Bangkitlah Bangsoku …

Andrie GA Sajono Sitompul

Aku tak peduli dunia ini jadi apa,
Aku tak peduli Indonesia ini seperti apa,
Aku tak perduli Semuanya,
Aku hanya peduli BANGSO BATAK saja,

Mari Bangkit BANSOKU
Mari Maju BANGSOKU
Mari Kita getarkan DUNIA INI
Mari kita guncangkan BUMI INI

Agar semuanya tahu
Bahwa kita BANSO BATAK yang Agung
Bahwa kita BANSO BATAK yang Besar
Bahwa kita BANSO BATAK yang Terpilih
Bahwa kita BANSO BATAK yang Abadi

Salam perjuangan dari tanah perantauan sang militan dan pencinta Budaya Batak….!!!

Iklan

12 thoughts on “Bangkitlah Bangsoku …

  1. Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu dibuang…

    Kita harus care, bah Amangboru.
    Tapi, dengan peduli ke Bumi Batak, Bahasa Batak, Manusia Batak, Budaya Batak, kita sudah memperdulikan Dunia yang didalamnya juga ada Batak.

    Horas!

    *** Horas tulang. Saya tidak tau lagi dimana ada parmonsak itu. Tapi Thompson Hutasoit Direktur PLot paropera itu mungkin bisa membantu. http://thompsonhs.wordpress.com/

  2. Ferryawan Tarigan, SE berkata:

    Orang batak sudah saatnya bangkit.
    Buktikan kalau kita bisa dan tidak terkalhkan. Apakah anda bisa yakin orang batak bisa bersatu?
    entah disadari atau tidak sebenarnya ada gab yang terjadi antara orang batak yang berbeda agama. Orang bilang Batak itu identik dengan Kristen. Jadi bagaimana dengan kami yang bukan kristen? Sepertinya keberadaan kami kurang diharga dan diakuai.sepertinya ada sedikit diskriminasi entah itu disengaja atau tidak dan disadari atau tidak.
    Bagi mana menurut anda? Saya ingin kawan2 di Blog ini beri sedikit gambaran tentang situasi ini. Horas….tu hita saluhutna

  3. Bonar Siahaan berkata:

    @Ferryawan Tarigan SE.

    Menurut pengamatanku bukan orang batak yang Kristen membuat gab,tapi justru orang batak non kristen (Batak Muslim) yang sering membuat jarak,Itu dapat dipahami dari segi makanan .
    Orang batak bisa bersatu? Mungkin,tapi dengan syarat seluruh komunitas batak mutlak mempunyai tenggang rasa bagi sesama.

  4. Marudut Pasaribu berkata:

    @Ferryawan Tarigan

    Menjuah-juah silih…

    Kondisi yang kam rasakan sebenarnya terjadi di seluruh indonesia. Pengkotak-kotakan itu sengaja diciptakan oleh orang-orang yang punya kepentingan politik. Demi mendapatkan dukungan masa, para politisi itu menggunakan semua hal termasuk agama, biaya yang paling murah, untuk mendapatkan masa.

    Termasuk dikalangan batak, indoktrinasi sektarian oleh para politisi itu terjadi juga, namun tidak berhasil sama sekali. Sistem paradatan yang kita jalani tidak menganut pemisahan agama. Semua agama diakomodir di dalam paradaton bahkan untuk saudara-saudara yang tidak bisa memakan babi (islam, parmalim, advent, etc…), disediakan makanan khusus yang tidak mengandung babi (parsubang). Situasi belakangan ini malah di beberapa pesta batak yang kuhadiri sudah tidak menggunakan babi lagi sebagai tudutudu sipanganonnya.

    Ada beberapa gerakan yang mencoba untuk memecah belah bangso batak namun kembali lagi bahwa gerakan tersebut mengalami kegagalan karena kita punya pertahanan yang alamiah yaitu paradaton. Ternyata budaya yang telah diwariskan para leluhur kita bukan saja telah menciptakan manusia kritis tapi juga kebal dari intervensi budaya import dengan judul agama. Sadar akan kekuatan yang kita miliki tersebut, para avonturir tersebut mulai mencoba menjauhkan kita dari budaya dengan memberikan stigma dosa pada beberapa aktivitas budaya seperti mangulosi dan gondang. Menempatkan agama di atas budaya dengan dalih-dalih yang mereka ciptakan sendiri.

    Bangso batak adalah manusia yang sangat moderat Prinsip dalihan natolu yang kita anut selalu menjadi acuan, bukan agama.

    Itulah sedikit pandangan dari aku…

    Horas

  5. ferryawan Tarigan SE berkata:

    mauliate ma akka tu lae….atas komentarnya….
    Hidup ma bangso batak

  6. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    @Ferryawan Tarigan SE.
    Saya ikut comment ach!
    Saya punya tetangga Batak Mandailing mohon maaf kalau saya sebut marga beliau yaitu LUBIS agamanya “SILOM”, paling alergi melihat orang Batak Kristen, sampai2 suku Jawa, Sunda, Betawi tetangga kami diajak untuk memusuhi kami.
    Jadi sebenarnya, entah disadari atau tidak yang membuat gap antara orang batak yang berbeda agama itu SIAPA?. Orang bilang Batak itu identik dengan Kristen??, saya katakan tidak, semua orang tahu bahwa Nasution Jenderal (ALM) bukan orang Kristen, demikian juga Adam Malik (alm) dll dll.

    Ada sebutan khususnya yang diperantauan/ parserahan buat Orang Batak Mandailing, dalam tanda kutip yang agamanya “SILOM” dalam pergaulan sehari-hari sbb :
    “KALAU YANG BERSANGKUTAN BELUM BEKERJA, MAKA DIA AKAN BERGAUL DENGAN ORANG BATAK TOBA (UTARA) DI TERMINAL2, STASIUN2, kalau ditanya misalnya LUBIS darimana asalmu, dengan SIGAP dia jawab dari UTARA, tetapi APABILA SUDAH BEKERJA DIKANTORAN, NAIK JAGUAR dan TINGGAL DIPERUMAHAN ELITE, giliran ditanya LUBIS darimanaasalmua jawabnya dari SELATAN, akhirnya datang orang Batak dari Utara diplesetin, sian dia do asalmu LUBIS? sian SILATAN do ia?….ha….ha…ha…namangosos tu bona ni haui do ia .
    N.B. : tu Amangboru Naipospos……. unang pola dibahas hamu Amangboru…goarna pe sirbur-ribur alias “only joke”.. alias SERSAN…. Serius tapi Santai.
    “Motor Pit ma tu generator Yama, Sai dao ma na pitpit, sai ro ma na tama”.

  7. Marudut Pasaribu berkata:

    @Bonar Siahaan

    Mauliate amang, sian hamu dohot Lae Monang Naipospos do dapo tu hapistaran on.

    Horas

  8. Garth M. Meha berkata:

    Lae Ferryawan Tarigan, botuldo na nidok muna i lae, nunga tingkina hita hehe.
    Salah satu syarat untuk bisa bangkit adalah membuang jauh jauh purbasangka seperti yang lae sebutkan di atas. Janganlah kita merasa kurang dihargai atau kurang diakui.
    Datanglah berkunjung ke kabupaten kami lae, kabupaten Humbang Hasundutan. Lae bisa saksikan keharmonisan yang ada di sana. Semua memiliki hak yang sama dalam segala hal, termasuk dalam pilkades.
    Mejuah juah kerina.

  9. Ginomgom Simanjuntak S.KOM berkata:

    Perbedaan bukanlah suatu kesalahan, tetapi merupakan suatu karuniah yang indah.
    Di batak lengkap dengan berbagai agama, Parmalim, Kristen, Islam, bahkan hindu dan buddha juga ada, tapi tidak pernah terjadi perpecahan oleh karena perbedaan tersebut. Karena Sesungguhnya Nenek moyang Batak itu mengajarkan Adat do Habonoron, Habonoron do Adat yaitu Adat merupakan sarana untuk menjalankan Agama dan Agama merupakan Landasan untuk menjalankan Paradaton.

    Sudah saatnya kita batak menjadikan perbedaan agama yang ada menjadi landasan yang kuat untuk saling menghargai, dan bukan untuk membangun suatu permusuhan.
    Karena Permusuhan pasti akan merugikan semua pihak, dan saling menghargai akan menciptakan Kedamaian yang ABADI.

    Maju Bangso Batak..

    Horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s