MENGHAYATI LAGU MENGHARGAI ORANG TUA

Lambaik Manalu [ Dari Tobasa Idol ]

Uju di ngolu hon ma nian, sebuah lagu batak yang saat ini sedang trend di kalangan pelajar Kabupaten Tobasa. Lagu ciptaan Denny Siahaan tersebut merupakan lagu wajib dalam kompetisi Tobasa Idol bersama lagu Poda ciptaan Tagor Tampubolon.

Tobasa Idol sudah digulirkan sejak 21 Juni 2008 yang telah melalui empat audisi hingga 02 Agustus lalu. Selanjutnya tanggal 16 Agustus akan digelar grand final Tobasa Idol di Kompleks Tugu DI Panjaitan,bundaran Balige.

Panitia penyelenggara Tobasa Idol dari kalangan wartawan, Harry Hutagaol, Leo Vinsen Simanjuntak, Lambaik Manalu SPd dan Vera Napitupulu. Didukung oleh Agus Sitorus Kepala Bagian Umum, Camat Balige Budianto Tambunan SE MM dan Alberth Sidabutar Kabag Humas Pemkab Tobasa.

Konsep Tobasa Idol memilih lagu tersebut adalah untuk menerapkan satu etika terhadap seorang anak untuk menghargai kedua orang tuanya sejak dini. Bagaimana seorang teruna muda bisa menghormati dan memberikan yang terbaik bagi orang tuanya semasa hidup.

Berlatar bahwa banyak terjadi bagi orang batak, ketika orang tuanya sudah meninggal maka dilaksanakan pesta yang cukup besar untuk prosesi penguburan. Dengan mengeluarkan dana yang sangat besar, bahkan sampai merencanakan pembangunan kuburan yang bergengsi.

Bahkan tidak sedikit cerita di kehidupan orang batak tentang penyesalan seorang anak yang tidak sempat memberikan “servis” yang memuaskan bagi orang tuanya semasa hidup. Padahal sang anak memiliki kemampuan ekonomi yang mendukung untuk “memanjakan” orang tuanya, minimal memberikan kebutuhan masa tua orang tuanya. Namun hal itu tidak pernah dilakukan karena kesibukan lain.

Penyesalan itu acap kali datang ketika orang tua sudah menjelang ajal atau baru meninggal. Sehingga untuk membalas “budi” orang tua maka sang anak mengeluarkan uang banyak untuk pesta penguburan dan menjamu para kerabat. Padahal sebenarnya hal itu sama sekali tidak dirasakan oleh orangtuanya karena sudah pergi menghadap sang ilahi.

Tidak ada artinya anak-anak menyanyi, menari dan berpesta besar ketika mengantar jasad orang tua ke pemakaman. Tidak ada arti lagi ketika sang anak memuji kebaikan orang tua bagi anak-anaknya pada saat pembacaan riwayat hidup. Karena yang ada hanya tinggal kenangan.

Sebaliknya, kalau mau jujur, tidak sedikit orang tua yang sedang menghabiskan masa hidupnya menginginkan agar anak-anak mereka berbuat yang baik ketika masih hidup. Bahkan tidak sedikit anak yang tidak sabar merawat orang tuanya yang sedang sakit karena tua. Sebaliknya, banyak orang tua menginginkan agar anaknya memperlihatkan rasa sayang terhadap orang tua ketika masih hidup.

Mengahadapi fenomena kehidupan tersebut maka diperlukan agar anak muda di Tobasa bisa memahaminya. Melalui Tobasa Idol konsep etika ber-orangtua bisa ditanamkan sejak awal sehingga menjalin keharmonisan bagi seluruh anggota keluarga. Bahkan diharapkan tidak ada lagi anggota keluarga yang bertengkar berebut harta warisan sepeninggal kedua orangtua.

Demikian juga lagu poda, menerapkan penghayatan bagi kaum pelajar Tobasa suatu ketika akan menjadi “besar” dan berhasil diperantauan. Namanya akan harum di kampung halaman akibat kesuksean yang diraih.

Keinginan orang tua adalah agar anaknya yang sukses itu berkepribadian dan prilaku baik, santun diperantauan. Rendah hati dan menghargai orang tua. Karena itu merupakan harta yang paling berharga.

Harry Hutagaol didampingi Leo Vinsen Simanjuntak dan Vera Napitupulu di Balige, Selasa (5 Agustus) mengatakan beberapa tujuan Tobasa Idol antara lain mengembangkan minat bernyanyi pelajar di Tobasa. Memberikan kegiatan positif bagi palajar di Tobasa secara khusus adanya hiburan bagi warga Tobasa, Balige khususnya.

Ratusan pelajar di Tobasa telah mengikuti Tobasa Idol sejak audisi pertama. Antusias penonton juga terlihat dengan sabar menyaksikan satu persatu putra/putri Tobasa menunjukkan kemampuannya diatas pentas. Bahkan sebagian besar peserta didampingi oleh orang tua masing-masing hingga selesai.


(Lambaik manalu Wartawan batak Pos. Naskah ini dikirim melalui email, 06 Agustus 2008).

13 thoughts on “MENGHAYATI LAGU MENGHARGAI ORANG TUA

  1. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Judul Lagu “Uju di ngolu hon ma nian”,
    Holan uap na somarippola i, dan masih banyak lagu2 pop tapanuli yang lain, yg menggambarkan kerinduan orang tua agar anaknya kalau berhasil kelak membalas apa yg telah dipertaruhkan oleh orang tua untuk menhantarkan anak2 nya menuju pintu gerbang kesuksesan antara lain dengan membekali anak2 nya dengan ilmu alias menyekolahkan sampai mendapat gelar.

    Menurut hemat saya, mohon maaf kalau tidak berkenan, saya lebih setuju dengan lagu yang berjudul ” Anakhon hi do hamoraon diau”, dimana kata2 dalam lagu tersebut tidak terbersit sedikitpun tentang pamrih.
    Upaya orang tua untuk menyekolahkan anaknya murni membuat kepuasan tersendiri pada diri orang tua, apabila anaknya kelak dikemudian hari berhasil at least di bidang studi lalu bekerja dan mempunyai kedudukan.

    Jangan kita membuat opini baru, bahwa anak2 kita sekolahkan dan berhasil terus wajib untuk membantu orang tua, bukankah tugas orang tua untuk menyekolahkan atau menghatantarkan anak baik dengan DOA dan finansial?
    Apabila kita PAMRIH dalam mendidik anak, jangan2 dikemudian hari banyak Natua-tua menjadi sakit karena stroke akibat tensi darah yg tinggi, karena anak2 nya patah ditengah jalan sehingga tidak menyelesaikan kuliahnya padahal harta telah habis terjual, atau anak2nya yg telah berumah tangga lebih mementingkan dalam tanda kutip “rumah tangganya” sendiri daripada orang tua dan adik2 nya (dalam bahasa batak disebut “Balik do panghirimon” alias tidak sesuai dengan harapan).

    Apabila anak2 tersebut kelak telah berhasil dan membantu orang tua dengan menyekolahkan adik2 nya atau membahagiakan orang tua adalah hal yang patut kita syukuri.

    Horas3x

  2. Bonar Siahaan berkata:

    @ Pontas Eddy Simanjuntak

    Pada umumnya orangtua mengamalkan “Anakhon hi do hamoraon di au”. Namun bila kita mau menghayati makna lagu tersebut apakah para orangtua tidak mengharafkan “penghargaan” dari anak-anaknya?
    Aku pernah lihat teman yang mati-matian menyekolahkan anaknya sampai berhasil,setelah berhasil dan anaknya telah punya penghasilan yang cukup lumayan langsung kawin dan seterusnya sangat jarang berkomunikasi dengan ayah bundanya. Anaknya cenderung dekat dengan orangtua si istri dan selalu memenuhi apa yang diinginkan mertuanya. Coba kita bayangkan,bapak dan ibunya yang mati-matian menyekolahkan dan setelah berhasil malah di abaikan dan sebaliknya si istri dan mertua hanya menuai hasil jerihpayah orangtua menantunya.Dapatkah anda membayangkan perasaan Bapak dan Bundanya?
    Benar tugas orangtua menghantar anak-anaknya agar hidup dengan baik, tapi apakah si anak tak punya kewajiban “membahagiakan” orangtuanya?
    Pernah saya dengar percakapan orang non batak begini,orang batak ada bodohnya,masak dia mau hanya makan nasi dan ikan asin bakar di kampungnya tapi anaknya enak-enak menerima uang setiap bulan di kota tempat dia kuliah. Bila dipikir ada juga benarnya melihat orang batak yang sudah berhasil saat ini telah banyak yang kurang menghargai orang tuanya yang dengan rela hidup menderita demi keberhasilan anak-anaknya.
    Pendapatku, tugas orangtua menghantar anak-anaknya ke kehidupan yang lebihbaik dengan batas kemampuannya,dan kewajiban si anak berbakti kepada orangtua sesuai kemampuannya juga. Sebab Professor Doktor manapun ditanya pasti berkata “lakukan kewajibanmu dan tuntut hakmu”, dengan katalain,orang yang hanya menuntut haknya tanpa melakukan kewajibannya adalah orang bodoh yang tinggi hati,dan orang yang hanya melakukan kewajibannya tanpa mau menuntut haknya adalah manusia lugu yang marginal.

    Salam untuk kita semua.

  3. eh tahe……
    godang do memang akka pangaratto nalupa tu akka inong dohot amongna…
    holan ari natal dohot taon baru do di ingot. hape nung lao tu surgo baru mangangguk gobar…… amangoi…. inang oi……ninna tangisna songon sinetron.
    jadi tu hamu ingot hamu patik no 5 i. manang na muda manang na matua ikkon pasangapon do natua tua. terserah caranya gimana. napetting mekkel jala sonang rohana.
    saonari molo daodo manang na jonok do natua tua ta, coba jo ta telepon. tasukkun kabarna. molo adong hepeng na lobi ba nikirim artina unang memaksakan diri. ba molo ndang adong ni patorang denggan. pasti mangantusi do akka natua tua i. alana ndang pamrih halaki. tar songonima……
    mauliate

  4. Pontas Eddy Simanjuntak berkata:

    Horas Abang @ B. Siahaan!
    Maksud saya, kalau kita menyekolahkan anak2 harus “HAPPY ENDING” gitu.

    Dengan kata lain :
    “Kita menyekolahkan Anak2 dengan senang hati, anak2 belajar tanpa beban agar hasilnya memuaskan, setelah tamat sekolah (misalnya S-1), kita sebagai orang tua senang dan tidak lupa mengucap syukur, niscaya kita tidak sakit…

  5. hodbin marbun berkata:

    Sahata do au dohot dohot abang Marbun LB na tua tuia i tidak harus dibalas dgn materi molo adong di hita lalean, alai molo soadong do dang pola natu tuai pe dang manarita, asal tasukkun kabar na dohot kesehatanna nungnga las rohana, dan jgn lupa patik pa limahon i (5)
    Mauliate, Horas

  6. Saya belum pernah dengar lagu ini, belum bisa memberi komentar.
    Tapi lagu PODA, itu dahsyat.

    Ai damang do si Jungjung baringin …

    Sebaiknya anak anak yang sudah sukses disekolahkan itu dan jadi orang besar, memberi perhatian ke kampung halamannya, bukan hanya membangun keluarganya sebaiknya ikut membangun Bona ni Pasogit. Tapature ma huta ta.

  7. Bonar Siahaan berkata:

    Horas tu anggi doli Pontas Eddy Simanjuntak.

    Bila orang tua menyekolahkan anaknya so pasti dengan senang hati.
    Yang saya perhatikan banyak “halak hita” yang lupa pada orang tuanya setalah berhasil,malah lebih dekat dengan mertuanya yang notabene tak pernah punya andil menghantar menantunya ke kehidupan yang lebih baik, gitu lho.
    Menghargai orang tua bukan hanya dengan materi, tapi orang tua lebih bahagia bila anak-anaknya memperhatikannya secara tulus walau tanpa pemberian materi. Sangat jarang orangtua yang mengharafkan materi dari anak-anaknya bila anaknya masih hidup pas-pasan,malah orangtua sering membantu anak-anaknya walau anaknya telah berumahtangga. Sebaliknya banyak anak-anak sekarang kurang menyadari keberadaan orangtuanya dengan memaksakan, bila nikah harus di gedung dan dimeriahkan musik,pada hal orang tuanya hanya hidup sangat sederhana. (Maaf bukan maksud saya menydutkan anak-anak muda saat ini,tapi ini yang saya perhatikan).

    Salam buat kita semua.

  8. toni sitompul berkata:

    KSaya belum pernah tau dan dengart Lagu tersebut tapi dari diskusi yg saya baca, saya tahu bahwa kebahagiaan orang tua adalah apabila mengetahui anaknya berhasil dan berbudi luhur, bukan pemberian materi dari anak-anaknya. Untuk Lagu PODA saya sangat senang, tetapi ada kalimat yang kurang pas ” ai damang do si jujung baringin ” si jujung baringin itu adalah parumaen bukan anak.
    Mauliate.

    Horas

  9. lambaik manalu berkata:

    semuanya oke, tanpa mendului sang pencipta lagu, Bang Deny Siahaan, Tobasa Idol sebenarnya memilih lagu itu yang menggambarkan bahwa seorang tua yang sudah tua dan sakit sakitan karena faktor usia. orang tua tersebut memiliki anak/boru. tentunya dengan kemampuan ekonomi yg bervariasi. tapi bukan masalah ekonomi, orang tua menginginkan anak/borunya memiliki kesabaran merawat dan memperhatikan orang tua yang sudah sakit karena usia tua. bisa saja sang anak mati-matian cari rejeki untuk biaya berobat orang tua, ada juga sewa tenaga kerja untuk melayani orang tua yang sudah mulai pikun (seperti doa anak agar bapak/ibu nya diberikan Tuhan panjang umur). Kewajiban kita sebagai ayah menyekolahkan anak kita, bahkan kalo sanggup anak abang, adik, lae atau tondong pun kita sekolahkan. Namun kita juga punya cara masing-masing “pasangaphon” natua-tua ta be. Saya sangat senang jika anak saya kelak berhasil dan tidak lupa mandok mauliate kepada Tuhan dan juga kepada orang tuanya sebagai tempat dimana Tuhan menitipkan anak-anaknya. Saya mengajak semuanya untuk tidak lupa kepada orang tua bahkan mari kita bahagiakan orang tua kita dengan versi masing-masing sebelum ajal menjemput dan kita tidak bisa lagi memeluk tubuhnya yang hangat dan jiwanya yang teduh itu. Horasma di hita sude…….

  10. dUMa manaLu berkata:

    pengen gaBung di Toba Dream neh..
    kLo ada kgiatan2 yg diadain Toba Dream, ajak2 y0.. hehehehe

    Slm kenaL bwt smw..

    horAssss

  11. nelly berkata:

    Saya asli batak, tapi dari lahir dan besar tinggal diperantauan. Tapi saya bangga jadi orang batak. saya belum pernah dengar lagu tsb,bagaimana kalau saya pengen punya kaset atau CD bisa dapat diaman? Pesan saya buat semua teman yang masih punya orang tua, please…. selagi kita masih ada waktu dan kesempatan beri sedikit perhatian pada orang tua kita, perhatian bukan berarti hanya materi, sekarang zaman sudah canggih, please telp mama atau papa kita sesering yang kita bisa. jangan cuma bisa menyesal dan nangis nggak karuan kalau orang tua kita sudah gak ada . Kita bisa seperti saat ini karena mereka. Memang orang tua berbuat tanpa PAMRIH, tapi saat mereka sudah tua dan tak berdaya apa dosa kalau kita beri mereka perhatian yang lebih (Mungkin materi atau perhatian )

  12. komentar dikit ahhhhh. saya kira lagu ini bukan masah balas budi atau pamrih tidah pamrih. tapi ini menceritaka dikala orang tua itu udah tua dan telah tiada baru anak-anaknya memberi perhatian yang lebih. bukan kah kita anak-anak memberikan perhatian yang baik dikala orang tua itu masih bisa merasakan? bukan malah sebaliknya.

  13. Magdalenasimbolon@rocketmail.com berkata:

    Komentar akh…nurut aq itU lagu berfungsi uTk ortu dan anak,dmana anak supaya bsa mengenang orang tua’y terus.thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s