PEMIMPIN BATAK

Monang Naipospos

Batak, adalah suku bangsa yang telah memiliki peradaban diantara suku yang ada di Indonesia. Kenyataan, Batak telah memiliki bahasa dan alpabet, disempurnakan dengan adanya aturan, mekanisme proses kehidupan bermasyarakat.

Hubungan ini diatur pula dengan system ketataprajaan dalam konsep bius di beberapa wilayah yang telah “disempurnakan” menurut standart yang tersirat. Penyempurnaan ini, diartikan dengan berjalannya proses munculnya keteraturan dan kepemimpinan pejuang untuk kehidupan damai, rukun dan demokratis.

Adat istiadat, merupakan implementasi aturan hukum dalam pergaulan itu yang tidak terpisah dari ketataprajaan “bius”.
Saat ini, adat dimaknai seperti kegiatan rutin dalam proses perkawinan, kematian, kelahiran dan pesta tugu tanpa memahami lagi makna ketataprajaan dan makna kepemimpinan.

Melihat kenyataan ini, masyarakat Batak modern menganggap budaya Batak itu sebatas “paradaton” dengan kaitan kekerabatan “partuturon” dengan dihiasi unsur seni tradisional musik dan tari. Kearifan dalam hubungan kemasyarakatan dan proses kepemimpinan sudah hampir dilupakan dengan teori kepemimpinan baru dalam peradaban masa sekarang ini.

Proses sentralisasi diakui atau tidak, telah melunturkan tatanan yang ada dengan meng-generalisasi-kan kelembagaan masyarakat dan peraturan secara nasional. Kebudayaan masyarakat saat ini hanya dianggap sebagai rutinitas, yang bagi kalangan intelektual dan perilaku bisnis sudah menjemukan dan bertele-tele tanpa makna. Sadar atau tidak kebenaran itu mulai nyata, tatkala masyarakat terpaku mengikuti assesori budaya dan pada akhirnya sudah kehilangan makna.

Kebudayaan/Adat sudah mulai berkurang kekuatan daya untuk menggerakkan partisipasi dan keswadayaan tatkala masyarakat adat/budaya tergantung pada hiasan (assesori) budaya itu.

KEBIJAKAN DALAM KEPEMIMPINAN.

Dalam kebudayaan batak, sulit dipisahkan arti pemimpin “monarki” dalam memahami demokrasi. Tapi jelas terlihat arti proses demokrasi batak dan proses munculnya kepemimpinan sesuai aspirasi masyarakat.

Proses Munculnya Pemimpin

Untuk memenuhi syarat “harajaon” yang memiliki criteria sarat moral, masyarakat Batak sudah mulai melakukan penggemblengan bibit, bebet, bobot pada keturunannya. Semasa dalam kandungan misalnya, dilakukan sebuah upacara dan mohon doa kepada Mulajadi supaya kelak anak yang dikandung layak jadi pemimpin dan memiliki kehidupan yang layak.

Anak Tubu.

Kelahiran merupakan proses awal melihat munculnya seseorang baru yang diharapkan muncul jadi pemimpin masa depan. Dengan berbagai ragam muatan dengan metode pengajaran tradisional, pengharapan “mombang marsundut” yaitu menurunkan “nilai kepemimpinan” kepada generasi penerus ditanamkan hingga dalam tahap menuju dewasa.

Anak Magodang
.
“Tang” , merupakan proses pertama dilakukan kepada seorang anak menguji kemampuan berpikir, merencana, dan bekerja. Tang, dilihat dari kedewasaaan fisik dan berpikir, bersikap, bertindak dan mengambil keputusan. Dari kemampuan inilah dia diberangkatkan ke alam baru, sebuah keluarga sehingga disebut “anak mangoli atau boru muli” dalam sebuah perkawinan .

Anak Manjae.

Proses pembekalan masih tetap berlanjut hingga mampu mendirikan sebuah keluarga yang mandiri. Dia dilepas melakukan kendali sendiri berdasarkan kekuatan yang ada. Ini dinilai sejak dia dalam proses anak magodang (dewasa) tadi. Saat itu dia berada dalam tingkatan “anak manjae” (mandiri). Dalam tahap ini proses pendewasaan semakin dimatangkan. Akan diberikan kesempatan memberikan pandangan, kreasi dan rancangan keputusan yang bersifat internal kekeluargaan dalam kerabat terdekat yang disebut “na satataring”

Natunggane.

Merupakan istilah umum yang sering didengar hingga saat ini. Tahap ini adalah merupakan tingkat kedewasaan pemikiran dan peran yang lebih luas dalam hubungan kemasyarakatan.
Dalam hubungan masyarakat, “natunggane” adalah tingkat pertama menuju keterwakilan dalam “harajaon”.
Dia diberi peluang berkompetisi (awal) melakukan perbuatan yang bermanfaat dan layak diterima masyarakat.
Sikap, perilaku, tata bicara, kemampuan berstruktur dan yang paling utama dinilai adalah hasil dari apa yang dilakukannya.

Napinajolo.

Disini dia diuji kemampuannya melakukan tugas perutusan atau duta dalam tingkat musyawarah yang formal seperti horja, bius dalam melakukan tugas adat maupun musyawarah sosialisasi hukum kemasyarakatan dan hukum adat. Dia legal formal mewakili klannya dalam musyawarah dan pengambilan keputusan dalam tingkat horja.
Kebiasaan ini masih terlihat saat ini dalam acara adat, manakala seseorang diutus di depan mewakili kelompok marga menjadi “raja parhata”.

Pinaraja.

Seseorang yang mewakili “harajaon” turun temurun dalam klannya. Dapat juga dalam keterwakilan dalam adat istiadat. Dia dicoba membawakan peran seperti halnya yang diwakilinya. Dalam harajaon yang tertata dalam bius dulunya, Raja ini adalah sosok formal yang individual. Na-Pinaraja dapat diartikan mewakili ayahandanya yang diakui sebagai Raja dalam klannya dan Horja. Dalam harajaon klannya, dia sudah diberi wewenang pengambilan keputusan awal. Raja hanya memberikan pertimbangan. Bila terjadi kesalahan dan kegagalan atas keputusannya, maka dalam musyawarah semua kesalahan akan diambil pertimbangan “dipabenda” ditarik tugasnya sementara waktu dan diambil alih raja yang memberikan penugasan sebelumnya.
Dia harus memahami bahwa dalam tradisi Batak tidak ada kesalahan yang tidak mendapat hukum. Pendewasaan “kepemimpinan” formal dalam harajaon batak harus ada garis tegas yang diberlakukan sebagai monitoring dan evaluasi. Bagi calon pemimpin yang karismatik, hukuman “dipabenda” adalah sangat berat dan berdampak luas kepada dirinya menjadi seorang bijaksana atau menjadi pecundang.

Raja

Kita pisahkan sementara pemahaman saat ini seperti raja yang berlaku bagi setiap orang batak sebagai status “hula-hula” dalam “partuturon”.
Dalam pemahaman ini, adalah seorang pemimpin yang memegang kendali penegakan hukum dan pensejahteraan masyarakatnya. Kita mengartikan seseorang yang melanjutkan “harajaon” yang dipangku orangtuanya sebelumnya.
Hukum harajaon untuk pemimpin batak harus diemban dipundaknya. Ini tidak lagi bermasalah karena semenjak muda sudah digembleng dan dibekali beragam pengalaman yang didelegasikan kepadanya. Dia tidak lagi mengalami euphoria kepemimpinan.

PENUTUP

Raja dalam pengertian tradisi batak ada beberapa pemahaman.
Pertama, adalah Raja sebagai pemimpin formal. Mereka pemimpin komunitas dalam satu wilayah “huta dan bius”. Stuktur “suhi ni ampang naopat” adalah komposisi formalnya. Mereka memiliki raja pendukung sesuai peran dan tugas yang sebutannya, ada yang berbeda pada wilayah beda. Pemimpin utama adalah yang bendapat sebutan “pangulu Bolon”
Kedua, adalah Raja menjadi sebutan karena sifat dan karakternya yang terpuji. Walau tidak formal memiliki otoritas kepemimpinan, tapi dia dihormati karena kepribadiannya itu.
Ketiga, adalah Raja dalam status kekerabatan. Dia yang menjadi perutusan kekerabatan “partuturon” dalam suatu acara adat. Mereka yang menajdi tokoh pelaku dalam proses upacara adat batak.
Keempat, adalah sebutan santun kepada seseorang walau tidak didasari kapasitas dan otoritas kepemimpinan. Biasa dalam ucapan sehari-hari kepada pihak hula-hula.

Penganugerahan gelar Raja akhirnya menjadi mudah. Egalitarian Batak tanpa batas menjadi sangat ringan menyatakan “ai sude do raja” semua adalah raja. Kriteria harajaon kurang dipenuhi sifat-sifat kepemimpinan untuk mendapatkan kenyamanan mendapatkan sebutan itu.

Iklan

13 thoughts on “PEMIMPIN BATAK

  1. Terimakasih atas pencerahannya.

    Dari uraian ini saat ini tidak mudah mencari pemimpin dalam pemerintahan maupun organisasi kamasyarakatan yang memiliki ciri-ciri kepemimpinan Batak sebagaimana yang diuraikan Lae Naipospos ini.

    Tulisan singkat ini sudah memberi kita panduan bagaimana sebenarnya konsep kepemimpinan yangs sesuai dengan pandangan hidup Batak.

    Horas,

  2. @Lae Naipospos,

    Bisa bantu menjelaskan konsep horja dan bius dan apakah kedua konsep itu masih dilakukan saat ini. Saya pernah baca bahwa Belanda melarang kegiatan horja bius karena kawatir kegiatan itu digunakan untuk meneruskan atau melestarikan ajaran dan kepeminpinan Sisingamangaraja. Sekarang Belanda sudah lama berlalu apakah larangan tersebut masih berlangsung di tanah batak?

    Horas,

    *** Larangan itu tdk ada lagi, justru masyarakat tdk ambil kesempatan spt daerah lainnya. Di laguboti Bius masih dikenal dan riwayat para raja bius masih ada. Tapi hanya sebatas pesta tugu. Kadang dibatasi sekedar sahorja saja. Marga Hutapea misalnya masih tetap menobatkan Raja Oloan yg berperan di horja Hutapea. Tidak ditingkatkan kapasitasnya untuk ketataprajaan. Ini mungkin karena raja lainnya tdk dimunculkan seperti Raja Pangulu Ponggok, Raja Partano, dan perangkat lainnya. Ada kesan cuek.

  3. goklas berkata:

    nunga 2 hali hujaha amang tulisan on: alai tung so boi do hutulis pendapothu tentang pemimipin batak: alana bolo di hita halak batak maol do laho mangalului pemimpin sebenarna? alana bolo di ulaon sada pamimpin di dok do rao raja hata? bolo sosala au? jadi raja hataon pe susah do on? di sada ulaon boi do on gabe Tulang, sada ulaon na asing boi do on gabe boru? dohot satorusna? jadi dang adong patokan jadi pemimpin di hita batak? jala susah do mangatur hita batak ai pattang so di boto do sude? tar songon pemilihan Gubernur sumut naterakir on……ia sumatra utar holan halak hita do disi mayoritas alai boi talu pemilihan? alani aha doi?
    ima sada tanda na so adong dos niroha di hita halak batak? dang di au dang dang di ho tumagon tubeguan on do sada sifat na so boi likkang sian Hita )
    boado bahenon ate amang asa boi dapot ta pemimpin batak na burju di Zaman on? ai so adong dope pemimpin batak na benar2 di zaman modernisasion? ai bolo amang naipospos on pemimpin boa do nuaeng ate?

    *** Haaa.. haaaa .. haaa … molo au pemimpin, bah …. pemimpin aha ma nuaeng ate Goklas. Mulak ma jolo ho satongkin asa mangkatai hita. Gari raja Bondar di hitaan dang boi mardalan molo so adong sihumisik. Amang tahe …. Goklas … Molo dison nuaeng adong do ende ni dakdanak mangalesengi angka caleg; “AMBIL SAJA UANGNYA .. TAPI JANGAN.. JANGAN PILIH MEREKA” nadana songon Agen ni Sibualbuali manang Cecak Rowo. Refrenna do pe i, ai ribur do begeon. Molo mamolus angka caleg olo do marrara pinggolna. Ba … boa ma molo didok tu iba songon i… 😀

  4. mmiduk hutabarat berkata:

    Aku kira kita harus membongkar kembali yang dimaksud dengan Kepemimpinan dalam Konteks Bius dan atau Dalihan Natolu

    kenapa Belanda meloloskan kebaisaan :
    dalihan natolu
    Bahasa
    adat istiadat
    dan pernak pernik lainnya

    sementara praktek Horja Bius dilarang. Sitor sudah menguraikan sekilas dalam bukunya ‘Toba Sae’; karena Belanda takut Horja Bius bisa media untuk konsolidasi politik batak. dan berhubungan pula dengan idealnya misi, supaya praktek animis tidak berlanjut dalam kehidupan orang Batak.

    masalahnya adalah; Belanda berhasil melumpuhkan kedaulatan dan daya gerak kita. Sedangkan misi melumpuhkan daya spritualitas yang sudah ada.

    Demikian juga setelah Belanda keluar, Republik juga melanjutkan politik Belanda, demi NKRI kita diseragamkan. Bahkan, Soebadia Sastrosotomo katakan; Soeharto lah yang telah berjasa memperkenalkan kita kepada duit/materi. Sekaligus berhasil membunuh spritualitas manusia indonesia. Akhirnya kita menjadi manusia yang bisa di beli.

    Spritualitas dan Kepemimpinan awal itu telah tercerabut dari masyarakat Batak, namun Kepemimpin dan Sprutualitas yang baru tak benar-benar terwujud. Akhirnya kita di awang-awang seperti ini.

    kan masalah nya kan menjadi tidak sederhana itu kan Lae Ku Sihotang? Maksudku apa arti tercerahkannya kita oleh tulisan Amang Monang Naipos pos?

    karena kalau kita mau aplikasikan nilai2 itu, benar-benar sulit memulainya darimana >

    Apakah Lae bisa memberikan aksi plan untuk kita bisa mengaplikasikan apa yang suda diuraikan tulisan Amang Monang ?

    Lihat Saja Kasus :

    Korupsi Bupati Tobasa
    Prirotas dan pendekatan pembangunan yang dilakukan Bupati Samosir
    Pemilihan EPHORUS HKBP
    PILKADA TAPUT sekarang

    gimana hal itu kita aplikasikan dalam mencari sosok pemimpin di tanah batak ?

    mohon tanggapannya

    miduk hutabarat

  5. miduk hutabarat berkata:

    Ternyata apa yang ku prediksikan terjadi bukan ?
    Pilkada taput; menjadi wajah buruk dalam kasus proses demokrasi di tanah batak.

    jika kita tidak segera bergagas untuk menyiapkan tatanan kita di tanah batak, maka akan sulit melihat masa depan tanah batak

    ayo…..bangsa batak
    bangkitlah ….

    miduk hutabarat
    medan

  6. sada ma hita saluhutna bangso batak on
    unang gabe sega hita alana halak na asing
    asa boe mandapoti ari na denggan jala
    jolma sitiruon hita alani haburjuon hajujuron
    mauliate ma di hita sude
    asa sai di dongani debata hita

  7. Michael Silalahi berkata:

    Ima tutu, sai anggiat ma, HORAS JALA GABE di hita sudena. Unang ta pupuk HoTEL ( Hosom Teal Elat Late), ba ta erosihon ma i molo boi, ra i bagko do i ate.

  8. ND HUTABARAT berkata:

    ND HUTABARAT :
    HH 29 7 2010

    1. Bapa Monang Naipospos. sudah memberi Bahan Konvergensi yang banyak.

    2. Hanya masih membutuhkan penuntasan dari GP Generasipenerus matang Akademik Universitaria.

    3. Mudah-mudahan Pembaca GP Kini dst memahami tidak segera mempercayai info semua tetapi turut melakukan Tatanan “Uhum” itu dan “Padan” Musyawarah dan Mupakatm Proses ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral.

    4. HJG Horas Jala Gabe !

    NDH Turut Pencerah GP Generasipenrus.

  9. Monang Ringo berkata:

    Nah itulah yang membuat kita terus ketinggalan, karena kita ngak ada yang berani menjadi pemimpin yang visioner dan mengambil pucuk kepemimpinan, seperti pepatah : Molo so tamulai , ai andigan pe. Mri kita belajar dari keberanian Jendral Simbolon, Nah dia berani memimpin untuk berjuang terhadap kemandirian Sumatra Utara. Itu kataku Katua nami.
    Tapi memang perlu kita membuka wacana, kepemimpinan yang bagaimana yang di butuhkan Bangsa Batak, apakah kepemimpinan Gaya Militer, Gaya Pemerintahan, Gaya Norma Adat, Gaya Menejemen . Gaya Gerakan, Gaya Gereja. Gaya Pereman, dll, ah susah memang ya

  10. ND HUTABARAT berkata:

    NDH
    31 7 2010 HH

    BATAK YANG BIJAKSANA

    1. Dari Risersi Interkontinental hingga kini telah tersebar banyak Generasi Batak di Kaliber Atas Tengah Biasa Pengetahuan dan Pengalaman. Juga Konsep Visi Missi Mencerah KBP Kulturbusdayapredaban (Civillisasi) Manusia di Planet Bumi Universum.

    2, Pemahaman Ilmiawan Tinggi Batak, menyimpulkan, memang Hukum Natutalkultural Berputar Naik-Turun-Naik Dst seperti Roda Pedati Dsb.

    3. Dan Batak di NKRI telah menyebut :
    “Kalau Lambat tentu ada yang ditunggu lebih baik”. Tentu banyak Orang Batak juga di NKRI sperti “Parsambil” Pemupkat kalau tak dapat burung atau tangkapan lain, segera ia sepaki “Sambilnya” . Saudaranya Cina sampai ketiga kali Pukatbnya diteliti apa salahnya dan bisalah dapat tangkapan, selanjutnya Teknologi makin maju lagi. Batak tentu bisa juga. Bukti sudah banyak !

    4. Menarik sekali Studi Batakoolgi cq juga dari yg di NKRI, tentu mulai dari Era MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens SDapiens 12 Jt Th sM – 5 Rb Th sM, akulturasi dengan Model Bangsa Tuhan 4004 sM Adam – Hawa dst serta lain-lain bangsa dan jabaran kulturnya HBK Hindu Budha Kunghucu dan Legitimasi Batak Abad 19 JKI Jahudi Keristen Islam (Tarikh/Bibel/Quran) yang ikut Konsep Pikir Unitarial dan Satu Mulajadinabolon, Pengada Alamsemesta.

    5. Khusus Internal Batak di NKRI, info studi usul Pak Miduk Hutabarat dll sangat perlu. Hendaklah siap belajar dan mempelajar, BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersam, jangan Berjuang Manunggal (Single Fighter) terus.

    6. Batak tentu dasar kerja : tunggal dan majemuk sudah dimiliki.

    7. Cerahan Milis cq Monang Naipospos sangat perlu !

    5 NDH Turut Pencerah GP Generasipneus.

  11. ND HUTABARAT berkata:

    TAMBAHAN
    PEMIMPIN BATAK

    Risersi Studi Batak DGK Demografika Geografika Kulturologika -nya. dapat jelas ditemui 2 indikasi, pertama kategori pemahaman sakral dan kedua pemahaman sekular.

    Pemimpim yang pernah dicontohkan atau dicoba di Batak adalah yang dilaku- kan dalam Kerajaan Si Raja Batak Dynasti Hatorusan dari Tateabulan 90 Generasi 1500sM – 1000 M, disambung pada Dynasti Sorimangaraja pada Raja Sorbadijulu (Utara) + Sorbadijae (Tengah) + Sorbadibanua (Selatan) 1000 – 1450, serta Dynasti Sisingamangaraja I – XII 1450 – 1907,

    Memang ada Pembicaraan kemudian tetapi terjadi penyelesaian bahwa Jabaran Kepemimpinan Sekular adalah yang dapat dikuasai dalam Kultural Moderen di Negara cq NKRI dan Dunia dapat tetap Dasar HAM HAA PS Panca Sila. Karena Dasar Sakral itu hanya berserah pada Tuhan memberi Urapan. Ini dicoba Kerajaan Jokya, dipikirkan dijalankan juga di ADAT Batak, dll, tetapi Internal, bukan Eksternal di NKRI. Silahkan mencoba pada tiap ERtnik dan teruskan bersinambung pada Lembaga Agam (Laklak Tarikh Bibel Quran HBK dll) dalam ketentuan Interaksi Sosial Mereka dalam Eksistensi Bersama usahakan harus konvergentip Uhum dan Padan BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama, tidak konflik tapi saling memgisi dalam unsur kesamaan (Hidup Harmoni).

    Selanjutnya Kepemiminan Batak Konsep Visi Missi dikontribusikan pada NKRI, yang Natural menjadi Kultural Moderen. Di Batak dominasi Natural klearah Kultural Tradisional dengan Pimpinan Batak Berpahala Medicopriester, sedang di Kultural Moderen di Negara Tatanan Sekular namun tetap Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Panca Sila (NKRI) diajukan untuk Dunia sampai kini.

    Memang 1953 pada Pemakaman Kembali Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII pindah dari Tarutung ke Soposurung, Keluarga Sisinghamangaraja XII mengunjungi Dr Ferdinand Loembantobing di satu Hortel di Balige, yang datang tanpa diketahuiumum, karena sangat setuju dan hormat dalam perjuangan prinsip dan laku Sisingamangaraja XII, tetapi diketahui Kel Siosingam,angharaj XII kedatangan itu (walau Pimpinan Pusat di RI), dan dimhon agar beliau pengganti penerima AStatus Raja Medicoüpriester Batak penerus Sisingamangaraja XII, tetapi ditolak, ia berkata tugasnya kini lebih penting di NKRI luas dan merasa bertanggungjawab, menanggung kesalahan 2 Kolonel Batak, satu Marga Tobing dan satu Marga Sinambela Putra Sisingamangaraja sendiri (justeru Pimpinan delegasi ke Ferdinand L), mereka ahirnya telah menyeberang segera ke Politik Belanda tidak Taat Ikuti Perang Sampai Mati Tekad Batak, yang telah diabakan Sisingamangaraja seperti dilakukan Ferdinand L dll juga.

    Dapat dipahami dari Sirkulasi Sakral ke Sekulaŕ kembali lagi Sakral (Prinsip Roda Pedati) disitu perjuangan manusia hidup dalam pengalaman Ekliptik Orghanistik Bersinambung Lestari.

    Pemahaman maksimal kita manusia cq Batak dalam Tatanan ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral, tidak mungkin dimaksimali jadi paksa, tetapi hanya kalau ikuti Amanah Mulajadinabolon Pencipta Manusia dan Alamsemesta Naturalkultural.

    Bisa Manusia, tidak, tetapi harapan menyatu dengan di Kerajaan Mulajadinabolon, atau sesuai Legitimasi Abad 19 Laklak Batak menerima info Tarikh Bibel Quran (juga HBK Hindu Buddha Kunghucu) dalam Elohim Odin Tuhan Allah Debata Jahowa Sang Hyang Widi Wase dsb, kita dapat bersama dengan Bapa di Surga.

    Simpul: Pimpinan Sekular bisa tapi Sakral sukar mungkin hanya Urapan Tuhan.Mulajadinabolon Pencipta Manusia dan Alamsemesta.

    Mohon reorientasi knsiderasi konfirmasi konvergensi jabarkan oleh utama kualitas akademika universitaria honoriskausa.

    Horas 3X

    NDH

  12. ND HUTABARAT berkata:

    2 ARTIKEL INI
    SUDAH DIRALAT DITATA KEMBALI OLEH NDH
    ————————————————————————————————–
    ND HUTABARAT
    Juli 31st, 2010 pukul 18:56
    NDH
    31 7 2010 HH
    BATAK YANG BIJAKSANA
    1. Dari Risersi Interkontinental hingga kini telah tersebar banyak Generasi Batak di Kaliber Atas Tengah Biasa Pengetahuan dan Pengalaman. Juga Konsep Visi Missi Mencerah KBP Kulturbusdayapredaban (Civillisasi) Manusia di Planet Bumi Universum.
    2. Pemahaman Ilmiawan Tinggi Batak, menyimpulkan, memang Hukum Natutalkultural Berputar Naik-Turun-Naik Dst seperti Roda Pedati Dsb.
    3. Dan Batak di NKRI telah menyebut : “Kalau Lambat tentu ada yang ditunggu lebih baik”. Tentu banyak Orang Batak juga di NKRI sperti “Parsambil” Pemupkat kalau tak dapat burung atau tangkapan lain, segera ia sepaki “Sambilnya” . Saudaranya Cina sampai ketiga kali Pukatbnya diteliti apa salahnya dan bisalah dapat tangkapan, selanjutnya Teknologi makin maju lagi. Batak tentu bisa juga. Bukti sudah banyak !
    4. Menarik sekali Studi Batakoolgi cq juga dari yg di NKRI, tentu mulai dari Era MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens SDapiens 12 Jt Th sM – 5 Rb Th sM, akulturasi dengan Model Bangsa Tuhan 4004 sM Adam – Hawa dst serta lain-lain bangsa dan jabaran kulturnya HBK Hindu Budha Kunghucu dan Legitimasi Batak Abad 19 JKI Jahudi Keristen Islam (Tarikh/Bibel/Quran) yang ikut Konsep Pikir Unitarial dan Satu Mulajadinabolon, Pengada Alamsemesta.
    5. Khusus Internal Batak di NKRI, info studi usul Pak Miduk Hutabarat dll sangat perlu. Hendaklah siap belajar dan mempelajar, BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersam, jangan Berjuang Manunggal (Single Fighter) terus.
    6. Batak tentu dasar kerja : tunggal dan majemuk sudah dimiliki.
    7. Cerahan Milis cq Monang Naipospos sangat perlu !
    5 NDH Turut Pencerah GP Generasipneus.

    ND HUTABARAT
    Agustus 17th, 2010 pukul 14:30
    TAMBAHAN
    PEMIMPIN BATAK
    Risersi Studi Batak DGK Demografika Geografika Kulturologikanya. dapat jelas ditemui 2 indikasi, pertama kategori pemahaman sakral dan kedua pemahaman sekular.
    Pemimpim yang pernah dicontohkan atau dicoba di Batak adalah yang dilakukan dalam Kerajaan Si Raja Batak Dynasti Hatorusan dari Tateabulan 90 Generasi 1500sM – 1000 M, disambung pada Dynasti Sorimangaraja pada Raja Sorbadijulu (Utara) + Sorbadijae (Tengah) + Sorbadibanua (Selatan) 1000 – 1450, serta Dynasti Sisingamangaraja I – XII 1450 – 1907,
    Memang ada Pembicaraan kemudian tetapi terjadi penyelesaian bahwa Jabaran Kepemimpinan Sekular adalah yang dapat dikuasai dalam Kultural Moderen di Negara cq NKRI dan Dunia dapat tetap Dasar HAM HAA PS Panca Sila. Karena Dasar Sakral itu hanya berserah pada Tuhan memberi Urapan. Ini dicoba Kerajaan Jokya, dipikirkan dijalankan juga di ADAT Batak, dll, tetapi Internal, bukan Eksternal di NKRI. Silahkan mencoba pada tiap Etnik dan teruskan bersinambung pada Lembaga Agama (Laklak Tarikh Bibel Quran HBK dll) dalam ketentuan Interaksi Sosial Mereka dalam Eksistensi Bersama usahakan harus konvergentip Uhum dan Padan BBB Bersama Bekerjasama Bekerjabersama, tidak konflik tapi saling memgisi dalam unsur kesamaan (Hidup Harmoni).
    Selanjutnya Kepemiminan Batak Konsep Visi Missi dikontribusikan pada NKRI, yang Natural menjadi Kultural Moderen. Di Batak dominasi Natural kearah Kultural Tradisional dengan Pimpinan Batak Berpahala Medicopriester, sedang di Kultural Moderen di Negara Tatanan Sekular namun tetap Dasar HAM HAA Hak Azasi Alam PS Panca Sila (NKRI) diajukan untuk Dunia sampai kini.
    Memang 1953 pada Pemakaman Kembali Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII pindah dari Tarutung ke Soposurung, Keluarga Sisinghamangaraja XII mengunjungi Dr Ferdinand Loembantobing di satu Hotel di Balige, yang datang tanpa diketahui umum, karena sangat setuju dan hormat dalam perjuangan prinsip dan laku Sisingamangaraja XII, tetapi diketahui Kel Sisingamangaraja XII kedatangan itu (walau Pimpinan Pusat di RI), dan dimohon agar beliau pengganti penerima Status Raja Medicopriester Batak penerus Sisingamangaraja XII, tetapi ditolak, ia berkata tugasnya kini lebih penting di NKRI luas dan merasa bertanggungjawab, menanggung kesalahan 2 Kolonel Batak, satu Marga Tobing dan satu Marga Sinambela Putra Sisingamangaraja sendiri (justeru Pimpinan delegasi ke Ferdinand L), mereka ahirnya telah menyeberang segera ke Politik Belanda tidak Taat Ikuti Perang Sampai Mati Tekad Batak, yang telah diabakan Sisingamangaraja seperti dilakukan Ferdinand L dll juga.
    Dapat dipahami dari Sirkulasi Sakral ke Sekulaŕ kembali lagi Sakral (Prinsip Roda Pedati) disitu perjuangan manusia hidup dalam pengalaman Ekliptik Orghanistik Bersinambung Lestari.
    Pemahaman maksimal kita manusia cq Batak dalam Tatanan ITSS Ilmiah Teknologi Sekular Sakral, tidak mungkin dimaksimali jadi paksa, tetapi hanya kalau ikuti Amanah Mulajadinabolon Pencipta Manusia dan Alamsemesta Naturalkultural.
    Bisa Manusia, tidak, tetapi harapan menyatu dengan di Kerajaan Mulajadinabolon, atau sesuai Legitimasi Abad 19 Laklak Batak menerima info Tarikh Bibel Quran (juga HBK Hindu Buddha Kunghucu) dalam Elohim Odin Tuhan Allah Debata Jahowa Sang Hyang Widi Wase dsb, kita dapat bersama dengan Bapa di Surga.
    Simpul: Pimpinan Sekular bisa tapi Sakral sukar mungkin hanya Urapan Tuhan Mulajadinabolon Pencipta Manusia dan Alamsemesta.
    Mohon reorientasi konsiderasi konfirmasi konvergensi jabarkan oleh utama kualitas akademika universitaria honoriskausa.
    Horas 3X
    NDH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s