisi oleh opunta si jolo jolo tubu.

    Mauliate

  3. miduk hutabarat berkata:

    Kok sepi ya opini ini. Tadinya aku mau melihat komentar-komentar dulu, baru balas. Sudah pernah kulontarkan gagasan induknya ; Kongres Kebudayaan Batak se Dunia. Yang merevitalisasi kemabli ke-seluruh-an batak dan habatakon kita. Tentu dalam bingkai NKAR> Artinya; Batak yang memberi khasanah bagi ke-indonesia-an kita. Dalam konteks demokrasi politik, kebudayan dan ekonomi.

    Sedangkan untuk beebrapa sup didalamnya, kita bisa melakukan KTT semisal untuk membahas :

    Pengembangan Danau Toba
    Pengelolaan PT. TPL
    Pengelolaan PT Inalum
    Pengelolaan PLTA Renun Silalahi
    Pengelolaan Gas Aek Sarula
    Eksplorasi Di Batangtoru
    Pengelolaan Hutan
    Pengelolaan Kelautan di Perairan Pantai Barat Sumater

    dengan demikian aktivitas kita jadi banyak, dan akan menyodot anak2 perantau untuk masuk ke Tapanuli ( maaf, jangan lagi menggunakan kata daerah, yang menurut kesannya tidak elit –

    gimana ?

    Miduk Hutabarat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s