BILA ANAK HENDAK MENGGAPAI BINTANG

Monang Naipospos

Tano Batak dalam 18 tahun terakhir ini sudah mengenal adanya pendidikan berkualitas versi PLUS. Pertama dalam sejarah pendidikan, lembaga swadaya masyarakat melakukan support peningkatan kualitas pendidikan itu bekerja sama dengan sekolah negeri.

SMA Negeri 2 Balige adalah tempat belajarnya siswa PLUS yang dikelola Yayasan Soposurung yang kemudian lebih popular disebut YASOP. Yasop merekrut siswa/i SMP berprestasi sebanyak 40 orang untuk dibina dalam asrama. Lainnya direkrut oleh sekolah. Semua siswa/i SMA Negeri 2 Balige terdiri dari siswa/i yang diasramakan dan non asrama dibina oleh guru berkualitas yang ada dan yang direkrut dari pulau Jawa. Tahun 2008 ini siswa/i yang direkrut YASOP menjadi 80 orang.

Dulu sekolah ini adalah SMA Negeri 3 Balige. Calon siswa yang tidak lolos ke SMA Negeri 1 Balige ditampung disana. SMA yang ada di Laguboti dulunya disebut SMA Negeri 2 Balige di Laguboti dan sekarang menjadi SMA Negeri 1 Laguboti. SMA Negeri 3 Balige menjadi SMA Negeri 2 Balige.
Dengan kerjasama YASOP dengan SMA Negeri 2, guru pengajar yang berkualitas ditempatkan. Sekolah itu peringkatnya menanjak melampaui SMA Negeri 1 Balige yang sebelumnya favorit di Toba.
Saat ini para guru unggulan dari Pulau Jawa ini sudah kembali, namun tetap mempertahankan kualitas. Sekolah ini diprogramkan bertarap internasional.

Adalah kebanggaan tersendiri bagi para orangtua yang anaknya masuk seleksi ke asrama YASOP. Selama tiga tahun anak mereka dibina dengan gratis. Kebijakan berubah dalam beberapa tahun terakhir ini, siswa/i dikenakan biaya masuk sebesar Rp 1,7 juta dan pembinaan bulanan sebesar Rp 700 ribu. Dana sebesar 1,7 juta itu sebenarnya untuk kebutuhan pakaian dinas sekolah, atribut dan pakaian seragam lainnya. Dan yang 700 ribu adalah untuk biaya makan, pembinaan dan dana komite.

Bagi keluarga berada, biaya ini mungkin tidak berarti apa-apa dibandingkan kualitas pendidikan anaknya yang terjamin baik itu. Namun, bagi keluarga miskin yang penghasilan minim atau keluarga yang sedang menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi, ini menjadi mahal.

Tahun ini anak saya Togu Manata yang lulus dari SMP Negeri 1 Laguboti lolos seleksi YASOP. Saya bangga dibarengi rasa sedih. Anak saya diatasnya 2 orang mahasiswa dan 1 orang Kelas 3 SMA. Dari ukuran penghasilan, tentu saya tidak akan mampu memenuhi itu semua hingga tahun depan setelah kakaknya masuk lagi menjadi mahasiswa. Saya hanya mengharapkan keajaiban dari kuasa Tuhan untuk meneruskannya.

Saat pendaftaran ulang, ada orang tua siswa/i yang lulus mengundurkan niatnya memasukkan anaknya ke asrama Yasop karena pertimbangan biaya bulanan itu. Ini keputusan yang menyedihkan bagi orang tua, termasuk saya bila harus melakukan itu. Saya merasakan duka dibalik keputusan itu walau saya tidak bertanya. Inilah resiko bila yang panjang mengukur yang pendek. Selama ini mungkin anak yang tersantuni di Asrama ini kebanyakan dari keluarga berada.

Selintas saya pahami penjelasan Kepala Asrama dengan keputusan pembebanan biaya pembinaan ini. Dari sekitar 12 pendiri yayasan yang mengawali komitmen menjalankan misi pendidikan berkualitas ini, yang bertahan tinggal 2 orang yaitu Bapak Letjen TNI (Purn) TB Silalahi dan Bapak Gustav Panjaitan. Pengelolaan partisipatif dengan peran orang tua mulai dilakukan.

Pemerintah daerah belum memiliki sikap dukungan aktual dari apa yang dijalankan para missioner pendidikan ini. Pembangunan Sumber Daya Manusia seyogianya diawali sejak dini dan harus terlihat peran pemerintah didalamnya. Pemerintah daerah memberikan beasiswa kepada para staf untuk peningkatan kualitas pendidikan. Kenapa kebijakan ini tidak diberikan kepada rakyatnya yang berprestasi?

Alangkah bijaksananya bila semua kepala daerah dan DPRD memberikan dukungan biaya pembinaan kepada semua siswa/i yang lolos dari SMP dari daerahnya ke YASOP dan sekolah PLUS lainnya.

Suka-duka terlihat saat mengantar masuk siswa/i ke Asrama Yasop 02 Juli 2008.

Para ayah dengan penuh harapan merangkul erat anaknya.
Para ibu kelihatan menyeka wajah, ada yang meneteskan air mata

Sejak hari ini, komunikasi diputuskan efektif selama 3 bulan.
Si anak dilarang mengantongi uang.
Kebiasaan terbalik keseharian anak yang diberi uang jajan.
Anak yang keseharian disapa, kadang sasaran omelan,
Yang meramaikan seisi rumah memberikan hiburan.

Anak yang harus disuruh mandi dan makan, kesehatan dijaga
Mempersiapkan keperluan berangkat ke sekolah, … ini …dan … itu …ah … selalu tidak sempurna.

Hari ini dan seterusnya selama tiga tahun harus mandiri.
Cuci dan setrika baju sendiri.

Anak-anak berbaris rapi.
Menghadap ke arah jalan orangtuanya akan pergi.
Tangan melambai penuh percaya diri.
Ayah, … Ibu … titipkan kami disini.

BEGU BUTUH JAM
AKU BENCI BANG TB SILALAHI
DOA TB SILALAHI UNTUK ANAK YASOP

Iklan

30 thoughts on “BILA ANAK HENDAK MENGGAPAI BINTANG

  1. Mau bilang apa ya?

    Kalau pendidikan kualitas di negeri ini selalu berujung duit (contoh Univ2 favorit macam UGM, ITB, UI, USU, UNDIP, ITS, IPB, UNAIR, dll), kapan bangsa ini akan maju….

    Tapi salut buat Bpk TB Silalahi yg masih bertahan hingga sekarang mendukung YASOP, mungkin ke depan perlu dipikirkan lagi upaya untuk mengatasi hal ini…….

    Horas Bangso Batak!!

  2. Hatiku tergelitik melilat foto dengan caption “Kami menyusul”.
    Semoga nanti, ketika waktu mereka sudah tiba, tak ada cerita batal melanjutkan cita-cita di sekolah PLUS (itu) hanya karna masalah biaya.

  3. G.Simanjuntak berkata:

    Selamat Buat Lae Togu,…..Hanya orang pilihan yang bisa masuk ke yasop.
    Tapi kenapa Pemerintah tidak meneruskan Pendidikan gratis itu di Yasop ini yah ? Kalaupun para pendirinya sudah tidak menyokong, apakah Pemda TOBASA tidak punya duit untuk memberikan beasiswa gratis untuk siswa2 Hebat penerus bangsa yang masuk kesana ?
    Hai Pemda TOBASA and Yasop, came on….get’s up Man….eventhough you can’t provide free education for all school in TOBASA, at least you have to give that for your best chosen student there……

  4. Mendengar kisah ini saya jadi pesimis dengan masa depan reformasi yang 10 tahun lalu kita perjuangkan.

    Ketika zaman orde baru Suharto partai politik tidak sebanyak sekarang. Pilkada juga tidak seramai sekarang.

    Waktu itu tidak ada APBD untuk Pembinaan Partai Politik. Tidak ada APBD untuk penyelenggaraan pilkada yang berulang-ulang itu…

    Mungkin itu sebabnya pendidikan zaman orde baru lebih terjangkau kaum miskin…Ada banyak SD Inpres di mana-mana. Tahun 1985 biaya SPP di PTN top negeri ini termasuk Universitas Brawijaya Malang (tempat saya kuliah) cuma Rp. 180,000 setahun.

    Saya memahami kegalauan Lae Naipospos saat pulang dari mengantarkan ananda Togu Manata Naipospos ke SMA Plus Yayasan Soposurung….

    Saat menyusun APBD atau Perubahan APBD hendaknya Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Panitia ANggaran DPRD hendaknya merenungkan kegalauan para orang tua seperti Lae Naipospos ini…

  5. royal pangaribuan berkata:

    Pendidikan memang mahal lae… dan outputnya baru kita dapatkan mungkin 15 – 20 tahun ke depan. Mana ada mau bupati atau anggota dewan yang memperjuangkan atau invest sesuatu yang tidak akan membantunya untuk 5 tahun kedepan…. Susah mencari seorang negarawan saat ini… dan kupikir2 tak perlu lagi pemilihan bupati secara langsung, biar ajalah ditunjuk pusat. Cukup Presiden sama gubernur saja…….

    Memang serba salah, orang batak banyak yang kaya yang mungkin menghabiskan uang 1-2 jt sekali makan siang di hotel shangrila, setiap hari… Ketika diminta untuk berkorban sedikit saja, alasannya banyak…..

    Saya malas arisan marga kenapa? output gak jelas…. hanya seputar pembentukan pengurus, acara natal, partangiangan bona taon, terus pelantikan pengurus lagi…. boring…..

    Oh ya, bukannya toga naipospos baru mengadakan acara? andaikan saja ada komitmen beasiswa untuk anak pintar yg orangtuanya kurang mampu sehingga bisa melanjutkan sekolah ke SMP, SMA atau PTN bermutu…. sehingga beban lae dan orangtua2 yang lain bisa berkurang…..

    Riau mengembangkan SMA Plus dan pemerintahnya mensubsidi 600 orang pintar seantero riau (mungkin prioritasnya resam Melayu). Kita? Sudahlah….. patah arang kita melihat kinerja bupati2 di bona pasogit ini….

  6. Anson Simanjuntak berkata:

    Saya sangat terharu dan bingung akan kejadian ini.
    Karena Balige ini masuk daerah Sumatra Utara (SUMUT) yang artinya ” SEMUA URUSAN MELALUI UANG TUNAI ” masih menghiasi Propinsi ini. Pertanyaan dan kebingungan saya : Kapan dan bagaimana keluarga yang kurang mampu ini dapat memperbaiki garis keturunan-nya.
    Mungkin semua orang tua Khusus keluarga yang tidak mampu mengharapkan anak-anak-nya kelak menjadi orang yang berhasil. Namun apa mau dikata seperti cerita diatas Orang tua murid terpaksa memanggil keluar anak-nya dari sekolah “YASOP” tersebut karena tidak mampu dari segi ekonomi untuk mendukung anak-anak-nya.
    Mudah-mudahan ada orang yang mampu secara ekonomi menjadi orang tua Asuh untuk murid-murid yang berprestasi dan akan menjadi aset bangsa dikemudian hari.

    Semoga Tuhan memberkati.
    Amen.
    Horas.

  7. Marudut Pasaribu berkata:

    Selamat untuk Togu Manata atas keberhasilannya masuk menjadi salah seorang murid di Yasops. Juga utuk Lae Monang Naipospos, keberhasilan Togu juga merupakan keberhasilan orang tuanya.

    Jangan putus asa Lae, Tuhan telah memberikan jalan masuk buat Togu dan Tuhan juga pasti menyediakan belanjanya. Tidak ada yang mustahil di hadapan Allah.

  8. Sitorus Par Lobam berkata:

    Jadi akan menjadi mimpi bagi anak orang miskin yang pintar2 untuk masuk YASOP yah, pada hal rata2 juara kelas pada SMP se TOBASA adalah anak orang yang kurang mampu, jadi mau kemana orang itu nanti, otak ada alai sibahenon nasoada, .. amang tahe bohanamaon, untuk masuk sekolah unggulan aja biaya udah besarn yah terpaksa masuk sekolah negeri ajalah, sampai kapan negara ini akan maju, kapan sbiaya pendidikan gratis…(seperti janji2 mereka waktu kampanye) ah.. mungkin jawabannya adan pada rumput bergoyang…

    Selamat tu lae Togu Manata… maju terus,,,pantang mundur…

  9. Garth M. Meha berkata:

    Alumni Yasop telah banyak yang sudah berhasil menggapai bintang, sebagaimana kita ketahui, alumnus-alumnus yang sudah berhasil ini gratis dulu sekolah di yayasan ini. Kini saatnya mereka untuk membayar uang sekolah mereka yang gratis dahulu, untuk dipakai oleh adik adik kita yang berkesempatan menimba ilmu di yayasan ini. Saya yakin, mereka tidak perlu merogoh kantong dalam dalam.

    Satu lagi, seperti yang disebutkan sudara Royal Pangaribuan di atas, banyak orang batak yang kaya raya. Ayo tulang, amangboru, dongan sabutuha, ramai ramai kumpulkan uang di satu rekening. Uang itu tetap uang kalian, bunganya saja yang di pinjamkan kepada anak didik tersebut.

    Walau umumnya yang memperoleh pinjaman untuk biaya pendidikan adalah mereka2 yang menuntut ilmu di bangku kuliah, tidak ada salahnya kalau diterapkan di jenjang pendidikan yang lebih rendah. Ndang sala mamungka tanduk, asalma tu na denggan.

    Horas!

  10. suhunan situmorang berkata:

    @ Togu Manata

    Selamat. Anak Batak yang sangat cerdas. Proficiat! inna hata sileban. Semoga cita-citamu tercapai.

    @ Lae Monang Naipospos
    Martupa do muse i, Lae. Porseama hamu. Alai taringotna ma jolo, namangihuthon Lae do angka berei asa pistar-pistar manang ito br Manurung? 🙂

    @ royal pangaribuan
    Betul sekali yg Lae sebutkan di atas, tetapi kita para perantau yg mau peduli, jangan sampai ikut arus. Mari kita gerakkan pola atau cara orangtua asuh; satu dua anak pun sudah bagus.

  11. Bonar Siahaan berkata:

    Sebagai pecinta budaya batak saya mengucabkan selamat untuk Togu Manata,dan kepada saudara-saudaraku mari kita respon kekhawatiran amanta Monang Naipospos ini.

    @. Amanta Suhunan Situmorang.
    Bila memungkinkan mari kita menggalang dana untuk Togu Manata ini dengan cara “mangarumpa” agar dia dapat menggapai bintang yang dia cita-citakan,toh kalau nanti Togu ini berhasil akan menjadi contoh kelak bagi generasi berikut,dan saya yakin dihati dia akan tumbuh “ASI NI ADAT & TUMPAK NI UHUM.
    Horas.

  12. Garth M. Meha berkata:

    Marbagi pangalaman ma jo di room on.

    Holan Rp.30,- do SPP niba najolo, molo ginararhon Rp.100,- nunga boi iba tenang saleleng tolu bulan, jala adong dope ulakna. Alai, sai maos do dipamulak guru iba sian sikola ala so margarar SPP.
    Masukma tu SMP, Rp.250,-ma SPP, molo ginararhon Rp.1,000,- nunga opat blan i, alai sai tongdo holan na dipamulak iba sian sikola ala so adong hepeng. Jea pogos tahe.
    Masukma muse tu SMA, Nunga lam so tartuhuk ni natua tua, alai, sai tong boi iba sikola. Sahat muse tu na kuliah, juta nama hataan, alai, sai tong boi kuliah.
    Sia hami tubu ni natua tua i, boi kuliah sude.
    Basado Tuhan i.

  13. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Akankah bangsa Indonesia akan tetap ketinggalan dalam penyiapan Sumber Daya Manusia???
    Sampai kapan Anak2 Usia Sekolah di Indonesia tidak bersekolah?
    KITA pasti bisa ASAL kita MAU…..
    SOLUSI?
    Mengapa kita tidak mulai dengan semboyan budaya MALU yg dikumandangkan di Media Elektronik, misalnya Radio atau Televisi secara Nasional baik berupa teletex atau Iklan layanan masyarakat setiap pagi dan sore hari di Frame time : Bunyi Iklannya :
    “Kita harus malu apabila ada anak2 Usia Sekolah di Indonesia tidak bersekolah”.

    Tindak Lanjut ??? :

    Mari setiap orang Indonesia yg berjumlah lebih kurang 220 juta orang mengumpulkan beras 5 (lima) butir setiap hari, berarti setiap hari akan terkumpul beras lebih 1 miliar. Beras yang disisihkan oleh rakyat Indonesia tsb dengan catatan TIDAK DIKORUPSI, hasilnya dikumpulkan ke Pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk Biaya Sekolah Anak2.
    Saya yakin kedepan, tidak ada lagi anak2 Indonesia yang tidak sekolah.
    SAYA CINTA INDONESIA

  14. tanobatak berkata:

    Terima kasih atas respon semua teman.

    @ Rotua Damanik

    Memang kita mengaku salut buat Bpk TB Silalahi yg masih bertahan hingga sekarang mendukung YASOP. Beliau menjadi inisiator pendidikan berkualitas di Indonesia. langkahnya banyak diikuti pemerhati dan pemerintah daerah.

    @ Lidya Hutagaol,

    Hatiku tergelitik melilat foto dengan caption “Kami menyusul”.
    Memang anak-anak yang sedang mengantar kakaknya ke asrama ini terpana melihat aksi para siswa kelas 2 dan 3 yang latihan tari dan beladiri. Begitu kakat2nya dibariskan, mereka nampak tenteram, tidak seperti biasanya anak2 mondar-mandir. Sepertinya ikut terpengaruh displin yang disaksikannya dilakukan siswa/i sekolah itu.

    @ G.Simanjuntak,

    “Hanya orang pilihan yang bisa masuk ke yasop.”
    Benar, laemu terpilih tanpa saya anjurkan. Ini berjalan diluar kendali saya. Saya taunya ketika ada pengumuman di koran lolos akademik 300 orang dari 1060 yang mengikuti seleksi. Setelah itu, saya mendampinginya mendaftar untuk ikut seleksi selanjutnya, kesamaptaan dan kesehatan. Pengumuman berikutnya, dari 300 orang lolos 80 orang. Saya salut melihat kegigihannya. Ketika saya anjurkan agar ke non asrama saja, dia mengangguk, tapi saya menyadari itu tidak setulus hatinya. Dia sudah tahan uji, tinggal saya sekarang sedang diuji.

    @ Sitohang Par Bintan

    “Saya memahami kegalauan Lae Naipospos saat pulang dari mengantarkan ananda Togu Manata Naipospos ke SMA Plus Yayasan Soposurung….”

    Benar lae, walau saya tidak berani mengatakan kerisauan hati saya mewakili banyak orang tua siswa. Saat menunggu waktu masuk asrama, kami para orangtua saling mengisi informasi dari hati ke hati. Kebanggaan menjadi panglima tertinggi memupuskan keprihatinan akibat biaya tinggi pendidikan itu. Bila pemerintah daerah tanggap seperti yang dilakukan Propinsi Riau, pasti akan meringankan dan mempertinggi semangat kompetisi bagi siswa SMP.

    @ royal pangaribuan,

    “Pendidikan memang mahal lae… dan outputnya baru kita dapatkan mungkin 15 – 20 tahun ke depan. ”

    Benar lae, tapi itu baru bukan wacana bila sudah menyekolahkan anak ke perguruan tinggi beberapa orang. Semasih anak-anak saya di SMP saya enteng saja seolah tidak akan menghadapi masalah. Sekarang baru terasa.

    Langkah yang dilakukan Propinsi Riau perlu diteladani pemerintah daerah kita, saya setuju itu.

    @ Anson Simanjuntak,

    “Mudah-mudahan ada orang yang mampu secara ekonomi menjadi orang tua Asuh untuk murid-murid yang berprestasi dan akan menjadi aset bangsa dikemudian hari.”

    Menjadi orang tua asuh memang sudah dicanangkan pemerintah beberapa tahun ini. Tapi gebrakannya tidak meluas. Selain membina siswa di YASOP, TB Silalahi dikararkan juga mengasuh alumninya yang berprestasi. Siapa lagi yang mau berbuat seperti itu?

    @ Sitorus Par Lobam,

    Semasih kampanye, kemiri pun bisa dipecah dengan tiupan. Bila ada kesempatan menang. Janji itu dilakukan oleh siapa saja yang berpolitik. Semoga mereka semakin sadar pernah berjanji.

    Teimakasih atas supportnya, Togu Manata… maju terus,,,pantang mundur…

    @ Garth M. Meha

    Semoga misi yang dijalankan TB SIlalahi untuk pendidikan ini menyentuh juga bagi para alumninya, utamanya yang merasakan semasih gratis disana.

    @ suhunan situmorang,

    “Martupa do muse i, Lae. Porseama hamu. Alai taringotna ma jolo, namangihuthon Lae do angka berei asa pistar-pistar manang ito br Manurung? 🙂 ”

    Maol hualusi lae. Molo hudok mangihuthon au, muruk annon lae Robert Manurung. Molo hudok annon mangihuthon Ompung dolina, muruk annon tulang Pahala Panjaitan. Molo hudok mangihuthon Ompung Doli, muruk annon tulang Poltak, Pontas dohot Bungaran Simanjuntak. Huputushon ma lae namangihuthon guruna do huroa angka berem i 😀

    @ Charlie M. Sianipar,

    “Asa Silaklak ni uruk uruk, silanlan ni aek Toba.
    Paraman nami i ndang marungut ungut, natua tua marlas ni roha.”

    Emma tutu. tatortorhon ma dibagasn las ni roha ate 😀

    @ Bonar Siahaan,

    Ibana do na sai mambahen kopinta molo sangga ro Amang tu jabu. Pos do roha, molo hurang sibahenon, tu Siboruon ro do au marsali. Paboa hamu hian tu ito/bere br Hutajulu nauli lagu i. 😉

    @ Pontas Eddy Simanjuntak.

    Semangat ni tulang i sai anggiat ma martomu songon semangat ni kedantu Garth M. Meha sian Kanada. kalau cara Pemprop Riau dicontoh pasti akan lebih gampang. Padahal sekulah PLUS ini awalnya dari Batak oleh Bapak TB SIlalahi.

    Terimakasih kepada semua yang memberi dorongan. Semangat saya sudah bangkit. Tuhan itu dekat dan memberi pertolongan melalui sesama manusia.

    Ternyata seperti yang anda para sahabku katakan, Tuhan akan menolong. Dia Maha Pengasih. Yang tak kuduga selalu hadir menjadi pertolongan. Sembah Sujudku PadaNya dan terima kasihku kepada anda semua.

  15. Bonar Siahaan berkata:

    Amanta Naipospos.
    Dangpola tu Siboruon hamu marsali,porsea do ahu godang do simpatisan ni amang. Huhatahon pe tu amanta Suhunan hatangki asa songon nidok ni natua-tua do “babana tinallikhon tundunna mangonai”,jala olo do annon dang holan si sajuta i sabulan patupaon ni “adat dohot uhum”.
    “Percaya Kepada Tuhan,yakin kepada diri”.Maju terus Togu Manata Tuhan memberkati.

  16. suhunan situmorang berkata:

    @ Amang Bonar Siahaan
    Satuju do au Amang disaran muna nauli i, alai husip-husipta majolo on, unang pola dibege angka dongan hombarni jabunta 🙂 Apalagi bahat do dongan nang tondongta si parholong roha, nunga huuji burjuni rohani halahon: Franky ‘Marudut’ Pasaribu, Charlie Sianipar, Viky-Bonnie Sianipar, Laris Naibaho, Petrus M. Sitohang (Par Bintan), Sahat ‘Ferry’ M. Nainggolan, Robert Manurung, dohot angka donganta naasing dope. Pos do rohangku, Amang nalaho tupa doi. Alai memang saonari papunguhon gugu dope hami laho mangurupi angka parsingkola sian Onanrunggu. Mansai asi roha Amang tu halahi, alana mambayar SPP pe dang tolap be angka natua-tuana.
    Eh tahe…pamarentaon ate, dipambolongkon do gok hepeng laho Pilkada, Pilgub, Pilpres, Pilcaleg, Pil…tik 🙂 , hape marjuta-juta bangsoi susa dope.

    @ Garth M Meha
    Lae, najolo molo manjolo uang SPP hami tu natua-tuai/dainang, ingkon jolo tangis do. Maklum lae, hami sampulu sada, au anak pasiahon. Amongku nunga passiun pas kalas tolu SMP au. Molo nijalo uang SPP, pasti do didok dainang songonon on: “Holanna hepeng do di angka gurumi! Holonna hepeng!” 😦 Sipata gabe mardandi ma iba, dang olo be marsingkola sadari i, nangpe nunga dilehon uang SPP i alai nitolak ma secara tegas ala nunga tersinggung!
    “Dang sikkola be au,” ningkuma.
    “Bah unang, asa adong mangurupi au mula-ulaon di jabu,” inna inongku do mananggapi. “Paias ma ito jabuntai…,” inna muse 😦
    Jut ma roha antong, alana “ancaman” niba dang ditanggapi secara serius, malah gabe disuru karejo!
    Lao ma iba mangarjangi, marmeami di topi tao Toba, marangan-angan di Aek Rangat, angka dongan sibuk marsiajar.

    Selalu do huceritahon on tu angka dongan dohot tu dakdanak natolui boha maolni manjalo hepeng tu dainang, hape laho mambayar SPP do. Mengkel ma hita marningot naujui ate lae…

  17. gabe mengkel nama au
    di si hapataran i ..
    tangis tarilu-ilu au ..

    eh tahe… pandelean na ma on… tangisnya orang frustrasi ???
    saya termasuk korban ketiadaan biaya,
    tapi saya tau pasti DIA ada dan pertolonganNYA selalu indah pada waktunya.

    http://rapmengkel.wordpress.com

  18. tanobatak berkata:

    @ Amang Bonar Siahaan.

    Na so binoto ni manang ise ma jolo on, unang paboaboa hamu. Ai holan tu hamu do hupaboa rahasia on.
    Dung sidung di resensi si Tami Novel “Sordam”, dapotan do ibana sian lae Suhunan. Pintor HP do dituhor si Tami, dang haringkotan tu singkola.
    Dung diangkat cerita “Keputusan Merlin” tu TV Swasta Indonesia, dapotan upa “manggana” do lae Suhunan SItumorang. Diingot do Berena si Tohom na kuliah di Hukum UDA i, ditongoshon do palas rohana. Tarsonggot ma na di jabu, adong na sungkun-sungkun rohana, boasa tu si Tohom di lehon, ninna rohana. Dang binoto dope manang aha dituhor, alai nunga mehetehet ibana songon manuk namarrenteng.
    Molo si Tunggun siangkangan i, mangido gitar bass elektrik bekas do tu baomuna. Tingki SMA 2 Balige ibana nunga dohot audisi band remaja. Di kampusna sai manombo do huroha jiwa musikna i. Alai dang olo baomuna manuhor, ai dietong dang adong padomuan ni i tu namarsingkola. Hape nunga adong dipapungu saotik sian uang jajanna.
    “Dang gabe parmusik ho !, mansegai adat batak do i, gabe mago gondang batak i dibahen i. Alai molo marhasapi do hutuhor pe hasapi” , ninna baomuna. 😀 Laos sip ma ibana. 😦 Ai dirimpu boru Manurung nauli i do songon parmusik pesta na di hitaan i. Ba sip nama dohot au dipadomu arga ni pangidoanna i. 😉
    Nangkin lao do ibana dohot donganna tu Sipoholon. Naeng patopahon gitar ninna donganna i. Hutangkasi ma ibana, manang na tarpaima dope ibana di gitar bass i. “Dang pola be”, ninna nanget. Dihilala ibana do huroha tanggungan na dokdok i di natuatuana.

  19. Bonar Siahaan berkata:

    @ Amanta Suhunan Situmorang
    Songon hata namandok i do maksudhu,”babana tinallikhon tundunna mangonai”. (tu hamu huhatahon alai dang holan hamu manjaha,jadi asa tarbuka rohani angka dongan tarlumobi fans ni tanobatak tu hamuma huhatahon).
    Mauliate ma di angka donganta saluhutna.

    @ Tanobatak
    Tangkas do huboto taruli pasu-pasu do hamu sian angka niula ni tangan dohot pingkiran,jala napasti dang mungkin tu Siboruon hamu marsali, alai ala las ni roha boi tulang naposo i tu SMA YASOP anggiat lam semangat ibana namarsingkola i.

    Paduahon , dihilala roha do umbahen nadibahen hamu artikel “Bila anak hendak menggapai bintang ” dang hamu nian naponjot roha,alai pataridahon holso ni angka donganta nahurang mampu do. jadi nunga diboto angka donganta manang songon dia maolna nuaeng pasingkolahon angka ianakkon molo tu sekolah na faporit.
    Horas.

  20. Maringan Simanjuntak berkata:

    Selamat buat lae Togu!!! walau telat dikit ya lae… Salut buat lae yang bisa masuk di YASOP, lae akhirnya menjadi salah satu orang2 terpilih itu; Q dulu lulus dari SMA 2 Balige non asrma merasa bangga bisa duduk dibangku sekolah itu dengan bimbingan guru2 unggulan dari jawa yang dulu semasaku sekolah ini bernama SMA 3 Balige dengan Kepsek Drs. SH Hutagaol, pengalaman selama jadi siswa disana juga saya terapkan ditempatku mengajar sekarang di Tangerang bersama beberapa teman yang juga alumnus sekolah ini. pilihan lae Tohom sudah tepat pesanku jangan pernah siasiakan kesempatan baik ini ku yakin lae tidak akan mengecewakan jerih payah orang tua.

    @royal pangaribuan,
    Salam buat lae Royal Akira Pangaribuan, maaf kalau nama ini benar berarti lae juga alumnus SMP N Sigumpar, yang saya dengar telah menjadi kep.asrama Yasop saat ini mudah mudahan tepat. di kepemimpinan lae tentu punya cita2 n dedikasi yang tinggi tentang masa depan anak asuh lae, kalau dulu gratis sekarang bayar mudah2 juga kualitas alumninya semakin bagus walau aku sedikit terhenyak ternyata ditobasapun biaya pendidikan itu sudah sangat tinggi. …. semakin terbukti ternyata biaya sekolah gratis yang dijanjikan pemerintah masih jauh dari harapan…. semoga lae Royal bisa mewujudkan beasiswa untuk siswa berprestasi seperti anak2 YASOP….bravo YASOP maju terus SMA 2 Balige tetaplah dengan motomu “””to be number one”””

  21. cecep Hidayat berkata:

    selamat buat tanah batak yang mempunyai RSBI kota kami pun di sukabumi tanah jawa sampai saat ini belum mempunyainya ! semoga putra daerah anda menjadi para pemimpin bangsa ini kelak !!! horas

  22. saya mau kasih pendapat ni kalau di terima ,yaitu kenapa seleksi ke sma 2 harus melalui ujian yang pakai lembar jawaban kayak lagi UN , nah kan misalnya nih seseorang yang ceroboh atau gak teliti waktu ngisih lembarannya tu padahal dia sebenarnya pintar banget tapi karena masalah tadi , dia gak lolos itu kan gak adil walau itu memang murni sih kesalahannya gimana yang lolos tapi bodoh ,semua hasil jawaban itu dari contekan atau asal -asalan dan dia masuk itu lebih gak adil.jadi kesimpulannya janganlah masuk sma 2 itu untung-untungan aja gimana daerah kita ini bisa maju kalau masih ada anak yang pintar gak direkrut gitu lohhhhh,,,,,,,,,,,,,

  23. wah jadi ingat dulu gagak masuk Yasop gugur di seleksi tahap 2….
    tapi tak apalah 3 orang teman sekelasku berhasil masuk ke sana, 2 masih kuliah di ITB dan satu sudah kerja di kementerian keuangan dulunya di STAN

  24. tripheni simanjuntak berkata:

    kami akan ikut menyusul kesana kak/bang.. dari pribadiku sendiri, saya ingin sekali terpilih menjadi siawa YAYASAN SOPOSURUNG ini.. saya meminta doa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s