Upacara “Saurmatua” Permintaan Marojahan

Suhunan Situmorang

SUSAH-PAYAH Marojahan menyampaikan pesan-pesannya yang terakhir kepada istrinya, Tiurmaida, yang bersama dua kerabat jauhnya, Richard dan Tiopan, menemaninya di ruang ICU rumah sakit bertaraf internasional itu. Dengan wajah pucat dan napas tersengal, ia pesankan agar manakala ajalnya tiba, upacara kematiannya harus dilakukan sesuai adat saurmatua. (Keempat putra-putrinya, Bonardo, Tetty, Ondihon, Martina, memang sudah menikah semua, kendati yang terakhir ini telah bercerai dengan Ulf Larsson, pria Swedia).

Prosesi adat saurmatua-nya, kata Marojahan, dilaksanakan di Jakarta dan harus dibuat melebihi yang pernah dilakukan orang-orang. Ia ingin setiap sanak-saudara, kerabat, dan pelayat yang datang, dilayani sebaik-baiknya. Jangan sampai muncul keluhan. Misalnya, makanan kurang enak, pengeras suara buruk, AC kurang dingin, atau musik kurang bagus. Pendeknya, selama melayat dan mengikuti upacara adat kematiannya, orang-orang harus merasa nyaman. Tak ada sungut-sungut, tak kurang sesuatu apa pun. Untuk itu jasa katering harus dipilih yang terbaik, sudah teruji mutu dan pelayanannya. Satu jasa boga untuk kalangan Batak, satu lagi yang bersifat nasional agar semua pelayat bisa makan dan minum.

Diingatkan Marojahan pula agar setiap amplop berisi uang sebagai balasan ulos pemberian hula-hula, hula-hula anak manjae, tulang, tulang rorobot, bonani ari, harus tebal isinya. Disiapkan pula pecahan Rp 50.000. dan Rp 100.000. dalam jumlah banyak untuk diselipkan ke jemari para kerabat yang manortor di sekitar jasadnya. Orang-orang harus dipuaskan agar kepergiannya benar-benar bersaput kelegaan.

Lalu seusai upacara adat, pesan Marojahan lagi, jasadnya harus dibawa untuk dikebumikan di tanah Samosir, persisnya di sisi makam ayah-ibunya. Walau di sana tak digelar lagi acara adat, “pesta saurmatua-nya” diadakan pula, dengan memberi makan dan menyajikan “hiburan” yang memuaskan segenap dongan sahuta, dongan tubu, atau siapapun yang datang.

Kemauannya itu, ucapnya terpatah-patah, tak boleh lagi ditawar-tawar, termasuk putra-putrinya. Dengan suara serak dan terkadang hampir tak terdengar, ia ingatkan lagi bahwa arwahnya tak akan tenteram bila keinginannya itu tak terpenuhi. Ia hanya ingin dikubur di Huta Tinggi, sebuah perkampungan yang sunyi dan terbengkalai di ketinggian Samosir, sekitar satu setengah kilometer dari Pangururan.

“Orang-orang Huta Tinggi harus kenyang dan bergembira selama merayakan saurmatua-ku,” bisiknya sembari menahan sakit.

***

SEJAK dipulangkan tim dokter Royal Melbourne Hospital, Marojahan memang sudah merasa: hidupnya tak lama lagi. Bukan karena tak percaya lagi ia mujizat penyembuhan seperti yang kerap dibisikkan para rohaniawan dan kerabat yang datang membesuk. Hasil diagnosa tim dokter Australia yang menyimpulkan bahwa kanker prostatnya sudah berada di stadium empat hingga mereka angkat tangan itu, dirasakannya memang tak kuasa lagi dihadang.

“Ingat ya, Ma, jasadku harus dibawa ke Samosir,” ucapnya lagi kepada Tiurmaida yang duduk melongo di sebelah kanan kepalanya yang kian botak karena terus-menerus dikemoterapi.

Perempuan 67 tahun bergelar Ompu Steven Boru itu mengangguk walau hatinya kian digerataki kegusaran. Tak seberapa lama kemudian ia beri semacam kode pada Richard dan Tiopan agar bergeser ke ujung kaki rusbang Marojahan.

Sengaja mereka bicara pelan agar tak didengar Marojahan. Dengan muka keruh disertai gerakan alis dan bola mata yang cekang, Tiurmaida menyampaikan keberatannya memenuhi permintaan Marojahan: dimakamkan di Samosir bila sudah wafat. Alasannya, selain membuat ulaon dua kali-yang pasti akan memperpanjang kelelahan dan biaya-kelak akan menyulitkan mereka bila hendak ziarah.

“Kalian tahu kan kondisi di sana?” ucapnya dengan wajah kecut dan mata melotot. “Rumah siapa nanti yang akan kita tumpangi? Rumah mertuaku kan sudah rusak karena tak pernah diurus. Mana ada di sana rumah famili yang memiliki WC dan tempat tidur yang layak?! Belum lagi masalah makanan. Hah …! Anak-anak pasti keberatan nanti!”
Richard dan Tiopan manggut-manggut seraya memonyongkan mulut.
Beberapa saat mereka terdiam.
“Ada-ada saja memang permintaan Ompu Steven Doli ini!” keluh Tiurmaida.

Marojahan seolah tahu permintaannya tengah digunjingkan. Tubuhnya yang kian tipis mendadak gelisah. Kakinya lalu menendang-nendang kain bergaris biru yang menyelimuti tubuhnya. Ia kemudian berupaya keras melepas jarum infus yang menusuk lengan kanannya. Dan, dengan tangan gemetar, dicopotnya selang oksigen yang menyodok lobang hidungnya. Dadanya bergelombang, napasnya menyesak.
Tiurmaida dan kedua kerabatnya panik lalu berupaya menenangkan Marojahan. Marojahan tetap meronta dan dengan gagap mengujar kata-kata yang tak begitu jelas artinya. Gurat-gurat mukanya kian tegang, bola matanya seolah akan meloncat keluar.
Dua menit kemudian detak jantungnya benar-benar berhenti. Tiga wanita muda tenaga medis dan satu dokter yang sedang jaga sudah berusaha melakukan pertolongan.
Tiurmaida langsung meraung, “Papi jangan pergiiii …!” tangisnya menggelar di ruang yang hening itu.
Richard dan Tiopan lantas menghambur keluar. Dengan suara terputus-putus mereka sampaikan kabar kematian Marojahan kepada lima kerabat jauh Tiurmaida dan Marojahan yang menunggu di teras ICU.

Telepon genggam Richard pun gencar menembus nomor-nomor telepon famili dan tokoh-tokoh paguyuban marga. Tiopan sendiri sibuk menelepon Bonardo yang ternyata sedang rapat dengan mitra bisnisnya di Singapura; Ondihon yang tengah main golf di Rancamaya; Tetty, tak bersambung; dan Martina, yang sedang di Bali menjajagi bisnis resortnya.

***

MALAM kedua sejak kematian Marojahan, rapat para tetua adat dilakukan di halaman rumah duka di bilangan Kebayoran Baru. Krans-krans bunga ungkapan dukacita menyesaki teras depan hingga tepi jalan raya. Jenazah Marojahan disemayamkan di ruang tengah rumah mewah nan lapang itu. Jasad Marojahan dibalut busana formal berupa jas dan celana hitam buatan Salvatore Ferragamo, kemeja warna krim muda dan dasi warna cokelat produk Giorgio Armani. Tubuhnya yang seolah tidur, rebah di peti mati berinterior kain putih linen berenda warna perak buatan Italia, yang menurut Dumaria, adik Tiurmaida, khusus dibeli Bonardo di Singapura.

Pemusik tradisional dengan instrumen gondang, hasapi, sulim, berpadu instrumen musik modern seperti terompet, saksofon, dan keyboard, sesekali melantunkan kidung rohani, lagu Batak tradisional dan modern, juga musik Latin. Panggung pemusik dibuat di taman belakang membelakangi kolam renang yang permukaannya terlihat biru bening karena pantulan cahaya-cahaya lampu dari dasar kolam.

Di garasi yang biasa menampung tiga mobil, dua penyedia jasa boga menggelar aneka makanan dan minuman-termasuk bir dan anggur buatan Perancis. Sayangnya, tak begitu banyak pelayat menyentuh makanan dan minuman yang melimpah itu, padahal lumayan banyak yang datang hingga sulit mencari parkiran mobil.

Andai Marojahan bisa bangkit sejenak, pastilah ia kecewa.
Sebab, sejak rombongan pemusik mulai memainkan musik mereka, belum satu tortor pun digelar sanak-saudara atau kerabatnya-sebagai tanda penghormatan bagi dirinya, sebagaimana harapannya. Para pelayat yang datang pun lebih banyak pelayat “nasional,” yakni relasi bisnis dan kawan putra-putrinya, termasuk beberapa mantan petinggi dan pejabat negara serta pimpinan dan karyawan lima perusahaan di mana Marojahan pernah menduduki jabatan atau masih anggota direksi, komisaris, dan pemegang saham.

Mungkin karena tak jua ada yang mangandung dan manortor itulah mendorong seorang perempuan tua yang sebelumnya duduk membisu di sudut rumah duka sambil bertopang dagu, mendekati panggung pemusik. Perempuan yang mengaku ibunya dan ibu Marojahan marpariban itu lalu meminta sebuah lagu berjudul Simali-ali. Tak lupa ia sisipkan pinta-pinta selembar uang Rp10.000. ke tangan salah seorang anggota pemusik.

Pengakuannya kemudian, yang diucapkan dengan nada lantang melalui Bahasa Indonesia berlidah Batak, dulu lagu itu amat sering dimainkan Marojahan dengan suling bambunya tatkala menggembala kerbau di padang rumput Huta Tinggi. Para pemusik manggut-manggut dan kemudian mengalunkan musik yang mendayu-dayu itu.

Perempuan sepuh berkulit legam yang dari gurat wajah dan penampilannya cukup menandakan bahwa hidupnya tak seindah kehidupan Marojahan itu manortor sembari menyelempangkan ulos di kedua tangannya. Dipandanginya wajah Marojahan, airmatanya berlinang. Para pelayat memerhatikan gerak-gerik tubuhnya, seolah terpesona menyaksikan keanggunan tortor-nya.

***

Di kamar tidur Marojahan, Tiurmaida bersama putra-putri dan ketiga menantunya, Lia Tobing, istri Bonardo; Samuel Kawilarang, suami Tetty; dan Sri Lestari, istri Ondihon, tengah sibuk membicarakan amanat terakhir Marojahan itu.
Sebagaimana dugaan Tiurmaida, semua anaknya langsung keberatan dan tak bisa memahami alasan Marojahan yang meminta dikubur di Huta Tinggi.
“Nggak ngerti deh maksudnya si Papi ini,” ujar Tetty dengan muka masam, “Kok mau bikin istri, anak-anak dan juga cucu-cucunya, sengsara sih?”
“Mami juga bingung, Tet, tapi mau …”
“Masalahnya Mam,” sela Bonardo, “gimana nanti anak-anak? Di mana mereka makan, tidur, mandi? Tidak mungkin, kan, mereka tak kita bawa ke Samosir?”
Beberapa saat mereka terdiam.
“Ada enggak sih hotel yang dekat ke Huta Tinggi?” tanya Martina mengakhiri keterdiaman mereka.
“Ya harus ke Pangururan-lah,” sahut Tiurmaida tak bersemangat. “Tapi kan repot bolak-balik ke huta dan ke hotel.”
“Kenapa sih sesudah mati, baru si Papi ingat kampung halamannya?” timpal Tetty ketus. “Kayaknya selama ini enggak pernah deh kita dengar Papi nyebut-nyebut Huta Tinggi. Gue heran …”
“Mungkin Papi terpengaruh kali sama lagu Pulo Samosir,” timpal Bonardo sekenanya.
Emang kenapa tuh lagu?” tanya Martina ingin tahu.
“Itu, tuh. Kalau nggak salah, dalam lirik lagu itu kan ada kata-kata, kalau aku nanti mati, kuburlah jasadku di Pulau Samosir.”
“Ooo …, kok tahu, sih?” selidik Martina.
“Papi pernah ngasih tau.”
“Papi kok jadi sentimentil begitu, sih?” timpal Tetty.
“Kamu nggak sadar bahwa Papi itu sebenarnya orang yang sentimentil?” tanggap Ondihon.
Tety menggeleng, “Yang selama ini gue tau sih, Papi tuh orangnya tegar dan rasional. Eh, diam-diam ternyata masih …”
“Setahu gue juga Papi hanya suka musik jazz, swing dan klasik, deh,” imbuh Martina. “Kayaknya nggak pernah tuh Papi dengerin lagu-lagu Batak.”
“Kau harus ingat, Tin, semodern apa pun orang Batak yang lahir di kampung, hati mereka sama seperti lagu-lagu Batak itu. Kadang meratap-ratap, kadang riang gembira,” ujar Bonardo berlagak seolah amat tahu.
“Maksudnya?”
“Yaaa … kadang tegar, kadang cengeng.”
“Begitu, ya?”
“Iyalah. Wajah mereka boleh keras, hati mereka tetap lembek. He-he-he ..”
Martina spontan terbahak, ketiga menantu Tiurmaida tersenyum-senyum.
“Sssst! Ketawamu itu, Tina!” tegur Tiurmaida, raut wajahnya mengencang. “Kamu tidak sadar kalau jenazah Papi masih di sini? Apa kata orang-orang di luar sana mendengar ketawamu itu?!”
Abis lucu sih, Mam.”
Udah deh,” potong Tety, “bilang aja ke opung, bapatua, bapauda, amangboru, tulang, atau siapa kek yang lagi rapat di luar sana supaya Papi dimakamkan di Jakarta aja. Kompromi aja deh. Aduh, nggak ngebayang deh anak-anak gue bakal sengsara nanti di sana.”
“Iya Mam, bila perlu, Papi kita makamkan di San Diego Hills yang di Karawang itu saja,” dukung Ondihon. “Tempatnya keren dan mewah. Papi pasti suka, deh.”
“Akh, si Papi mana tahu lagi dikubur di mana,” ujar Tetty agak ketus.
Tiurmaida hanya menggelengkan kepalanya yang dibebani sanggul besar, sesekali napas panjangnya mendesah.

***

HUJAN lebat baru reda di Huta Tinggi-hujan pertama sejak seantero Samosir dilanda kekeringan berbulan-bulan. Di rumah kayu yang nyaris rubuh itu sudah diletakkan peti mati Marojahan. Taratak dan tenda sudah terbentang di halaman depan dan samping kiri rumah tempat kelahiran Marojahan itu. Di samping kanan rumah, seekor kerbau, enam ekor babi besar yang masing-masing kakinya diikat agar tak lari, nampak kedinginan dan gelisah-seolah sadar leher mereka tak lama lagi akan diputus pisau belati. Di halaman depan, dua lelaki muda sibuk menyusun perangkat pengeras suara, sementara seorang lagi mengelap instrumen keyboard yang basah karena tempias hujan. Dua mobil berplat polisi Medan parkir bersama mobil ambulans pembawa jenazah yang belum kembali ke Medan.

Alboin dan Mangasa, kerabat Marojahan yang bermukim di Medan, sudah lebih dulu berangkat ke Huta Tinggi untuk menyiapkan segala sesuatu berdasarkan instruksi Tiurmaida. Telah pula mereka hubungi para tetua adat, tokoh marga, dan para kerabat yang berdomisili di sekitar Panguruan dan Samosir.

Tapi, kendati sudah tiga jam lebih jenazah Marojahan tiba, sedikit saja pelayat yang datang. Bahkan saat mereka tiba, sama sekali tak terdengar riuh tangis, sebagaimana kebiasaan orang Batak Toba menyambut kedatangan jenazah, tak soal setua apapun si mati. Di dalam rumah hanya ada tujuh orang dewasa dan anak-anak menemani Tiurmaida. Mereka duduk membisu di atas tikar pandan mengitari peti mati Marojahan. Putra-putri, cucu-cucu, dan delapan kerabat yang ikut rombongan dari Jakarta dan Medan, sudah pergi ke Hotel Dainang di tepi pantai Pangururan.

Perasaan Tiurmaida diaduk sedih dan kecewa. Tak secuil pun pernah mampir di benaknya bahwa kedatangan mereka akan disambut warga Huta Tinggi sedingin udara Samosir. Untuk mengurangi kecewa hatinya, ia berusaha membayangkan para kerabat dan warga di sekitar kampung itu masih sibuk bekerja, yang akan segera datang setelah urusan masing-masing selesai.

Tapi, kenapa pula kerabat dekat mereka, yakni sanak-saudara Marojahan berikut keturunan mereka yang bermukim di Dolok Sanggul, Sumbul, Sidikalang, Aek Kanopan, Kutacane, Lubuk Pakam, Kabanjahe, belum satu pun datang? Apakah mereka tidak tahu bahwa Marojahan sudah meninggal dan akan dimakamkan di Samosir? Bukankah kabar kematian Marojahan sudah pasti mereka ketahui dari telepon kerabat, selain iklan obituari yang telah dimuat tiga koran terbitan Jakarta dan Medan?

Walau hatinya disaput kecewa, Tiurmaida menduga, mereka semua tengah meluncur ke Pangururan.

***

ESOKNYA, hingga pukul dua siang, tak satu dari empat saudara kandung Marojahan yang masih hidup pun muncul, termasuk keturunan mereka. Bahkan penghuni Huta Tinggi dan kampung-kampung di sekitarnya pun sedikit saja yang datang. Malah, sebelum mengikuti acara adat tuat tu tano, mereka sempatkan dulu bekerja di ladang dan berdagang di pasar. Syukurlah beberapa tetua adat dan marga sudah hadir sejak pagi.

Ternak yang begitu banyak disiapkan untuk dijadikan lauk para pelayat sudah disembelih dan dimasak, berkarung-karung beras sudah pula ditanak parhobas sejak pagi dini. Makanan yang melimpah itu sudah siap saji sejak pukul sepuluh pagi dan tinggal disantapi.

Dan, perangkat musik tradisional berpadu instrumen keyboard serta dua set pengeras suara ukuran besar yang berdiri di panggung kecil itu seolah ajang latihan saja bagi pemain-pemainnya. Tak ada tortor yang tercipta berkat permainan musik mereka, tak pula sempat dijadikan musik pengiring senandung bernada andung-andung. Hanya beberapa pemuda dari desa-desa di sekitar Huta Tinggi saja yang memanfaatkan, semalaman mereka bernyanyi sembari berjoget dengan tubuh sempoyongan karena kebanyakan minum tuak bercampur anggur cap bulan dan bir yang tak putus-putus disuguhkan parhobas. Entah berapa kali pula mereka minta lagu Poco-poco, Sajojo, Terajane, Anak Medan, diulang, yang dengan nada sumbang sembari tertawa-tawa mereka nyanyikan bergantian.

Pengakuan orang-orang yang bermukim di sekitar Huta Tinggi, Marojahan memang tak pernah mereka kenal, kecuali keterangan orang-orang yang sesekali terujar di kedai kopi dan lapo tuak bahwa lelaki yang lahir di kampung mereka 70 tahun lalu itu termasuk pebisnis sukses di Jakarta.

Hanya itu. Tak lebih, tak kurang.***

(Pertama kali ditulis akhir Desember 2006, saat marangan-angan; di padang rumput Huta Tinggi Pangururan, Samosir. Dilanjutkan di Jakarta, Juli 2008).

Baca juga Cerpen Suhunan :
Kebaya Pengantin
Keputusan Merlin ; Cucu Panggoaran
Suhunan juga sudah menulis Novel SORDAM

25 thoughts on “Upacara “Saurmatua” Permintaan Marojahan

  1. Ini yang menarik:
    “Kenapa sih sesudah mati, baru si Papi ingat kampung halamannya?” timpal Tetty ketus. “Kayaknya selama ini enggak pernah deh kita dengar Papi nyebut-nyebut Huta Tinggi. Gue heran …”

    Kenapa menjelang meninggal, baru ingat kampung halaman.
    Dilihat dari acara pemakaman, sepertinya penduduk disana tidak kenal beliau.

    Berapa banyak halak hita begini, sukses dirantau namun tidak berbuat sesuatu untuk kampung halamannya.

  2. Jadi mambaen surat ma najolo OM Jack,..ai sian huta si Marojahan do alai sahat tu jakarta asa songon na hebat digatti ma goarna si JACK….

    dibaen ma surat tu kapala desa nang tu akka penetua i didok ma

    Jakarta, januari 2007
    Horas ma dihita Caluhutna

    ia au ima si Dr. Ir Eng Marojahan PHd, MSC Dpl Eng, alias si Jack sian jakarta ima sahalak putra daerah naung maninggalhon huta tinggi on nunga pola 40 taon lelelngna.
    Songon sahalak putra daerah iba, sai ingot do iba tu tano hatubuan i sahat tu marujung umur ni hasiangan on.
    Porlu paboaon hu tu hamu akka natua-tua niba na dihuta, tung massai sihol do roha nian mernida hamu, marnida hutatta huta tinggi, alai bohama baenon, alani akka kesibukan Mangaradoti na 17 perusahaan on, jala ala tung godang do akka undangan ni pejabat ni negaratta on. ido umbahen ndang boi iba tiap taon manikkir hutanta.
    Mardomu muse, ala naeng naeng diangkat iba gabe STAF AHli di kementrian semak belukar, jadi tung mansai ringkot do tikki.

    Siala na asing muse, ala roa dope dalan tu hutatta on, mabiar roha mamboan mercy nabaru hutuhor i tu hutatta, sotung gabe targores annon cat na i, ai maol-maol do luluan cat ni sisongoni……

    Jala tu hamu natua-tua nami, marpamuati ma rohamuna, ala dang boi dope au mangurupi hamuna nadihuta, antusi hamu ma, boha kebutuhan ni hepeng laho mandalanton perusahaan na 17 on. Ai sipata olo gabe lupa nama iba manurathon saidia godang nol ni hepeng i. Alai pos ma rohamuna sai tu hutattaon do roha nami.

    Adong do rencanakku nian, molo nunga marujung au muse, ikkon dihuttatta on ma nia au di kubur. JAla bulan depan, naeng hutuhor nama tobbak ni HUtatinggi on mambahen lahan kuburan ni keluarga nami.

    Tu hamu natua-tua nami, songoni ma jolo saotik surat on, nipasahat, molo boi, bangun hamu ma jo dalan i tu huta asa boi iba mulak mar mercy, molo so i, jappalan parbolaan na di lambung batang aek i, simin hamu ma jo, asa boi hasonggopan ni helikopter na mamboan bakkekku annon…

    Tabe sian hami
    Dr. Ir Eng Marojahan PHd, MSC Dpl Eng
    Pres. Kom Naunggitaljalasipanggaron Group

  3. Cerpen ini mengisyaratkan bahwa tak terbantahkan maha pentingnya sikap ramah sosial, suka menolong, gemar memberi, silaturahmi, dan kabaikan-kebaikan klasik lainnya.

    Pesan moralnya amat jelas. Agar tidak mendapatkan penghukuman terakhir di bumi, berbuat baiklah. Sehingga suka atau tidak, tulus atau berpura-pura sepanjang tidak ketahuan nampaknya penting dilakukan, karena rupanya, kejadian seperti ini masih mendapat tempat untuk dijiarahi di zaman post modernisme.

    Sekali lagi, sudah turun temurun kita tahu bahwa orang yang berbuat baik akan menuai kebaikannya secara langsung atau tidak langsung dari orang lain atau dari Tuhan. Dalam hal ini, tidak terdapat kebajikan peradaban baru yang istimewa. Karena sesungguhnya, adalah sangat langka orang berbuat baik tanpa pamrih. Semua harus diukur dengan kalkulasi untung rugi yang transaksional. Itu silogisme sebab akibat yang masih terawat sejak zaman batu.

    Manusia termasuk mahkluk penghukum yang sadis.
    Pentingnya berbuat baik belum dimaknai sebagai kewajiban manusiawi, melainkan bias pentingnya; reward atau punishment. Seperti, Saya menunaikan serimoni agama kepada yang Illahi bukan karena Dia pantas (deserved) disembah dan dipujikan. Melainkan berdoa adalah upacara membujuk-rayu yang akhirnya meminta ini dan itu dari siempunya segala yang nampak dan tidak kelihatan.

    Sehingga tidak banyak yang melayat Marojahan menjelang detik-detik terakhir ke liang lahat. Sanak-saudara dan handai taulan sampai hati mempermalukan seraya menghukumnya pada hari-hari terakhirnya di atas bumi. Tidak tanggung-tanggung, No excuse. No mercy. No second chance. Nang pe ibana ngasonang modom marsinok-nok dang hadungoan, dang hatolaan.

    Kesalahan dan kekeliruan Marojahan semakin tak terampuni karena kesuksesannya. Kesuksesannya di Jakarta yang tidak dirasakan oleh orang lain(keluarga & dongan sahuta) yang gagal menikmati percikannya akhirnya berunjuk rasa. Mengapa? Karena kita belum dapat menerima kehidupan dan keberhasilan Marojahan adalah untuk dirinya sendiri dimana kita pantas menghormati kerja kerasnya. Seolah-olah sejak dahulu kala telah ditandatangani sebuah kontrak social yang mewajibkan para sukses berkewajiban lebih dari yang lain. Kita perlu ingat, berbagi rejeki adalah kewajiban moral dirinya sendiri oleh dan untuk dirinya sendiri, yang apapun keputusan dirinya adalah sah bagi kita. Kita diluar dirinya, sama sekali tidak berhak menuntut kewajiban moral seseorang. Selanjutnya, berbuat baik kepada seseorang bukan karena kebaikan orang lain tersebut harus dibalas dengan kebaikan melainkan merupakan kewajiban pribadi sebagai pertanda manusia. Persoalan Marojahan tidak melakukan kewajibannya sama sekali bukan urusan kita dan dongan sahuta. Sebaliknya, kita membalas kelalaian dan kealpaanya melalui tindakan yang sama, adalah kekurangan kita, yang sama sekali juga bukan urusan Marojahan.

    Kita pun puas, ketika kesedihan Tiurmaida lengkap karena hanya tetua adat dan marga yang ada disekitar jenazah malang itu. Kepuasan kita hanyalah cermin cengeng yang menghasilkan sok theraphy “baik” bagi kita, dan menyisakan duka sekaligus kepada keluarga inti Marojahan. Karena hukuman itu sebenarnya dialamatkan dan hanya dirasakan oleh keluarga terutama Tiurmaida bukan Marojahan yang sedang berproses membusuk.

  4. amang tahe Taboni angan2 ni tulang situmorang on??
    ali uttung ma di ingot amattai nung mate mulak tu hitaan? asa adong ceritahonon ni akka hita on to akka pahoputta muse ai adong do halak batak akka namora di pangarattoan?
    ai nabinoto opung si marojahan ido attong, bolo bangunonna annon huta ginjang i Ro do annon tong hosom sian akka haha anggina??
    ala naung marhasil amani ahai lomo2na do mangkaliangi Hutaon???
    ba tumagon ma attong unang di Bangun anggo namabahen sogoni roha ni keluargga?????
    horas….

    *** Alai daba goklas, so mambangun pe, molo diradoti paradaton dohot holong tu angka na dihuta dang mungkin mandao angka sisolhot i.
    Ba gari jabuna di huta dang dipadenggan, gabe sai dilului hotel. bereng ma mentel ni angka anakkonna i, dia ma boi marsaor i tu angka na di huta songon hami on.
    Alai goklas, didia do tahe jabunta di toba asa hubereng jolo manang na dipature ho do😀 asa husungkun jolo na dihuta i, ai ditanda do si goklas?😀

  5. Horas tu hita saluhutna,

    Ai ngeri ma cerita on lae, amang tahe.
    Sai unang ma songon on ujung ni parngoluonta.

    Nang di dalan namargamboooo i amang,
    Nang di toruni sampilpil i,
    Ima hatubuan mi amang,
    Lupa do ho..
    Holan uap nasomarimpola ima hape…ujungna.

    Mauliate!.

  6. Horas…..

    Sungguh cerita yang menyedihkan… Karena seorang anak kampung sukses diperantauan tapi lupa tu huta hatubuan.. Udah mau meninggal baru ingat, tapi sekarang kebalikan,orang Kampung “melupakannya” sebagai bagian dari mereka. Yang Ironisnya, keturunannya pun sudah kehilangan jati diri sebagai bangso Batak…

    Pelajaran bagi kita untuk selalu mengingat tanah kelahiran… Songon ende i “Di Jou Au Mulak

  7. Dung marujung ngolu natua-tua nami, tu huta do huboan hami, asa dilambung ni ompung na ibana di topi ni Tao Lobutala. Sanga do adong pemikiran asa di Sumatera Timur ma ibana dimakamhon. Alai ujungna gabe disepakati ingkon tu huta ibana di bona ni pasogit. Nang pe dang pola ditonahon natua-tua i tu hami asa ingkon tu bona ni pasogit ibana.

    Ditingki mangolu dope ibana, iba sebagai gellengna nunga mansai jarang ro tu huta tu topi ni Tao Lobutala. Ala ni angka tingki, tarlumobi ala ni sibaenon, gabe olat ni Sumatera Timur ma iba,molo ro sian pulau Jawa.

    Alai dung marujung ngolu natua-tua i, setiap ro iba tu Sumatera Timur, ba ingkon sahat nama tu bona pasogit, laho mamereng kuburan ni natua-tua i. Aut sugari di sumatera tImur hian ibana dimakamhon, ba olo hian ma dang nidalanan be bona pasogit. Pahompu ni natua-tua i pe dang be botoonna aha do bona ni pasogit.
    Saonari, nang pe sahali-sahali, nunga didalani pahompuna be tempat hatubuan ni natua-tua i.

    Dang turi-turian on.

  8. Bagai mana kalau kejadian ini Lae Monang Naipos2 yang mengalaminya? Entah lah…..Cuma mereka lah yang menghayalkanya yang tahu…..hehehe……senyum lah Lae Monang..^_^

  9. Ceritanya menarik….. paingothon angka nalupa tu bona pasogit, waktu ngoluna lupa tu angka sisolhot dohot dongan sahuta dung marujung ngolu gabe ibana dilupahon ……
    Manjaha coment ni Oppung on tusi Goklas mengkel2 iba lucu benar ” masa naeng luluanna huta ni si Goklas lao mamereng jabuna ” .
    Ditunggu cerita selanjutnya……Maju terus web ini.

  10. Cerpen ini merupakan potret yang sangat bagus tentang persoalan adat yang dihadapi masyarakat Batak saat ini.

    Deskiripsi situsi di kamar RS dan pembicaraan antara Tiurmaida, Richard dan Marojahan membuat kita seolah-olah berada di sana…

    Karya yang indah dan inspiratif…

    Horas,

  11. Horas Lae Monang,
    Cerita sangat menarik saya jadi teringat cerita Bapak dulu….katanya orang Batak di kampung bis berhutang dan jual harta untuk bikin pesta acara orang mati…apa itu betul …??? Ma’af saya masih kurang faham tapi sangat ingin tahu…terima kasih.
    Nirwan panggabean,Virginia,USA

    *** Kata ‘dulu’ itu lae relatif. Tahun berapa kita buat ukuran. Namun ada yg hrs kita pahami kredo leluhur ‘siadapari gogo sisolisoli uhum/adat’ inilah sistem membangun partisipasi masyarakat. Ada juga dikatakan ‘saonari sinurat sogot jahaon’ Bukan kekayaan dan kemiskinan tolok ukur besarnya partisipasi, tapi perbuatannya sendiri. Raja adat dulunya berperan mengawasi tata laksana adat. Saat ini raja adat tdk jelas siapa dan apa. Saat ini berutang untuk membesarkan pesta. Kayaknya dulu itu tdk bisa dgn rambu ‘suhat ginjangmu lilit bolonmu’ Horas

  12. Ima sekelumit gulmit ni ngolu dohot parngoluon di hasiangan on, atehe.

    Sian tuk ni sibahenon nian, dang pola masalah be di tokoh ni cerpen on laho mangaradoti paradaton dohot holong tu dongan jolma (sesama), tarmasukma dongan sahuta di bonapinasa nang bonapasogit. Alai, ima jo huroa, sai holan kolega bisnis on do na porlu.

    Hinorhon ni i sude, gabe hurangma holong ni roha ni huta i di nasida. Mardomu ma tu mentel ni ianakhonna i sude. Sagari ianakhonna lao do tu hotel, ba, lamma jolma torop?

    Alai, molo ingkon na jolo tajalo do holong asa taulahon holong, ba, diama hasurunganta sian tokoh ni cerpen on?

  13. @ sude napinarsangapan

    Mauliate, terimakasih, sudah meluangkan waktu membaca dan mengomentari cerpen di atas. Semoga tidak sekadar membaca sebuah kisah. Semoga pula proses kreatifku semakin berkembang, agar bisa turut meramaikan dunia ‘turi-turian’ bangso Batak.
    Horas dht tabe sian au.

  14. tak kenal maka tak sayang. walaupun hanya sekedar cerpen, cerita seperti ini pasti sudah terjadi dan akan terjadi lagi di kalangan orang Batak dimana ada keengganan untuk berkunjung ke kampung halaman. keengganan untuk membawa anak cucu nya melihat huta dimana dia dilahirkan. banyak orang Batak yang sudah pergi merantau enggan pulang ke kampung dengan berbagai macam alasan. mengapa demikian? jawaban untuk ini aku rasa bisa dituangkan di dalam sebuah buku karena banyaknya alasan-alasan yg ada.. hehehe…

  15. Cerita yang sangat menarik. Jadi kalau kita masih di kasih kesempatan untuk hidup, serta berkarya jangan lupa untuk tetep mengingat huta hatubuan kita atw bona pasogit. molo boi tapature hutantai alana dang adong na paturehon i anggo so hita putra/i daerah. Horas

  16. Menyedihkan sekali nasib Marojahan itu yaa…Dia berkeinginan sekali untuk meninggal sebagai orang batak murni. Realita yang ada, penolakan tdk secara transparan lingkungan kampung halaman. Berbeda sekali dengan yang kusaksikan beberapa waktu yang lalu. Seorang pimpinan punguan marga di Jakarta meninggal,…anaknya 2 (1boru, 1 anak), borunya sudah menikah tapi blm dikarunia anak. Tapi keberangkatanya dipenuhi para pelayat. Kalo ingin seperti itu,…Jadilah orang batak selagi sehat.

  17. Horas ito SS !
    Kalau mengadukaduk perasaan, ito Top bgt (banget)deh.. Ironis sekali kisah par monding ni Alm.Marojahan ini. Semoga ini cubitan bagi kita untuk segera sadar/siuman dari pingsan untuk tidak lagi membohongi hati nurani bahwa kita adalah halak Batak Tulen. Walau sudah mandi susu atau mandi keju dan tinggal disudut sudut mancanegara.Apalagi kita yang merantau di Nusantara ini (sudah tak kentara lagi Batakku walau berpasirpasir cakap Indonesianya ninna do godangan).
    “Berbuat kebaikanlah selama kau masih dikasih umur dan berbagi kasihlah kepada sesama manusia”
    Karena manusia mati hanya meninggalkan “nama”.Itu bisa nama baik atau nama buruk. Setelah jasad terbujur tidak adalagi urusan dunia. Tapi yang ditinggalkan harus bahagia atau menanggung malu…(amit-amit deh). Tinggal pilih.
    Kalau “nama baik” yang kita tinggalkan maka kelancaran dan hasangapon do na ro.
    Ilustrasi : Saat inang simatua monding. Kami bawa ke Balige(seperti pesannya). Karena kami Silom jadi kan tidak boleh bermalam. Monding jam 5 subuh/pagi. Berbagi tugas saudara kerabat untuk pelaksanaan keagamaan di rumah. Karena kami keluarga besar diputuskan siapa yang berangkat. Pokoknya persiapan di Jakarta (tiket,cargo,dll) berjalan lancar atas kesigapan keluarga yang dikomandoi haha doli dohot amang bao. Dari Bandara jam 12.30 siang, par Medan sudah siap utk ambulance,mobil,konsumsi untuk perjalanan ke Balige(sekitar 4-5 jam). Di Polonia pun lancar , peti jenazah hanya butuh 30 menit sudah bisa keluar. Sepanjang perjalananpun lancar,kita komunikasi terus ke Balige.Rombongan tiba di Balige sekitar jam 7.30 malam . Dibahen ma adat na. Tu udean jam 9 malam. Saya haru karena disana sudah penuh keluarga,kerabat,tetangga (koordinasi dengan haha doli par Balige),dengan pake penerang yang mereka bawa ditambah dengan dinginnya malam. Mereka semua merasa kehilangan karena burju ni inang simatua di ngoluna.Rade ma i jam 10 malam. Kita bikin juga adatnya . Puji syukur pada Tuhan. Semua tulus dan lancar,sampai kami kembali ke Jakarta. Luar biasa kebaikan Tuhan itu.
    Ito SS…. semogalah kitapun nanti kalau sudah waktunya kembali kepada Pencipta diiringi dengan doa dan keharuan bagi yang mencintai dan mengasihi kita. Amin.
    Hurang lobi mauliate alana nunga tung ganjang uraian ki. Sai mudah-mudahan ma marguna.
    Botima.

  18. Aslinya sampul “Sordam” tidak pakai gambar Lae, kan? Seperti “Sordam” yang saya miliki. Tapi malah bagus pakai gambar begitu, Lae, tetapi lebih bagus kalau berbentuk sketsa (tidak gambar asli) supaya seolah-olah gambarnya si tokoh utama Palti Bonar…

  19. Saya bangga jadi orang batak, namun yang saya pikirkan kenana tidak ada penyederhanaan dari setiap pelaksanaan acara adat ini.
    Kok kita senang melaksanakan hajatan mulai pagi sampai malam hanya karena sebuah harga diri walaupun hasuhutan melaksanakan acara adat dengan modal hutang. bagi orang tua kami angkatan 30-40 an mari kita sederhanakan pelaksanaan adat ini dengan tidak mengurangi makna dari adat yang ada. jangan lagi ada keluhan dari kita ” holan adat ” jangan pula gara-gara daging seupil (jambar) kita ribut. pembagian jambar itu garis besarnya saja

  20. Terima kasih atas deskripsinya,cerita ini sangat layak untuk dibaca pangaranto ,kelak kita tidak akan lupa bona pasogit ” Tano Batak Naulii ” Tolong Buat teman-teman anak medan yang berpropesi segagai produser /sutradara sinetron , cerita ini sangat pantas dianggkat kelayar kaca ……terimakasih horas….

  21. Sinuan bulu sibahen nalas, sinuan partuturon sibahen nahoras. Molo buruju tu dongan martamba ma las niroha, alai unang marlaok elat, teal, dohot late.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s