SANGKAMADEHA

Monang Naipospos

Pernahkah anda tau bahwa batak dulu sudah mengenal arti pohon kehidupan? Bila belum, inilah dia yang disebut Hau Sangkamadeha.

Biji berkecambah, tumbuh tunas dan mekar muda. Dahan mengembang ke samping, ke segenap penjuru angin, bagaikan tangan-tangan membentang “mandehai”. Tumbuh makin matang “matoras” dan semakin kuat “pangko”. Torasna jadi pangkona, diartikan kedewasaan yang dibarengi kebiasaan-kebiasaan hidup menjadi tabiat. Torasna jadi pangkona, somalna jadi bangkona.

Sangkamadeha mengartikan manusia mengekspresikan hidup dan kehidupannya dalam dunia nyata dengan segala kebanggaan dirinya. Kebanggaan terpuji adalah tabiat yang baik dan benar, sesuai hukum dan adat istiadat. Inilah kemudian disebut “hasangapon”. Cabang dan ranting yang banyak akan mempengaruhi kerimbunan dedaunan. Akar yang kokoh dan kerimbunan daun adalah gambaran “hatoropon” banyaknya populasi yang kemudian disebut “hagabeon”. Buah adalah biji disertai zat bermanfaat untuk pertumbuhan kelanjutannya dan stimulant kepada mahluk hidup untuk menyebarkannya. Ada buah, ada pemanfaat dan ada pertumbuhan, dan inilah yang disebut “hamoraon”.

Parjuragatan mengartikan tempat bergelantungan ke sumber penghidupan. Sumber penghidupan ada beragam, seperti apa yang memberikan secara langsung (material) dan tidak langsung (non-material). Pemimpin adalah “parjuragatan” dimana ditemukan keadilan dan pencerahan. Dia adalah “urat” akar hukum dan keadilan. Namora adalah juga parjuragatan karena “akar” memberikan kehidupan material, penyambung hidup.

Kekayaan dengan “banyaknya buah …” bila tidak ada manfaat bagi orang lain tidak akan ada yang berperan “menaburnya”. Dia akan seperti ilalang yang menebar biji oleh tiupan angin karena tidak ada memberi manfaat dari buahnya bagi mahluk lain.

Kekurangan harta disebut “napogos” miskin. Bila hartanya hanya cukup untuk bekal satu tahun disebut “parsaetaon” pra sejahtera. Bila sudah bisa menabung untuk cadangan pengembangan disebut “naduma” sejahtera. Bila harta sudah menumpuk disebut “paradongan”.
“Namora” adalah sebutan kehormatan untuk yang aktip menolong sesama dengan harta bendanya sendiri. Namora, juga jabatan yang disandang dalam “harajaon” yang diartikan sebagai bendahara. Kepada Raja dan Namora disebut “akar” dari hukum dan kehidupan; Raja urat ni uhum, Namora urat ni hosa.
Bila ada orang yang memiliki banyak harta tapi tega membiarkan manusia disekitarnya kelaparan, dia tidak dapat atau tidak disebut Namora tapi paradongan atau “pararta”.
Bila ada permohonan kepada seseorang untuk diberi Yang maha Kuasa “hamoraon”, adalah harta benda berikut hati yang iklas untuk mau dan mampu melakukan pertolongan kepada sesama manusia.

Sangkamadeha adalah penggambaran pohon kehidupan dan hidup yang diberikan Mulajadi Nabolon kepada manusia. Pohon ini sejak muda hingga tua tumbuh tegak lurus dan tajuknya menuju (sundung di… ) langit.
Hidup di dunia dalam pertengahan usia adalah perkembangan yang sangat subur dan optimal berkayanyata untuk dirinya dan orang lain. Hasangapon, hagabeon dan hamoraon adalah gambaran kesuburan yang dinikmatinya yang merupakan anugerah pencipta.
Menjelang ujur, tajuk semakin tinggi dan tetap menuju keatas. Dimasa tua upaya pencapaian “sundung dilangit” semakin terarah. Darisana awalnya datang dan berakhir pula disana. Inilah akhir hidup manusia, semua menuju kepenciptanya. Perjalanan kehidupan manusia akhirnya akan diakhiri dan “sundung” ke alam penciptaan. Semua yang diperoleh di alam nyata dunia fana akan ditinggalkan.

Ada yang membedakan Hau Sangkamadeha dengan Hau Parjuragatan dan Hau Sundung Dilangit. Menurut penjelasan beberapa orang tua dan pandai mengukir gorga bahwa penggambarannya adalah satu, tapi penjelasannya beragam.
Banyak yang memitoskan sebutan itu seperti pohon yang tumbuh di alam penciptaan sehingga banyak yang tidak memahami pemaknaan beberapa perkataan itu dalam satu penggambaran.

Pada rumah gorga lama, gambaran hau sangkamadeha ini selalu dilukiskan dalam dinding samping agak di depan. Dalam penggambarannya kadang ada yang menyertakan gambar burung dan ular membelit. Kayu yang berbuah selalu dihinggapi burung pemakan buah, dan kepohon itu pun ular datang untuk memangsa burung (marjuragat). Semua mahluk berhak hidup, seperti manusia diberi hidup menjadi bagian dari ekosistem. Namun, dari semua mahluk yang “marjuragat” dalam pohon hidup, hanya manusia yang memahami “sundung dilangit”.
Ada pemahaman lain yang mereka jelaskan bahwa dalam menjalani hidup harus cermat dan teliti karena banyak musuh yang mengintip.

Sejak pemahaman barat masuk ke batak dan mengetahui penjelasan dari Hau Sangkamadeha, ada anjuran untuk tidak membuat lukisan itu lagi dalam rumah adat batak. Pemahaman itu dianggap sesat. Sehingga kemudian banyak rumah adat batak dibangun tidak menggambarkan itu lagi tapi diganti dengan gambaran orang barat yang membawa hal yang baru yang cenderung menyesatkan budaya batak.


Bookmark and Share

Tautan ;
PAJONGJONG RUMA DOHOT SOPO
SOPO DOHOT ULOS
MAMUNGKA HUTA DOHOT JABU
MULA NI GORGA BATAK
MENYIBAK TABIR MENAMPAK ISI
hasil penelitian Sandrine Germain tentang Rumah Batak Toba
RUMA GORGA BATAK

Iklan

8 thoughts on “SANGKAMADEHA

  1. baginda syairul sahat napitupulu berkata:

    SANGKAMADEHA….Begitu geniusnya orang-orang batak terdahulu yang bisa menggambarkan dan merumuskan tentang pohon kehidupan. banyak filosopi yang dapat kita maknai dari sangkamadeha yang mengambarkan dimana posisi kita sebagai orang batak, apakah anda “napogos”, “parsaetaon”, “naduma” “paradongan” dan “namora/harajaon”. Tapi kalau sudah jadi namora jangan lupa di bantu orang-orang di sekeliling, saudara-saudara kita yang masih membutuhkan bantuan.tapi kalau bisa bantuanya jangan hanya dlm bentuk hepeng/materi tapi kalau bisa seperti kemudahan-kemudahan untuk pendidikan dan pengembangan keahlian.
    Selamat menjadi RAJA URAT NI HUMA DAN NAMORA URAT NI NOSA….
    HORAS…..MAULIATE…

  2. Terus terang, saya baru tahu dan kenal dengan istilah Sangkamadeha. Istilahnya juga keren, dan dalam hal ini, saya kagum dengan bangsaku, bangsa Batak. Terimakasih Lae, atau apalah partuturan kita.
    Tolong dong diresearch hal lain dari unsur-unsur budaya Batak.
    Bagaimana kalau diadakan satu forum, khusus mengenai reinventarisasi budaya Batak ? Maaf lho, ini cuma ide.

    *** Ide bagus lae dan perlu. Semoga terwujud

  3. Ide saya, terutama di Bidang Hukum, mari kita invetarisasi. Bukankah banyak orang Batak yang menjadi Advokat dan Ahli Hukum terkenal ? Alasan saya adalah, misalnya dalam Hukum Kontrak bahwa Hukum Adat Batak jauh lebih maju dan bersifat universal dari Hukum Nasional. Antara lain, bahwa semua orang masyarakt yang berpendidikan hukum tahu bahwa Hukum Kontrak adalah bersifat universaal, dimana didalamnya terkandung satu prinsip bahwa : janji lebih kuat daya mengikatnya dari pada Undang_undang, tetapi daya mengikatnya hanya berlaku bagi mereka yang membuat perjanjian saja. Ini dapat kita temukan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, yang mengatakan :
    Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
    Dalam Hukum adat batak, dikatakan dalam satu umpasa :
    Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
    Togu na nidok ni uhum, toguan na ni dok ni padan.
    Bahwa padan bagi orang batak, tidak hanya berlaku bagi mereka yang membuat padan itu saja, tetapi secara turun temurum. Hingga kita sering mendengar dan menemukan, adanya pantangan-pantangan tertentu, atau tabu tertentu, atau ikatan tertentu bagi satu marga dengan marga lain atau sesama satu rumpun marga tertentu untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dan mereka bahkan keturunan/pinompar dari orang yang membuat padan tersebut hingga hari ini masih menghormati dan tidak berani melanggar padan itu, dengan alsan antara lain yakut akan akibat yang dilanggar. Dalam hal ini, keistimewaan padan atau janji dari orang Batak bukan hanya bersifat legalistik, tetapi juga bersifat magis.
    Maaf Lae, bukan sok pintar, maksud saya ini hanya salah satu contoh yang kiranya dapat menjadi entry point untuk inventarisasi budaya Batak. Mauliate sian ahu.

  4. “Bila ada permohonan kepada seseorang untuk diberi Yang maha Kuasa “hamoraon�, adalah harta benda berikut hati yang iklas untuk mau dan mampu melakukan pertolongan kepada sesama manusia….”

    Kutipan yang sangat bermakna luas.

    Lae Naipospos,

    Apakah rumah batak yang mempunyai simbol empat payudara bisa dimaknai bahwa pemiliknya adalah seorang Namora yang memenuhi kriteria yang lae sebut di atas? Atau orang itu hanya bisa dikelompokkan sebagai pararta?

    Maulaite atas pencerahan ini.

    Horas,

    *** Benar lae, tandanya penghuni rumah memiliki peran pemberi pencerahan hidup bagi sesama.

  5. Wow, keren kali tulang. Aku pun baru tau mengenai hal ini.. TOP abis!

    Bikin juga lah arti dari simbol2 Batak yang lain… spy kamipun jadi belajar.

    *** Ok, Kita akan kupas tuntas habatahon kita

  6. Ini adalah kajian filosofis tentang hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Bagi masyarakat Batak, itu adalah ukuran pencapaian seseorang.

    Seandainya pada jaman dulu ketika Sangkamadeha itu dirumuskan,dan informasi ini dipublikasikan. Mungkin Maslow akan menyebutkan budaya Batak sebagai referensi terhadap teorinya.

    Bulan Juni lalu, secara awam dan ecek-ecek, saya sedikit kupas hal itu dalam : http://taolobutala.wordpress.com/2008/06/26/hamoraon-hagabeon-hasangapon/

    Partungkoan :
    *** Akhirnya kita yang merefrensi pemikir Barat. pada umumnya begitu 😉
    Bicara ttg budaya batak dulu dan sekarang cenderung diklaim “haliluon” tapi saya berpikir bebas tanpa terikat satu doktrin, akan menguraikan nilai habatahon itu semuanya, semampunya berdadarkan pemahaman orang yang saya temui yang selama ini tidak pernah tepublikasi dengan utuh karena selalu dilatari kepentingan para peneliti. Ini baru sebagian lae, kita akan lanjut lagi ttg makna piso halasan, singa-singa, jenggar dll.

  7. Terima kasih amang Monang Naipospos Hutauruk tentang pohon kehidupan ‘Sangkamadeha’, tetapi saya ada tau tentang pohon kehidupan dalam legenda Batak yang disebut ‘Sikkam Mabarbar Siara Sundung’ yang pengertiannya kayaknya sama? Apa pengertian dari dua istilah ‘tree of life’ ini sama bagi Bangsa Batak? Horas

    *** Sy tdk tau itu. Singkam mabarbar diartikan sebagai awal perpecahan. Pohon singkam kulitnya retak2 setelah agak tua. Kulitnya bisa obat perut dan berbagai penyakit, shg semakin ‘malaklak’

  8. hendry lbn gaol berkata:

    Imadah….

    Sikkam juga bisa dijadikan sayur.
    saya puya cerita, waktu masih kecil, oppung boru saya ngasi sayur ini. lalu ‘di bebe’ dengan ikkau rata. gitu saya liat, sayur kali ini beda, saya tanya. daun apa itu oppung. Dia bilang sikkam ini. BAh…ini kan makanan kerbo?? karna aku tau dan aku liat waktu aku marmahan si assimun di belakang rumah.

    lalu oopung bilang kalau sikkam ini enak, juga bikin perut terasa nyaman, dan tidak-sakit-sakitan..ah!!….
    lalau paling ‘gawat’nya hari berikutnya dikasi ikkau ‘bulug motung muda”!!!..bah..makin aneh aja….

    lalu oppung bilang, najolo ditikki ni japang dohot pusat…..ditombakan, ido niallangan…

    *** Saonari sayur Indonesia mengadung pestisida. Hea do sayur sian Sumut ditolak Singapur ala timbo residu pestisida. Ima nataalangi nuaeng dht na mengandung formalin 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s